Jumat, 27 April 2018

SYAIKH ABU NU’MAN YANTARI, SEKIAN LAMA BERJIHAD DI SOMALIA, NAMUN DENGAN LICIK MEREKA MEMBUNUHNYA

SYAIKH ABU NU’MAN YANTARI, SEKIAN LAMA BERJIHAD DI SOMALIA, NAMUN DENGAN LICIK MEREKA MEMBUNUHNYA

Sahabat yang mulia Abdullah Ibn Salam Radhiyallahu ‘anhu adalah seseorang yang mempunyai kedudukan diantara para sahabatnya (orang-orang Yahudi). Ia berkata kepada Nabi, ‘alaihis sholatu wasalam ketika masuk islam:

“Wahai Rasulullah sesungguhnya Yahudi itu kaum pemfit¬nah, sesungguhnya mereka jika mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka, mereka akan memfitnahku”. Maka ketika orang-orang Yahudi datang, Nabi Sholallahu ’alaihi wasallam bertanya kepada mereka: “Lelaki seperti apa Abdullah bagi kalian?” Mereka berkata: “Ia ada¬lah sebaik-baik kami dan sebaik-baik putra kami, ia adalah tuan kami dan anak lelaki tuan kami”. Berkata Rasulullah: “Bagaimana pendapat kalian jika Abdullah Ibn Salam masuk Islam?” Maka mereka berkata: “Semoga Allah melindunginya dari hal itu!” Maka keluarlah Abdullah kemudian berkata: “Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah” (saya bersaksi tiada sesembahan yang berhak disembah kec¬uali Allah dan Muhammad Rasulullah). Mereka berkata: “Seburuk-buruk kami dan seburuk-buruk putra kami!” Dan mereka (orang-orang Yahudi) menghinanya. Abdullah ibn Salam berkata: Inilah yang aku khawatirkan wahai Rasulullah” (HR Bukhari).

Inilah tabiat Yahudi di setiap tempat, dan demikian juga karakter siapapun yang mengadopsi manhaj bathil mere¬ka; berupa menyombongkan diri dari mengikuti kebenaran dan membuat makar atas pemeluknya. Hal itu lantaran kedengkian akut dalam diri mer¬eka ketika mengetahui kebenaran ada pada pihak lawannya.

Syaikh Abu Nu’man Yantari taqob¬balahullah, dari sedikit manusia yang selalu berusaha menggali kebenaran dan menjelajahi jalan pe¬tunjuk. Ketika memperolehnya, maka tak dipedulikannya lagi kedudukannya di antara kaumnya, sekalipun mereka akan berbuat makar atasnya dan memfitnahnya. Bahkan, ia meyakini kebenaran itu dengan sepenuh hatinya, melaksanakan konsekuen¬sinya, menyeru manusia pada apa yang diya¬kininya itu, dan bersabar dengan gangguan yang didapatnya.

Adalah keikutsertaan beliau cukup bagus dalam meletakkan pondasi jihad di Soma¬lia. Bahkan beliau termasuk para petinggin¬ya yang terkemuka. Berjuang memerangi murtaddin dan salibis dan terluka beberapa kali. Tertimpa celaka, kelaparan, dipenja¬ra dan diusir, semuanya fi sabilillah. Yang pada akhirnya, perjalanan emasnya ini be¬rakhir terbunuh secara licik ditangan orang-orang yang dahulu menganggapnya sebagai orang terbaik mereka putra terbaik mereka. Hanya dengan kebergabungannya dalam kafilah Khilafah, beliau berubah menjadi target tikaman mereka. Mereka memfit¬nahnya, mencederai kehormatannya, yang akhirnya menikamnya dari balik punggun¬gnya, setelah sebelumnya beliau menolong, menaungi dan mengamankan mereka.

Syaikh Basyir Adam Feili, yang masyhur (ter¬kenal) dengan panggilan Abu Nu’man Yan¬tari, lahir di tahun 1390 H di desa Gaduud, distrik Saakow. Nasabnya kembali ke kabilah Yantar yang merupakan bagian dari kabilah Rahanweyn.

Beliau keluar dari kampungnya untuk menuntut ilmu ketika masih kecil. Ia mem¬pelajari Al Qur’an di desa Hakarka di daerah administratif Bay. Kemudian pindah ke kota Baidoa untuk mendaftar di Darul Hadits, lalu bergabung di Ma’had Syar’i di Distrik Luuq dan mendapat pelatihan militer dalam kamp-kamp Al Ittihad Al Islami pada masa pemerintahan milisi Somalia.

Kemudian ia pindah ke kota Saakow untuk bertugas se¬bagai da’i dan pengajar ilmu-ilmu Syar’i. Tugasnya itu membuatnya berbenturan den¬gan orang-orang Sufi musyrik dan pemu¬ka-pemuka milisi kabilah yang menguasai kota itu. Allah menyelamatkannya dari usaha pembunuhan yang dirancang mereka, den¬gan cara menembakinya ketika sedang men¬yampaikan pidato di salah satu jalanan kota.

Setelah peristiwa 11 September, Syaikh langsung terjun ke medan perang. Perjalanan jihadnya ini dimulai dengan bantuannya ke¬pada Syaikh Adam Hashi Ayro taqabbal¬ahullah dalam membentuk Mu’askar Al Huda (Kamp Al Huda) di desa kelahirannya, desa Gaduud. Beliau juga ikut bertugas di kamp tersebut sebagai juru dakwah dan pela¬tih rekrutmen.

Setelah itu beliau pindah ke mu’askar Kam¬boni sebagai pelatih, yang semakin menam¬bah pengalaman jihad dan wawasan militern¬ya. Sehingga kemudian beliau ditetapkan sebagai amir dan penanggung jawab syar’I di salah satu desa Distrik Kamboni, yaitu desa Burkabo.

Bersamaan dengan dibentuknya Shahawat di Mogadishu dengan nama “Aliansi Anti Terorisme”, para mujahidin mengirimnya ke desa kelahirannya untuk kembali mem¬buka Mu’askar Al Huda, yang dikemudian hari menjadi sumber logistik dan bala ban¬tuan penting bagi mujahidin di Mogadishu.

Kemudian beliau ikut serta bersama gerakan Ittihad al-Mahakim al-Islamiyyah (Persatuan Pengadilan Islam) dalam penaklukan kota Kismayo. Beliau terus beraktivitas bersama mereka sampai masuknya tentara Salib Ethi¬opia menginvasi Somalia. Beliau ikut serta dalam pertempuran Idale yang terkenal itu dan terkena luka tembak.

Pada tahun 1427 H bersamaan dengan kem¬balinya momentum perang melawan tentara Ethiopia, beliau rahimahullah kemba¬li berpartisipasi dalam pertempuran demi pertempuran. Namun, dalam suatu operasi, salibis berhasil menangkapnya. Kemudian beliau dipindah ke salah satu penjara Addis Ababa ibukota Ethiopia dan ditahan selama dua tahun, setelah mengalami masa penah¬anan selama enam bulan di salah satu penjara Mogadishu.

Bersamaan dengan kebebasannya, ketika itu Harakah Asy Syabab telah didirikan dan memulai perjuangannya melawan pasukan Aliansi Afrika (AMISOM) dan para agen murtadnya. Beliau kemudian bergabung dan bertempur bersama Harakah Asy Sy¬abab. Mereka mengangkatnya menjadi wali daerah administratif Juba Bawah (Jubbada Hoose). Sekalipun demikian, beliau tidaklah lupa dengan isu-isu kaum muslimin di luar Somalia. Adalah beliau amat mendukung Daulah Islamiyah Irak, selalu menyeru un¬tuk membela dan mendukungnya.

Setelah deklarasi kembalinya Khilafah, be¬liau berada di antara orang-orang yang pertama kali mendukungnya dan selalu be¬rusaha untuk bergabung dengannya. Dan itulah yang akhirnya dilakukannya pada bulan Muharram 1438 H. Bai’atnya kepa¬da Amirul Mukminin tidak dilakukan se¬cara sembunyi-sembunyi, bahkan dengan terang-terangan beliau menantang para kriminal petinggi Harakah Asy Syabab yang mengancam siapa saja yang meninggalkan detasemennya dan menggabungkan diri dalam jama’ah kaum muslimin dan imam mer¬eka.

Para kriminal itu, yang berbai’at kepada antek intel Pakistan, Akhtar Manshur, yang fanatik dengan faksinya yang memecah belah kaum muslimin, tidak tinggal diam dengan aksi beliau. Apalagi mereka mengetahui kedudu¬kannya di sisi masyarakat Somalia secara umum dan di sisi pejuang Harakah Asy Syabab secara khusus, yang mana beliau adalah seorang ‘alim mujahid yang selalu berribath, salah satu penggagas jihad di Somalia, dan pendidik bergenerasi-generasi mujahidin. Maka, merekapun merencanakan pembunuhannya.

Beliau menyadari niat mereka, namun beliau tidak mempedulikannya, bahkan beliau terus menyeru para pejuang untuk bergabung dalam jama’ah kaum muslimin.

