Rabu, 25 April 2018

BERTAWAKKALLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA KEKUATAN

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

BERTAWAKKALLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA KEKUATAN

Setiap muslim tidak akan menyangkal bahwa mempersiapkan kekuatan untuk jihad fisabilillah itu adalah perkara wajib yang mendesak. Allah ta'ala telah memerintahkannya di dalam kitab-Nya yang mulia dengan firman-Nya, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. al-Anfal: 60).

Tidak diragukan lagi bahwa mempersiapkan kekuatan termasuk hal yang sangat membantu untuk meraih kemenangan.

Para tentara khilafah -dengan karunia Allah ta'ala– telah melaksanakan perintah Ilahi ini. Mereka siapkan segala sesuatunya sesuai dengan taufik Allah. Buahnya telah sedikit terlihat oleh musuh, sedang yang akan datang akan lebih mengerikan dan lebih pahit dengan izin Allah. Namun hendaknya seorang muslim muwahhid tidak sepenuhnya bersandar dan bertawakkal kepada apa yang telah disiapkannya. Hendaknya dia berlepas diri dari daya dan kekuatannya dan hanya bersandar pada daya dan kekuatan Allah. Jangan sekali-kali tertipu dengan kekuatan yang dipunyainya. Meski kekuatan materi adalah salah satu faktor kemenangan tetapi tertipu dengannya adalah salah satu sebab kekalahan.

Sejarah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah teladan yang baik bagi kita. Yang menimpa mereka ketika perang Hunain adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita. Allah ta'ala berfirman, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah telah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. at-Taubah: 25-26).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Allah ta'ala mengingatkan orang-orang beriman akan karunia dan kebajikan-Nya yang telah dilimpahkannya ketika Dia menolong mereka di berbagai pertempuran bersama Rasul-Nya, bahwa pertolongan itu semata-mata dari sisi Allah, dengan sokongan dan takdir-Nya. Kemenangan itu bukanlah karena jumlah maupun persenjataan. Allah mengingatkan bahwa kemenangan itu datang dari sisi Nya, tanpa memandang banyak atau sedikitnya jumlah pasukan. Di saat Perang Hunain, kaum muslim merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Tetapi jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun, karena mereka lari mundur kecuali sebagian kecil yang tetap bertahan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Allah menurunkan pertolongan dan bantuan-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”

Maka wahai mujahid muwahhid, ketahuilah bahwa i’dad kalian itu adalah untuk melaksanakan perintah Allah, sedangkan kemenangan itu hanya datang dari sisi-Nya ?. Engkau beriltizam untuk taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya itu adalah sebuah kemenangan. Ketahuilah bahwa sebagaimana engkau diperintahkan untuk mempersiapkan kekuatan, engkau juga diperintahkan untuk bertawakkal kepada-Nya saja bukan kepada yang lain. Allah ta'ala berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 3).

Hendaklah seorang mujahid muwahhid memahami bahwa goyahnya niat dan berubahnya hati lebih berbahaya daripada berapapun jumlah musuh dan lebih berbahaya daripada berapapun jumlah pesawat dan bom-bom yang berjatuhan. Hendaknya ia terus periksa hatinya. Hendaknya ia terus waspada terhadap bisikan-bisikan Iblis, karena ia sangat berupaya untuk merubah niatmu. Dia tidak akan bosan hingga ruh berpisah dari jasad. Hendaklah hatinya selalu bergantung pada Allah semata tanpa ada yang bisa mencabutnya sedikitpun. Hendaknya seorang mujahid muwaahid juga harus mewaspadai ungkapan-ungkapan yang terucap namun amat berpengaruh ke hati, seperti misalnya, “Bahwa para istisyhadi – selain mampu memporak-porandakan musuh – lah yang menentukan jalannya pertempuran.” Atau ungkapan, “Selama kita masih memiliki senjata begini begitu niscaya kita tidak akan pernah mundur atau kalah.” Juga ungkapan, “Segala sesuatu yang telah kita siapkan cukup untuk menimpakan kekalahan kepada musuh.”

Hendaklah aktivitas, ucapan, dan keyakinannya yang kokoh mengungkapkan bahwa tidak boleh bersandar kepada apa yang telah disiapkannya – betapapun pentingnya – kecuali bahwa hal ini adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah.

Wahai mujahid, wahai orang yang keluar dengan niat agar kalimatullah tinggi dan kalimat orang-orang kafir menjadi rendah. Wahai orang yang telah berkorban dengan segala sesuatunya supaya tauhid berkuasa di seluruh penjuru dunia. Jagalah tauhidmu, jangan jadi orang yang mengurangi atau merusaknya. Bertawakkallah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, karena Dialah yang mengatur segala urusan dan pencipta sebab musabbab dengan perintah-Nya ta'ala.

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 1)

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 1) KELOMPOK-KELOMPOK YANG GAGAL

Tidak berlebihan kiranya kalau kita katakan bahwa ratusan gerakan, partai, dan faksi yang dibentuk pada dekade lalu, yang mengklaim berusaha menegakkan kembali Khilafah, menerapkan syariat, dan meneguhkan agama Allah, semuanya telah gagal. Sekalipun ada sedikit yang bisa mencapai tahapan tamkin hakiki, atau fiktif, bahkan ada yang bisa melaksanakan beberapa hukum syariat. Namun semua harapan itu tidak terwujud kecuali pada Daulah Islamiyah, karunia hanya milik Allah sebelum dan sesudahnya.

Jika kita perhatikan kondisi gerakan-gerakan itu akan kita dapati bahwa mayoritasnya menciptakan untuk dirinya sendiri hambatan-hambatan yang menghalangi pergerakannya atau yang membuatnya menyimpang dari satu-satunya jalan hakiki menuju cita-cita mulia yang diangan-angankannya. Mereka membebani dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak Allah bebankan dan mendiktekan diri mengikuti sesuatu yang tidak Allah perintahkan, baik yang menempuh jalan ekstrim dengan memproposisikan hal yang tidak bisa diasumsikan kebenarannya, maupun yang menempuh jalan melarikan diri dari hukum-hukum syar’i. Keduanya sama-sama jauh dari jalan yang lurus dan manhaj yang lempeng dalam menegakkan agama Allah.

Imperatif-Imperatif Tak Valid

Inovasi paling jelas yang mereka diktekan pada dirinya sendiri adalah yang dinamakannya tata aturan amal (pedoman perjuangan), yang diciptakan oleh ulama, ideolog, dan pemimpin mereka. Lalu tata aturan itu diberi nama-nama yang mentereng seperti teori politik, minhaj haraki, dan lain sebagainya. Isinya tak lain metode-metode beramal tertentu, sebagai prasyarat pasti, yang dipaksakan untuk dilaksanakan demi mencapai target yang diinginkan melalui aktivitas dan gerakan mereka itu, yaitu menegakkan agama Allah. Metode-metode itu tak lain didasarkan pada pemahaman, dan hawa nafsu para ulama, ideolog, dan pemimpin itu. Sayangnya, mereka tidak cukup hanya menciptakan teori-teori atau hipotesis-hipotesis itu, mereka jadikan hal itu layaknya jalan lurus dalam beramal untuk menegakkan agama Allah. Dalam pandangan mereka, menempuh jalan lain selain metode itu adalah sebuah kesalahan besar. Demikanlah mereka jatuh dalam determinisme. Mereka mendikte dirinya dan pengikutnya dengan sesuatu di luar kemampuannya, yang tidak pernah diperintahkan. Kesesatan di atas kesesatan, dan Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang fasik.

Hipotesis-hipotesis ini didasarkan pada anggapan bahwa untuk menegakkan agama Allah itu harus mencapai suatu target sementara, atau melewati suatu kendala utama, jika tidak maka – dalam pandangan mereka – mustahil untuk menegakkan agama dalam lingkup negara Islam, apalagi membicarakan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dan imamah ‘uzhma untuk umat yang satu.

Namun masalah terbesar di balik hipotesis-hipotesis mereka itu, bahwa suatu hipotesis – secara umum – itu tidak bisa dibukitkan kevalidan atau ketidakvalidannya kecuali setelah melalu proses percobaan. Jika hasilnya sesuai dengan yang diinginkan maka hipotesis itu valid, dan dianggap sebagai sebuah teori yang benar. Jika teori ini terus menghasilkan kesuksesan dalam kondisi yang berbeda-beda maka teori ini mendapatkan sifat sebagai sebuah persamaan tetap, yang kemudian dengannya bisa diprediksikan hasil dari suatu tindakan atau masa depan suatu kondisi jika unsur-unsurnya sesuai dengan apa yang dituntut dalam persamaan itu. Di sinilah titik kekeliruan orang-orang itu. Mereka menganggap bahwa Ismail Haniyeh dan Muhammad Mursi - Thaghut yang muncul dari jalan yang menyimpang hipotesisnya itu adalah teori yang sudah dibuktikan kebenarannya, atau hipotesis pihak lain yang tampak benar dalam kondisi-kondisi tertentu, dianggapnya sebuah persamaan tetap yang harus diterapkan dalam setiap zaman, kondisi, dan tempat.

