Rabu, 25 April 2018

MENUJU MALHAMAH KUBRA DI DABIQ

RUMIYAH 3 - ARTIKEL

MENUJU MALHAMAH KUBRA DI DABIQ

Tatkala kaum beriman diuji dengan penyakit hati dan kehadiran al-murjifun (para penyebar kabar bohong) di Madinah, ketika tidak tetap lagi penglihatan dan hati sampai naik menyesak hingga ke tenggorokan pada Perang Ahzab, lalu muncullah persangkaan terhadap Allah azza wa jalla dengan berbagai macam sangkaan. Sebagaimana diriwayatkan ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari Hasan al-Bashri, terkait penafsiran firman Allah ta'ala: “Dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka,”(al-Ahzab: 10), dia berkata, “Beragam purbasangka: orang-orang munafik menyangka bahwa Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau akan dikalahkan, dan orang-orang beriman meyakini bahwa apa yang Allah azza wa jalla janjikan kepada mereka adalah benar, Dia akan memenangkannya atas seluruh agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”

Kemudian Allah azza wa jalla berfirman, “Dan (ingatlah) ketika orangorang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya,”(al-Ahzab: 12). Sebagaimana dikeluarkan ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari Qatadah radhiyallahu anhu tentang penafsirannya, dia menjelaskan, “Segolongan manusia dari kalangan munafikin mengatakan: Muhammad menjanjikan kita penaklukan Persia dan Romawi, namun kita terkepung di sini, sampai-sampai salah seorang dari kita tidak bisa untuk menunaikan hajatnya, Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan hanya tipu daya.”

Sementara itu –di tengah dahsyatnya bencana dan penderitaan—kaum beriman mengetahui sesungguhnya pertolongan Allah ta'ala itu amat dekat. Sebagaimana diriwayatkan ath-Thabari dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu tentang penafsiran firman Allah ta'ala : “Dan tatkala orang-orang beriman melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.’ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan.”(al-Ahzab: 22), dia berkata, “Demikianlah sesungguhnya Allah berfirman kepada mereka di surat al-Baqarah, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padalah belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat .”(al-Baqarah: 214). Kala cobaan mendera mereka, di saat mereka ribath di parit memantau golongan-golongan yang bersekutu, orang-orang beriman menakwilkan seperti itu, maka tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan ketundukan.”

Orang-orang beriman mengingat-ingat ayat-ayat Allah ta'ala dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di parit-parit mereka. Mereka menakwilkan semua kabar dan tanda-tanda terkait cobaan yang mendera mereka, lalu segala goncangan dan bencana tidak menjauhkan mereka dari merenungkan ayat-ayat Allah ta'ala dan hikmahnya. Bahkan jihad dan kerja keras mereka semakin membuat mereka bersabar atas cobaan, tunduk kepada ketentuan, serta membenarkan realisasi janji Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam untuk mereka. Sementara orang-orang munafik mengalami keraguan dan menderita penyakit hati, sehingga mereka mengolok-olok dan menghujat janji Allah ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, lalu orang-orang kafir dan para thaghut terperdaya oleh kekuatan dan keangkuhan mereka, karena mereka menyangka “yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah,”(Ali ‘Imran: 154), bahwa (menurut sangkaan mereka, Penj.) Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana akan menelantarkan agama dan para wali-Nya, dan bahkan memenangkan musuh-musuh-Nya dan persatuan mereka, sehingga agama pun sepenuhnya milik selain-Nya selamanya. Sungguh Maha Tinggi Allah ta'ala dari persangkaan orang-orang jahiliyah dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.

Sesungguhnya Allah ta'ala meng-istidraj (membinasakan secara bertahap) mereka dengan cara yang tidak mereka ketahui. Mereka bersusah-payah mewujudkan makar Allah kepada mereka, dan akhir nasibnya, “mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan.”(al-Hasyr: 2)

Dan dari itu, para hamba salib dan para penolong mereka (pasukan Turki dan Shahawat) memobilisasi pasukan di riif (pinggiran) Halab Utara sembari mengumumkan bahwa Dabiq merupakan target utama mereka. Mereka mengklaim, mengotori Dabiq dengan kaki dan panji-panji najis mereka, akan menjadi kemenangan moril besar atas Daulah Islam. Mereka mengira bahwa Junud Daulah tidak dapat membedakan antara Perang Dabiq Sughra (kecil) dengan Malhamah Dabiq Kubra (Peperangan Dabiq Dahsyat di akhir zaman). Oleh karenanya, apabila Daulah mundur dari Dabiq –semoga Allah ta'ala meneguhkan junud Khilafah di sana—maka tidaklah dikatakan sebagai pengemban panji al-’uqab (panji hitam) yang dimenangkan, karena kemudian junudnya meninggalkannya setelah mundur secara berkelompok-kelompok.

Para penyembah salib dan penolong mereka dari kalangan murtaddin tidak mengetahui bahwa Malhamah Dabiq Kubra didahului oleh peristiwa-peristiwa besar berupa tanda-tanda Kiamat kecil yang diketahui oleh orang-orang beriman yang ribath di parit-parit mereka. Peristiwa-peristiwa tersebut dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits-hadits fitnah akhir zaman, peperangan-peperangan besar, dan tanda-tanda Hari Kiamat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga bangsa Romawi turun (ke medan perang) di A’maaq atau di Dabiq, sehingga sekelompok pasukan dari Madinah keluar menghadapi mereka, yang merupakan sebaik-baik penduduk bumi ketika itu. Dan tatkala mereka berhadapan, pasukan Romawi berkata, ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang dahulu tertawan dari kami!’ Kaum muslimin menjawab, ‘Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.’ Maka terjadilah peperangan di antara mereka. Lalu ada sepertiga yang melarikan diri, dan Allah tidak mengampuni dosa mereka selamanya, dan sepertiga lagi terbunuh sebagai sebaik-baik syuhada di sisi Allah. Dan sepertiga lagi mendapatkan kemenangan, mereka tidak ditimpa fitnah untuk selamanya, kemudian mereka menaklukkan Konstantinopel. Dan ketika mereka sedang membagi-bagi harta ghanimah, dan mereka menggantungkan pedang mereka di pohon zaitun, tiba-tiba setan meneriaki mereka, ‘Sesungguhnya al-Masih (Dajjal) telah menyerang keluarga kalian!’ Mereka lantas berhamburan keluar, namun ternyata hal itu hanya kebohongan belaka. Ketika mereka mendatangi Syam, dia pun muncul. Dan ketika mereka sedang bersiap-siap untuk peperangan, sedang merapikan barisan, tiba-tiba datanglah waktu shalat, dan turunlah Nabi Isa bin Maryam, lalu dia mengimami mereka, tiba-tiba musuh Allah (Dajjal) melihatnya, seketika ia meleleh sebagaimana garam melarut di dalam air, meskipun seandainya dia membiarkannya maka dia akan meleleh sampai binasa. Akan tetapi Allah menginginkan dia membunuhnya dengan tangannya, lalu ia pun memperlihatkan kepada mereka darah Dajjal yang ada di ujung tombaknya.”(HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Yasir bin Jabir, bahwasanya Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga harta warisan tidak dibagi dan harta ghanimah tidak membuat gembira.” Kemudian dia berkata mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini, dia menunjuk ke arah Syam, seraya berkata, “Musuh berkumpul untuk melawan umat Islam, dan umat Islam pun berkumpul untuk (menghadapi) mereka.” Aku pun bertanya, “Romawi maksudmu?” Dia menjawab, “Ya, saat peperangan itu terjadi serangan dahsyat, lalu kaum muslimin mengirimkan sekelompok pasukan pencari mati, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. Kaum muslimin mengirimkan sepasukan pencari mati, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan itu pun lenyap. lalu kaum muslimin mengirimkan sekelompok pasukan pencari mati lagi, tidak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga malam hari, lalu masing-masing dari kedua kubu kembali, masing-masing tidaklah menang, dan sekelompok pasukan muslim itu pun lenyap. Pada hari keempat, sisa-sisa kaum muslimin yang masih ada bergerak maju, lalu Allah menjadikan kekalahan atas musuh mereka. Peperangan dahsyat pun meletus –entah dia (baca:Ibnu Mas’ud) berkata, ‘La yura mitsluha (tidak pernah terjadi peperangan ini sebelumnya).’ Atau barangkali berkata, ‘Lam yura mitsluha (seakan tidak ada peperangan seperti ini dimasa datang).’ Sehingga burung terbang melintasi segala penjuru mereka, dan tidaklah melintasi mereka melainkan pasti tersungkur mati (karena bau busuk tumpukan mayat). Satu kabilah menghitung, tadinya mereka berjumlah seratus orang, tapi mereka hanya menjumpai satu orang saja. Lalu harta ghanimah mana yang bisa membuat gembira? Atau harta warisan mana yang dapat dibagikan? Saat mereka seperti itu, tiba-tiba mereka mendengar serangan yang lebih besar darinya, lalu ada orang berteriak yang mendatangi mereka, ‘Sesungguhnya Dajjal telah menyerang keluarga kalian!’ Lalu mereka membuang apa-apa yang ada di tangan mereka, kemudian pulang. Setelah itu mereka mengirim sepuluh kesatria berkuda ke depan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui nama-nama mereka, nama-nama bapak mereka, dan warna kuda mereka. Mereka adalah kesatria berkuda terbaik di muka bumi pada saat itu.’ Atau: ‘di antara tentara berkuda yang terbaik di atas bumi saat itu.’”(HR. Muslim)

Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hitunglah enam perkara yang akan muncul menjelang Hari Kiamat. Kematianku, penaklukkan Baitul Maqdis, kematian yang menyerang kalian bagaikan penyakit yang menyerang kambing sehingga mati seketika, melimpahnya harta hingga ada orang yang diberi seratus dinar namun masih marah (merasa kurang), munculnya fitnah sehingga tidak satu pun rumah orang Arab kecuali akan dimasukinya, perjanjian antara kalian dengan Bani Ashfar (Eropa), lalu mereka mengkhianati perjanjian kemudian mengepung kalian di bawah delapan bendera (panji) perang yang setiap panji terdiri dari 12 ribu pasukan.” (HR. Al-Bukhari)

Abu Dawud meriwayatkan dari Dzu Mikhmar radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kalian akan berdamai dengan bangsa Romawi melalui sebuah perjanjian damai. Kalian akan berperang bersama mereka menyerang musuh di belakang kalian. Kalian akan mendapatkan kemenangan, ghanimah, dan keselamatan. Setelah itu kalian akan kembali pulang, sampai kalian singgah di suatu tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Lalu ada seseorang laki-laki beragama Nashrani mengangkat salib, seraya berkata, ‘Salib telah menang!’ Maka marahlah salah seorang laki-laki dari kaum muslimin, hingga mematahkan kayu salibnya. Maka saat itulah orang-orang Romawi berkhianat dan berkumpul untuk sebuah peperangan.”(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan dishahihkan oleh az-Dzahabi).

Dalam lafazh milik Ibnu Hibban disebutkan, “Kalian akan berdamai dengan bangsa Romawi melalui perjanjian damai, sehingga kalian dan mereka memerangi musuh di belakang mereka. Kalian mendapatkan kemenangan, ghanimah, lalu kembali pulang sampai singgah di satu tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Salah seorang dari bangsa Romawi berkata, ‘Salib telah menang!’ Lalu salah seorang dari kaum muslimin berkata, ‘Bahkan Allah yang menang!’ Kemudian seorang muslim menyerang salibnya, dan dia tidaklah jauh darinya, lalu dia mematahkan salibnya. Dan pasukan Romawi menyerang laki-laki yang mematahkan salib mereka, lalu menebas lehernya. Selanjutnya kaum muslimin segera meraih senjata mereka dan berperang. Allah memuliakan sekelompok kaum muslimin itu dengan kesyahidan. Bangsa Romawi kemudian berkata kepada raja mereka’kami akan bereskan bangsa arab untukmu’ Maka mereka berkumpul untuk peperangan, lalu mengepung kalian di bawah 80 panji, di bawah tiap panji terdiri dari 12 ribu pasukan.”

Di antara sejumlah peristiwa yang akan terjadi sebelum Malhamah Kubra di Dabiq: perjanjian antara kaum Muwahhidin-Mujahidin dengan orang-orang Nashrani-Romawi. Masing-masing dari kedua bangsa itu bertekad untuk memerangi musuh yang lainnya. Selepas mujahidin meraih kemenangan atas musuh di belakang mereka, kedua kelompok tiba di Dabiq dan di sekitarnya tempat tinggi yang subur lagi banyak tanamannya. Kemudian salah seorang dari bangsa Romawi mengangkat salibnya dan berseru dengan seruan-seruan agama Nashrani. Lantas salah seorang muwahhid yang cemburu karena Allah azza wa jalla mematahkan salibnya, lalu bangsa Romawi berkhianat, serta berhimpun untuk berperang dan datang dengan ribuan pasukan.

