Rabu, 25 April 2018

SEMBAHLAH OLEH KALIAN ALLAH SAJA

DABIQ 15 - PENDAHULUAN

SEMBAHLAH OLEH KALIAN ALLAH SAJA

“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (QS. At-Taubah : 126)

Setelah serangan di Orlando (AS), Dhaka (Bangladesh), Magnanville, Nice dan Normandy (Perancis), serta Wirzburg dan Ansbach (Jerman) yang menyebabkan kesyahidan 12 prajurit Khilafah serta mati dan terlukanya lebih dari 600 salibis, siapapun akan mengira bahwa para penyembah salib dan orang-orang musyrik penyembah demokrasi di Barat akan berhenti sejenak dan merenungkan alasan dibalik kebencian dan permusuhan umat Islam terhadap masyarakat Barat, atau mengambil pelajaran dan berpikir untuk bertaubat dengan meninggalkan kekafiran mereka dan memeluk Islam.

Namun demam dan khayalan yang disebabkan oleh dosa, khurafat dan sekulerisme telah menyebabkan pikiran dan akal mereka yang masih tersisa menjadi mati. Kecanduan hedonism dan doktrin biadab mereka telah memperbudak mereka kepada tuhan-tuhan palsu berupa pendeta, pembuat hukum dan hawa nafsu mereka. Sedangkan mengibadahi Sang Pencipta semata dan mengikuti Rasul-nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hal itu diluar pertimbangan mereka. Sebaliknya, mereka memerangi apa saja dan siapa saja yang mendatangkan kesejahteraan mereka di dunia dan keselamatan mereka di akhirat. Mereka memerangi Pencipta mereka, kitab-Nya, hukum-Nya, Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya. Dan mereka tanpa malu mengakui pengingkaran mereka pada kebijaksanaan, rahmat dan keadilan-Nya, dengan mengira bahwa Allah ta’ala akan membiarkan agama-Nya dan para hamba-Nya dalam kezhaliman musuh-musuh-Nya dan kejahatan mereka.

Meskipun kondisi mereka yang malang berupa kebodohan dan kesombongan, kami mengambil momen sejumlah pembantaian terhadap warga dan kepentingan mereka ini untuk mengajak mereka sekali lagi kepada agama tauhid yang murni, kebenaran, rahmat, keadilan dan pedang.

Semenjak dirilisnya Dabiq edisi ini hingga pembantaian berikutnya dilaksanakan terhadap mereka oleh para prajurit rahasia Khilafah –yang diperintahkan untuk menyerang mereka tanpa ditunda-tunda- para salibis dapat menelaah mengapa umat Islam membenci dan memerangi mereka, mengapa kaum musyrikin Kristen harus menghancurkan salib mereka, mengapa kaum liberal sekuler harus kembali kepada fithrah, dan mengapa kaum atheis skeptic harus mengakui Pencipta mereka dan berserah diri kepada-Nya.

Intinya, kami menjelaskan mengapa mereka harus meninggalkan kekafiran mereka dan menerima Islam, agama yang murni dan tunduk hanya pada Rabb langit dan bumi.*

*Islam berasal dari kata dalam Bahasa Arab yaitu istislam / salamah, yang berarti ketundukan dan keikhlasan. Ini adalah inti dari Islam yaitu ketundukan kepada Allah dengan ikhlas (murni hanya kepada-Nya saja).

Mereka akan mendapati pada halaman demi halaman edisi ini rincian dari pesan kami kepada mereka permasalahan seputar kekristenan, feminisme, liberalism dan atheisme. Namun, risalah terakhir dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, risalah yang mana ia diutus dengannya –yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah- dan risalah dari nabi-nabi sebelumnya sejak Adam hingga Muhammad alaihi shalatu wasallam adalah sama sepanjang sejarah: Tiada ilah kecuali Allah. Kata “ilah” secara bahasa artinya “yang berhak disembah”, yaitu tidak ada sesuatu pun atau seorang pun yang berhak diibadahi selain Allah.

Allah adalah nama yang benar dari Tuhan Pencipta Langit dan Bumi. Nama ini berasal dari kata yang sama yaitu “ilah”, dan memiliki akar kata yang serupa dengan nama Sang Pencipta yang didapati dalam semua Bahasa Semit, termasuk Bahasa Ibrani yang digunakan oleh para Nabi dari Bani Israil.

Dalam Bahasa Ibrani, mereka berdoa kepada Tuhan dengan mengatakan “Elohim”, yang serupa di dalam Bahasa Arab dengan “Allahumm”. Akhiran “him” dalam Bahasa Ibrani dan “humm” dalam Bahasa Arab –yang merupakan bentuk jamak pengagungan- ditambahkan pada “Eloh” dan “Allah” untuk menegaskan keagungan-Nya dan kerendahan hati orang yang berdoa. Hanya Dia semata Tuhan yang berhak disembah karena hanya Dia saja Pencipta Langit dan Bumi. Dan hanya Dia semata Tuhan Langit dan Bumi, dan hanya Dia semata yang memiliki sifat-sifat paling agung, berupa ilmu, kekuatan, keadilan, rahmat, kebijaksanaan, keindahan, kemuliaan, keagungan, dll. Jika sebagian makhluknya memiliki sifat yang terpuji, maka itu semata-mata disebabkan oleh perencanaan dan petunjuk-Nya. Sifat-sifat makhluk tidak akan bisa menandingi sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Itulah sebabnya mengapa hanya Dia saja yang berhak diibadahi, dan mengapa tidak ada seorang pun atau sesuatu pun yang patut diibadahi selain Dia. Adapun meyakini adanya “tuhan-tuhan” yang ikut berperan dalam penciptaan alam semesta atau berbagi dalam ketuhanannya, maka ini adalah keyakinan yang menyimpang dan bertentangan dengan fitrah manusia yang bahkan dulu Kaum Musyrikin Arab sebelum Islam tidak meyakininya. Sebaliknya, kesyirikan mereka adalah dengan berdoa kepada berhala-berhala yang melambangkan orang-orang shalih, yang mereka melakukannya untuk mencari syafa’at dari orang shalih itu untuk mereka di hadapan Allah ta’ala.

Namun, di waktu bencana yang dahsyat, mereka akan meninggalkan berhala-berhala mereka dan berdoa hanya kepada Allah saja.

Allah ta’ala berfirman : “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65)

Jadi, bagian fitrah ini –pengakuan akan ketuhanan Allah semata- ditekankan oleh semua Nabi dalam risalah mereka untuk membawa kembali kaum mereka yang musyrik kepada fitrah yang telah ditinggalkan – yaitu mengibadahi Allah saja.

Allah ta’ala berfirman : “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’. Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku’. Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar : 38)

Dia ta’ala juga berfirman : “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’" (QS. Yunus : 31)

Yaitu mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya dengan beribadah hanya kepada-Nya saja dan hanya mentaati-Nya saja?

Allah ta’ala juga berfirman : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya: 25)

Jadi, risalah dari semua Nabi menekankan peribadahan dan ketaatan hanya kepada Allah saja, bukan kepada selain-Nya.

Tiada ilah selain Allah maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi dan ditaati kecuali Allah. Dia diibadahi tanpa sekutu dengan rasa cinta (mahabbah), takut (khauf), takut (roja’), doa, sujud, sembelihan, dall. Dia ditaati tanpa sekutu dengan mengikuti Rasul-Nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wasallam, berhukum kepada-Nya, menerapkan syari’at-Nya, dan menolak setiap hukum yang dibuat oleh selain-Nya. Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hukum-Nya adil dan semua hukum selain-Nya pasti tidak luput dari kesalahan dan kezhaliman.

Makna tersebut diuraikan di banyak ayat Al-Qur’an.

“…Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf : 40)

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan terperinci?...” (QS. Al-An’am : 114)

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am : 115)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah : 50)

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura : 21)

“Bukankah Allah Hakim yang paling adil?” (QS. At-Tiin : 8)

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (QS. Yunus : 109)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa : 60)

“…dan Dia (Allah) tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan (hukum)".” (QS. Al-Kahfi : 26)

“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusan (hukum)nya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali.” (QS. Asy-Syura : 10)

“Dan putuskan lah perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS. Al-Ma’idah : 49)

“…Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Ma’idah : 44)

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah...” (QS. An-Nisa : 64)

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’. Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (QS. Ali Imran : 31-32)

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…” (QS. Al-Ma’idah : 48)

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)

Sedangkan untuk sekulerisme era modern, maka itu adalah agama kaum Madyan, yang mengaku tidak bisa memahami mengapa beribadah kepada Allah juga harus mentaati hukum-Nya.

“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." Dan Syuaib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." Mereka berkata: "Hai Syuaib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." Syuaib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Lut tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Mereka berkata: "Hai Syuaib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. Syuaib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan." Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu." Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.” (QS. Hud : 84-95)

Jadi, kaum sekuler Madyan dibinasakan seperti kaum musyrikin Tsamud.**

**Kisah kaum Tsamud disebutkan di beberapa tempat di Al-Qur’an. Lihat surat Hud ayat 61-68.

Pemusnahan umat-umat terdahulu dan bencana pada umat-umat setelahnya adalah alasan untuk perenungan yang mendalam.

Allah ta’ala berfirman : “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran : 137)

Allah ta’ala juga berfirman : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’am : 42)

Masyarakat Barat yang sedang menghadapi keruntuhan “peradaban” melalui perbuatan jahat mereka dan amal shalih mujahidin, harus bertanya pada diri mereka beberapa pertanyaan, diantaranya :

Bagaimana mereka mengaku mencintai Tuhan, namun mereka menyembah manusia dan benda selain Dia?

Bagaimana mereka mengaku takut kepada-Nya, namun mereka mengambil sumber hukum dari keinginan hawa nafsu mereka?

Bagaimana mereka mengaku memuliakan-Nya, namun mereka mengolok-olok Nabi dan Rasul yang diutus kepada umat manusia serta wahyu dan hukum yang mereka bawa?

Bagaimana mereka mengklaim beriman dan mengakui Dia sebagai satu-satunya Tuhan Yang Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Bijaksana tapi mereka menjadikan bagi-Nya seorang Ibu, putra, sekutu (Trinitas), percaya bahwa Dia tidak dapat mengampuni umat manusia dari “dosa asli” mereka melainkan dengan cara salah seorang manusia yang paling Dia cintai –secara tidak adil menanggung dosa mereka dan di salib atas nama mereka, dan menyatakan bahwa hukum-Nya kejam, barbar dan tidak pantas di zaman modern?

Dimana penghambaan kalian kepada-Nya?

Dimana rasa hormatmu kepada apa yang Dia cintai?

Dimana sisa akal sehatmu, yang akan segera menolak keyakinan takhayul Trinitas dan penebusan dosa melalui penyaliban yesus?

Dimana kerendahan hatimu di hadapan Yang Maha Kuasa?

Apakah kamu bersikeras meninggalkan fitrah dan mengalah pada kesesatan nenek moyangmu?

Padahal Allah ta’ala mensifati orang kafir terdahulu dengan berfirman: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi Peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’." (QS. Az-Zukhruf : 23)

Kami mengajakmu merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini sementara para Kesatria Khilafah yang haus darah mengobarkan perang mereka untuk menerormu. Tidak diragukan bahwa peperangan ini hanya akan diakhiri dengan bendera hitam tauhid berkibar diatas Konstantinopel dan Roma, dan itu tidaklah sulit bagi Allah…

“Katakanlah: ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu’.” (QS. At-Taubah : 52)

WAWANCARA DENGAN AMIR JUNUD KHILAFAH DI BENGAL, SYAIKH ABU IBRAHIM AL-HANIF

DABIQ 14 - WAWANCARA

WAWANCARA DENGAN AMIR JUNUD KHILAFAH DI BENGAL,
SYAIKH ABU IBRAHIM AL-HANIF

Bulan ini, Dabiq memiliki kesempatan untuk mewawancarai Syaikh Abu Ibrahim al-Hanif, Amir tentara Khilafah di Bengal. Kami sajikan pertanyaan kami dan jawabannya di sini.

Dabiq: Mengapa Anda bersama dengan tentara Anda memutuskan untuk membaiat Khilafah?