Percobaan Yang Berharga Mahal

Satu-satunya media percobaan teori dan hipotesis yang berhubungan dengan manusia dan kehidupannya adalah menjadikan diri mereka sendiri sebagai kelinci percobaan. Ia harus memaksa dirinya menerapkan hipotesis-hipotesis itu, menunggu hasilnya di dunia nyata, lalu mencatatnya, baru kemudian memutuskan kevalidan hipotesis tersebut berdasarkan bukti-bukti yang diperolehnya. Hal itu berarti membutuhkan pengorbanan besar agar sampai pada target yang diinginkannya. Ditambah dengan kerugian besar, yang bisa diprediksikan, ketika ternyata hipotesis itu salah dari dasarnya, atau diterapkan dengan metode yang salah, atau masuknya variabel atau suatu faktor yang mempengaruhi yang sebelumnya tidak diacuhkan. Sedangkan variabel itu sulit atau mustahil dipisahkan karena kompleksitas dan percampuran faktor-faktor yang mempengaruhi sifat. Berbeda dengan percobaan laboratorium (seperti yang berhubungan dengan ilmu Fisika dan Kimia umum) yang amat memungkinkan untuk memisahkan percobaan dari medium sekitarnya sehingga bisa memperoleh hasil yang paling mendekati nyata.

Para ideolog dan pemimpin harakah-harakah itu membawa hipotesis mereka sendiri lalu segera menerapkannya, memikulkan pada pengikutnya (terkadang dirinya sendiri) harga yang harus dibayar ketika mengujicobakannya. Tiap-tiap mereka mengujicobakan hipotesisnya pada orang-orang yang mengikutinya. Sampai medan dakwah penuh dengan uji-uji coba haraki yang didasarkan pada hipotesis-hipotesis itu. Sehingga pada dekade lalu kita menyaksikan beberapa uji coba utama yang mencabang menjadi beberapa percobaan kecil. Walhasil, kita dapati puluhan percobaan skala luas yang diterapkan dalam satu waktu di tempat-tempat tersebarnya kaum muslimin. Bahkan didapati dalam satu negeri ada beberapa percobaan dalam satu waktu, pelakunya saling bertikai sengit melebihi pertikaiannya dengan pemerintahan thaghut yang untuk menghadapinyalah sebenarnya mereka beraktivitas.

Para Penyembah Teori

Percobaan-percobaan ini benar-benar menghasilkan bencana. Jutaan manusia dibantai, dipenjara, dan diusir lewat tangan pemerintahan thaghut, tanpa ada hasil secuil pun. Faktor utamanya – disamping akidah dan minhaj yang sesat – adalah hipotesis-hipotesis yang salah. Para pencetusnya berusaha mengujicobakannya di dunia nyata setelah sebelumnya meyakinkan para pengikutnya akan kevalidan hipotesisnya itu, dan bahwa hasil positifnya terjamin. Namun justru sebaliknya, hipotesis-hipotesis ini menghasilkan kerugian materi dan jiwa yang besar, hingga merugikan Dien itu sendiri. Disisipkan di dalamnya bid’ah dan kemungkaran dengan nama prasyarat mutlak demi perubahan yang dinginkan. Bahkan lebih jauh lagi ada sebagian yang menempuh jalan syirik kepada Allah, mengklaim bahwa jalan ini akan membawa umat kepada tauhid yang murni. Mereka tidak menegakkan Dien tidak pula mendapatkan keuntungan dunia.

Jika kita pantau medan dakwah dewasa ini ternyata masih dipenuhi hipotesis-hipotesis rusak itu, yang dianggap banyak orang layaknya tuhan selain Allah. Berbagai harakat saling “sikut” demi hipotesis itu. Individu-individu saling membanggakan kefanatikannya. Loyalitas dan anti loyalitas didasarkan padanya. Meski kegagalannya telah terbukti dan menimpakan malapetaka kepada umat. Di atas semua itu, penyimpangannya dari dasar Dienul Islam dan hukum-hukumnya telah begitu jelas.

Ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata mengenai firman Allah ?, “Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus” (QS. al-Mulk: 22), “Allah Yang Mahatinggi berfirman, “Maka apakah orang yang berjalan” wahai manusia, “terjungkal di atas mukanya” tidak melihat apa yang di hadapannya, dan tidak melihat di kanan dan kirinya “lebih banyak mendapatkan petunjuk” yaitu lebih istiqomah dalam meniti jalan dan lebih mendapat petunjuk, “ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus” Dia berfirman, di atas jalan yang tiada berliku.” [Tafsir ath-Thabari]

Tidak masuk akal jika seseorang berjalan tapi tidak melihat jalan di depannya itu mulus perjalanannya daripada yang berjalan di atas jalan lurus yang tiada halangan dan lika-likunya. Yang pertama pasti selalu dikhawatirkan akan tersesat, adapun yang kedua Allah telah mengaruniakan padanya kemampuan untuk melihat sekitarnya dan ia berjalan di atas jalan yang lurus, yang akan membawanya kepada petunjuk.

Demikianlah perbedaan antara mujahidin Daulah Islamiyah dan faksi-faksi serta tandzim-tandzim murtad itu. Para pemegang kebenaran tidak akan berjalan selangkah ke depan kecuali telah mengetahui hukum syar’i langkah ini. Mereka tidak akan menempuhnya kecuali setelah memastikan legitimasi syar’inya, yang tidak akan mengeluarkan mereka dari jalan lurus yang menghantarkan mereka ke surga, apalagi kepada tujuan mereka yaitu iqomatud dien.

Adapun para penganut kesesatan, mereka telah menyungkurkan mukanya ke jalan yang digariskan oleh pemimpinnya, dan mereka tidak melihat selain jalan itu. Mereka tidak melihat rusaknya jalan itu dan tidak melihat rintangan yang akan dihadapinya. Oleh karena itu, tatkala dihadapkan dengan sedikit rintangan saja mereka langsung melenceng dari jalan yang lurus.

Pada tulisan berikutnya – dengan izin Allah – kami akan memaparkan beberapa contoh jalan para penganut kesesatan dalam usahanya menegakkan Dien, menerapkan syariat, dan mengembalikan Khilafah – sangkanya –. Agar terlihat perbedaannya dengan Minhaj Nubuwwah yang – atas karunia Allah – ditempuh oleh Daulah Islamiyah sehingga Allah menganugerahkan tamkin padanya, walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

AGAR ALLAH MENYARING ORANG BERIMAN DAN MEMBASMI ORANG KAFIR

RUMIYAH 7 - PENGANTAR

AGAR ALLAH MENYARING ORANG BERIMAN DAN MEMBASMI ORANG KAFIR

Bukanlah rahasia lagi bahwa tujuan bala tentara murtad “Perisai Eufrat” dari milisi Shahawat dan pasukan Turki adalah melenyapkan hukum Allah dari muka bumi, dan mengembalikan daerah-daerah yang telah dikuasainya kepada hukum jahiliyah, dengan mendirikan pengadilan-pengadilan yang di dalamnya diterapkan undang-undang buatan syirik, dengan berbagai macam nama dan undang-undang yang dijadikan landasan.

Namun, banyak manusia yang tidak mengetahui realita sebenarnya, bahwa dalam mewujudkan misi itu mereka siap menghancurkan segala sesuatu dan membantai manusia yang ada di muka bumi ini, bahkan para penduduk sipil sekalipun, yang mereka klaim bahwa memerdekakan warga sipil termasuk kewajiban agama dan penegakkan syariat. Hal ini nampak jelas melalui pengumuman mereka bahwa setiap daerah yang ingin mereka serang adalah “Zona Militer” dan didahului dengan bombardir menggunakan segala jenis persenjataan yang mereka miliki. Fakta menjadi semakin jelas, tatkala setiap desa dan kota di pinggiran utara dan timur wilayah Halab mereka bombardir secara sporadis baik dengan tembakan artileri pasukan murtad Turki maupun pesawat-pesawat tempurnya, pun halnya dengan bantuan pesawat Salibis Rusia dan Amerika, tanpa mempedulikan jumlah korban warga sipil yang terus bertambah puluhan tiap harinya.

Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa para murtaddin itu dalam mewujudkan misinya siap bekerjasama dengan siapapun dalam memerangi Daulah Islamiyah, sekalipun dengan rezim penjahat Nushairisi yang mereka klaim sebagai musuh mereka selama bertahun-tahun. Bahkan dengan pasukan Salibis Rusia yang masih senantiasa membombardir penduduk Syam dimana selama bertahun-tahun mereka mengklaim bahwa tujuan mereka berperang adalah untuk menolong penduduk Syam dan mengangkat kedzaliman yang menimpanya. Apatah lagi dengan Salibis Amerika yang dalam perspektif mereka –beberapa tahun lalu- merupakan setan terbesar, dan mereka laknat siapa saja yang mendukungnya. Air mata penduduk Syam telah mengucur selama bertahun-tahun akibat pembantaian pasukan Nushairi dan para sekutu-sekutunya, dari kalangan Rafidhah serta Salibis Rusia yang telah menghancurkan kota demi kota dan desa tempat tinggal mereka. Mereka terus menggembar-gemborkan seruan untuk menolong penduduk Syam, dan menghentikan penghancuran rumah-rumah tempat berlindung mereka, dan seruan itu datang dari lisan para Thawaghit dan wali-walinya dari kalangan faksi-faksi bersenjata dan partai murtad. Sejatinya hal itu hanyalah untuk memotivasi manusia agar berfokus pada satu mu- suh yaitu rezim Nushairi dan anteknya dari kalangan Rafidhah dan Rusia saja, bukan menyemangatinya untuk melawan siapa saja yang membunuhi kaum muslimin di Syam dan menghancurkan rumah-rumah pun masjid-masjid mereka di atas kepala dan anak-anak mereka.