Di antara peristiwa lainnya lagi: sekelompok mujahidin menawan sekelompok pasukan Romawi. Kemudian mujahidin tidak menelantarkan saudara-saudara mereka yang ditawan atau –sebagaimana tertera dalam riwayat—siapa saja dari tawanan asal Romawi yang masuk ke dalam agama Islam.

Demikianlah peristiwa-peristiwa Malhamah Kubra di Dabiq; jihad dan kerja keras, pembunuhan dan peperangan, luka dan asa. Tiada yang dilakukan seorang muwahhid-mujahid selain bersabar dan yakin dalam aktivitas ribath dan bertempurnya, sampai kemudian Allah azza wa jalla memporak-porandakan persatuan musuh-musuh-Nya, mencerai-beraikan hati mereka, menjadikan wajah mereka saling berpaling, menciptakan permusuhan di antara mereka, membuat mereka saling memancung batang leher yang lainnya, “mudah-mudahan waktu tersebut dekat.”

Adapun peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di daerah utara Syam ini –di Dabiq dan sekitarnya— tiada lain hanyalah satu dari tanda-tanda berbagai peperangan yang menjelang –insyaa Allah—yang memaksa kaum Salibis –cepat atau lambat—menerima syarat-syarat dari kelompok kaum muslimin. Setelah itu, dan diikuti dengan kemenangan, kaum Salibis melakukan pengkhianatan, lalu terjadilah Malhamah Kubra di Dabiq.

Hari ini, berbagai konflik lama terulang kembali di barisan musuh-musuh Allah azza wa jalla. kaum Salibis Barat berseteru dengan kaum Salibis Timur, juga para pembela mereka dari kalangan murtaddin pun bertikai. Orang-orang Turki berseteru dengan orangorang Kurdi, Shahawat Turki berseteru dengan Shahawat Yordania, kaum Rafidhah berseteru dengan kaum Kurdi Irak, kaum Kurdi Barat bertikai dengan kaum Kurdi Timur, Syiah Nushairiyah bertikai dengan bangsa Kurdi Syam. “Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti,”(al-Hasyr: 14).

Fluktuasi pertempuran di Dabiq dan sekitarnya –Perang Dabiq Kecil—akan berujung pada Perang Dabiq Besar (Malhamah Kubra), secara pasti, setelah penakwilan “apa yang dijanjikan Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam terwujud, dari perjanjian antara kaum muslimin dan bangsa Romawi, lalu pengkhianatan Romawi terhadap mereka. Setelahnya, terjadi penaklukkan Konstantinopel (kemudian Roma).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Pernahkan kalian mendengar sebuah kota yang pada satu sisinya terdapat daratan dan pada sisi yang lain terdapat lautan?”para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau melanjutkan, “Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga kota itu diperangi oleh 70 ribu orang dari (keturunan) Bani Ishaq (sebagian lainnya berkata: yang diketahui dan dikenal adalah ‘keturunan dari Bani Ismail’). Jika mereka telah mendatanginya, mereka turun ke medan perang, akan tetapi mereka tidak memerangi dengan menggunakan senjata pedang ataupun panah. Mereka hanya mengucapkan, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu salah satu sisinya dapat ditaklukkan –Tsaur berkata, ‘Yang aku tahu beliau hanya menyebut: yang terdapat lautan.’— kemudian mereka mengucapkan untuk kedua kalinya, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu satu sisi yang lainnya pun dapat ditaklukkan. Kemudian untuk ketiga kalinya mereka mengucapkan, ‘La Ilaha Illallah, Allahu Akbar!’ Lalu dibukakanlah benteng pertahanan mereka, sehingga mereka dapat memasukinya, dan mengambil harta ghanimahnya. Dan ketika mereka sedang membagi-bagikan harta ghanimah, tiba-tiba ada orang berteriak mendatangi mereka, ‘Sesungguhnya Dajjal telah muncul! Lalu mereka meninggalkan segala sesuatu yang ada dan kembali pulang (ke negeri mereka).”(HR. Muslim)

Semoga Allah azza wa jalla menjadikannya berada di tangan para mujahidin Khilafah, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqawi rahimahullah: “Kami berjihad di sini, sedangkan mata kami tertuju pada al-Quds. Kami berperang di sini, sedangkan tujuan kami adalah Roma. Berprasangka baik terhadap Allah, semoga Dia menjadikan kita sebagai kunci-kunci bagi seluruh kabar gembira dari Nabi dan ketentuan-ketentuan Ilahiyah.” (Riyah an-Nashr)

Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 2)

RUMIYAH 3 - ARTIKEL

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 2)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

Ketiga: Mendengar, Taat dan Melaksanakan perintah Allah.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” (al-Maidah: 7). Dari Ubadah radhiyallahu anhu berkata, “Kami berbaiat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan giat maupun malas, dalam keadaan susah maupun mudah, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak menentang kepemimpinan yang berhak kecuali engkau melihat kekufuran nyata yang engkau mempunyai bukti di sisi Allah.” Dalam satu riwayat: “(Kami berbaiat) untuk mendengar dan taat dalam keadaan senang maupun malas.” Nabi juga bersabda, “Dengar dan taatilah, walaupun yang memerintah kalian adalah hamba sahaya (selama) dia memimpin kalian dengan kitab Allah.”

Di dalam Fathul Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar membuat bab hadits-hadits ini dengan judul “Perintah Mentaati Setiap Pemimpin Sekalipun Bukan Imam”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku memerintahkan kalian untuk mengerjakan lima hal yang Allah perintahkan padaku, jamaah (bersatu), mendengar dan taat, hijrah, dan jihad.”

Yang ingin saya tekankan di sini adalah kejujuran dalam mendengar dan mentaati serta kesungguhan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah azza wa jalla dalam kondisi susah dan berat, karena melaksanakan ketaatan yang disukai itu adalah mudah dengan pertolongan Allah.

Kami juga sering memperingatkan agar tidak bermaksiat dalam peperangan, karena sungguh kami telah berkali-kali merasakan dampak buruknya, lagipula hal itu juga menjadi sebab datangnya berbagai kecelakaan.

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada Perang Uhud telah menentukan posisi tiap regu dan meletakkan regu pemanah di tempat yang mereka bisa melindungi bagian belakang pasukan dari serangan dadakan musuh, lalu dengan jelas beliau bersabda kepada mereka, “Jagalah bagian belakang kita, jika kalian melihat kami terbunuh janganlah (turun) menolong kami, sedangkan jika kalian melihat kami mendapatkan ghanimah, janganlah mengikuti kami.” Namun regu pemanah itu tidak memperhatikan nasehat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan hasilnya adalah kaum muslimin menelan pahitnya kekalahan dan banyaknya korban lantaran maksiat sekelompok regu sekalipun telah diperingati dan dinasehati oleh komandannya.

Kisah di atas menunjukkan bahwa kemaksiatan militer dampaknya amat cepat. Ijtihad apapun yang ditempuh seorang prajurit namun menyelisihi ijtihad komandannya sekalipun nampaknya baik, itu adalah kesalahan besar dan membuka pintu keburukan. Karena seorang prajurit beribadah kepada Allah dengan taat pada amirnya selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat secara syar’i.

Ijtihad pergerakan militer adalah murni hak amir, tidak diperkenankan menyelisihinya kecuali karena hendak menasehatinya. Kaidah menyebutkan, “Sesungguhnya pendapat imam atau amir itu tidak boleh ditentang dengan pendapat individual seorang muslim.”

Wahai hamba-hamba Allah, perhatikan nikmat mendengar dan taat dalam keadaan susah dan sempit. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin yang terluka di Perang Uhud untuk segera bergerak setelah beliau mengetahui Abu Sufyan hendak menghabisi sisa pasukan Islam. Mereka segera melaksanakan perintah ini demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sekalipun luka dan kesakitan yang diderita mereka. Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 172).

Persis seperti inilah kondisi mereka sekembalinya dari Perang Ahzab. Ketika mereka bersiap-siap untuk beristirahat setelah lepas dari pengepungan, merasa gembira dengan rasa aman yang didapat, dan belumlah debu-debu sisa pengepungan panjang itu surut, tiba-tiba turun perintah untuk segera bersiap-siap bertempur lagi dengan cepat: “Janganlah seorangpun shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.”

Maka mereka sambut perintah Allah dan Rasul-Nya, dan sungguh mereka telah jujur kepada Allah dan Rasul-nya, sehingga kemenangan pun diperoleh lantaran kejujuran mereka dalam mendengar dan mentaati serta bersungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Siapa yang taat padaku, berarti telah taat pada Allah. Siapa yang bermaksiat padaku, berarti telah bermaksiat pada Allah. Siapa yang taat pada pemimpin yang aku tunjuk, berarti taat padaku, dan siapa yang membangkang padanya, berarti membangkang padaku.”

Adapun hal-hal yang membantu untuk mendengar dan taat pada pemimpin di antaranya;

Pertama: Berbaik sangka pada pemimpin.

Allah azza wa jalla berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa.” (al-Hujurat: 12).

Jika berbaik sangka terhadap kaum muslimin secara umum saja wajib, maka terhadap pemimpin adalah lebih wajib. Tidak ada yang lebih membahayakan jihad daripada berburuk sangka terhadap amir. Betapa tidak, berburuk sangka adalah omongan paling dusta. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah berprasangka, karena sungguh prasangka adalah perkataan paling dusta.”

Penulis kitab Faidhul Qadir berkata, “Barangsiapa berburuk sangka terhadap orang yang tidak layak disangka buruk, perbuatannya itu menunjukkan tidak adanya istiqamah dalam dirinya, sebagaimana dikatakan, ‘Jika perbuatan seseorang itu buruk, buruk pula prasangkanya.’”

Kedua: Menghormati pemimpin.

Di dalam al-Musnad, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dari Mu’adz berkata, “Rasulullah memerintahkan lima hal kepada kami, siapa yang mengerjakan sebagiannya maka Allah akan menjaminnya, yaitu siapa yang menengok orang sakit, mengiringi pemakaman jenazah, keluar untuk berperang, menemui pemimpinnya untuk menegur dan menghormatinya, atau duduk diam di rumahnya agar orang selamat dari gangguannya dan dia selamat dari gangguan manusia.”

Menegur dan menghormati amir adalah dengan mematuhi dan membantunya, menyebutkan kebaikan-kebaikan dan budi pekertinya, bersegera untuk menuruti perintah dan larangannya, dan menasehatinya dengan sembunyi-sembunyi. Dalam Fathul Bari, Al-Hafizh Ibnu Hajar menukil, “Menasehati para pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka melaksanakan tanggung jawabnya, memperingatkan mereka ketika lalai, meluruskan kekeliruan mereka, menyepakati pendapat mereka, dan menjinakkan hati yang membenci mereka.”

Keempat: Sabar dan teguh.

Allah azza wa jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ber- sabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200). Karena jalan ini adalah jalan panjang yang membutuhkan bekal, jalan yang susah dan melelahkan, dan penuh dengan aral melintang, maka kesabaran dan keteguhan adalah keniscayaan. Juga karena jihad adalah ibadah yang Allah wajibkan kepada kita, maka kita harus melaksanakannya meski ujian bertumpuk dan kebosanan menyelinap, meski kebathilan semakin menjadi-jadi dan penolong semakin sedikit, harus tetap melangkah.

Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mengirim surat kepada Umar bin Khattab menyebutkan banyaknya jumlah Romawi dan hal-hal yang dikhawatirkan. Umar membalas suratnya dengan menulis, “Amma ba’du, sesulit apapun keadaan yang menimpa seorang hamba mukmin niscaya Allah akan menjadikan kelapangan setelahnya. Sungguh satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Karena Allah berfirman dalam Kitab-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155). Abu Ja’far At-Thabari berkata, “Ini pemberitahuan Allah azza wa jalla kepada para pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara berat agar diketahui siapa yang benar-benar mengikuti Rasul dari orang-orang yang surut kebelakang.”

Namun, kesabaran hanya akan membuahkan kebaikan. Allah berfirman, “Jika kalian bersabar, maka (kesabaran) itu adalah baik bagi orang-orang yang bersabar.” (an-Nahl: 126). Maka memohonlah pertolongan kepada Allah dan ucapkanlah seperti mujahidin pendahulu kalian: “Dan tatkala mereka keluar (menghadapi) Jalut dan tentaranya, mereka berkata, wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami, teguhkanlah pijakan kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 250), juga seperti ucapan para muwahid yang teruji: “Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami dan wafatkanlah kami sebagai orang-orang Islam.” (al-A’raf: 126). Dengan kata-kata itu, mereka menjadi para syuhada berbahagia setelah sebelumnya mereka hanyalah para penyihir kafir.

Ketahuilah, sebagaimana Nabi yang jujur lagi terpercaya, sebaik-baik nabi yang menyampaikan dari Rabb semesta alam bersabda, “Kalau saja sekelompok umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat padamu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu, dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan marabahaya padamu, mereka tidak menimpakan marabahaya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.” Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda, “Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan setelah kesulitan itu ada kemudahan.”