Mereka merencanakan pembunuhannya

Keislamannya yang lurus, tahun-tahun panjang jihadnya, cobaan demi cobaan yang menimpanya dalam berbagai pertempuran melawan musuh-musuh Dien, dan kesabarannya menghadapi cobaan berat di jalan Allah, sama seka¬li tidak menghalangi rencana busuk itu. Pandangan mereka terhadapnya persis sebagimana pandangan Yahudi atas Abdullah Ibn Salam Radhiyallahu ’anhu. Maka mereka membunuhnya dan tidak menyembunyikan perbuatan kotor itu, bahkan mereka membanggakannya dan mengumumkannya di depan khayalak ramai, untuk menanamkan ketakutan pada diri praju¬ritnya, dan memberi pelajaran kepada mereka bahwa para petinggi Harakah tidak segan-segan menumpahkan darah yang suci jika persoalannya menyangkut mashlahat kerdil mereka.

Kisah pembunuhannya taqabbalahullah adalah contoh nyata pengkhianatan atas prajurit Daulah Islamiyah yang telah menjadi kebanggaan Tanzhim Al Qaeda dan sekutunya dari para shahawat.

Setelah beliau mengumumkan bai’atnya kepada Amirul Mu’minin dan menyeru orang-orang untuk bergabung dalam kafilah Khilafah yang diberkahi, petinggi Harakah Asy Syabab mengutus sekolompok mata-matanya yang mempunyai hubungan pribadi dengan beliau untuk menemuinya, dengan alasan mereka ingin membai’at Amirul Mu’minin. Maka beli¬au bersedia bertemu mereka, dan mengutus sekelompok ikhwah untuk menjemput mereka. Beliau sendiri yang menanggung ongkos perjalanan mereka. Beliau lalu menyambut mereka dengan sebaik-baiknya, menyampaikan nasihat, mengingatkan mereka atas Allah, dan men¬dorong mereka untuk berbai’at kepada Amirul Mukminin. Untuk menjamu mereka, beliau menyembelih seekor kambing, dan memberi makan mereka dari simpanannya sendiri. Un¬tuk menjamin keamanan mereka, beliau membiarkan mereka menenteng senjata mereka. Namun, balasan yang didapatkan adalah pengkhianatan dan pembunuhan, setelah kelicikan dan penipuan.

Ketika itu Syaikh Abu Nu’man pergi bersama dua orang ikhwah untuk beristirahat. Tiga ikhwah sisanya ditugaskan untuk melayani tamu-tamunya itu. Namun para pengkhianat itu berhasil menyelinap ke kamarnya dan membunuh beliau beserta dua ikhwah itu. Mereka juga membunuh ikhwah yang melayani mereka. Tidak ada yang selamat kecuali satu ikhwah yang ketika itu sedang turun ke sumur untuk mengambil air. Para penjahat itu lalu kabur ke tuan-tuan mereka membawa kabar pembunuhan Syaikh Asy Syahid –demikianlah kami menilai dan kami tidak menyucikan seorangpun di hadapan Allah.

Syaikh Abu Nu’man taqabbalahullah telah terbunuh, namun pohon Khilafah di bumi dua hijrah (Somalia) belumlah mati, sebagaimana yang diharapkan Yahudi jihadi (tanzhim al Qaeda), bahkan semakin tumbuh –dengan keutamaan Allah– memanjangkan dahan dan rantingnya. Para sahabat beliau, prajuritnya, dan murid-muridnya masih akan dan terus mengalir bergabung dalam kafilah Khilafah. Persatuan dan jihad mereka akan membuahkan, dengan izin Allah, kemuliaan dan tamkin.

An-Naba Edisi 28

SENJATA ORANG MU’MIN, DOA

SENJATA ORANG MU’MIN, DOA

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosul-Nya yang terpercaya, serta keluarga, para sahabatnya, dan para pengikutnya sampai hari pembalasan. Amma ba’d.

Alloh telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan doa mereka. Alloh ta’ala berfirman: “Dan Robb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [Ghofir: 60]

Alloh ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa doa adalah ibadah dengan firman-Nya: “beribadah kepada-Ku”. Sebab, doa adalah ibadah yang paling agung, sebagaimana dalam sabda Rosul shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Doa itu ialah ibadah (yang sesungguhnya).” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan para pemilik as-Sunan]

Di dalam ayat di atas terdapat motivasi untuk berdoa, karena ia adalah ibadah kepada Alloh ‘azza wa jalla. Manfaat doa akan kembali kepada hamba, berupa pahala dan kedekatan kepada Alloh ‘azza wa jalla, serta terwujudnya apa yang diminta oleh hamba dari Robbnya, baik cepat maupun lambat. Dan di dalam ayat di atas terdapat ancaman besar bagi orang-orang yang berpaling dari doa, karena Alloh subhanahu wa ta’ala menyifati mereka dengan al-mustakbirin yang lebih besar daripada al-mutakabbirin, yaitu orang-orang yang berlebihan dalam sifat sombong dan berusaha untuk memilikinya. Alloh telah mengancam mereka dengan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.

Dan itu adalah balasan setimpal bagi kesombongan yang Alloh tidak menyukainya dan tidak menyukai orangnya, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala: “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.” [an-Nahl: 23]

Sebab, takabbur (kesombongan) adalah salah satu dari sifat-sifat Alloh ‘azza wa jalla yang Dia tidak ridho jika seorang dari makhluk-Nya menyaingi-Nya dalam sifat tersebut. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam apa yang diriwayatkannya dari Robbnya: “Kesombongan adalah jubah-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merampas salah satunya dari-Ku, maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Dari sini kita mengetahui bahwa para tiran, para diktator dan orang-orang yang sombong diancam dengan adzab Alloh. Adzab mereka bisa jadi dari sisi Alloh atau melalui tangan kaum mu’minin, sebagaimana firman Alloh ta’ala: “Katakanlah (Muhammad): Tidak ada yang kalian tunggu-tunggu bagi kami kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kalian bahwa Alloh akan menimpakan adzab kepada kalian dari sisi-Nya atau melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu bersama kalian.” [at-Taubah: 52]

Ini di dunia. Adapun di akhirot, orang-orang yang sombong, tidak mau menyembah Alloh (beribadah kepada Alloh), akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. Sebuah janji yang pasti terjadi.

Alloh ‘azza wa jalla telah memerintahkan kita agar berdoa kepada-Nya: “Dialah yang hidup kekal, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam.”  [Ghofir: 65]

Alloh subhanahu sama sekali tidak ridho jika hamba-hamba-Nya berdoa kepada selain-Nya. Itu adalah syirik. Dan itu adalah kezholiman yang besar. Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Alloh. Sesungguhnya syirik benar-benar merupakan kezholiman yang besar.”  [Luqman: 13]

Alloh subhanahu telah memberitahukan bahwa setiap yang diseru selain Alloh tidak kuasa menolak madhorot atau mendatangkan manfaat bagi orang-orang yang menyerunya. Dia berfirman: “Dan orang-orang yang kalian seru selain Alloh tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis qithmir. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian. Dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak akan mengabulkan permintaan kalian. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian seperti (Alloh) Yang Maha Teliti.” [Fathir: 13-14] Qithmir adalah kulit tipis yang terletak pada biji kurma.

Jika Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam saja tidak kuasa menolak madhorot atau mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri kecuali apa yang dikehendaki oleh Alloh, maka selain beliau demikian pula, bahkan lebih lagi. Alloh ta’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak madhorot bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Alloh. Sekiranya aku mengetahui yang ghoib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”  [al-A’rof: 188]

Dan Robbnya subhanahu wa ta’ala memerintahkannya agar berkata: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan bagi kalian…”  [al-Jin: 21]

Jika kita ingin agar Alloh mengabulkan doa kita, maka Dia telah meminta kita untuk memenuhi seruan-Nya, yaitu mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, disertai dengan iman kepada-Nya subhanahu. Alloh ta’ala berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” [al-Baqoroh: 186]

Artinya: Hendaklah mereka mengerjakan apa yang Aku inginkan dari mereka dan hendaklah mereka bergembira dengan pengabulan doa mereka.

Jika seorang muslim berdoa kepada Alloh, maka pertama, hendaklah dia mengetahui bahwa dia sedang menjalankan sebuah ibadah. Semakin dia memperbanyak dan terus mendesak dalam berdoa, maka dia akan semakin dekat kepada Alloh.

Kedua, bahwa dia akan mendapatkan dari doanya —di samping pahala— salah satu dari tiga hal, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Tidak seorang mu’min pun berdoa dengan sebuah doa yang di dalamnya tidak ada dosa atau pemutusan persaudaraan, kecuali dengan permohonan itu Alloh akan memberikan salah satu dari tiga hal: permohonannya segera dikabulkan, atau Alloh menyimpannya untuknya di akhirot, atau Alloh menghindarkan darinya keburukan yang setara dengan permohonan itu.” Mereka (para sahabat) berkata: “Kalau begitu kita perbanyak.” Beliau bersabda: “Alloh lebih banyak.” [Diriwayatkan oleh Ahmad]. Beliau mengecualikan dari pengabulan doa, sesuatu yang di dalamnya terdapat dosa atau pemutusan persaudaraan.