Syaikh Abu Ibrahim: Segala puji hanya bagi Allah, Semoga shalawat serta salam selalu tercurah pada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Segala puji hanya bagi Allah yang telah mengembalikan Khilafah yang diberkahi diatas manhaj kenabian kepada kaum Muslimin setelah periode panjang penindasan dan kegelapan. Dan kami bersyukur kepada-Nya siang dan malam untuk menerima kami –Meskipun adanya dosa-dosa dan kelemahan kita- sebagai tentara khilafah yang diberkati, walillahil-hamd. Kami berbaiat kepada Khilafah karena berbagai alasan. Yang Pertama yaitu adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk bersatu dibawah imam tunggal Quraisy dan untuk tidak bercerai berai. Allah berfirman,

{Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.} [Ali 'Imran: 103].

Hal ini telah disebutkan oleh Syaikh Muhammad Ibn 'Abdil Wahhab rahimahullah dalam bukunya "6 landasan pokok," di mana ia menyatakan bahwa prinsip kedua dan ketiga dari agama, setelah Tauhid pada prinsip pertama, adalah untuk tetap bersatu di bawah satu imam untuk mendengar dan mematuhinya. Kedua, kita telah melihat bahwa Khilafah yang dideklarasikan pimpinan Daulah Islam telah memenuhi semua syarat yang tuntut oleh para ulama Salaf dari Ummah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Barangsiapa mati tanpa memiliki baiat, maka ia mati Jahiliyah." [HR muslim dari Ibnu 'Umar].

Ketiga, kami melihat bahwa tentara salib, Rafidhah, atheis PKK, dan semua kelompok kafir lainya menyatukan barisan melawan Khilafah dan memanah dari satu busur. Dan dengan demikian, kami menyadari bahwa adalah kewajiban atas kami dan kaum mu’minin untuk bergabung dengan kamp Iman untuk melawan kamp kafir dan menyerang mereka dari busur yang sama seperti mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

{Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.} [Al-Anfal: 73].

Dabiq: Bagaimana reaksi di kalangan umat Islam dari Bengal terhadap operasi yang dilakukan oleh tentara Khilafah di sana?

Syaikh Abu Ibrahim: para muwahiddin di Bengal memberikan dukungan yang besar atas operasi kami terhadap orang-orang kafir, wal hamdu lillah. Mereka melihat kami berjuang melawan semua kafir dan penargetan kami atas tentara salib, Rafidhah, Qodiyaniyah, Hindu, misionaris, dan lain-lain dalam waktu singkat. Mereka melihat bahwa dengan bantuan Allah, sejumlah kecil Mujahidin dengan sarana terbatas dapat menarget dan mengintimidasi berbagai sekte kufur di setiap bagian dari wilayah tersebut meskipun semua klaim palsu atas keunggulan yang sering dikaitkan kepada pasukan thaghut dan didesain untuk meng-intimidasi kaum beriman. Hal ini membawa harapan bagi muslim di Bengal setelah kekosongan jihad yang lama di daerah tersebut. Dengan demikian, dengan karunia Allah kebangkitan jihad di Bengal melalui operasi kami telah membawa kebahagiaan bagi muslim di Bengal dan di manapun, juga membuat marah orang-orang kafir. Dan segala puji hanya bagi Allah.

Dabiq: apakah kemunculan tentara Khilafah di Bengal memiliki efek untuk mengintimidasi atau membungkam murtaddin yang menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka yang menyeru kepada sekularisme?

Syaikh Abu Ibrahim: al-hamdu lillah, munculnya pasukan Khilafah telah menakuti Kuffar di daerah ini secara umum dan khususnya atheis dan sekularis yang mengejek Islam serta Nabi kita tercinta shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini terjadi ketika beberapa pemuka atheis di daerah tersebut mengaku telah menerima ancaman kematian dari tentara Khilafah di Bengal. Namun itu bukanlah metodologi tentara Khilafah hanya untuk mengirim ancaman untuk musuh-musuh Allah. Kami berbicara hanya dengan tindakan. Saat ini tentara kami sedang mengasah pisau untuk menyembelih atheis para pengejek Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan setiap murtaddin lainnya di daerah tersebut, bi idznillah. Kami berkata sebagaimana perkataan Syaikh Usamah Ibnu Ladin rahimahullah, "Jika kebebasan kalian berbicara tidak ada batasannya, maka berlapang dadalah menerima kebebasan tindakan kami."

Dabiq: Beritahu kami tentang keadaan Islam secara umum dan keagamaan di Bengal.

Syaikh Abu Ibrahim: secara umum, penduduk Bengal mencintai Islam dan mencoba untuk berlatih beribadah dengan antusiasme yang besar. Namun, adanya ketidaktahuan yang mendalam akan al-Qur’an dan Sunnah di sini, mengakibatkan tumbuhnya sekte sesat dan kelompok murtadd. Wa Laa Hawla wa laa quwwata illa billah.

Dabiq: sekte sesat dan murtadd apa saja yang ada di Bengal?

Syaikh Abu Ibrahim: Sayangnya, ada banyak sekte sesat dan murtadd di Bengal. Pertama, ada sejumlah kecil Rafidhah di Bengal yang didanai dan didukung oleh pemerintah Iran. kedua, ada Qadiyaniyah dalam jumlah signifikan di Bengal. Ketiga, ada sejumlah besar murtaddin yang telah beralih dari Islam ke Kristen karena khotbah tipuan yang dilakukan oleh misionaris lokal dan asing dan upaya tak henti dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bekerja di Bengal. Dan akhirnya ada banyak Sufi penyembah kuburan dan "nabi" palsu yang menyeru manusia untuk berbuat syirik.

Dabiq: Dengan adanya pengkhianatan thaghut dan eksekusi beberapa Murtaddin dari kelompok yang disebut "Jamaat-e-Islami," apakah mereka mau mengambil pelajaran dan bertobat dari demokrasi?

Syaikh Abu Ibrahim: baru-baru ini, pemerintah thaghut telah memenjarakan dan mengeksekusi banyak pemimpin "Jamaat-e-Islami." Hal ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Shahawat di Iraq dan Ikhwan di Mesir, sebagaimana sunnatulloh yang tidak akan pernah berubah. Dia akan menghinakan dan menghukum di dunia dan akhirat siapapun yang membuang agamanya dan bersekutu dengan Kuffar. Ada beberapa pengikut rumput tingkat dasar dan pendukung dari "Jamaat-e-Islami" yang bertobat dari syirik dan bergabung dengan barisan tentara Khilafah di Bengal, wal hamdu lillah. Namun, pemimpin organisasi tetap bersikeras pada jalur kehancuran dan kehinaan dan terus bersaing dengan thaghut Pemerintah Hasina dalam hal siapa yang bisa lebih banyak melakukan kekufuran. Wa la Hawla wa la quwwata illa billah.

Dabiq: Pemerintah "Bangladesh" dikenal sebagai kontributor terbesar dari pasukan PBB untuk operasi "penjaga perdamaian", bagaimana ini bisa terjadi?

Syaikh Abu Ibrahim: Setelah akhir dari thaghut pro-India Mujibur Rahman tewas dalam sebuah kudeta militer, tentara murtadd Bengali dan intelijen militer (DGFI) didirikan oleh Dhiyaur Rahman yang pro thaghut "Pakistan" dengan meminjam strategi militernya dan juga bentuk dari militer "Pakistan" serta lembaga intelijennya (ISI). Sementara itu jenderal tentara Bengal tidak mampu mengambil dominasi penuh atas urusan negara seperti rekan "Pakstan" mereka meskipun banyak yang mencoba untuk melaksanakan kudeta militer, mereka adalah aktor paling kuat dalam mempertahankan eksistensi keuangan independen, karena mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah sipil untuk pendanaan mereka. Sebaliknya, mereka lebih bergantung pada PBB dan misi "menjaga perdamaian"nya untuk menggaji perwira dan prajurit mereka yang serakah. Dan tidak peduli siapa yang memerintah sipil –apakah pro BNP "Pakistan" atau pro-India Liga Awami- yang memegang kekuasaan, mereka dengan senang hati akan membuat kesepakatan dengan jenderal militer bahwa tidak akan ada kudeta militer selama mereka berpolitik dengan membiarkan gaji tinggi tetap mengalir ke rekening mereka dari misionaris PBB, yang memungkinkan mereka untuk membeli rumah mewah dan menyimpan uang untuk pensiun. Dengan demikian, perkawinan kesejahteraan antara thaghut pemerintahan sipil dan jenderal militer murtadd yang menjual agama mereka untuk harga menyedihkan adalah alasan utama mengapa Pemerintah Bengali menjadi kontributor atas apa yang disebut “misi menjaga perdamaian ”. Dan Allah lebih mengetahui.

Dabiq: Apa pesan Anda kepada tentara murtadd Bengali yang melayani thaghut lokal atau penyembah berhala, sekutu murtadd, dan tentara salib internasional?

Syaikh Abu Ibrahim: Seruan kami kepada para tentara murtadd Bengali baik di kepolisian, tentara, intelijen, dll yang bekerja di bawah naungan thaghut Hasina adalah untuk menghidupkan kembali rasa malu, kedewasaan dan membebaskan diri dari menjadi budak seorang wanita kafir. Kami meminta mereka untuk bertobat dari pekerjaan kufur mereka sebelum kita menguasai, menangkap dan menyembelih mereka satu per satu, bi idznillah. Kami meminta mereka untuk mengambil pelajaran dari nasib Murtaddin di Iraq, Syam, Mesir, dan daerah lain dan melihat bagaimana Allah mempermalukan mereka di tangan orang-orang beriman. Kami memperingatkan pengecut dari tentara murtadd Bengali bahwa kami akan membalas atas setiap muslim yang mereka bunuh, mereka penjara dan mereka siksa ketika ditangkap bi idznillah, meskipun itu tidak terjadi sekarang. {Dan sungguh orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.} [as-Syuro: 41].

Dabiq: Bagaimana Anda menjawab ruwaibidhah yang mencela Khilafah karena men-takfir apa yang mereka sebut partai "Islamis" eperti "Jamaat-e-Islami Bangladesh" atau partai lainnya yang serupa?

Syaikh Abu Ibrahim: "Jamaat-e-Islami Bangladesh" adalah Partai politik yang telah banyak melakukan kekufuran dan syirik. Pertama, mendukung dan menyeru Muslim di Bengal ke agama demokrasi, dan ini adalah syirik terang-terangan. Demokrasi adalah agama dengan keyakinan untuk memberikan kekuasaan kepada manusia untuk membuat undang-undang dan menetapkan halal dan haram, sedangkan itu merupakan hak Allah saja. Kedua, ia adalah organisasi nasionalis yang mempromosikan nasionalisme –seruan busuk jahiliyah. Dan siapa pun yang menyeru ke jahiliyah Kufri dan mati di atasnya maka ia di dalam neraka bahkan meskipun dia shalat, puasa, dan mengklaim sebagai seorang Muslim. Ketiga, selama periode ketika mereka berkuasa dari "2001" hingga "2006" mereka tidak pernah menerapkan hukum Allah, dan siapa pun yang tidak menghukumi dengan apa yang diturunkan oleh Allah adalah kafir. Keempat, selama periode mereka berkuasa, mereka tidak ragu untuk bersekutu dengan kuffar baik Timur dan Barat dalam melawan muwahhidin di Bengal yang ingin menegakkan hukum Allah dan barang siapa yang mengambil orang kafir sebagai sekutu dalam memerangi Muslim maka ia keluar dari ikatan Islam. Kelima, mereka telah secara resmi mengucapkan selamat kepada musyrikin Narendra Modi, Perdana Menteri India atas Kemenangan demokratisnya dan mereka juga mengucapkan selamat kepada masyarakat pagan Hindu penyembah sapi saat upacara syirik mereka. Ini hanya beberapa dari tindakan kufur dan Syirik yang dilakukan oleh organisasi murtadd ini. Organisasi yang "Membenarkan" semua tindakan kufur dan syirik terang-terangan di bawah dalih "mashlahat." Namun, satu-satunya yang benar-benar tertipu adalah pengikut mereka pada tingkat paling dasar yang jatuh dalam pidato manis pemimpin mereka.