Yang ingin saya fokuskan disini, sebagaimana telah terbukti berdasarkan pengalaman bahwa pengaruhnya amatlah besar, yaitu keteguhan pemimpin, khususnya di medan tempur ketika berjibaku dengan musuh. Diriwayatkan di dalam Ash-Shahih; ada orang yang bertanya kepada Al-Barra radhiyallahu anhu, “Wahai Abu ‘Amarah, apakah kalian lari pada saat Perang Hunain?” Saya mendengar Al-Barra’ berkata, “Adapun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidaklah berpaling, ketika itu Abu Sufyan bin Al-Harits menahan tali kekang baghlun-nya (persilangan antara kuda dan keledai), maka tatkala orangorang musyrik mengelilinginya, beliau turun dan berseru, “Sayalah nabi yang tidak berdusta, sayalah putera Abdul Mutthalib.” Hadits ini mengandung beberapa faedah agung, sebagai petunjuk jalan:

Renungan Pertama:

Sejak dulu, tempat para pemimpin adalah bumi berkecamuknya pertempuran, bukan malah menjauhinya, apalagi berpindah-pindah tempat dengan alasan bahwa dia adalah figur yang harus dijaga demi keberlangsungan dakwah. Paling minimal yang kami inginkan dari ikhwah kami adalah hendaknya pemimpin wilayah tetap berada di sekitar wilayahnya, pemimpin sektor tetap membersaamai sektornya, dan pemimpin batalyon atau detasemen tetap membersamai tentaranya. Jika tidak mampu melakukannya, maka dia tidak berhak memimpin sekalipun layak. Singa itu tidak berburu di luar hutan kecuali jika ingin memunguti sisa-sisa buruan lainnya.

Renungan Kedua:

Perkataan “menahan tali kekang baghlun”, mengandung bahwa keteguhan seorang pemimpin itu harus nampak dan terwujud dalam sikapnya. Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada kondisi yang berbahaya ini malah menunggang baghlun yang lambat jalannya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Inilah betul-betul puncak keberanian, bahwa beliau pada hari yang seperti itu, dalam kecamuk perang, dan pasukannya kacau-balau, beliau malah mengendarai baghal yang tidak bisa berlari cepat apalagi digunakan untuk menyerbu dan melarikan diri. Meskipun demikian, beliau masih juga memacunya sampai menghadapi pasukan musuh, dan meneriakkan namanya sehingga yang tidak mengetahui menjadi mengerti, semoga shalawat dan salam terus-menerus tercurah padanya sampai Hari Kiamat.”

Ibnu Batthal menyebutkan dari Al-Muhallab yang berkata, “Terkandung anjuran kepada imam untuk menunggang baghal ketika perang, karena akan menambah keteguhannya, juga agar tidak dikira bahwa dia telah bersiap-siap untuk kabur. Selain itu juga sebagai trik agar pengikutnya ikut muncul keteguhannya ketika melihat pemimpinnya terlihat teguh dan bertekad kuat.”

Dalam perkataan ini ada faedah: selayaknya seorang amir tidak menaiki kendaraan yang lebih cepat dan lebih kuat dari kendaraan tentaranya. Namun selayaknya kendaraannya itu sama, atau lebih rendah dari kendaraan tentaranya, hal itu untuk meneguhkan tentaranya dan menjauhi syubhat khususnya jika kendaraannya itu bersumber dari harta jihad.

Renungan Ketiga:

Beliau shallallahu alaihi wasallam mengenalkan dirinya dengan sabdanya: “Sayalah nabi yang tidak berdusta, sayalah putra Abdul Mutthalib.” Ketika kondisi semakin genting dan pertempuran semakin menciutkan nyali sampai ada seseorang yang melewati saudaranya namun tidak menyadarinya lantaran genting dan kacau-balaunya keadaan, maka sudah seharusnya bagi beliau shallallahu alaihi wasallam memberitahu tentaranya dan siapa saja yang memiliki kecintaan padanya, bahwa beliau ada dan tidak lari. Beliau meneriakannya keras-keras, tidak mempedulikan tindakan preventif maupun kewaspadaan militer, karena ketika itu bukanlah waktu dan tempat untuk memperhatikan hal itu. Kondisi ketika itu menuntut pengorbanan jiwa dan keteguhan dalam kondisi terdesak.

Yang sangat mengherankan, sebagian komandan jihad ketika dalam kondisi genting, musuh menyerbu daerahnya, dan tentaranya banyak yang terbunuh, malah pergi bersembunyi. Bahkan tidak menghubungi seorangpun dari tentaranya, malah mungkin merubah namanya. Hal itu dengan alasan demi menjaga keberlangsungan kepemimpinan. Padahal sebenarnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri dan ikhwannya. Jika saja ia tetap teguh bersama tentaranya, menyatukan mereka, menampakkan kesabaran dan keteguhan, dan balik menggempur musuh, niscaya hal itu justru malah bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan ikhwannya, bukan malah menyia-nyiakan dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.

Renungan Keempat:

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, “Wahai Abbas, serulah Ashab as-Samurah (kaum anshar yang ikut dalam Baiat Ridwan).” Maka Abbas pun berkata –dia seorang yang bersuara keras— “Maka aku pun berteriak sekeras-kerasnya, ‘Dimana Ashab as-Samurah?’” Abbas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh respon mereka ketika mendengar suaraku seperti respon sapi terhadap anaknya. Mereka berseru, ‘Kami penuhi panggilanmu, kami penuhi panggilanmu!” Ibnu Ishaq menambahkan, “Ketika itu ada lelaki yang segera menghela untanya namun tidak mampu, maka segera dibuangnya baju besinya, hanya mengambil pedang dan perisainya, lalu segera menuju seruan Abbas.”

Imam ath-Thabari meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Abbas, “Serulah wahai kaum Anshar, wahai kaum Muhajirin.” Lalu Abbas memanggil satu persatu seluruh suku-suku Anshar. Kemudian beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda lagi, “Serulah para penghafal surat al-Baqarah.” Abbas berkata, “Maka orang-orang datang berbaris laksana satu leher.” Dalam Shahih Muslim disebutkan, kemudian seruan itu ditujukan pada Bani al-Harits bin al-Khazraj saja. Di sini ada renungan penting dan faedah Rabbani agung, yaitu tindakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika orang-orang terpukul mundur dan barisan terpecah-belah, hingga hanya 12 orang saja yang tersisa bersama beliau, dalam banyak riwayat disebutkan 80 orang. Para kesatria dari kaum muslimin dan para pahlawan pertempuran yang tak tertandingi pun ikut terpukul mundur, padahal di tengah-tengah mereka ada pahlawan perang terbaik yaitu Salamah bin al-Akwa’. Bahkan sebaik-baik hamba Allah, yaitu orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan dan yang lainnya juga ikut porak-poranda.

Ketika itu pemegang kepemimpinan tidaklah berputus asa, tidak pupus harapan, apalagi membuang senjata dan lari dari medan tempur, mustahil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertindak demikian. Beliau shallallahu alaihi wasallam tetap teguh, lalu kemudian memanggil para sahabat sesuai dengan sifat-sifat mereka. Beliau memulai dengan orang-orang yang imannya mantap, para prajurit yang ikhlas dan hamba-hamba Rabbani, yaitu orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan. Kemudian beliau menyeru Ahlul Qur’an dan para penghafal Kitabullah khususnya pokok Kitabullah, maka diserulah para penghafal surat al-Baqarah. Tatkala mereka telah berkumpul di sekelilingnya, beliau mulai mengobarkan sentimen kesukuan dalam jiwa-jiwa mukmin. Beliau menyeru seluruh kabilah Anshar satu demi satu, dan memanggil nama-namanya, sehingga yang hatinya terbersit hendak kabur akan merasa malu dengan aib, sekalipun diantara mereka ada orang-orang yang hadir dalam Baiat Ridwan dan para penghafal surat al-Baqarah. Dengan demikian, beliau memulai dengan menyeru orang-orang khusus yang terpilih, lalu diikuti yang lainnya.

Sebuah renungan penting, yaitu meskipun dosa lari dari medan tempur adalah amat berbahaya dan pelakunya dihitung sebagai pelaku kriminal karena telah melakukan dosa besar membinasakan yang dikhawatirkan pelakunya tidak mendapatkan taubat, beliau shallallahu alaihi wasallam tidak mencela, mencaci, maupun menjelek-jelekkan mereka yang lari pontang-panting itu, akan tetapi sebaliknya, beliau menyeru mereka dengan kebesaran nama kabilahnya setelah mengingatkan akan jihad dan tauhid mereka.

Di sini juga ada satu faedah, yaitu hendaknya seorang amir ketika menghadapi kesulitan untuk segera meminta bantuan –setelah berlindung kepada Allah– kepada para mujahidin senior, lalu kepada putra-putra kabilah pendukung. Kemudian jangan sekali-kali dia mencela seorangpun dari mereka. Demikian juga hendaknya dia memanggil siapa saja yang telah meninggalkan jihad dan mengingatkannya akan jihadnya di jalan Allah, lalu mengembalikannya ke dalam barisan saudara-saudaranya. Karena meninggalkan jihad berarti keuntungan bagi setan dan golongannya, dan kerugian bagi jihad dan prajuritnya. Seorang yang berakal tidak akan membiarkan hal itu.

Renungan Kelima:

Sedangkan tentang orang yang lari dari medan Perang Hunain, di dalam Shahih Muslim disebutkan, Ummu Sulaim mempersenjatai dirinya dengan belati pada Perang Hunain, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, apa aku bunuh saja orang-orang ath-thulaqaa` (bebas) yang lari itu? Mereka telah meninggalkanmu!” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Wahai Ummu Sulaim, sungguh Allah telah mencukupkan dan mengaruniai kebaikan.” Sedangkan al-Bukhari menyebutkan ada 10 ribu personel bersama Nabi termasuk ath-thulaqaa` itu, dan mereka lari pontang-panting. Mengenai ath-thulaqaa`, Imam an-Nawawi ~ berkata, “Mereka adalah penduduk Makkah yang masuk Islam pada Hari Penaklukan. Dinamakan demikian lantaran Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan toleransi dan membebaskan mereka, sehingga Islam mereka masih lemah. Oleh karena itu, Ummu Sulaim meyakini mereka adalah orang-orang munafik yang berhak dibunuh lantaran kabur dari medan perang.”

Dari penjelasan di atas, nampak jelas bahwa yang pertama kali kabur pontang-panting pada Perang Hunain adalah orang-orang ath-thulaqaa` itu sehingga menggoyahkan barisan kaum muslimin dan menyelipkan ketakutan di hati para pemberani yang ikhlas. Hingga terjadilah apa yang terjadi.

Ada pertanyaan yang mendorongku menyebutkan renungan ini, yaitu: Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam salah –sedangkan beliau mustahil salah– ketika menyertakan ath-thulaqaa` dalam Perang Hunain sedangkan mereka baru saja masuk Islam? Islam mereka masih lemah, sebagaimana telah disebutkan, dan Rasulullah belum memberikan daurah (pelatihan) tauhid untuk mereka. Yang menguatkan bahwa Bergabung dengan Khilafah mereka baru sedikit mengenal tauhid adalah sebagaimana disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ketika keluar menuju Hunain melewati satu pohon milik kaum musyrikin yang disebut dengan Dzatu Anwath, tempat mereka dahulu menggantungkan senjata. Maka orang-orang ath-thulaqaa` itu berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah Dzatu Anwath untuk kami sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Maha suci Allah! Ini persis seperti kata-kata kaum Musa kepada Musa, ‘Jadikan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.”

Saya katakan demikian karena sebagian orang yang berpenyakit hatinya mencela kita lantaran banyaknya orang yang masuk ke dalam pasukan kita setelah deklarasi Daulah Islam, yang sebagiannya menyebabkan tergoyahnya ikhwah di beberapa tempat. Padahal kami tidak lebih daripada mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Tatkala Allah memberikan kemenangan kepada beliau, mencukupkannya dan mengaruniainya kebaikan, ketika beliau membagikan ghanimah, beliau memberikannya kepada orang-orang ath-thulaqaa` dan kaum Muhajirin, sedangkan orang-orang Anshar tidak diberi bagian sedikitpun sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, padahal mereka adalah pasukan inti. Ibnul Qoyim ~ berkata, “Hikmahnya adalah untuk menampakkan bahwa pertolongan Allah pada Rasul-Nya itu bukan lantaran banyaknya kabilah yang masuk dalam Din-Nya, juga bukan lantaran mereka telah menghentikan perang.”

Meskipun demikian, kami sampaikan kabar gembira kepada umat bahwa setelah deklarasi Daulah Islam tidak ada seorangpun amir yang bergabung dengan kita yang meletakkan senjatanya, alhamdulillah. Bahkan hingga kini mereka adalah para pahlawan di medan perang dan kesatria pertempuran. Mereka itu seperti para pendahulu mereka dalam kebaikan.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

DIEN ISLAM DAN JAMA'ATUL MUSLIMIN (BAGIAN 3)

RUMIYAH 3 - ARTIKEL

DIEN ISLAM DAN JAMA'ATUL MUSLIMIN (BAGIAN 3)

Sesungguhnya kalimat tauhid Laa ilaaha illaallah yang menafikan peribadahan kepada selain Allah dan menetapkannya hanya kepada Allah saja, membatalkan seluruh bentuk syirik akbar – baik dalam rububiyah, uluhiyah, maupun nama dan sifat-sifat-Nya. Illah adalah sesuatu yang berhak diibadahi dan ditaati lantaran memiliki sifat yang mengharuskannya dicintai sedalam-dalamnya dan dipatuhi setunduk-tunduknya. (Taisir al-‘Aziz al-Hamid).

