Jumat, 27 April 2018

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 1)

JIHAD DENGAN DOA (BAGIAN 1)

Doa adalah senjata tahan lama yang kuat lagi ampuh, dengannya mushibah disingkapkan dan kehancuran ditahan, dengannya pula seorang mu’min menolak bala’ dan melawan makar para musuh, dengannya juga ditetapkan ni’mat dan dihilangkan dendam, dengannya terlepaslah kegelisahan dan lenyaplah kegundahan, dan doa adalah ciri khusus tanda ‘ibadah. Bahkan, sungguh doa adalah ibadah itu sendiri. Maka di dalam doa tersebut terdapat kesempurnaan cinta dan kesempurnaa merendahkan diri pada Alloh yang Maha esa, Maha bijaksana, Maha adil.

Di dalam doa seorang hamba berbisik kepada Robb-nya, dia mengakui kelemahan dan kekurangannya sendiri. Doa adalah penghibur bagi hati, obat bagi dada, salep bagi luka dan mempermudah segala urusan. Doa adalah penjaga yang kuat dan benteng yang menahan, dan tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Alloh selain doa, dan manusia yang paling lemah adalah yang paling lemah dari doa.

Doa adalah ibadah yang mudah, sangat mudah dilakukan pada waktu malam maupun siang, dapat dilaksanakan di darat maupun di laut, dan disyariatkan dalam keadaan menetap maupun dalam keadaan safar. Orang-orang yang berdoa lari menuju Dzat Yang Maha penyayang, Maha pengasih lagi Maha mengetahui, dan mereka bergantung kepada Robb mereka yaitu Yang Maha Penguasa dan Maha suci lagi Maha pemberi keselamatan. Maka engkau lihat mereka ketika ber-doa, mereka menyandarkan diri di hadapan Dzat Yang paling mulia. Mereka memutuskan hubungan mereka dengan alam dan menghadap kepada Robb semesta alam, berlepas diri dari memelas kebutuhan pada manusia dan pemberian mereka, meikhlaskan diri kepada Robb mereka dalam permohonan mereka, dan sangat menginginkan karunia-Nya atas diri mereka…

Inilah dia doa, betapa seorang muslim sangat membutuhkannya pada hari-hari ini, di mana setiap umat kuffar dengan agama-agama dan sekte-sekte mereka mengeroyok jama’atul muslimin! Maka hendaknya seorang mujahid di jalan Alloh mengetahui urgensi senjata ini, sangat memperhatikannya, wajib menekuninya dan meninggalkan keterikatan kepada selain Alloh Yang Maha mendengar lagi Maha Mengabulkan. Demikian juga setiap muslim dan muslimah harus bersekutu di dalam memerangi musuh Alloh dengan menggunakan senjata yang Robbani yang efektif ini. Besabda Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam, “Perangilah orang orang musyrik dengan sungguh-sungguh menggunakan harta-harta kalian dan diri kalian dan lisan-lisan kalian.” [hadits shohih riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i]

Dan tidaklah jihad dengan lisan itu sekedar terbatas kepada pengobaran semangat untuk jihad, memuji mujahidin, mencela orang-orang yang duduk dari medan jihad dan menghina orang-orang kafir, akan tetapi, sesungguhnya bagian dari jihad menggunakan lisan yang paling mulia adalah doa. Dikarenakan seorang muslim melantunkan doa untuk kekalahan orang-orang musyrik dan melantunkan doa kemenangan bagi ummat islam.

Dapat ditegaskan bahwa jihad dengan doa adalah jenis jihad bagi yang belum dimudahkan oleh Alloh untuk melakukan peperangan di-jalan-Nya karena salah satu dari ‘udzur-‘udzur syar’I seperti wanita, orang sakit, orang tua dan yang terhalang, maka mereka itu wajib untuk melantunkan doa untuk para petempur di jalan Alloh. Karena ketika Alloh memberikan udzur bagi mereka dari berperang, Dia mensyaratkan agar udzur mereka diterima dengan berlaku setia pada Alloh dan rosul-Nya, di antaranya adalah dengan doa untuk wali-wali Alloh, para pengikut rosul-Nya. Alloh ta’ala berfirman: “Tidak ada dosa (karena tidak berperang) bagi orang lemah, orang sakit dan orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infaq-kan, apabila mereka berlaku setia kepada Alloh dan Rosul-Nya. Tidak ada alasan apapun untuk menyalahkan orang yang berbuat baik, Dan Alloh maha pengampun lagi Maha penyayang.” [At-Taubah: 91].

Bahkan sesungguhnya doa dari para orang-orang lemah tersebut merupakan salah satu sebab terbesar dari pertolongan atas umat islam dan kehancuran orang-orang kafir. Sebagaimana sabda shollallohu ‘alayhi wasallam: “Bukankah kalian ditolong dan diberi rizqi kecuali karena orang-orang lemah kalian” [diriwayatkan oleh al-Bukhori].

Dan pada riwayat an-Nasa’i: “Sungguh Alloh hanya menolong umat ini dikarenakan orang lemahnya, yaitu karena doa mereka, sholat mereka dan ikhlash mereka”.

Dan berkata Ibnu Hajar al-’Asqolani: berkata as-Suhaili: “jihad terkadang menggunakan senjata dan terkadang menggunakan doa.” [Fathul Bari].

Dan hal ini termasuk perkara yang jelas lagi tetap, Namun pada hari ini ada sebagian orang yang terguncang lagi terpukul, yaitu orang-orang yang menyerah pada berhala teknologi militer dan tunduk di hadapan kemenangan kampanye salibis atas Daulah Islamiyah. Mereka telah meninggalkan doa, seakan-akan mereka tidak mendapatkan manfaat dari doa tersebut. Wal ‘iyadzu billah!

Dan itu adalah jalan yang salah di antara sebagian manusia, sesungguhnya hal tersebut hanya dikarenakan kebodohannya terhadap senjata ini, Sesungguhnya kalau saja mereka mengetahui pentingnya doa, kehebatan efeknya, cara dan adabnya, serta mendengar bagaimana Alloh mengabulkan doa hamba-Nya, mereka tidak akan meninggalnya dan bergantung pada selainnya.

Dan wajib bagi hamba untuk mengetahui bahwa pada doa terdapat beberapa buah dan banyak fadhilah yang tidak layak untuk dibatasi, diantaranya :

1. Sesungguhnya doa adalah pelaksanaan bagi perintah Alloh ‘azza wa jalla, Alloh berfirman: “dan berdoalah kalian pada-Nya dengan mengikhlaskan diin hanya pada-Nya.” [al-A’rof: 29].

“dan berdoalah kalian padanya dengan rasa takut dan penuh harap.” [Al-A’rof: 56].

“Berdoalah kalian kepada Robb kalian dengan rendah diri dan rasa takut.” [Al-A’rof: 55].

2. Dan sesungguhnya didalamnya terdapat kesempurnaan tawakkal dan kerendahan dan ketawadhuan bagi Alloh ta’ala. Allah berfirman: “Dan telah berkata Robb kalian, ‘berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku kabulkan bagi kalian, sesungguhnya orang-orang yang menyobongkan diri dari berdoa kepadaKu mereka akan masuk kedalam neraka dalam keadaan hina’.” [Ghafir: 60].

3. Dan diantaranya pula: doa adalah sebab tertolaknya bala’ (hal buruk) sebelum turun terhadap hamba, sebagaimana sabda shollallohu ‘alayhi wasallam: “dan tidaklah ada yang dapat menolak qodar (taqdir) kecuali doa.” [Hadits hasan riwayat ibnu majah dan ibnu hibban dan ibnu hakim].

[Barangsiapa yang diudzur oleh Alloh dari jihad, maka tidak ada udzur baginya untuk meninggalkan doa bagi para mujahidin agar mereka tetap teguh dan mendapat kemenangan]

4. Dan selain itu doa dapat mengangkat bala’ setelah ditimpakannya terhadap hamba, sabda shollallohu ‘alayhi wasallam: “tidak akan bermanfaat kehati-hatian untuk menghindari takdir, dan doa bermanfaat terhadap apa yang sudah diturunkan dan apa-apa yang belum turun, dan sesungguhnya bala’ benar-benar akan turun dan kemudian bertemu dengan doa, lalu keduanya saling berbenturan hingga hari kiamat.” [hadis hasan riwayat al-Hakim].

5. Dan diantaranya pula, sesungguhnya doa tersebut sebab tercapainya hal yang diminta dari doa itu sendiri, Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim melantunkan satu doa yang didalamnya tidak terdapat dosa atau pemutus kekerabatan, kecuali Alloh akan memberikan padanya salah satu dari yang tiga : bisa jadi Alloh mempercepat baginya doanya, bisa jadi Alloh akan mengakhirkannya di akhirat, dan bisa jadi juga Alloh akan menjauhkannya dari hal buruk yang semisalnya.” [hadits shohih riwayat Ahmad dan al-Hakim]

Beginilah doa, sunggu ia memiliki urgensi yang agung!

Dan bisa jadi dari pentingnya buah doa adalah dia termasuk sebab keteguhan dan pertolongan dan kemenangan atas musuh, dan hal tersebut sudah termaktub dalam al-Qur’an dan sunnah yang mutawatir dari sejarah Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam, dan sejarah para shohabat rodhiyallohu ‘anhum dan dari tapak tilas para generasi as-salafush sholih rohimahumulloh, maka dalam kisah peperangan Tholut dan tentaranya yang mu’min dengan Jalut dan tentaranya yang kafir, apa yang dilakukan orang-orang mu’min pada saat itu dan apa pula akibatnya? Alloh berfirman: “dan ketika mereka sudah bertemu dengan Jalut dan tentara-Nya, mereka berkata (berdoa), ‘wahai Robb kami, limpahkanlah pada kami kesabaran, teguhkanlah kaki kami dan tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir’.” [al-Baqoroh: 250].

Doa yang dilantunkan para muwahhidin sebelum dan ketika melakukan bertempur dengan orang-orang musyrik. Maka Alloh pun mengabulkan bagi mereka dengan seketika, Alloh berfirman, “maka mereka mengalakan orang-orang kafir dengan izin Alloh.” [al-Baqoroh: 251].

Dan dalam peperangan badar kubra, Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam berdiri pada malam badar, belaiu sholat dan memperbanyak doa dalam sujudnya dan beliau meminta pertolongan kepada Alloh [al Bidayah wa An Nihayah]. Dan ketika tiba hari badar Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam memperhatikan para shahabatnya dan jumlah mereka tiga ratus lebih sedikit, dan beliau memperhatikan orang-orang musyrik yang mana jumlah mereka lebih dari seribu, kemudian beliau menghadap kiblat dan berkata, “Ya Alloh, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, Ya Alloh datangkanlah apa yang engkau janjikan kepadaku, Ya Alloh seandainya engkau hancurkan kelompok kecil dari Ahlul Islam ini, tidak ada yang beribadah kepadamu lagi dibumi ini.” [Riwayat Muslim].

Adapun keadaan para shohabat dalam perang badar, maka Alloh telah benar-benar mensifati mereka dengan sifat mereka selalu berharap pertolongan pada Alloh dan berdoa kepada-Nya. Dia berfirman, “ingatlah ketika kalian memohon pertolongan kepada Robb kalian maka Dia mengabulkan hal tersebut bagi kalian.” [Al Anfal: 9].

Dan setelah doa dari Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam dan para shohabat rodhiyallohu ‘anhum maka apakah hasilnya? Alloh memberikan bantuan rombongan seribu malaikat, Dia menurunkan ketenangan atas mereka, meneguhakan kaki mereka, meliputi mereka dengan ketenteraman berupa rasa kantuk, Dia turunkan bagi mereka air bersih dari lngit yang dengannya Dia mensucikan mereka, menjauhkan gangguan syetan dari mereka, Dia ikat hati mereka dan Dia melemparkan rasa takut kedalam hati orang-orang musyrik, maka mereka pun mengalahkan orang-orang musyrik itu dengan izin Alloh. (Lihat An-Anfal: 9-11)

[Dan termasuk dari sunnah adalah sepatutnya seorang mujahid berdoa bagi dirinya dan bagi saudaranya seiman, sebelum perang, ketika berperang dan setelah peperangan usai]

Dan juga dalam pertempuran Ahzab (perang Khondaq), ketika orang-orang musyrik mengepung madinah dengan pengepungan yang sangat dahsyat, dan muslimin semakin merasakan lapar, haus dan takut, sementara mereka didatangi oleh musuh mereka dari atas dan bawah mereka sehingga seakan-akan hati mereka naik hingga kerongkongan, Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam pun memohon kepada Robbnya dan merintih dengan doa, dan salah satu doa yang beliau (sholawatulloh wa salamuhu ‘alayh) lantunkan ketika berada pada tepi parit, beliau berkata, “Ya Alloh, seandainya bukan karena Engkau, tidaklah kami ini mendapat hidayah, tidaklah kami ini shodaqoh dan tidaklah kami ini sholat, maka turunlah ketenangan pada kami, dan teguhlah kaki kami ketika kami bertemu musuh, sesungguhnya para musuh telah berkhianat atas kami, jika mereka menginginkan fitnah maka akan kami abaikan.” [diriwayatkan oleh al-Bukhori].

Dan doa beliau ketika terkepung, “Ya Alloh Yang telah menurunkan kitab, Yang menjalankan awan dan Yang menghancurkan golongan kafir, hancurkalah mereka dan tolonglah kami atas mereka.” [diriwayatkan oleh al-Bukhori dan Muslim].

Adapun kaum muslimin, mereka telah bertanya pada Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam, dengan apa mereka berdoa kepada Robb mereka, maka dari Abi Sa’id al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “kami berkata pada hari khandaq : wahai Rosululloh, adakah sesuatu yang dapat kami katakan (berdoa)? Maka sungguh hati telah mencapai kerongkongan, beliau bersabda : “Ya ada, ‘Ya Alloh tutuplah aurat kami, dan gantilah rasa takut kami dengan rasa aman’.” [diriwayatkan oleh Ahmad].

Maka apakah yang tercapai setelah dipanjatkannya doa yang berkah ini!? Bertiup angin topan pada malam yang gelap, pos-pos kaum musyrikin terbalik dan kemah-kemah mereka tercabut dari tempatnya, penerangan mereka padam dan jalan-jalan mereka terhambat, maka tidak ada jalan bagi mereka kecuali mereka harus mundur, maka terhadap hal tersebut Alloh berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman ingatlah kalian atas ni’mat Alloh atas kalian ketika telah dating kepada kalian bala tentara, maka Aku kirimkan atas mereka angin dan tentara yang tidak bisa kalian lihat, dan Alloh maha melihat apa yang kalian lakukan.” [al-Ahzab: 9]

Maka kepada para muslimin yang lemah di setiap tempat, wajib atas kalian untuk doa, wajib atas kalian untuk doa, wajib atas kalian untuk doa, Lantunkan doa kalian semua kepada Alloh dalam keadaan yaqin dikabulkan, niscaya Alloh peenuhi janji-Nya, dan Dia akan menghancurkan golongan kafir sendirian, dengan daya dan kekuatan-Nya, pasti dan bukan setengah yaqin!