Orang yang berdoa tidak boleh tergesa-gesa, tetapi dia harus terus mendesak, memperbanyak, merendahkan diri dan tunduk (khusyu’). Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Doa seorang dari kalian akan dikabulkan selama dia tidak terburu-buru; (yaitu) dia berkata: Aku telah berdoa, tetapi doaku tidak dikabulkan.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhoriy dan Muslim]

Ada beberapa penghalang yang menghalangi pengabulan doa, di antaranya: memohonkan suatu dosa atau pemutusan persaudaraan, dan orang yang berdoa termasuk orang yang memakan harta harom. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya Alloh itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Alloh memerintahkan orang-orang mu’min dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rosul. Dia berfirman: ‘Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian.’ Kemudian beliau menyebutkan laki-laki yang dalam perjalanan panjang, kusut dan berdebu, mengulurkan tangannya ke langit: ‘Ya Robbku! Ya Robbku!’ Sedangkan makanannya harom, minumannya harom, dan pakaiannya harom. Maka bagaimana bisa itu dikabulkan?” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Marilah kita berdoa kepada Alloh ‘azza wa jalla di setiap waktu dan mengajukan kepada-Nya hajat-hajat kita. Kita memohon kepada-Nya agar memperbaiki kondisi kita dan kondisi kaum muslimin, agar tidak memberikan kekuasaan atas kita —karena dosa-dosa kita— kepada orang yang tidak mengasihi kita, agar menolong Islam dan negaranya, agar memberikan tamkin kepadanya di bumi, agar menolong kita atas kaum yang kafir, serta agar menolong kita untuk mengingat-Nya, mensyukuri-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan baik.

Kemudian, istighfar adalah meminta pengampunan dosa dan penutupan aib dari Alloh Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Alloh ‘azza wa jalla telah menetapkan bagi orang-orang yang beristighfar dengan tulus pahala yang besar di dunia dan akhirot.

Istighfar adalah sebab bertambahnya kekuatan umat dan individu. Nabiyulloh Hud ‘alayhi wa ‘ala nabiyyinas salam berkata: “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras dan menambahkan kekuatan di atas kekuatan kalian. Dan janganlah kalian berpaling menjadi orang-orang yang berbuat kejahatan.” [Hud: 52]

Di medan-medan pertempuran yang di dalamnya terjadi konfrontasi antara nabi-nabi Alloh dan para pengikutnya di satu sisi dan antara para pendusta yang sesat di sisi lain, kita menemukan para nabi dan orang-orang yang beriman kepada mereka menggandengkan antara permohonan ampunan dan permohonan pertolongan dari Alloh. Alloh ta’ala berfirman: “Dan tidak lain ucapan mereka kecuali mereka mengucapkan: Ya Robb kami! Ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, teguhkanlah kaki-kaki kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” [Ali ‘Imron: 147]

Penyebab hal itu —wallohu a’lam— adalah bahwa orang yang berdoa menginginkan pertolongan dari Alloh. Tetapi bagaimana dia memohon pertolongan dari Alloh, sedangkan dia melihat dirinya melalaikan hak Alloh dan dipenuhi dengan dosa? Karena itu, dia memohon dari Alloh agar menyucikannya dan memaafkannya terlebih dahulu, lalu memohon hajatnya saat ini yang mendesak, yaitu peneguhan kaki dalam menghadapi tentara Iblis dan kemenangan atas kekufuran dan para penolongnya.

Istighfar yang disertai dengan taubat yang tulus adalah sebab bagi kebahagiaan dunia dan akhirot. Alloh Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kalian memohon ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia memberikan karunia kepada setiap orang yang berhak mendapat karunia.” [Hud: 3]

Dan istighfar adalah sebab agar Alloh menyayangi dan mencintai kita. Alloh ta’ala berfirman: “Dan mohonlah ampunan kepada Robb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Robbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” [Hud: 90]

Di antara ganjaran istighfar adalah bahwa Alloh akan menurunkan kepada kita berkah-berkah langit dan membukakan bagi kita berkah-berkah bumi: harta, anak-anak, tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, dan mengalirnya sungai-sungai. “Maka aku berkata: Mohonlah ampunan kepada Robb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, serta mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan kebun-kebun sungai-sungai.” [Nuh: 10-12]

Alloh subhanahu tidak akan menurunkan adzab dan amarah-Nya pada umat yang beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. “Dan Alloh tidak akan mengadzab mereka sedang mereka memohon ampunan.” [al-Anfal: 33]

Istighfar adalah pembaruan sumpah antara hamba dan Robbnya; bahwa dia berkomitmen untuk mentaati Mawla-nya, kembali kepada Robb-nya dan ketaatan kepada-Nya pada setiap waktu. Setiap kali dia berbuat dosa dan setiap kali dia lalai, dia memohon ampunan kepada Robbnya subahahu wa ta’ala. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya benar-benar terjadi kelesuan pada hatiku. Dan sesungguhnya aku benar-benar memohon ampunan kepada Alloh dalam sehari sebanyak seratus kali.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Demikianlah kondisi Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam, sedangkan beliau adalah orang yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

Apabila orang mu’min selesai mengerjakan sholat fardhu dan juga sholat malam, maka dia beristighfar kepada Alloh ‘azza wa jalla, memohon agar Alloh mengampuni baginya kekurangan dan kerusakan yang terjadi pada ibadahnya. Dulu Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam jika telah salam dari sholat fardhu, beliau mengucapkan astaghfirulloh sebanyak tiga kali. Dan Alloh ta’ala berfirman tentang orang-orang mu’min: “Dan  pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Alloh).” [adz-Dzariyat: 18]

Bahkan sampai setelah datangnya kemenangan dari Alloh, terkalahkannya orang-orang kafir dan masuknya manusia ke dalam agama Alloh dengan berbondong-bondong, Alloh memerintahkan Nabi-Nya shollallohu ‘alayhi wa sallam agar bertasbih dengan diiringi pujian serta beristighfar dan bertaubat. “Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan, dan engkau telah melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Alloh, maka bertasbihlah dengan memuji Robbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” [an-Nashr: 1:3]

Wajib atas kaum muslimin untuk memohon ampunan kepada Alloh, bertaubat kepada-Nya, memperbaiki amal-amal mereka, dan kembali kepada Robb mereka. Dan hendaklah mereka memohon kepada-Nya kemenangan atas musuh-musuh agama, disertai dengan permohonan ampunan dosa-dosa, maaf, dan rohmah dari Robb semesta alam. Sebagaimana Alloh ‘azza wa jalla mengajari kita di akhir surat al-Baqoroh agar kita berdoa: “Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir” [al-Baqoroh: 286]

Dalam hadis Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shohih-nya, disebutkan bahwa Alloh Ta’ala berfirman: “Aku telah mengerjakan”. Artinya: Aku telah mengabulkan orang yang berdoa dengan doa ini.

An-Naba Edisi 21

SYAIKH ABU MUHANNAD ASY SYAMI, LELAKI YANG MENGINJAK FANATISME GOLONGAN DENGAN KAKI BESINYA

SYAIKH ABU MUHANNAD ASY SYAMI, LELAKI YANG MENGINJAK FANATISME GOLONGAN DENGAN KAKI BESINYA

Ketika Salibis Amerika menginvasi Iraq, ribuan pemuda bangkit untuk menghadangnya, khususnya para pemuda dari negeri Syam. Diantara mereka adalah Hassan ‘Abdul Jalil ‘Abbud, yang dikenal di tanah kelahirannya Sarmin, Idlib sebagai seseorang yang pemberani dan berwibawa. Dia pergi berperang dan menjalin interaksi dengan mujahidin Iraq. Ia mencintai mereka dan merekapun mencintainya. Allah mentakdirkannya bertemu dengan Syaikh Abu Anas asy Syami taqobbalahullah. Ia membersamainya dalam setiap pertempuran, termasuk operasi penyerangan penjara Abu Ghuraib, pertempuran yang mana Allah takdirkan Salibis mengetahui persis posisi mujahidin dan membombardir mereka. Ketika itu banyak dari mujahidin yang gugur, diantaranya Syaikh Abu Anas. Namun Allah tetapkan tokoh kita ini selamat dari kematian. Beberapa waktu setelah peristiwa itu ia kembali ke Syam.

Setelah kepulangannya ke Syam, diapun tetap membantu dan menolong para mujahidin, diantaranya dengan menyambut para muhajirin dan menyiapkan tempat bagi mereka serta berusaha menyelundupkan mereka ke Iraq. Aktivitasnya tersebut berlanjut sampai beberapa waktu, hingga akhirnya terputuslah komunikasi dengan mujahidin. Bersamaan dengan pecahnya demonstrasi-demonstrasi di Syam melawan rezim Nushairiyah, Hassan ‘Abbud bersama orang-orang terdekat dan para sahabatnya pun mulai bersiap-siap untuk berperang melawan Nushairiyah.