Maka barangsiapa tidak mengesakan Allah dalam uluhiyahnya dalam segala bentuk ibadah dan kepatuhan, maka ia telah membatalkan syahadat tauhidnya dan perbuatannya itu menunjukkan dustanya pengakuan atas tauhid rububiyah dan asma wa sifat.

Ada satu macam ibadah yang Allah menyebutkannya secara khusus dalam Kitab-Nya dan Sunnah nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, yaitu ibadah berhukum hanya kepada-Nya saja dan menghakimi hanya dengan syariat-Nya saja. Ibadah ini adalah tuntutan keyakinan bahwa Allah adalah {Hakim yang seadil-adilnya} (QS Hud: 45) dan (Pemberi keputusan yang paling baik} (QS al-An’aam: 57), dan bahwa tidak ada yang lebih adil daripada perintah-Nya dan lebih baik daripada keputusan-Nya, dan bahwa legislasi adalah hak mutlak-Nya. Dalil-dalil tentang tauhid hukum dan perundang-undangan itu cukup banyak.

Asy-Syinqiti berkata: “Menyekutukan Allah dalam hal hukum itu sama dengan menyekutukan Allah dalam hal ibadah, firman-Nya, “Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan” (QS al-Kahfi: 26). Dalam Qiro`ah riwayat Ibnu Amir dibaca (wala tusyrik fi hukmihi ahada (dan janganlah engkau menyekutukan-Nya dalam menetapkan keputusan - pent) dengan bentuk larangan; dan firman-Nya tentang menyekutukan-Nya dalam peribadahan: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya” (QS al-Kahfi: 110), maka dua perkara ini hakikatnya adalah sama sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah.” (Adhwa al-Bayan)

Beliau berkata lagi: “Apa yang dikandung dalam ayat ini tentang keputusan itu hanya milik Allah saja tiada sekutu bagi-Nya berdasarkan dua Qiro`ah itu, dalam ayat-ayat lain dijelaskan secara terperinci”, kemudian beliau menyebutkan firman-Nya azza wa jalla, “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS Yusuf: 40) dan firman-Nya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin (QS al-Maidah: 50), serta firman-Nya: “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (QS al-An’aam: 114).

Kemudian beliau berkata: “Dipahami dari ayat-ayat ini…. bahwa siapa pun yang mengikuti keputusan para pembuat syariat selain dari syariat Allah mereka itu di vonis musyrik. Mafhum ayat-ayat ini diterangkan dengan gamblang pada ayat-ayat lain; seperti firman-Nya tentang mengikuti syariat setan yang membolehkan memakan bangkai dengan alasan bahwa bangkai itu adalah hakikatnya sembelihan Allah. firman-Nya, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya Syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik ” (QS al-An’aam: 121). Di ayat ini Ia menyatakan bahwa mereka menjadi musyrik karena mentaati setan. Menyekutukan-Nya dalam ketaatan, dan mengikuti syariat yang menyelisihi syariat Allah azza wa jalla adalah maksud dari peribadatan kepada setan dalam firman-Nya: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah Syaitan? Sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus” (QS Yasin: 60-61}.

Kemudian katanya: “Oleh karena itu Allah menyebut orang-orang yang ditaati dalam kemaksiatan yang dibuat indah baginya itu; disebutnya syurakaa` dalam firman-Nya, “Dan demikianlah syurakaa` mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan” (QS alAn’aam 137). Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menerangkan masalah ini kepada Adi bin Hatim radhiyallahu anhu ketika ia menanyakan maksud dari firman Allah azza wa jalla, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah” (QS at-Taubah: 31). Maka Nabi menerangkan bahwa mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, dan keputusan itu diikuti oleh pengikutnya, itulah maksud mereka menjadikan rahib-rahib itu sebagai Rabb selain Allah. Dalil yang paling jelas dalam persoalan ini adalah keterangan Allah bahwa Ia terheran-heran dengan orang-orang yang mengklaim dirinya beriman padahal dirinya ingin berhukum dengan selain syariat Allah. Hal itu lantaran klaim mereka beriman sedangkan masih ingin berhukum kepada Thaghut adalah jelas-jelas dusta sehingga menimbulkan keheranan; diterangkan dalam firman-Nya, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada Thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. Dan Syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” (QS an-Nisaa: 60). Dengan nash-nash samawi yang telah kami sebutkan itu maka jelaslah sejelas-jelasnya bahwa orang yang mengikuti undang-undang positif yang diciptakan oleh setan melalu lisan para walinya yang menyelisihi syariat Allah melalui lisan para Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam tidak diragukan lagi kekafiran dan kemusyrikan nya kecuali bagi orang yang dihapus bashirahnya dan dibutakan penglihatannya dari cahaya wahyu, seperti orang-orang itu.” (Adhwa al-Bayan).

Jika kita mentadaburi firman-Nya, “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (QS al-An’aam 114) maka kita akan menemukan banyak faidah. asy-Syinqiti berkata: “Sebagian ahli ilmu menyebutkan bahwa kafir Quraisy meminta Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk merundingkan persoalan mereka kepada salah seorang penyihir, sebagaimana kebiasaan orang Arab pada waktu itu jika mereka berselisih dan bertikai maka mereka meminta keputusan kepada penyihir, kita berlindung kepada Allah”. Maka Allah menurunkan ayat tadi dan memerintahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingkari dengan keras siapa pun yang mencari pemberi keputusan selain daripada pencipta langit dan bumi sedangkan Dialah Maha Pemberi Keputusan yang Mahaadil lagi Maha Mengetahui.” (al-‘Adzbun Namir).

Juga ada beberapa ayat yang serupa dengan ayat tersebut di atas dalam surah al-An’aam, firman-Nya, “Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik” (QS al-An’aam: 14). Dan firman-Nya: “Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratan nya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Rabb mu lah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan” (QS al-An’aam: 164). Allah juga berfirman dalam surah al-A’raaf, “Patutkah aku mencari Rabb untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat” (QS al-A’raaf: 140).

Ibnul Qayim rahimahullah berkata: “Rela Allah sebagai Rabbnya itu maknanya adalah ia tidak menjadikan selain-Nya sebagai Rabb, merasa tenang dengan perlakuannya dan menyandarkan kepadanya seluruh kebutuhannya, Allah azza wa jalla berfirman: {Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu (QS al-An’aam 164). Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: “Tuan dan illah, maksudnya bagaimana aku menjadikan selain-Nya sebagai Rabb sedangkan Ia adalah Rabb segala sesuatu? Allah berfirman pada awal surah: “Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi?” (QS al-An’aam: 14), yakni sesembahan, penolong, pembela, dan tempat bersandar.Ini adalah termasuk dari muwalah yang mengandung makna cinta dan ketaatan. Ia kembali berfirman pada pertengahan surah: “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (QS al-An’aam: 114), yakni: patutkah aku mencari hakim selain Allah untuk berunding kepadanya agar ia memutuskan perselisihan diantara aku dan kamu?.... Dan jika engkau perhatikan tiga ayat ini dengan teliti niscaya engkau menyimpulkan bahwa itulah hakikat rida Allah sebagai Rabb, islam sebagai agama, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Rasul. Engkau akan melihat hadits-hadits ternyata menerangkan tiga hal itu dan bersumber darinya. Betapa banyak manusia yang rela Allah sebagai Rabb dan tidak menginginkan Rabb selain-Nya namun ia tidak rela hanya Ia lah penolong dan pembelanya dengan berwali kepada selain-Nya, mengira bahwa mereka itu akan mendekatkannya kepada Allah dan berwali kepada mereka itu layaknya berwali kepada orang-orang yang dekat dengan raja. Ini justru syirik itu sendiri. Tauhid adalah tidak menjadikan selain-Nya sebagai wali. Qur’an penuh dengan penyifatan orang-orang musyrik sebagai orang-orang yang menjadikan selain-Nya sebagai wali. Betapa banyak orang yang menjadikan selain-Nya sebagai pemutus perkara, meminta solusi perselisihan kepadanya lalu rela dengan putusannya. Tiga maqam ini adalah rukun-rukun tauhid; tidak mengangkat selain-Nya sebagai Rabb, sesembahan, maupun hakam.” (Madarij as-Salikin)

Maka barangsiapa mengambil selain Allah itu sebagai hakam ia di vonis sebagai musyrik yang beriman kepada thaghut dan menyembahnya, layaknya orang yang mengangkat selain-Nya sebagai Rabb maupun sesembahan.

Juga yang menguatkan hal ini adalah bahwa Allah memvonis siapa pun yang menjadikan selain-Nya sebagai pembuat syariat maka ia telah mengangkatnya menjadi sekutu Allah, tidak ada bedanya dengan orang yang menjadikan selain-Nya sebagai sekutu-Nya dalam doa dan syafaat. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat beserta mu pemberi syafa´at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputus lah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah)” (QS al-An’aam 94). Allah kembali berfirman: “Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka” (QS Faathir: 40). Dan firman-Nya: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (QS asy-Syuura: 21). Dan Allah berfirman: “Demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya.” (QS al-An’am: 137).

Juga, Allah menjadikan tauhid hukum dan tasyri’ sebagai hujjah atas orang yang tidak mentauhidkan-Nya dalam ibadah dan sembelihannya, sebagaimana Ia juga jadikan tauhid rububiyah dan asma wa sifat hujjah atas orang yang menolak tauhid uluhiyah. Allah azza wa jalla berfirman: “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS Yusuf: 39-40). Allah juga berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah? Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya” Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat? Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian” Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb Semesta Alam (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Rabbku, Dialah memberi makan dan minum kepadaku. Apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat” (Ibrahim berdoa): “Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh” (QS asy-Syu’araa : 69-83).

Allah memandang sama antara yang menyembah pendeta dan rahib dan menjadikan mereka sekutu dalam tasyri’, dan yang menyembah Isa alaihis salam dengan menjadikannya sekutu dalam dzat ilahiyah. Allah berfirman: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS at-Taubah: 31)

Ketika salah satu sahabat memilih “Abul Hakam” sebagai kun-yahnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarangnya dan bersabda: “Sesungguhnya Allahlah Maha Pemberi Keputusan (al-Hakam) dan kepada-Nya lah semua keputusan”. (HR Abu Dawud dan An-Nasai dari Abi Syuraih).

Adapun orang yang tunduk pada keputusan dan undang-undang Thaghut seperti para pemilih dalam pemilu demokrasi yang berhukum pada peradilan undang-undang positif, maka mereka sejatinya beriman kepada Thaghut, mengibadahinya, dan akhirnya keluar dari pokok islam dan intinya yaitu persaksian bahwa tiada illah kecuali Allah dan tiada yang berhak disembah dan ditaati kecuali Allah serta tunduk sepenuhnya kepada Allah. Siapa saja yang masih menganggap mereka itu orang-orang muslim, muwahid yang menjauhi Thaghut lagi mengkafirinya, maka teliti lagi keislamannya sebelum kuburnya digali (mati).

Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran ke dalam hati kami, matikanlah kami dalam keadaan muslim, dan pertemukanlah kami dengan orang-orang shalih.

ABU MARIYAH AL-IRAQI, PANGLIMA MEDIA PERANG SPEICHER, PEMBURU FRAGMEN PERISTIWA DAN KREATOR VIDEO

RUMIYAH 3 - SYUHADA

ABU MARIYAH AL-IRAQI
PANGLIMA MEDIA PERANG SPEICHER, PEMBURU FRAGMEN PERISTIWA DAN KREATOR VIDEO

Nama aslinya adalah Abbas Munzhir Abbas ar-Rafi’i, sang singa pemberani, suksesor gerbong pertama para tokoh media semisal Maisarah al-Gharib, Nashir al-Jazrawi, dan sederet kesatria lainnya yang meninggalkan kesan mendalam di ranah media, juga penjagal kaum Rafidhah dan Salibis. Abu Mariyah menimpakan luka bagi mereka di sana-sini, memerangi mereka dengan senapannya di suatu tempat, dan menantang mereka dengan kameranya di banyak tempat. Kemudian perjalanannya berakhir sebagai amir (kepala) i’lam ‘askari (media ketentaraan) di wilayah-wilayah timur (al-wilayah asy-syarqiyah).

Abu Mariyah al-Iraqi menempuh jalan perang dengan senjatanya. Perjalanan meniti jalur maut, pembunuhan, dan serpihan jasad, justru semakin menguatkan keteguhannya. Sebuah jalan yang takkan pernah membuatnya takut. Bahkan dia acapkali berkata kepada sahabat-sahabatnya sambil bercanda, “Siapa yang takut mati, tidak usah menjadi temanku.”