An-Naba Edisi 42

MANUSIA YANG PALING BESAR KEIMANANNYA

MANUSIA YANG PALING BESAR KEIMANANNYA

“Kaum Yang Datang Setelah Kalian, Yang menemukan Lembaran-lembaran Yang Mereka Imani”

Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, sholawat dan salam senantiasa tercurah atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang datang setelahnya. Wa ba’du.

Barang Siapa Yang Gurunya Adalah Kitab Maka Benarnya Lebih Banyak Daripada Salahnya.

Benar, jika kitabnya adalah sebuah kitab, “Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushilat: 42).

Sebuah kitab yang, “Tidak terdapat keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa.” (QS. al-Baqarah: 2).

Sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah kepada hamba-Nya, “Dan Dia tidak menjadikannya bengkok.” (QS al-Kahfi: 1).

Sebuah kitab, “(yaitu) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci dari sisi Rabb yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1).

Sebuah kitab yang, “Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an (ummul kitab) dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.” (QS. Ali Imran: 7).

Sebuah kitab yang seandainya, “berasal dari selain Allah, niscaya akan mendapat berbagai pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa: 82).

Sebuah kitab yang Allah azza wa jalla berfirman mengenainya, “Dan sungguh Kami telah memudahkan al-Qur’an untuk menjadi peringatan, maka adakah yang mengambil peringatan.” (QS. al-Qomar: 17).

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an) dan sesungguhnya Kamilah yang memeliharanya.” (QS. al-Hijr: 9).

Dia berfirman, “Katakanlah, ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya? Katakanlah, ‘Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kalian. Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengannya aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang al-Qur’an telah sampai (kepadanya)’.” (QS. al-An’am: 19)

Maka siapa yang kitabnya adalah bukan perkataan makhluk, dari Allah bermula dan kepada-Nya kembali, dan yang mempelajarinya memiliki hati atau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikan, maka tidak diragukan lagi benarnya lebih banyak daripada salahnya.

Begitu pula siapa yang gurunya adalah Bukhari dan Muslim sedang ia memperoleh dari keduanya riwayat yang sampai kepada orang yang paling fasih dalam melafadhkan huruf “dhadh”, yang telah diberikan Jawami’ al-Kalim (kalimat yang ringkas namun mengandung makna yang banyak, padat dan mendalam) pun riwayat yang disandarkan pada generasi terbaik dan sebaik-baik ummat yang diutus kepada seluruh manusia radhiyallahu anhum.

Begitu pula siapa yang kitabnya adalah Tafsir ath-Thabari, Tafsir Ibnul Mundzir, atau Tafsir Ibnu Abi Hatim.

Begitu pula siapa yang kitabnya dalam beraqidah adalah as-Sunnah karya Imam Ahmad, Harb al-Karmani, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, al-Khollal, al-Barbahari, atau Ibnu Batthah.

Begitu pula siapa yang kitabnya adalah risalah-risalah mujaddid Islam seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdil Wahhab.

Adapun jika gurunya adalah para ulama thaghut dan pelaku bid’ah yang sesat serta orang fasik yang duduk dari jihad, niscaya salahnya akan lebih banyak daripada benarnya –kecuali yang dirahmati Allah dan sedikit sekali jumlahnya–. Lalu bagaimana halnya jika dia mengikuti seruan mereka kepada kefajiran, bid’ah dan murtad? Semoga Allah melindungi kita!

Penuntut ilmu tidak akan dimuliakan karena belajar kepada para ulama thaghut dan para dai yang menyeru kepada kesesatan seperti Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Ibnu Jibrin, Fauzan, Salman al-Audah, Safar al-Hawali, al-Huwaini, al-Adawi, al-Madkhali, al-Wadi’i, Abu Qotadah al-Filistini, al-Maqdisi, al-Hadusyi, as-Siba’i dan seterusnya.

Salah satu ruwaibidhah (orang bodoh yang memimpin urusan ummat,pent) itu telah jujur ketika berkata –sedangkan ia pendusta–, “Ada sunnah yang memuji sikap kembali kepada lembaran kertas tanpa melihat kepada personal dan tokoh. Sunnah tersebut menjadi argumentasi kuat bagi kelompok ini. Sunnah tersebut adalah sabda beliau shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya pada suatu hari, “Siapakah makhluk yang paling menakjubkan imannya menurut kalian? Mereka menjawab, “Para malaikat.” Beliau menyanggah, “Bagaimana mereka tidak beriman sedangkan mereka berada bersama Rabb mereka.” Mereka menjawab, “Para Nabi.” Sabdanya, “Bagaimana mereka tidak beriman sedangkan mereka diberi wahyu? “Kalau begitu kami”, jawab mereka. Beliau menyanggah lagi, “Bagaimana kalian tidak beriman sedangkan aku berada di tengah kalian.” Merekapun bertanya, “Lantas siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang datang setelah kalian yang hanya mendapati lembaran-lembaran (shuhuf ) lalu mengimaninya.” Dalam lafadz yang lain, “Bahkan mereka adalah kaum setelah kalian, suatu kitab datang kepada mereka diantara lembaran-lembaran lalu mereka mengimaninya, dan mengamalkan isi kandungannya. Mereka itu pahalanya lebih besar dibanding kalian.” Pada lafadz lain disebutkan, “Mereka mendapati suatu lembaran lalu mengamalkan isi kandungannya. Merekalah orang beriman yang paling utama imannya.” Hadits tersebut dengan jelas memuji metode mengambil ilmu dari sesuatu lembaran. Bahkan kaum tersebut adalah manusia yang paling besar pahalanya dan orang beriman yang paling utama keimanannya. Hal ini menunjukkan bahwa jaminan selamat di zaman perselisihan dan banyak- nya contoh rusak pengaku ulama yang jatuh kredibilitasnya yaitu dengan kembali kepada lembaran kertas. Perkataan si A dan si B serta pendapat si Zaid dan si Amr tidaklah mempengaruhi “para pembelot” itu. Tidaklah seseorang itu berpindah jalan dari metode syar’i pada metode bid’ah kecuali karena faktor kebodohan, ketidakmampuan, atau maksud yang rusak sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah. Jalan ini, yaitu metode mengambil ilmu dari sesuatu lembaran kertas –dan ini adalah metode syar’i– adalah yang akan mencegah ketergelinciran seorang alim dari mendapatkan legitimasi sebagai bagian dari Dien yang tidak bisa diganggu gugat lagi di mata pengikutnya.”

Maka dari itu, para pencari ilmu hendaknya merenungi hadits-hadits dan atsar-atsar yang memperingatkan dari ulama sesat.

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Sungguh selain Dajjal ada yang lebih aku khawatirkan atas ummatku.’ Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Akupun bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal tersebut yang lebih engkau khawatirkan menimpa umatmu selain Dajjal? Jawabnya, ‘Yaitu para pemimpin yang menyesatkan’.” (HR. Imam Ahmad)

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para Ulama, hingga ketika tidak tersisa seorang alimpun manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu mereka ditanya (tentang suatu hal) lantas berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Hampir tiba saatnya suatu masa ketika Islam tinggal nama dan al-Qur’an tinggal tulisan. Masjid-masjid ramai akan tetapi kosong dari petunjuk. Para ulama mereka adalah manusia terjahat di bawah kolong langit. Dari merekalah fitnah muncul dan akan berbalik kepada mereka pula.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Apabila para ulama telah meninggal hingga hanya sedikit yang tersisa, tinggal yang berjaga-jaga di tapal batas, ditawan di penjara, dan terusir di goa-goa, menuntut ilmu kepada “para syaikh” tidak akan dianggap mulia kecuali oleh orang yang bodoh terhadap hakekat ilmu yang mulia. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berbuah di hati dan anggota tubuh.

Ubadah bin Shamit radhiyallahu anhu berkata, “Jika kamu mau, akan aku beritahu kepadamu tentang ilmu pertama yang diangkat dari manusia. Yaitu khusyu‘. Hampir-hampir tidak akan kamu dapati seorangpun yang khusyu‘ ketika kamu memasuki masjid.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Fakih sesungguhnya adalah orang yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah, tidak mentolelir mereka dalam hal maksiat kepada Allah, tidak menenangkan mereka dari adzab Allah, dan tidak meninggalkan al-Qur’an karena tidak menyukainya. Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak didasari ilmu, tidak pula ilmu yang tidak disertai pemahaman dan tidak pula bacaan al-Qur’an yang tidak disertai penghayatan.” (Diriwayatkan ad-Darimi dalam sunannya).

Mujahid rahimahullah berkata, “Hanyasanya orang fakih adalah orang yang takut kepada Allah azza wa jalla.” (Diriwayatkan ad-Darimi dalam sunannya).

Dikatakan pada Hasan al-Bashri, “Bukan begini para fuqoha berkata.” Maka beliau menjawab, “Celaka kamu, apa kamu benar sudah pernah melihat seorang fakih? Seorang fakih itu adalah orang yang zuhud terhadap dunia, senang dengan akhirat, peka terhadap urusan agamanya dan tekun beribadah kepada Rabbnya.” (Diriwayatkan ad-Darimi dalam sunannya).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Wahai para pengemban ilmu, amalkanlah ilmu kalian. Karena seorang alim itu adalah orang yang beramal dengan yang diketahuinya dan ilmunya selaras dengan amalnya. Akan ada suatu kaum yang mengemban ilmu tapi tidak melampaui kerongkongan mereka. Amalnya menyelisihi ilmunya dan batinnya menyelisihi lahirnya. Membentuk majelis tetapi saling membanggakan diri satu sama lain. Hingga ada seorang lelaki yang marah kepada rekan majelisnya karena bermajelis dengan yang lain dan meninggalkan dirinya. Mereka itu adalah orang yang amal mereka di majelis tersebut tidak akan diangkat naik kepada Allah azza wa jalla.” (Diriwayatkan ad-Darimi dalam sunannya)

Betul. Hakekat ilmu adalah takut kepada Allah, “Sungguh, yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathiir:28)

Jadi, siapa yang tidak takut kepada Allah sehingga tidak mau meninggalkan apa yang dimurkai dan dibenci oleh Allah, ia bukanlah orang yang alim maupun fakih, meskipun telah belajar, mengajar dan mengaku sebagai alim.

Begitu juga siapa yang tidak menyeru manusia kepada perkara yang mulia dan memperingatkan mereka dari perbuatan dosa juga bukanlah seorang alim.

Jadi, menuntut ilmu pada “Orang yang paling jahat di kolong langit” dan “Para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam” bukanlah hal yang terpuji.

Adapun menggali ilmu dari lembaran-lembaran kertas pada zaman tiadanya para ulama selain yang berada di tapal batas (tsughur), penjara dan goa-goa adalah hal yang terpuji berdasarkan atsar tersebut. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Hendaknya setiap orang waspada terhadap sifat ujub dan sombong jika diuji Allah dengan berteman dengan ulama sesat. Hendaknya dia mengingat apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Ubay bin Kaab bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada dua lelaki pada zaman Nabi Musa yang berdebat soal nasab. Salah satunya berkata, ‘Aku adalah fulan bin fulan, hingga sembilan keturunan, lalu siapa kamu wahai anak tak beribu? Temannya menjawab, ‘Saya fulan bin fulan bin Islam.’ Lalu beliau melanjutkan, “Lantas Allahpun mewahyukan kepada Musa alaihis salam mengenai kedua lelaki yang saling mengunggulkan nasab ini, ‘Adapun kamu wahai yang bernasab hingga sembilan keturunan, maka di neraka dan kamu yang kesepuluhnya. Sedangkan kamu wahai yang bernasab hanya dua keturunan, maka di surga dan kamu adalah yang ketiganya di surga.” (al-Musnad).

Jadi, layakkah seorang penuntut ilmu berbangga dengan biografi yang dipenuhi dengan bermajelis bersama pelaku dosa, bid’ah dan kemurtadan?

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak didengar.

An-Naba Edisi 27

HAROKAH ASY-SYABAB MENJERUMUSKAN BALA TENTARANYA KE DALAM GENGGAMAN MURTADDIN

HAROKAH ASY-SYABAB MENJERUMUSKAN BALA TENTARANYA KE DALAM GENGGAMAN MURTADDIN

Termasuk dalam kehendak Allah dalam memperlakukan sunnah-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman, sebagaimana berlakukanya sunnah itu atas orang-orang terdahulu, Awalnya, adalah pelemahan kemudian Tamkhis (penyaringan) dan selanjutnya adalah ujian, setelahnya Allah akan memberikan karunia kepada para ham¬ba-hambaNya dari kalangan muwahdidin berupa tamkin (kekuasaan), kekuatan, dan kejayaan. Dan dengannya, Islam akan meluas ke seluruh penjuru dunia.

Beginilah keadaan Daulah Islamiyah, dimana dahu¬lu mereka adalah sekelompok kecil lagi lemah, namun mereka bersabar dan terus menguatkan kesaba¬ran. Mereka merasakan pedihnya ujian dan pahitnya guncangan demi guncangan sampai akhirnya Allah memuliakan mereka dengan tegaknya Khilafah, yang menaranya mulai menjulang tinggi dan bertambah luas wilayah naungannya. Kaum muslimin dari segala penjuru pun berdatangan berbondong-bondong, bai’at demi bai’at terus berdatangan, dan kelompok demi kelompok mujahidin yang jujur bekumpul di bawah naungan panjinya.

Termasuk diantara generasi awal yang berbai’at kepada Amirul Mu’minin, adalah sekelompok kecil mujahidin di Somalia, terutama Syaikh Abdul Qodir Mu’min (semoga Allah menjaganya) pada awal tahun 1437 H. Setelahnya berdatangan bai’at secara berang¬sur-angsur baik dari kelompok-kelompok maupun individu, dan bertambah banyak orang-orang yang berdatangan, lebih mengutamakan luasnya Khilafah daripada kesempitan tanzhim-tanzhim.