Peperangan yang berlangsung di kota al-Bab antara wali-wali ar-Rahman yaitu pasukan Daulah Islamiyah dan wali-wali setan yaitu pasukan murtad Turki dan Nushairi, faksi-faksi Shahawat dan milisi-milisi Rafidhah yang dibekingi oleh Salibis Rusia dan Amerika, beserta wali-wali mereka dari kalangan ulama Suu’, para pengklaim jihad, partai-partai dan tandzim-tandzim ini, telah menyingkap fakta sebenarnya, sehingga bagi mereka yang memiliki dua mata mampu dengan jelas melihat tabiat para murtaddin yang menolak syariat tersebut, serta persiapan mereka untuk melakukan kejahatan melebihi apa yang dilakukan para Salibis, Rafidhah dan Nushairiyah dalam peperangan mereka melawan Islam, pun permusuhan mereka terhadap ahli tauhid serta penjunjung Syariat Islam melebihi permusuhan mereka terhadap Yahudi, Salibis, Rafidhah dan Nushairi yang mereka keluhkan telah membantai mereka dan memperkosa wanita-wanita mereka.

Kota al-Bab dan daerah-daerah lainnya yang tidak mampu diserbu oleh pasukan “Perisai Eufrat” lebih dari 100 hari, kini kondisinya hancur lebur, dan kehancurannya belum pernah disaksikan sebelumnya oleh kota-kota di Syam di tangan Rafidhah dan Nushairi. Dan ratusan warga muslimin di dalamnya meninggal akibat bombardir intensif yang disokong oleh musyrikin dan murtaddin satu sama lainnya.

Segala macam musuh Islam bersatu padu untuk menghancurkannya, padahal sebelumnya mereka saling bermusuhan satu sama lain, seperti murtaddin Shahawat dengan milisi-milisi Rafidhah, pasukan Turki dengan Nushairi, pasukan Salibis Amerika dengan Rusia. Ini fenomena gotong royong dan saling kerjasama musyrikin satu sama lainnya guna memerangi ummat Islam yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun para Ulama durjana, dan para pengklaim jihad hanya bisa diam membisu tatkala mereka dapati bahwa yang membombardir al-Bab dan membantai para penduduknya adalah Thawaghit Ikhwanul Murtaddin baru, yaitu Si Erdogan, dan teman-temannya dari kalangan murtaddin Shahawat. Mereka berpura-pura tak tahu tentang partisipasi Nushairiyah, Rafidhah, dan para Salibis dalam membomardir kota al-Bab saat mereka dapati bahwa yang menghalaunya adalah Junud Daulah Islamiyah, justru malah memotivasi saudara-saudara murtaddinnya untuk ikut bergabung dalam pasukan “Perisai Eufrat” saat mereka dapati bahwa dengan itu akan mendapatkan ridha tuan-tuan mereka dari para Thawaghit dan Salibis.

Sesungguhnya, pertempuran al-Bab yang singa-singa Khilafah –atas karunia Allah- tetap teguh di dalamnya bak kokohnya gunung, tidak hanya menimpakan kerugian dari segi personil, jumlah, dan kewibaan bala tentara mereka saja, namun juga menyingkap banyak fakta dari kelompok-kelompok yang mengklaim Islam, dan gigih menjaga darah muslimin, serta berusaha menolong mereka.

Beginilah hasil keteguhan mujahidin di setiap tempat di hadapan musuh-musuh mereka, dengan izin Allah telah membongkar kedok mereka, menampakkan aib-aib mereka, maka keteguhan melawan mereka merupakan sarana terbaik untuk dakwah kepada jalan Allah, dan menelanjangi jalan para penjahat.

POTRET KESUNGGUHAN PARA SAHABAT MERAIH SYAHID

RUMIYAH 6 - SEJARAH

POTRET KESUNGGUHAN PARA SAHABAT MERAIH SYAHID

Generasi as-sabiqunal awwalun mengetahui bahwa surga adalah dagangan Allah yang mahal. Mereka juga mengetahui bahwa harga surga itu tidak akan bisa dibayar kecuali oleh orang-orang yang mengerahkan seluruh kesungguhannya. Mereka cari setiap jalan yang mengantarkannya meraih ridha Allah sembari memohon agar dimudahkan dan diterima.

Engkau melihat mereka berazam kuat untuk berjual beli dengan Allah. Mereka jual jiwa dan hartanya agar bisa membeli surga-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu kedalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ketempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaf: 10-12)

Ketika telah mengetahui bahwa jalan pintasnya adalah mati syahid di jalan Allah mereka segera terjun ke medan tempur. Mereka bersegera pantang mundur menyambut kematian demi mendapatkan kehidupan sejati.

Anas bin an-Nadhr Menyerbu Orang-orang Musyrik Pada Perang Uhud

Inilah Anas bin an-Nadhr radhiyallahu anhu yang amat bersedih karena absen dalam Perang Badar. Akan tetapi kemudian dia bersumpah dan berjanji. Mari kita simak penuturan putra saudaranya Anas bin Malik tentang aksi pamannya, katanya, “Pamanku Anas bin an-Nadhr absen pada perang Badar. Lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah absen pada pertempuran pertama engkau melawan orangorang musyrik. Sungguh seandainya Allah mengizinkanku untuk ikut memerangi orang-orang musyrik niscaya Dia akan melihat aksiku! Maka tatkala kaum muslimin tercerai-berai pada Perang Uhud dia berkata, ‘Ya Allah aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh mereka – para sahabatnya – dan aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang dilakukan oleh mereka – kaum musyrikin –.’ Kemudian diapun maju. Sa’ad bin Mu’adz menghadangnya, namun katanya, ‘Wahai Sa’ad bin Muadz, surga, demi Rabb an-Nadhr, sungguh aku mencium aromanya di balik Uhud! Sa’ad berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan seperti aksinya.’

Anas berkata, “Kami mendapatinya terluka lebih dari delapan puluh sabetan pedang, hujaman tombak atau tusukan anak panah. Kami mendapatinya telah terbunuh dan dimutilasi oleh kaum musyrikin. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudarinya melalui jari-jemarinya.” Anas berkata, “Kami mengira bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dirinya dan yang semisalnya, ‘Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah’.” (QS. al-Ahzab: 23).

Umair bin al-Hammam Bersegera Menuju Surga Seluas Langit dan Bumi

Anas radhiyallahu anhu menuturkan kepada kita, katanya, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat berangkat hingga mendahului kaum musyrikin sampai di Badar. Lalu kaum musyrikin datang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kalian melakukan sesuatupun sampai aku perintahkan!. Ketika kaum musyrikin bergerak mendekat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Bangkitlah menuju Jannah yang seluas langit dan bumi.’ Umair bin al-Hammam berkata, ‘Wahai Rasulullah, surga itu seluas langit dan bumi? Beliau menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata, ‘Bakhin, bakhin (kata untuk mengungkapkan rasa gembira).’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Apa yang membuatmu mengatakan bakh bakh? Jawabnya, ‘Tidak, demi Allah, (tidak ada yang mendorongku melakukannya) kecuali karena aku berharap menjadi penghuninya.’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.’ Dia lalu mengeluarkan beberapa butir kurma dari tanduknya dan memakannya, kemudian berkata, ‘Jika aku masih hidup hingga aku dapat memakan kurma-kurmaku ini maka sungguh terlalu lama.’ Dia langsung melemparkan kurma yang ada di tangannya, kemudian langsung melompat menyerbu orang-orang musyrik sampai gugur.

Komandan Sariyah Mu’tah Memburu Syahadah

Pada perang Mu’tah, Ja’far bin Abi Thalib mengangkat panji pasukan dengan tangan kanannya. Namun kemudian terpotong, maka dipeganngya dengan tangan kirinya hingga terpotong juga. Sehingga ia memeluknya dengan kedua lengannya hingga terbunuh. Saat itu usianya tiga puluh tiga tahun. Allah mengganti dua tangannya itu dengan sepasang sayap sehingga bisa beterbangan di surga. Dikisahkan bahwa seorang tentara Romawi telah menebasnya sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua.

Arab Badui Muhajir

Lihatlah kejujuran mereka kepada Allah. Syaddad bin al-Hadi radhiyallahu anhu meriwayatkan, “Seorang laki-laki Badui mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk beriman dan mengikutinya. Dia berkata, ‘Aku akan hijrah bersama Anda.’ Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu menitipkannya kepada sebagian sahabat. Disaat perang usai, Nabi mendapat ghanimah. Beliau membaginya dan memberikan bagian untuknya. Beliau memberi para sahabatnya sama seperti bagiannya. Dia telah melindungi punggung pasukan. Ketika dia datang mereka segera memberikan bagian itu kepadanya. Ia bertanya, ‘Apa ini? Mereka menjawab, ‘Bagian yang Nabi - ? berikan kepadamu. Dia mengambilnya lalu mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, ‘Apa ini? Beliau menjawab, ‘Aku membaginya untukmu.’ Dia berkata, ‘Bukan untuk ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu agar mati terkena panah di sini – sambil menunjuk tenggorokannya – sehingga aku masuk surga.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mempercayaimu.’ Selang beberapa saat kemudian mereka bergerak untuk berperang. Ia lalu dibawa ke hadapan Nabi dan anak panah telah menembus tempat yang ditunjuknya. Nabi bersabda, ‘Apakah dia orangnya? Para sahabat menjawab, ‘Betul.’ Nabi bersabda, ‘Dia telah jujur kepada Allah, maka Allahpun jujur kepadanya.’ Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengkafaninya dengan jubahnya, meletakkannya di depan, lalu menyalatinya. Dalam shalatnya beliau berdoa, ‘Ya Allah ini ada- lah hamba-Mu, keluar berhijrah di jalan-Mu, lalu terbunuh syahid, dan aku saksinya.’