Terbunuh di jalan Allah adalah cita-citanya, keridhaan Dzat Yang Maha Pengasih adalah doa yang dipanjatkan untuk dirinya, merengkuh surga adalah harapannya kepada Rabbnya. Seolah-olah seorang penyair berucap melalui lisannya di kala dia bersenandung:

Aku menanggung pasukan maka aku tak mengapa
Aku ‘kan sambut ia atau pun yang selainnya
Aku miliki jiwa merindukan sesuatu yang mulia
Akan binasa kelak atau akan kutunaikan hasratnya


Gurun al-Jallam mengenalnya sebagai mutiaranya Wilayah Shalahuddin, yang merupakan negeri para pahlawan dan gudangnya para kesatria. Ia merupakan negeri titik awal berbagai penaklukkan yang mana kesatria kita ini banyak mendokumentasikan seluruh peperangan dan perkembangan peristiwanya di waktu sulit dan sempit. Yaitu hari ketika sengatan musim panas membakar wajah mujahidin, dan bekunya musim dingin mengoyak kulit mereka.

Hari-hari nan penuh cobaan membuatnya bersinar, semakin kokoh, dan pengalaman-pengalaman di masa itu semakin mengasah keahliannya. Dia juga banyak mengambil manfaat dari para masyayikh (ulama) jihad yang berperang dan hilir-mudik di medan-medan perangnya, semisal Syaikh Abu al-Mughirah al-Qahthani rahimahullah. Dia benar-benar merupakan sebaik-baik komandan dan pimpinan, sangat tawadhu, jujur, lagi pemimpin yang baik.

Seorang yang bertaqwa dan jujur, suka menasehati saudara-saudarnya agar berhati-hati terhadap dosa pribadi dan kemaksiatan-kemaksiatan karena kelalaian. Dia juga senantiasa mengarahkan saudara-saudaranya agar mengikhlaskan niat karena Allah dalam beramal, dan supaya batin selalu bersesuaian dengan kondisi lahirnya.

Sebagaimana Abu Mariyah juga takut terhadap riya dan ujub, serta memperingatkan rekan-rekannya dari kedua perasaan tersebut. Sampai pada tingkatan bahwa dia tidak pernah menampakkan sabuk peledak yang tidak pernah dilepasnya, namun dia kenakan di balik pakaiannya. Lalu pistol pribadinya pun bersembunyi di balik rompi militer yang tak pernah ditanggalkannya.

Tak hanya itu, dia benar-benar sangat mengawasi dirinya, sehingga jika engkau menyaksikannya mendengar pujian atas dirinya, dia berkata, “Aku takut kelak datang di Hari Kiamat, lalu dikatakan kepadaku: ‘Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan,’ (al-Furqan: 23)

Abu Mariyah al-Iraqi berpartisipasi dalam penaklukkan, kemudian masuk ke Tikrit, ad-Daur, al-Ilm, Baiji, dan ash-Shiniyah dengan penuh tawadhu dan memuji Allah. Alih-alih membuatnya berubah, kemenangan dan tamkin (kekuasaan) justru semakin meningkatkan sikap tawadhunya kepada Allah Rabb Semesta Alam.

Dia mulai melakoni kewajiban jihad ketika berusia 14 tahun. Dia masuk ke penjara di kota al-Ahdats, al-Mathar, kemudian penjara Kamp Bucca. Dia ikut mendekam di berbagai sel penjara menyertai saudara-saudara dan ayahnya. Walaupun masih kecil, dia menolak untuk berpisah dari ayahnya, meskipun di dalam penjara sekalipun, demi melayaninya serta meringankan penderitaannya akibat belenggu dan pemenjaraan. Namun sipir Salibis enggan selain memisahkan keduanya, merusak kekompakkan keduanya, sebagaimana kekompakkan keluarga mereka tercerai-berai di luar tembok penjara. Keluarga Abu Mariyah senantiasa berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lainnya. Terkadang mereka tinggal di kota al-Ishaqi, kadang di Balad, di ad-Daur, di adh-Dhulu’iyah, al-Karmah, terkadang di Tikrit, sampai akhirnya tinggal menetap di Mosul.

Di salah satu stasiun pemberhentian di kota Balad, Abu Mariyah mengambil satu toko untuk dijadikannya sebagai titik pengintaian konvoi pasukan Salibis, untuk kemudian menyerangnya dengan bom termal, bersama-sama dengan rekan-rekan jihadnya. Kemudian dia pun ditangkap disebabkan aktivitasnya itu.

Abu Anas, saudara laki-lakinya terbunuh dalam jihad memerangi pasukan Salibis, dan membuat Abu Mariyah semakin kokoh menapaki jalan jihad, yang mana saat itu dia berada di awal masa mudanya. Lalu saudaranya yang kedua, yaitu Abu Maryam, juga terbunuh. Dan dia adalah seorang dokter yang menolak pergi meninggalkan Tikrit saat dikepung pasukan Rafidhah. Bagaimana bisa dia pergi dan meninggalkan pasien-pasiennya yang mencapai 200-an korban luka-luka di Rumah Sakit Tikrit, sedangkan dia seorang ahli bedah yang sangat dibutuhkan. Maka dia pun tetap teguh dan tidak meninggalkan pekerjaannya. Lalu ketika waktu konfrontasi dengan Rafidhah semakin dekat, dia meledakkan mereka dengan sabuk peledaknya, dan menjadi anggota keluarga kedua yang syahid. Hal ini membuat Abu Mariyah semakin yakin akan kebenaran manhaj yang dilalui dirinya dan keluarganya.

Selanjutnya, tibalah giliran saudara laki-lakinya yang ketiga, yaitu Abu Thalhah, seorang petempur penyerbu yang membuat Rafidhah berdarah-darah di Kamp Speicher. Dia kerapkali membuat mereka menderita di banyak tempat dan pertempuran. Dan dia terbunuh seiring dengan gugurnya Syaikh Umar Asy-Syisyani, beberapa pekan sebelumnya.

Abu Mariyah termasuk salah seorang yang banyak membunuh tentara Rafidhah, terutama saat membantai mereka di Kamp COB Speicher. Dia merupakan pelopor pertempuran via media, bahkan dengan tangannya sendiri dia menerapkan hukum Allah bagi orang-orang Musyrik Rafidhah.

Abu Mariyah termasuk awak media (i’lami) Wilayah Shalahuddin yang paling menonjol. Berbagai video yang diproduksi di bawah pengawasannya –di bawah kepemimpinannya di Kantor Media Wilayah Shalahuddin— menempati posisi-posisi teratas dalam peringkat umum rilisan video Daulah Islam. Hal tersebut kemudian menghantarkannya menduduki posisi amir sektor i’lam ‘askari (media militer) di Wilayah-Wilayah Timur (al-Wilayah asy-Syarqiyah). Dia membuat i’lam ‘askari tak ubahnya sel lebah yang tidak mengenal senyap dan diam (baca: bekerja tiada henti), meskipun dia sangat menolak dibebani posisi tersebut.

Selain memproduksi lebih dari 25 video jihad, dia pun mendapatkan kehormatan untuk berpartisipasi dalam puluhan rilisan video lainnya yang berpengaruh besar dalam meningkatkan semangat juang, menguatkan tekad, dan meneror musuh-musuh agama. Sampai-sampai, orang-orang menyukai suara pelannya dari balik kamera, yang memekikkan takbir seraya mengulang-ulang, “Pembalasan untuk ibunda kami, Aisyah!” sembari mengangkangi jasad balatentara Rafidhah.

Sebagaimana Abu Mariyah juga merupakan salah seorang singa pertempuran Baiji, dan termasuk orang yang mendokumentasikan pertempuran di kilang Baiji. Dia menerobos ke dalam pertempuran sambil berlari, bersama dengan kader-kader media binaannya. Padahal saat itu Baiji sedang dikepung oleh pasukan Rafidhah dan milisi-milisinya, di tengah timah panas kesyirikan dan kemurtadan para sniper (penembak jitu), di bawah pesawat tempur Salibis yang meliuk-liuk di langit kilang Baiji. Abu Mariyah berlari sepanjang dua kilometer di tanah terbuka di tengah berondongan peluru, untuk menemui mujahidin di dalam kilang. Dan dia pun keluar dengan cara yang sama setelah selesai mendokumentasikan pertempuran.

Langit cita-cita dan ambisinya sangat menjulang tinggi. Di dalam dirinya terdapat kepercayaan besar bahwa dia akan merealisasikan segala hal yang dikehendakinya. Betapa tidak, dialah yang membentuk berbagai tim media dan merevolusi media, ketika dia menduduki singgasana tertinggi di i’lam ‘askari (media militer) dan meletakkan sejumlah fondasi sempurna lagi kokoh bagi masa depan i’lam ‘askari. Dia mendelegasikan tugas dan misi secara sukses, tidak menjadikan tugas hanya terfokus atau bergantung pada dirinya saja secara eksklusif. Demikianlah, agar terjamin bahwa tugas tidak terhenti dengan absennya salah seorang awak media atau terbunuhnya amir.

Abu Mariyah amat bersikeras agar ada ikhwah lainnya yang mau menggantikan posisinya untuk mengemban amanah berat tersebut, dan dia dapat fokus bekerja sebagai juru kamera dalam banyak peperangan dan pertempuran. Sehingga di sana dia bisa memposisikan dirinya di medan-medan pertempuran dan di front-front yang mempertaruhkan dirinya, meskipun dia terikat tugas-tugas berat di pekerjaan barunya.

Dia adalah sosok yang sangat merindukan atmosfer jihad dan debu pertempuran, serta mengiringi para muqatil (petempur). Dia merasa tidak nyaman untuk hidup jauh dari mereka. Oleh karenanya, engkau bisa mendapatinya senantiasa eksis bersama mereka dalam setiap pertempuran dan peperangan. Dia tidak mau untuk sekadar berada di jantung pertempuran, dan lebih dari itu, dialah yang mengendalikan jalannya peristiwa-peristiwa heroik (malaihim) dari sisi media. Betapapun dahsyatnya kesengitan dan kobaran api perang, dia senantiasa mengumumkan kabar gembira kemenangan. Engkau bisa mendapati banyak pasang mata semuanya menanti apa yang datang darinya, dan kumandang takbir pun menggema apabila dia mengumumkan hal-hal yang menyejukkan dada orang-orang beriman, mulai dari kabar hancurnya tank-tank Amerika Serikat (AS), atau gagalnya serangan-serangan Rafidhah, atau menderitanya pasukan murtad Kurdi Peshmerga.

Abu Mariyah menyambung waktu malam dengan siang harinya antara memenuhi kebutuhan-kebutuhan tugas yang diembannya dan berkeliling ke sejumlah front pertempuran, sampai rasa lelah menderanya. Terkadang, dia tidak punya waktu untuk rapat dengan pasukannya kecuali setelah lewat tengah malam, dan rapat baru selesai menjelang fajar, hal ini disebabkan sempitnya waktunya dan banyaknya pekerjaannya.

Pada saat-saat terakhir di malam kepergiannya, Abu Mariyah seperti berpamitan kepada pasukannya dengan perpisahan selamanya... “Telah tiba waktunya, tak lama lagi, dengan izin Allah kita akan berjumpa dengan orang-orang tercinta. Demi Allah, sungguh aku merindukan perjumpaan dengan Allah.” Demikianlah dia mengucapkan untaian kalimat terakhir, dari hati yang merasakan dekatnya perjumpaan dengan Allah azza wa jalla.

Pada pagi keesokan harinya, meski dalam kondisi lelah, penat, dan letih, dia bergerak menuju front untuk memantau kondisi dan jalannya pertempuran di salah satu daerah. Di perjalanan pulang, jet tempur Salibis AS mengebomnya, sehingga sang kesatria media pun akhirnya undur diri dari arena yang telah diterjuninya dengan rasa lelah, kerja keras, dan penuh pembelaan terhada agama Allah, serta ambisi terhadap sesuatu di sisi Allah Sang Pemilik dan Sang Penguasa segalanya. Berakhirlah sebuah episode keberanian salah satu dari sekian kesatria Daulah Islam. Para kesatria yang mewarnai petualangan mereka dengan darah, merajut perjalanan mereka dengan pengorbanan, dan membayar akhir perjalanan dengan mahar cabikan anggota tubuh.

Abu Mariyah terbunuh di usia 27 tahun yang separuhnya dihabiskan di medan-medan jihad sebagai seorang petempur, tawanan, buronan, penakluk, dan amir. Terbunuhlah sang pemilik muruah (budi luhur, wibawa) yang sangat marah apabila mengetahui adanya penelantaran terhadap hak-hak keluarga ikhwah yang syahid, atau sedang ditawan, atau tengah ribath. Maka dengan segera dirinya menunaikan keperluan-keperluan mereka. Sampai-sampai dia membentuk satu lajnah (komite) khusus di i’lam ‘askari untuk memenuhi urusan-urusan keluarga; keluarga syuhada, keluarga korban luka-luka, dan keluarga para awak media.