Mereka mulai mengumpulkan persenjataan dan mengadakan pelatihan pembuatan bom IED. Mereka termasuk dalam golongan yang pertama kali mengangkat senjata melawan tentara Nushairiyah di daerah utara Syam. Seiring dengan semakin sengitnya pertempuran-pertempuran di Syam, kelompok yang dipimpinnya setelah melalui berbagai peristiwa dan pergantian nama akhirnya menetapkan nama terakhir, Liwaa' Dawud.

Di waktu yang sama ia senantiasa mencari kebenaran dan mengikutinya. Ketika di Iraq ia tidak bisa mengenal lebih dalam manhaj mujahidin dengan sempurna lantaran sulitnya situasi dan kondisi ditambah setelah kembalinya ke Syam yang kemudian terputusnya komunikasi dengan mujahidin. Namun Allah mentakdirkan sebagian du’at dari muhajirin mendekati beliau. Mereka memberikan nasehat dan membimbingnya menuju aqidah yang benar dan manhaj yang bersih. Hal itu bersamaan dengan dideklarasikannya ekspansi wilayah Daulah Islamiyah ke Syam. Peristiwa ini adalah faktor terbesar yang mendorongnya membangun hubungan dan menjalin aliansi dengan Daulah Islamiyah melawan Nushairiyah.

Setelah keikutsertaannya bersama Junud Daulah Islamiyah di beberapa pertempuran, diantaranya pertempuran merebut gudang-gudang penyimpanan senjata al Hamra’ di pinggiran Hama, Syaikh Hassan ‘Abbud dan pengikutnya berbaiat kepada Amirul Mu’minin. Ia dan prajuritnya melebur ke dalam wilayah Idlib dan diangkat sebagai penanggung jawab militer untuk wilayah tersebut. Ini terjadi sekitar tiga minggu sebelum dimulainya pengkhianatan shohawat terhadap Daulah Islamiyah.

Ikhwah yang berada di Idlib ketika itu berjumlah beberapa ratus orang saja, mayoritasnya para muhajirin, di tengah-tengah rimba faksi-faksi pemberontak yang selalu berusaha mencari celah untuk menghabisi mereka. Dengan bergabungnya Liwaa' Dawud yang jumlah tentaranya mencapai tujuh ratusan lebih pada Daulah Islamiyah, dan berbai’atnya pemimpin lagi pendirinya Hassan Abbud kepada Amirul Mu’minin, betul-betul merupakan pertolongan dan karunia Allah kepada mujahidin. Segera setelah menerima jabatannya sebagai penanggung jawab militer wilayah ia mulai merancang operasi militer besar untuk membersihkan kota Khan Syaikhun dan checkpoint di sekitarnya dari najis Nushairiyah.

Seharusnya operasi ini akan diikuti oleh pasukan Daulah Islamiyah dari wilayah Idlib dan Hama, akan tetapi operasi tersebut tidak pernah terlaksana akibat pengkhianatan shohawat di seluruh utara Syam, membuat prajuritnya terpaksa mundur untuk mengumpulkan kembali kekuatan mereka agar mereka tidak menjadi santapan empuk faksi-faksi pemberontak seperti yang terjadi di pinggiran barat dan utara Aleppo.

Kota Sarmin dan Saraqib adalah pilihan terbaik ketika itu. Di kedua kota itu Syaikh Hassan Abbud berhasil mengamankan para ikhwah dan menggagalkan seluruh usaha shohawat, utamanya faksi Suqur asy Syam, untuk menyerbu mereka.

Beberapa waktu lamanya Syaikh mencurahkan segenap usahanya untuk membentengi wilayahnya dari Shohawat. Ia berhasil mengurai banyak jaringan sel-sel intelijen Shohawat di Saraqib dan Sarmin. Ia juga berhasil menyeru sebagian kelompok di sana untuk berbai’at kepada Amirul Mu’minin. Ia pun menetap di sana sembari menunggu perintah untuk bergerak merebut kembali wilayah Idlib dari cengkraman shohawat.

Setelah dideklarasikannya Khilafah, datanglah perintah pada setiap Junud Daulah yang berada di wilayah kekuasaan Shohawat untuk berhijrah ke wilayah Daulah Islamiyah, agar bisa hidup di negeri Islam di bawah naungan Syari'at Islam, disamping adanya kekhawatiran akan pengkhianatan Shohawat. Begitu perintah untuk berhijrah turun, dengan segera Syaikh Hassan Abbud beserta prajuritnya bersiap-siap untuk berhijrah menuju Darul Islam.

Dalam perjalanan, Allah menganugerahkan kemenangan dan ghonimah yang banyak kepada mereka. Ketika itu tentara Nushairiyah menyergap kafilah muhajirin dan hampir-hampir berhasil menawan keluarga mereka yang berada dalam beberapa bus, akan tetapi Allah pun menyelamatkan mereka. Para ikhwah berhasil membendung sergapan tersebut kemudian menyerang balik dan berhasil membunuh banyak tentara Nushairiyah serta merampas dua mobil lapis baja.

Setelahnya mereka juga memerangi rezim di kota Halab, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat kemenangan untuk hamba-hambaNya. Mereka berhasil memutus jalur logistik satu-satunya rezim dan memaksanya masuk dalam pertempuran yang tidak mereka sangka. Dalam pertempuran ini ratusan anggota pasukan khusus rezim terbunuh. Dalam pertempuran ini pula Allah menakdirkan Syaikh Abu Muhannad asy Syami terkena luka yang cukup serius ketika berusaha menusuk jauh ke dalam wilayah rezim.

Satu sifat yang tampak dalam karakter Syaikh

Abu Muhannad asy Syamiy taqobbalahullah adalah terus bersungguh-sungguh dengan segenap kekuatan dan kemampuannya mencari kebenaran dan berpegang teguh kepadanya setelah menemukannya meskipun harus bersusah payah dan mengorbankan banyak hal. Dialah yang sejak permulaan jihadnya melawan Nushairiyah selalu mencari-cari siapa yang menginginkan tegaknya syari’at Islam untuk segera membangun hubungan dengannya dan berperang di bawah benderanya.

Yang pada akhirnya pencariannya membuahkan bai’at kepada Amirul Mu’minin dan bergabung kepada Daulah Islamiyah setelah jelas baginya kedustaan klaim-klaim faksi-faksi perlawanan Islamis namun sejatinya hendak menegakkan demokrasi. Dialah yang sejak mengetahui kebenaran yang didapatinya dalam manhaj Daulah Islamiyah segera dipegangnya erat-erat tanpa mempedulikan tawaran dan iming-iming yang digelontorkan para murtaddin baik di dalam dan luar negeri. Ia tinggalkan kekuatan, persenjataan dan personil yang dimilikinya untuk diberikan semuanya kepada Daulah Islamiyah. Banyaknya musuh yang mengintai tak membuatnya gentar. Ia tetap teguh dengan bai’atnya kepada Amirul Mu’minin dan meneguhkan ikhwah yang bersamanya.

Sejak awal jihadnya ia suka bermajelis dengan para du’at dan tholabatul ilmi, khususnya dari para muhajirin. Ia mendengarkan pembicaraan mereka dan meminta fatwa mereka dalam rangka mencari kebenaran. Sampai ia selalu mengajak para tholabatul ilmi itu kemanapun agar bisa selalu menasihatinya dan mengingatkannya akan Allah.

Diantara mereka itu adalah teman dekatnya yaitu Abu Mush’ab al Urduniy taqobbalahullah. Ia selalu berusaha menghadiri pelajaran-pelajaran syari’ah, khususnya pelajaran tauhid. Ia juga mewajibkan seluruh tentaranya untuk menghadirinya. Seakan-akan dengan itu ia berusaha menambal apa saja yang terlewat selama terisolasinya ia di wilayah Shohawat sebelum hijrahnya. Ia adalah orang yang selalu berusaha keras mengikuti kebenaran. Senantiasa menanyakan hukum Syar’iy dalam setiap permasalahan yang dihadapinya. Jika telah jelas hukumnya, maka diskusi segera dihentikannya dan ia segera beramal sesuai dengan konsekuensi hukum syar'I tersebut.

Ia adalah seseorang yang amat takut dengan kezhaliman sekalipun mengakibatkan dirinya di qishos. Saking takutnya dengan kezhalimannya, ia sampai berkeliling sendiri dan bertanya-tanya kepada para tahanan tentang bagaimana kasus mereka lantaran takut jika ada salah seorang yang seharusnya sudah bebas namun masih ditahan karena keterlambatan menghadirkan kasusnya kepada hakim untuk ditinjau.

Beliau tidak segan-segan menghentikan kaum muslimin awam yang sedang berada di jalanan sekalipun mereka tidak mengetahuinya untuk menanyakan bagaimana hubungan mereka dengan Junud Daulah Islamiyah dan bagaimana mu’amalah para ikhwan yang duduk di berbagai kantor Departemen Daulah kepada mereka. Lantaran ia takut jika salah seorang tentaranya melakukan kezhaliman kepada salah seorang yang Allah perintahkan untuk mengayominya.