Abu Ukail radhiyallahu anhu Terus Bertempur Sekalipun Terluka Parah

Lihatlah pada Perang Yamamah, pada orang-orang yang membela agama selama nadi masih terus berdenyut sampai gugur sebagai syuhada. Ja’far bin Abdullah bin Aslam menuturkan, “Tatkala Perang Yamamah dan kedua pasukan telah berhadapan, orang yang pertama kali terluka adalah Abu Ukail, terkena panah diantara kedua pundak dan jantungnya namun tidak fatal. Anak panah itu lalu dicabut yang lalu melemahkan badan sebelah kirinya. Ia lalu dibawa ke kemah untuk pengobatan. Disaat puncak-puncaknya pertempuran kaum muslimin terpukul mundur sampai mendekati kemah-kemah mereka. Ketika itu Abu Ukail dalam kondisi lemah karena lukanya. Ia mendengar Ma’an bin Adi berteriak, ‘Wahai Anshar, (takutlah) kepada Allah, (takutlah) kepada Allah, serang balik musuh kalian! Abdullah bin Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit menyambut seruan itu, aku segera mencegahnya, ‘Hendak kemana? Kamu belum kuat berperang! Dia berkata, ‘Seorang penyeru telah berteriak memanggil namaku! Ibnu Umar menjawab, ‘Dia hanya memanggil Anshar, bukan orang-orang yang terluka.’ Abu Ukail menimpali, ‘Aku bagian dari Anshar, dan aku menjawab se- ruannya walaupun dengan merangkak! Ibnu Umar berkata, ‘Abu Ukail segera bangkit dan menyambar pedangnya dengan tangan kanan, kemudian dia mulai memanggil, ‘Wahai Anshar, serang balik musuhmu seperti saat Perang Hunain! Berkumpul lah kalian semua semoga Allah merahmati kalian, majulah karena sesungguhnya kaum Muslimin adalah laksana perisa pelindung! Mereka berhasil memojokkan musuhnya di al-Hadiqoh. Terjadilah perang campuh dan pedang saling berkilatan. Ibnu Umar berkata, ‘Aku melihat tangan Abu Ukail yang terluka tertebas dan jatuh ke tanah. Dia terluka sebanyak empat belas sabetan, semua itu menghantarkannya kepada kematian. Musailamah si musuh Allah juga terbunuh.’

Ibnu Umar berkata, ‘Aku menemukan Abu Ukail terkapar sekarat. Aku berkata, ‘Wahai Abu Ukail! Dia menjawab dengan lemah, ‘Labaik, pihak mana yang menang? Aku berkata, ‘Berbahagialah, sungguh musuh Allah telah tewas.’ Dia mengangkat jari telunjuknya kelangit seraya memuji Allah, kemudian wafat, semoga Allah merahmatinya.’

Al-Barra bin Malik radhiyallahu anhu In-ghimas Ke Dalam Benteng Murtadin

Pelaku in-ghimasi pertama dalam Islam adalah alBarra bin Malik saudara Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwasannya kaum Muslimin berhasil sampai di sebuah benteng tempat konsentrasi pasukan musyrikin. Lalu al-Barra duduk diatas sebuah tameng dan berkata, ‘Angkatlah aku dengan tombak-tombak kalian kemudian lemparkan aku.’ Maka para sahabat melemparkannya ke dalam benteng. Anas berkata, ‘Kaum muslimin lalu menemukannya dan dia telah membunuh sepuluh tentara musuh. Pada waktu itu ia mendapat lebih dari delapan puluh tusukan panah maupun sabetan pedang. Khalid bin al-Walid merawatnya selama satu bulan penuh sampai luka-lukanya sembuh.”

Amaliyah Istisyhadiyah Salim Maula Abu Hudzaifah radhiyallahu anhu

Dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syammas al-Anshari berkata, “Tatkala kaum Muslimin terpukul mundur di perang Yamamah, Salim Maula Abi Hudzaifah berkata, ‘Tidaklah seperti ini yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam! Maka dia menggali sebuah lubang lalu berdiri di dalamnya sambil mengangkat panji Muhajirin, kemudian berperang hingga terbunuh syahid.

Busr bin Artha’ah Ber-inghimas Ke Dalam Markas Romawi

Dari Ala’ bin Sufyan al-Hadhrami berkata, “Busr bin Artha’ah mengomandoi penyerbuan terhadap Romawi. Namun garis belakang pasukannya selalu porak poranda. Ia berusaha mempersiapkan penyergapan, namun juga gagal. Ketika melihat hal itu ia lalu menjaga garis belakang pasukannya bersama seratus prajuritnya. Suatu hari ia sendirian menyelidiki suatu lembah Romawi. Didapatinya ada tiga puluh ekor kuda yang tertambat di samping sebuah gereja. Para penunggangnya itulah yang telah memporak-porandakan garis belakang pasukannya, mereka berada di dalam gereja. Maka dia turun dari kudanya dan mengikatnya. Kemudian dia masuk kedalam gereja dan mengunci pintunya. Para prajurit Romawi itu terheran-heran dengan kenekatannya. Belum lagi mereka sempat menyambarkan tombak-tombaknya ternyata tiga Operasi istisyhadiyah, jalan singkat untuk menggapai kesyahidan orang telah berhasil dijatuhkan. Para sahabatnya mulai sadar jika ia (Busr) hilang dan mulai mencarinya. Mereka menjumpai kudanya dan mendengar keributan di dalam gereja. Mereka mendatanginya namun ternyata pintunya terkunci. Mereka lalu membongkar atap dan turun ke dalam gereja. Saat itu Busr tengah menahan ususnya dan pedang di tangan kanannya. Saat para sahabatnya berhasil menguasai gereja Busr tersungkur pingsan. Kawan-kawannya segera menghadapi para prajurit Romawi itu dan berhasil membunuh serta menawan mereka. Para tawanan lalu bertanya, ‘Demi Allah kami bertanya kepada kalian siapa ini? Mereka menjawab, ‘Busr bin Artha’ah. Mereka berkata, ‘Demi Allah tidak ada wanita yang melahirkan manusia sepertinya! Kemudian mereka mengembalikan usus Busr ke dalam perutnya tanpa kurang sedikitpun lalu membalutnya dengan sorban. Busr lalu dievakuasi dan dirawat sampai sembuh.”

Demikianlah kesungguhan para sahabat untuk meraih derajat surga yang tinggi ini. Meski mereka itu adalah manusia yang paling bertaqwa, paling berilmu, namun kesungguhan menuntut ilmu dan mengajarkannya tidaklah menghalangi mereka untuk berusaha meraih syahadah, dan tidak pula bergantung kepada dunia, orang tua maupun anak.

Tapak kaki mereka telah menjadi petunjuk sampai hari kiamat, sampai generasi terakhir pengikut mereka memerangi Dajjal dengan izin Allah ta'ala.

WAWANCARA BERSAMA KOMANDAN MILITER WILAYAH HOMS

RUMIYAH 6 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA KOMANDAN MILITER WILAYAH HOMS

Tanya: Bagaimana kondisi front pertempuran di sekitar kota Tadmur sebelum penaklukkan, dan persiapan menaklukkannya?

Jawab: Junud Khilafah sebelumnya pernah menguasai kota Tadmur pada bulan Sya’ban 1436 H, dan pasukan Nushairi beserta milisi-milisi Rafidhah tidak sanggup untuk merebutnya kembali meski telah melancarkan puluhan serangan yang mengakibatkan ratusan personil tempur mereka tewas dan terluka, bahkan puluhan kendaraan mereka hancur, sampai akhirnya datang bantuan udara Rusia secara intensif dalam operasi militer mereka untuk menyerang kota yang dimulai dari bulan Jumadal Akhirah tahun 1437 H. Mereka mobilisasi ribuan pasukan darat mereka, dari pasukan rezim, milisi-milisi Rafidhah, dan infantri darat Rusia beserta para penasehat militernya, ditambah dengan bombardir intens, sehingga dalam sehari bisa berjatuhan sekitar 100 roket, bom birmil dan bom gas terhadap kota hanya dalam waktu sehari, mujahidin pun terpaksa mundur dari kota. Setelahnya, mujahidin kembali melancarkan serangkaian operasi atrisi, menguras energi musuh dengan taktik serangan ‘hit and run’, dan operasi militer skala besar terhadap sejumlah posisi tempur Nushairi di distrik Syair, Jazl dan sejumlah daerah dekat kota Tadmur. Kemudian operasi mujahidin berfokus di front timur. Hasil peperangan di Tadmur dan sekitarnya sejak Junud Khilafah menguasainya untuk pertama kalinya pada bulan Sya’ban 1436 H sampai awal bulan Rabi’ul Awwal 1438 H adalah sekitar 1700 tentara rezim dan militan Rafidhah tewas dan luka-luka, lalu tujuh tentara Rusia, diantaranya penasehat militer dan pilot helikopter tewas, sementara jumlah kendaraan yang berhasil dihancurkan dan menjadi rampasan perang Mujahidin mencapai 236 unit kendaraan. Diantaranya 71 buah Tank, 18 senapan mesin berat kaliber 23 mm, artilleri kaliber 57 mm, dua senapan mesin kaliber 14,5mm, 20 meriam artileri 122 mm dan 130 mm, dan banyak mobil 4x4 yang dilengkapi dengan senapan mesin berat. Satu helikopter Rusia juga berhasil ditembak jatuh, walillahilhamd.

Tanya: Berapa jumlah musuh di dalam Tadmur sebelum penaklukkan dan dimana saja posisi mereka?