Junud Khilafah di Somalia berpusat di dua daerah yang pertama di Qandala, timur laut Somalia dan sebagian lainnya berpusat di distrik Juba, selatan Somalia. Tim media Junud Khilafah di Somalia dalam pertemuan khususnya dengan koresponden an Nabaa’ menginformasikan bahwa, bersamaan dengan meluasnya Daulah Islamiyah di Somalia, banyak sekali tabir yang tersingkap dari mereka yang mengklaim ingin menegakkan Khilafah Islamiyah. Nam¬paklah wujud dan apa tujuan asli mereka, diantara¬nya Harokah “Asy-Syabab” yang mulai merancang tipu daya busuknya dan selalu mengintai para Junud Khilafah guna membasminya sampai ke akar-akarn¬ya sebagaimana yang selalu mereka katakan. Maka terjadilah banyak insiden. Sumber menceritakan, di antaranya peristiwa “Tragedi Inad”.

Pasca para anggota Asy-Syabab mengetahui bai’atnya Mujahidin kepada Khalifah Muslimin, Abu Bakar al Baghdadi (semoga Allah menjaganya) dan tekad Junud Khilafah untuk meninggalkan beberapa daerah masih yang terdapat Harokah Asy-Syabab di dalam¬nya, Asy-Syabab pun mengirimkan pasukan mereka dalam jumlah yang besar untuk mengepung Junud Khilafah, dan ingin membunuh Syaikh Abdul Qodir Mu’min. Mereka berhasil menawan lebih dari 10 Ju¬nud Khilafah, tapi Allah menakdirkan Syaikh Abdul Qodir dan para ikhwah lainnya selamat dari makar busuk Harokah “Asy-Syabab”.

Setelah insiden ini, Junud Khilafah pun menjauhi daerah-daerah yang dikuasai Asy-Syabab sejauh ratusan kilometer, namun mereka tetap melanjutkan aksi memata-matai Junud Khilafah dan pengejaran terhadapnya.

Narasumber an Nabaa’ menambahkan, pada awal Rabi’ul Awal tahun 1437 H, tentara Harokah “Asy-Syabab” melancarkan serangan terhadap Junud Khilafah dari berbagai arah, maka berlangsunglah peperangan antar dua kubu selama 4 jam yang menyebabkan terbunuhnya dua anggota Harokah Asy-Syabab, dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Makar mereka untuk kedua kalinya pun gagal, Junud Daulah Islamiyah pun bertambah yakin akan kebe¬naran manhajnya dan lurusnya jalannya.

Anggota-anggota Harokah “Asy-Syabab” di sela¬tan Somalia memahami bahwa memerangi Daulah Islamiyah di Somalia membutuhkan lebih banyak persiapan dari apa yang mereka miliki sekarang, maka mereka pun meminta bantuan pada para amir mer¬eka di pusat markas Asy-Syabab di selatan Somalia. Bala bantuan pasukan pun dikirim dari daerah Bay Bakool, Juba, Shabelle, Safhla, dan Hiiran, yang kesemuanya berada di bawah kendali pasukan Salibis Uni Afrika (AMISOM).

Mereka dikirim dengan menyeberangi daerah Gal¬guduud sampai ke kota pesisir Hareer Thoiri, dan merampas kapal buatan Yaman yang digunakan para pemiliknya untuk berburu ikan. Kapal-kapal itu mereka gunakan untuk mengangkut pasukannya, yang menurut narasumber an Nabaa’ jumlahnya sebesar 400 tentara menuju pesisir timur Somalia demi memerangi Junud Daulah Islamiyah. Namun Allah menyesatkan mereka dari jalan yang benar, mereka¬pun mendarat di kota Qur’ud distrik Madaj, dan di kota Jarmal distrk Najal. Keduanya adalah daerah yang dikuasai oleh milisi murtaddin Puntland, maka terjadilah peperangan antara dua kubu di distrik Jadab Giraan dan Suuj, menewaskan banyak anggota Asy-Syabab dan beberapa orang tertawan. Tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali hanya sedikit saja, mereka terusir dan berupaya kembali menuju Soma¬lia selatan.

Sumber juga menuturkan, ada fakta tersembunyi terkait hubungan Harokah Asy-Syabab dan milisi murtaddin Puntland yang sangat penting dan harus diketahui oleh semuanya. Keduanya pernah mengadakan perjanjian genjatan senjata untuk memberhen¬tikan peperangan, namun milisi Puntland di bawah paksaan dan tekanan Amerika untuk tetap memeran¬gi Harokah Asy-Syabab di saat memfokuskan dirinya untuk memerangi Khilafah dan bala tentaranya.

Kepada mereka yang tertipu oleh Harokah Asy-Syabab, sumber media Junud Khilafah di Somalia menyampaikan risalah seruan agar mereka bertaubat kepada Allah dan berhenti memerangi Daulah Khilafah, kemudian segera bergabung dengan Khilafah yang dahulu mereka berjihad demi menegakkannya kembali, namun justru kini sekarang menjadi musuh bebuyutannya. Setelah cahaya Khilafah terbit, sumber An Nabaa’ berkata, “Junud Khilafah mengkha¬watirkan diri kalian dari adzab Allah, sungguh kalian telah menyaksikan bagaimana Allah menghalau tipu daya jahat kalian dan menyelamatkan Junud Khilafah dari makar kalian, maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai akal, tidakkah kalian melihat berkoalisinya semua sekte kekafiran untuk memerangi Daulah yang masih muda ini? Tidakkah kalian melihat kebersamaan Allah dengannya? Sung¬guh barisan ini telah terpisah dan nampak jelas wahai tentara Asy-Syabab, maka pilihlah kubu mana yang kalian inginkan. Kubu Daulah Islamiyah atau kubu semua sekte kekafiran yang berkoalisi untuk memer-anginya.

Adapun kepada Junud Daulah Islamiyah dan para Anshornya di timur Afrika, al Akh penyampai ri¬salah telah berkata di akhir pertemuannya dengan an Nabaa’ , “Bersabarlah dan teguhlah. Sungguh kalian di atas al Haq dan inilah pertolongan Allah terli¬hat jelas di depan mata kepala kepada kalian. Maka bersabarlah sungguh semua ini hanyalah sesaat saja, setelahnya dengan izin Allah akan datang kemenan¬gan menjumpai kalian.”

Dan bergembiralah wahai Anshor Khilafah di timur Afrika, panji di Somalia akan berkibar tinggi. Sung-guh panjinya telah diemban oleh para kesatria yang merasakan aroma nikmat kematian di jalan Allah. Kami menyeru pada kalian untuk bergabung dengan kafilah Khilafah di Somalia, maka berhijrahlah dan bergeraklah, tinggalkanlah dunia, dan ingatlah firman Allah ta’ala, ‘Berangkatlah baik dalam keadaan berat maupun ringan’. Alhamdulilahirabbil ‘alamiin.

An-Naba Edisi 24

WAWANCARA DENGAN ABU UBAIDAH AL-LUBNANI (BAGIAN 3, SELESAI)

WAWANCARA DENGAN ABU UBAIDAH AL-LUBNANI (BAGIAN 3, SELESAI): AL-QO’IDAH TELAH BERUBAH MENJADI IKHWANI (IM)

Pada sesi terakhir dari pertemuannya dengan an-Naba’, mantan penanggung jawab keamanan Al-Qo’idah Khurosan menyingkap bagaimana Revolusi Arab berpengaruh terhadap tersingkapnya manhaj menyimpang yang dimiliki oleh al-Qo’idah, serta membeberkan sikap-sikap para pemimpin al-Qo’idah dalam memandang syirik demokrasi dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya.

An-Naba’: Anda telah menyebutkan kepada kami pada pertemuan terakhir yang menyatukan kita bahwa Anda merasa terpukul dengan realitas-realitas al-Qo’idah setelah kedatangan Anda ke Waziristan. Apa penyebab keterpukulan sebagaimana yang Anda gambarkan ini?

Abu Ubaidah: Segala puji bagi Alloh semata. Sholawat semoga terlimpah kepada yang tiada nabi setelahnya. Wa ba’d, jika seseorang telah melukiskan dalam benaknya sebuah gambaran yang gemilang tentang sesuatu atau seseorang, lalu terbukti bahwa semua yang digambarkannya itu tidak lebih dari sekadar ilusi, maka tidak diragukan bahwa dia akan merasakan pukulan keras. Inilah yang terjadi pada saya dan pada banyak orang seperti saya yang masuk ke al-Qo’idah pada fase Waziristan.

Saya akan menyebutkan di sini seorang dari muhajirin yang paling terkenal pada fase tersebut, yaitu Abu Dujanah al-Khurosani —taqobbalahulloh— pelaku amaliyah Khost yang terkenal terhadap para perwira CIA dan intelijen Jordania. Dia telah tertimpa dengan apa yang menimpa saya setelah melihat al-Qo’idah secara nyata setelah bertahun-tahun memberikan dukungan kepadanya melalui forum-forum jihad.

Dia telah menggambarkan kondisi al-Qo’idah ketika saya bertanya kepadanya tentang pendapatnya mengenai apa yang telah ditemukannya, dengan berkata: “al-Qo’idah tampak seperti nenek tua.” Maksudnya, karena kelemahannya, sedikitnya trik para pemimpinnya, dan hilangnya kewibawaannya di wilayah-wilayah Waziristan.

An-Naba’: Apakah kondisi ketuaan dan kelemahan yang menimpa Tanzhim merupakan faktor yang cukup, menurut Anda, yang menyebabkan pendatang baru merasa terpukul?

Abu Ubaidah: Tentu saja tidak. Bukan ini saja penyebabnya. Tetapi jika Anda ingat, media pada fase pasca serangan September menggambarkan Tanzhim al-Qo’idah dengan potret yang sangat dibesar-besarkan. Dan sayang sekali, Tanzhim terpukau dengan deskripsi yang berlebihan tentang kapabilitasnya ini. Mulailah ia mengutip perkataan setiap orang yang mempopulerkan potret ini dalam rilisan-rilisan videonya dan dalam media tidak resmi yang dikelola oleh para pendukung Tanzhim di jaringan internet.

Tetapi ketika kami mengetahui realitas yang sebenarnya di Waziristan, kami mengerti bahwa Tanzhim di sana merupakan sebuah kelompok lemah yang tidak bisa mengadakan perubahan apa pun terhadap realitas kawasan yang berada di luar kekuasaan pemerintahan thoghut mana pun, pada saat media mereka mempopulerkannya sebagai pelopor umat untuk mengembalikan khilafah di seluruh dunia.

Sebenarnya, pada awalnya kami membenarkan diri kami sendiri bahwa kondisi kelemahan ini adalah penyebab di balik pengambilan manhaj menyimpang ini oleh para pemimpin al-Qo’idah dalam berinteraksi dengan realitas Jahiliyah di Waziristan. Tetapi peristiwa-peristiwa yang terjadi secara beruntun sejak saat itu menjelaskan kepada kami dengan cara yang tidak menyisakan tempat bagi keraguan bahwa kami telah salah dalam menganalisa realitas, dan bahwa kebalikannyalah yang benar.

Manhaj yang menyimpanglah yang menjadi penyebab di balik kondisi kelemahan yang dialami oleh al-Qo’idah di Waziristan. Dan ini adalah salah satu dari ni’mat Alloh kepada para hamba, bahwa Dia menguji mereka sampai kualitas mereka menjadi jelas dan hakikat mereka menjadi terang. Sebagaimana firman-Nya subhanah: “Alloh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik.” [Ali ‘Imron: 179]

An-Naba’: Kenapa Anda membutuhkan peristiwa-peristiwa ini untuk mengetahui manhaj mereka, selagi para pemimpin mereka secara berkesinambungan muncul untuk menjelaskan aqidah dan manhaj mereka?

Abu Ubaidah: Ini adalah sunnatulloh pada makhluq. Hakikat manusia tidak mungkin tampak kecuali dengan ujian dan situasi kritis yang menuntut ketegasan dan kejelasan. Karena itu, Anda tidak mungkin mengetahui hakikat seseorang atau suatu tanzhim kecuali melalui responsnya terhadap berbagai peristiwa. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, “nalar pengumpulan” yang di atasnya al-Qo’idah berjalan menghalangi Anda untuk menyingkap hakikat manhaj dan aqidah mereka dengan mudah.

Anda akan menemukan di dalam Tanzhim dan di antara para pemimpinnya keanekaragaman yang sangat besar dari sisi aqidah dan manhaj. Anda menemukan orang yang mengusung ‘aqidah Ahlus Sunnah dan manhaj mereka. Anda menemukan orang yang mengusung ‘aqidah Murji’ah dan bid’ah-bid’ah mereka. Anda menemukan orang yang mengusung aqidah dan manhaj Ikhwanul Muflisin. Dan sebagaimana telah saya sebutkan kepada Anda sebelumnya, ada juga orang-orang sufi. Para pemimpin al-Qo’idah biasa melakukan manuver agar semua aliran yang saling bertentangan ini tetap berada di bawah kepemimpinannya.

Dalam rangka itu, mereka menggunakan gaya melarikan diri dari menjawab pertanyaan-pertanyaan sensitif, terutama azh-Zhowahiri, dan gaya meredam kemarahan orang-orang yang menentang mereka, yaitu dengan membius mereka dengan janji-janji reformasi yang tidak akan pernah terjadi dan sejenisnya, dan ini adalah gaya yang dikuasai dengan baik oleh ‘Athiyatulloh. Tetapi pada akhirnya datanglah kasus-kasus yang tidaklah bermanfaat bersamanya kecuali sikap-sikap tegas. Dan ini yang menyingkapkan bagi kita aqidah dan manhaj Tanzhim al-Qo’idah.

An-Naba’: Apa itu kasus-kasus yang menjadikan para pemimpin al-Qo’idah mengambil sikap-sikap yang menyingkap aqidah-aqidah yang sebelumnya mereka sembunyikan atau setidaknya tersembunyi dari mata kita?

Abu Ubaidah: Sebenarnya itu adalah serangkaian kasus yang ditaqdirkan oleh Alloh agar datang secara beruntun, di mana ia menyibukkan kami selama masa yang panjang, sampai menjadi jelas bagi kami potret Tanzhim dengan bentuk yang tidak ada kesamaran di dalamnya. Yang paling penting di antara kasus-kasus ini adalah kasus masuknya Harokah Hammas ke dalam pemilu parlemen, dan selanjutnya menduduki pemerintahan di Jalur Gaza dan memerintah rakyat dengan undang-undang thoghut.

Sebagaimana diketahui oleh semua orang, Tanzhim al-Qo’idah selalu mendeklarasikan bahwa perang yang dijalaninya tidak lain adalah demi penegakan syari’at, menyerang para thoghut karena mereka memerintah dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh, dan memandang demokrasi sebagai syirik kepada Alloh. Tetapi ketika Harokah Hammas masuk ke dalam proses demokrasi, lalu memerintah rakyat dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh, para pemimpin al-Qo’idah mendiamkannya. Ketika sebagian ikhwah mendesak mereka, mereka terpaksa menyatakan bahwa mereka tidak mengkafirkan pemerintahan Hammas berdasarkan kejatuhannya ke dalam perbuatan-perbuatan yang mengkafirkan ini. Yang demikian itu dengan dalih bahwa meskipun mereka terjatuh ke dalam kekafiran, tetapi mereka tidak memaksudkan kekafiran, namun menjadikan kekafiran ini sebagai sarana untuk menerapkan syari’at.