Telah beranjak pergi seseorang yang seringkali berkata, “Aku khawatir akan membebani siapa saja yang bekerja bersamaku, lalu Allah mengujiku dengan seorang amir yang membebaniku dalam pekerjaanku.” Pernyataannya ini mendorongnya menutup jalan untuk kezhaliman, bahkan dia bersikap adil kepada orang yang dizhalimi, dan berupaya untuk mengurai permasalahan-permasalahan rekan-rekannya, sesibuk apapun dia dengan urusan-urusan pekerjaan media dan ketentaraan.

Sang Kesatria telah pergi menemui ketiga saudara laki-lakinya yang mendahuluinya menuju surga, dengan seizin Allah azza wa jalla, meninggalkan celah kosong yang sulit untuk ditutup oleh sosok penggantinya kelak. Kita menilainya sebagai orang-orang yang dikatakan Rasulullah: “Sebaik-baik kehidupan manusia adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya untuk bergegas di jalan Allah, dia melompat ke atas punggung kudanya demi mengharapkan terbunuh dan kematian di tempat yang ia tuju.” (HR. Muslim). Di sisi Allah-lah pahala bagimu, wahai Abu Mariyah.

Engkau telah pergi wahai Abu Mariyah, wahai engkau yang berlinang air mata karena kerinduan terhadap peperangan sengit, hingga membuatmu menangis. Betapa tidak, engkaulah sang singa pemberani di tengah kobaran api. Beristirahatlah dengan penuh kebahagiaan, wahai sang gunung! Sungguh engkau telah mewariskan satu generasi setelahmu yang takkan pernah terpejam menyaksikan ketidakadilan!

INILAH YANG DIJANJIKAN ALLAH DAN RASUL-NYA KEPADA KITA

RUMIYAH 3 - STATEMEN

INILAH YANG DIJANJIKAN ALLAH DAN RASUL-NYA KEPADA KITA
STATEMEN AMIRUL MU'MININ SYAIKH ABU BAKAR AL-HUSAINI AL-BAGHDADI HAFIZHAHULLAH

Allah Ta’ala berfirman: “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya Yang demikian itu tidaklah menambah apapun pada mereka kecuali iman dan ketundukan”. (Al-Ahzab : 22)

Benar, ini adalah apa yang dijanjikan oleh Allah dan kabar benar yang Dia sampaikan. Maka inilah seluruh orang Kafir telah bersatu dan menyeru menjalin koalisi dan persekutuan mengumpulkan segenap makarnya dan berkomplot. Mereka kumpulkan seluruh makar, kaki tangan, sekutu, dan para rekannya untuk memerangi Islam dan ummatnya. Mereka buat makar terhadap kaum mukminin dengan segenap makar yang mereka miliki dan kendaraan perang, pun militer yang mampu mereka kerahkan, baik itu di udara, darat maupun laut.

Semuanya demi upaya mereka yang berkelanjutan untuk memadamkan cahaya Allah, dan bentuk permusuhan terhadap Dien dan Manhaj-Nya di muka bumi. Mereka mengupayakannya lantaran khawatir lagi takut apabila ummat Islam dan Ahlus Sunnah mendapatkan kembali kekuatan dan kekhilafahan mereka, pun halnya khawatir jika mereka meraih tamkin dan kemenangan sebagaimana dahulu.

Sungguh, pertempuran sengit ini adalah perang total dan jihad besar yang dihadapi oleh Daulah Islamiyah pada hari ini tiada akan menambah apapun dari kami -insya Allah- kecuali keimanan yang kokoh dan keyakinan yang kuat. Dan bahwasanya semua itu tidak lain hanyalah mukadimah kejayaan gemilang dan permulaan menuju kemenangan yang nyata yang dijanjikan oleh Allah kepada para hamba-Nya.

Jika kita memperhatikan Kitabullah, serta sejarah panjang jihad ummat ini dalam melawan musuh-musuhnya, niscaya kita akan melihat ayat-ayat yang jelas menunjukan dekatnya masa akhir dan kehancuran musuh-musuh kita. Yakni, hari tatkala mereka mulai mengumumkan agresi untuk memerangi Allah, Rasul dan Dien-Nya pun para hamba dan wali-wali-Nya.

Yakni, hari tatkala mereka berusaha mengeluarkannya dari bumi yang Allah wariskan kepada hamba-hamba-Nya yang Ia kehendaki.

Allah Ta’ala berfirman: ”Dan sesungguhnya mereka hampir saja benar-benar membuatmu gelisah di negeri (Mekkah) untuk mengusirmu darinya dan kalau terjadi hal demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja”. (Al-Israa’ : 76)

Sungguh awal dari kemenangan mulia dan terbesar kita adalah ketika musuh berkumpul, berkoalisi, berbangga akannya, dan mengerahkan tenaga sampai ke puncaknya. Disitulah Allah akan membela hamba-hamba-Nya dan akan diperlihatkan dihadapan mereka hasil dari kekuatan, dan keperkasaan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. Fir’aun berkata): ‘Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga.’ Maka Kami keluarkan Fir’aun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan (tenggelamkan) golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Asy-Syu’ara : 53-68)

Dan firman-Nya: “Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.” (Yusuf : 110)

Wahai hamba-hamba Allah, sungguh keimanan tidaklah sempurna dalam tubuh Jama’atul Muslimin sampai ia menghadapi dan bersiap untuk memerangi manusia dalam perkara keimanan ini. Dalam jihadnya itu, ia hadapi hantaman demi hantaman ujian dan pedihnya rasa sakit namun ia tetap bersabar, baik dalam keadaan kalah maupun menang.

Meskipun ia tertimpa ketakutan dan goncangan, namun senantiasa teguh dan tiada goyah, tetap lurus tiada berpaling, terus melangkah di jalan keimanan yang lurus, insya Allah. Jika bukan karena adanya koalisi dan jihad ini, niscaya iman ini akan melemah dan tidak bertambah, hati rusak dan tidak menjadi baik.

Kita pasti akan melihat jiwa yang stagnan tekadnya, yang mengendur dan mengering imannya. Demikianlah keadaan kita tatkala diuji dengan kelapangan hidup.

Firman-Nya: “…Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah : 251)

Sungguh musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi, Nashrani dan kaum Atheis, pun halnya Rafidhah, Murtaddin dan seluruh sekte kekafiran telah mengerahkan media, bala tentara dan persenjataan mereka untuk memerangi muslimin dan mujahidin di wilayah Ninawa setelah mereka memandangnya sebagai salah satu pusat kekuatan Islam dan salah satu menaranya yang berada di bawah naungan khilafah. Kehidupan kaum muslimin yang aman dan mulia di dalamnya menjadikan mereka tidak bisa tidur.

Dan terwujudnya hukum Islam di tengah manusia di dalamnya membuat batin mereka letih. Manusia telah menyaksikan dan hidup dengan hukum itu, berteduh di bawah naungannya, dan menikmati keberkahannya. Inilah apa yang paling mereka khawatirkan lagi takutkan, karena itu merupakan jalan meluasnya Islam dan melebarnya wilayah serta masuknya manusia ke dalamnya.

Pada penduduk Ninawa pada umumnya, dan para Mujahidin khususnya…

Ingatlah Allah, dan belalah Dienullah. Jangan sampai kalian melemah dalam memerangi dan menghalau musuh kalian, karena jika demikian, akan memutus tali kekuatan Islam dan memadamkan cahaya al-Haq (kebenaran).

Wahai segenap Muhajirin dan Anshar…

Berjalanlah di atas bashirah kalian, dan bersabarlah di atas tekad kalian. Bersabarlah di atas musibah yang keras, seakan-akan debu-debu ketercerai-beraian hampir mengendap dan kalimat kebaikan pun keadilan akan bersatu, dan al-Haq mengusir kebathilan. Sungguh hari ini akan menjadi hari yang bersejarah. Bersabar dalam suatu perkara akan menghasilkan hal baik.

Allah berfirman : ”Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (Al-Qamar: 45)

Dan berfirman : ”…Sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang Kafir, agar Allah menetapkan yang al-Haq (Islam) dan membatalkan yang bathil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (Al-Anfal : 7-8)

Wahai Junud Khilafah…

Jika kalian dihadapkan dengan pesawat Amerika dan koalisinya maka hadapilah dengan teguh seraya bertawakkal kepada Dzat yang bumi dan langit berada di tangan-Nya, yang tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus. Dan katakanlah, “Cukup bagi Allah pelindung dan sebaik-baik penolong kami.”

Itulah kata-kata Ibrahim tatkala ia dilemparkan ke dalam api, pun ucapan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikatakan kepadanya, “Sungguh manusia telah berkumpul melawan kalian maka takutlah akan mereka.”

Ketahuilah, jika saja langit ini dijatuhkan ke bumi, Allah pasti akan menjadikan celah untuk bernafas orang-orang mukmin.

Wahai batalyon-batalyon pasukan In-ghimasi, wahai kafilah-kafilah Istisyhadi, wahai pasukan-pasukan penyerbu, wahai penyongsong kesyahidan, pencari kebaikan dan tambahan (melihat wajah Allah). Wahai kalian yang berusaha menuju surga dan mencari keridhaan…

Berangkatlah di atas keberkahan Allah. Sungguh peperangan ini adalah peperangan kalian, jadikanlah malam hari Kuffar menjadi siang hari, hancurkanlah rumah-rumah mereka, jadikanlah aliran darah mereka menganak sungai, sungguh itu adalah keberuntungan.

Termasuk kemenangan yang besar adalah bisa menemani orang-orang yang Allah berikan nikmat, dari kalangan para Nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang saleh dan merekalah sebaik-baik teman. Hendaknya sikap kalian menggambarkan ucapan, “Dan aku bersegera menuju Engkau wahai Rabb-ku supaya Engkau ridha.”

Semoga Allah membalaskan kebaikan kalian atas pembelaan kalian terhadap Islam dan kaum muslimin, kalian telah membuat orang-orang Kuffar merasakan malapetaka, kalian sungkurkan batang hidung mereka ke atas lumpur, jiwa kami tebusan bagi kalian, dari dulu hingga kini kalian adalah benteng perlindungan terbaik setelah Allah Ta’ala, pun lengan serta tonggak terbaik.

Wahai Ahlus Sunnah di Iraq…

Apakah di setiap saat tak terpikir dalam benak kalian? Bahwa kalian terbiasa merasakan kehinaan dan kerendahan hingga kalian menikmatinya.

Kalian tersesat sebagaimana Bani Israil tersesat sebelum kalian. Tidakkah kalian melihat Rafidhah setiap hari menimpakan kepada kalian siksaan yang pedih, menjajah negeri kalian dengan dalih memerangi Daulah Islamiyah. Kemudian pada akhirnya mereka membunuhi kaum lelaki diantara kalian, menawan wanita-wanita dan anak-anak di suatu waktu, dan mengusir mereka di waktu yang lain.

Tidakkah kalian melihat kota-kota di Iraq telah dikosongkan dari eksistensi Ahlus Sunnah kemudian diisi dengan makhluk Allah yang hina ibarat tanah yang diinjak-injak?

Lihatlah panji-panji mereka tatkala mereka memerangi kalian. Dengarkanlah seruan-seruan dan slogan mereka tatkala mengepung negeri kalian. Perhatikanlah perbuatan mereka tatkala mengusir kalian dari negeri kalian. Dengarkanlah seruan-seruan mereka tatkala mereka menyeru untuk memerangi semua negeri Ahlus Sunnah dari Iraq kalian sampai Syam kalian, sampai Najd kalian, bahkan sampai Yaman kalian.

Wahai Ahlus Sunnah…

Sungguh para pembesar kalian di daerah kalian telah sering melakukan pengkhianatan paling keji dalam sejarah, mereka perdagangkan urusan ini, mereka serahkan perkara dan negeri kalian kepada musuh. Dan inilah negeri kalian dijadikan bancakan kaum Atheis Kafir, kaum musyrikin Rafidhah, serta (Syi’ah –red) Nushairi si pendengki dalam sandiwara keji nan tersembunyi yang telah tersingkap dan telah didengar pun dilihat oleh seluruh manusia.

Inilah Halab (Aleppo) menghadapi agresi militer Nushairi terkuat dan tersengit, dengan sokongan dari Majusi Kafir Rusia yang bertujuan mendirikan eksistensi Nushairi sebagai penggantinya, di tengah-tengah pengkhianatan faksi-faksi oposisi murtad, yang sibuk memerangi Daulah Islamiyah dan berusaha menyingkirkan hukum Allah dari muka bumi, demi keuntungan tuan-tuan dan para penyokong mereka dari negara-negara Kafir. Hingga kini makar kaum Romawi (Barat) masih terus berjalan dan berlanjut.

Bahkan di Jazirah Muhammad, mereka berencana memapankan Rafidhah di pinggiran-pinggirannya di bawah kondisi kerusakan besar yang dilakukan oleh pemerintahan Alu Salul (Arab Saudi –red) untuk menjadikan negeri ini sekuler, dan memaksakan kekafiran pada penduduknya, serta menyebarkan kekejian di tengah mereka, pun menghentikan simbol Syari’at apa saja yang ingin ditegakkan.