Jawab: Rezim Nushairi beserta pasukan Rusia dan milisi-milisi Rafidhah yang membantunya menjadikan sejumlah daerah sebagai pos taktis utama bagi mereka, baik di dalam kota dan sekitarnya, guna memperkuat lini pertahanannya. Diantarantya pegunungan Tar, lumbung gandum kota, bukit Amiriyah, gunung Hayan, pun halnya distrik Jazal yang di dalamnya terdapat banyak pos taktis-pos taktis militer di atas bukit-bukit tinggi yang membentang di sepanjang jalan ke arahnya dan sangat kuat pertahanannya. Diantara pasukan yang menyokong rezim Nushairi adalah milisi-milisi Rafidhah dari Iran, Afghanistan, Irak, dan sejumlah personil dari Lajnah Sya’biyah, ditambah lagi pasukan Rusia. Pasukan Rusia yang jumlahnya sekitar puluhan itu berperan memberikan operasi ‘support’, mengkover dan melatih para tentara rezim yang ada di kota, yang jumlahnya sekitar 1500 sampai 2000 personil tempur, disokong dengan puluhan kendaraan lapis baja, tank-tank dan senjata berat. Padahal, Nushairi telah mengumpulkan seluruh pasukan ini untuk melancarkan serangan terhadap area kontrol mujahidin di wilayah al-Khair. Kota ini terbagi-bagi sesuai dengan milisi yang berada di dalamnya. Setiap milisi menguasai jalan atau suatu bangunan, dan menghiasinya dengan seruan-seruan syirik, dan meninggikan panji bendera mereka di atasnya, serta mendominasi daerah-daerah sekitarnya. Rafidhah juga membangun beberapa kuil mereka di dalam kota. Mereka curi semua barang-barang yang berada di dalamnya, bahkan sekedar tangki air. Kala itu kota ini dipenuhi oleh pos-pos batas ‘checkpoint’ militer, dan di dalamnya terdapat pangkalan militer pasukan khusus Rusia. Di samping itu, pelayanan publik juga sangatlah buruk.

Tanya: Bisa Anda ceritakan operasi penaklukkan kembali kota Tadmur? Bagaimana prosesnya dan apa saja hasilnya?

Jawab: Operasi militer ini dimulai pada hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal, dimana Junud Khilafah melancarkan serangan skala besar dan sengit terhadap pasukan Nushairi dan milisi-milisi Rafidhah loyalisnya, dengan front pertempuran yang membentang hingga sepanjang 200 km dari delapan arah. Atas karunia Allah operasi ini berhasil meraih kemajuan yang signifikan. Junud Khilafah berhasil menguasai kota Tadmur dan puluhan daerah di sekitarnya, di- tambah dengan kilang minyak dan gas, dan menguasai daerah yang luas di pinggiran timur Homs, memporak-pondakan angan-angan Nushairi untuk terus memperluas wilayahnya hingga jalan utama Tadmur - al-Khair dalam rangka memecahkan pengepungan yang dilakukan Mujahidin atas Nushairi di kota al-Khair dan bandara militernya. Kota Tadmur juga memiliki nilai vital penghubung antara wilayah Hama, Homs, dan Damaskus. Ia adalah jalan untuk menuju daerah-daerah kekuasaan Khilafah di Damaskus, Hama, Homs, al-Khair, dan Raqqah. Pun termasuk batu loncatan untuk menaklukkan sejumlah daerah yang dikuasai rezim. Pasukan Nushairi sebelumnya telah memperbanyak mobilisasi pasukan beberapa bulan yang lalu, mengadakan pertemuan-pertemuan bersama mereka yang mengeklaim sebagai para pembesar kabilah al-Khair dan Raqqah. Mereka telah mengumumkan pembentukan milisi Hasyad Asyair, meniru budak-budak Rafidhah dan kabilah-kabilah suku anteknya di Irak agar mereka menjadi budak Nushairi, diperalat untuk menjajah kembali kota al-Khair dimulai dari kota Tadmur –sebagaimana klaim mereka-. Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang. Berlawanan dengan apa yang diinginkan Nushairi dan tidak sesuai dengan apa yang mereka sangka, bala tentara Allah dari kalangan muwahidin telah mempersiapkan kekuatan. Sembari meminta pertolongan kepada Allah mereka melancarkan serangan dengan skala besar di front pertempuran sepanjang 200 km secara kontinyu, sejumlah operasi ini dimulai pada malam hari dari distrik Huwaisis, dimana meletus baku tembak sengit secara terus menerus di daerah tersebut. Namun, pada fajar harinya berbeda dengan front-front lainnya, dimana sekelompok regu in-ghimasi telah siap menyerbu kuffar. Terdapat pula perintah bagi puluhan tank Junud Khilafah untuk menggempur pos-pos taktis pasukan Nushairi beserta milisi-milisi loyalisnya. Tank-tank ini juga ikut bergerak maju menggempur pos musuh guna mengkover masuknya regu in-ghimasi di benteng pertahanan kuffar di pos Talilah dan sekitar lumbung gandum Tadmur, serta gunung Hayan, gunung yang menyusahkan gerak ppesawat tempur Nushairi dan Rusia selama operasi berlangsungnya operasi militer mereka untuk merebut kembali kota Tadmur satu tahun yang lalu. Segala puji bagi Alla,h Junud Khilafah berhasil menguasai penuh gunung Hayan, pos-pos Talilah, dan pos-pos taktis yang berada di luimbung gandum selama hari pertama pertempuran. Setelahnya satu demi satu benteng Nushairi runtuh, di kilang Jihar, Jazal, Mahr, korporasi gas Hayan dan sejumlah titik mliter lainnya. Lumbung gandum pun takluk, padahal ini adalah benteng kuffar yang sangat kuat. Serangan mencekik Mujahidin semakin parah dengan takluknya gunung Tar. Maka datanglah perintah dengan cepat bagi pasukan Rusia yang berada di Tadmur untuk segera mundur. Kabar tentang mundurnya Wawancara Rusia dari peperangan bak petir yang menyambar Rafidhah dan Nushairi yang menganggap bahwa mereka tak akan terkalahkan dengan adanya bantuan pesawat, artilleri Rusia dan teropong penglihatan malam yang dibekali oleh mereka. Dikuasainya kota Tadmur adalah hal yang belum pernah diperkirakan sebelumnya, yang atas karunia Allah dan taufik-Nya bagi hamba-hamba-Nya dari kalangan Muwahidin hanya dalam jangka waktu empat hari saja kota ini berhasil ditaklukkan. Kekuatan pasukan Nushairi dan milisi-milisi Rafidhah runtuh dengan cepat di hadapan serangan mujahidin yang atas karunuia Allah menimpakan pada mereka kerugian yang amat besar. Sekitar 350 tentara rezim dan militan Rafidhah tewas dan luka-luka, 50 lainnya tertawan, satu pesawat tempur tertembak jatuh dan tiga pesawat hancur dihantam tembakan di hangar pesawat Bandara Militer T4. Sementara itu, mujahidin memperoleh rampasan perang lebih dari 50 unit tank, 28 meriam artileri dari berbagai kaliber, tujuh unit BMP, dan sejumlah sistem pelontar roket jarak jauh, empat pelontar roket ATGM, sejumlah roket Grad, roket ATGM Kornet, dan rudal tank, senapan mesin berat, serta banyak macam-macam amunisi. Segala puji bagi Allah atas karunia-Nya.

Tanya: Apa peran pasukan Istisyhadi dan In-ghimasi dalam penaklukan kota Tadmur dan peperangan setelahnya?

Jawab: Senjata mematikan setelah daya Allah dan kekuatan-Nya adalah amaliyah Istisyhadiyah. Pada hari ketiga peperangan, setelah taufik Allah operasi istisyhadiyah adalah senjata mematikan bagi kuffar dan selalu meneror mereka, dimana sang Kesatria Pemburu Syahadah, al-Akh Abu Bakar al-Khalidi –taqabbalahullah- mengendarai tank bermuatan material peledak menghajar lumbung gandum Tadmur, benteng kuffar yang paling kuat pertahanannya, tempat bermarkasnya milisi-milisi Syi’ah Fatimiyun Afghanistan dan Kataib Syuhada, serta pasukan lain yang dibimbing oleh komandan Rusia. Majunya sang istisyhadi membuat kuffar langsung mencari jalan kabur, namun al-Akh mendahului mereka dan menjadikan benteng mereka hancur berkeping-keping. Selang beberapa saat saja, Junud Khilafah pun sampai di ping- giran lumbung gandum, menyisir lokasi dari sisa pasukan musuh, dan maju ke perkebunan Tadmur bagian timur, sementara regu in-ghimasi berada di front gunung Tar dengan –meminta pertolongan dari Allah- maju ke arah targetnya untuk menaklukkan sejumlah pos taktis Nushairi di gunung dan sejumlah gudang senjata di Tadmur, menghimpit pasukan Nushairiyah di dalam kota dengan mengepungnya dari tiga arah dan menyisakan satu jalan sempit yang menuju distrik Dawah di utara.

Tanya: Setelah dikuasainya Tadmur, apa yang langsung dilakukan Mujahidin?

Jawab: Mujahidin memanfaatkan runtuhnya pertahanan Nushairi dan antek-anteknya untuk terus maju dari segala arah hingga sampai ke pinggiran bandara militer T4, dan setelahnya berhasil menguasai pos di persimpangan Qaryatain dan Masytal al-Hair, markas Batalyon Pertahanan Udara yang terletak di sekitar bandara dan menghimpit bandara dari tiga arah.

Tanya: Apa daerah-daerah penting yang dikuasai pasukan Daulah Islamiyah selama penyerangan?