Dabiq: Bagaimana rencna Anda untuk membantu Muslim yang lemah dan terintidas di wilayah itu, terutama orang-orang Burma?

Syaikh Abu Ibrahim: Muslim Burma telah ditindas oleh musyrik Buddha dalam jangka waktu yang panjang. Hati kami bersama mereka dan kami percaya bahwa adalah kewajiban bagi kami untuk membantu mereka dan mendukung mereka dengan setiap cara yang memungkinkan. Dan kami akan mulai meluncurkan operasi terhadap Burma setelah kami memiliki kemampuan untuk melakukannya bi idznillah. Bagaimanapun, kami yakin akan lebih efektif untuk memperkuat jihad di front Bengal sebelum sepenuhnya berpindah ke Burma, karena pertempuran dengan Murtaddin terdekat harus didahulukan daripada musuh jauh yang terdiri dari kaffir asli (kafir non-murtadd). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, {Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kalian, dan hendaklah mereka menemui kekerasan pada diri kalian, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.} [At-Taubah: 123]. Kafir rezim di Burma hanya bisa diperangi secara efektif setelah kami mengakhiri rezim murtadd Bengali, bi idznillah, seperti negara Yahudi yang tidak dapat diperangi secara efektif sampai rezim murtadd as-Sisi dan Basyar dimusnahkan terlebih dulu insya Allah. Ini adalah apa yang kami pelajari dari Qur’an, Sunnah, sejarah Khulafa' dan sejarah Perang Salib. dan Allah maha mengetahui yang terbaik.

Dabiq: Bagaimana dengan upaya da’wah di Bengal, terutama terkait seruan kepada Tauhid dan Khilafah?

Syaikh Abu Ibrahim: al-hamdu lillah upaya da’wah di Bengal mendapatkan beberapa momentum besar dan banyak umat Islam yang merspon seruan kami dan bergabung dengan barisan prajurit Khilafah. Dengan adanya penyebaran da’wah Tauhid dan khilafah di media sosial dalam berbagai bahasa, semakin banyak orang yang menyadari kebenaran dan bergegas mengikutinya, wal hamdu lillah.

Dabiq: Apakah kendala terbesar yang Anda hadapi dalam jihad di Bengal?

Syaikh Abu Ibrahim: Kendala terbesar yang kami hadapi dalam memperkuat front jihad di Bengal setelah dosa kami, adalah kurangnya pengetahuan Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar dari Salaf diantara penduduk di wilayah tersebut. Ada banyak kelompok dan "ulama" menyimpang seperti "Jama'ah Tabligh" dan "Jamaat-e-Islami Bangladesh" yang mengajarkan pemahaman agama palsu yang menyebabkan kebingungan di kalangan rata-rata penduduk tentang kewajiban sebenarnya terhadap agama. Bahkan dia yang disebut gerakan "Ahli hadist" di Bengal hanya mengajarkan "Tauhid" sebagai pemanis bibir, "Tauhid" yang ramah dengan thaghut yang tidak menolak dan menentang thawaghit parlemen ataupun memerangi mereka untuk menegakkan agama, mereka terus menyembunyikan dari masyarakat prinsip tentang kekufuran kepada thaghut, wala 'dan baro', serta jihad sambil dengan licik mengaku sebagai pengikut salaf. Sebaliknya, mereka hanya berusaha untuk mengajak masyarakat kepada ajaran "Ulama" pro-Arab dari semenanjung Arab dan dengan ajaran corong lokal mereka dan "murid" yang telah belajar di bawah dukun dari universitas yang didirikan dan dijalankan oleh thawaghit Saudi. Dengan demikian, sangat sedikit orang di wilayah ini yang memiliki pemahaman yang benar tentang agama dan metodologi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Inilah tantangan terbesar kami saat ini di wilayah tersebut, dan Allah maha mengetahui yang terbaik.

Dabiq: Beritahu kami tentang sejarah Rafidhah di Bengal?

Syaikh Abu Ibrahim: Rafidhah telah lama tinggal di Bengal sejak zaman kaisar Mughal. Kuil Husseini Dalan di Dhaka dibangun pada "1642" pada masa pemerintahan Shajahan. Juga, banyak dari Nawabs (Penguasa semi-otonom di bawah kaisar Mughal) di Bengal adalah Rafidhah. Sulit untuk menemukan sejarah secara menyeluruh yang didokumentasikan dari Rafidhah di Bengal karena mereka terkenal dengan "Taqiyah." Mereka mampu untuk bercampur dan berbaur secara menyeluruh dalam populasi Sunni di sini. Saat ini ada sekitar 50.000 Rafidhiy Murtaddin yang tinggal di Bengal.

Dabiq: Bisakah Anda menjelaskan pentingnya Bengal bagi Khilafah dan jihad secara global?

Syaikh Abu Ibrahim: Bengal adalah wilayah yang penting bagi Khilafah dan jihad global karena Posisi geografis yang strategis. Bengal terletak di bagian timur dari sisi India, sedangkan wilayah Khurasan terletak di sebelah barat sisinya. Dengan demikian, dengan adanya dasar yang kuat akan jihad di Bengal akan memfasilitasi serangan gerilya terhadap India secara bersamaan dari kedua sisi dan menjadi faktor terciptanya kondisi tawahhusy di India bersama dengan bantuan dari mujahidin lokal di sana bi idznillah, sampai tentara konvensional Khilafah dapat masuk dan benar-benar membebaskan wilayah dari musyrikin setelah pertama-tama menyingkirkan rezim "Pakistan" dan "Afghan" insya Allah. Juga, jihad di Bengal adalah batu loncatan untuk jihad di Burma sebagaimana yang telah disebutkan.

Dabiq: Sangat menarik ketika mengetahui bahwa kewenangan Khilafah sepanjang sejarah tidak pernah mendapatkan tamkin nyata di Khurasan pada masa lalu. Bagaimana perasaan Anda ketika mengambil misi untuk membangun tamkin untuk Khilafah di Bengal?

Syaikh Abu Ibrahim: Sungguh, hal ini membawa suka cita dan kenyamanan atas kami setiap waktu ketika kita merenungkan fakta bahwa Allah telah memilih kami untuk menjadi bagian dari prajurit Khilafah dengan manhaj kenabian meskipun kelemahan kami begitu besar dan kekurangan kami juga banyak, wal hamdu lillah. Dan kami belumlah cukup dalam bersyukur kepada Allah untuk berkah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berjanji kepada kita bahwa agama ini akan mencapai di mana malam dan siang dapat mencapainya. Dan ada hadits otentik yang dikumpulkan dalam Musnad Imam Ahmad dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan berbagai tahap urutan yang akan dilewati Ummat hingga hari terakhir, dia shallallahu ‘alaihi wasallam diam setelah menyebutkan masa Khilafah pada manhaj kenabian, yang menunjukkan bahwa ini akan menjadi tahap akhir dari Ummat sebelum Hari penghakiman. Dengan demikian, kami yakin bahwa Khilafah yang diberkahi akan tetap berdiri hingga Hari terakhir dan bahwa semua wilayah di dunia, termasuk Bengal, cepat atau lambat berada di bawah naungannya dan dikuasai oleh apa yang telah Allah ungkapkan, insya Allah.

Memang, ini adalah berkah yang besar dari Allah bahwa Dia telah memilih kami untuk membawa menara cahaya ini di wilayah tersebut. Dan sekarang bahwa pohon Khilafah di Bengal telah tumbuh keluar dari bawah tanah dan menjadi terlihat, dan itu akan terus tumbuh dan berkembang hingga hari terakhir insya Allah, karena Allah yang Maha Penyayang akan melindunginya dari setan baik dari kalangan manusia dan jin yang berusaha untuk mencabutnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya."} [As-Shaff: 8]. Dan orang-orang beriman yang datang, menyirami tanaman ini dan mengurusnya sampai menjadi pohon dewasa seutuhnya akan diberi balasan terbaik, dan kami memohon kepada Allah untuk memberikan kami bagian dari balasan mereka sebagai shadaqah jariyah (amal yang berkesinambungan) sampai hari kiamat.

Dabiq: Apa peran India dan Hindu dalam perang melawan Islam dan Khilafah pada umumnya, dan di Bengal pada khususnya?

Syaikh Abu Ibrahim: Hindu, baik di Bengal maupun India selalu memerangi Islam dan kaum Muslimin. Satu-satunya perbedaannya adalah bahwa Hindu di India menunjukkan permusuhan mereka terhadap Islam dan Muslim secara terbuka sedangkan Hindu di Bengal melakukannya dengan tipu muslihat dan secara rahasia karena mereka adalah sebuah sekte minoritas di sini. Hindu di Bengal sangat aktif dalam menciptakan propaganda anti-Islam baik di media massa dan media sosial, dan juga menyebarkan fahisyah di kalangan umat Islam dari Bengal. Bahkan, sejumlah besar dari propagandis anti-Islam di Bengal sebenarnya mengikuti agama kotor penyembah sapi ini pada awalnya sebelum menjadi atheis secara utuh dan meniadakan "Agama". Selain itu, banyak dari posisi tinggi dalam kekuatan thaghut di badan kepolisian dan intelijen di Bengal sekarang diduduki oleh orang Hindu, seperti pemerintah murtadd sekuler Hasina melihat orang-orang kafir kotor sebagai loyalis partai garis keras. Lebih lanjut, umat Hindu di Bengal juga terkenal akan dukungnya kepada inteilijen india (RAW) dalam memerangi Muslim di Bengal sejak hari yang mereka sebut "Perang liberal Bangladesh" pada "1971". Jadi, kami yakin bahwa Syariah di Bengal tidak akan tegak sebelum Hindu lokal ditargetkan dan sampai keadaan polarisasi terbentuk di wilayah tersebut, yang akan membagi antara orang beriman dan kafir, bi idznillah. dan Allah lebih mengetahui.

Dabiq: Apakah Anda memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan wilayah Khurasan dan tentara lainnya dari Khilafah di wilayah terdekat?

Syaikh Abu Ibrahim: Dengan rahmat Allah, kita mampu menghubungi dan bekerja sama dengan mujahidin di berbagai wilayah dari Khilafah, termasuk ikhwah di Wilayah Khurasan, wal hamdu lillah. Memang, Jamaah kaum muslimin yang diwakili oleh Khilafah ini seperti satu tubuh di mana beberapa bagian tubuh yang lain bekerja sama dengan satu kepala. Kami memohon kepada Allah untuk menyatukan semua Mujahidin di bawah naungan Khilafah dan memperkuat persatuan Muslim. Aamiin.

Dabiq: Apakah Anda memiliki nasehat kepada umat Islam dari Bengal dan wilayah terdekat?

Syaikh Abu Ibrahim: Untuk kaum Muslimin di Bengal dan di wilayah terdekatnya, saya katakan: Wahai saudara-saudara saya, takutlah kepada Allah akan agama Anda dan tinggalkanlah semua sekte sesat yang sibuk menyesatkan manusia. Ikutilah jalan petunjuk yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan diikuti oleh sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan mereka yang meraih kemenangan besar baik di dunia dan akhirat adalah mereka yang telah diberkahi dengan petunjuk dari Allah, dan yang terburuk dari makhluk adalah mereka yang disesatkan Allah.

Allah berfirman, {Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.} [Al-Bayinah: 6-7].

Dia juga berfirman, {dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.} [Al-An'am: 153].

Dan tetaplah berada di jalan yang Allah tetapkan sebagaimana orang-orang yang jujur dalam Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, {Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang jujur.} [Al-Hujurat: 15].

Allah juga berfirman, {Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.} [At-Taubah: 119].

Dan tidak ada keraguan bahwa mereka yang paling mendekati kejujuran di era dan masa ini adalah orang-orang yang telah Allah berkahi dengan kehormatan untuk membangun kembali Khilafah.

Allah berfirman, {Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang shaleh.} [Al Anbiya ': 105].

Oleh karena itu, bersegeralah untuk berbaiat kepada Khalifah kaum Muslimin dan bergabung dalam barisan tentara Khilafah. Saya menasehati Anda untuk "mematuhi Jamaatul Muslim dan imam mereka." sebagaimana nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang akhir zaman. Dan sesungguhnya kita sedang mendekati masa dimana pertempuran terakhir dari al-Malhamah telah dipersiapkan, dan tidak diragukan lagi kemenangan akhir hanya bagi orang-orang beriman, bi’idznillah.

