Rabu, 25 April 2018

JIHAD TANPA PERANG, JIHADNYA WANITA

DABIQ 11 - MUSLIMAH

KEPADA SAUDARI KAMI:
JIHAD TANPA PERANG

Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa, Yang memuliakan kaum muslimin dan menghinakan kaum musyrikin. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada pemimpin manusia dari awal hingga akhir, pemimpin kita: Muhammad, kepada keluarganya dan para shahabat seluruhnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka di dalam kebaikan hingga hari kiamat. Amma ba'du.

Sesungguhnya ketika Allah ta'ala mewajibkan Jihad di Jalan-Nya terhadap para hamba-Nya yang laki-laki dan menjadikan di dalamnya pahala yang sangat besar yang tidak di dapati di dalam kewajiban-kewajiban lainnya, sebagian kaum wanita menjadi cemburu dan merasa iri, sehingga Ummu Salamah radhiyallahu anha bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, seperti yang disebutkan di dalam hadits Mujahid,

"Wahai Rasulullah, kaum laki-laki keluar untuk berperang, sedangkan kami tidak keluar untuk berperang …" maka Allah Ta‘ala menurunkan: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan." (An-Nisa: 32) sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya.

Namun, biarpun tidak ada kewajiban jihad dan berperang atas wanita muslimah –kecuali dalam mempertahankan diri dari orang yang menyerangnya– bukan berarti telah gugur peranannya dalam membangun umat, membentuk para pria, dan mendorong mereka ke medan laga. Karena itu, aku goreskan pena ini bagi para ukhti muslimah, istri para mujahid dan ibu bagi para anak-anak singa.

Allah berfirman, "Dan di antara mereka ada orang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka', Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya." (Al -Baqarah: 201-201)

Menurut Ali ibnu Abi Thalib radhiyallahu anhu, "Kebaikan di dunia" maknanya adalah "Istri yang shalihah". (Zadul Masir).

Tsauban berkata, "Ketika turun tentang ayat emas dan perak, para shahabat bertanya: 'Maka kekayaan apakah yang harus kita usahakan untuk kita miliki?' Umar berkata: 'Aku akan mencari tahu untuk kalian.' Dia kemudian naik ke atas untanya dan berjalan cepat hingga mendapati beliau shallallahu alaihi wasallam, sedangkan aku berada di belakangnya, maka dia berkata, 'Wahai Rasulullah, kekayaan seperti apakah yang harus kita cari?' Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Hendaknya setiap dari kalian menjadikan hatinya hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan istri yang menolongnya dalam urusan akhiratnya'." (Hasan: diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Ayah, ibu dan diriku sendiri sebagai tebusannya, sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah dikaruniai sifat jawami‘ul kalam: "Seorang istri yang menolongnya dalam urusan akhirat". Akhirat, hal yang paling penting, pelabuhan terakhir dan tujuan utama setiap fikiran seorang mu'min yang cerdas. Maka alangkah mengena perkataan salah satu wanita kepada suaminya tatkala dia melihatnya sedang bersedih, "Apa yang membuatmu bersedih? Apakah karena dunia sedangkan Allah telah membuatmu istirahat darinya, atau tentang akhirat, semoga Allah menambah kesedihanmu".

Dan engkau wahai ukhti fil Islam dan istri para mujahid, suamimu adalah orang yang mana seluruh dunia hari ini sepakat untuk memeranginya. Saudariku, tahukah engkau siapa mujahid itu? Mereka adalah orang yang telah mencampakkan dunia di belakang mereka dan berjalan menuju kematian demi hidupnya umat. Dan aku rasa ketika dia datang untuk menikahimu ketika itu dia adalah seorang mujahid atau jika tidak dia adalah calon mujahid. Paling tidak engkau ketika itu tahu aqidahnya dan manhajnya, dan engkau tahu jenis kehidupan apa yang akan dijalaninya.

Dan jika ketika itu dia adalah orang yang qa'id (duduk-duduk tidak berjihad) dan tersesat, maka dia telah bertaubat kepada Allah, dan Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hamba-Nya daripada seorang laki-laki yang terbangun dari tidurnya dan mendapati untanya ada di sisinya, padahal sebelumnya dia hilang dan tersesat di tengah sahara! Lalu mengapa kita dapati ada istri para mujahid yang mengeluh dalam kehidupan mereka? Jika dia mendengar ada pertempuran yang dekat yang suaminya akan ke sana dia marah. Jika dia melihat suaminya mengenakan baju tempurnya dia gelisah. Jika suaminya keluar untuk ribath, suasana hatinya menjadi gundah. Jika suaminya pulang terlambat, dia mengeluh.

Wahai saudariku, siapakah yang memperdayamu dengan mengatakan kehidupan jihad itu kehidupan yang nyaman dan menyenangkan? Tidakkah engkau mencintai jihad dan orang-orangnya? Coba dengarkanlah. Sesungguhnya engkau terhitung sedang di dalam jihad ketika engkau menanti suamimu kembali dengan penuh kesabaran dan penuh pengharapan akan pahala Allah, berdoa untuknya agar dia diberi kemenangan dan tamkin. Engkau berada di dalam jihad ketika engkau menjaga kesetiaanmu kepadanya di saat ketidak-hadirannya. Engkau berada di dalam jihad ketika engkau mengajarkan anak-anaknya antara yang benar dan yang salah, antara yang haq dan yang bathil.

Sungguh, engkau wahai saudariku yang tercinta, hari ini engkau adalah istri seorang mujahid, dan mungkin esok hari engkau adalah istri seorang syahid, atau istri seorang pejuang yang terluka, atau istri seorang yang berada di dalam tawanan, maka berapa banyakkah kesabaran yang telah engkau siapkan? Jika saja engkau telah mengeluh dan mengadu di saat kemudahan dan kelapangan, maka apa yang engkau akan lakukan di saat kesusahan dan musibah? Akankah engkau bersabar tatkala suamimu kembali sambil membawa darah yng mengalir? Atau jangan-jangan engkau hanya menginginkan suamimu hanya ketika dia dalam keadaan baik?

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Para ulama tafsir dan sejarah, juga yang lain berpendapat bahwa nabi Ayub alaihissalam adalah seorang yang berharta, yang memiliki banyak ragam kekayaan, termasuk binatang ternak, budak, kendaraan, tanah yang luas di negri al-Butsainah di wilayah Huran. Ibnu Asakir mengisahkan bahwa dia memiliki semua itu dan memiliki banyak anak laki-laki dan keluarga. Kemudian dia terhalang dari itu semua dan mendapat cobaan di setiap tubuhnya dengan berbagai jenis penyakit hingga tidak tersisa kecuali hati dan lisannya yang berdzikir kepada Allah, dan dia tetap bersabar dan penuh pengharapan kepada Allah, selalu berdzikir kepada Allah baik siang dan malam, pagi dan petang. Sakit yang menjangkitinya berlangsung lama, hingga teman-teman meninggalkannya, dan keluarga menjauhinya, bahkan dia diusir dari kampungnya dan dilemparkan ke tempat sampah, orang-orang tidak mau lagi berhubungan dengannya, dan tidak ada satu orang pun yang mendekatinya kecuali istrinya, dia tetap menjaga hak-haknya, dan mengenal kebaikan yang pernah diberikan oleh suaminya dan kelembutannya atasnya, dia selalu mondar-mandir untuk mengurus urusan suaminya, membantu menunaikan hajatnya dan mengerjakan kemashlahatannya, hingga sang istri menjadi lemah dan habis hartannya, sampai-sampai dia harus membantu orang-orang demi mendapat upah, agar bisa memberi makan suaminya dan memenuhi kebutuhannya, semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha. Dia tetap bersabar dengannya walau apapun yang terjadi dengan mereka, hilangnya harta, anak-anak, dan apa-apa yang menimpa mereka dari berbagai musibah yang menimpa suaminya, kesempitan hidup dan bantuan manusia, setelah sebelumnya penuh kebahagiaan, nikmat, khidmat, kedudukan, inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un." (al-Bidayah wan-Nihayah)

Ibnu Katsir rahimahullah kemudian berkata: "As-Suddi berkata bahwa daging Nabi Ayub alaihissalam berjatuhan dan tidak tersisa kecuali sedikit dan juga urat-uratnya, maka istrinya datang menemuinya membawa abu dan menebarkannya di bawahnya, ketika waktu semakin lama berjalan, istrinya berkata kepadanya: "Wahai Ayub, andai engkau berdoa kepada Rabbmu tentu Dia akan menyembuhkanmu", maka Nabi Ayub menjawab: "Aku telah hidup selama tujuh puluh tahun dalam keadaan sehat, lalu mengapa aku tidak sanggup bersabar dalam waktu yang sedikit ini bagi Allah dibanding dengan tujuh puluh tahun itu?", maka istrinya tertegun dengan kata-kata itu, maka dia membantu orang-orang untuk mendapat upah dan memberi makan Ayub alaihissalam. Namun kemudian orang-orang tidak mau lagi menggunakan tenaga wanita tersebut untuk membantu mereka ketika tahu bahwa dia adalah istri Ayub karena khawatir akan terkena musibah seperti yang menimpanya atau tertular penyakit seperti yang mengenainya jika bergaul dengannya. Maka ketika istri Ayub tidak lagi mendapati seseorang yang mau memperkerjakannya, maka dia pun pergi ke salah satu anak pembesar dan menjual salah satu kepangan rambutnya demi mendapatkan makanan yang baik dan banyak, lalu dia pun membawanya kepada Ayub, maka Nabi Ayub pun bertanya, "Dari mana engkau mendapatkan ini?" istrinya enggan untuk menjawab dan mengatakan, "Aku membantu beberapa orang". Keesokan harinya, Istri nabi Ayub kembali tidak mendapati seseorang yang mau memperkerjakannya hingga akhirnya dia menjual kembali kepangan rambutnya yang lain demi mendapatkan makanan dan membawanya kepada Ayub, ketika Nabi Ayub bertanya kepadanya dia tetap mengelak hingga akhirnya nabi Ayub bersumpah tidak akan memakan makanan itu kecuali istrinya mau memberitahukan dari mana dia mendapatkannya, maka istrinya membuka kerudung kepalanya dan terlihatlah cukuran rambutnya, maka Nabi Ayub alaihissalam berdoa: "Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Maha Penyayang dari semua yang penyayang"." (Al-Anbiya: 83). (Al-Bidayah wan-Nihayah)

Beginilah kisah istri Nabi Ayub, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya dan kepada seluruh Nabi dan kepada seluruh Rasul. Dia tetap bersabar dalam menghadapi musibah yang dialami suaminya dan tetap bertahan, tidak pernah menyerah ketika Rabbnya menguji suaminya. Maka ingatlah saudariku ukhti fid diin, akan firman Allah Ta'ala: "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (Az-Zumar: 10)

Akankah engkau tetap tegar jika suatu ketika engkau mendapat kabar bahwa suamimu tertangkap atau engkau akan segera meminta cerai? Alangkah menyedihkan, sungguh alangkah menyedihkan orang-orang kami yang tertawan. Betapa banyak manusia di dunia ini yang dihinakan oleh orang-orang terdekat mereka sebelum orang-orang terjauh, namun penghinaan dari seorang istri tetaplah yang lebih pahit dan menyakitkan.