Jawab: Di front barat laut kota Tadmur, ada distrik Huwaisis, Syair, Jazl, Jihar, Bukit Madfaiyah dan al-Abraj yang berada di sekitar distrik Jazl, ditambah gunung strategis yang terletak antara Jazl dan Syair. Di barat daya kota ada daerah Qashr Halabat, Gunung Hayan, yang membentang di sepanjang kota dan di atas jalur logistik pasukan rezim Nushairi. Dan di timur laut kota ada pos Irtawaziyah, bukit al-Burj dan al-Mahr, pos Irtawaziyah di sekitar Korporasi Gas Mahr yang terletak di timur bandara militer T4, barat Tadmur, 15 pos ‘checkpoint’ militer yang membentang antara Mahr dan Jihar, lumbung gandum Tadmur (yang dijadikan pasukan Rusia sebagai pos taktis dan pertahanan kuffar terkuat) dan juga 8 pos ‘chekpoint’ di sekitarnya, persimpangan Taliah timur kota. Dan di utara kota ada gunung strategis Tar juga gunung Antarah, gudang militer Tadmur, dan ini semua yang menyebabkan semakin terhimpitnya pasukan rezim Nushairi di dalam kota, dan dari arah selatan gunung strategis Hayan. Lalu dari arah barat Tadmur, ada markas Batalyon al-Mahjurah di timur laut bandara militer T4, setelahnya tibalah penaklukan Tadmur atas karunia Allah dan taufik-Nya pasca runtuhnya satu demi satu lini pertahanan kuffar akibat dikuasainya benteng Tadmur yang membentang atas seluruh kota dan juga bukit Amiriyah, komplek al Amiriyah utara kota, ditambah juga pintu masuk bagian timur kota hingga mengancam satu-satunya jalur logistik kuffar yang terkepung antara gunung Hayan dan Tar di barat laut dan barat daya kota yang dikuasai oleh mujahidin pada hari ketiga pertempuran. Dan dari barat kota Tadmur ada distrik Bayarat, Dawah, Segitiga Tadmur, sejumlah daerah dan kilang penting di antaranya adalah Korporasi Gas Mahr, kilang gas Jihar, kilang minyak Jazl dan sejumlah daerah yang berada di sekitarnya, serta Korporasi Gas Hayan. Akhirnya kota Tadmur berhasil diamankan secara sempurna setelah menguasai daerah hingga 40 km di barat kota. Wallilahil hamd. Hingga menghubungkan wilayah Hama dan kota Tadmur, sehingga front ribat mujahidin menjadi satu, dari Hama hingga Damaskus, dan jalan Internasional Tadmur-Damaskus. Pun persimpangan Jihar di timur bandara T4 dan sejumlah daerah serta benteng pertahanan kuffar di pegunungan yang terletak di utara bandara. 12 di antaranya di atas bukit yang menghubungkannya dengan Markas Batalyon Pertahanan Udara. Sementara di tenggara bandara, ada desa Marhiton, menara komunikasi Syriatel, ditrik Qashr al-Hair dan al-Masytal dekat distrik Baridah di selatan bandara militer T4, pun juga pos persimpangan yang menghubungkan antara kota Tadmur dan Qaryatain serta bandara T4. Di barat bandara juga ada desa Syarifah.

Tanya: Apa nilai nilai penting dan strategis Bandara Militer ini?

Jawab: Bandara T4 termasuk bandara militer terbesar di Syam, mampu menerbang landaskan pesawat-pesawat tempur dan pesawat bomber, juga dilengkapi dengan landasan pacu helikopter yang darinya operasi-operasi militer udara di atas langit pinggiran timur Homs mereka lancarkan. Bandara ini juga menjadi tempat pemberangkatan helikopter-helikopter logistik, lokasinya dekat dari kilang minyak dan gas alam di pinggiran timur Homs, memiliki peran selama bertahun-tahun dalam pertempuran melawan Daulah Islamiyah. Pasukan apapun yang hendak berusaha maju ke arah Tadmur akan diberangkatkan dari Bandara Militer ini.

Tanya: Apakah peran Shahawat–jika memang mereka ada di wilayah ini - dalam operasi-operasi militer di wilayah Homs dan sekitarnya?

Jawab: Sebagaimana kebiasaan mereka, Shahawat murtad bergerak untuk menolong saudara-saudara mereka dari kalangan Nushairi setelah pernyataan-pernyataan Amerika bahwa Rusia tidak akan mampu untuk menghadapai peperangan melawan Daulah Islamiyah. Amerika sangat bergantung dengan Shahawat yang mereka sebarkan di perbatasan imajiner guna bersiap melancarkan serangan pada Daulah Islamiyah untuk meringankan tekanan atas Nushairi. Shahawat bahkan meluncurkan operasi militer sandi Radd I’tibar dimana mereka menderita kekalahan telak beberapa bulan yang lalu di Qolamun timur. Waktu itu, Shahawat mengerahkan puluhan kendaraan tempur yang berangkat dari arah perbatasan imajiner di padang pasir Hamad asy-Syami, namun memasuki perangkap mujahidin berupa ladang ranjau yang menewaskan dan melukai sejumlah dari mereka, hingga akhirnya mereka mundur menuju pangkalan militer Amerika di kamp Rukban, markas yang dibuat untuk menjaga perbatasan Yordania. Serangan mereka tidak membuahkan hasil apapun. Alhamdulilah.

Tanya: Kenapa Korporasi Gas Hayan di pinggiran timur Homs diledakkan, dan apa nilai pentingnya kilang migas itu bagi Nushairi?

Jawab: Korporasi gas ini memproduksi lebih dari tiga juta meter Kubik gas alam per hari dan menjadi sumber ekonomi penting yang dimanfaatkan rezim Nushairi untuk menyokong operasi militer mereka. Di samping itu, kilang migas ini menyuplai energi listrik daerah selatan Syam, sehingga dengan menghancurkannya akan mengurangi sumber energi listrik dengan drastis di daerah kekuasaan rezim, belum lagi kerugian yang menimpanya dalam usaha mecari sumber energi pengganti.

Tanya: Bisa Anda ceritakan karamah dan pertolongan Allah dalam peperangan ini?

Jawab: Semua laporan menceritakan keruntuhan lini pertahanan pasukan Nushairi yang tidak pernah terbayangkan dalam waktu yang singkat meski adanya keberadaan pasukan Rusia dan partisipasi kuat milisi Rafidhah di daerah tersebut, penarikan Wawancara mundur pasukan musuh dalam skala besar, kondisi alam yang ekstrim, dan elevasi wilayah yang menyulitkan, khususnya di distrik Jazl yang dikenal dengan pegunungan yang besar dan banyak perbukitan itu, di samping persenjataan dan kekuatan militer yang ditempatkan Nushairi di daerah tersebut. Hanya dengan serangan-serangan kecil, mereka langsung melarikan diri, atas karunia Allah dan taufik-Nya untuk para mujahidin. Dan di sana terjadi kisah yang berperan besar setelah Allah azza wa jalla, dalam memporak porandakan barisan kuffar. Kami melihat pertolongan Allah dengan jelas, dimana al-Akh Istisyhadi bergerak maju dengan bom tanknya. Al-Akh bernama Abu Bakar al-Khair, menggempur lumbung gandum kota Tadmur, pertahanan kuffar terkuat di sekitar kota. Al-Akh bergerak maju selama 15 menit, melewati tanggul demi tanggul pertahanan musuh dan hujan bombardir mortir yang menargetkan kendaraaanya. Namun ia tetap maju, sementara Allah tetap menjaganya, hingga akhirnya ia mencapai target dan menghancurkan konsentrasi pasukan musuh dekat lumbung gandum. Asap tebal ledakan pun membumbung tinggi, bergerak hingga menutupi lumbung gandum. Setelahnya, asap tidak bergerak sama sekali, subhanallah, ia menutupi seluruh lumbung gandum dan tetap di tepatnya, menghalangi penglihatan kuffar. Setelahnya regu penyerang maju dan menguasai lumbung tersebut. Operasi ini memiliki peranan besar dalam serangan ofensif ikhwah mujahidin ke dalam kota dari arah komplek Amiriyah.

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 4, SELESAI)

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

JALAN KEMENANGAN (BAGIAN 4, SELESAI)
SYAIKH ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

Keenam; Merasa butuh dan tawadhu’ pada Allah

Firman Allah ta'ala: “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”. (QS. at-Taubah: 25).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ibnu Juraij berkata dari Mujahid, ‘Ini adalah ayat pertama yang turun dari surah al-Baraah (at-Taubah) yang Allah ta'ala menyebutkan karunia-Nya atas kaum muslimin dan kebaikan-Nya kepada mereka, dengan menolong mereka dalam banyak kesempatan pada ghazwah mereka bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa semua itu adalah dari sisi Allah ta'ala dengan sokongan dan takdir-Nya, bukan dengan jumlah dan perbekalan mereka. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan adalah dari sisi-Nya baik berjumlah sedikit maupun banyak. Karena pada Perang Hunain mereka disilaukan dengan banyaknya jumlah. Meskipun demikian, ternyata jumlah yang banyak itu tidak ada manfaatnya sedikitpun. Mereka kabur kocar kacir sampai tinggal sedikit saja yang tetap bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah mewahyukan padaku bahwa hendaknya kalian bersikap tawadhu”.

Ibnul Qoyim rahimahullal berkata: “Sungguh hamba senantiasa membutuhkan Allah sekalipun berlumuran dosa adalah lebih baik daripada tak pernah salah namun ujub”.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: “Tidaklah seorang bersikap tawadhu karena Allah melainkan Allah akan memuliakannya”.

Kemuliaan di dunia ini adalah dengan kemenangan, keberuntungan dan reputasi yang baik, sedangkan di akhirat adalah dengan tingginya derajat dan kedudukan yang terpuji.

Ibnu Bathal rahimahullah berkata: “Aisyah radhiyallahu anha berkata, ‘Sungguh kalian melalaikan ibadah yang paling utama, yaitu tawadhu’.”