Lebih dari itu mereka mengatakan bahwa para thoghut yang memerintah dengan selain yang diturunkan oleh Alloh itu adalah saudara-saudara mereka. Bahkan amir al-Qo’idah di Khurosan, Mushthofa Abul Yazid, muncul dalam sebuah konferensi pers untuk mengatakan bahwa manhaj al-Qo’idah dan Hammas adalah satu manhaj, sebelum dia mencabut pernyataan ini untuk mengaburkan pandangan.

Kasus ini juga menjelaskan kepada Anda besarnya lelucon yang dijalani oleh Tanzhim al-Qo’idah. Anda menemukan di dalam Tanzhim yang sama dua kelompok yang saling bertentangan. Yang pertama mengkafirkan pemerintahan Hammas, perdana menterinya, dan para tentara, disertai dengan hukum-hukum yang didirikan di atasnya, yaitu kewajiban memerangi mereka dalam kapasitas mereka sebagai thoghut. Dan kelompok lain memandang mereka sebagai muslim yang wajib ditolong dan dibantu. Apakah ini sebuah tanzhim atau sebuah kekacauan dengan nama Tanzhim?

An-Naba’: Apakah kasus penetapan keislaman pemerintahan Hammas berhenti sampai di sini? Ataukah ada konsekuensi-konsekuensi lain?

Abu Ubaidah: Saya telah mengatakan kepada Anda bahwa ada beberapa peristiwa yang menyingkap manhaj yang dianut dalam Tanzhim dan aqidah baku yang di dalamnya terdapat penyelewengan besar dalam perkara-perkara iman. Kasus pemerintahan Hammas, atau katakanlah kasus penetapan hukum terhadap pemerintahan yang mengklaim bahwa ia menginginkan penerapan syari’at, sementara ia menghancurkan klaimnya itu dengan mengerjakan perbuatan yang mengkafirkan (yaitu masuk ke dalam demokrasi dan selanjutnya memerintah dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh), telah diterapkan hampir secara total pada semua eksperimen serupa selanjutnya.

Salim ath-Thoroblusi, tim syar’i umum al-Qo’idah pada fase itu, misalnya, termasuk salah seorang yang mengatakan keislaman thoghut Erdogan dengan sebab yang sama. Sebagaimana tidak pernah keluar pengingkaran apa pun dari mereka terhadap si murtad ‘Abdul Hakim Balhaj dan kelompoknya setelah mereka masuk ke parlemen.

Kemudian datanglah kasus yang paling terkenal dalam hal ini, yaitu pemerintahan Ikhwanul Muflisin di Mesir yang dipimpin oleh thoghut Mursi. Sebagaimana sebagian dari para pemimpin al-Qo’idah yang berasal dari Mesir juga terpedaya dengan thoghut Hazim Sholah Abu Isma’il yang masuk ke parlemen dan mencalonkan dirinya untuk menjadi presiden, di mana mereka merekam ceramah-ceramah dan pidato-pidatonya dan mengedarkannya ke barak-barak agar didengar oleh para tentara.

An-Naba’: Karena Anda masuk ke tema yang dinamakan dengan “Musim Semi Arab”, bagaimana manhaj al-Qo’idah terpengaruh oleh terjadinya revolusi itu?

Abu Ubaidah: Revolusi ini adalah satu cincin dalam rantai peristiwa yang menyingkap aqidah dan manhaj Tanzhim di hadapan kita. Pondasi rusak tempat mereka mendirikan bangunan mereka dengan tidak mengkafirkan orang yang mempraktekkan demokrasi, telah mengantarkan mereka ke jurang yang lebih dalam. Kondisi setelah terjadinya revolusi membawa mereka untuk mendukung beberapa partai demokrasi yang menisbatkan dirinya dengan dusta kepada Islam, sebagaimana di Libya. Bahkan mereka berpikir dengan serius untuk berpartisipasi dalam proses politik yang berdiri di atas dasar demokrasi. Pemikiran ini sangat diterima oleh Salim ath-Thoroblusi. Bahkan saya mendengar bahwa Abu Ubaidah al-‘Adam berkeinginan untuk mendapatkan sebuah fatwa untuk mendirikan sebuah partai politik, untuk masuk ke dalam parlemen seandainya kesempatan untuk itu dibukakan bagi mereka.

Selanjutnya sampai kepada saya bahwa mereka mengirim utusan kepada Abul Walid al-Ghozzi yang terkenal dengan al-Anshori (Kholid Fathi Kholid al-Agho) untuk mendapatkan fatwa ini.

Banyak di antara para pemimpin al-Qo’idah yang beranggapan bahwa keberhasilan partai-partai demokrasi seperti Ikhwanul Muslimin dan yang serupa dengannya dalam pemilu dan sampainya sebagian darinya ke puncak kekuasaan sebagai kemenangan bagi Islam, dan mungkin bagi mereka sendiri untuk mengambil manfaat dari kemenangan ini dengan cara berpartisipasi di dalamnya melalui partai-partai yang mereka dirikan. Dengan cara itu mereka ikut serta dalam proyek Al-Ikhwan yang terwujud dalam penegakan syari’at Islam dengan cara jatuh ke dalam syirik demokrasi.

Dan penyebab di balik semua itu, sebagaimana telah saya sebutkan kepada Anda, adalah prinsip-prinsip mereka yang rusak dengan tidak menganggap masing-masing dari tindakan masuk ke dalam demokrasi dan memerintah dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh sebagai perbuatan-perbuatan yang mengkafirkan bagi yang terjatuh ke dalamnya di antara gerakan-gerakan dan partai-partai yang mengklaim ingin menerapkan syari’at. Mereka bersikap lapang dalam membenarkan perkara-perkara ini bagi orang lain, sebelum mereka membenarkan diri mereka sendiri. Dan sebaliknya, mereka justru mengingkari orang yang menerapkan syari’at dan menegakkan hukum Alloh di bumi ini, serta memprovokasi manusia untuk menentangnya.

An-Naba’: Apakah maksud Anda Daulah Islamiyah?

Abu Ubaidah: Saya tidak berbicara kepada Anda tentang Daulah Islamiyah dengan realitasnya saat ini. Permusuhan Tanzhim al-Qo’idah dengan semua cabangnya terhadap Daulah Islamiyah sangat jelas dan terang. Terutama setelah Daulah Islamiyah menegakkan syari’at dan mengembalikan Khilafah. Tetapi yang saya maksud adalah perkara lama dan kembali kepada masa Daulah Islamiyah Iraq yang pendiriannya tidak disetujui oleh para syar’i al-Qo’idah. Mereka dulu mengirimkan surat kepada Daulah Islamiyah Iraq untuk meyakinkan mereka agar tidak menegakkan hukum-hukum syari’at pada masa itu. Dan hal itu kembali kepada prinsip rusak yang menjadi landasan manhaj mereka, yaitu tidak menegakkan hukum-hukum syari’at dalam kondisi perang.

Bahkan perkara ini membawa mereka mengingkari para ikhwah yang menegakkan syari’at di wilayah Orakzai, terutama asy-Syaikh Hafizh Sa’id Khan —hafizhohulloh— wali Khurosan saat ini, serta asy-Syaikh Maqbul dan asy-Syaikh Khodim —taqobbalahumalloh. Ini adalah satu-satunya wilayah yang di dalamnya syari’at ditegakkan di Waziristan, sampai mereka bergabung dengan kafilah Khilafah dan berbai’at kepada Amirul Mu’minin. Setelah itu menjadi jelaslah permusuhan antara mereka dan al-Qo’idah dengan berdirinya Wilayah Khurosan yang berada di bawah Daulah Islamiyah.

Di antara prinsip golongan itu adalah tidak menegakkan syari’at dalam kondisi mereka berhasil menguasai suatu wilayah dan menerima berlanjutnya hukum-hukum Jahiliyah di dalamnya, sebagaimana sebelumnya telah saya ceritakan kepada Anda tentang kondisi di Waziristan, dan sebagaimana kondisi mereka saat ini di Syam dan Yaman. Maka bagaimana bisa mereka mengingkari Hammas yang tidak menerapkan syari’at di Gaza atau Mursi yang memerintah dengan undang-undang konvensional di Mesir.

Jika dulu sebagian dari pemimpin mereka menyerang Tanzhim Jama’ah Islamiyah Mesir yang sesat dengan berkata: “Jama’ah Islamiyah telah berubah menjadi Ikhwani,” maka mereka lebih layak untuk dikatakan: “Al-Qo’idah telah berubah menjadi Ikhwani.”

An-Naba’: Apakah ini menafsirkan ketertambatan hati al-Qo’idah dengan revolusi Arab dan para pemberontak?

Abu Ubaidah: al-Qo’idah melihat revolusi Arab seolah-olah sebagai pintu yang darinya dia akan masuk menuju tamkin di bumi, terutama revolusi di Libya. Al-Qo’idah telah mengirimkan sebagian dari kadernya ke sana untuk mengkoordinir pekerjaan dan mengikat tanzhim-tanzhim yang ada dengan al-Qo’idah. Di antaranya Abu Anas al-Libi dan Abu Malik al-Libi. Dan mereka telah mempersiapkan Abu Ubaidah al-Libi untuk itu, tetapi dia terbunuh sebelum pengirimannya. Yang demikian itu karena Libya dianggap sebagai “tanah peperangan”, berdasarkan klasifikasi mereka.

Adapun Mesir, menurut mereka adalah “tanah penjelasan”. Maka proyek azh-Zhowahiri didasarkan pada pengiriman beberapa anggota faksi lamanya “Jama’ah Jihad” untuk melaksanakan tugas ini. Azh-Zhowahiri telah menawarkan hal ini kepada Abu Hafsh al-Mishri yang bergelar al-Husaini, terutama setelah permasalahannya dengan azh-Zhowahiri terus bertambah.

Jadi, proyek al-Qo’idah terhadap Revolusi Arab adalah dengan masuk ke bawah proyek-proyek yang dimiliki oleh kelompok-kelompok yang menyimpang, atau bekerja dengan garis yang sejajar dengannya, atau minimal tidak bertindak dengan cara yang akan menyebabkan kehancuran proyek-proyek yang rusak ini. Perkara ini kita lihat di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan Syam.

An-Naba’: Selagi kalian telah menyingkap semua penyimpangan ini dan lainnya yang tidak mungkin dijelaskan panjang lebar, seperti ketetapan mereka akan keislaman tentara thogut yang terdiri dari militer, intelijen, dan polisi, serta kekacauan dalam penetapan hukum antara satu negara dengan negara lain, kenapa kalian tidak meninggalkan Tanzhim yang menyimpang ini sejak masa yang lama dan kalian menunggu sampai kembalinya Khilafah?

Abu Ubaidah: Jika Anda memerhatikan sebagian besar partai dan tanzhim yang menyimpang, Anda akan menemukan di dalamnya banyak sekali orang yang tidak ridho dengan manhaj-manhaj dan aqidah-aqidahnya. Tetapi mereka meyakinkan diri mereka, atau berhasil diyakinkan, akan keharusan untuk tetap berada dalam barisannya, karena dua hal.

Hal pertama adalah ilusi-ilusi tentang reformasi dari dalam. Sebab, masing-masing dari mereka memberikan harapan kepada dirinya sendiri bahwa dengan tetapnya dia di dalam tanzhim maka dia mungkin bisa melakukan reformasi dengan naiknya dia di tangga kepemimpinan, dan bahwa keluarnya dia dari tanzhim akan berarti berkuasanya orang-orang yang rusak atas tanzhim dan selanjutnya penyimpangannya beserta semua orang yang ada di dalamnya secara lebih besar. Sedang pembenaran lainnya adalah tidak adanya alternatif pengganti baginya, karena dia menemukan semua tanzhim atau partai yang ada di lapangan tidak kurang menyimpangnya daripada tanzhimnya.

Inilah yang terjadi pada kami di Waziristan. Meskipun kami tahu sejak bertahun-tahun bahwa al-Qo’idah bukanlah tanzhim yang melaluinya kami bercita-cita untuk menegakkan syari’at, tetapi kami memberikan harapan kepada diri kami sendiri bahwa kami bisa melakukan reformasi jika kami tetap berada di dalam tanzhim ini. Dan inilah yang pada akhirnya kami simpulkan mustahil terjadi dalam situasi itu, di mana Tanzhim dikuasai oleh azh-Zhowahiri dan menantunya sendiri, Mukhtar al-Maghribi. Mereka mengatur semua urusan Tanzhim sesuai dengan hawa nafsu mereka. Sementara aqidah dan manhaj Tanzhim dirumuskan oleh ‘Athiyatulloh, Abu Yahya dan Salim ath-Thoroblusi. Merekalah perumus yang sesungguhnya bagi semua penyimpangan aqidah dan manhaj di dalam Tanzhim. Kedua pihak ini tidak akan pernah mengizinkan Anda untuk mengalihkan al-Qo’idah dari jurang dalam yang mereka berusaha mengarahkan al-Qo’idah kepadanya.

Karena itu, ketika Abu Dujanah al-Khurosani menggambarkan al-Qo’idah sebagai “nenek tua”, saya menjawab dengan mengatakan bahwa ia bukan cuma demikian, tetapi ia adalah nenek tua yang berdiri di tengah jalan, sedangkan mobil-mobil yang lewat nyaris menabrak dan membinasakannya, tetapi di saat yang sama dia tidak mau mengulurkan tangannya kepada orang yang berusaha menyelamatkannya dan menjauhkannya dari kebinasaan.

An-Naba’: Tetapi pada akhirnya Anda meninggalkan mereka?

Abu Ubaidah: Ya. Segala puji bagi Alloh atas hal itu. Sebelum Daulah Islamiyah mendeklarasikan eksistensinya di Syam lalu memuliakan jihadnya dengan mengembalikan Khilafah, sulit bagi kami untuk meninggalkan al-Qo’idah. Yang demikian itu karena kami tidak menemukan alternatif untuk dijadikan tempat berpindah. Tetapi ketika menjadi terang bagi kami kebenaran manhaj dan kejelasan aqidah Daulah Islamiyah, lalu tamkinnya di bumi dan penerapannya terhadap syariat Alloh di dalamnya, lalu deklarasi kembalinya Khilafah, tidak tersisa bagi kami pembenaran untuk berada di dalam barisan Tanzhim al-Qo’idah.