Wahai muslimah, wahai istri tawanan, hai orang yang mengaku telah mencerai dunianya sebanyak tiga kali, bayangkan dia sedang menempati ruangannya yang sempit, penjara gelap dengan fikiran yang mengembara, sebuah senyum getir tersungging di wajahnya. Mungkin dia sedang membayangkan dirimu dan anak-anaknya saat itu dan kapankah cobaan itu akan berakhir sehingga dia dapat kembali berkumpul denganmu. Kenangan dan harapan yang datang bercampur, tidak terputus kecuali oleh panggilan sipir, suaranya yang dibenci beradu dengan suara denyitan pintu yang dibukanya, "Hei Fulan, ada kunjungan bagimu". Maka dia segera keluar, dengan napas yang memburu, dia melihatmu dari jauh hingga hatinya yang terluka pun tersenyum –dengan bayangan engkau berdua tidak sanggup berhijrah ke Daulah Islamiyah sehingga berbai'at dari tempat kalian tinggal dan berjihad di negerimu dan tidak ada hal yang menakutkan untuk mengunjunginya– dia segara menyambutmu dan mengucapkan salam, lalu membuka kata-katanya dengan bertanya tentang keadaan dan orang-orang yang dikasihinya, lalu engkau menjawabnya dengan singkat, keadaanmu gelisah tidak seperti biasanya, suaramu keluar dengan terbata-bata, dan memang seperti itulah seharusnya... sudah seharusnya engkau menutup mukamu dan bersembunyi, bahkan sudah seharusnya engkau membayangkan bahwa bumi di bawah telapak kakimu akan terpecah dan menelanmu sebelum engkau mengucapkan kata-kata itu, yang mana engkau datang untuk mengatakannya, "Maafkan aku, tetapi aku ingin bercerai darimu, karena kesabaranku sudah habis..." Ya! Begitulah dengan singkatnya. Lalu engkau berlalu dan pergi meninggalkan lelaki yang terduduk di depanmu dengan penuh rasa terkejut dan bingung.

Saudari muslimahku, apakah engkau melihat dinding itu yang memisahkan kalian berdua? Apakah engkau melihat rantai belenggu yang mengikatnya? Dan berbagai jenis siksaan yang telah dia rasakan semenjak hari pertama dia tertangkap dan setiap kepahitan yang dia minum tidak sebanding dengan keputusan angkuhmu! Kami berlindung kepada Allah dari penindasan manusia!

Aku teringat ketika salah seorang ukhti datang menemuiku untuk meminta nasihat kepadaku tentang meminta thalaq dari suaminya yang ditawan karena tekanan keluarganya kepadanya dan kepada anaknya, akan tetapi setelah beberapa hari aku mendengar bahwa sebenarnya dia tidak mampu bersabar atas ujian itu sehingga dia meminta cerai dan bahwa keluarganya tidak ada kaitannya! Dan sebagian orang mungkin berpendapat bahwa ini adalah haknya apabila dia khawatir terhadap dirinya. Maka aku katakan kepada mereka: Ya ini adalah haknya, akan tetapi antara hak ini dan bersabar terdapat derajat yang tidak akan diketahui nilainya kecuali oleh mereka yang memiliki jiwa yang terbuat dari emas murni, yang tidak akan berubah ketika menghadapi musibah atau keadaan yang sulit.

Berbeda dengan ukhti yang satu ini, aku mengenal seorang istri asir (tawanan) di mana dia ibarat madrasah kesabaran, kesetiaan dan keteguhan, tinggi seperti gunung yang menjulang, yang mendidik anak-anaknya sehingga menjadi singa-singa dan beruang, dia hidup dalam kenangannya dan setia menunggu pertemuannya. Sepuluh tahun berlalu semenjak dia di dalam penjara. Ya, genap sepuluh tahun, dan dia tetap tidak goyah, aku menilainya seperti itu dan hanya Allah yang dapat menilainya. Ketika dia melihat kami, dia berkata: "Apakah engkau berdoa kepada Allah untuk Abu fulan semoga dia dibebaskan?" Alangkah mulia dia dan pahalanya ada di sisi-Nya.

Saudariku muslimah, ini tentang siapa yang suaminya ditawan, maka bagaimana dengan yang suaminya terbunuh? Disebutkan di dalam "Al-Bidayah wan-Nihayah" dari Ismail ibnu Muhammad ibnu Sa'd ibnu Abi Waqqas bahwa dia berkata: "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melewati seorang wanita dari Bani Dinar yang mana suaminya, saudaranya dan ayahnya terbunuh dalam perang Uhud bersama Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, ketika dia diberitahu kabar duka itu dia berkata: 'Bagaimana keadaan Rasulullah?' Mereka menjawab, 'Beliau dalam keadaan baik, wahai Ummu fulan, beliau dalam keadaan yang engkau suka untuk melihatnya, alhamdulillah.' Dia berkata: 'Tunjukkanlah beliau kepadaku sehingga aku dapat melihatnya.' Dia berkata: 'Kemudian orang-orang menunjukkan beliau kepadanya, dan ketika wanita itu melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata, 'Seluruh musibah asal tidak menimpamu adalah ringan'." (Al-Bidayah wan Nihayah)

Di sini aku tujukan kata-kataku kepada para ukhti muhajirah, berapa sering kita mendengar saudari-saudari kita yang mana suaminya terbunuh, lalu seolah bumi yang luas ini menjadi sesak bagi mereka hingga mereka kembali berpaling ke darul kufur, di mana keluarga dan kerabat mereka berada. La haula wa la quwwata illa billah!

Aku beritahukan kepada mereka, engkau berdosa jika meninggalkan darul Islam dan kembali ke darul kufur. Siapa pun yang melakukan hijrah hanya demi suaminya, maka ketahuilah bahwa suaminya pasti akan mati, tanpa diragukan lagi, jika tidak hari ini maka tentu esok hari. Dan siapa saja yang melakukan hijrah karena Allah, maka ketahuilah bahwa Allah akan tetap ada, hidup selamanya, dan Dia tidak akan mati. Karena itu tetap teguhlah, wahai saudariku, semoga Allah meneguhkan kita, dan tetaplah bertahan di Daulah Islam dengan segenap kekuatanmu. Berbekallah dengan ketaatan dan ibadah agar menjadi penolongmu di dalam menghadapi musibah dan kesusahan.

Allah berfirman menceritakan tentang Nabi Yunus alaihissalam: "Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai Hari Berbangkit." (Ash-Shaffat: 143-144)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: "Jumhur ulama berpendapat bahwa maksudnya adalah: Jika bukan lantaran apa yang dia lakukan dahulu sebelum ditelan oleh ikan paus dari bertasbih, maka tentulah dia akan berada di perut ikan itu hingga hari kiamat. Qatadah mengatakan: Maka tentulah perut ikan itu menjadi kuburnya hingga hari kiamat, akan tetapi dia adalah orang yang banyak shalat ketika dalam keadaan mudah, sehingga Allah menyelamatkannya lantaran hal itu." (Zadul Masir)

Maimun ibnu Mihran berkata: "Aku mendengar ad-Dahhak ibn Qays berkata: 'Ingatlah Allah di saat lapang maka Allah akan mengingatmu di saat susah. Sesungguhnya Yunus adalah hamba Allah yang shalih, mengingat Allah, sehingga ketika dia berada di dalam perut paus, Allah berfirman: "Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai Hari Berbangkit" (ash-Shaffat: 143-144), sedangkan Firaun adalah hamba Allah yang melampau batas dan lupa untuk ingat kepada Allah, maka ketika "Sehingga ketika Fir'aun hampir tenggelam dia berkata, 'Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim (berserah diri).' 'Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan'. (Yunus: 90-91)". (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannafnya)

Adapun engkau wahai ibunda para anak singa... apakah yang engkau ketahui tentang induk para singa? Dia adalah guru bagi generasi dan pencetak para ksatria. Aku beritahukan kepadamu apa yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam: "Setiap dari kalian adalah penggembala (pemimpin), dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang dia gembalakan ... dan wanita adalah penggembala di dalam rumahnya dan dia akan bertanggung jawab atas gembalaannya."

Maka sudahkah engkau memahaminya, Wahai ukthi muslimah, besarnya tanggung jawab yang engkau emban? Wahai ukhti fid diin, aku melihat umat kita ini ibarat sebuah jasad yang terdiri dari banyak bagian, tetapi bagian yang paling penting dan paling efektif dalam membesarkan generasi adalah bagian ibu yang mendidik (anak). Karena alasan itulah, engkau membutuhkan banyak kesabaran dan kebaikan dan juga ilmu bermanfaat yang mencukupi untuk membangun generasi yang sanggup untuk mengemban amanah yang tidak sanggup diemban oleh langit, bumi dan gunung-gunung.

Engkau tahu bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim dan muslimah, dan Allah telah memberkahi Daulah Islam, yang tidak kikir terhadap wanita dalam menyediakan lembaga dan program pendidikan pada seluruh ilmu syari'at. Maka singkirkanlah debu kemalasan dan menunda-nunda, dan majulah, bebaskan dirimu dari kebodohan dan pelajarilah urusan agamamu. Dan Daulah kita -A'azzallah, semoga Allah memperkuatnya- tidak menginginkan pujian dan terimakasih dari kita, tidak juga dirham dan tidak pula Dinar, semoga Allah membalas mereka atas nama kami dan atas nama kaum Muslimin dengan balasan yang terbaik.

Ukhti muslimah, sesungguhnya engkau adalah mujahidah, dan apabila senjata kaum laki-laki adalah senapan serbu dan sabuk peledak, maka ketahuilah bahwa senjata wanita adalah akhlak mulia dan ilmu. Karena engkau akan memasuki kancah pertempuran antara yang haq dan yang bathil. Karena itulah, entah ini adalah mereka dengan generasi yang rusak dalam aqidah dan manhaj –maksudku adalah musuh-musuh dien ini– atau engkau dan generasi yang melihat kemuliaan ada pada lembaran-lembaran al-Qur'an dan moncong senjata. 
Karena hal inilah, mari jadikan semangatmu adalah semangat umat, sehingga engkau melihat dari mata seluruh anak-anak singamu seorang ulama yang berilmu dalam dan seorang penakluk hebat. Bercita-citalah kepada mereka seperti cita-cita Hindun binti Utbah radhiyallahu anha kepada putranya Mu'awiyah radhiyallahu anhu: "Ketika Abu Sufyan radhiyallahu anhu melihatnya sedang merangkak dan dia berkata kepada ibunya, 'Sesungguhnya anakku ini memiliki kepala yang besar dan dia pantas untuk menjadi pemimpin kaumnya.' Maka Hindun berkata: 'Hanya kaumnya? Sungguh malangnya aku jika dia tidak memimpin seluruh bangsa Arab!'" (Al-Bidayah wan-Nihayah). Maka Hindun pun meraih apa yang dia cita-citakan. Mu'awiyah menjadi pemimpin seluruh bangsa Arab dengan syari'at.