Tidak cukup sampai di situ, mereka bahkan berpartisipasi langsung dalam militer bersama seluruh kaum kuffar untuk memerangi Islam dan Ahlus Sunnah di bumi Iraq dan Syam. Mereka adalah biang dari segala bencana dan sebab semua malapetaka.

Wahai para kesatria Jazirah Arab. Wahai cucu-cucu sahabat…

Ulangilah serangan demi serangan terhadap mereka. Bagi kalian musuh-musuh Allah, bantailah aparat keamanan, tentara dan polisi mereka. Seranglah kaki-kaki tangan dan para pemilik pena mereka (Ulama Suu’). Seranglah para komandan, menteri dan corong-corong media mereka. Tidak boleh berkumpul dua agama di Jazirah Arab.

Wahai Ahlus Sunnah…

Sungguh tidak ada harapan bagi kalian setelah Allah kecuali Daulah Khilafah yang akan menjaga Dien, kehormatan kalian, dan menguatkan kekuatan kalian. Didalamnya kalian hidup dengan mulia dan mati dengan terhormat, tanpa ada Rafidhah hina yang berani menyentuh kehormatanmu, pun halnya Nushairi busuk, ataupun Atheis najis.

Wahai kaum muslimin, muwahhidin di belahan bumi timur dan barat…

Kini Turki, si Liberalis murtad di tengah jihad dan pertempuran kami melawan seluruh koalisi kekafiran, mereka dengan hina memerangi kita. Dengan liciknya, Turki keluarkan sebelah muka mereka untuk mengintai kita, dan sebelahnya berada di balik tembok berusaha untuk mewujudkan kemaslahatan dan ketamakannya di pinggiran utara Iraq dan Syam.

Kemudian ia berbalik, khawatir akan dihajar mujahidin di tempat kediaman mereka dengan kobaran operasi penyerangan dan luapan peperangan mereka. Ia pun berfikir untuk memberikan keputusan dan pandangan, kemudian dengan muka masam dan kesombongannya mereka masuk ke dalam peperangan melawan kami bak hyena pincang yang bersandar dan bernaung di bawah pesawat-pesawat Salibis, memanfaatkan celah dan kesibukan mujahidin yang tengah memerangi semua sekte Kafir dan menghalau mereka untuk memasuki negeri Islam.

Mereka merasa, tempat mereka aman dan tidak akan didatangi oleh putera-putera Tauhid dan singa-singa Jihad. Ketahuilah bahwa dari rasa amannya itu mereka akan dihantui ketakutan.

Wahai muwahhidin…

Hari ini Turki telah ikut masuk mengganggu proyek operasi jihad kalian, maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka. Jadikan rasa aman dan santai mereka menjadi keguncangan, kemudian seret mereka ke medan perang kalian yang menyala-nyala.

Wahai Junud Khilafah di negeri Syam…

Telah datang kepada kalian tentara Turki yang Kafir, sungguh darah mereka bak darah anjing yang hina. Perlihatkan kepada mereka kebengisan kalian, dan bakarlah mereka dengan api kemarahan kalian, balas perbuatan keji yang dilakukan Ikhwanusy Syaitan dan suri tauladan murtaddin, pun koalisi para Atheis Kesyirikan. Mereka tak akan mengalahkan Tauhid kalian, pun halnya kemunafikan mereka tak akan mengalahkan keimanan kalian. Sungguh Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.
Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya…

Sungguh Ikhwanul Murtaddin adalah ujung tombak beracun yang dipegang oleh Salibis untuk memerangi Khilafah. Kelompok yang sesat ini, kesyirikannya terhadap Allah tidak terbatas hanya membuat undang-undang dan hukum-hukum buatan yang bathil dan menyaingi Allah dalam perkara hukum-Nya, dan menyetujui seluruh ummat Kafir atas kekafiran mereka sehingga menjadi kelompok yang tidak ada lagi Dien di dalamnya.

Mereka lebih mirip dengan orang-orang Zindik dan Bathiniyah. Ia dijadikan sebagai sayap militer yang dipercaya dalam sistem Koalisi Salibis dalam memerangi Islam dan ummatnya, dan mereka pasti dibutuhkan di medan tempur darat. Teman-teman karibnya (Salibis) akan selalu memberinya sokongan dan tidak akan merasa pelit untuk membantu mereka.

Maka lihatlah Iraq dan Syam, Libya, Tunisia dan negara-negara selainnya, sungguh kalian tidak akan mendapati apapun di sana kecuali adanya kaum musyrikin yang ikut serta dengan undang-undang Kafir ataupun yang condong dan loyal kepada para tentara Salibis, Rafidhah, kaum Liberal atau Atheis yang memerangi dan memusuhi mujahidin di jalan Allah yang berusaha untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi.

Sungguh mereka pantas disebut sebagai Ikhwan Syaithan (kawan-kawan Setan), antek dan jongos yang bekerja untuk Salibis -semoga Allah membinasakan mereka-.

Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

Wahai mujahidin fi sabilillah…

Ketahuilah bahwa kalian pada hari ini adalah tameng Islam dan bentengnya yang kuat. Jangan sampai, jangan sampai -semoga Allah merahmati kalian- Islam dan kaum muslimin diserang dari arah kalian, Sungguh sunnatullah tidak membeda-bedakan siapapun.

Allah Ta’ala telah menggunakan kalian dan mewariskan kekuatan untuk kalian agar Dia melihat bagaimana kalian beramal. Maka gunakan taqwa kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya untuk memohon pertolongan dan janji-Nya.

Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan.Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosadosa) mu, Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal : 29)

Jauhilah dari bermaksiat kepada-Nya dan menyelisihi perintah-Nya. Sungguh hasil dari maksiat itu sangatlah buruk bagi kalian.

Akan aku bacakan kepada kalian wasiat Amirul Mukmimin Umar bin Khatthab kepada Sa’ad bin Abi Waqqas dan bala tentara yang membersamainya.

Ia berkata: “Sungguh aku memerintahkanmu dan bala tentaramu agar selalu bertaqwa kepada Allah dalam setiap keadaan. Sungguh taqwa kepada Allah merupakan sebaik-baik persenjataan untuk melawan musuh dan siasat terkuat dalam peperangan.

Aku perintahkan kamu beserta bala tentaramu untuk lebih berhati hati dari kemaksiatan melebihi kehati-hatianmu terhadap musuh kalian. Sungguh dosa bala tentara kita lebih dikhawatirkan dari pada musuh mereka.

Sungguh kaum muslimin ditolong lantaran kemaksiatan musuh mereka kepada Allah. Kalaulah bukan karena itu, kita tidak mempunyai kekuatan di hadapan mereka, karena jumlah kita tidaklah sebanding dengan jumlah mereka, pun halnya persenjataan kita tidaklah seperti persenjataan mereka.

Jika kemaksiatan kita sepadan dengan mereka, maka mereka akan unggul dalam kekuatan. Jika tidak demikian, maka kita akan ditolong dengan keunggulan kita lantaran sedikitnya maksiat

Kita tidak mengalahkan mereka dengan kekuatan kita. Ketauilah, bahwa dalam perjalanan kalian terdapat malaikat pencatat dari Allah yang mengetahui apa saja yang kalian kerjakan. Maka malulah kepada mereka. Jangan bermaksiat kepada Allah sedangkan kamu berada di jalan-Nya, dan jangan katakan musuh kami lebih buruk dari kita sehingga mereka tidak akan dimenangkan atas kita meski kita berlaku buruk.

Betapa banyak kaum yang dikuasai oleh kaum yang lebih buruk dari mereka sebagaimana yang menimpa Bani Israil, tatkala mereka diserbu Kafir Majusi lantaran tindakan-tindakan yang membuat murka Allah, sehingga negeri-negeri mereka hancur lebur, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Mintalah kepada Allah agar kalian bisa mengendalikan diri kalian, sebagaimana kalian meminta pertolongan atas musuh-musuh kalian. Aku memohon kepada Allah hal ini untuk kita semua.” Sampai di sini perkataan Umar.

Wahai Mujahidin…

Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh kalian akan menang, mendapatkan kebaikan dan diberi penaklukkan. Maka barangsiapa dari kalian mendapatinya hendaknya ia bertaqwa kepada Allah, hendaknya memerintahkan kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar.”

Dan pada hari ini, Allah telah mewariskan bumi yang berbarokah ini kepada kalian dan membebankan kepada kalian amanah untuk menjaga dan mempertahankannya, pun teguh dalam menegakkan hukum Allah di dalamnya, maka berhati-hatilah, agar Setan tak menggelincirkan kalian, sehingga mundur dari suatu wilayah ataupun mundur dari front pertempuran.

Sebaliknya, kalian harus tetap bersabar, menguatkan kesabaran dan terus berjaga. Teguhlah dan jangan datangi sumber-sumber kehinaan setelah Allah memuliakan kalian. Jangan kalian ganti kebaikan dengan kerendahan. Dan jangan kembali terpuruk setelah kalian naik dari kerendahan dan keterpurukan. Ketahuilah bahwa kerugian yang dibayar saat kalian tetap tinggal di wilayah yang kalian pertahankan lebih sedikit seribu kali dari kerugian mundurnya kalian dengan kehinaan kalian.

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, ‘Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (Al-Ahzab : 16)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ribath sehari semalam lebih baik dari puasa sebulan dan bangun malamnya, Jika ia meninggal maka pahala amalnya akan terus mengalir rizkinya akan terus dialirkan dan aman dari fitnah.”

Namun jika kalian mundur dari suatu wilayah lantaran dosa kalian, maka kembalikan wilayah itu dengan taqwa kepada Rabb kalian. Sungguh itu akan terwujud jika kalian melakukannya. Ingatlah jika musuh kalian berperang di jalan Thaghut, maka kalian berperang di jalan Allah yang Maha Agung. Dan jika mereka berperang demi menegakkan kalimat kekafiran, maka kalian berperang di jalan untuk meninggikan kalimat Allah.

Dan jika mereka berperang demi secuil dunia maka kalian berperang demi pahala yang besar dan perdagangan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Dan mereka berperang, sedangkan dalam diri mereka ada pengkhianatan dan kekafiran, maka kalian berperang dengan keimanan dan al-Qur’an di dalam hati kalian.

Jika mereka berperang sedangkan ‘upah’ mereka adalah neraka, maka balasan bagi kalian berada di sisi ar-Rahman surga yang seluas langit dan bumi insya Allah.

Allah Ta’ala berfirman: “…Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik). Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya untuk kita.” (Al-An’am: 81-82)

Kemudian aku peringatkan akan persengketaan dan perselisihan dalam ilmu dan amal kalian, sedangkan kalian berada dalam satu kubu dan sama-sama mentauhidkan Rabb kalian dan kalian perangi musuh kalian. Kalian berusaha meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal : 45-46)

Perselisihan adalah sebab berkuasanya musuh, perselisihan adalah sebab terjadinya keburukan dan timbulnya permusuhan antar kalian. Maka jangan mengikuti apa yang dilakukan para ummat terdahulu, yang melaksanakan satu perkara namun meninggalkan perkara yang lain.

Maka Allah percikkan api permusuhan dan kebencian diantara mereka.

Allah berfirman: “…Tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.” (Al-Ma’idah : 14)

Dan janganlah kalian sampai menyelisihi amir-amir kalian. Dengarkan dan taatilah dia sebagai bentuk ibadah selama ia tidak memerintahkan kemaksiatan. Ketahuilah, bahwa perselisihan kalian terhadap mereka adalah perkara Jahiliyah.

Sungguh Allah memuliakan kalian hanya dengan Islam dan Jama’ah, selalu mendengar dan taat.

“…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran : 103)

Ingat dan perhatikan firman Allah: “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” (Ar-Ra’d : 11)

Dan kepada Junud Khilafah di Khurasan, Bangladesh, dan Indonesia, Kaukasus, Filipina, Yaman, Jazirah Arab, Sinai, Mesir, Tunisia, Aljazair dan Libya, Somalia pun Afrika Barat…

Ketahuilah bahwa kalian hari ini adalah penopang Islam di muka bumi dan pasak-pasak Khilafah di dalamnya. Kalian buat seluruh sekte Kafir terperanjat dengan jihad, kesabaran dan keteguhan kalian.

Kalian ajari manusia bagaimana menuju jalan kemenangan, dengan kebaikan berjama’ah dan merealisasikan ketaatan, dengan mendirikan jama’ah muslimin besar (Khilafah) di saat kondisi Jahiliyah terus melanda karena banyaknya faksi yang tercerai berai dimana-mana.

Kalian telah membuat seluruh kuffar geram dengan jihad dan bersatunya kalian, sebagaimana kemarahan mereka saat Khilafah Islam tegak. Oleh karenanya, mereka akan terus berusaha memadamkan cahaya Allah yang berada di tengah kalian dengan menghembuskan racun perpecahan dan perselisihan.