Kami pun berhijrah, sampai ke negeri khilafah, dan menjadi salah satu dari tentaranya. Wal hamdu lillah.

An-Naba’: Bagaimana dengan Tanzhim al-Qo’idah secara keseluruhan? Menurut pendapat Anda, apa pengaruh terbesar dari kembalinya Khilafah Islamiyah terhadap Tanzhim, dengan elemen-elemen dan manhajnya?

Abu Ubaidah: Kembalinya khilafah adalah satu ni’mat di antara ni’mat-ni’mat yang dianugerahkan oleh Alloh kepada seluruh umat Islam, bahkan kepada seluruh manusia. Yang demikian itu karena ia menegakkan syari’at Alloh di bumi, menampakkan tauhid dan memerangi syirik beserta para penganutnya, agar binasa orang yang binasa dengan bukti nyata dan hidup orang yang hidup dengan bukti nyata.

Adapun bagi Tanzhim al-Qo’idah, sebagaimana telah saya sebutkan kepada Anda, kembalinya Khilafah adalah tali keselamatan bagi siapa saja yang ingin menyelamatkan agamanya dari ketenggelaman bersama bahtera Tanzhim yang dilubangi oleh para pemimpin Tanzhim dan para syar’inya untuk menenggelamkan semua orang dalam samudera kesesatan. Maka keluarlah darinya orang yang diberi hidayah oleh Alloh, dan kita masih menunggu sisanya.

Selain itu, deklarasi Khilafah adalah perlindungan bagi puluhan ribu pemuda dari terjatuh ke dalam perangkap fitnah nama-nama bersinar yang dimiliki oleh Tanzhim dan para pemimpinnya, karena mereka menemukan aqidah yang bersih dari syirik di Daulah Islamiyah. Mereka pun bergantung padanya dan berperang di bawah benderanya.

Di sisi lain, kembalinya Khilafah mencegah para pemimpin al-Qo’idah untuk menyelam lebih jauh ke dalam samudera kesesatan karena takut para pemuda akan meninggalkan mereka dan berpaling kepada Daulah Islamiyah. Dan kita telah melihat itu selama dua tahun terakhir khususnya. Hanya saja saat ini kita melihat para pemimpin cabang-cabang Tanzhim mulai mengungkap lebih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan mereka. Khususnya setelah mayoritas dari mereka memutuskan untuk membunuh setiap orang yang mereka curigai cenderung untuk meninggalkan mereka dan bergabung dengan kafilah Khilafah Islamiyah.

An-Naba’: Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan atas pertemuan-pertemuan yang menyenangkan ini. Kami memohon kepada Alloh agar menerima apa yang telah Anda sampaikan dari berbagai informasi yang berharga ini kepada kami dan kepada saudara-saudara kita. Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

An-Naba Edisi 23

WAWANCARA DENGAN ABU UBAIDAH AL-LUBNANI (BAGIAN 2)

WAWANCARA DENGAN ABU UBAIDAH AL-LUBNANI (BAGIAN 2): AL-QO’IDAH TIDAK MENERAPKAN SYARI’AT ALLOH PADA DIRINYA SENDIRI, MAKA BAGAIMANA MUNGKIN IA INGIN MENERAPKANNYA PADA UMMAT?

Mantan penanggung jawab keamanan al-Qo’idah Khurosan, anggota Majelis Istisyari al-Qo’idah, dan penanggung jawab pelatihan dalam Lajnah ‘Askariyah al-Qo’idah telah berbicara kepada an-Naba’ tentang rahasia-rahasia Tanzhim al-Qo’idah dan menjelaskan banyak dari detil-detil kemusnahan Tanzhim dengan terbunuhnya para pemimpinnya dan hubungannya dengan faksi-faksi yang dioperasikan dan diarahkan oleh intelijen Pakistan.

An-Naba’: Anda telah berbicara kepada kami pada kesempatan yang lalu tentang rencana yang dijalankan oleh para pemimpin al-Qo’idah untuk menginfiltrasi Daulah Islamiyah melalui jihad di Syam. Bagaimana kondisi al-Qo’idah Khurosan pada saat itu?

Abu Ubaidah: Segala puji bagi Alloh semata. Semoga sholawat terlimpah kepada dia yang tiada nabi setelahnya, serta kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang berjalan di atas peri kehidupannya sampai hari kiamat. Di antara kekuasaan Alloh ‘azza wa jalla yang menakjubkan adalah bahwa ketika al-Qo’idah berusaha yang membangun pijakan kaki baginya di Syam, ia tergerus di benteng utamanya di Khurosan. Dan pada waktu ketika al-Qo’idah berusaha menginfiltrasi Daulah Islamiyah, ia menjadi sasaran infiltrasi keamanan terbesar dalam sejarahnya. Infiltrasi ini adalah penyebab terbunuhnya sebagian besar pemimpinnya dan hancurnya banyak dari markas-markas dan kelompok-kelompoknya.

Infiltrasi ini tidak datang dari luar al-Qo’idah, tetapi dari dalamnya, di mana Shohawat yang berhubungan dengan intelijen Pakistan berhasil merekrut tiga dari anak-anak para pemimpin al-Qo’idah. Yang demikian itu setelah mereka terlibat dalam perzinaan dan perbuatan keji kaum Luth (sodomi). Kemudian mereka dibebani untuk mengumpulkan informasi tentang para pemimpin al-Qo’idah dan markas-markasnya. Secara otomatis, informasi-informasi ini sampai kepada intelijen Amerika yang mengirimkan pesawat-pesawatnya untuk mengembom sasaran-sasaran ini.

Akibat dari infiltrasi ini adalah terbunuhnya sebagian besar pemimpin barisan pertama dalam al-Qo’idah, di antaranya ‘Athiyatulloh al-Libi (amir Khurosan), Abu Yahya al-Libi (penanggung jawab syar’i dan amir Khurosan setelah ‘Athiyatulloh), Abu Zaid al-Kuwaiti (Khalid Al-Husainan, syar’i internal al-Qo’idah), ‘Abdurrohman asy-Syarqi (penanggung jawab aktifitas eksternal), Basyir Ahmad (penanggung jawab pelatihan), Ahmad Khon (panglima salah satu kelompok yang bekerja di dalam Pakistan), dan ‘Abdul Majid (syar’i internal al-Qo’idah) beserta anak-anaknya.

Bahkan akibat dari infiltrasi ini menimpa kelompok-kelompok yang berhubungan dengan al-Qo’idah. Terbunuhlah Abu Mu’adz at-Tunisi (penanggung jawab salah satu kelompok yang berencana melakukan aksi terhadap Perancis) dan Badruddin Haqqoni (penanggung jawab aksi-aksi besar di Tholiban Afghonistan). Sebagaimana terbunuh juga sekelompok orang dari Turkistan, Uzbekistan, dan lainnya.

An-Naba’: Apakah mereka semua terbunuh di tangan satu sel saja?

Abu Ubaidah: Ya. Karena para mata-mata itu adalah anak-anak para pemimpin dalam al-Qo’idah, maka kepercayaan terhadap mereka sangat tinggi. Karena itu mereka bisa masuk ke dalam semua markas dan bertemu dengan semua orang tanpa pengecualian. Dengan semua itu mereka melakukan pengumpulan informasi, memotret tempat-tempat dan orang-orang, dan menanam chip. Selanjutnya adalah tugas para Salibis untuk mengebom sasaran-sasaran itu.

An-Naba’: Bagaimana sel ini berhasil diungkap?

Abu Ubaidah: Kami dalam perangkat intelijen Tanzhim telah menyusun tim-tim keamanan untuk memerangi para mata-mata. Kami menamakannya “Khurosani”. Di dalamnya sejumlah orang Phastun bekerja bersama dengan kami untuk mengejar para mata-mata dan membunuh mereka. Sel-sel ini telah menangkap salah seorang berkebangsaan Arab setelah dia dituduh melakukan pencurian. Tetapi selama investigasi terhadap pemuda yang dipanggil Yunus ini, perangkat keamanan mendapatkan fakta bahwa kasusnya lebih besar daripada pencurian. Dia mengaku kepada kami telah melakukan perbuatan keji kaum Luth (sodomi) bersama sekelompok orang Phastun dan orang Arab, dan bahwa mereka bekerja sebagai mata-mata bersama salah seorang pemimpin Shohawat di utara Waziristan.

Lalu kami menangkap pemuda lain dari sel tersebut, namanya Hamzah. Sementara pemuda ketiga yang bernama Kholid ‘Ali Jan berhasil melarikan diri setelah mendengar berita bahwa kami mencarinya. Hamzah mengaku bahwa dia dan rekan-rekannya telah melakukan perbuatan keji kaum Luth, dan bahwa mereka telah bekerja sebagai mata-mata dan telah menyebabkan terbunuhnya sejumlah besar pemimpin al-Qo’idah dan elemen-elemennya.

Di sini kami memuji Alloh atas nikmat penangkapan terhadap mereka. Dan kami yakin bahwa dengan membunuh mereka, kami akan terlepas dari permasalahan besar. Kami tidak tahu bahwa dengan menangkap kedua mata-mata itu, kami telah menjatuhkan diri kami ke dalam salah satu masalah yang paling rumit dengan al-Qo’idah.

An-Naba’: Bagaimana Anda mengatakan bahwa kalian telah menjatuhkan diri kalian ke dalam sebuah masalah? Setiap orang berakal pasti akan mengatakan bahwa para pemimpin al-Qo’idah akan memberikan hadiah kepada kalian karena telah menangkap orang-orang yang telah menyebabkan terbunuhnya sejumlah besar pemimpin dan tentara ini, di samping bahwa orang-orang yang ditangkap itu telah terlibat dalam perbuatan keji kaum Luth.

Abu Ubaidah: Jangan berbicara dengan logika yang berlaku di Daulah Islamiyah. Dunia al-Qo’idah sama sekali berbeda. Meskipun pada dasarnya hukuman bagi mata-mata menurut al-Qo’idah adalah hukuman mati, tetapi kondisi ini adalah pengecualian dari hukum pokok. Ketika itu tim-tim “Khurosani” membunuh para mata-mata, jika terdapat bukti yang menunjukkan keterlibatan mereka secara nyata, atau pengakuan mereka atas perbuatan mereka, atau kesaksian dua orang yang adil terhadap mereka, atau penemuan bukti fisik pada diri mereka, seperti kartu identitas khusus intelijen, chip untuk menentukan posisi, atau semacam itu.

Berdasarkan hal itu, “Khurosani” telah membunuh banyak mata-mata dari berkebangsaan Phastun dan melemparkan jasad mereka ke jalan, disertai dengan kartu yang menjelaskan sebab pembunuhan mereka. Tetapi ketika kami ingin melakukan hal itu terhadap kedua mata-mata ini, para pemimpin al-Qo’idah, terutama azh-Zhowahiri, menghalangi kami dan menunda pemutusan perkara mereka sampai 20 bulan. Selama waktu itu kami telah membunuh sepuluh orang Phastun karena melakukan kegiatan mata-mata. Dan al-Qo’idah belum juga memberikan izin kepada kami untuk membunuh kedua mata-mata itu, meskipun kejahatan mereka sangat besar dan mereka telah menimbulkan permasalahan bagi kami dengan orang-orang Phastun bekerja dengan kami.

Sebab, sebagian dari orang-orang Phastun itu telah membunuh pamannya atau keponakannya karena menjadi mata-mata. Mereka pun marah, karena mereka merasa bahwa kami telah membedakan antara bangsa Phastun dan bangsa Arab dalam hukum.

Kegelisahan kami bertambah besar karena pemimpin Shohawat yang merekrut kedua mata-mata itu bertekad untuk menyerang markas kami untuk menyelamatkan mereka dari tangan kami. Ketika itu kami yakin bahwa jika kedua mata-mata itu lepas dari tangan kami, maka mereka akan berusaha membinasakan semua yang tersisa dari kami. Meskipun demikian, para pemimpin al-Qo’idah ingin membebaskan mereka.

An-Naba’: Kenapa para pemimpin al-Qo’idah bersikeras sedemikian rupa untuk tidak membunuh mereka?

Abu Ubaidah: Ibu salah seorang dari kedua mata-mata itu, yang merupakan istri salah seorang pemimpin al-Qo’idah yang terbunuh, memiliki lidah yang tajam. Dia berbicara tentang kami di pasar-pasar, mencaci maki kami, dan mendoakan keburukan atas kami. Dan para pemimpin al-Qo’idah takut dia akan berbicara kepada media dan menyerang al-Qo’idah, jika kami membunuh anaknya. Reputasi al-Qo’idah di dunia akan hancur, jika terungkap bahwa sebagian dari anak-anak para pemimpinnya telah berkhianat dan bekerja sebagai mata-mata. Seolah-olah reputasi Tanzhim lebih penting daripada penerapan syariat Robb semesta alam dan lebih penting daripada nyawa para tentara dan para pemimpin al-Qo’idah yang masih tersisa, yang akan berusaha dibinasakan oleh para mata-mata itu jika mereka dibebaskan.

Sebagaimana sebagian dari para pemimpin al-Qo’idah juga mengungkapkan ketakutan mereka akan terulangnya apa yang terjadi pada jama’ah mereka yang lama (Jama’ah Jihad Mesir), setelah terjadinya kisah serupa pada mereka di Sudan dulu.

Datanglah kepada kami surat dari azh-Zhowahiri yang di dalamnya disebutkan bahwa “jama’ah memutuskan untuk memaafkan dan menutupi”. Memaafkan salah satu dari had-had Alloh dan menutupi orang yang menghancurkan Tanzhim dan membunuh sebagian besar pemimpinnya.

Kemudian mereka meminta kami untuk menyerahkan kedua mata-mata itu kepada Mahkamah Tholiban. Kami pun menolak hal itu, karena kami tahu bahwa mereka seringkali melepaskan mata-mata dan tidak membunuhnya.

Di sini kami bertanya kepada mereka: Kenapa kita harus menyerahkan kedua mata-mata ini kepada Mahkamah Tholiban, padahal selain mereka tidak? Mereka menjawab bahwa kedua mata-mata itu memiliki kondisi khusus.

Pada akhirnya, kami berijtihad sendiri dan menerapkan hukum Alloh pada kedua mata-mata itu dengan membunuh keduanya tanpa merujuk kepada para pemimpin al-Qo’idah yang mengabaikan had dan menunda kasus mereka selama 20 bulan karena mengkhawatirkan reputasi Tanzhim yang telah memasuki fase kemusnahan.

An-Naba’: Ini terkait dengan kondisi internal al-Qo’idah. Tetapi apa yang terjadi pada hubungan al-Qo’idah dengan samudera yang di dalamnya kalian dulu hidup, maksud saya Waziristan?