Wahai saudariku, jadikanlah seluruh anak-anakmu sebagaimana tiga anak Afra': Mu'adz, Mu'awwadz, dan Auf radhiyallahu anhuma. Dan alangkah agung apa yang dikatakan oleh Asma' binti Abu Bakr radhiyallahu anhu, pada hari di mana Ibnu Umar radhiyallahu anhuma masuk menemuinya ketika putranya Abdullah ibnu Zubair radhiyallahu anhuma disalib setelah dibunuh oleh Hajjaj, maka dia berkata padanya: "Sesungguhnya jasad ini bukanlah apa-apa, namun ruh itu berada di sisi Allah, bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah." Maka Asma' menjawab: "Apalah yang menghalangiku untuk bersabar, sedangkan kepala Yahya ibnu Zakariya telah dihadiahkan kepada salah satu pelacur Bani Israil." (Al-Bidayah wan-Nihayah). Allahu Akbar. Inilah wanita-wanita umat kita, para generasi Khansa pertama.

Wahai saudariku tercinta, sesungguhnya termasuk rahmat Allah kepadamu adalah Dia telah memuliakanmu untuk tinggal di tanah Khilafah. Maka gunakanlah itu sebagai kesempatan untuk mengajari anak-anakmu semampu yang engkau bisa tentang keshalihan yang dibangun di atas tauhid yang bersih, aqidah yang benar, kufur kepada thaghut dan beribadah kepada Allah semata, ajarilah kepada mereka tazkiyatun nufus, mengingat Allah, sirah nabawiyah, dan fiqh jihad. Dan jika para pengklaim Islam di tanah kufur membesarkan anak-anak mereka dengan cerita Cinderella dan Robin Hood, maka engkau harus menggunakan cerita dalam "Masyari' al-Asywaq ila Mashari' al-'Usysyaq" Ibnu an-Nuhhas rahimahullah sebagai cerita untuk anak-anak singamu sebelum mereka tidur. Dan di sini terdapat lembaga syari'ah, kamp pelatihan, dan bahkan taman kanak-kanak. Semua di Daulah kita, yang diberikan oleh mereka –A'azzallah, semoga Allah menjayakannya– berada di atas manaj kenabian, insya Allah, dan segala pujian hanya milik Allah.

Kemudian nasihatku kepadamu wahai saudariku, yang sedang mempersiapkan anak-anak singa khilafah, bekalilah mereka dengan ilmu lalu kemudian dengan senjata, karena senjata tanpa ilmu merupakan bahaya yang sangat besar dan jika itu terjadi maka sedikit sekali kebaikan dapat diperoleh. Jadilah engkau wahai saudariku yang mulia seperti Ibunda Ummu Sufyan Ats-Tsauri, seorang imam ahli hadits, faqih, hafizh, zuhud, 'abid dan wara‘, di mana ibunya: Ummu Habibah, suatu ketika berkata kepadanya: "Wahai anakku, tuntutlah ilmu maka aku akan mencukupimu dengan alat pemintal ini."

Lihatlah kepadanya, semoga Allah merahmatinya dan mengumpulkan kita bersamanya di surga Rabb kita. Apa yang dia minta dari putranya tidak lebih agar dia menuntu ilmu syar'i dan menguasainya, dan sang ibu akan berusaha memenuhi kebutuhan putranya dan nafkahnya lewat tenunannya. Semoga Allah memberkahi dirinya dan putranya, yang mana Abu Ishaq As-Sabi'i suatu ketika melihat Imam Sufyan Ats-Tsauri yang sedang berjalan, Abu Ishaq membaca, "Dan Kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak-kanak." (Maryam: 12)

Sebagai penutup, aku ingatkan diriku sendiri dan juga kalian, wahai saudariku yang mulia, untuk senantiasa memperbaiki niat dan menghadirkannya di dalam seluruh amalan kita, karena siapa yang amalnya karena Allah maka dia telah sukses dan menang, dan siapa yang amalnya untuk selain Allah maka dia telah kalah dan merugi, dan akhir dari doa kami adalah Alhamdulillahirabbil alamiin, Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam atas pemimpin kita, Muhammad, dan juga atas keluarga dan shahabat seluruhnya.

ABU JA'FAR AL-ALMANI

DABIQ 11 - SYUHADA

DIANTARA KAUM MU'MININ TERDAPAT KESATRIA:
ABU JA'FAR AL-ALMANI

Abu Ja‘far adalah sosok yang sangat dicintai oleh saudara-saudaranya. Dia orang yang ramah dan siap membantu kapan pun juga, selalu ada senyum di wajahnya untuk saudara-saudaranya.

Dia tumbuh di dalam lingkungan yang penuh dengan kriminal dan kerusakan, tetapi biar begitu, dia tidak pernah mengalami masa-masa jahiliyah (kesyirikan / kekafiran). Dia dibesarkan sebagai seorang Muslim semenjak kecil. Melalui kaum muslimin yang tinggal di sekitarnya, dia belajar dari Amir Khaththab dan mujahidin lainnya dari wilayah Kaukasus.

Sejak saat itu, ia selalu memiliki kerinduan batin untuk menjadi seorang mujahid. Sebagai seorang yang baru beranjak dewasa ia sangat aktif dalam memberikan dakwah kepada anak-anak di lingkungannya, dan juga melakukan haji pada usia yang relatif muda untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala. Ini menyebabkan dia dijuluki "Haji" (sesuatu yang tidak pernah dia minta tapi merupakan bagian dari budaya Turki dan sekitarnya).

Semua orang mengenalnya dengan nama ini dan semua orang mencintainya karena dia selalu memberikan rasa hormat kepada setiap individu dengan layak. Ketika sedang menjalani studinya di bidang teknik, ia menyaksikan ketidakadilan dan penindasan Nushairiyah terhadap Ahlus Sunnah di Syam, yang menyebabkan dia meninggalkan studinya dan tanpa menunda lagi segera berhijrah ke Syam.

Setelah tiba di Syam, sebelum dideklarasikannya Daulah Islam, ia bergabung dengan kelompok "Majlis Syura al-Mujahidin," yang pada saat itu dipimpin oleh Abul Atsir (hafizhahullah) dan saudaranya Abu Muhammad al-'Absi rahimahullah dan yang kemudian memberi bai'at secara berjama‘ah kepada Amirul Mu'minin Abu Bakr al-Baghdadi (hafizhahullah).

Sejak saat itu, dia pun menghabiskan hidupnya di dalam ribath dan qital di garis depan. Dia melakukan ribath terhadap tentara Assad di Khantuman serta Liramun dan bersama-sama dengan tentara Daulah Islam mereka bergerak maju menuju Kafr Hamrah. Dia kemudian pergi ke as-Sikak (rel kereta api) untuk Ribath dan ketika berada di sana, seorang ikhwan Jerman bernama Abu Zakariya mengalami cedera kepala. Abu Ja'far pun mempertaruhkan nyawanya untuk menariknya keluar dari zona pertempuran dan membawanya kembali ke markas untuk diobati.

Di Khantuman, ia menunggu dengan sabar bersama tentara Daulah Islam lainnya untuk mulai menyerang para Nushairiyah sana, namun beberapa hari sebelum terjadinya pengkhianatan Shahawat ia kembali ke Kafr Hamrah untuk mengurus beberapa urusan pribadi. Kemudian, pada "3 Januari 2014", Shahawat mulai memerangi Daulah Islam. Abu Ja'far kemudian berperang melawan kelompok Khalid Hayani di Huraytan, kemudian melawan Shahawat di Bashkoy, dan merupakan salah satu yang terakhir yang meninggalkan Huraytan menuju A'zaz bersama ikhwan Jerman (Daulah Islam) di bawah kepemimpinan Abu Ka'b rahimahullah.

Dari I'zaz mereka terus bertempur sepanjang jalan menuju kota al-Bab, di mana ia juga ikut melakukan Ribath. Setelah kedatangan mereka di Al-Bab, dia pun ditempatkan dengan saudara Jerman lainnya di Faruq Dam (sebelumnya bernama "Tisyrin" Dam), di mana mereka berpartisipasi dalam pembebasan Sirrin serta silo (lumbung gandung) yang sebelumnya berada di bawah kendali PKK najis dan Liwa Tsuwwar ar-Raqqah. Setelah itu, ia pergi dengan saudaranya menuju al-Khair untuk melawan faksi Shahawat dan suku Syu'aytat. 
Setelah membebaskan al-Khair dari Shahawat, ia pergi menuju 'Ain al-Islam (Kobane), di mana ia menjadi terkenal karena keberaniannya. Dia pernah berada di sebuah rumah yang kemudian dibom oleh pesawat koalisi hingga semua orang berpikir bahwa dia telah terbunuh, namun seorang ikhwah menyeretnya keluar dari reruntuhan dan Abu Ja'far langsung bangkit dan menyerbu ke arah PKK untuk memerangi mereka. Tapi beberapa hari kemudian, setelah ikhwah Jerman lainnya yang bersamanya baik telah terluka atau terbunuh, dia pun akhirnya menuai apa yang ia rindukan, syahadah di jalan Allah.

Hal itu terjadi selama serangan besar-besaran oleh tentara Daulah Islam terhadap faksi Kurdi atheis, di mana pesawat-pesawat koalisi datang untuk membantu faksi ini. Maka terjadilah, ikhwah kita ini terkubur untuk yang kedua kalinya di bawah reruntuhan. Setelah menerima syahadah, atheis PKK menyeret tubuhnya keluar dari puing-puing dan memperlihatkannya kepada dunia seolah-olah merekalah yang telah membunuhnya serta yang lainnya. Tetapi Allah mengetahui realitas klaim palsu mereka, dan tentara kami yang terbunuh berada di taman-taman surga sementara tentara mereka yang terbunuh berada di ruang bawah tanah dari api neraka.

Apabila mendengar ikhwah lainnya mengatakan apa yang menjadi keinginan mereka untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat di jalan Allah, Abu Ja‘far berkata: "Jangan berkata tentang itu, lakukan saja". Dia tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, selalu membaca al-Qur'an serta dzikir pagi dan petang. Semoga Allah menerima Abu Ja‘far dan seluruh ikhwah junud Daulah Islamiyah yang telah memberikan hartanya, darahnya, dan hidupnya demi menegakkan, melindungi dan memperluas Khilafah.