At-Thabari rahimahullah berkata: “Tawadhu adalah bagian dari ujian yang Allah timpakan kepada hambanya yang beriman, agar Ia melihat bagaimana ketaatan mereka kepada-Nya dalam menyikapi ujian ini. Karena Allah ta'ala mengetahui mashlahat penciptaan hal itu, baik mashalat di duniai maupun nanti ketika di akhirat”. Beliau melanjutkan: “Diantara contoh tawadhu adalah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memasuki Makkah, orang-orang berseru, ‘Inilah beliau, inilah beliau’. Maka beliau pun membungkukkan punggungnya di atas tunggangannya dan bersabda: “Allah Mahatinggi dan Mahamulia”.

Ath-Thabari melanjutkan lagi: “Dari Thariq bin Syihab berkata: ‘Ketika Umar sampai di negeri Syam, ternyata ia harus menyeberangi sebuah sungai, maka Umar turun dari untanya, melepaskan sepatunya dan memegang keduanya dengan tangannya sendiri lalu menyeberang sambil menuntun untanya. Maka Abu Ubaidah berkata, ‘Sungguh hari ini engkau telah melakukan satu hal besar menurut penduduk setempat’. Umar pun menepuk dada Abu Ubaidah dan berkata, ‘Kalau saja bukan engkau yang mengatakannya wahai Abu Ubaidah. Sungguh dahulu kalian adalah orang-orang rendah lagi terhina, lalu Allah memuliakan kalian dengan Islam, maka ketika kalian mencari kemuliaan selain Islam, Allah akan menghinakan kalian’”.

Ketujuh: Mengingat Allah

Allah ta'ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. al-Anfal: 45).

At-Thabari berkata: “Dan perbanyaklah mengingat Allah ta'ala. Maknanya adalah berdoalah kepada Allah dan mintalah kemenangan atas mereka, serta sibukkanlah lisan dan hati kalian dengan mengingat-Nya agar kalian beruntung”.

Dari at-Thabari, dari Qotadah berkata: “Allah tetap mewajibkan mengingat-Nya dalam kondisi kalian yang paling sibuk sekalipun, yakni ketika menyabetkan pedang”.

Al-Qurthubiy menyebutkan perkataan bagus dalam tafsir ayat ini, dia berkata: “Ada tiga pendapat ulama dalam hal ini (dzikrullah):

Pertama; ingatlah Allah ketika hati kalian gundah, karena mengingat Allah dapat membantu untuk tetap teguh ketika menghadapi ujian yang bertubi-tubi.

Kedua; teguhkan hati kalian dan ingatlah Allah dengan lisan-lisan kalian. Karena hati itu tidak tenang dan lisan guncang ketika bertemu musuh, sehingga diperintahkanlah untuk terus berdzikir sampai hati itu teguh lagi yakin, lisan tetap mengingat Allah dan mengucapkan apa yang diucapkan oleh pasukan Thalut: {Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami, teguhkan pijakan kami dan tolonglah kami melawan orang-orang yang zalim}. Keadaan ini tidak akan terjadi kecuali dengan kuatnya ma’rifatullah dan tajamnya bashirah, dan inilah keberanian yang terpuji.

Ketiga; ingatlah akan janji Allah pada kalian, yaitu bahwa Dia telah membeli jiwa kalian dan dan membayarnya dengan pahala berlipat. Saya katakan bahwa ketiga hal itu bisa saja merupakan maksud dari dzikrullah, maka ia mengingat Allah dengan lisannya, hatinya merasakan keberanian, sembari ingat janji Allah akan kemenangan di dunia dan surga di akhirat. Firman Allah ta'ala pada Musa dan Harun: “Dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku”. (QS. Thaha: 42). Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maksudnya bahwa mereka berdua tidak terputus mengingat Allah ketika menghadapi Firaun, agar dzikrullah menjadi penolong dan menjadi kekuatan bagi mereka berdua serta menjadi kekuatan yang tak terpatahkan oleh Firaun”. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Hamba-Ku adalah setiap hamba yang mengingat-Ku meskipun sedang bertempur melawan musuhnya”.

Ketahuilah bahwa dzikrullah ketika bertempur dilakukan secara sirr karena disebutkan oleh al-Hakim dan dishahihkannya dari Abu Musa radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membenci bertempur sambil bersuara.

Kedelapan; Doa

Allah ta'ala berfirman: “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Rabbku tidak mengindahkan kamu, jikalau bukan karena doamu”. (QS. al-Furqan: 77).

Juga firman-Nya: “Maka serulah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya”. (QS. Ghafir: 65)

Dia juga berfirman: “Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. al-A’raf: 56)

Demikian juga firman-Nya: “Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

Serta firman-Nya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqarah: 186).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Doa adalah ibadah”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hakim dan yang lainnya: “Tidak ada suatu apapun yang lebih mulia bagi Allah selain dari doa”. Beliau juga bersabda: “Siapa yang tidak meminta pada Allah, niscaya Dia akan murka padanya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kemenangan dan rizki dapat diperoleh dari berbagai sebab, sebab yang terkuat adalah doa orang-orang yang beriman”. Beliau juga berkata: “Tatkala Allah menetapkan kemenangan pada Perang Badar dan Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkannya kepada para sahabat sebelum terjadi juga memberitahu tempat-tempat terbunuhnya orang-orang musyrik; salah satu sebab hal itu adalah permohonan dan doa Nabi shallallahu alaihi wasallam".

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tatkala beliau melihat banyaknya musuh dan kuatnya mereka, serta sedikitnya para sahabatnya dan lemahnya mereka, beliau segera menghadap kepada satu-satunya Dzat Pemilik Kemenangan: “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali ‘Imran: 126). Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari al-Faruq Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu berkata: “Tatkala Perang Badar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat kepada kaum musyrikin yang berjumlah seribu orang sedangkan sahabatnya hanya berjumlah 319 orang, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadap kiblat, kemudian beliau menengadahkan tangannya dan menyeru Rabbnya: “Ya Allah, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika Engkau binasakan sekelompok kecil dari pemeluk Islam ini, Engkau tidak lagi disembah di bumi ini”. Beliau terus menerus berbuat demikian sampai selendangnya jatuh dari pundaknya”. Beliau juga berdoa untuk kebinasaan orang-orang musyrik secara umum, beliau berdoa sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih: “Ya Allah yang menurunkan al-Qur’an, Yang Mahacepat hisab-Nya, hancurkan persekutuan musuh ini. Ya Allah, kalahkanlah mereka dan goncangkanlah mereka”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengkhususkan beberapa personel dan pemimpin mereka. Dalam hadits shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadap Ka’bah lalu berdoa untuk kebinasaan sekelompok Quraisy, yakni; Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, al-Walid bin Utbah dan Abu Jahal bin Hisyam. Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku melihat mereka bergelimpangan, jasadnya berubah terkena terik matahari”.

Ketahuilah wahai wali Allah, sungguh engkau berada di satu kondisi dari sekian kondisi dikabulkannya doa. Dari Sahal bin Saad as-Sa’di berkata sebagaimana disebutkan dalam al-Muwattha: “Ada dua waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan amat sedikit ketika itu orang yang berdoa namun doanya ditolak; saat panggilan sholat adzan dan ketika berbaris (berhadapan dengan musuh) di jalan Allah”.

Maka wahai Mujahid, manfaatkalah sebaik-baiknya waktu-waktu dikabulkannya doa, seperti pada hari Jumat, ketika adzan, pada waktu turun hujan, dan di sepertiga malam terakhir. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam di sepertiga malam terakhir, Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapa yang meminta pada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang meminta ampunan-Ku niscaya Aku ampuni dia”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Siapa yang meminta rizki pada-Ku niscaya Aku berikan rizki padanya, siapa yang meminta dijauhkan dari derita niscaya Aku jauhkan darinya”.

Sungguh saya sangat berharap pada Allah agar Dia tidak menghalangi terkabulkannya doa kita, apalagi kita telah dizalimi oleh orang dekat maupun jauh dan seluruh dunia telah berkumpul untuk memerangi kita. Ada berita gembira untuk kalian dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika bersabda kepada Muadz: “Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzalimi, karena sungguh tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah”.

Inilah Nabi yang teraniaya, dia didustakan lalu berdoa, lalu bagaimanakah jawaban doanya? Allah ta'ala berfirman: “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). Maka dia mengadu kepada Rabbnya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku”. (QS. al-Qomar: 9-13).

Kemudian ketahuilah wahai Mujahid, bahwa diantara jalan kemenangan adalah adanya orang-orang lemah di barisan kita yang mendoakan untuk kemenangan kita, dalam hadits shahih disebutkan dari Ibnu Abbas berkata: “Abu Sufyan telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Kaisar Romawi berkata padaku, ‘Aku bertanya padamu apakah para bangsawan yang mengikuti Muhammad ataukah orang-orang lemah, lalu kamu menjawab orang-orang lemah, dan merekalah pengikut para Rasul’”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Saad radhiyallahu anhu: “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya orang-orang yang lemah di antara kalian”.

Hadits ini menjelaskan anjuran untuk memperhatikan orang-orang lemah dari kalangan mujahidin dan yang selain mereka dari kalangan perempuan, anak-anak dan orang-orang tua, karena pada umumnya mereka itu lebih ikhlas dalam berdoa, lebih khusyu’, dan lebih menampakkan kebutuhan kepada Allah.

Sebagai penutup, saya ingatkan akan firman Allah ta'ala: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (QS. Ali Imran: 200), dan firman-Nya: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. al-Maidah: 23), serta firman-Nya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. an-Nahl: 128), juga firman-Nya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. al-Hajj: 40), serta firman-Nya: “Hai orangorang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.(QS. al-Anfal: 45). Inilah jalan kemenangan sesuai yang tersebut dalam kitab Allah, pegang teguhlah dengan erat.