Adapun tentang keteguhannya di atas jalan jihad fie sabilillah, maka ia sama sekali tidak tergoyahkan dengan ujian dan luka-luka yang dideritanya. Ketika awal mula menapaki jalan ini, Allah mentakdirkan sebuah roket home-made meledak sebelum meluncur, mengakibatkan terputusnya dua kakinya. Ia kemudian diberi dua kaki palsu dari besi yang dipakainya ketika berjalan dan dilepasnya ketika duduk atau beristirahat. Dengan kedua kaki palsu itu ia menceburkan diri dalam puluhan pertempuran.

Setelahnya Allah mentakdirkan Abu Muhannad beberapa kali terluka parah. Salah satunya ketika pesawat Nushairiyah menembaki mobilnya dalam operasi penaklukan Tadmur yang menghancurkan dua kaki besinya, namun ia selamat. Demikian juga ketika pecahan roket tank Nushairiyah melukainya dalam pertempuran di Dawwah, sebelah barat Tadmur dan membunuh Abu Mush’ab al Urduniy taqobbalahullah yang ketika itu berada di sampingnya. Ditambah lagi ia juga menderita diabetes sehingga luka-lukanya tidak kunjung sembuh.

Adapun tentang wala’nya kepada Daulah Islamiyah, semua orang yang mengenalnya tahu bahwa ia selalu mementingkan semua yang mendatangkan mashalahat kepada Daulah. Ketika perintah hijrah sampai kepadanya maka segera saja ia kumpulkan seluruh anggota beserta persenjataan dan logistik Liwaa' Dawud untuk berangkat berhijrah menuju Darul Islam.

Ketika sampai, segera diserahkannya seluruh properti kepemilikan Liwaa' Dawud kepada Daulah yang berupa uang sejumlah ratusan ribu dollar hasil ghonimah dari pertempuran-pertempurannya ditambah dengan 12 tank dan mobil lapis baja serta ratusan persenjataan serta alutsista lainnya.

Kemudian segera nama Liwaa' Dawud dihapuskannya secara total dan memeriksa semua orang yang masih menggunakan nama tersebut. Itu dilakukannya untuk menanamkan kecintaan kepada Daulah Islamiyah dan ketaatan kepada Amirul Mu’minin dalam hati tentaranya.

Beliau adalah seseorang yang memiliki pemikiran militer cerdas. Ia mempersiapkan operasinya dengan baik. Terbukti dengan suksesnya banyak operasi yang dipimpinnya sebelum berbai’at kepada Daulah Islamiyah. Diantaranya operasi penyerangan checkpoint Hamisyu, operasi penyerangan checkpoint Bab Al Hawa, Gedung Universitas Ilmu Administrasi, Bandara Militer Taftanaz, Kamp asy Syabibah, Akademi Pertahanan Udara, checkpoint al Jadida, pabrik SADCOB, dan pos-pos checkpoint-checkpoint lainnya yang tersebar diantara Idlib dan Ariha dan masih banyak lagi operasi militer lainnya.

Setelah berbaiat kepada Amirul Mu’minin, ia juga kembali memimpin operasi-operasi militer berskala besar. Yang paling penting adalah operasi pembebasan Tadmur, salah satu operasi terbesar khilafah dilihat dari jumlah pasukan dan luasnya front pertempuran. Lalu pertempuran Khonashir yang membuktikan dengan jelas skill kepemimpinan militernya karena perintah untuk bersiap-siap datang hanya lima hari sebelum eksekusi serangan. Sekalipun demikian, Allah membuatnya mampu mempersiapkan segala sesuatunya baik tentara, transportasi, ataupun logistik. Dan operasi inipun sukses atas karunia Allah.

Sekalipun ia amat perhatian dengan front-front pertempuran dan para prajuritnya namun ia taqobbalahullah tidak termasuk orang yang melalaikan sektor-sektor lain wilayah dan departemen- departemen palayanannya. Bahkan ia sering duduk dengan para penanggung jawab departemen tersebut dan mendorong mereka untuk terus menambah kesungguhan mereka disamping ia juga berusaha menyediakan semua hal yang dibutuhkan oleh mereka. Sampai-sampai setiap dari mereka merasa bahwa Abu Muhannad hanya memperhatikan bidang yang digarapnya saja.

Diantara kebiasaannya itu jika ingin mengumpulkan para ikhwah untuk suatu perkara penting maka ia akan membawa mereka jauh dari kota agar semua hal yang mungkin mengganggu pertemuan itu bisa dieliminasi sehingga pertemuan itu pun sukses.

Dia juga dikenal selalu meminta pendapat para ikhwah baik sendiri ataupun kelompok. Dia ajukan permasalahannya lalu meminta solusinya kepada mereka. Dan ketika ada suatu pendapat yang dianggapnya baik maka akan diajukannya kepada ikhwah lainnya sembari menjelaskan bahwa ini adalah pendapat al Akh fulan sehingga tidak mengklaim sesuatu yang bukan miliknya, dan agar semakin menambah keyakinan serta mengangkat kedudukan al Akh tersebut.

Disamping semua itu, ia rahimahullah amat rajin beribadah. Dia amat menyukai qiyamul lail. Selalu membangunkan keluarganya pada sepertiga malam terakhir dan sholat bersama mereka.

Ia juga amat suka bersegera dalam memulai aktivitas. Ia memulai seluruh aktivitasnya segera setelah shalat fajar. Mayoritas pertemuan diadakan pada waktu ini. Ia juga selalu menyemangati para ikhwah untuk tidur cepat dan bersegera dalam memulai aktivitas agar mendapat barokah.

Jika pertempuran sedang memanas Ia terkenal suka menyendiri dari para ikhwah untuk bersujud dan berdoa meminta pertolongan. Ia terus mengulang-ulangnya sampai Allah menetapkan kemenangan melawan musuh-musuhnya.

Adapun tentang keberaniannya maka tak perlu ditanyakan lagi. Para ikhwah telah bersaksi bahwa ia adalah penanggung jawab militer Daulah Islamiyah yang paling pemberani. Ia adalah komandan lapangan yang terjun langsung mengarahkan operasi militer bahkan selalu berada di front terdepan bukan berada di tengah atau di belakang.

Yang bersamanya ketika operasi pembebasan Tadmur bersaksi ketika pertempuran sedang memanas maka ia pergi ke front terdepan dan terus membersamai mujahidin disana untuk meneguhkan mereka. Prinsip utamanya dalam setiap pertempuran melawan tentara Nushairiyah adalah sebaik-baik pertahanan yaitu menyerang. Maka ia tidak akan membiarkan musuh bernafas sejenakpun. Ia tidak akan menarik pasukan untuk mengatur ulang serangan, namun serangan yang berkesinambungan dari berbagai sisi akan terus dilancarkan sehingga musuh akan terus bersiaga.

Ia juga selalu berusaha mengintai musuh sendirian. Ia mendatangi seluruh titik yang memungkinkan untuk mengumpulkan informasi tentang musuh sebanyak mungkin. Sampai-sampai pada pertempuran Khonashir terakhir ia bersikeras melakukan pengintaian sendiri titik penyerbuan para ikhwah sampai ia berada terlalu dekat dengan posisi tentara Nushairi yang berada di sekitar jalan Khonashir sekalipun ia tahu banyak ranjau telah ditanam di daerah itu. Sehingga meledaklah ranjau yang tidak sengaja terinjaknya dan mengakibatkannya terluka parah.

Beberapa hari ia mengobati luka-lukanya. Namun ternyata Allah menetapkan ruhnya meninggalkan jasadnya setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Kata-kata terakhirnya di dunia kepada ibunya yang menangis sedih memohon kesembuhannya adalah, “Kita akan bertemu di surga”.

Ia adalah seorang hamba yang meninggalkan dunia begitu saja sekalipun datang mengemis kecintaannya. Ia injak dunia dan syahwatnya dengan dua kaki besinya hanya karena mengharap apa yang ada di sisi Allah. Maka ia pun mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Demikianlah kami menilainya dan Allahlah sebaik-baik penilai.

An-Naba Edisi 25

SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL QAHTHANI, TETAP TEGUH SAMPAI MATI

SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL QAHTHANI, TETAP TEGUH SAMPAI MATI

Orang-orang yang tak mengetahui, mengira bahwa tamkin, penegakkan Dien, dan kehancuran atas orang-orang kafir yang berhasil dicapai oleh Daulah Islamiyah muncul dalam sekejap mata. Mereka menyangka semua itu diraih dengan begitu mudah. Itu lantaran ketidak-tahuan mereka akan sejarah Daulah Islamiyah, dimana badai fitnah dan ujian terus menerpanya sebagai bentuk penyaringan dari Allah, sampai akhirnya Dia jadikan kemudahan setelah kesusahan, Allah teguhkan kedudukan hamba-hambaNya yang lemah itu dan diwariskannya tanah serta rumah orang-orang kafir, dan Allah jadikan mereka imam yang memberi petunjuk dengan perintahNya ketika mereka bersabar dan yakin akan kebenaran janji Allah berupa kemenangan atas orang-orang musyrik.