WASIAT ABU SINAN AN-NAJDI

DABIQ 11 - SYUHADA

WASIAT ABU SINAN AN-NAJDI

(Pada hari Kamis tanggal 21 Syawal, sebuah operasi istisyhadi dilakukan oleh tentara Khilafah di wilayah Hijaz. Saudara kita Abu Sinan an-Najdi (taqabbalahullah, semoga Allah menerimanya) menargetkan Emergency Task Force Alu Salul, yang memainkan peran utama dalam menahan para muwahhidin, serta mengamankan kekuasaan Thaghut dan majikan salibis mereka. Dia berhasil menembus beberapa lapisan keamanan dan memasuki salah satu kamp pelatihan mereka di kota Abha di wilayah 'Asir di mana dia meledakkan sabuk peledak, membunuh dan melukai puluhan dari mereka. Berikut ini adalah kata-kata terakhirnya yang dirilis melalui pernyataan audio, yang berisi pesan kepada para musuh Islam, serta pesan kepada saudara-saudaranya yang berjuang di jalan Allah.)

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Shalawat dan salam Allah semoga tercurah kepada yang telah diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi semesta alam. Amma ba‘du.

Allah ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang yang bertaqwa." (At-Taubah: 123)

Allah ta'ala juga berfirman: "Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung." (Al-Mujadilah: 22)

Pesan pertamaku aku tujukan kepada Alu Salul.

Demi Allah, kami datang kepada kalian bersama putra-putra Abu 'Ubaidah. Demi Allah! Demi Allah! Kalian tidak akan menikmati keselamatan dan keamanan, dan kalian tidak akan memiliki kehidupan yang nyaman selama kalian berperang melawan Islam dan kaum Muslimin dan tetap menjadi ekor Barat, yang bisa berlaku semau mereka di sekitar kalian. Dan inilah koalisi kalian dengan Majusi dan Tentara Salib melawan Ahlus Sunnah di Irak dan Syam sebagai saksi terbesar terhadap (kekafiran) kalian.

Dan untuk kalian, hai tentara Thaghut yang bertugas mengamankan tahtanya, demi Allah, kalian tidak akan menikmati kehidupan yang menyenangkan selama kalian bertugas sebagai penjaga bagi siapa yang pesawatnya, bersama-sama dengan Barat, mengebom saudara-saudara kami, dan selama kalian menjadi antek-anteknya, memenjarakan para ikhwan dan akhwat kami, mengobarkan perang terhadap Ahlus Sunnah dan berdamai dengan Rafidhah. Maka terimalah kabar gembira dari yang akan merusak kehidupan kalian.

Demi Allah, kalian tidak akan aman, hai tentara, baik engkau di rumah atau di jalanan, kami akan berada di setiap tempat pengintaian untuk menyergap kalian, kami datang kepada kalian dengan para lelaki yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan, yang mereka bersaing satu sama lain untuk bersegera menyerang kalian sebagaimana kalian saling bersaing untuk mendapat jabatan yang lebih tinggi, hai para pengecut!

Pesanku yang kedua adalah kepada para singa pemberani.

Allah ta'ala berfirman, seperti dalam qiraah Khalaf dari Hamzah, "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." (At-Taubah: 111)

Jual lah kehidupan kalian kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Seranglah dengan operasi istisyhadi dan sabuk peledak! Operasi istisyhadi telah membuktikan manfaatnya dan telah menghasilkan buahnya. Keuntungannya telah meluas, dan ini telah menjadi sumber bencana dan kehancuran bagi tentara salib dan pendukung jahat mereka, ini semua lebih berbahaya daripada senapan dan senjata mesin. Ini semua telah menanamkan teror di hati mereka begitu besar sehingga musuh-musuh Allah sekarang takut terhadap segala sesuatu dan menunggu kematian datang kepada mereka dari segala arah. Selain itu, bom istisyhad juga hanya menimbulkan sedikit kerugian dibanding semua metode syar'i pertempuran, sementara pada saat yang sama menjadi yang paling efektif. Ini adalah nasihat yang ingin aku sampaikan kepada saudara-saudaraku di Semenanjung Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

DARI JIHAD MENJADI FASAD

DABIQ 11 - SEJARAH

DARI JIHAD MENJADI FASAD

Ibrahim at-Taimi rahimahullah (Wafat 92 H) mengatakan: "Siapakah yang aman dari fitnah jika Khalilullah Ibrahim alaihissalam saja berdoa: "Wahai Rabb kami, Jagalah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala (Ibrahim: 35)"." (Diriwayatkan oleh ath-Thabari di dalam tafsirnya)

Ummu Salamah radhiyallahu anha pernah ditanya: "Doa apakah yang paling sering diulang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika beliau bersamamu?" Beliau menjawab, "Doa yang paling sering beliau ulang-ulang adalah: "Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu". Beliau berkata: "Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca doa: "Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu"? Beliau menjawab: "Wahai Ummu Salamah, tidaklah seorang Bani Adam kecuali hatinya berada di antara dua jemari Ar-Rahman. Jika Dia berkehendak maka Dia akan meluruskannya dan jika Dia berkehendak Dia akan membengkokkannya". (Hasan: diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata: "Aku telah bertemu tiga puluh shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, semua dari mereka khawatir akan kemunafikan menimpa diri mereka sendiri." (Dinukil oleh al-Bukhari di dalam Shahih-nya)

Umar radhiyallahu anhu berkata: "Kami hampir saja menjadi kufur dalam satu pagi jika saja Allah tidak menyelamatkan kami melalui Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu." (Diriwayatkan oleh Ibnu Batthah di dalam Al-Ibanah al-Kubra)

Ini gerangan sikap salaf. Kemudian datanglah generasi setelahnya yang terjangkiti penyakit Irja' hingga ke titik di mana mereka berani mengklaim bahwa iman mereka adalah sama dengan imannya Jibril! Mereka tidak takut terhadap sifat kemunafikan kecil (nifaq ashghar), tidak pernah khawatir terhadap kemunafikan besar (nifaq akbar), apalagi kemurtadan terang-terangan. Mereka yakin bahwa mereka benar, dan yakin bahwa mereka tulus, sehingga merasa perbuatan mereka tentu akan diterima, dan setelah itu mereka pasti akan memiliki akhir yang baik!

Semoga Allah melindungi hati kita dan perbuatan kita dari kemunafikan dan sifat ujub.

Dan demi klarifikasi, pada kolom "Dari Lembaran Sejarah" kita akan menyajikan secara singkat daftar para militan(1) dan bahkan "Mujahidin" yang jatuh ke dalam kemurtadan secara terang-terangan entah karena mereka berpihak kepada tentara salib atau para thaghut melawan Mujahidin atau masuk ke dalam agama parlemen dan kepresidenan Thaghut. Setelah itu, janganlah terkejut jika kemudian melihat berbagai faksi di Syam atau tempat lain berpihak dengan Shahawat, para thaghut atau tentara salib, menyerang Daulah Islam.

Afghanistan

Abdul Rasul Sayaf (mantan kepala "Persatuan Islam untuk Pembebasan Afghanistan," sekarang anggota parlemen Thaghut), Burhanuddin Rabbani (mantan kepala "Masyarakat Islam Afghanistan," meninggal saat menjadi Ketua Dewan Tinggi Perdamaian Afghanistan), dan Ahmad Shah Massoud (mantan komandan militer, meninggal ketika sebagai komandan "Front Persatuan Islam"), semuanya adalah mantan para pemimpin faksi-faksi utama yang berjuang melawan komunis Rusia dan selanjutnya melawan komunis Afghanistan. Ketiganya berjuang bersama 'Abdullah 'Azzam dan sebelumnya sering dipuji olehnya di dalam pidato dan surat-suratnya. Setelah runtuhnya rezim komunis Afghanistan, mereka semua secara bersama dengan yang lain mendirikan apa yang disebut "Negara Islam Afghanistan" pada tahun 1992. "Negara" ini yang kelak membentuk "Front Persatuan Islam untuk Keselamatan Afghanistan" alias "Afghanistan Aliansi Utara" yang berjuang demi kepentingan tentara salib dan para thaghut, ini menjadi sangat nyata setelah operasi 11 September yang penuh berkah.

Tajikistan

Abdullah Nuri (mantan kepala "Partai Kebangkitan Islam Tajikistan") berperang melawan komunis Tajikistan. Amir Khaththab Chechnya rahimahullah dirinya datang ke Tajikistan untuk berjihad dan berjuang bersama berbagai kelompok di sana, termasuk yang bersekutu dengan Nuri. Kelompok Nuri kemudian menandatangani perjanjian damai dengan komunis murtad. Partai ini kemudian menjadi anggota utama parlemen Thaghut, sehingga murtad dari Islam.

Libya

Abdelhakim Belhadj (Abu 'Abdillah ash-Shadiq), Abdel Wahab Qaid (Abu Idris al-Libi), Abdel-Hakim al-Hasidi, Sami Mustafa as-Sa'idi (Abul-Mundzir as-Sa'idi), semua adalah mantan anggota "Kelompok Pejuang Islam Libya" di mana kepemimpinannya berbasis di Afghanistan sebelum 11 September dan anggota pejuangnya telah melakukan berbagai operasi di Libya melawan Thaghut Qaddafi dan rezim murtadnya. Banyak pemimpin ini pernah menyertai Syaikh Usamah Ibnu Ladin rahimahullah di Afghanistan. Setelah runtuhnya Imarah Thaliban, para pemimpin "Kelompok Pejuang Libya" ditangkap oleh tentara salib dan kemudian diserahkan kepada boneka tentara salib Qaddafi lalu dibebaskan. Para mantan pemimpin jihad ini kemudian bergabung dengan parlemen Thaghut dan mengambil bagian dalam pemilu syirik setelah bertempur dalam perang melawan Thaghut Gaddafi pada tahun "2011".

Somalia

Sheikh Ahmed Syarif adalah komandan kepala Persatuan Pengadilan Islam pada "2006". Selama waktu ini, ia berperang melawan Thaghut Transisi Federal Pemerintah Republik Somalia. Setelah jatuhnya Mogadishu ke tangan tentara salib Afrika dan murtad Somalia, ia melarikan diri, kemudian kembali ke Somalia, ikut dalam pemilu syirik, dan menjadi presiden Thaghut, DABIQ 25 Si murtad Abbud Zumar setelah itu dia mengatur dengan hukum buatan manusia sejak "2009" hingga "2012." Dia terus menjadi sekutu tentara salib Amerika.