Maka bersabarlah, dan kuatkan kesabaran, janganlah takut dan teguhlah, dan jangan melarikan diri tatkala pertempuran. Jika kalian bersabar, niscaya Allah akan menyokong kalian, menolong kalian dan mengokohkan injakan kaki kalian.

Ketahuilah bahwa surga berada di bawah naungan pedang. Ketahuilah jika sebagian komandan kalian terbunuh, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lain untuk kalian, baik yang serupa atau lebih baik darinya. Allah tidak akan menelantarkan kalian dan jangan bersedih, sungguh Allah bersama kita.

Wahai mujahidin yang bersabar di atas kesedihan dan cobaan di Sirte (Libya)…

Kalian telah memberikan pelajaran kepada musuh dari kesabaran kalian. Kalian tulis pelajaran di atas lembaran kemuliaan dengan darah kalian yang suci.

Dari dulu Eropa hingga kini masih berambisi untuk memerangi Khilafah dan benteng Islam di Iraq dan Syam, sampai kalian guncang keamanan mereka dengan berkembangnya kalian dan kalian balikkan timbangan politiknya dengan jihad kalian.

Sehingga kalian menjadi batu penghalang dan batu karang kuat yang membuat hancurnya motivasi mereka, yang dengannya makar mereka berantakan. Sungguh musuh kalian merasakan keperihan sebagaimana kalian merasakannya, namun kalian mengharap dari Rabb kalian apa yang tidak mereka harapkan. Jangan sampai kalian tinggalkan pos-pos perang kalian dan tempat-tempat ribath kalian. Hampir-hampir saja musuh kalian bosan, pasukan mereka dihadang dan dicerai beraikan.

Dan tidak lupa pada kesempatan ini untuk mengingatkan kaum muslimin pada umumnya…

Jika jalan kalian sudah mulai menyempit dan jalan hijrah ke Iraq dan Syam sudah terputus, maka Allah telah menjadikan banyak cara untuk berhijrah ke sejumlah wilayah-wilayah lainnya yang berbarokah, supaya meninggikan bangunan Islam di sana dan mendapatkan keutamaan dengan bersegera dalam menolong Dien Allah dan meninggikan kalimat-Nya.

Allah berfirman : “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.” (Al-Ankabut : 56)

Dan kepada saudaraku-saudaraku yang tengah memegang bara yang Allah uji dengan tertawannya mereka. Meski sengitnya pertempuran kami dalam melawan musuh-musuh Allah…

Demi Allah kami tidak lupa dan tidak akan melupakan kalian.

Bagaimana bisa kami lupa sedangkan kalian selalu terngiang dalam benak kami, dan kegundahan kami yang tidak hilang dalam jiwa. Kami meminta kepada Allah supaya belenggu tali yang menawan kalian terlepas melalui tangan kami, pun terpecahnya jeruji besi penjara kalian dengan senjata dan kekuatan kami.

Dan itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Maka hendaklah kalian kembali kepada Allah atas musibah yang menimpa kalian, dan ingatlah Dia tengah menyimpan kalian untuk hari dimana kalian menolong Dien dan Daulah kalian.

Sungguh aku memotivasi kalian untuk mendo’akan saudara-saudara kalian di Daulah Islamiyah agar Allah memberikan jalan keluar bagi setiap perkara mereka dan menurunkan pertolongan Allah pada mereka, pun cukup hanya bergantung pada Allah dan tidak kepada selain-Nya.

Semoga Allah melepaskan belenggu tawanan kalian, mengentaskan penderitaan kalian dan menyembuhkan luka kalian, menguatkan tekad kalian dan memberikan kepada kalian jalan keluar.

Wahai kaum muslimin dimana saja kalian berada…

Aku berbela sungkawa terhadap kalian dan mujahidin atas gugurnya para masyaikh dan komandan, utamanya Syaikh Abu Muhammad al-Adnani dan Syaikh Abu Muhammad al-Furqan. Semoga Allah menempatkan mereka di surga firdaus tertinggi. Mereka adalah sebaik-baik menteri kami dan para pemimpin yang shalih.

Allah memuliakan mereka dengan sejarah kebaikan dan dan jasa-jasa mereka, dan kesungguhan mereka dalam meninggikan bangunan Khilafah dan menegakkan hukum Allah di muka bumi, sampai akhirnya mereka gugur dan telah menunaikan apa tugas mereka. Demikianlah penilaian kami dan Allah-lah sebenarnya yang menilai mereka.

Kami berikan pula kabar gembira dengan karunia Allah dan pemberian-Nya bahwa Khilafah tidak akan terpengaruh dengan terbunuhnya mereka, apa lagi roda jihad, ia tidak akan berhenti dengan kehilangan mereka.

Sebaliknya, jasad-jasad yang suci itu hanyalah merupakan kurban yang kami serahkan di hadapan Allah demi meraih keridhaan-Nya, pun demi meraih kemenangan yang nyata dan penaklukkan yang dekat, dengan izin Allah.

Telah kita ketahui dalam Kitabullah bahwa gugur syahidnya para komandan dan orang-orang shalih adalah pintu terdekat untuk mendapatkan penaklukkan di muka bumi, pun pahala dunia dan akhirat Allah berfirman tentang keadaan para Nabi dan para pengikutnya:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa untuk mereka selain ucapan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali ‘Imran : 146-148)

Ya Allah, yang menurunkan Kitab, yang menggerakkan awan dan yang mengalahkan pasukan Ahzab… Kalahkan mereka dan tolonglah kami dalam menghadapi mereka…

Ya Allah, hancurkanlah para kuffar penjahat yang menghalangi manusia dari jalan-Mu dan mendustakan Rasul-Mu dan memerangi wali-wali-Mu…

Ya Allah, timpakanlah mereka masa paceklik sebagaimana di masa Yusuf…

Ya Allah, kumpulkan mereka semua dalam satu jumlah pasukan dan bunuhlah mereka sampai habis berkeping-keping dan jangan sisakan mereka sedikitpun…

Ya Allah, cerai beraikan barisan dan kekuatan mereka…

Ya Allah, bagi mereka yang ingin keburukan bagi kami, Dien dan jihad kamimaka timpakanlah selalu keburukan bagi mereka sampai mereka binasakan dirinya dengan tangan mereka sendiri…

Ya Allah, buatlah makar baik untuk kami dan jangan jadikan makar buruk menimpa kami berikan kami petunjuk dan mudahkan kami untuk mendapatkannya tolonglah kami atas mereka yang melampaui batas atas kami Engkau adalah penolong, sebaik-baik pelindung dan penolong kami…

RUMAH TERLEMAH ADALAH JARING LABA-LABA

RUMIYAH 3 - PENGANTAR

RUMAH TERLEMAH ADALAH JARING LABA-LABA

Bersamaan dengan dimulainya agresi militer salibis atas negeri-negeri kaum muslimin, yang targetnya adalah mengokohkan rezim thaghut dan menghalangi para muwahhid dari menegakkan Din dan penerapan syariat, Salibis meluncurkan proyek setara yang bertujuan mengganti Din dan merubah prinsip-pinsip Islam beserta cabangnya agar sesuai dengan visi jahiliyah Amerika untuk dunia. Proyek itu disebutnya “Tatanan Dunia Baru”. Untuk mewujudkannya meka tidak menemukan model yang lebih baik kecuali Ikhwanul Murtaddin agar diikuti oleh manusia jika mereka menginginkan kepuasan Amerika. Salibis telah menguji mereka dengan baik dan membuktikan rusaknya akidah mereka dan bagaimana mereka loyal kepada musuh-musuh Dien dimanapun mereka berada.

Tatkala pengikut thaghut Erbakan (mantan Presiden Turki) adalah sekolah Ikhwanul Murtaddin yang paling rusak dan paling tenggelam dalam lumpur kesyirikan serta loyalitas kepada orang-orang musyrik, Maka salah satu muridnya yakni si kriminal Erdogan mengajukan dirinya dalam menjalankan proyek ini, karena si murid merasa telah melampaui gurunya beberapa langkah dalam menapaki manhaj demokrasi dan kerelaan dengan sekulerisme. Maka diangkatlah ia sebagai presiden. Diciptakanlah kondisi histeria yang dibutuhkannya sehingga orang-orang bodoh banyak yang tertipu. Setelah itu ia diserahi tanggung jawab mengelola beberapa persoalan regional. Sehingga jadilah ia punya peran penting dengan thaghut negara-negara Arab dalam mensukseskan proyek shahawat di Irak yang bisa menutupi aib kekalahan Salibis dan membantu mereka mengokohkan pondasi rezim Rafidhah di Baghdad.

Sejak awal permulaan jihad di Syam, Erdogan dan badan intelijennya sudah berusaha menyeret dan mengikat faksi-faksi perlawanan agar melalui dirinya negara-negara Salibis bisa mengeksploitasi mereka untuk memerangi Daulah Islamiyah dan memerintahkan mereka untuk membiarkan rezim Nushairi, sehingga konvoi mereka mulai meninggalkan front-front pertempuran melawan rezim dan bergerak -dengan perlindungan pasukan dan dana rezim thaghut Erdogan- memerangi para muwahhid.

Erdogan dan negara busuknya itu menyelubungi permusuhannya kepada Daulah Islamiyah dengan tudung faksi-faksi murtad yang dibentuk dengan sepengetahuan mereka dan dicekoki dana mereka. Mereka takut para muwahhid berpaling ke Turki dan menyalakan api peperangan yang tak akan padam sampai garis perbatasannya hilang sebagaimana garis perbatasan Sykes-Picott lain.

Namun ketika pertempuran antara Daulah Islamiyah dan koalisi Salibis semakin sengit, si thaghut Turki itu menyingkap peran yang telah digariskan untuknya. Ia membuka langit negerinya untuk dilewati pesawat-pesawat Salibis. Ia juga buka perbatasannya untuk mensupplai atheis Kurdi di ‘Ain al-Islam (Kobane). Ia buka gudang-gudang senjatanya untuk murtaddin shahawat di Halab. Ketika diminta lebih, ia segera menyambutnya. Maka dikirimnya pasukannya ke medan tempur untuk menggempur Junud Khilafah. Pesawat-pesawatnya terbang untuk membombardir posisi mereka. Artilerinya diperintahkan untuk menghujani pedesaan dan kota-kota kaum muslimin, dan ia masih saja menjanjikan lebih. Dia mengira aksinya itu akan melindunginya dari keburukan akibat perbuatannya. Siapa yang mengira tidak akan dihukum pasti ia akan semakin jahat.

Erdogan dan rezimnya yang rapuh itu tidak belajar dari rezim-rezim murtad yang Allah telah menguasakan Junud Daulah Islamiyah atas mereka; mereka porak-porandakan strukturnya dan menghancurleburkan pondasinya sebagaimana yang terjadi atas Rafidhah. Dia tidak belajar dari Salibis sekutunya yang diserang berkali-kali oleh mujahidin; mereka membuat pasar-pasar dan taman bermainnya menjadi medan perang terbuka sebagaimana terjadi di Paris dan Brussel. Dia juga tidak mengerti makna seruan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin untuk memerangi musuh-musuhnya dengan apapun yang mereka mampu; seruan ini disambut oleh puluhan tentara Allah yang tersembunyi, mereka meneror dengan pisau-pisaunya, sabuk peledaknya, bom-bom mobilnya dan senjata apapun yang dimilikinya dengan metode apapun yang diilhamkan Allah pada mereka.

Rezim Turki saat ini dengan keikut sertaan mereka dalam koalisi internasional melawan Daulah Islamiyah itu sebenarnya sedang menyembelih lehernya dengan pisaunya sendiri, memotong urat nadinya dengan tangannya sendiri, menggantung dirinya sendiri dengan talinya sendiri dan menghancurkan rumahnya sendiri, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah jaring laba-laba.

Maka, wahai Junud Khilafah di Turki, wahai muslim yang dihalangi oleh murtaddin Gendarmerie (aparat keamanan Turki yang bekerja di luar yurisdiki polisi umum, seperti wilayah pinggiran di perbatasan Negara.Pent) dari berhijrah ke Darul Islam, targetkanlah si thaghut Turki dan pengikut murtadnya itu. Perangilah mereka agar Allah mengazab dan menghinakan mereka melalui tangan kalian, menolong kalian, dan melapangkan dada-dada orang-orang yang beriman. Mulailah dari imam-imam kekafiran dan pendukung-pendukung thaghut. Sasarlah polisi, hakim, dan tentara. Sasarlah ulama-ulama thaghut dan pendukung partai Erdogan dan partai-partai murtad lain yang loyal padanya. Namun tetap jangan lupakan penduduk negara-negara Salibis jika kalian menjumpainya disana. Cerai beraikan dan tumpaslah mereka. Balaslah kejahatan mereka terhadap saudara-saudara kalian dengan membunuhi mereka.

Kepada setiap prajurit yang menjaga garis perbatasan dengan pasukan Turki dan sekutu-sekutunya, tetap teguhlah kalian, hendaknya mereka mendapati betapa kerasnya kalian. Semoga dengannya Allah melemahkan daya mereka, dan Dia lebih kuat daya-Nya dan lebih keras siksa-Nya.