Juga, saya menasehati Anda untuk bergabung dengan kami dan berjihad dengan harta dan jiwa Anda, karena itu merupakan kewajiban atas Muslim yang bermampuan. Tidak ada cara untuk menegakkan agama selain dari jalan qital. Jadi tinggalkanlah dunia kebelakang dan cepat-cepat bergabung dengan kami di medan perang. Dan ketahuilah bahwa kami tidak menyeru Anda untuk bergabung dengan kami karena jumlah kami yang sedikit atau kurangnya peralatan militer kami, karena sesungguhnya kami kuat dengan bantuan Allah saja, wal hamdu lillah. Dan kami yakin bahwa kita akan menang dengan dukungan Allah, cepat atau lambat insyaa' Allah.

Kami tidak khawatir dengan sedikitnya personel atau kurangnya peralatan militer, dan bagaimana kita bisa khawatir ketika Allah telah berfirman, {Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.} [Al-Baqarah: 249]. Bagaimana bisa kita khawatir tentang kurangnya personel dan kekuatan militer karena ini sangat mirip dengan keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya pada masa awal sebelum Allah memberkahi mereka dengan kemenangan dan tamkin setelah periode panjang dari shobr dan Yaqin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.} [Al-Anfal: 26]. Bagaimana kita bisa khawatir tentang kurangnya personel atau kurangnya kekuatan ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.} [Al-Ahzab: 25]. Bagaimana kita bisa khawatir tentang kurangnya personel atau kurangnya kekuatan ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.} [Ar-Rum: 47].

Kami yakin akan kemenangan kami baik di dunia maupun di akhirat insyaa Allah, karena Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang terpercaya telah berjanji, "Akan senantiasa ada sekelompok orang dari kalangan umatku yang berperang berdasarkan urusan Allah yang mengalahkan musuh mereka. Orang yang menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka sampai datang kiamat kepada mereka dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu." [HR. Muslim dari 'Uqbah Ibn Amir].

Dia shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang meraih kemenangan (karena berada) di atas kebenaran, orang-orang yang menelantarkan mereka tidak akan mampu menimbulkan bahaya kepada mereka, sampai datangnya urusan Allah sementara keadaan mereka tetap seperti itu." [HR at-Tirmidzi dari Tsauban].

Dengan demikian, Wahai Muslim di Bengal, kami tidak meminta dukungan Anda karena kelemahan, karena kita akan menang dengan dukungan dari Allah saja baik Anda bergabung dengan kami atau tidak. Sebaliknya, kami mengundang Anda untuk memulai menuju kehidupan terhormat dengan menjawab panggilan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjihad fii sabilillah sehingga Anda dapat menyelamatkan diri dari kehinaan dan hukuman baik di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah.} [An-Nisa': 76].

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berfirman, {Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.} [Ash-Shaff: 4].

Jadi siapa pun diantara mereka yang mengaku beriman, biarkanlah dia bergabung dengan kami dan biarkan kami melawan orang kafir bersama-sama sebagaimana mereka memerangi kami bersama-sama. Kami memohon kepada Allah untuk memberikan kami semua pemahaman yang benar akan agama dan untuk menjaga keistiqomahan kami dalam memerangi orang-orang kafir. Aamiin.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 14

DABIQ 14 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada "29 Januari 2016," Ban Ki-moon -thaghut dari cabang "PBB"- merilis sebuah laporan yang panjang terkait kebangkitan kembali Khilafah. Didalamnya dia mengatakan:

"Laporan ini diajukan ... untuk memberikan sebuah laporan strategis tahap awal yang menunjukkan dan mencerminkan tingkat bahaya akan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional oleh Negara Islam ..."

"Dalam waktu kurang dari dua tahun , ISIL telah menguasai sebagian besar wilayah baik di Iraq dan Suriah, dan mengelola-nya melalui sistem yang canggih dengan struktur pendapatan pajak kuasi-birokrasi yang cukup flexibel dan beragam untuk mengkompensasi penurunan pendapatan dari satu aliran pendapatan ... mereka menggunakan sumber daya keuangan untuk mendukung kampanye militer yang sedang berlangsung, mengelola wilayah dan mendanai perluasan konflik di luar Iraq dan Suriah, dan telah mengembangkan strategi komunikasi yang sangat canggih dan efektif untuk memastikan bahwa... sudut pandang dunia beresonansi dengan ... pertumbuhan jumlah akan ... individu ... "

"Meskipun upaya masyarakat internasional untuk melawan ISIL melalui operasi militer, keuangan dan pengetatan keamanan perbatasan ... ISIL tetap terus mempertahankan eksistensinya di Iraq dan Suriah. Mereka juga memperluas ruang lingkup operasinya ke daerah lain. serangan teroris yang dilakukan di bulan-bulan terakhir tahun 2015 menunjukkan bahwa mereka mampu melakukan serangan terhadap ... target diluar wilayah yang mereka kontrol. Luasnya jangkauan khususnya ditunjukkan dengan adanya bom bunuh diri di Beirut pada 12 November 2015, serangan terkoordinasi di Paris pada 13 November 2015 dan serangan di Jakarta oleh afiliasi ISIL pada 14 Januari 2016 yang sangat menyerupai dengan serangan Paris... "

"Ekspansi terbaru dari lingkup ISIL telah mencapai Afrika Barat dan Utara, Timur Tengah serta Asia Selatan dan Tenggara dimana hal ini menunjukkan kecepatan dan skala di mana tingkat ancaman telah berevolusi hanya dalam 18 bulan. Kompleksitas serangan baru-baru ini dan tingkat perencanaan, koordinasi dan kecanggihan yang kasat mata telah menambah keprihatinan tentang evolusi-nya lagi di masa depan. Selain itu, kelompok-kelompok teroris lainnya ... cukup tertarik dengan ideologi dan mendasarinya untuk berbaiat kepada apa yang mereka sebut dengan khilafah dan yang memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah. ISIL juga mendapatkan keuntungan dari kedatangan aliran pejuang teroris asing yang terus meninggalkan komunitas mereka untuk mengisi barisanya. Kembalinya para petempur dari medan perang Iraq dan Suriah dan wilayah konflik lainnya akan menjadi perhatian utama kedepannya, karena mereka yang kembali akan memperluas kehadiran ISIL ke Negara asal mereka dan menggunakan keterampilan dan pengalaman perang mereka untuk merekrut simpatisan baru lalu membangun jaringan teroris dan melakukan aksi teroris ... "

Laporan itu kemudian melanjutkan dengan rinci bagaimana Khilafah menerapkan syariat zakat, da’wah, jihad, jizyah, hisbah, perbudakan dan hudud –namun menyebut semua hukum ini dengan kalimat pelecehan- dan bagaimana syari'at ini dapat menimbulkan ancaman terhadap "perdamaian dan keamanan internasional" alias "tatanan dunia baru." Alih-alih menyerah dengan menyadari bahwa Khilafah di sini akan tetap ada dan akan terus berkuasa dengan syari'at dan meneror musuh-musuhnya, ia malah merekomendasikan kepada thawaghit cabang "PBB" sebagai berikut:

"Resolusi konflik yang sedang berlangsung, termasuk konflik Suriah akan berdampak langsung pada kontrol kekuatan di balik perekrutan pejuang teroris asing oleh ISIL ... demi menyambut ancaman serius yang ditimbulkan oleh ISIL, termasuk masuknya teroris asing ke Iraq dan Suriah dan aktifitas pendanaan ekstensif ISIL, adalah penting untuk mengidentifikasi resolusi politik untuk konflik Suriah. Proses ini akan membutuhkan komitmen internasional yang berkelanjutan dan efektif serta implementasi dari resolusi Dewan Keamanan 2254 (2015), yang menetapkan jalan menuju negosiasi intra-Suriah secara resmi pada proses transisi politik sesuai dengan kesepakatan Genewa tahun 2012 akan gencatan senjata nasional secara paralel."

Dengan demikian, setelah Konferensi Riyadh dari thaghut Saudi, disimpulkan bahwa Nushairiyah dan sekutu ateis mereka dari Angkatan bersenjata demokratis Suriah - dengan dukungan dan persetujuan Rusia dan Amerika – di-“Blitzkrieg” di daerah yang dipegang oleh Shahawat murtadd, pengambilan banyak kota-kota besar dan kota kecil melalui "negosiasi" dengan para pemimpin Shahawat yang merupakan bagian dari konspirasi untuk mencapai "resolusi politik untuk konflik Suriah."

Bukankah ini adalah waktu yang tepat bagi tentara Shahawat naif untuk menyadari rencana jahat di mana mereka mengabdi, lalu bertobat dari kemurtadan mereka dan bergabung dengan barisan Khilafah?

DARAH KEHINAAN

DABIQ 14 - SPESIAL

DARAH KEHINAAN
Oleh: John Cantlie

“Dalam sebuah respon Amerika yang lambat atas eksekusi mantan teman satu sel ku tahun lalu, Negara itu secara resmi telah mengubah kebijakannya dalam masalah tebusan tawanan. Jelas sudah, kekerasan adalah satu-satunya pesan yang akan mereka tanggapi.”

Benar, aku memiliki pandangan mengenai krisis tawanan internasional –yang begitu menggemparkan headline media-media massa dunia pada tahun 2014- yang tidak dimiliki orang lain. Ini bukanlah hal yang perlu aku banggakan, tapi aku tahu lebih banyak atas apa yang dirasakan oleh tawanan asal Eropa terakhir yang berhasil pulang ke rumahnya daripada mereka yang lain yang masih hidup.

Saat tu, aku tidak berpikir dan banyak berbicara tentang apa yang akan terjadi setelahnya. Aku sudah kembali pulih secara fisik maupun mental, dan mencoba tak mengingatnya lagi. Kita tidak bias hidup di masa lalu selamanya. Namun hidup ini adalah rangkaian peristiwa, yang sebenarnya bisa dihindari secara keseluruhan, yang akan terwarnai selamanya dengan darah mantan teman satu sel ku dan akan menjadi aib memalukan bagi pemerintahan yang terlibat atas terbunuhnya dia. Tak akan ada yang bisa mengubah cara pandang Amerika dan Inggris yang dengan sinis meninggalkan warga Negara mereka terbunuh sementara semua Negara lain mampu memulangkan warga Negara mereka.

Dampak dari diumumkannya perubahan kebijakan Amerika Serikat terkait negosiasi tawanan tahun lalu jelas memiliki konsekuensi serius di Barat, mengejutkan publik. Tiba-tiba saja keluarga tawanan dibolehkan untuk membahas uang tebusan yang mencapai jutaan dollar, padahal kurang dari setahun sebelum pergeseran kebijakan ini, setiap rakyat yang mencoba untuk melakukannya –dan Diane Foley juga yang lain telah mencobanya- diancam untuk dituntut oleh Badan Keamanan Nasional (NSA).

Aku belum mendengar apapun mengenai sikap inggris dalam hal ini, namun karena mereka selalu mengikuti apapun yang diikuti amerika sekecil apapun itu, maka sangat mungkin bagi mereka sekarang juga telah merubah sikapnya.

Agaknya cukup aneh untuk kembal membahas semua yang telah terjadi lebih dari satu setengah tahun yang lalu, namun penting adanya untuk merenungkan apa yang sejarah tunjukkan dengan jelas berupa salah satu krises tawanan paling berdarah dan penanganannya paling buruk di era modern. Ini bukan hanya berdasarkan pengamatan ku semata, tapi juga berasal dari perasaan yang diutarakan oleh para wartawan diberbagai surat kabar terkait masalah ini.

Dampak kebodohan dari sikap keras enggan bernegosiasi Nampak jelas waktu itu, yaitu teman-teman satu sel ku dipenggal satu per satu. Karena mayoritas Negara memilih untuk bernegosiasi, baik diatas atau dibawah meja (dan semuanya memilih dibawah), dengan sikap keras kepala enggan berdialog, semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara kalian yang di penjara sampai mati. Tidak lebih.