Iraq

Ali Bapir (mantan kepala "Kelompok Islam Kurdistan"), Mahmoud al-Masyhadani (mantan syar'i(2) dan pemimpin puncak di Anshar al-Islam), Sa'dun al-Qadhi Abu Wa'il (mantan kepala syar'i dari Anshar al-Islam), Muhammad Husain al-Juburi Abu Sajjad (mantan pemimpin Anshar al-Islam), Amin as-Sab' Abu Khadijah (mantan kepala "Jaisyul Islam"), Abul-Abd al-'Amiriyah (mantan komandan "Jaisyul Islam"), Abu 'Azzam at-Tamimi (mantan pemimpin "Jaisyul Islam"), Muhammad Abu Hardan Sa'id (mantan kepala "Jaisyul Mujahidin"), dan Haqqi Ismail asy-Syurtani (mantan komandan "Jaisyul Mujahidin"). Para pemimpin ini mengambil bagian dalam jihad di Irak. Ali Bapir mengambil bagian dalam jihad melawan Thaghut Saddam dan murtadin Peshmerga sebelum invasi Amerika ke Irak. Di saat invasi Amerika dimulai, ia bekerja sama dengan Peshmerga yang didukung tentara salib guna melawan Mujahidin di Kurdistan dan kemudian bergabung dengan parlemen Thaghut. Tokoh-tokoh lainnya semua mengambil bagian dalam jihad melawan tentara salib Amerika hingga beberapa dari mereka berakhir di penjara tentara salib dan membentuk kesepakatan dengan Amerika untuk menghentikan perang melawan tentara salib dan hanya berperang melawan "Khawarij". Mereka kemudian dibebaskan dan meyakinkan berbagai kelompok mereka dan bawahan mereka untuk ikut serta dalam pengkhianatan(3). Ini adalah Shahawat Irak pertama yang terang-terangan keluar dari al-Qa'idah dan bahkan Azh-Zhawahiri sendiri memperingatkan terhadap mereka pada beberapa kesempatan sebelum Azh-Zhawahiri sendiri menjadi pion di tangan Shahawat Suriah.

Mesir

Mohamed Abu Samra, Kamal Habib, Nabil Nu'aim, Karam Zuhdi, Abbud al-Zumar, Tarek al-Zumar, Najih Ibrahim, Usamah Hafidh, 'Asim 'Abdil-Majid, 'Isam Dirbalah, 'Abdul-Akhir al-Ghunaymi, dan Usamah Rusydi semuanya adalah mantan pemimpin dari "Jama'ah Islamiyah Mesir " atau "Jama'ah Jihad Mesir". Kedua kelompok ini telah melakukan jihad terhadap Thaghut dan tentara murtad Mesir. Semua pemimpin ini meninggalkan keyakinan mereka yang dulu dan ikut ambil bagian dalam pemilu Mesir setelah jatuhnya Thaghut Mubarak dengan membentuk dan mendukung partai politik termasuk "Partai Pembangunan dan Pengembangan" yang menjadi lengan politik dari "Jama'ah Islamiyah Mesir", "Partai Islam" (Partai Perdamaian dan Pembangunan), "Partai Jihad Demokrat" serta yang lain ...

Chechnya

Akhmad Kadyrov, Ramzan Kadyrov, Akhmed Zakayev, Ilyas Akhmadov, Sulim Yamadayev, Ruslan Yamadayev, dan Dzhabrail Yamadayev semua mantan nasionalis, pemimpin militan yang berjuang dalam Perang Chechnya Pertama melawan tentara salib Rusia di mana Amir Khaththab dan Syamil Basayev rahimahumullah juga berperang. Akhmed Zakayev dan Ilyas Akhmadov kemudian didukung tentara salib Barat di dalam media melawan Mujahidin. Sedangkan yang lain semuanya secara militer adalah satu pihak dengan tentara salib Rusia melawan mujahidin pada Perang Chechnya II. Mereka pada dasarnya adalah Shahawat Chechnya.

Palestina

Berbagai pemimpin dan cabang Hamas sejak bertahun-tahun mengaku akan melakukan "jihad" melawan Yahudi. Kenyataan menyatakan sebenarnya milisi ini adalah entitas nasionalis yang aktif mengadopsi demokrasi sebagai sarana perubahan sejak tahun "2005". Ini termasuk pemerintahan, presiden, dan pemilu legislatif, ikut ambil bagian dalam undang-undang dan pelaksanaan hukum buatan manusia. Ideologi demokrasi ini telah dipropagandakan oleh para pemimpinnya bahkan sebelum tahun "2005" sejak zaman Ahmad Yassin. Ia pernah ditanya dalam sebuah wawancara, "Orang-orang Palestina menginginkan negara demokrasi. Mengapa Anda menentang ini?" Dia menjawab, "Saya juga ingin negara multi-partai demokratis di mana otoritas adalah bagi mereka yang memenangkan pemilu." Dia kemudian ditanya, "Jika partai komunis yang menjadi pemenang pemilu, bagaimana Anda menempatkan posisi Anda?" Dia menjawab, "Bahkan jika partai komunis yang memenangkan pemilu, saya akan menghormati keinginan rakyat Palestina." Dia lalu ditanya, "Jika dari pemilu menjadi jelas bahwa rakyat Palestina menginginkan negara demokratis multi-partai, bagaimana Anda menempatkan posisi Anda saat itu?" Dia menjawab,"Wallahi, kita adalah bangsa yang memiliki martabat dan hak. Jika rakyat Palestina mengekspresikan penolakan mereka terhadap negara Islam, maka saya akan menghormati dan memuliakan keinginan dan kemauan mereka." (Ahmad Yasin, azh-Zhahirah al-Mu'jizah, Ahmad Ibnu Yusuf: 116, 118).

Kesimpulan

Ini adalah sebagian kecil dari sebuah daftar panjang. Semoga Allah menjaga hati kita di atas tauhid dan terbebas dari syirik hingga kita berjumpa dengan-Nya sementara Dia ridha terhadap kita. Aamiin.

Catatan kaki :

1. Catatan: Beberapa individu dan kelompok yang akan disebutkan tidak pernah berperang di jalan Allah sejak awal – mirip dengan kondisi banyak faksi di Syam – namun sebagian orang bodoh menganggap mereka sebagai "mujahidin" hanya lantara mereka berperang melawan tentara salib, komunis, dan orang kafir lainnya untuk alasan nasionalis.

2. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan orang yang bertanggung jawab atas fatwa, dakwah, dan pengadilan pada sebuah kelompok.

3. Anshar al-Islam menolak untuk ambil bagian dalam Shahawat ini, sehingga Sa'dun dan al-Juburi memisahkan diri dari kelompok tersebut dan membentuk kelompok mereka sendiri bernama "Ansharus Sunnah".

BAHAYA MENINGGALKAN DARUL ISLAM

DABIQ 11 - ARTIKEL

BAHAYA MENINGGALKAN DARUL ISLAM

Peristiwa yang berulang terjadi, adanya warga Suriah dan Libya yang meninggal di tepi pantai Turki, Libya, dan Italia, atau bahkan di jalan raya Austria, adalah salah satu hal yang harus menyadarkan hati dalam merenungi masalah hijrah.

"Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, 'Bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab, 'Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).' Mereka (para malaikat) bertanya, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?' Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah), maka mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun." (An-Nisa: 97-99)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Allah ta'ala tidak menerima amalan apapun dari seorang musyrik setelah ia menerima Islam hingga dia memisahkan diri dari orang-orang musyrik dan pergi menuju kaum Muslimin." (HR an-Nasa'i dan Ibnu Majah dari Mu'awiyah Ibnu Haidah)(1)

Meskipun kewajiban hijrah cukup jelas, sebuah kesalahan masih saja dilakukan secara berulang oleh para pengklaim Islam, dan itu adalah dalam memilih tujuan untuk "hijrah" mereka. Mereka selalu memilih negeri orang Kristen untuk tujuan mereka. Padahal setelah pembentukan Daulah Nabawiyah, hijrah adalah menuju kota Madinah dan tidak ke negeri al-Habasyah. Dan selama masa pemerintahan Umawiyah dan Abbasiyah, hijrah adalah menuju negeri Khilafah bukan ke negeri Roma dan Konstantinopel. Dan dengan bangkitnya Daulah Islam, maka hijrah adalah dengan menuju wilayah Khilafah, bukan menuju wilayah Nushairi, Rafidhah, Shahawat, atau wilayah PKK, atau ke Amerika, Eropa, dan sekutu Thaghut mereka.

Hijrah merupakan kewajiban dari Darul Kufur menuju Darul Islam. Ibnu Qudamah, misalnya, mengatakan, "Bab tentang Hijrah: Hijrah adalah meninggalkan Darul Kufur menuju Darul Islam." Dia kemudian mengutip ayat-ayat yang dirujuk sebelumnya dan bukti-bukti lainnya. Dia kemudian berkata, "Hukum hijrah akan tetap ada dan tidak akan berhenti sampai Hari Kiamat". (Al-Mughni)

Ibnul Qayim rahimahullah mengatakan bahwa: "Jika hukum-hukum Islam tidak diterapkan di suatu tempat, maka itu bukanlah Darul Islam." (Ahkam Ahli Adz-Dhimmah)

Hal ini terbukti, sebagaimana para sahabat tidak menganggap negeri yang diatur oleh para nabi palsu atau oleh orang-orang yang menolak membayar zakat kecuali sebagai Darul Harbi. Para Fuqaha' setelah mereka juga tidak menganggap wilayah yang diperintah oleh Tatar atau penguasa Ubaidi sebagai Darul Islam, karena meskipun para penguasa ini mengklaim Islam dan diatur dengan sebagian hukum-hukumnya, namun mereka murtad karena meninggalkan sebagian hukum atau ajarannya. Oleh karena itu, pindah ke negeri Alu Salul atau Shahawat bukanlah hijrah, karena penguasa negeri ini –di samping mereka bersekutu dengan tentara salib dan orang-orang murtad terhadap Islam– mereka juga meninggalkan dan menolak banyak hukum syari'at. Tidak ada wala' dan bara' kecuali berdasarkan sikap nasionalis.

Sayangnya, beberapa warga Suriah dan Libya bersedia mengambil risiko walau dengan nyawa dan jiwa orang-orang yang menjadi tanggung jawab mereka untuk dididik sesuai syari'at –yaitu anak-anak mereka– mengorbankan banyak dari mereka selama perjalanan berbahaya ke negeri salibis yang mengobarkan perang dan diatur dengan hukum atheisme yang keji. Meskipun sebagian besar dari keluarga-keluarga ini berangkat dari Darul Kufur –wilayah Shahawat, PKK, atau rezim– menuju negeri salibis, kemungkinan keluarga-keluarga ini meninggalkan negeri Khilafah dan memilih Amerika atau Eropa demi mengejar dunia, dan ini adalah permasalahan yang menjadi fokus pembahasan berkaitan hukum meninggalkan Darul Islam menuju Darul Kufur.