Abu Ubaidah: Barang siapa tidak mampu menerapkan hukum-hukum syari’at di dalam Tanzhimnya, maka bagaimana bisa Anda menginginkannya untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berada di luar Tanzhim? Dapat dipastikan bahwa mereka lebih tidak mampu dan lebih sedikit triknya dalam berinteraksi dengan musuh-musuh yang ada di sekitar kami, yang selalu mengintai kami setiap waktu.

Shohawat ada di mana-mana. Kami mengetahui mereka. Banyak di antara mereka yang berhubungan dengan Tholiban Afghonistan. Tetapi kami tidak mampu bergerak terhadap mereka dan memukul mereka, disebabkan oleh penolakan para pemimpin al-Qo’idah untuk menargetkan mereka, dengan alasan takut akan memprovokasi kabilah-kabilah mereka terhadap al-Qo’idah.

Mereka bekerja untuk membunuh kami, sementara al-Qo’idah melarang kami untuk menghadapi mereka karena mengkhawatirkan reputasinya. Al-Qo’idah takut dikatakan memerangi kabilah-kabilah, jika mereka marah kepada kami karena telah membunuh anak-anak mereka yang murtad.

Saya akan memberi Anda contoh berkaitan dengan kisah para mata-mata di atas, yaitu kisah si murtad Jud ‘Abdurrohman, panglima salah satu Shohawat di utara Waziristan. Dia adalah orang yang tidak samar permusuhannya terhadap kami, bahkan dia adalah orang yang telah merekrut para mata-mata untuk menghancurkan al-Qo’idah. Kami telah mengetahuinya dan mengintai pergerakannya. Dan sebagaimana telah saya katakan kepada Anda, dia ingin menyerang kami untuk menyelamatkan kedua mata-mata itu dari tangan kami. Ketika kami ingin membunuhnya, para pemimpin al-Qo’idah menolak hal itu karena takut kepada kabilahnya. Kami tidak mendengarkan mereka karena mereka telah membatalkan hukum Alloh terhadap orang murtad ini, dan kami berusaha untuk membunuhnya. Para pemimpin al-Qo’idah pun mencela kami atas hal itu.

Apakah kami dicela karena berusaha membunuh orang murtad yang merupakan salah seorang musuh yang paling keras terhadap kami? Apakah penjahat semacam ini layak dibiarkan menghancurkan kami semua?

Para pemimpin al-Qo’idah tidak merasa cukup dengan melarang elemen-elemennya untuk bergerak terhadap orang-orang murtad itu. Bahkan gangguan mereka juga menimpa kelompok-kelompok lain. Ketika itu Hakimulloh Mahsud membunuhi orang-orang murtad, di mana pun dia menemukan mereka. Al-Qo’idah pun menyerangnya atas hal itu dan berlepas diri dari perbuatan-perbuatannya karena takut pembunuhan-pembunuhan tersebut akan dinisbatkan kepada al-Qo’idah. Ini terjadi ketika Hakimulloh membunuh si murtad Nur Muhammad. Dia adalah seorang panglima penting dalam Shohawat dan selalu melakukan provokasi terhadap al-Qo’idah dan Tholiban di masjid Dhiror yang di dalamnya dia mengumpulkan para pendukung dan pengikutnya. Dia tidak bergerak di luar rumahnya yang dijaga ketat kecuali ke masjid Dhiror ini dan melalui sebuah jalan yang dijaga ketat, karena takut akan keselamatan dirinya.

Lalu Hakimulloh mengirimkan kepadanya orang yang membunuhnya bersama 25 orang pengikutnya dengan sebuah bom sabuk. Al-Qo’idah pun marah dan berlepas diri dari perkara ini. Bahkan mereka mengirimkan seorang delegasi ke Wanah di selatan Waziristan untuk bertemu dengan Mulla Nazhir dari Tholiban Afghonistan untuk melepaskan diri mereka dari aksi ini. Bahkan ‘Athiyatulloh mengeluarkan rilis berjudul “Besarnya Keharaman Darah Kaum Muslimin” yang dia khususkan untuk menyerang Tahrik Tholiban yang dipimpin oleh Hakimulloh yang mereka tuduh bersikap ekstrem dan meremehkan darah.

Demikianlah Shohawat tumbuh di Waziristan dan memerangi kami dengan bebas, sementara al-Qo’idah menolak untuk melawan mereka karena takut kepada kabilah-kabilah mereka. Dan pada akhirnya Shohawat menguasai kawasan setelah berhasil menghancurkan al-Qo’idah secara total dengan bantuan kaum Salibis dan kaum murtad Pakistan.

An-Naba’: Dengan hukum apa Waziristan diperintah? Dan apakah al-Qo’idah memiliki usaha dalam menerapkan syari’at di sana?

Abu Ubaidah: Kawasan Waziristan secara keseluruhan diperintah dengan undang-undang Jahiliyah. Kabilah-kabilah memiliki undang-undang klasik yang dibuat oleh bapak-bapak dan kakek-kakek mereka yang mereka namakan Rowaj. Mereka berhukum kepadanya. Ketika terjadi suatu permasalahan di dalam kabilah, maka diadakan Majelis Kabilah (Jirgho), dan para pembesar kabilah yang mereka namakan Mulkan memberikan putusan kepada dua orang yang bersengketa sesuai dengan hukum-hukum Rowaj. Bahkan dalam perkara yang paling sederhana seperti warisan, di mana ia dibagi di antara para pewaris berdasarkan jumlah anak cucu mereka, tidak berdasarkan hak mereka yang diberikan oleh Alloh kepada mereka. Bandingkan hal itu dengan perkara-perkara yang lebih rumit.

Al-Qo’idah hidup di tengah belantara hukum-hukum Jahiliyah ini tanpa berusaha untuk merubahnya. Bagaimana bisa orang yang tidak menegakkan perintah-perintah Alloh di antara orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya menuntut orang lain di luar Tanzhim untuk tunduk kepada perintah-perintah Alloh tersebut?

An-Naba’: Apakah maksud Anda bahwa para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan tidak menegakkan had, bahkan di dalam Tanzhim mereka dan terhadap para tentara mereka sendiri?

Abu Ubaidah: Ya, ini yang saya maksud. Saya telah memberikan contoh yang jelas kepada Anda dalam kasus kedua mata-mata di atas. Meskipun keduanya telah mengaku melakukan perbuatan keji kaum Luth, bekerja sebagai mata-mata, dan menyebabkan terbunuhnya banyak dari elemen al-Qo’idah dan pemimpinnya, meskipun demikian para pemimpin al-Qo’idah menolak untuk membunuh keduanya. Bahkan mereka menolak untuk menjelaskan kemurtadan keduanya kepada masyarakat, meskipun istri salah satu dari kedua mata-mata itu meminta hal itu, untuk memastikan hukum tetapnya pernikahannya dengan suaminya. Ibu perempuan itu, yang merupakan janda salah seorang pemimpin besar dalam al-Qo’idah, telah mengirimkan surat kepada azh-Zhowahiri, meminta darinya penjelasan tentang hukum tetapnya pernikahan putrinya dengan mata-mata tersebut. Dan dia tidak mendapatkan balasan dari azh-Zhowahiri terkait hal itu.

Ketika itu, kami mengirim surat kepada azh-Zhowahiri, meminta darinya dasar syar’i atas tidak diterapkannya had syar’i atas kedua orang murtad tersebut. Itu terjadi setelah dia menulis surat kepada kami berisi perintah untuk memaafkan dan menutupi keduanya.

An-Naba’: Bagaimana Anda menafsirkan tidak diterapkannya had atas kedua mata-mata itu?

Abu Ubaidah: Mereka berdalih dengan pendapat-pendapat dan argumentasi-argumentasi rusak yang ditetapkan oleh para syar’i mereka, sampai mereka tidak menegakkan had, di samping bahwa mereka menutupi dua orang yang terjatuh dalam had dan tidak menghukum keduanya dengan hukuman apa pun.

Saya akan menceritakan kepada Anda kisah seorang pemuda di antara para prajurit Tanzhim yang berusaha berbuat jahat kepada seorang anak kecil. Kami menangkapnya sebelum itu dan menghukumnya setelah dia mengakui perbuatannya. Kami mengeluarkannya dari kawasan demi menjaga keselamatannya dari pembalasan keluarga si anak. Dan setelah itu kami dikejutkan oleh kenyataan bahwa Majelis Syuro al-Qo’idah mengirimkan kepada kami orang-orang yang mengungkapkan kemarahan mereka atas pencambukan pemuda tersebut, meskipun dia mengakui perbuatannya, dan meskipun tidak dihukumnya pemuda itu bisa mendorong ayah si anak untuk membunuhnya.

An-Naba’: Kenapa para pemimpin al-Qo’idah tidak berusaha menghentikan kerusakan ini? Apalagi ini adalah salah satu jalan untuk merekrut para tentara dan anak-anak mereka untuk berubah menjadi mata-mata yang membantu membunuh mereka.

Abu Ubaidah: Dapat dipastikan bahwa para pemimpin al-Qo’idah tidak ridho dengan masuknya kerusakan ini ke dalam sebagian dari para tentara dan anak-anaknya. Tetapi karena mereka mendahulukan pendapat dan hawa nafsu mereka atas perintah Alloh, Dia pun menghukum mereka dengan “kelemahan”. Maksiat dan dosa, termasuk di antaranya perbuatan keji, hampir ada di setiap masyarakat. Dan Alloh menurunkan had untuk menjauhkan manusia darinya. Kita memiliki teladan yang baik dalam kisah Ma’iz dan al-Ghomidiyah. Mereka adalah dua orang sahabat yang terjatuh dalam perbuatan keji zina. Maka Rosul ‘alaihish shollatu was sallam menyucikan keduanya dengan had dan merajam keduanya, meskipun kondisi Nabi ‘alaihish shollatu was sallam tidak terlepas dari perang selama masa keberadaannya di Madinah. Dan tidak seorang pun dari sahabat mengatakan bahwa pembunuhan kedua sahabat itu dengan cara dirajam akan merusak reputasi kaum muslimin, atau bahwa kabilah-kabilah akan mengeroyok mereka.

Penegakan hukum Alloh pada individu-individu kaum muslimin akan melindunginya dari tersebarnya kerusakan di dalamnya, di samping bahwa ia adalah sebab eksistensinya. Bagaimana sebuah Tanzhim yang mengklaim bahwa ia adalah pelopor jihad bagi umat dan bahwa ia ingin menegakkan khilafah di atas manhaj kenabian bisa eksis, sedangkan ia tidak menegakkan hukum Alloh pada dirinya sendiri sebelum orang lain.

Saya telah mengatakan kepada azh-Zhowahiri dalam sebuah surat yang saya kirimkan kepadanya: “Jika kita tidak bisa menegakkan hukum Alloh pada diri kita sendiri, maka bagaimana kita akan menegakkanya pada umat?” Dan sebagaimana biasanya, azh-Zhowahiri melarikan diri dari menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menuntut ketegasan.

Nasihat saya kepada para mujahid, agar mereka menjaga agama orang-orang yang dititipkan oleh Alloh kepada mereka, yaitu istri-istri dan anak-anak, karena maksiat dalam jihad lebih berbahaya daripada di tempat lain. Hendaklah mereka mengetahui bahwa terjatuhnya anak-anak mereka ke dalam maksiat tidak akan menghadapkan mereka pada kerugian agama saja, tetapi bisa menarik mereka juga untuk terjatuh ke dalam jeratan orang-orang murtad. Mereka bisa direkrut dan dirubah menjadi agen dan mata-mata yang melayani para thoghut dan kaum Salibis.

Saya mendukung para pemimpin kita —jazahumulloh ‘anil muslimina khoirol jaza’— karena tidak menyepelekan urusan maksiat dan berusaha keras memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, menegakkan had dan menerapkan hukum-hukum agama. Ia adalah tujuan yang karenanya jiwa dan darah dikorbankan. Dan ia —setelah Alloh— adalah benteng yang kokoh bagi umat.

An-Naba’: Penjelasan tentang manhaj yang sesungguhnya bagi Tanzhim al-Qo’idah adalah perkara yang sangat penting. Khususnya karena ada sebagian orang yang menyangka —berbeda dengan kenyataannya— bahwa ia dekat dengan manhaj Daulah Islamiyah. Saya akan memberi Anda ruang untuk menjelaskan perkara ini pada kesempatan lain dengan izin Alloh ta’ala.

Abu Ubaidah: Dengan senang hati. Meskipun, sebelumnya saya yakin bahwa penjelasan tentang hakikat manhaj al-Qo’idah akan menimbulkan goncangan bagi banyak orang, sebagaimana yang terjadi pada kami setelah kami masuk ke Waziristan dan melihat al-Qo’idah dari dalam, tidak melalui siaran-siaran satelit atau forum-forum. Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.

An-Naba Edisi 20

WAWANCARA DENGAN ABU UBAIDAH AL-LUBNANI (BAGIAN 1)

WAWANCARA DENGAN ABU UBAIDAH AL-LUBNANI (BAGIAN 1): TANZHIM AL-QO’IDAH DI KHUROSAN HABIS TOTAL SETELAH BERENCANA MENGKHIANATI DAULAH ISLAMIYAH

Dia berhijrah ke Khurosan, mencari jihad demi menegakkan syari’at Alloh, hanya untuk menemukan dirinya di tengah belantara kelompok-kelompok dan tanzhim-tanzhim di wilayah yang didominasi oleh hukum-hukum kesukuan Jahiliyah, sampai Alloh menganugerahkan kepadanya hijrah ke Darul Islam dan bergabung dengan tentara Khilafah. Penanggung jawab keamanan al-Qo’idah Khurosan, penanggung jawab kamp-kamp dalam Komite Militer, dan anggota Majelis Penasehat Tanzhim al-Qo’idah berbicara kepada an-Naba’ tentang sepenggal kisahnya bersama Tanzhim, seraya menganalisa realitas faksi-faksi dan prediksi nasib akhirnya berdasarkan pengalamannya di Waziristan.

An-Naba’: Bagaimana Anda melihat realitas dan masa depan Tanzhim al-Qo’idah Suriah, berdasarkan pengetahuan Anda yang dalam tentang Tanzhim al-Qo’idah di Khurosan?

Abu Ubaidah: Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada orang yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi semesta alam, serta kepada keluarganya, semua sahabatnya, dan orang yang berjalan di atas peri kehidupannya sampai hari kiamat. Wa ba’d.