Kalian tidak membuat sikap politik yang besar karena hal itu tidak terlihat dan tidak ada di media, kalian tidak menunjukkan pada dunia bagaimana kesulitan kalian membuat dalih alas an yang sama, dan nyatanya kalian memang sama sekali tidak membuat perbedaan apapun terhadap sikap global mengenai sandera. Para penyandera tidak memeriksa paspormu ketika mereka menangkapmu dan berkata, “Oh lihat, dia orang inggris. Kita lebih baik membiarkannya pergi dan hanya menahan semua orang prancis sebagai gantinya.” Ia tidak bekerja seperti itu.

Semua yang kalian lakukan hanyalah menyalahkan warga Negara yang telah memasuki sebuah situasi yang sulit demi uang beberapa juta dollar yang –mari kita jujur- tidak seberapa di dunia masa kini.

Daulah Islamiyah memompa jutaan dollar per hari dari pendapatan minyak sehingga mereka tidak membutuhkan uang hasil tebusan tawanan itu, dan belum membutuhkan untuk beberapa waktu. Aku tidak mengklaim berbicara atas nama mereka, namun aku percaya, cukup masuk akal untuk berkata bahwa mujahidin meminta uang tebusan hanya untuk melaksanakan perintah dalam Al-Qur’an.

{Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti...} (QS. Muhammad : 4)

Jangan salah, mujahidin mengikuti Al-Qur’an di tiap huruf-hurufnya, mengatakan apa yang mereka inginkan, dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka tidak main-main. Sebuah fakta yang tidak hilang dari Negara-negara Eropa yang warganya tertawan.

Amerika, disisi lain memilih untuk dengan entengnya mengabaikan bencana yang sedang mendatangi mereka, dan sekarang dalam sehari menghabiskan lebih banyak uang untuk membombardir Daulah Islamiyah daripada menyediakan uang yang diperlukan untuk membawa pulang Kayla Mueller yang berusia 26 tahun. Terima kasih atas kebijakan amerika saat itu, semua yang diperoleh keluarganya hanyalah bukti bahwa dia telah terbunuh akibat bom Koalisi di Raqqah. Dan sebuah nyala lilin di kampung halamannya Prescott, Aricona.

Jadi, beberapa bulan lalu aku menonton dengan seksama sebuah video dokumenter berdurasi 27 menit yang berjudul “Biaya Untuk Hidup”, yang ditayangkan ABC Australia pada Juni lalu. Presenter program ini, Jonathan Holmes, mewawancarai salah satu mantan teman satu sel ku, Frenchman Nicholas Henin. Nic adalah seseorang yang unik tapi aku cukup menikmati kebersamaan dengannya karena ia orang yang tenang, dan mengatakan hal-hal yang sangat aneh. Salah satu Nic-isme favoritku ketika ia dipukul oleh penjaga karena melemparkan roti ke toilet dan ia berteriak di dalam kamar dengan suara bernada tinggi, menyaksikan kepalanya melesat melewati pintu, berada cukup dekat di depan kami semua dan berteriak, “Aku baru saja dipukuuuuulllll”. Ah, hari yang menyenangkan.

Sesampainya dirumah, keempat orang prancis muncul ke hadapan publik bak pahlawan yang kembali dari medan perang. Nic, sama seperti semua tawanan prancis, spanyol, italia, jerman dan Denmark lainnya, kembali pulang ke rumah mereka dengan sedikit receh yang ditemukan pemerintah di dalam sakunya dan dibayarkan melalui seorang “perwakilan”. Biasanya ia adalah pengusaha kaya yang bertindak sebagai penyangga keuangan sehingga tidak ada hubungan langsung kepada pemerintah yang bersangkutan dan mereka dapat mengatakan –tanpa berbohong sedikitpun- bahwa mereka tidak membayar uang tebusan pada pihak yang menawan. Aku tidak tahu apakah pembayaran ini dilakukan secara elektronik atau seikat uang $50 usang didalam sebuah tas Adidas, namun itu tidak penting.

Terdapat banyak foto bahagia dank lip berita saat para tawanan pulang dan berkumpul kembali dengan orang yang mereka cintai. Ada air mata, pelukan, senyuman, dan jika kamu orang prancis, ciuman tak tulus di pipi dari presiden. Media menyukainya, masyarakat senang dengan pemerintah mereka, para mantan tawanan begitu bersyukur karena masih hidup, dan semua orang bersatu dalam kemarahan terhadap “para penawan yang kejam” yang telah melakukan “hal busuk” seperti itu sejak awal. Pemerintah membayar perusahaan marketing seperti Saatchi & Saatchi berjuta-juta untuk menghasilkan respon positif seperti itu dari masyarakat.

Sekarang, bandingkan hal itu dengan cemooh kemarahan dan kepahitan publik yang meletus di layar kaca publik ketika James Foley dieksekusi pada tanggal 18 Agustus 2014. “Hebat, ditangkap di hari Thanksgiving, dibunuh di hari ulang tahun ibuku,” ucapnya dengan tenang, beberapa menit sebelum ia dituntun keluar. Kepala kami dicukur gundul semua pagi itu dan pasti akan ada sesuatu yang pasti terjadi. “Ini hanya sebuah video, baik untuk kita semua,” kata James. “Tidak”, aku menjawab. “Ini bukan hanya sebuah video”.

94% warga amerika mendengar tentang kematian Foley. Ini menjadi berita terbesar di tahun itu karena gambar eksekusinya dan yang lain setelahnya disiarkan ke seluruh dunia. Belum pernah ada yang melihat hal seperti itu, tentu saja tidak dalam skala sebesar ini dan peristiwa itu memenuhi halaman depan (headline) di setiap surat kabar dan berita utama tv di seluruh dunia. Awalnya kemarahan ditujukan kepada mujahidin sebagai pihak eksekutor, tapi tidak lama kemudian Nampak jelas bahwa pemerintah yang terlibat sebenarnya mampu membuat kesepakatan untuk membebaskan warga mereka, akhirnya semua mata tertuju pada mereka. Kematian tersebut adalah akibat dari tindakan –atau lebih tepatnya kelambatan total- dari politisi amerika dan inggris.

“Terdapat perbedaan yang sangat besar antara bagaimana respon pemerintah perancis dan spanyol terkait hal itu,“ kata wartawan New York Times Rukmini Callimachi ketika diwawancarai dalam program tersebut. “Sedangkan warga amerika menyeret kaki mereka dan memberi tahu Mrs. Foley ‘Kami tidak akan membayar, mintalah bukti hidup yang lain, dll.’ Yang lain masuk ke mode negosiasi dan berkata, ‘Oke, 100 juta, 50 juta, itu diluar dari pertanyaan. Mari kita bicara hal yang lebih masuk akal’.

Aku melihat sejumlah email antara negosiator dari Daulah Islam dan beberapa keluarga tawanan amerika pada saat itu. Keputusasaan dan permohonan untuk perpanjangan waktu oleh para ibu sementara mereka sendirian mencoba untuk memfasilitasi pembebasan tawanan di penjara “hitam” amerika sebagai media pertukaran untuk anak-anak mereka, tampak mengerikan untuk dibaca dan membuktikan betapa sedikit yang pemerintah mereka telah lakukan atau bahkan diskusikan dengan mereka sementara jam terus berputar tanpa henti. Hanya beberapa hari sebelum ia dibunuh, ibu Steven Sotloff masih, dengan sangat mustahil, mencoba membuat Obama mau membahas pembebasan Dr. Aafia Siddiqui sebagai pertukaran untuk hidup Steven. Satu ibu melawan pemerintah. Tentu saja, dia kalah.

“FBI memiliki penyadap komunikasi, serta memiliki pengawasan udara, mereka hamper pasti memiliki SDM (mata-mata) di wilayah Suriah,” kata bos Global Post Philip Balboni, agen media dimana Foley bekerja, dalam program tersebut. “Jadi tidak diragukan lagi banyak informasi yang tersedia bagi mereka. Tidak ada sama sekali, sepanjang periode waktu Jim masih hidup, sepotong informasi pun yang datang kepada kami. Tapi yang benar-benar membuat marah Diana dan John Foley adalah ancaman yang disampaikan oleh anggota NSA dalam teleconference dengan para keluarga tawanan lainnya”. Ancamannya sederhana: Jika anda mencoba untuk mengumpulkan uang tebusan demi menyelamatkan anak anda, anda bisa dituntut karena mendanai terorisme.

Mungkin cara paling sederhana untuk menilai kegagalan menyedihkan dari kebijakan tawanan amerika dan inggris dibandingkan dengan, katakanlah, pendekatan perancis adalah dengan melihat segala sesuatu yang terjadi selama lebih dari 18 bulan terakhir dan menilai apakah sikap “keras kepala” amerika dan inggris telah merubah semuanya menjadi lebih baik, apakah tidak bernegosiasi dengan cara apapun ketika yang lain melakukannya bahwa mereka telah meningkatkan kemampuan politik atau militer mereka dalam memerangi Daulah Islamiyah.

Mari kita lihat fakta. Sebagai contoh, dengan tidak membayar tebusan, bahkan melarang pihak keluarga untuk mencobanya dan menolak untuk membahas pertukaran tawanan dengan Daulah Islamiyah untuk hidup kelima mantan teman sel ku, apakah keputusan Obama dan Cameron tersebut mencegah Khilafah memperluas perbatasan wilayahnya di Timur dan Barat? Tidak sama sekali.

Apakah keputusan tersebut menghentikan afiliasi kelompok-kelompok islam di semenanjung Sinai, Afghanistan, Pakistan, yaman, Nigeria dan Libya untuk berjanji setia kepada Khilafah, sehingga menciptakan pemerintahan syari’at terbesar yang pernah ada di era modern? Tidak sama sekali.

Apakah itu menghentikan Daulah Islamiyah memukul mundur militer Iraq menuju kehancuran dan menaklukkan sebagian besar provinsi Anbar sementara para militant syi’ah membuang senjata mereka dan kabur? Tidak sama sekali.

Apakah itu menghentikan amerika untuk menghabiskan miliaran dollar dalam operasi militer udara sejauh ini dan menyebarkan ribuan penasehat militernya di Negara yang baru mereka tinggalkan pada tahun 2011? Tidak sama sekali.

Dan apakah itu menghentikan serangan mujahidin di Texas, New York, Tunisia dan California di sepanjang tahun 2015 yang menyebabkan puluhan warga inggris dan amerika tewas atau terluka? Sama sekali tidak.

Perancis memulangkan semua tawanan mereka dan masih mendapat serangan di dalam wilayah negaranya, jadi fakta itu menjengkelkan. Dengan memilih untuk tidak bernegosiasi dengan cara apapun dengan mujahidin, semua yang amerika dan inggris lakukan hanyalah membuat enam warga Negara mereka terbunuh tanpa alasan apapun, selain kesombongan tak berperasaan.

Aku ingat sebuah wawancara David Cameron dengan Sky News mengenai batas waktu yang akan dating untuk Briton David Haines pada bulan Agustus 2014. Dia tahu, 100% tahu, bahwa David akan dipenggal kepalanya sama seperti yang lain, namun Cameron sangat egois dan sombong. “Kami tidak akan membayar uang tebusan,” katanya. “Pikiran kami bersama keluarganya di masa sulit ini dan kami sedang melakukan segala sesuatu yang mungkin (padahal tidak sama sekali), tapi negara manapun yang membayar (tebusan) berarti mendanai terorisme,” katanya, menyerang Negara-negara yang sudah membebaskan warganya.

Namun faktanya adalah mereka sebenarnya bisa membawa pulang semua warga mereka tanpa masalah, baik amerika maupun inggris, dan perang mereka terhadap Daulah Islamiyah akan berlangsung sama persis dengan hari ini. Peristiwa-peristiwa satu setengah tahun terakhir telah membuktikan kebenaran pernyataan ini. “Kita mendapati empat pemuda warga amerika, dan semua tawanan eropa masih hidup. Semuanya kembali dengan keluarga mereka,” kata Philip Balboni.

“Itu adalah perbedaan yang mencolok. Pemerintah amerika dan inggris perlu merenungkan hasilnya, dan tidak hanya berpatok pada kebijakan sederhana yang mereka junjung tinggi dan merasa bangga dengannya. Hasilnya tidak baik, dan semestinya bisa lebih baik.”