Oleh karena itu, harus diketahui bahwa pergi secara sukarela meninggalkan Darul Islam menuju Darul Kufur adalah termasuk dosa besar yang berbahaya, karena merupakan jalan menuju kekufuran dan gerbang bagi anak-anak dan keturunan seseorang untuk meninggalkan Islam dan masuk ke dalam ajaran Kristen, atheisme, atau liberalisme. Seandainya anak-anak dan keturunan ini tidak jatuh ke dalam kekufuran, mereka akan berada di bawah ancaman terus-menerus perzinaan, sodomi, obat terlarang, dan alkohol. Jika mereka tidak jatuh ke dalam dosa, mereka akan melupakan bahasa al-Qur'an –bahasa Arab– yang mana biasa digunakan di Syam, Irak, Libya, dan di tempat lain, sehingga membuat kembali ke agama dan ajaran-ajarannya lebih sulit.

Ada beberapa riwayat di dalam Sunnah tentang larangan untuk kembali ke tanah air seseorang setelah hijrah, hal yang serupa dengan meninggalkan Darul Islam menuju Darul Kufur. Ibnu Mas‘ud radhiyallahu anhu mengatakan: "Orang yang memakan riba, meyerahkannya, menulis dan menjadi saksinya –jika dia tahu bahwa transaksi itu adalah riba–, orang yang membuat tatto dan minta dibuatkan tatto untuk kecantikan, orang yang menolak membayar zakat, dan orang yang kembali menjadi Arab badui setelah dia hijrah maka mereka semua dikutuk melalui lisan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hingga hari kiamat." (HR an-Nasa'i dari Ibnu Mas'ud)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Seorang Muhajir dapat tinggal di Makkah selama tiga hari setelah menyelesaikan manasik (umrah atau haji)nya." (HR Al-Bukhari dan Muslim dari al-'Ala 'Ibnu al-Hadhrami)

'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu mengatakan, "Sungguh, dosa besar ada tujuh". Orang-orang ketika itu berkata-kata riuh, sehingga ia mengulangi pernyataannya tiga kali dan kemudian berkata, "Apakah kalian tidak bertanya tentang itu semua?" Mereka berkata, "Wahai Amirul Mukminin, apakah itu?" Dia menjawab, "Syirik, pembunuhan, menuduh wanita suci (qadzaf), mengambil harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dari pertempuran, dan kembali ke padang gurun sebagai Badui setelah hijrah." (diriwayatkan oleh ath-Thabari dalam tafsirnya)

Al-Qadhi 'Iyad berkata, "Umat telah ijma' akan larangan bagi seorang Muhajir meninggalkan hijrahnya dan kembali ke tanah airnya dan seorang Muhajir yang kembali menjadi Badui adalah dosa besar." (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi)

Ibnu Hajar berkata ketika mengomentari hadits al-'Ala' Ibnu al-Hadhrami yang dikutip di atas, "Hukum fiqh dari hadits ini adalah bahwa tinggal di kota Makkah adalah haram bagi mereka yang telah berhijrah dari sana sebelum Fathu Makkah. Tapi itu diperbolehkan bagi mereka yang melakukan haji atau umrah untuk tetap tinggal di sana selama tidak lebih dari tiga hari setelah menyelesaikan manasiknya." (Fathul Bari)

Hal ini penting untuk dicatat bahwa dalam hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu yang dikutip di atas serta dalam dialog antara Salamah Ibnu al-Akwa' dan al-Hajjaj tentang kembali menjadi seorang Badui setelah hijrah (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim), di dalam hadits dan atsar lain, yang menyebutkan tentang kembali ke gurun sebagai seorang Badui disebutkan dengan kata yang berakar pada kata "Riddah". Dalam hal ini Ibnu al-Atsir berkomentar, "Mereka (Salaf) menggunakan hal ini untuk menyebut orang yang setelah hijrah kembali lagi ke tanah airnya tanpa alasan seperti orang yang murtad." (An-Nihayah)

Hal ini mungkin disebabkan karena orang tersebut –dalam beberapa hal– berarti telah melalaikan aspek Islam lainnya termasuk mendengar, menaati, Jama'ah, jihad, Masjid, dll. Dan menurut sebagian ulama, pindah ke Darul Kufur dari Darul Islam adalah kemurtadan, sedangkan menurut yang lain berpendapat bahwa itu mendekati kemurtadan. Ibnu Hazm mengatakan, "Jika dia berpindah ke sana (negeri kaum salibis dan orang-orang kafir) demi apa yang mungkin dia peroleh dari dunia tapi ternyata dia tinggal di sana layakknya seperti seorang dzimmi –meskipun dia mampu untuk bergabung dengan kelompok umat Islam dan mencapai negeri mereka– maka perbuatannya ini tidak jauh dari kekufuran dan kita tidak menemukan udzur baginya." (Al-Muhalla)

Al-Hasan Ibnu Hay (meninggal 169 H) mengatakan, "Jika seorang pria berpindah menuju Darul Harbi tanpa melakukan kemurtadan dari Islam, maka dia adalah murtad karena meninggalkan Darul Islam itu." (Mukhtashar Ikhtilaf al-'Ulama', ath-Thahawi)

Kembali ke Darul Kufur tentu merupakan dosa besar yang dapat mencapai tingkat kemurtadan jika diikuti beberapa hal, misalnya, secara sukarela pindah ke negeri di mana orang tersebut akan dipaksa menjadi kufur, alasan pemaksaan (ikrah) tidak berlaku ketika individu ini sendiri yang membawa kondisi tersebut pada dirinya. Demikian pula halnya jika dia setuju terhadap syarat kekufuran –seperti dia harus bekerja sama dengan orang-orang kafir untuk menyerang umat Islam– sehingga dia diizinkan masuk ke Darul Kufur. Ini adalah kufur walau seandainya dia tidak menjalankan janjinya.

"Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, 'Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu: dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu". Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. Sungguh, jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan jika mereka diperangi: mereka (juga) tidak akan menolongnya: dan kalau pun mereka menolongnya pastilah mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan." (Al-Hasyr: 11-12)

Dan ada banyak amalan kekufuran yang mana seseorang dapat berpotensi jatuh melakukannya ketika dia pergi ke Darul-kufur.

Semoga Allah memudahkan bagi umat Islam untuk hijrah ke negeri Khilafah meskipun tentara salib dan murtad membuat makar (menghalangi dan mempersulit hijrah).

Catatan kaki :

1. Lihat Majalah Dabiq halaman 28-29 edisi 8 dan halaman 25-34 edisi 3.

AL-WALA' WAL BARRA' VS RASISME AMERIKA

DABIQ 11 - ARTIKEL

AL-WALA' WAL BARRA' VS RASISME AMERIKA

Tahun lalu telah mencuat sejumlah insiden high-profile yang mendominasi headline berita di Amerika, membawa kembali topik rasisme yang menjadi sorotan di seluruh negeri, dan seperti kebanyakan masalah besar lain yang mengambil panggung utama di media salibis, rasisme tidak pernah hilang untuk dirasakan oleh minoritas Muslim yang tinggal di tanah kufur. "Pemimpin" mereka mengatasi masalah ini dengan berusaha memberikan topik dengan rasa "Islam", tetapi biasanya sangat singkat. Ketika menangani masalah ini dari perspektif seperti itu, para pengajar dan penulis "Islam" sering melakukannya dengan nada humanistik yang berusaha menggambarkan Islam sebagai agama damai yang mengajarkan umat Islam untuk hidup berdampingan dengan semua orang. Diperdaya oleh konsep terbuka dari "toleransi", mereka mengutip banyak ayat dan hadits yang –memang seharusnya seperti itu– berfungsi untuk menunjukkan bahwa kebencian rasial tidak memiliki tempat dalam Islam, tetapi mereka melakukannya dengan tujuan untuk memajukan agenda yang mencoba untuk "mengislamisasi" konsep yang lebih "liberal" di mana orang-orang kafir bisa melakukan segala cara untuk berbuat jahat, seperti pluralisme politik, kebebasan beragama, dan menerima pelaku sodom. Dengan demikian, para "da'i" ini berusaha untuk mendorong masyarakat kafir di mana mereka hidup agar lebih menerima mereka, daripada menjawab permusuhan kaum musyrikin dengan kebencian dan pengingkaran. Mereka mengorbankan konsep wala‘ dan bara' (cinta dan benci karena Allah), tidak terusik untuk mengajarkan kepara para pembaca mereka tentang kewajiban seorang Muslim untuk menolak kekufuran, memisahkan diri dari orang-orang kafir, meninggalkan negeri mereka, menanamkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, dan mengobarkan perang melawan mereka sampai mereka tunduk kepada kebenaran.

"Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja'." (Al-Mumtahanah: 4)

Contoh Ibrahim alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya –yakni para nabi, seperti yang disebutkan oleh para ulama tafsir– yang dipuji oleh Allah sebagai teladan yang sangat baik untuk kita ikuti, adalah hendaknya setiap orang harus siap untuk menolak keluarganya sendiri ketika mereka jatuh ke dalam kekufuran dan kesyirikan, dan untuk tidak tetap berbaur bersama mereka karena ikatan kesukuan atau darah. Jika hal ini terjadi dengan kaumnya sendiri yang mana merupakan satu garis keturunan, terlebih lagi dalam kasus pada mereka yang hanya memiliki kesamaan pada sedikit karakteristik seperti warna kulit! Karena itu, cara yang benar untuk mengatasi isu rasisme dari perspektif Islam adalah dengan menegaskan kembali betapa pentingnya wala' dan bara', dan menyatakan dengan terang-terangan dan tegas bahwa mereka yang berperang melawan Islam dan kaum Muslimin tidak akan lolos dari balasan karena warna kulit atau etnis mereka. Nasib orang kafir yang memerangi kaum Muslimin adalah satu dan sama bagi seluruh jenis ras: pembantaian.