Siapapun yang membuka-buka lembaran sejarah Daulah Islamiyah, para tentara dan komandannya, niscaya akan melihat hal yang sangat menakjubkan, kesabaran mereka yang luar biasa meski dahsyatnya ujian, keyakinan mereka yang tinggi meski fitnah berjejalan, keteguhan mereka di atas jalan meski banyaknya para penggembos, dan kuatnya kesabaran mereka dalam memerangi kaum musyrikin meski kepayahan dan luka parah.

Diantara para pahlawan itu adalah komandan kita yang mulia ini, yang tidak pernah lemah sedikitpun dalam memerangi musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla sampai akhirnya Dia berkenan mencabut ruhnya sebagai seseorang yang syahid di jalanNya –beginilah kami menilai dan Allahlah sebaik-baik penilai– setelah Allah menimpakan berbagai macam adzab kepada Salibis, Rofidhoh, dan orang-orang murtad lewat tangannya, dimana dengan aksinya itu Allah melegakan hati orang-orang yang beriman. Allah cabut ruhnya setelah lewat tangannya pula panji tauhid berkibar dengan megah di bumi Afrika (Libya), dan menara Daulah Islamiyah tegak di wilayah Libya.

Sang komandan adalah teman dekat Abu Hamzah al Muhajir, Manaf ar Rawiy, dan Abdullah Azzam al Qahthani. Beliau adalah salah satu komandan yang berhasil dibebaskan dari kerangkeng penjara Abu Ghuraib. Dia mengomandoi eksekusi massal tentara Rofidhoh yang tertawan di pangkalan militer COB Speicher, dan amir yang dibebani untuk mengatur seluruh wilayah Libya. Dialah Abul Mughirah al Qahthani –semoga Allah menerimanya-.

Wisam ‘Abd Zaid –ini adalah nama aslinya– memulai perjalanan jihadnya saat ia membentuk sekelompok kecil mujahidin bersama putera-putera Fallujah untuk memerangi para salibis, kemudian bersama para sahabatnya itu ia bergabung dengan Syaikh Abu Mus’ab Az Zarqowi taqobbalahullah. Dia turut andil mempertahankan kotanya pada peperangan Fallujah pertama, ikut ribath dalam parit-parit perlindungan, dimana hal itu semakin mempererat hubungannya dengan Syaikh Abu Hamzah al Muhajir taqobbalahullah yang selalu menjadi tamunya ketika berada di Fallujah.

Ketika Jama’ah Tauhid dan Jihad dideklarasikan, Abu Humam –ini kunyah pertamanya dalam jihad– termasuk orang yang pertama bergabung dan menjadi orang yang terpercaya di dalamnya, sampai kemudian ia dikirim sebagai utusan ke Jazirah Arab. Ia berhasil memasuki negara itu bersama dua saudaranya (Al Hajj Afaan) dan (Al Hajj Ibrahim) –semoga Allah menerima keduanya– dengan alibi umroh. Kepergiannya itu dalam rangka bertemu dengan beberapa ikhwah disana dan menyelesaikan beberapa urusan penting yang dibebankan kepadanya untuk kemaslahatan jamaah. Selama kepergiannya itu terjadi pertempuran Fallujah yang kedua yang memaksa mujahidin mundur dari sana.

Sekembalinya ke Iraq, ia langsung menyusun strategi bersama para ikhwah untuk melakukan operasi di dalam kota. Beliau memasuki Fallujah sebagai amir atas sekelompok mujahidin untuk mengaktifkan kembali aktivitas Intelijen melawan orang-orang Amerika. Selang beberapa lama setibanya di Fallujah Amerika berhasil menangkapnya dan menjebloskannya ke dalam penjara Abu Ghuraib yang terkenal mencekam itu.

Di samping siksaan yang dialaminya, ia juga ditempatkan di bagian “cougar 5” bagian penjara yang paling mencekam yang terdiri dari berblok-blok sel isolasi. Syaikh mendekam di dalamnya selama berbulan-bulan. Kemudian beliau dipindah menuju “Kamp 10” penjara Bucca yang terkenal. Kira-kira pasca setahun penangkapannya, Allah mengaruniakan kebebasan padanya.

Sehari setelah terbebas dari penjara (pada bulan Jumadal Ula 1427 H) beliau langsung menghubungi ikhwah para komandan aksi militer di Fallujah dan sekitarnya untuk menyampaikan kabar tentang kebebasannya dan tekadnya untuk memulai lagi aksi perlawanan terhadap para salibis secepat mungkin, maka ia pun kembali melakukan kegiatan Intelijen di dalam kota tersebut.

Setelahnya, ia ditunjuk oleh penanggung jawab Intelijen wilayah al Anbar, Abdullah Azzam Al Qahthani taqobbalahullah, sebagai penanggung jawab intelijen kota. Saat itu Fallujah adalah sebuah sektor yang dikomandoi oleh Abu Hakim al Jazrowi taqobbalahullah di bawah pimpinan Jiroh asy Syamiy taqobalahullah, amir Al Anbar.

Ketika Abu Haqqi –ini kunyah beliau di masa itu– bersama sekelompok pasukannya sedang mengeksekusi satu murtaddin di kota Fallujah, beliau tertembak di pundaknya. Lukanya tidak membuatnya berhenti dari jihad kecuali sebentar. Setelah sembuh dari lukanya beliau kembali melanjutkan aktivitasnya menjihadi musuh-musuh Allah dari kalangan salibis dan orang-orang murtad.

Setelah dideklarasikannya Daulah Islamiyah Iraq dan munculnya shohawat, beliau rahimahullah pindah beraktivitas di sektor “Abu Ghuraib” dan mengomandoi daerah tersebut dengan kunyah barunya Abu Ghozi, sampai ia ditangkap di salah satu pos keamanan di dalam kota Baghdad (pada bulan Rajab 1429 H).

Selama beberapa bulan beliau mendekam di penjara “Divisi Kelima” milik Badan Intelijen murtaddin. Kemudian setelah itu ia dipindah ke Fallujah, ia dipindah ke Fallujah lantaran statusnya yang buron dengan beberapa tuduhan. Allah menyelamatkannya dari tangan polisi dan shohawat, yang mana mereka selalu mengeksekusi semua tentara Daulah Islamiyah yang tertangkap. Ketika itu mereka memindahkannya dari penjara kepolisian pusat ke penjara di al Kholidiyah, tempat mereka mengeksekusi ikhwah mujahidin tanpa interogasi terlebih dahulu, akan tetapi Allah menggerakkan salah satu murtaddin yang dahulu pernah di penjara bersamanya, ia mengeluarkan beliau dari situ dan mengembalikannya ke penjara kepolisian pusat Fallujah, dimana beliau dibebaskan setelah mereka tidak mampu merayunya.

Tidak beberapa lama sekeluarnya beliau dari penjara, ia bertemu dengan wali baghdad Manafi ar Rawi dan wali Fallujah Abbas al Jiwariy –semoga Allah menerima keduanya– guna berkoordinasi dalam rangka kembali ke medan jihad. Dia kembali beraktivitas di Fallujah, khususnya di sektor Abu Ghuraib, sebelum menjadi wakil wali, lalu diangkat menjadi wali Fallujah.

Dia terus mengemban tanggung jawabnya itu sampai tertangkap pada operasi yang menjadi pukulan keamanan terbesar atas mujahidin, dimana ia ditangkap oleh orang-orang Amerika bersama sekelompok kecil teman-temannya di bulan Sya’ban tahun 1431 H. Mereka menyerahkannya kepada Rofidhoh yang kemudian menjebloskannya ke dalam penjara terburuk mereka, penjara milik unit kontra terorisme, yang terkenal dengan nama penjara “Jaraim 52”, dimana kasusnya terbongkar. Rofidhoh berhasil mengungkap sepak terjangnya di Daulah Islamiyah yang bisa berujung pada hukuman eksekusi mati.

Seusai investigasi, ia diisolasi di penjara Taji. Di sana ia menjadi amir para ikhwah yang menghuni salah satu bloknya sebelum para ikhwah di luar penjara menasehati untuk mengamankan kepindahannya ke penjara Abu Ghuraib karena para ikhwah sedang merencanakan untuk membebaskan para tahanan di situ. Beliau, bersama dengan tiga Ikhwannya berhasil pindah setelah mengiming-imingi si Rofidhoh kepala sipir penjara dengan sejumlah uang.

Sesampainya di Abu Ghuraib, rencananya adalah kabur melalui terowongan yang digali oleh ikhwah di salah satu sel. Ia ketika itu mengganti kunyahnya menjadi Abu Zaid dan ditunjuk menjadi koordinator pelaksanaan operasi tersebut, yang dilakukan dengan koordinasi antara ikhwah di dalam dan di luar penjara. Namun Allah menakdirkan rencana kabur ini gagal karena Rofidhoh menemukan lubang galian tersebut, lalu menyegel sel tersebut dan memindah mereka dari situ.