Terakhir, sebab dirilisnya tema ini adalah karena musuh telah mengumumkan –meskipun mereka cuma berdusta– bahwa jumlah korban mereka di Irak mencapai empat ribu jiwa. Sepantasnya kita merayakan peristiwa ini dengan cara kita sendiri dan kita undang si bodoh Bush untuk menghadiri perayaan kita. Kami minta kepada para pahlawan Daulah yang kita cintai, agar setiap detasemen membawakan kepala orang Amerika, sebagai hadiah bagi si Dajjal Bush dengan cara apapun yang sesuai menurut mereka. Tidak lupa juga kepala pelayan-pelayan dan budak hina serta agen rendahan dari kalangan shahawat murtad. Semua itu dilaksanakan dalam waktu paling lama sebulan setelah tiap detasemen diberi tahu. Pahala operasi ini kita hadiahkan kepada kalangan awam muslimin yang terbunuh secara teraniaya dan lalim di Zanjili, Ba’qubah, Duwalibah dan tempat-tempat lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Amru bin al-Ash: “Jika ayahmu mengikrarkan tauhid, lalu kamu berpuasa atau bersedekah atas namanya, niscaya hal itu akan bermanfaat untuk ayahmu”.

Adapun operasi ini dilaksanakan dengan sandi Ghazwatul Birr.

Kami sangat berharap pada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang agar mengampuni keluarga kita, khususnya mereka yang tidak berada dalam barisan mujahidin dan orang-orang – yang tidak diragukan – lagi mati membawa dosa besar karena meninggal kewajiban yang telah menjadi fardhu ‘ain atas mereka.

Kita meminta pada Allah agar memberi petunjuk kepada umumnya kaum muslimin dan agar mengembalikan mereka kepada panji kebenaran dan Din ini. Allah Maha Menang atas perkara-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Saudara kalian,
Abu Hamzah al-Muhajir

LOYALITASMU WAHAI MUSLIMAH

RUMIYAH 6 - MUSLIMAH

LOYALITASMU WAHAI MUSLIMAH

Tidak diragukan lagi bahwa kembalinya Khilafah diiringi dengan syariat-syariat yang tegak telah menghidupkan kembali pelita dalam benak para wanita. Para muslimah yang hidup dalam naungan Daulah kita telah mulai mengerti banyak dari perkara Dien dan kewajiban yang telah dibebankan oleh Rabb seluruh alam. Khususnya dalam perkara tauhid yang telah sangat terkotori dalam kungkungan negeri syirik.

Tali Iman Yang Paling Kokoh

Ketahuilah wahai muslimah bahwa Islam itu berarti berserah taat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya serta berlepas diri dari syirik dan pemeluknya. Wala wal bara itu menurut ijma’ adalah dua prinsip Islam dan keduanya juga bagian dari syahadat la ilaha illallah. Seseorang itu tidak disebut muslim sampai ia berlepas diri dari kekafiran dan pemeluknya sekalipun orang terdekatnya.

Mungkin engkau berkata; Namun aku telah berwala kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, buktinya aku tinggal di Darul Islam dan aku bersukacita dengan syariat Rabb semesta alam. Ketahuilah bahwa loyal kepada orang-orang kafir itu tidak hanya berupa membantu mereka atas kaum muslimin, akan tetapi menyembunyikan rasa suka dan membenarkan mereka itu juga bagian dari loyalitas. Cinta dan rasa suka itu tempatnya di hati dan hati adalah tuan dari seluruh anggota tubuh.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari al-Barra bin ‘Azib radhiyallahu anhu ia berkata, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, ‘Tali Islam apa yang paling kokoh? Para sahabat menjawab, ‘Shalat.’ Sabdanya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ Para sahabat menyahut, ‘Zakat.’ Jawabnya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ ‘Puasa Ramadhan,’ sahut mereka. Jawabnya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ ‘Haji’, sahut mereka lagi. Jawabnya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ Mereka menyahut lagi, ‘Jihad.’ Jawabnya, ‘Bagus, tapi bukan itu.’ Lalu sabdanya, ‘Sesungguhnya tali iman yang paling kokoh adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah.’

Sulaiman Alu Syaikh rahimahullah berkata, “Dien tidak akan sempurna dan panji jihad serta amar makruf nahi mungkar tidak akan tegak tanpa cinta dan benci karena Allah pun loyalitas dan permusuhan karena-Nya. Seandainya semua orang itu saling mencintai tanpa ada kebencian dan permusuhan niscaya tidak akan ada pemisah antara kebenaran dan kebathilan, antara orang-orang mukmin dan kafir, serta antara wali Allah dan wali setan.” [ad-Durar as-Saniyah].

Permusuhan Memisahkan Antara Kami dan Kalian

Tidak ada loyalitas tanpa permusuhan. Memang betul engkau telah tinggal diantara para muwahhid dan loyalitasmu kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, namun apakah engkau telah berlepas diri dari musuh-musuh Allah dan Dien?

Mungkin ada diantara daftar kontak teleponmu yang mencaci Daulah Islam dan memusuhi pejabat-pejabatnya baik ia keluarga, kerabat, maupun teman-temanmu. Mungkin sebagian obrolanmu dengan kerabatmu itu berisi secuil permusuhan dan kebencian kepada Khilafah dan prajuritnya, Allah Mahatahu, namun engkau tidak merasa risih apalagi peduli. Bahkan mungkin saja ada yang memprovokasimu untuk meninggalkan Darul Islam dengan alasan perang atau alasan-alasan menggelikan lain.

Engkau mengetahui semua ini namun engkau diam saja, malah menyukai orang-orang seperti mereka tidak memarahi mereka karena Dien dan akidahmu. Bahkan engkau marah-marah jika suamimu melarangmu berhubungan dengan orangorang seperti mereka karena bagimu mereka itu tak lebih dari teman saja.

Kaum Muslimin Memboikot Sahabat Karena Tertinggal Dari Ghazwah

Salaf telah memberi contoh terbaik tentang wala wal bara. Inilah Kaab bin Malik yang tidak mengikuti Ghazwah Tabuk tanpa uzur, Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memerintahkan dengan jelas seterang mataha- ri untuk memboikotnya dan orang-orang sepertinya. Kaab radhiyallahu anhu menceritakan kisahnya sendiri sebagaimana termaktub dalam Shahih Bukhari, “Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Orang-orang pun menjauhi kami. Bumi yang ku injak telah berubah, tidak sama lagi seperti sebelumnya. Keadaan itu terus berlangsung selama lima puluh hari. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.

Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. ‘Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?, tanya hatiku. Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku.

Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, “Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya? la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat, ‘Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.’ Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan.”

Keadaan terus berlangsung demikian. Kaum muslimin memboikotnya sampai Allah menerima taubatnya dan kedua temannya itu. Perhatikanlah wahai muslimah, lihatlah bagaimana kaum muslimin memboikot Kaab karena menaati perintah Nabinya. Apakah tindakan Kaab radhiyallahu anhu itu sama dengan tingkah para qo’idun sekarang? Sekali-kali tidak, para qo’idun itu tidak hanya duduk-duduk dan tidak menolong kebenaran, bahkan ada yang jika disebut jihad dan pelakunya langsung keluar kata-kata pedas dari mulutnya!

Dienullah Lebih Dicintai Daripada Bapaknya

Betapa terpujinya Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu anhu ketika bapaknya si gembong munafik itu berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” (QS. al-Munafikun: 8), kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk kembali ke Madinah, maka Abdullah menghalang-halangi bapaknya di pintu kota berkata, “Aku tidak akan membiarkanmu sampai engkau mengaku bahwa engkaulah yang lemah dan Muhammadlah yang kuat.”

Betul, begitulah wala wal bara ketika telah terwujud dalam gambarannya yang paling bersinar. Disinilah pemisahan ketika garis merah tauhid dan akidah dilanggar. Tidak ada kecintaan dan kecondongan jika menyangkut perkara Dien!

Adapun Ummul Mukminin Ummu Habibah radhiyallahu anha telah mengajari kita wala wal bara dengan contoh yang tidak ada duanya. Dari az-Zuhri berkata, “Ketika Abu Sufyan sampai di Madinah dan Nabi shallallahu alaihi wasallam telah berniat untuk menyerbu Makkah, ia datang untuk bernegosiasi soal memperpanjang waktu pernjanjian damai. Nabi tidak menerimanya. Maka dia pergi ke rumah putrinya Ummu Habibah. Ketika hendak duduk di kasur Nabi shallallahu alaihi wasallam putrinya itu langsung mengambil dan melipat kasurnya. Maka katanya, ‘Wahai putriku, apakah engkau tidak suka aku duduk di kasur itu atau bagaimana? Jawabnya, ‘Itu adalah kasur Rasulullah sedangkan engkau itu seorang musyrik najis.’ ‘Wahai putriku, sungguh engkau telah tertimpa kejelekan’, kata Abu Sufyan terperangah.” [Siyaru A’lam an-Nubala].

Derajat Hijrah Fisabilillah

Sebagai penutup; Wahai muslimah, kami tidak memprovokasimu untuk meninggalkan keluarga dan kerabatmu kecuali yang telah jelas murtad bagimu lantaran perkataan atau perbuatan yang mengeluarkan dari millah. Yang demikian itu harus diboikot dan berlepas diri darinya, yaitu seperti menolong musuh walaupun dengan satu kalimat saja, mendoakan agar Daulah Islam binasa dan kalah dalam melawan musuhnya, berangan-angan akan hilangnya syariat berganti den- gan undang-undang positif buatan, atau tindakan lain yang membatalkan Islam dan iman. Adapun selainnya maka ia diboikot sesuai dengan kadar kesesatan dan maksiatnya.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.