Setelah video “propaganda” yang aku buat untuk Daulah Islamiyah di tahun 2014, terdapat semacam kegembiraan dalam melihat amerika merubah kesombongannya dan kebijakan yang tidak bijaksana mengenai negosiasi tawanan. Jika sekarang diperbolehkan bagi keluarga untuk membahas pembayaran uang tebusan dan mengumpulkannya, mungkin pemerintah sebenarnya membantu mereka untuk membayar, dibawah meja tentunya, dan secara diam-diam. Ini semua adalah hasil kerja dari keluarga Kassig, Sotloff dan Foley serta para pendukungnya, tapi mungkin ucapan kemarahanku telah membantu sedikit. Peter Kassig bukanlah lelaki yang mudah untuk bergaul di penjara, tetapi ketika tahu ajalnya akan tiba, ia menjadi tenang dan reflektif. Beberapa hari sebelum ia mati ia berkata, “Mungkin setelah aku mati, entah bagaimana sesuatu yang baik akan dating darinya.” Kematiannya dan kematian tawanan lain, membuat malu amerika hingga berubah (kebijakannya). Namun tertumpahnya darah mereka bisa saja dengan mudah dihindari sejak awal.

ABU JANDAL AL-BANGALI

DABIQ 14 - SYUHADA

DI ANTARA ORANG-ORANG YANG BERIMAN ADA KESATRIA:
ABU JANDAL AL-BANGALI

Abū Jandal al-Bangālī (semoga Allah menerimanya) adalah salah satu di antara beberapa muwahhidin yang berhijrah dari Bengal ke bumi Syam yang diberkahi, dengan karunia Allah.

Abu Jandal dibesarkan di Dhaka dan berasal dari keluarga kaya yang memiliki hubungan yang cukup dalam dengan militer Bengal. Ayahnya adalah seorang perwira murtad pasukan thogut dan tewas pada saat terjadinya peristiwa pemberontakan yang terjadi di internal penjaga perbatasan “Bangladesh” pada tahun “2009”, Abu Jandal sering berbicara mengenai ayahnya, “ayahku mati di jalan thogut tetapi aku berharap untuk mati di jalan Allah semata”. Ia tetap berpegang teguh dengan kata-kata yang ia janjikan kepada Allah dan berusaha mencari syahid dengan sungguh-sungguh, dan Allah pun menepati apa yang dijanjikan kepadanya dan mengabulkan apa yang selama ini dia idam-idamkan. Demikian kami menilai beliau, dan Allah lebih menilai beliau.

Selama masa-masa akhir remajanya, Abu Jandal mendapatkan panggilan terhadap kebenaran Islam. Dia mulai mendengarkan ceramah-ceramah Syaikh Anwar al-‘Awlaqiy (semoga Allah menerimanya) dan ulama lainnya yang berada dalam kebenaran. Dia mempunyai semangat yang kuat dalam mencari ilmu yang bermanfaat. Ia biasa membaca al-Qur’an setiap hari dan merenungkan kandungan ayat-ayatnya. Ia juga sering mempelajari bahasa Arob dan buku-buku mengenai aqidah yang ditulis oleh Ibnu Taymiyah dan Muhammad ibnu ‘Abdil-Wahhab. Ia juga seorang hamba yang sholih. Ia secara terus-menerus mengerjakan qiyam setiap malam juga mengerjakan shalat sunnah harian, dan juga selalu menyemangati saudaranya yang lain disekitanya untuk mau melaksanakan qiyam. Selain sebagai seorang individu yang sholih, dia juga secara keuangan turut membantu mujahidin lokal di Bengal dan terhadap tahanan muslim yang ada di sana semampu yang ia bisa lakukan. Ia adalah seorang pemuda yang akan selalu bersegera dalam melakukan amal kebaikan di awal kesempatan.

Ketika Khilafah dideklarasikan di Syam, Abu Jandal adalah termasuk diantara Muwahiddin pertama di Bengal yang menyatakan dukungannya terhadap Daulah Islam dan menyatakan baiatnya kepada sang Khalifah hafizhahullah. Ia juga sangat aktif dalam menyebarkan pesan tauhid dan Khilafah kepada saudara-saudara yang berada di sekitarnya, dan sebagaimana seruan untuk hijrah yang intensif oleh media Daulah Islam, Abu Jandal tidak merasa puas hanya dengan berbicara dengan teman-temanya melalui berbagai media sosial, sebaliknya, ia benar-benar memutuskan untuk berjalan di jalan Allah dan melakukan hijrah menuju Daulah Islam.

Abu Jandal menghadapi banyak rintangan dalam perjalanannya melakukan hijrah. Rencana yang ia miliki pada waktu itu adalah berpura-pura melakukan perjalanan menuju konferensi insinyur yang diadakan di timur tengah sebagai pengalihan hijrah-nya. Untuk melakukannya, ia memerlukan surat referensi dari kampusnya yang mengkonfirmasi alasannya melakukan perjalanan dengan tujuan menghadiri konferensi tersebut, tetapi yang menjadi masalah adalah ia sudah berhenti menghadiri kelas-kelas di kampusnya dikarenakan lingkungan di sekitar kampusnya yang penuh dengan kemaksiatan. Pada akhirnya, sebagai seorang pemuda, mahasiswa pengangguran, ia tidak mempunyai dana untuk membiayai penerbangannya juga untuk membayar biaya konferensi. Meskipun berada pada situasi seperti itu, ia berusaha tetap teguh dan yakin atas janji Allah, yang berfirman, [dan barangsiapa yang taqwa pada Allah, akan Dia berikan jalan keluar untuknya dan akan Dia berikan rizqi dari arah yang tidak ia sangka. Dan barangsiapa yang tawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya [at-Tholaaq: 2-3]. Dan demikianlah Allah memfasilitasi untuknya solusi-solusi dari arah yang tidak ia duga. Dengan menaruh kepercayaannya hanya kepada Allah saja, Abu Jandal mampu untuk memalsukan surat referensi dari kampusnya itu, dan Allah membutakan mata murtaddin, di mana mereka tidak memperhatikan ciri-ciri yang jelas atas kepalsuan surat tersebut baik itu stempel dan tanda tangan pada surat referensi tersebut. ia juga mampu dalam mengumpulkan uang yang diperlukan untuk membiayai perjalanannya dengan cara yang cukup cerdik. Demikianlah, dengan karunia dari Allah, Abu Jandal berhasil untuk melakukan hijrah ke Syam. Ia berjalan menuju Allah, namun Allah berlari menujunya, sebagaimana yang Allah telah janjikan kepada orang-orang beriman.

Ketika berita itu bocor, bahwa Abu Jandal telah meninggalkan negaranya ke timur tengah dan bahwa sebenarnya ia tidak menghadiri konferensi tersebut, seorang pamannya yang murtad, yang memiliki hubungan dengan agen intelijen militer Bengal DGFI (Directorate General of Forces Intelligence), melakukan yang terbaik untuk mencegah dia sampai ke Syam. Meskipun dengan usaha yang dilakukan oleh pamannya dan DGFI, bagaimanapun dengan karunia Allah, Abu Jandal berhasil tiba di Syam dengan sangat mudah, menegaskan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan terhadap seorang sahabat muda ‘Abdulloh ibnu Abbas, “Ketahuilah seandainya seluruh dunia berkumpul untuk memberikanmu suatu kebaikan, mereka tidak akan mampu memberikan kepadamu satu kebaikan pun selain apa yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan satu keburukan kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan satu keburukan kepadamu kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu.” [diriwayatkan oleh at-Tirmidziy].

Setelah berhasil memasuki bumi Syam yang diberkahi, hatinya penuh dengan rasa gembira dan ia menjadi orang yang termuda di antara para muhajirin asal Bengal. Segera setelah dia mengikuti kamp pelatihan, dia memberitahukan kepada pelatihnya bahwa ia ingin melakukan sebuah operasi istisyhad dan kemudian namanya pun masuk ke dalam daftar. Ia selalu tampak ceria dan murah senyum. Sementara menunggu gilirannya untuk melaksanakan operasi istisyhad, ia bergabung dengan sebuah batalion dan ditempatkan untuk ribath di ‘Ainul Islam. Meskipun ia sibuk dalam ribath dan pertempuran, hatinya selalu khawatir dengan saudara-saudara di tempat asalnya dan perkembangan jihad di sana. Ia bermimpi Bengal menjadi garis terdepan Daulah Islam dan menjadi kuburan bagi para murtaddin. Saat ia kembali dari tugas ribathnya ke kota, ia akan segera menanyakan saudara-saudaranya mengenai perkembangan yang terjadi di Bengal.

Ia juga biasa memberikan nasihat yang tulus kepada saudara-saudaranya di sana, meskipun tumbuh dalam keluarga yang kaya, ia selalu menjaga jaraknya dengan kehidupan di kota, dan lebih memilih bersusah payah dalam jihad. Sebelum ia pergi untuk ambil bagian dalam salah satu pertempuran di ‘Ain ‘Isa, ia mengabarkan kepada seorang temannya bahwa ia tidak mau menetap di kota dan berencana untuk pindah ke daerah pegunungan di wilayah Damaskus. Pada saat itu, mulai mendekati bulan romadhon, dan hatinya selalu terikat dengan Syahadah. Ia berkata kepada saudara-saudaranya disana akan keinginanya meraih syahadah dan berdoa agar Allah mau mengabulkannya pada bulan Romadhon. Ia kemudian pergi menuju pertempuran di ‘Ain ‘Isa sebagai seorang prajurit inghimasiy. Selama berjalannya operasi tersebut, ia terkena tembak meriam 23mm. tim medis segera mengevakuasinya dari lokasi pertempuran dan berusaha memberikannya pertolongan pertama, namun nyawanya tidak dapat tertolong karena pendarahan yang parah. Seorang dokter yang bertugas saat itu mengabarkan kepada saudara-saudara seperjuangannya bahwa sebelum nafas terakhirnya ia sempat mengucapkan kalimat syahadah.

Berkenaan dengan tugasnya dalam melaksanakan operasi inghimasi, Abu Jandal menulis surat berikut yang ditujukan kepada saudara-saudaranya seiman:

“dengan nama Allah Yang maha pengasih lagi maha pemurah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Dialah satu-satunya yang pantas disembah, Dialah satu-satunya yang hukumnya akan menguasai dunia, hanya pada-Nya hendaknya orang-orang beriman bertawakkal dan berharap. Adapun selanjutnya;”

“ini adalah sebuah pesan yang tulus dari saudaramu yang hidup di tanah Daulah Islam yang diberkahi ini. Adalah hukum-hukum Allah dan pengorbanan para saudara-saudara kita yang menjadikan tanah ini diberkahi, ya ikhwani fillah, empat atau lima bulan yang lalu, aku berada pada posisi yang sama sepertimu. Aku tidak mempunyai rencana apapun untuk menghindari fitnah yang ada di sekelilingku. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melakukan jihād fī sabīlillāh. Pada saat itu aku berpikir bahwa seluruh keluargaku dan teman-temanku pasti akan menghalangiku. Aku tenggelam di rintangan yang sama dengan apa yang mungkin kamu alami sekarang. Namun itu semua adalah tentang janji Allah, janji mengenai taman surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, yang membuatku terus mencoba, dan hal itu sudah cukup bagiku, insya Allah.”

“berikut ini adalah beberapa poin nasihat, yang mana aku berusaha dengan keras untuk melakukannya dan berharap bahwa kalian, saudara-saudaraku tercinta, juga berusaha melakukannya. Perlu dicatat bahwa ini hanyalah sudah menjadi tugasku untuk memberikan nasihat yang tulus kepada kalian. Sebaliknya, aku terlalu kecil dan terlalu berdosa untuk memberikanmu nasihat.”

- “Qiyāmul lail. Yā akhī, ini sudah menjadi solusi untuk para sahabat, sudah menjadi solusi untuk para saudara-saudara kita, dan hal ini tentu akan berlaku sama kepada kalian, insya Allah. Cobalah bangun 15 menit sebelum fajar dan shalat dua rakaat qiyamul Lail. Dan ketika kamu mulai terbiasa, tingkatkan 15 menit lagi. Apakah ini terlalu sulit?”