Beliau dan para ikhwah tak berputus asa, bahkan mereka kian bersemangat untuk kabur. Apa lagi beliau telah dipilih menjadi amir setiap ikhwah di penjara Abu Ghuraib. Ketika itu ia mengganti kunyahnya menjadi Abu Hamid. Ia berkoordinasi dengan Syaikh Abu Abdirrahman Al Bilawi taqobbalahullah untuk menyelesaikan rencana ini sampai Allah menyempurnakannya.

Allah mengeluarkannya bersama ratusan ikhwah lainnya dari kerangkeng penjara. Ia kembali menjadi salah satu prajurit Daulah Islamiyah di padang pasir al Anbar, sebelum akhirnya dipindahkan Syaikh al Bilawi untuk menjadi amir wilayah Shalahuddin dengan kunyah barunya Abu Nabil. Masuknya ia ke wilayah Shalahuddin dibarengi dengan operasi besar-besaran Daulah Islamiyah di Iraq, yang berbuah penaklukan Nainawa dan sederat penaklukan setelahnya. Abu Nabil memimpin semua pertempuran di wilayah Shalahuddin pada saat itu, utamanya pertempuran Samarra’. Ia muncul dalam sebuah rilisan video berjudul “’Ala Minhajin Nubuwah” ketika sedang berkhutbah menyemangati para ikhwah sebelum dimulainya pertempuran. Dia juga yang mengomandoi eksekusi massal ribuan Rofidhoh kader angkatan udara Iraq di Pangkalan Udara Militer COB Speicher.

Pasca dideklarasikannya Khilafah, bai’at demi bai’at untuk Amirul Mu’minin berdatangan dari segala penjuru, terutama bai’at dari mujahidin Libya. Maka Amirul Mu’minin Syaikh Abu Bakar al Baghdadi hafizhohullah mengirim pedangnya yang mujarab Abu Nabil sebagai amir mereka. Di sana ia meletakkan batu pertama pondasi menara Daulah Islamiyah.

Abul Mughirah al Qahthani terus memberi pelajaran pada musuh-musuh Allah dari kalangan murtaddin sampai akhirnya melalui tangannya Allah menaklukan kota Sirte dan sekitarnya, setelah pengkhianatan Shohawat di Derna yang mengakibatkan banyak terbunuh pasukannya dan para ikhwah. Pengorbanan itu berbuah manis. Allah memberinya tamkin, maka mereka tegakkan syari’at, melaksanakan hudud, terus memerangi orang-orang kafir dan murtaddin.

Perjalanan panjang jihad komandan kita ini berakhir setelah ia terbunuh di tangan salibis Amerika dalam sebuah serangan udara yang menargetkannya di kota Derna setelah bertahun tahun panjang jihadnya. Semoga Allah menerimanya bersama orang-orang yang shalih.

Keteguhan merupakan sifat yang paling nampak dari Syaikh Abul Mughirah al Qahthani rahimahullah. Siapa pun yang mengikuti perjalanan panjang jihadnya yang melebihi 13 tahun lamanya, akan melihat dengan jelas bagaimana ia bak karang yang tegar di tengah hempasan gelombang ombak ujian. Fitnah tak melemahkan tekadnya. Tiap kali diuji dengan penjara yang Allah selamatkan darinya, segera setelah lepas dari cengkeraman musuh-musuhNya ia kembali menghantam mereka. Tiap kali terluka, ia bersabar atasnya dan tetap melanjutkan jihadnya. Di saat yang sama, usaha orang-orang murtad untuk mengendorkan tekadnya dengan iming-iming gelontoran uang, tak pernah berhasil.

Saat penangkapan terakhirnya, ia tahu bahwa hukuman mati telah menantinya karena tuduhan atasnya berhasil dibuktikan oleh Rofidhoh. Ketika itu perwira-perwira intelijen berusaha membujuknya demi kebebasannya dengan imbalan secuil dunia. Mereka berjanji akan membatalkan hukuman mati dengan syarat beliau membantu mereka menangkap Syaikh Abu Ibrahim az Zaidi taqobbalahullah. Jawabannya atas permintaan mereka menyerupai jawaban Yusuf ‘alaihis salam saat menanggapi orang yang mengancam akan menjebloskannya ke dalam penjara dan menghalanginya dari Diennya: “Ya Rabbku, sungguh penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku”.

Selang beberapa tahun, Allahlah yang menyelamatkannya dari penjara dan hukuman mati. Ketika ia sampai di Libya ternyata didapatinya kebanyakan manusia di sana terpengaruh dengan manhaj rusak Tanzhim al Qaeda dalam menyikapi murtaddin. Maka ia mulai memprovokasi mereka untuk memerangi dan membasmi murtaddin, dengan berkata: ”Tidak akan kita biarkan seorang murtadpun hidup aman bersama kita”.

Ketika salah seorang ikhwah mujahid menanggapinya dengan berkata, “Jika kita memerangi mereka maka kita akan diusir dari kota ini”, Beliau rahimahullah menjawab, “Jatuhnya kota dengan keutuhan al wala wal baro itu jauh lebih baik dari pada runtuhnya al wala wal baro meski kota tetap ada”.

Beliau rahimahullah adalah contoh nyata keberanian, kepahlawanan dan bagaimana bersikap keras terhadap musuh-musuh Allah. Dia selalu berada di front terdepan bersama para ikhwah di setiap pertempuran dan penyerbuan, melakukan operasi pembunuhan bersama mereka, dengan tangannya sendiri menangkap murtaddin shohawat, sampai ia beberapa kali cedera lantaran hal itu. Salah satunya saat melaksanakan pembunuhan terhadap salah satu murtaddin di Fallujah yang menyebabkannya terkena luka tembak di bahu, dan lainnya di saat orang-orang murtad itu berusaha menangkapnya setelah salah satu dari mereka mengetahui keberadaannya, tapi beliau terlebih dahulu melesatkan timah panas dari pistolnya yang langsung membunuhnya. Allah menyelamatkannya dari penangkapan meski mereka mengepung dan menyisir daerah tempat persembunyiannya.

Di saat yang sama beliau sangat menyayangi saudara-saudaranya, amat tawadhu’ di hadapan mereka, bahkan sering kali ia menutup suratnya dengan ungkapan “Dari saudaramu yang hina” sehingga membuatnya disukai semua orang yang beraktivitas bersamanya, baik dari kalangan komandan maupun prajurit biasa.

Beliau taqobbalahullah amat memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, merelakan dirinya dalam mara bahaya demi keselamatan saudara-saudaranya. Salah satu ikhwan bersaksi bahwa ia pernah masuk sendirian ke sebuah rumah aman di pulau danau Tsar tsar yang hancur akibat bombardir Salibis, semua ikhwah yang berada di dalamnya terbunuh atau luka berat, sementara pesawat drone terus mengudara dan menembaki siapapun yang mendekati rumah yang hancur lebur itu, kelompok pertama yang bermaksud mengeluarkan ikhwah yang terluka disambut dengan bom sehingga semuanya juga terbunuh, namun Abu Humam tidak menyerah, Ia turun tangan sendiri dan berhasil mengeluarkan ikhwah yang terluka parah itu, meski kondisi amat mencekam dan berbahaya.

Adapun tentang sikap kerasnya terhadap musuh-musuh Allah, tak ada seorangpun yang tak mengetahui eksekusi massal Rofidhoh di COB Speicher, dimana dialah yang memerintahkan pembunuhan ribuan musyrikin sekaligus tanpa ampun dan belas kasih sedikitpun.

Di Libya, sebelum ia sampai, sebagian ikhwah mengeksekusi murtaddin secara diam-diam, dan mereka tidak ingin mengakuinya, namun ia berkata kepada mereka: “Jika kalian ingin orang-orang kafir takut kepada kalian maka bunuhlah mereka dan katakan: ”Kamilah pembunuhnya”, ketika para ikhwah melakukan hal itu, hasilnya kantor-kantor istitabah (pertaubatan) dipenuhi murtaddin yang bertaubat.

Meskipun beliau amat keras ketika dibutuhkan, namun beliau rahimahullah adalah orang yang bijaksana, meletakkan pedang dan kesantunan pada tempatnya masing-masing. Pembicaraannya menarik hati dan telinga. Pada suatu kesempatan sebelum pertempuran Samarra’, ia kumpulkan semua petinggi kabilah dan berbicara dengan kata-kata yang membuat mereka gembira, dan hal itu merupakan salah satu sebab taubatnya puluhan anggota shohawat, sehingga mereka menyerahkan senjata mereka kepada Daulah Islamiyah, padahal Daulah Islamiyah telah berbulan-bulan memerangi mereka.