Alasan untuk hal ini sederhana: loyalitas seorang Muslim ditentukan, bukan dengan warna kulitnya, afiliasi sukunya, atau nama terakhirnya, tetapi dengan imannya. Dia mencintai orang-orang yang dicintai Allah dan membenci orang-orang yang dibenci Allah. Dia menjalin hubungan karena Allah dan memutuskan hubungan karena Allah. Mufassir umat ini, 'Abdullah Ibnu 'Abbas radhiyallahu anhu berkata, "Cinta karena Allah, benci karena Allah, berteman karena Allah, dan bermusuhan karena Allah, perwalian Allah tidak akan tercapai kecuali dengan hal ini. Seseorang tidak akan merasakan manisnya Iman, walaupun shalat dan puasanya banyak, hingga dia berlaku seperti ini."(Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak di dalam "Az-Zuhd" dan oleh al-Lalika'i)

Pernyataan Ibnu 'Abbas radhiyallahu anhu ini merupakan cerminan pernyataan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika menyatakan bahwa wala' dan bara' adalah ikatan iman yang terkuat. Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu anhu mengatakan bahwa di saat mereka sedang duduk bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika itu beliau bertanya, "Apakah ikatan Islam yang terkuat?" Mereka menjawab, "shalat", beliau berkata, "Ini adalah baik, tetapi bukan itu." Mereka berkata, "Zakat" beliau menjawab, "ini adalah baik, tetapi bukan itu." Mereka berkata, "Puasa Ramadhan", Beliau menjawab, "ini adalah baik, tetapi bukan itu." Mereka berkata, "Haji", beliau menjawab, "Ini adalah baik, tetapi bukan itu." Mereka berkata, "jihad" beliau menjawab, "ini adalah baik, tetapi bukan itu. Sesungguhnya, ikatan terkuat Islam adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." (HR Imam Ahmad dan lain-lain)

Prinsip inilah –ikatan terkuat dan paling kuat di dalam Islam– yang telah mendorong Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu untuk menghabiskan sejumlah besar kekayaan untuk membeli budak Ethiopia Bilal radhiyallahu anhu dan membebaskannya. Ketika pemilik Bilal, yaitu Umayah mengejek Abu Bakar setelah transaksi dengan mengatakan bahwa ia akan menjualnya sepersepuluh dari harga yang mereka sepakati, Abu Bakar menjawab bahwa jika Umayah menuntut sepuluh kali harga yang telah disepakati ia tetap akan membayar itu. Beberapa tahun kemudian, Abu Bakar dan 300 orang Arab lainnya akan bergerak maju dalam Perang Badar bersama mantan budak Ethiopia ini untuk menebas leher kaum mereka sendiri. Hari itu kemudian disebut sebagai Hari Furqan, hari yang Allah pisahkan di dalamnya antara kebenaran dan kebathilan melalui tangan orang-orang yang membunuh dan menawan kaum mereka sendiri karena Allah. Tidak ada hari sebelum hari itu yang membuatnya lebih jelas bahwa semua afiliasi masa lalu telah dihancurkan, hanya menyisakan satu ikatan yang tersisa – ikatan antara seorang Muslim yang beriman dan saudaranya, terlepas dari ras atau etnis. Maka tidaklah aneh bagi orang-orang yang beriman untuk mendengar bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa ayahnya sendiri, serta pamannya yang terdekat, Abu Thalib, keduanya adalah orang kafir yang akan mendapat siksa Allah di neraka, sementara beliau menyatakan bahwa beliau telah mendengar langkah kaki Bilal di Jannah.

Dan jika seseorang merasa ragu bahwa ikatan persaudaraan ini ditegakkan oleh tentara dan pemimpin Daulah Islam, mereka cukup melihat kepada 1400 Rafidhah yang dibantai oleh sesama warga Irak dan Arab, atau mata-mata yang tak terhitung jumlahnya yang dikirim ke Daulah Islam dari berbagai negara di dunia hanya akan dieksekusi oleh rekan-rekan senegara mereka. Di sini, di Daulah Islam, semua afiliasi runtuh dan tidak berlaku ketika itu semua bertentangan dengan kesetiaan seseorang terhadap Islam dan umat Islam. Sehingga seorang Mujahid Suriah tidak ragu-ragu untuk menginjak-injak bendera Suriah, dan Mujahid Amerika tidak akan berpikir dua kali untuk membakar "bendera bintang-berkelip". Muhajirin dan Anshar menyadari bahwa kekuatan mereka ada dalam persatuan mereka di dalam Tauhid, bukan dalam afiliasi ras.

Sungguh, pan-Arabisme dari rezim Baath –termasuk Basyar, Saddam, dan Nasser– berada di bawah kaki para mujahidin Arab Khilafah, di antara mereka ada orang-orang yang melakukan perjalanan sejauh ke Khurasan untuk mengorbankan darah dan harta mereka di jalan Allah, dan untuk membela saudara-saudara non-Arab mereka ketika Rusia menyerbu pertama kali beberapa dekade yang lalu, dan sekali lagi ketika Amerika menginvasi pada tahun 2001. Kaum Muslimin dari seluruh dunia Arab juga meninggalkan rumah, keluarga, dan gaya hidup nyaman mereka untuk menjawab panggilan jihad di tempat-tempat jauh dan tidak menentu seperti hutan Chechnya, pegunungan Bosnia, dan padang pasir Mali.

Kesiapan mereka untuk berkorban karena Allah untuk membela saudara-saudara non-Arab mereka digambarkan dalam kata-kata Syaikh Abu Mush'ab az-Zarqawi yang pernah menyatakan, "Kami melakukan jihad agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan agama menjadi benar-benar hanya untuk Allah. "Dan perangilah mereka hingga tidak ada fitnah dan (sampai) agama, semua itu, hanyalah untuk Allah" (Al-Anfal: 39). Setiap orang yang menentang tujuan ini atau berdiri menghalangi di jalur tujuan ini adalah musuh kita dan target bagi pedang kita, siapa pun namanya dan apa pun garis keturunannya. Kami memiliki agama yang telah diturunkan oleh Allah untuk menjadi timbangan dan pemberi keputusan. Pernyataannya adalah ketentuan dan penghakimannya bukan gurauan. Ini adalah kekerabatan antara kami dan manusia, timbangan kami–dengan rahmat Allah– adalah timbangan rabbani, hukum kita adalah Al-Qur'an, dan penilaian kami di atas manhaj kenabian. Muslim Amerika adalah saudara kami tercinta, dan kafir Arab adalah musuh yang kami benci bahkan jika ia dan kami telah terlahir dari rahim yang sama". (Al-Mauqif asy-Syar'i Min Hukumat Karzai al-‘Iraq)

Hari ini, kaum Muslimin non-Arab datang ke tanah Khilafah di jantung dunia Arab dari segala penjuru dunia dan disambut oleh ikhwah Arab mereka dengan penuh antusias, sehingga mereka bisa berdiri bersama-sama dan berperang melawan para thaghut, baik Arab dan non-Arab semua sama. Kesetiaan mereka terhadap satu sama lain berakar di dalam iman mereka kepada Allah dan kufur mereka kepada thaghut, dan tercermin dalam kata-kata Amir mereka, Khalifah Muslim, Syaikh Ibrahim Ibnu 'Awwad al-Husaini berikut ini:

"Wahai umat Islam di mana pun kalian berada, kabar gembira bagi kalian dan berharaplah yang baik. Angkat kepala kalian tinggi-tinggi, karena hari ini –dengan rahmat Allah– kalian telah memiliki Daulah dan Khilafah, yang akan mengembalikan martabat, kekuatan, hak, dan kepemimpinan. Ini adalah negara di mana orang Arab dan non-Arab, pria kulit putih dan pria kulit hitam, orang Timur dan orang Barat semua adalah saudara. Ini adalah Khilafah yang mengumpulkan Kaukasus, India, Cina, Syam, Irak, Yaman, Mesir, Maghribi (Afrika Utara), Amerika, Perancis, Jerman, dan Australia. Allah telah membawa hati mereka bersama-sama, sehingga mereka menjadi saudara karena rahmat-Nya, mencintai satu sama lain karena Allah, berdiri bersama di dalam satu parit, membela dan menjaga satu sama lain, dan mengorbankan diri mereka untuk satu sama lain. Darah mereka bercampur dan menjadi satu, di bawah satu bendera dan satu tujuan, dalam satu kafilah, menikmati berkah ini, berkah persaudaraan setia. Jika para raja itu ingin mencicipi berkah ini, mereka akan rela meninggalkan kerajaan mereka dan berebut anugerah ini. Segala pujian dan syukur kami kepada Allah. Oleh karena itu, bersegeralah wahai umat Islam menuju negara kalian. Ya, ini adalah negara kalian. Bersegaralah, karena Suriah tidak untuk orang Suriah, dan Irak tidak untuk orang Irak. Bumi adalah milik Allah Ta‘ala. "Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah, diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al-A'raf: 128). Negara ini adalah negara bagi seluruh umat Islam. Tanah ini adalah tanah untuk kaum Muslimin, seluruh kaum Muslimin." (Pesan Kepada Para Mujahidin Dan Umat Muslim Di Bulan Ramadhan)

Sesungguhnya rasisme adalah perangkat setan, sebagaimana juga nasionalisme, yang bertujuan untuk memecah dan melemahkan anak-anak Adam dan mencegah mereka dari bersatu di atas kebenaran. Karena sebagaimana para nasionalis yang tidak akan pernah melancarkan jihad di luar perbatasan negeri mereka untuk menyebarkan Islam ke penjuru bumi dan menghapus kesyirikan, begitu juga orang rasis, dia cenderung tidak akan mengingkari setiap orang yang satu ras kecuali dia yang mereka anggap "membenci diri sendiri", apalagi melawan mereka demi meninggikan kalimat Allah. Seorang Muslim, sudah sepatutnya untuk tidak menerima apabila umat terbagi-bagi atas nama konsep yang remeh, karena ia meyakini bahwa satu-satunya perbedaan adalah apa yang memisahkan antara seorang Muslim dan orang kafir, sedangkan perbedaan lainnya hanya akan menjadi sumber kelemahan.

"Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang." (Al-Anfal: 46)

Sangat penting untuk dicatat bahwa pasukan kufur dan murtad memahami bahwa mereka lebih lemah saat terpecah belah. Karena itu, mereka secara teratur bersegera membuang perbedaan demi melancarkan perang melawan kebenaran, kemudian setan menghasut anak-anak Adam untuk terpecah dan berbeda sesuai garis rasial, etnis, dan suku untuk mengalihkan mereka dari menjalin ikatan kuat dengan wala' dan Bara', demikian juga setan menghasut mereka untuk melupakan perbedaan kecil demi menyatukan mereka dalam mengobarkan perang terhadap Islam. Hasutannya untuk hal itu kepada kaum kafir dan para thaghut pada hari ini telah memuncak dengan pembentukan aliansi lebih dari 60 negara untuk melawan Daulah Islam! Dan sebagaimana Allah memberi tahu kita, jawaban untuk setiap koalisi orang-orang kafir yang ingin berperang melawan Islam dan kaum Muslimin adalah hendaknya umat ini memperkuat wala' dan Bara'.

"Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah, niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar." (Al-Anfal: 73)

Maka marilah wahai setiap muslim yang ingin merasakan manisnya wala‘ dan bara‘ untuk mengikuti teladan Ibrahim alaihissalam dan menyatakan permusuhan terhadap orang-orang kafir walau dari kaumnya sendiri –apakah berkulit hitam, putih, Arab, atau non-Arab–. Dan kemudian berbaris maju dan berperang melawan mereka dengan cara apa pun yang sanggup dilakukannya.