- “Cobalah menjadikan al-Qur’an sebagai teman terbaikmu. Bacalah, dengarlah, hapalkanlah, habiskanlah banyak waktu dengannya, Praktikanlah. Yang demikian itu lebih baik daripada bergunjing dengan teman-temanmu.”

- Cobalah lakukan latihan fisik rutin di rumah. Jangan lewatkan poin yang satu ini.”

Demikianlah, Abu Jandal adalah termasuk di antara para saudara-saudara kita yang tidak merasa puas hanya karena sudah berhasil tiba di tanah Khilafah dan ambil bagian dalam jihad di jalan Allah. Seseorang dapat melihat melalui surat yang ia tulis bahwa meskipun ia telah terlibat dalam jihad, yang merupakan salah satu amalan yang tertinggi, berupa pengorbanan dan ketaatan, ia terus mencoba untuk meningkatkan dirinya menjadi lebih baik dan memperkuat hubungannya dengan Tuhannya. Semoga Allah menerimanya dalam golongan syuhada dan memberikan inspirasi kepada yang lain melalui kata-kata dan perbuatannya.

PELAJARAN DARI FITNAH BANGSA MONGOL

DABIQ 14 - SEJARAH

PELAJARAN DARI FITNAH BANGSA MONGOL

Tujuh ratus tahun yang lalu, bala tentara yang dipimpin oleh penguasa Mongol, Mahmud Ghazan menginvasi tanah Syam, menyebarkan kebusukan di dalam negri dan menyebabkan kepanikan di antara penduduk. Setelah mengalahkan tentara Muslim pada Pertempuran Wadi al-Khazandar, Ghazan terus merengsek maju ke arah Damaskus. Ia kemudian menarik diri dari tanah Syam dan menginggalkan umat Islam di dalam negri untuk menghadapi cobaan berat yang akan menguji keyakinan mereka pada Allah dan kepercayaan mereka akan janji-Nya untuk memberikan dukungan dan kemenangan sebagaimana ketika tentara Mongol mencoba menguasai Damaskus dan menyerang bentengnya terus menerus.

Berikut adalah beberapa perkataan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menceritakan awal fitnah yang mencengkeram kaum Muslimin dan mengguncang mereka hingga ke masalah pokok sebagaiman musuh berbaris kian mendekat dan terus mendekat ke Damaskus. Syaikh mengambil perbandingan antara Pertempuran al-Ahzab pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan fitnah dari Ghazan, sebuah pelajaran yang menyajikan kepada kaum mu’minin yang akan tetap terus relevan dan penting sampai kubu Iman akan mengalahkan kubu kufur sekali lagi dan selamanya.

Ibnu Taimiyah rahimahullah memulai dengan menyatakan pentingnya pelajaran dari peristiwa yang menimpa kaum mu’minin sebelum kita, dan perlunya membandingkan situasi antara kita dengan mereka. "Memang, telah terjadi fitnah dalam hal ini –dimana Allah telah menimpakan umat Islam dengan adanya musuh yang menyerang yang berada di luar naungan syari’ah Islam- mirip dengan apa yang telah terjadi dengan kaum muslimin dan musuhnya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam... Allah telah berjanji dalam kitab-Nya dan dalam Sunnah Rasul-Nya bahwa apa yang menimpa bagian terakhir dari umat ini adalah sebagaimana yang menimpa kaum muslimin pada masa awal. Allah mengaitkan kisah dari bangsa-bangsa terdahulu dalam rangka untuk memberikan sebuah pelajaran bagi kita, sehingga kita akan membandingkan situasi kita dengan situasi mereka dan mengukur negara terakhir berdasarkan negara pertama.

"Syaikh kemudian melanjutkan dengan membagi orang-orang menjadi tiga kategori sehubungan dengan dukungan mereka terhadap agama Allah. "Dan kelompok yang menang –yang menegakkan Agama dan tidak akan merugikan mereka siapa saja yang menentang atau meninggalkannya sampai hari kiamat - menjadi jelas, manusia dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok yang berjuang menegakkan agama, yang meninggalkannya dan yang lainnya berada di luar syari’ah Islam ... pembagian ini merupakan penafsiran dari firman Allah,

{supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafiq jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. } [Al-Ahzab: 24].

"Dia kemudian menyebutkan beberapa ayat tentang Perang Uhud untuk menarik perbandingan antara penyebab perpecahan di barisan Muslim selama Perang Uhud, dengan penyebab perpecahan di barisan Muslim selama invasi Mongol. Dia mengatakan, "Allah berfirman,

{Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaython disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.} [Ali ‘Imran: 155].

Allah subhanahu wa ta’ala juga mengatakan,

{Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa'at kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kalian. Dan Allah memiliki karunia atas orang orang yang beriman.} [Ali ‘Imran: 152].

Allah juga mengatakan,

{Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu} [Ali ‘Imran: 165].

[Selama pertempuran] Setan berteriak lantang kepada manusia, "Muhammad telah terbunuh". Sehingga di antara mereka ada sebagian manusia yang terguncang dan melarikan diri, dan sebagian lainnya mereka adalah orang-orang yang tetap teguh dan berjuang. Kemudian Allah berfirman,

{Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh sebelumnya telah berlalu para Rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan kerugian pada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.} [Ali ‘Imran: 144].

Dan hal ini mirip dengan kondisi umat Islam saat mereka hancur pada tahun lalu.

"Dia kemudian menyebutkan bahwa kekalahan umat Islam pada zamannya adalah karena dosa, niat buruk, bermegah-megahan, kesombongan, dll, dan kemudian berkata, "jadi itu sudah keluar dari hikmah Allah dan rahmat-Nya atas orang-orang beriman bahwa Dia akan menimpakan mereka dengan cobaan dimana Ia mereka akan menderita dengannya, sehingga Allah dapat memurnikan orang-orang beriman dan mereka dapat kembali pada Robb mereka dengan taubat ... Sama seperti dukungan Allah untuk barisan muslim pada hari Badar, itu adalah rahmat dan berkah, dan kekalahan mereka pada hari Uhud adalah berkat dan rahmat bagi orang-orang beriman, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, "Allah tidak akan menetapkan sesuatu kepada orang mu’min kecuali kebaikan. Dan ini tidak didapati oleh siapa pun kecuali oleh seorang mu’min. Jika ia menerima kebaikan maka ia bersyukur kepada Allah dan itu baik baginya, dan jika ia mengalami kesulitan maka ia bersabar dan itu adalah baik baginya'.

"Perkataan Syaikhul Islam di atas amat tepat dengan apa yang berlaku atas umat saat ini. Dan di luar rahmat besar Allah terhadap umat Islam, Dia telah menimpakan kepada mereka dengan satu demi satu bencana untuk membangunkan mereka dari tidur mereka, memurnikan barisan mereka, dan membimbing mereka untuk bertaubat dari setiap dosa dan kembali kepada-Nya. Jadi, jika mereka bersabar atas musibah yang menimpa mereka, itu akan menjadi rahmat dan berkah dengan izin Allah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah lalu membagi orang ke dalam tiga kategori sehubungan dengan Iman dan mulai menguraikan ciri-ciri munafiqin. Sangatlah penting untuk dapat mengenali munafiqin, karena mereka akan selalu memalingkan kepala jelek mereka ke belakang dan membuat suara mereka terdengar keras ketika fitnah muncul. Hal ini juga penting untuk mengetahui sifat-sifat dan kebiasaan mereka seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah karena banyak orang mungkin akan jatuh ke dalam nifaq selama masa fitnah tanpa menyadarinya, dan pengetahuan akan sifat-sifat ini adalah untuk menghindari munafiqin, membantu orang melindungi dirinya dari meniru munafiqin dan mengikuti jalan mereka yang rusak, sebagaimana yang telah terjadi di antara murtaddin yang sebelumnya menapaki jalan ilmu dan jihad namun sekarang berdiri bahu-membahu dengan sekularis dan faksi nasionalis di parlemen syirik mereka. Syaikh menyatakan, "Dan orang-orang terbagi [dalam pertempuran kita ini] sama seperti mereka terbagi pada tahun al-Khandaq (yaitu Pertempuran al-Ahzab). Dan ini adalah karena sejak Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memuliakannya dengan Hijrah dan dengan dukungan yang ia terima, orang-orang terbagi menjadi tiga kelompok: kelompok mu’minin yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya lahir dan batin, kelompok kafir yaitu orang-orang yang mengingkari-Nya dengan jelas, dan kelompok munafiq yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya hanya secara lahiriah, sedangkan hatinya mengkufurinya.

"Syaikh kemudian menjelaskan tipu muslihat dari berbagai sekte Bathiniy murtadd pada masanya, seperti Kharamiyah, Bathiniyah, Qaramithah, Isma’iliyah, dan Nushairiyah. Dia menyatakan, "Dan kebanyakan dari munafiqin* ini bersandar pada negara Tatar '(bangsa Mongol) karena mereka tidak mewajibkan syari’ah Islam kepada mereka. Beberapa dari mereka melarikan diri dari Tatar bukan demi agamanya,namun hanya karena track record korupsi Tatar dalam hal dunya saja, penyitaan kekayaan mereka, dan pertumpahan darah tak terkendali dan perbudakan." Sayangnya, beberapa hal yang disebutkan Ibnu Taimiyah di sini dalam mendeskripsikan para anggota sekte Bahtiniy juga berlaku untuk banyak umat Islam saat ini. Mereka melarikan diri dari kesempatan untuk ber-jihad dan penegakan syari'at menuju dunia mereka. Namun, jika mereka takut karena Iman mereka, mereka akan membela tanah Muslim dalam melawan murtaddin. Wallahul musta'an.

*Perhatikan penisbatan Ibnu Taimiyah terhadap nifaq (kemunafikan) atas sekte-sekte Bathiniy hanyalah secara bahasa saja, karena mereka mengklaim Islam sementara realitasnya bertentangan dengan ‘amaliyah. Dia tidaklah memandang mereka sebagai sekadar munafiqin yang umumnya diperlakukan sebagai Muslim. Akan tetapi sekte ini secara terbuka telah melakukan kekufuran dan syirik, dan dengan demikian hukum atas sekte ini adalah bahwa mereka itu murtaddin, sebagaiman Syaikh sendiri telah menyebutkannya dalam beberapa literatur yang terkenal.

Syaikh kemudian menyebutkan salah satu ciri utama dari munafiqin: "Dan juga termasuk dalam topik ini adalah berpaling dari jihad, karena itu adalah salah satu diantara ciri-ciri munafiqin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa meninggal tanpa berjihad dan juga tidak berniat untuk berjihad, maka ia mati pada salah satu cabang nifaq' [HR Muslim].

"Dia kemudian membahas Surat at-Taubah dengan menyatakan, "Dan surat ini diturunkan selama 2 masa terakhir dari pertempuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Pertempuran Tabuk pada tahun 9 setelah Hijrah ketika Islam telah menjadi kuat dan nyata. Di dalamnya Allah membongkar kondisi munafiqin, menggambarkan mereka sebagai pengecut dan meninggalkan jihad, serta menggambarkan mereka sebagai menahan kekayaan fii sabilillah dan pelit terhadap kekayaan mereka."

Sangatlah penting untuk dicatat bahwa pemaparan Allah akan sifat pengecut dan pelit terhadap munafiqin dalam surah ini –yang juga bernama "al-Fadihah" (yang membuka aib) sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhu– dengan memperhatikan perang Tabuk yang merupakan jihad ofensif. Jadi berapa banyak lagi label dari nifaq dapat berlaku bagi orang-orang yang meninggalkan jihad pada hari ini ketika tanah kaum muslimin diserang dari segala arah oleh musuh-musuh Allah dan dikungkung oleh hukum dan konstitusi syirik yang diberlakukan dan ditegakkan oleh tentara salib dan boneka mereka! Dengan demikian kaum Muslim harus takut bila nama mereka tercatat dalam sejarah sebagai orang-orang yang meninggalkan jihad pada salah satu masa paling kritis, dan juga harus takut pada hari ketika mereka akan berdiri di hadapan Allah beserta seluruh makhluq akan menjadi saksi sebagaimana mereka akan menjawab pertanyaan akan perbuatan tercela dan memalukan. Dan pasti Dzat yang membongkar aib dan membuka tabir munafiqin di dunya karena meninggalkan jihad ofensif di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa alasan yang sah, pasti mampu membongkar aib dan mengekspos mereka yang meninggalkan jihad defensif pada hari tanpa alasan syar’i.