Melalui realitas-realitas yang kita lihat dan berita-berita yang sampai ke telinga kita, realitas Tanzhim al-Qo’idah Suriah sangat serupa dengan kondisi al-Qo’idah di Khurosan sebelum musnah secara total dan eksistensinya habis, khususnya di wilayah-wilayah Waziristan yang dulu merupakan merupakan benteng utama bagi Tanzhim ini. Yang saya maksud adalah kondisi Tanzhim ini dari segi keberpalingannya dari menerapkan syari’at, sikap manisnya kepada orang-orang murtad, dan kelengketannya dengan faksi-faksi yang tidak samar hubungannya dengan para thoghut.

Begitu pula prioritas yang mereka berikan untuk menjaga nama Tanzhim dan memperbesar ukurannya, tanpa memandang aqidah orang-orang yang bergabung dengan mereka. Dengan persamaan keduanya dalam kondisi ini, saya menduga —wallohu a’lam— keduanya juga akan sama dalam nasib akhir. Cabang al-Qo’idah di Suriah akan habis sebagaimana Tanzhim pusatnya habis, yang berarti habisnya proyek azh-Zhowahiri di Syam.

An-Naba’: Yang diketahui oleh kebanyakan orang adalah bahwa al-Jaulani lah yang membuat proyek azh-Zhowahiri di Syam dengan mendeklarasikan bai’at kepadanya setelah peristiwa pengkhianatan yang terkenal. Jadi siapa sebenarnya yang punya proyek?

Abu Ubaidah: Proyek al-Qo’idah di Syam telah dimulai sejak lama sebelum al-Jaulani mendeklarasikan bai’at kepada azh-Zhowahiri. Bahkan bisa kita katakan bahwa proyek ini telah dimulai sejak hari-hari pertama masuknya mujahidin Daulah Islamiyah Iraq ke Syam dan dimulainya aksi-aksi mereka terhadap rezim Nushoiriyah dengan nama Jabhatun Nushroh”. Ketika itu al-Qo’idah memiliki dua jalur pekerjaan. Pertama, bersama Ahrorusy Syam. Abu Kholid as-Suri lah yang bekerja dengan mereka. Dia berkomunikasi dengan azh-Zhowahiri dan menginformasikan kepadanya rincian kondisi. Sebagaimana ada komunikasi untuk mengirimkan salah seorang syar’iy, yaitu Abu Maryam al-Azdiy, sebagai delegasi dari al-Qo’idah kepada Ahrorusy Syam, berdasarkan hubungannya yang lama dengan syar’iy Abu ‘Abdil Malik. Tetapi langkah ini tidak terlaksana, disebabkan oleh penangkapan al-Azdiy. Adapun jalur kedua dari proyek, ia berada di bawah arahan langsung para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan. Para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan ketika itu menunjuk ‘Abdulloh al-‘Adam yang terkenal Abu Ubaidah al-Maqdisi sebagai penanggung jawab atas file Syam. Dia pun mulai mengirimkan kader-kader al-Qo’idah dari Khurosan ke Syam.

An-Naba’: Kenapa mereka mengirimkan kader-kader ke Syam, padahal mereka sangat membutuhkan kader-kader itu di Khurosan dalam suasana perang besar-besaran yang dilancarkan terhadap mereka?

Abu Ubaidah: Kondisi di Waziristan ketika itu sangat buruk. Mata-mata ada di mana-mana dan pesawat tanpa awak di udara tak henti-hentinya membombardir elemen-elemen al-Qo’idah. Hal ini membuka peluang bagi setiap orang yang ingin pergi ke Syam. Dan ‘Abdulloh al-‘Adam mengambil sumpah dari mereka agar secara khusus pergi kepada al-Jaulani. Secara pribadi dia telah meminta saya untuk bergabung dengan al-Jaulani di Syam. Dan ketika saya bertanya kepadanya tentang sebab keinginannya untuk mengirimkan saya dan kader-kader al-Qo’idah lainnya ke sana, dia menjawab bahwa mereka ingin membuat pijakan kaki bagi mereka di Syam.

An-Naba’: Bagaimana perpindahan dari Khurosan ke Syam terjadi?

Abu Ubaidah: Masalah ini relatif mudah. Para koordinator al-Qo’idah mengatur masuknya individu-individu ke Iran. Di sana para musafir tinggal di rumah-rumah tamu untuk masa tertentu, sampai pengaturan urusan perjalanan mereka ke Syam selesai, dengan sepengetahuan pemerintah Rofidhoh Iran dan di bawah pengawasan perangkat-perangkat intelijennya. Bahkan begitu musafir masuk ke salah satu rumah tamu, intelijen telah mengetahui kedatangannya melalui para penanggung jawab rumah-rumah tamu yang bertemu dengan intelijen Iran setiap minggu. Sebagaimana telpon rumah-rumah tamu juga berada di bawah pendengaran dan kontrol mereka.

Barangkali Anda merasa heran dengan perkataan saya ini tentang bagaimana Iran mengizinkan para pejuang untuk menyeberang ke Syam, padahal mereka akan memerangi tentaranya, milisi-milisinya, dan sekutu-sekutunya di sana. Tetapi inilah realitasnya. Perhatian utama Iran adalah agar aksi-aksi tidak terjadi di atas tanahnya. Sebagaimana ia tetap aman dari sisi al-Qo’idah karena keberadaan banyak dari pemimpin al-Qo’idah di atas tanahnya.

Sebagian dari mereka berkelana dengan bebas, sebagaimana halnya ‘Athiyatulloh al-Libi sebelum kembali ke Khurosan. Dan sebagian dari mereka berada di bawah tahanan rumah di rumah-rumah milik pemerintah Rofidhoh, sebagaimana halnya Saiful ‘Adl dan Abu Muhammad al-Mishriy. Para pemimpin itu tidak memandang kekafiran orang-orang Rofidhoh dan memakan sembelihan-sembelihan mereka. Bahkan di antara mereka ada yang memandang orang-orang Rofidhoh sebagai sahabat atau sekutu dalam perang terhadap Amerika. Ini di samping keinginan Iran untuk memanfaatkan al-Qo’idah dalam menekan Amerika dan sekutu-sekutunya di antara para thoghut negara-negara Teluk.

Kita bisa menyebutkan contohnya dukungan yang diberikan oleh Iran kepada Kataib ‘Abdulloh ‘Azzam yang menyempal dari al-Qo’idah untuk melaksanakan aksi yang mentargetkan kapal tanker di teluk Arab beberapa tahun lalu. Melalui jalan ini saya kemudian berhijrah. Tetapi saya tinggal lama di Iran, sampai para koordinator al-Qo’idah memastikan bahwa saya tidak akan berhijrah ke tanah Daulah Islamiyah. Demikianlah saya lolos dari cengkeraman intelijen Iran yang mengetahui keberadaan saya melalui para koordinator rumah-rumah tamu al-Qo’idah. Dan intelijen Iran mencurigai tujuan saya, sebagaimana para koordinator juga curiga.

An-Naba’: Apakah para pemimpin al-Qo’idah benar-benar mengetahui pekerjaan al-Jaulani dan siapa yang diikutinya?

Abu Ubaidah: Saya telah menanyakan pertanyaan ini kepada ‘Abdulloh al-‘Adam. Dan dia menjawab bahwa mereka mengetahui bahwa asy-Syaikh Abu Bakr al-Baghdadi—hafizhohulloh—telah mengirim al-Jaulani dari Iraq untuk bekerja di Syam, tetapi mereka tidak ingin “eksperimen Iraq” terulang di Syam. Yang dia maksud dengan itu adalah Daulah Islamiyah Iraq.

An-Naba’: Bagaimana bisa mereka tidak menginginkan terulangnya eksperimen Daulah Islamiyah Iraq, padahal mereka dulu mendorong faksi-faksi di Iraq untuk berbaiat kepadanya, memuji pada pemimpinnya, dan mengatakan bahwa di dalam pendeklarasiannya terdapat taufiq robbani?

Abu Ubaidah: Ini di media saja. Adapun realitasnya, sama sekali tidak demikian. Mereka menyatakan dengan terang-terangan dalam majlis-majlis khusus mereka menolak manhaj Daulah Islamiyah Iraq. Saya telah mendengar ini secara pribadi dari salah seorang pembesar mereka. Mereka menolak deklarasi Daulah Islamiyah dan penegakkan hukum-hukum syariat, dengan klaim bahwa seluruh Iraq adalah “Darul Harbi”. Bahkan mereka menolak manhaj mujahidin di Iraq sebelum deklarasi Daulah. Mereka misalnya menentang manhaj asy-Syaikh Abu Mush’ab az-Zarqowi rohimahulloh dalam mentargetkan orang-orang Rofidhoh.

An-Naba’: Anda mengatakan bahwa permulaan proyek al-Qo’idah di Syam hampir beriringan waktunya dengan dimulainya pekerjaan mujahidin Daulah Islamiyah Iraq. Lantas bagaimana mereka mengetahui sejak dini bahwa Daulah Islamiyah ingin menerapkan eksperimennya yang sama di Iraq di medan Syam, padahal pengerjaannya belum berjalan kecuali selama waktu yang pendek?

Abu Ubaidah: Saya telah memberitahukan kepada Anda sebelumnya bahwa Abu Kholid as-Suri berkirim surat dengan para pemimpin al-Qo’idah di Khurosan dan menceritakan kepada mereka berita-berita yang terjadi di Syam. Surat-suratnya kebanyakan berisi provokasi terhadap Daulah Islamiyah Iraq dan mujahidinnya yang bekerja di medan Syam. Di dalamnya dia mengulang-ulangi permintaannya kepada para pemimpin al-Qo’idah agar berusaha mengeluarkan mujahidin Daulah Islamiyah Iraq dari Syam dan meyakinkan mereka agar kembali ke Iraq, dengan klaim bahwa itu lebih baik bagi medan Syam. Dari sisi lain, surat-surat al-Jaulani kepada para pemimpin al-Qo’idah juga memuat isi yang sama.

Kesimpulannya mereka telah menemukan dalam perkara ini pembenaran untuk memulai proyek mereka di Syam dan mengkhianati Daulah Islamiyah Iraq dengan cara mengilfiltrasi kelompoknya yang bekerja di Syam dan menguasainya, kemudian menggabungkannya dengan Tanzhim al-Qo’idah.

An-Naba’: Tetapi Anda telah menyebutkan bahwa proyek al-Qo’idah di Syam berjalan di atas dua jalur. Pertama, ke arah penguasaan terhadap kelompok yang berada di bawah Daulah Islamiyah Iraq. Dan kedua, dengan berkoordinasi dengan faksi-faksi, terutama Ahrorusy Syam.

Abu Ubaidah: Ya. Azh-Zhowahiri berharap melalui pekerjaan Abu Kholid as-Suri dalam kepemimpinan Ahrorusy Syam agar as-Suri mendekatkan al-Qo’idah dengan faksi-faksi. Dalam salah satu surat-menyuratnya dengan as-Suri, azh-Zhowahiri meminta as-Suri agar mengumpulkan faksi-faksi dan mengambil darinya sumpah untuk bekerja sama dengan al-Qo’idah. Tetapi as-Suri menolak, dengan alasan bahwa kondisi tidak mengizinkan atau bahwa waktu tidak tepat untuk perkara ini. Di sisi lain, ‘Abdulloh al-‘Adam mengirim kader-kader kepada al-Jaulani dan mempersiapkan segala hal untuk perpindahan para pemimpin dari barisan pertama al-Qo’idah ke Syam.

Menurut pendapat saya, rencana azh-Zhowahiri berdiri di atas peleburan Jabhatun Nusroh setelah dikuasai ke dalam Ahrorusy Syam. Tetapi hal ini tidak terlaksana, disebabkan oleh terbunuhnya Abu Kholid as-Suri, sedangkan dialah yang melaksanakan proyek pendekatan Ahrorusy Syam dengan al-Qo’idah. Begitu pula terbunuhnya hampir semua pemimpin barisan pertama dalam al-Qo’idah, terutama Abu Ubaidah al-‘Adam, salah seorang pelaksana proyek pengkhianatan terhadap Daulah Islamiyah Iraq melalui penguasaan terhadap Jabhatun Nushroh.

Selanjutnya al-Jaulani dan orang-orang yang bersamanya berhasil menetralisir orang-orang yang datang dari Khurosan dan membekukan aktifitas mereka sejak hari-hari pertama dari kedatangan mereka di Syam. Surat-surat yang datang dari mereka menyebutkan bahwa mereka tidak disambut dengan baik oleh para pemimpin Jabhatun Nushroh yang ingin menjadikan faksi mereka bersifat Suriah murni. Bahkan mereka mengeluhkan gangguan-gangguan dari Abu Firros as-Suri, meskipun mereka telah lama mengenalnya sejak masa keberadaannya di Afghonistan. Dan kita telah menemukan bahwa sebagian dari mereka menyempal dari Jabhatun Nushroh dan bergabung dengan faksi-faksi lain, terutama Jundul Aqsho.

An-Naba’: Bagaimana bisa proyek utama al-Qo’idah adalah bergabung dengan Ahrorusy Syam pada waktu faksi ini tidak samar pertemuan-pertemuannya dan hubungan-hubungannya dengan pemerintahan-pemerintahan thoghut di negara-negara kawasan?

Abu Ubaidah: Seperti halnya mereka berbaiat kepada Akhtar Manshur, sedangkan mereka mengetahui hubungannya dengan thoghut-thoghut Pakistan dan perangkat-perangkat intelijennya. Al-Qo’idah —sebagaimana Anda tahu— ingin menjauhkan diri dari memerangi para thoghut yang berkuasa di negeri-negeri kaum muslimin dan tidak memerangi seorang pun dari mereka kecuali orang yang memulai memerangi al-Qo’idah, dengan alasan mencurahkan tenaga untuk memerangi kepala kekafiran dunia, yaitu Amerika.

Karena itu ia berusaha bersembunyi di balik faksi-faksi dan kelompok-kelompok yang diridhoi oleh para thoghut, untuk berlindung di balik mereka dengan cara berbaur dengan barisan-barisan mereka. Bahkan tidak apa-apa menurut al-Qo’idah untuk membatasi perangnya terhadap orang-orang yang para thoghut meridhoi perang terhadap mereka, untuk melindungi dirinya dari serangan para thoghut itu. Apa yang terjadi di Khurosan adalah sebaik-baik contoh bagi Anda, di mana al-Qo’idah berhubungan dengan sejumlah faksi yang berhubungan dengan intelijen Pakistan, terutama gerakan Tholiban yang bersifat nasional.