“IMAM MAHDI” KAUM RAFIDHAH, DAJJAL

DABIQ 11 – ARTIKEL

“IMAM MAHDI” KAUM RAFIDHAH, DAJJAL

Semakin dekatnya hari Kiamat, menjadi penting rasanya untuk merefleksi beberapa hal yang dibuat-buat tentang peristiwa masa depan, karena tidak diragukan lagi hal ini akan memainkan peranan yang kelak akan dilakukan oleh berbagai aliran sesat. Di antara hal ini adalah tentang "al-Mahdi" kaum Rafidhah yang akan mengobarkan perang melawan Islam dan kaum Muslim, melawan keadilan dan kebenaran yang dipandu oleh al-Mahdi masa depan yang telah dijelaskan dalam sunnah. Semakin dekat hari Kiamat, semakin erat kaum Rafidhah berhubungan dengan orang-orang Yahudi untuk mempersiapkan datangnya pemimpin jahat yang ditunggu-tunggu ini. Setelah membaca catatan orang-orang Rafidhi tentang "al-Mahdi," menjadi jelas bahwa ia tidak lain adalah Dajjal.

Menurut kelompok Rafidhah, "al-Mahdi" adalah putra dari al-Hasan al-Askari yang bernama "Muhammad". Al-Hasan al-Askari meninggal hampir 1.200 tahun yang lalu. Mereka mengklaim Muhammad "al-Mahdi" lahir sekitar waktu kematian ayahnya. Para ulama Ahlus Sunnah ragu bahwa al-Hasan al-Askari pernah memiliki anak yang masih hidup, namun menurut klaim Rafidhah ia memiliki seorang putra yang disembunyikan oleh ayahnya atau oleh saudaranya dan yang kemudian bersembunyi di dekat Samarra' dan kelak akan muncul kembali sebelum hari Kiamat setelah hidup di dalam persembunyian lebih dari seribu tahun, atau seperti yang mereka klaim. Di sini, kami akan mengutip beberapa riwayat tentang "al-Mahdi" mereka dari kitab-kitab mereka "yang paling bisa dipercaya". (1)

Seorang Rafidhi an-Nu'mani meriwayatkan di dalam bukunya "Al-Ghaibah", "Ketika Imam ('al-Mahdi') menyeru, ia akan memohon kepada Allah melalui nama Ibrani-Nya."

Dalam buku "Al-Kafi", seorang Rafidhi bernama al-Kulaini memberi judul sebuah bab dengan nama: "Bab: Ketika Imam Muncul Mereka Akan Mengatur dengan Hukum Dawud dan Keluarga Dawud". Dia kemudian meriwayatkan bahwa Ja'far ash-Shadiq mengatakan, "Ketika al-Qa'im ('al-Mahdi') dari keluarga Muhammad muncul, ia akan memerintah dengan hukum Dawud dan Sulaiman." Dalam riwayat lain, Ja'far ash-Shadiq berkata, "Dunia tidak akan berakhir hingga seorang pria dari keturunanku akan mengatur dengan hukum Dawud." Al-Kulaini juga meriwayatkan bahwa Ja'far ash-Shadiq ditanya, "Berdasarkan apa engkau akan memerintah?" Dia menjawab, "dengan hukum keluarga Dawud."

Dalam "Al-Irsyad", seorang Rafidhi bernama at-Tusi meriwayatkan bahwa Ja'far ash-Shadiq mengatakan, "Dari Kufah akan muncul bersama al-Qa'im dua puluh tujuh laki-laki pengikut Musa, tujuh Ashabul Kahfi, Joshua, Sulaiman, Abu Dujanah Al-Ansari, al-Miqdad, dan Malik al-Asytar. Mereka akan mendukungnya."

Seorang Rafidhi bernama al-Majlisi meriwayatkan di dalam "Bihar al-Anwar" bahwa Ja'far ash-Shadiq mengatakan, "Al-Qa'im akan berurusan dengan orang-orang Arab sesuai dengan tanda merah." Dia ditanya, "Apa itu tanda merah?" Dia menjawab dengan menyilangkan jarinya di atas lehernya yang menunjukkan pembunuhan. Al-Majlisi juga meriwayatkan bahwa Ja'far ash-Shadiq berkata, "Takutlah kepada orang-orang Arab, karena mereka memiliki masa depan yang buruk. Sungguh, tidak ada satu pun dari mereka akan mengikuti al-Qa'im ketika ia muncul."

Seorang Rafidhi bernama an-Nu'mani juga meriwayatkan dalam "Al-Ghaibah" bahwa Muhammad al-Baqir mengatakan, "Jika orang tahu apa yang akan dilakukan oleh al-Qa'im ketika ia muncul maka kebanyakan dari mereka tentu tidak ingin melihatnya karena sangat banyak orang-orang yang akan dia bunuh. Ia hanya akan mulai pembunuhan dengan membunuh orang Quraisy. Dia tidak akan menerima apa pun dari mereka kecuali perang dan dia tidak akan menawarkan apapun kecuali pedang." An-Nu'mani juga meriwayatkan bahwa Ja'far as-Shadiq mengatakan, "Ketika al-Qa'im yang berasal dari keluarga Nabi itu muncul, ia akan membawa lima ratus orang dari Quraisy dan memenggal leher mereka. Dia kemudian akan membawa lima ratus lagi dan memenggal leher mereka. Dia akan melakukannya hingga enam kali (sehingga dia membunuh tiga ribu orang dari Quraisy). Dia akan membunuh mereka dan pengikut mereka." Dia juga meriwayatkan bahwa Ja'far ash-Sadiq(2) mengatakan, "Ketika al-Qa'im mulai muncul, tidak akan ada antara dia dan Arab serta Quraisy kecuali pedang."

Maka "al-Mahdi" menurut Rafidhah adalah dia berbicara dalam bahasa Ibrani, mengatur dengan Taurat, diikuti oleh orang-orang Yahudi, dan membunuh orang-orang Arab terutama Quraisy! Apakah ini gambaran tentang al-Mahdi atau Dajjal? Bandingkan dengan keterangan bahwa tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Asbahan (Isfahan saat ini di Iran) akan mengikuti Dajjal seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas radhiyallahu anhum.

Dan juga apabila kita memperhatikan bahwa Dajjal akan muncul dari daerah Khawarij seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu 'Umar radhiyallahu anhum. Dan juga apabila dibandingkan bahwa mereka yang menyangkal Qadar adalah termasuk pengikut Dajjal seperti disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Hudzaifah radhiyallahu anhum. Hal ini penting karena dua alasan, yakni karena Rafidhah berasal dari sekte Khawarij terbesar. Mereka dan Khawarij lainnya memiliki akar yang sama pada seorang Yahudi bernama 'Abdullah bin Saba', yang ikut andil dalam pemberontakan terhadap Khalifah yang sah 'Utsman radhiyallahu anhu. Untuk alasan ini, beberapa ulama juga menyebut Khawarij sebagai "Saba'iyah"(3). Selain itu, Rafidhah juga terkenal karena mengucapkan vonis takfir kepada sebagian besar umat termasuk generasi terbaik dari umat –sahabat Nabi – Menolak otoritas para khalifah, bahkan bekerja sama dengan Tentara Salib dan Tatar melawan para khalifah dan rakyat Muslim mereka. Kaum Rafidhah juga memiliki sejarah pembantaian terhadap kaum Muslimin yang menolak keyakinan Rafidhah. Ini terlihat sangat nyata selama kerajaan Shafawi (1501- 1736 M) dan perang terhadap Ahlus Sunnah di Persia.

Terakhir, Rafidhah adalah salah satu sekte dari Qadariyah, mereka menyangkal bahwa perbuatan baik dan buruk adalah dengan qadar Allah. Oleh karena itu, kaum murtad Rafidhah telah menggabungkan antara syirik akbar (menyembah keluarga Nabi shallallahu alaihi wasallam), penolakan terhadap al-Qur'an dan Sunnah (karena mereka mengklaim bahwa para Sahabat telah memalsukan teks-teks agama), takfir terhadap para sahabat radhiyallahu 'anhum dan ummahatul mukminin, dan keyakinan dalam bid‘ah sesat Khawarij dan Qadariyah. Ketika merenungkan tentang ini dan fakta bahwa orang-orang Yahudi menunggu apa yang mereka sebut al-Masih/Messiah –padahal orang-orang Yahudi menyangkal kerasulan Isa alaihissalam, yang akan kembali sebelum Hari Kiamat– hal ini diperkirakan bahwa kaum Rafidhah akan bersekutu secara terang-terangan dengan orang-orang Yahudi di masa depan dalam perang mereka melawan Islam dan kaum Muslimin.(4)

Kami berlindung kepada Allah untuk Ahlus Sunnah dari kejahatan Dajjal. 70.000 orang Yahudi dari Ashbahan akan keluar mengikuti Dajjal.

Catatan kaki :

1. Sifat jujur adalah sesuatu yang mustahil bagi kaum pembohong Rafidhi, karena mereka terkenal sebagai makhluk paling pembohong. Tapi meskipun ada pemalsuan terang-terangan dalam kisah mereka, mereka tetap bertindak sesuai dengan keyakinan yang salah yang mereka pegang, sebagaimana orang-orang Yahudi yang akan mengikuti Dajjal sesuai dengan kepalsuan yang mereka klaim, di mana mereka menganggap bahwa Dajjal adalah al-Masih.

2. Catatan: Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Sadiq, dan al-Hasan al-Askari bukanlah orang Rafidhah. Mereka berasal dari Ahlul Bait (keluarga) Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana 'Ali, Fatimah, al-Hasan dan al-Husain berasal dari keluarga Nabi. Hanya saja kaum Rafidhah membuat kedustaan atas nama 'Ali dan juga atas keluarga dekat mereka. Kaum Rafidhah membuat kedustaan atas nama keturunan mulianya.

3. Kedekatan Rafidhah kepada Khawarij yang lain terlihat pada wala' antara Iran and Oman. Oman diperintah semata-mata oleh Ibadiyah dan dihuni kebanyakan oleh mereka. Ibadiyah secara historis merupakan kelompok sesat Khawarij: tapi selama beberapa abad terakhir mereka telah berubah menjadi sekte murtad Jahmiyah. Thaghut mereka "sultan" mengatur dengan hukum buatan manusia dan memiliki wala' kepada Tentara Salib, kepada para thaghut Arab dan non-Arab termasuk Alu Salul dan Rafidhah.

4. Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti bagaimana tepatnya hal tersebut akan terjadi, tapi sangat menarik untuk dicatat bahwa 340 rabi Yahudi Amerika baru-baru ini menulis surat yang ditujukan kepada kongres Amerika untuk mendukung rekonsiliasi Amerika-Iran, seperti dilansir "I24 News" (saluran berita Yahudi) pada "18 Agustus 2015" dalam sebuah artikel berjudul " Suara Dukungan Ratusan Rabi AS untuk Kesepakatan Nuklir Iran." Laporan itu menambahkan bahwa Jewish Defense Forces Military Intelligence Directorate‘s Research Department memperlihatkan sikapnya terhadap kepemimpinan politik dari negara Yahudi dan "menekankan adanya kemungkinan manfaat yang bisa diambil dari kesepakatan tersebut."