Syaikhul Islam kemudian menyatakan, "dengan demikian, bagian dari ma’na 'mu’min' dan 'munafiq' telah menjadi jelas. Jadi, jika seseorang membaca surat Al-Ahzab dan mempelajari –dari apa yang telah jelaskan dalam hadits, tafsir, Fiqh, dan Siroh- sebab di mana Qur’an diturunkan, dan kemudian merenungkan masa kini dengan apa yang diterangakan di dalamnya, maka ia akan melihat kebenaran dari apa yang telah kita sebutkan; bahwa manusia telah dibagi -dalam kejadian saat ini- ke dalam tiga kelompok sebagaimana mereka dibagi pada masa lalu".

Dan hari ini, di mana manusia juga dibagi menjadi tiga kelompok sehubungan dengan pembentukan Daulah Islam dan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah: sebuah kelompok yang mendukung kebangkitan Khilafah dan pelaksanaan syari’ah, kemudian kelompok yang menolak dan memerangi Khilafah dan syari’ah, dan kelompok ketiga yang mengklaim sebagai di pendukungan kembalinya Khilafah dan penerapkan syari’ah namun tampaknya berpikir bahwa ini hanya dapat terjadi dengan meninggalkan jihad, menyebar ketakutan dan mengkritik para mujahidin atas setiap kekurangannya.

Syaikhul Islam kemudian secara singkat menceritakan kisah pertempuran al-Ahzab dan menggambarkan situasi di Syam. Dia kemudian menyebutkan firman Allah:

{(Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(kalian) dan hati (kalian) naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Disitulah orang-orang mu’min diuji dan digoncangkan (hati mereka) dengan goncangan yang keras} [Al-Ahzab: 10-11],

lalu menyatakan, "Musuh datang dari kedua sisi yang tinggi dari wilayah Syam ... hingga mata orang-orang bergeser dalam ketakutan dan hati mereka mencapai tenggorokannya karena besarnya penderitaan, terutama ketika tersiar kabar bahwa tentara Muslim telah meninggalkan Mesir dan musuh mendekat ke Damaskus. Orang-orang memiliki berbagai prasangka pada Allah. Salah seorang berpikir bahwa tidak ada lagi seorang dari tentara Syam yang akan berdiri dan menghadapi mereka dan mereka akan membasmi orang-orang Syam, yang lainnya berpikir bahwa jika mereka berdiri di hadapan mereka [orang Mongol] akan benar-benar mematahkan mereka dan mengelilingi mereka seperti bulan dikelilingi oleh cahaya, dan yang lainnya berpikir bahwa mereka tidak bisa lagi tinggal di tanah Syam dan bahwa hal itu akan tidak lagi menjadi negeri Islam, dan yang satu ini berpikir bahwa [Mongol] akan mengambil [Syam] dan kemudian lanjutkan ke Mesir dan merebutnya dan tidak ada yang akan menghalangi mereka sehingga ia berencana untuk melarikan diri ke Yaman dan tempat-tempat lainnya, dan yang satu ini –berpikir agak positif- berkata, 'mereka akan memerintah [Syam] pada tahun ini sebagaimana mereka pemerintahan Hulagu pada tahun 657 Hijriyah. Lalu tentara dapat keluar dari Mesir dan menyelamatkannya dari mereka sebagaimana mereka keluar pada tahun itu. "Dan ini adalah prasangka terbaik di antara mereka."

Sebagaimana orang-orang Syam dulu mulai berprasangka buruk ketika menghadapi fitnah dari Mongol, demikian juga dengan kebanyakan umat Islam saat ini yang berprasangka buruk ketika menghadapi fitnah dari thawaghit dan salibis, bahkan jatuh dalam riddah karena prasangkanya! Meskipun Khilafah telah dikembalikan, syari'at ditegakkan, wilayah Daulah Islam diperluas dan pembantaian terhadap Murtaddin tak terhitung jumlahnya di tangan tentaranya, banyak dari faksi Suriah –termasuk yang menamakan dirinya "Islamis" - terus berperilaku seolah Bashar tidak mungkin dikalahkan oleh sekelompok Muslim yang hanya menyandarkan kemenangannya pada Allah. Faksi ini, bukannya menempatkan kepercayaan mereka kepada Allah dan berjuang untuk tujuan-Nya, akan tetapi malah berprasangka buruk pada Allah dan bertindak atas praduga negatif mereka dengan mengemis kepada tentara salib untuk memasok mereka dengan senjata dan membangun zona larangan terbang. Dan sebagai pertukaran untuk tentara salib dan dukungan thaghut, faksi ini bekerja sama dengan orang-orang kafir melawan Muhajirin dan Anshor dari Daulah Islam. tawakkal faksi ini pada orang-orang kafir telah menjadikan mereka menerima negosiasi dengan rezim Nushairiy untuk "transisi damai" menuju pemerintahan thaghut baru.

Ibnu Taimiyah rahimahullah kemudian menyatakan, "Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

{Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu (kerumahmu)."} [Al-Ahzab: 13].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkemah dengan kaum Muslimin di Gunung Sila'dan menempatkan parit diantara dia dan musuhnya. Sekelompok dari kalangan munafiqin berkata, “Tidak ada tempat bagimu untuk mengambil posisi di sini karena banyaknya jumlah musuh, jadi kembalilah ke Madinah.” Dan telah dikatakan [yang artinya], “Anda tidak memiliki kemampuan bertahan pada agama Muhammad, maka kembalilah ke agama syirik." Dan dikatakan [yang artinya], “Anda tidak memiliki kemampuan untuk berperang, jadi pertimbangkanlah untuk berlindung di bawah kekuasaan mereka." Dan juga, ketika musuh ini datang, ada orang-orang dari kalangan munafiqin yang berkata, “Daulah Islam tidak lagi tegak, jadi hal yang tepat untuk dilakukan adalah masuk ke dalam barisan Tatar." Dan beberapa orang mengatakan, “Kami tidak bisa lagi tinggal di tanah Syam. Dan kita akan pindah ke Hijaz, Yaman atau ke Mesir.” Dan di antara mereka berkata, “kepentingan umum terletak ketika menyerah kepada mereka dan menempatkan diri di bawah otoritas mereka seperti orang-orang Iraq yang menyerahkan diri kepada mereka." ketiga pernyataan yang diucapkan dalam insiden ini sama seperti yang diucapkan mereka dalam insiden itu. Inilah sekelompok munafiqin dan mereka yang di dalam hatinya ada penyakit akan mengatakan kepada orang-orang di Damaskus pada khususnya dan untuk orang-orang Syam pada umumnya: “Anda tidak memiliki kemampuan untuk tetap di negeri ini.”

Pernyataan dari munafiqin ini juga telah terulang dalam era kita oleh berbagai faksi Shahawat murtadd dan ideolog mereka. Mereka menanam keraguan akan kemampuan para mujahidin untuk menghadapi orang-orang kafir, bahkan memperingatkan bahwa Mosul akan jatuh dan menyarankan kepada perempuan untuk meninggalkan kota. sementara itu yang lainnya terus bersikeras atas manhaj "pragmatisme" mereka dengan mengklaim bahwa itu tidaklah "pragmatis" (rasional) untuk mencoba melawan orang-orang kafir langsung, dan bahwa Muslim harus menyembunyikan niat mereka untuk menerapkan syari’ah dan harus mengambil bagian dalam demokrasi untuk mendapatkan kekuasaan. Ini tentu saja tidak berbeda dengan pernyataan dari orang-orang munafiqin di atas, "Anda tidak memiliki kemampuan untuk tetap bertahan pada agama Muhammad, maka kembalilah ke agama syirik." Sedangkan yang lainnya percaya bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan salibis, sehingga mereka tidaklah terpaksa mencari bantuan dan perlindungan dari salibis melawan musuh lainnya, apalagi jika hal itu membawa mereka untuk bekerjasama dengan tentara salib memerangi umat Islam!

Syaikhul Islam kemudian menjelaskan bahwa mereka tidak akan puas dengan meninggalkan jihad saja dan mereka akan mencegah orang lain dari berjuang di jalan Allah. Di zaman kita, hal ini bahkan mencapai taraf di mana orang tua bersedia memberitahu otoritas kafir untuk menangkap anak-anak mereka sendiri dan memenjarakan mereka selama puluhan tahun demi menghentikan mereka dari bergabung dengan Mujahidin. Dalam menggambarkan orang-orang yang mencegah orang lain untuk berjihad fii sabillah, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

{Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: "Marilah kepada kami."} [Al-Ahzab: 18]

Para ulama mengatakan, “di antara munafiqin [selama Pertempuran al-Ahzab] ada orang-orang yang kembali dari parit dan masuk ke Madinah. Jika ada yang datang kepada mereka, mereka akan mengatakan kepadanya, 'Celakalah kamu! Tinggalah di sini dan jangan pergi keluar. "Dan mereka juga akan menulis pesan kepada saudara-saudara mereka di barisan tentara [Muslim], dengan mengatakan, 'Datanglah kepada kami di Madinah, karena kita sedang menunggu Anda.’ Yang demikian itu untuk mengecilkan semangat berperangnya.”

"Syaikhul Islam kemudian membahas sifat lain dari munafiqin yang disinggung dalam ayat ini (dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam), ini merupakan penghinaan kasar mereka kepada mujahidin, termasuk penghinaan dan pernyataan mereka. Dia menyatakan, "Dan pada waktu mereka berkata, 'Anda –dengan jumlah kecil dan kelemahan Anda- ingin mematahkan musuh. Sungguh, agamamu telah menipumu, 'sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“(Ingatlah), ketika orang-orang munafiq dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mu’min) ditipu oleh agamanya." (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."} [Al-Anfal: 49]

Dan pada waktu mereka berkata, 'Anda gila dan bodoh. Anda akan menghancurkan diri Anda dan menghancurkan orang-orang lain yang bersamamu. "Dan pada waktu mereka membuat berbagai jenis pernyataan kasar lagi menyakitkan."

Ibnu Taimiyah rahimahullah kemudian menyebutkan pernyataan dari Allah,

{Mereka mengira (bahwa) golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-berita kalian.} [Al-Ahzab: 20]

Ini seperti kasus dari orang-orang yang tetap tertinggal dari jihad dan terus mengikuti berita secara teratur agar tetap mengikuti informasi terbaru. Mereka berpikir bahwa mereka mendapatkan informasi terbaru, tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka sering sebodoh Badui mengenai urusan mujahidin, dengan banyak dari mereka mengandalkan media kafir penghujat sebagai sumber utama informasi mereka tentang jihad.

Ibnu Taimiyah rahimahullah maka membahas arti dari kejujuran dalam klaim seseorang akan Iman. Dia menyebutkan ayat,

{Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah janjinya (hingga mati).} [Al-Ahzab: 23],

dan juga ayat,

{Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.} [Al-Hujurat: 15].

Dia kemudian menyatakan, "Jadi Dia (Allah) membatasi Iman hanya kepada mu’min mujahid dan memberitahu bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur ketika menyatakan, ‘Kami beriman.'”

Setelah sebelumnya menyebutkan ciri-ciri munafiqin itu, Syaikhul Islam kemudian menggaris bawahi bahwa meskipun kejahatan mereka mereka masih bisa diampuni jika mereka bertobat sebelum terlambat. Dia menyatakan, "Adapun munafiqin, mereka hanya berada dalam dua hal: Entah Allah menghukum mereka atau menerima tawbat mereka. Ini adalah kondisi manusia terkait al-Khandaq dan tentang ghozawat. Allah Subhanahu wa ta’ala juga menimpakan manusia dengan fitnah ini yang karenanya Allah akan memberi pahala bagi orang yang jujur atas kejujuran mereka –dan mereka adalah orang-orang yang tetap teguh dan bersabar dalam rangka membela Allah dan Rasul-Nya- dan menghukum munafiqin jika Dia menghendaki atau menerima taubat mereka."

Semoga Allah melindungi kaum mu’minin dari makar munafiqin. Aamiin.