Begitu pula ketika terjadi perpecahan di dalam Tahrik Tholiban di daerah-daerah Waziristan, al-Qo’idah segera berhubungan dengan cabang yang menolak untuk memerangi para thoghut di Pakistan dan yang terkenal dengan cabang Halaqoh Mas’ud yang dipimpin oleh orang yang disebut “Sijnuh’. Koresponden azh-Zhowahiri telah meminta saya ketika itu untuk menghentikan hubungan dengan cabang yang dipimpin oleh Hakimulloh, dalam posisi saya sebagai delegasi Tanzhim al-Qo’idah di Majelis Syuro Tholiban di Waziristan Utara. Yang demikian itu karena Hakimulloh bersikukuh memerangi pemerintah Pakistan, sebagaimana dia juga mentargetkan sekte-sekte sesat seperti Isma’iliyah dan Rofidhoh sampai di kuil-kuil mereka.

Yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa eksistensi satu-satunya yang tersisa bagi al-Qo’idah di kawasan itu dan yang dikenal dengan Tanzhim al-Qo’idah di Semenanjung India dikuasai oleh tokoh-tokoh yang menentang perang terhadap para thoghut Pakistan, terutama orang yang dipanggil Ahmad Faruq. Dan itu dengan dukungan dari salah seorang yang dekat dengan azh-Zhowahiri dan keluarganya. Sebagaimana azh-Zhowahiri juga menyerahkan kepadanya pengawasan Muassasah as-Sahab berbahasa Urdu yang ditujukan kepada Semenanjung India.

Dengan demikian, arus yang memerangi para thoghut, seperti kelompok Ilyas Kashmiri dan Badr Manshur berhasil disingkirkan, agar perang teralihkan secara keseluruhan dari perang terhadap para thoghut Pakistan kepada perang yang mereka ridhoi, yaitu perang terhadap India, musuh klasik Pakistan.

Dan setelah terbunuhnya Ahmad Faruq dalam sebuah pengeboman yang mentargetkannya bersama ‘Azzam al-Amriki dan dua orang tawanan Salibis, dia digantikan dalam memimpin Tanzhim oleh Maulawi ‘Ashim ‘Umar yang sebelumnya merupakan seorang pemimpin dalam Harokah Mujahidin yang mendapat dukungan dari intelijen Pakistan dan yang pekerjaannya sebelumnya terbatas pada memerangi tentara India kafir di Kashmir.

Dengan demikian, sekarang Anda bisa mengatakan bahwa Tanzhim al-Qo’idah di Semenanjung India dipimpin oleh orang-orang yang memiliki ikatan dengan intelijen Pakistan. Dan banyak di antara mereka yang merupakan orang-orang sufi Deobandi. Bahkan mereka tidak memandang kemurtadan pemerintah Pakistan. Mereka mengikuti ulama Pakistan, bukan syar’i al-Qo’idah, di antaranya si murtad Maulana Fadhlur Rohman, anggota Parlemen Pakistan, yang seperti Syaikh bagi Ahmad Faruq dan para pengikutnya.

Saya kira Anda tidak akan berpendapat bahwa pemerintah Turki yang padanya Ahrorusy Syam terikat memiliki banyak perbedaan dengan pemerintah Pakistan. Bahkan di antara para pemimpin al-Qo’idah ada yang memandang thoghut Erdogan sebagai orang muslim, meskipun dia memerintah dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh dan bersikap loyal kepada para Salibis, yaitu Salim ath-Thoroblusi yang merupakan syar’i umum pada al-Qo’idah Khurosan. Selanjutnya, apa masalahnya jika al-Qo’idah berhubungan dengan faksi yang berhubungan dengan pemerintah Turki?

An-Naba’: Bagaimana bisa masuk akal bahwa Tanzhim al-Qo’idah berhubungan dengan intelijen Pakistan, padahal para mata-mata intelijen Pakistan lah yang berada di balik pembunuhan semua pemimpin al-Qo’idah, dan pasukan Pakistan bersama Shohawat yang berhubungan dengannya lah yang telah menghabisi eksistensi al-Qo’idah di Waziristan?

Abu Ubaidah: Agar Anda dapat memahami masalah ini dengan baik, Anda harus mengetahui hakikat intelijen Pakistan. Ia sama seperti semua badan intelijen di dunia, terdiri dari banyak divisi. Masing-masing dari divisi-divisi ini melaksanakan sebagian dari tujuan-tujuan pemerintahan thoghut. Misalnya ada divisi yang diarahkan untuk perang melawan India. Di bawah pengawasannya semua faksi dan gerakan yang berjuang melawan India di Kashmir bekerja. Ada divisi lain yang diarahkan untuk mengatur urusan-urusan Afghonistan. Yaitu divisi yang dulu mengawasi faksi-faksi yang memerangi orang-orang komunis pada masa lalu, dan selanjutnya kini mengawasi gerakan Tholiban.

Ada divisi lain yang bekerja untuk melayani intelijen Amerika. Yaitu divisi yang mengarahkan perang terhadap al-Qo’idah di Waziristan di atas tanah, melalui Shohawat dan para mata-mata yang membantu pesawat-pesawat tanpa awak Amerika dalam menentukan posisi markas-markas dan rumah-rumah tamu, serta melacak para pemimpin dan para elemen. Divisi inilah yang melancarkan serangan terhadap al-Qo’idah.

Sementara di saat yang sama ada divisi-divisi lain yang memanfaatkan al-Qo’idah dan sekutu-sekutunya dalam mewujudkan tujuan-tujuan thoghut Pakistan.

An-Naba’: Saya terpaksa menutup wawancara pada titik ini, tanpa bisa memuaskan keinginan saya untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang pengalaman Anda bersama al-Qo’idah. Dan saya yakin bahwa para pembaca sangat antusias untuk mengetahui pendapat Anda seputar nasib akhir cabang al-Qo’idah di Syam berdasarkan negosiasi-negosiasi yang sedang dipersiapkan saat ini antara rezim Nushoiriyah dan Shohawat. Karena itu, saya akan mengambil lebih banyak waktu dari Anda pada pertemuan lain —in syaa-a Alloh— untuk memberitahukan kepada kami dan para pembaca tentang perkara-perkara ini, jika Anda tidak keberatan dalam hal ini.

Abu Ubaidah: Dengan senang hati. Semua yang saya saksikan atau saya ketahui tentang perkara-perkara ini akan saya hadirkan ke hadapan Anda semua. Tujuan kita adalah agar tragedi Waziristan tidak terulang, dan agar kaum muslimin sadar bahwa faksi-faksi itu menjauhkan mereka dari syari’at dan tidak mendekatkan mereka kepadanya. Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.

An-Naba’: Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan atas kelapangan dada Anda. Wassalamu ’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

An-Naba’ Edisi 19

HUBUNGAN ANTARA THAGHUT DAN ULAMA QO’IDUN

HUBUNGAN ANTARA THAGHUT DAN ULAMA QO’IDUN

Ilmu, keutamaan, kemuliaannya dan keutamaan para ulama adalah diperuntukkan pada ulama ‘amilin mujahidin lantaran jihad lisan dan pedang mereka. Adapun ulama yang tidak mengamalkan ilmunya maka ia tidak mendapat keutamaan itu. Lalu bagaimana halnya dengan ‘alim qo’id yang membela dan menyokong para thaghut yang telah memerangi tauhid dan Daulah Islam?

Tidak diragukan lagi akan kesesatan dan kemurtadannya. Tidak usah terperdaya dengan banyaknya wawasan dan hafalannya. Karena pangkal ilmu, buahnya dan porosnya adalah rasa takut kepada Allah dan mengamalkan apa yang diilmuinya. Firman Allah Ta’ala: “Hanyasanya hamba-hamba-Nya yang takut kepada-Nya adalah para ulama”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Ini menunjukkan bahwa setiap orang yang takut kepada Allah maka ia adalah seorang ‘alim. Sebaliknya tidak menunjukkan bahwa setiap ‘alim itu pasti takut kepada-Nya”.

Para ulama suu’ yang bermajelis bersama para thaghut, melayani mereka, berfatwa sesuai keinginan dan hawa nafsu mereka demi mendapat secuil dunia dari mereka, hubungan mereka dengan para thaghut itu adalah hubungan produktif yang harganya adalah dienullah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Amirul Mukminin dan Khalifah kaum muslimin Abu Bakar Al Baghdadi -semoga Allah memenangkannya- dalam pidatonya yang berjudul Walau Karihal Kafirun (Walaupun orang-orang kafir membencinya): “Titik lemah salibis dan sekutunya terletak pada kebutuhan mereka akan para penyihir jahat dari kalangan ulama thaghut. Tugas mereka adalah menyihir mata manusia dan menipu kaum muslimin awam dengan daya sihir fatwa mereka agar menghalangi kaum muslimin dari menyokong dan berkumpul di sekeliling mujahidin dan khilafah”.

Diantara mereka ada orang-orang yang menunjukkan dirinya berada di pihak jihad dan mujahidin, padahal siapapun yang memperhatikan kondisi mereka akan mengetahui bahwa mereka hanyalah antek-antek thaghut dalam memerangi khilafah. Sebagian dari mereka ada yang dibebaskan oleh thaghut hanya untuk menjadi narasumber sebuah channel thaghut untuk menyerang khilafah. Yang lain menggantikan intelijen kafir Barat untuk menyerang khilafah. Yang lainnya lagi malah bersumpah menghormati thaghut kafir Barat untuk mendapatkan kewarga-negaraannya lalu menyerang khilafah. Ini tidak lain hanyalah makar para penyihir itu. Maka janganlah engkau lengah wahai akhi muslim.

Itulah hubungan antara para thaghut itu dengan orang-orang yang duduk-duduk dari berjihad dan malah menyerang khilafah. Bahkan salah satu mereka sering menjadi narasumber dalam acara-acara tertentu hanya untuk mencaci mujahidin terbaik dan menyerang Daulah Islam (yang dibangun diatas batu bata tauhid dan puing-puing kesyirikan), serta menipu kaum muslimin awam. Betapa sedikitnya ulama haq, yang jujur dan berjihad.

Sebaliknya betapa banyaknya -semoga Allah tidak membanyakannya- ulama suu. Ulama akhirat itu asing dibanding ulama dunia seperti kata-kata Ibnu Rajab rahimahullah yang menerangkan macam-macam keterasingan: “Diantaranya adalah asingnya ulama akhirat diantara ulama dunia yang rasa takut dan belas kasihan telah dicabut dari hati mereka”.

Akhi muslim, tentu anda sudah mengetahui bahwa setiap yang berilmu pasti akan tergelincir dan binasa jika memperturutkan dunia. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Setiap ahli ilmu yang memperturutkan dan menyukai dunia maka pasti akan berkata atas nama Allah tanpa ilmu dalam fatwanya, keputusannya, pengajarannya dan pemaksaannya. Hal itu lantaran hukum-hukum Rabb Yang Maha Suci mayoritasnya menyelisihi keinginan manusia. Terutama para pemegang tampuk kepemimpinan dan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang mana kebanyakan kehendak mereka tidak akan terpuaskan kecuali dengan menyelisihi dan menyingkirkan kebenaran. Maka jika seorang alim dan pemimpin itu menyukai kursi kepemimpinan dan memperturutkan hawa nafsu pasti ia akan menyingkirkan kebenaran yang menghalanginya”.

Akhi muslim, yang demikian itu menjelaskan kepadamu mengapa mereka menjual Dien mereka dan berfatwa untuk memerangi khilafah dan mendukung shahawat. Yaitu lantaran keinginan para pemegang tampuk kekuasaan itu berlawanan dengan khilafah yang menghendaki tegaknya Dien. Khilafah menghendaki jihad sedangkan mereka menghendaki syahwat. Disinilah peranan ulama suu dan orang-orang yang duduk-duduk dari berjihad. Fatwa-fatwa bermunculan, program-program diciptakan, artikel-artikel ditulis, semuanya untuk memerangi khilafah.

Akhi muslim, banyak dari ulama suu’ yang duduk-duduk dari berjihad, yang memerangi Daulah Khilafah -semoga Allah memenangkannya- mengetahui bahwa Daulah itu benar dan bahwa Daulah adalah benar Daulah Islam. Namun mereka tidak ingin susah, lelah, dimusuhi thaghut dan alasan lain. Hal ini ada disetiap zaman ketika orang-orang yang jujur terhadap Diennya berdiri menyeru kepada kebenaran dan jihad. Betul akhi muslim, ketika Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah menyeru kepada tauhid dan memerangi syirik, orang-orang yang disebut ulama itu mendukungnya. Namun ketika beliau rahimahullah mulai berjihad, berperang dan mengkafirkan thaghut mereka memungkirinya karena beratnya hal itu atas mereka dan dunia mereka. Beliau berkata: “Yang mengaku dirinya ulama di setiap negerinya membenarkan dakwahku kepada tauhid dan menyingkirkan syirik, namun mereka menolak takfir dan perang yang kulakukan”.

Dan inilah yang kita lihat sekarang. Berapa banyak orang yang berilmu yang duduk-duduk dari berjihad, mereka menjelaskan hukum-hukum jihad, jizyah, memerangi murtad dan memberi kabar gembira akan kembalinya khilafah. Namun ketika khilafah benar-benar telah kembali sembari mengumandangkan tauhid, menghancurkan syirik, memerangi orang kafir dan murtad, dan menghapus tapal batas ciptaan thaghut, mereka menolaknya mentah-mentah lantaran ingin nyaman, santai, hidup dikelilingi istana, nama baik, jabatan, dan harta. Inilah penyakit terbesar yang menjadikan mayoritas mereka memerangi
Daulah Khilafah.

Akhi muslim, engkau tidak perlu heran dengan hal itu. Karena memang ada orang yang berilmu namun lebih memilih kufur daripada iman, lebih memilih thaghut daripada syariat hanya karena dunia -na’udzubillah- sekalipun ia tahu hal itu akan menyeretnya kepada kebinasaan di akhirat. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Diantara orang yang berilmu itu ada yang memilih kufur daripada iman sekalipun tahu tidak akan mendapatkan apapun di akhirat lantaran pilihannya itu”.

Akhi muwahhid, ketahuilah bahwa jika seorang alim itu meninggalkan apa yang diketahuinya dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam untuk mengikuti hukum penguasa yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya maka ia murtad kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata: “Ketika seorang alim itu meninggalkan apa yang diketahuinya dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya untuk mengikuti hokum penguasa yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya maka ia murtad kafir yang berhak mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat”.

Terakhir akhi muslim di Daulah Islam, hendaknya engkau memuji Allah atas nikmat yang agung ini yaitu engkau hidup di Daulah Islam yang berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam serta menghancurkan syirik dan menebarkan tauhid. Ini betul-betul nikmat yang agung. Kita memohon kepada Allah agar kita mampu mensyukurinya dan berkenan memilih kita mendapatkan ridho-Nya.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

An-Naba Edisi 12