Setelah pengkhianatan yang dialami Junud Khilafah di kota Harawah, Barqah, Syaikh mengirim seorang perantara kepada para pengkhianat itu untuk menyerahkan senjata mereka, jika tidak mereka akan djadikan pelajaran bagi orang-orang setelah mereka, maka mereka pun menuruti permintaannya dan seluruh persyaratannya, di antaranya adalah mengganti seluruh senjata dan peluru.

Setelah mereka bertaubat dan mengirim angsuran pertama dari jumlah yang telah disepakati, Syaikh menghubungi perantaranya dan berkata kepadanya, “Beri tahu penduduk Harawah bahwa kita telah memaafkan mereka, dengan izin Allah Dia akan mengganti yang lebih baik untuk kita“. Dua hari kemudian Allah menaklukkan Sirte. Para ikhwah berhasil memperoleh ghonimah berupa persenjataan dan peluru yang amat banyak.

Adapun mengenai ibadahnya dan kegigihannya dalam belajar dan mengajarkan Dien, maka salah satu teman sepenjaranya bercerita bahwa ia adalah orang yang rajin berpuasa dan amat disiplin dalam mengikuti majelis ilmu di penjara, sampai salah satu komandan Daulah Islamiyah yang ditahan di Abu Ghuraib memberinya ijazah qiro’ah riwayat Hafsh dan Warsy.

Disamping ia giat menuntut ilmu, ia juga mempunyai halaqoh siroh yang disampaikan kepada para ikhwah yang tertawan, dan jumlah yang datang untuk mendengarkan kajian ini melebihi peserta yang mendatangi kajian lain yang di adakan di penjara Abu Ghuraib. Orang yang pernah di penjara bersamanya bercerita banyak sekali sumpah yang ia lontarkan di saat di penjara yang kemudian Allah menjawab sumpahnya ketika bebas, serta banyak doa yang beliau panjatkan yang kemudian Allah mengabulkannya.

Diantaranya adalah dia pernah berdoa akan menjadikan shohawat menggali kuburannya sendiri jika Allah mengaruniakan kebebasan kepadanya. Ini terwujud dalam kisah terkenal didokumentasikan dalam video rilisan al Furqon (Sholilush Showarim 4), dimana seorang komandan shohawat mengatakan sebuah ungkapan yang menjadi bahan lelucon di seluruh penjuru dunia, “Aku takut kalian adalah Daisy”, ketika Syaikh Abu Nabil menangkapnya lalu kemudian memaksanya menggali kuburannya sendiri sembari menyumpahi tuannya, Nuri al Maliki.

Pun saat ia mendengar cerita bahwa jasad Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah dibuang di laut, ia langsung bersumpah akan mencampuri air laut dengan darah orang-orang kafir. Allah kabulkan sumpahnya, ia bebas dari penjara, kemudian berpindah dari negeri yang tidak ada lautnya (Iraq) untuk menyembelih Musyrikin Nashrani di pantai Tripoli (Libya) sehingga air laut menjadi merah dengan darah mereka.

Kisah yang lain, bahwa salah seorang ikhwah meminta kepadanya satu musyrik Rofidhoh untuk disembelihnya, Syaikh menanggapinya dengan berkata:

“Bergembiralah, dengan izin Allah kamu akan mendapatkan ribuan kepala Rafidhah”, dan dua hari setelahnya Allah mengaruniakan kepadanya tawanan ribuan Rofidhoh dari pangkalan militer COB Speicher untuk disembelih dan bertaqorrub kepada Allah dengan darah mereka, serta memenuhi janjinya kepada ikhwah tersebut.

Inilah secuplik biografi yang harum mewangi dari salah seorang prajurit Khilafah, salah seorang ksatria Daulah Islamiyah, yang mana paragrafnya ditulis dengan darah dan serpihan tubuh, dan dilukis dengan pengorbanan tanpa batas, sampai akhirnya pemilik kisah ini mendapatkan derajat syuhada’, demikanlah penilaian kami dan kami tidak mensucikan siapapun di hadapan Allah.

An-Naba’ Edisi 24

ABU BILAL AL HIMSHI, SUMPAHNYA DIWUJUDKAN OLEH ALLAH

ABU BILAL AL HIMSHI, SUMPAHNYA DIWUJUDKAN OLEH ALLAH

Dari media revolusi menuju media Khilafah, dan tempat pemberhentiannya adalah tembolok burung di bawah ‘Arsy Ar Rahman, beginilah penilaian kami terhadapnya, dan Allahlah sebaik-baik penilai.

Abu Bilal, pemuda berumur 24 tahun. Putra kota Himsh yang penuh dengan kebanggaan. Ksatria dan singa yang tak kenal takut di zaman dimana para ksatria amatlah sedikit. Tidak terpengaruh sama sekali dengan celaan para pencela. Lantang menyuarakan kebenaran ketika mulut-mulut dibungkam. Tidak ada orang yang mengenalnya kecuali pasti menyukainya. Dia tinggalkan dunia dan segala perhiasannya disaat pemuda kaum muslimin menjilat-jilat manisnya dunia. Ia pemuda yang unik. Hatinya penuh dengan kecintaan akan jihad. Jiwanya yang mulia menyembunyikan kerinduan pekat akan kesyahidan. Maka dicarilah olehnya kematian itu sampai bertemu Ar Rahman dalam kondisi yang paling mulia.

Semasa di Himsh Abu Bilal mempelajari ilmu-ilmu syar’i pada Ma’had Himsh sampai mendapatkan ijazah. Namun ijazah itu sama sekali tidak berarti baginya karena hasil dari kurikulum sufi asy’ari. Ia selalu mencari apa yang dicita-citakannya tapi ia belum berhasil mendapatknya, karena jalan menuju bumi jihad tidak terbuka dihadapannya.

Sampai pecahlah revolusi di Syam. Jadilah ia provokator bagi teman-temannya untuk memberontak atas rezim Nushairiyah.

Seruan silmiyah (perdamaian) dan pekikan demonstran sama sekali tidak membuatnya tertarik karena kehinaan takkan terangkat kecuali dengan hunusan pedang. Abu Bilal mulai memprovokasi teman-temannya untuk mengangkat senjata melawan tiran. Ia juga mengumpulkan bantuan yang diberikan kaum muslimin untuk penduduk Syam. Namun dana tersebut justru digunakannya untuk membeli senjata dan beri’dad untuk menghadapi thaghut ini.

Ia beraktivitas bersama dengan para oposisi rezim di bawah payung berbagai entitas yang mana mayoritasnya bertujuan hanya untuk melengserkan rezim. Kebanyakannya malah kembali surut ke belakang, terjerat dalam kesalahan yang sama yang dlakukan oleh faksi-faksi perlawanan yang terjatuh dalam jaring-jaring “konspirasi di hotel-hotel”. Sedangkan ia bertujuan untuk mengangkat bendera suci jihad fi sabilillah.

Pada masa itu peranannya adalah memanfaatkan dana bantuan untuk membeli senjata disamping juga digunakan untuk memberitakan penderitaan kaum muslimin yang terkepung di Himsh. Ia banyak berpolemik dengan media mainstream lantaran ia menyingkap kepalsuan klaim mereka. Pada saat itu para awak media mainstream memintanya menyembunyikan skandal Dewan Nasional Syiria (SNC) dan dewan-dewan lokal lain yang mempermainkan darah kaum muslimin.

Namun kejujuran dan kebersihan fitrahnya mencegahnya menuruti permintaan mereka. Sehingga dalam setiap kesempatan wawancara ia selalu membongkar kebusukan proyek dewan antek itu. Hal itu mengakibatkan media memintanya untuk menyingkirkan bendera tauhid yang selalu menjadi latar belakang dalam wawancara-wawancaranya. Tentu saja permintaan tersebut ditolaknya mentah-mentah sekalipun mengakibatkan ia tidak pernah menjadi narasumber lagi.

Suatu ketika ‘Ar’ur -tunggangan thaghut Alu Salul, yang telah menjual Diennya demi selembar dollar dan real- menghubunginya dan membujuknya untuk ikut serta memfitnah Daulah Islam, jika tidak maka aliran bantuan atas kelompoknya akan diputus. Sekalipun ia membutuhkan bantuan itu lantaran kondisinya yang terjepit ditengah kepungan rezim yang hampir-hampir tidak ada sesuatupun yang bisa dimakan, ia tolak mentah-mentah bujukan itu. Bahkan ia permalukan ‘Ar’ur dengan terang-terangan mengatakan jika ia bisa keluar dari kepungan ini hidup-hidup maka ia akan berbai’at kepada Daulah Islam dan memerangi siapapun yang memeranginya.

Dengan hati yang pedih dan jiwa yang tersayat ia tinggalkan Himsh setelah kota itu diserahkan secara cuma-cuma tanpa syarat kepada rezim Nushairiyah dalam perundingan yang difasilitasi PBB. Ia berjanji kepada Allah akan kembali sebagai penakluk. Saat itu ia nyatakan kata-katanya sembari mengacungkan telunjuk tauhid: “Jangan kalian kira kami tidak akan kembali. Kami akan kembali, dengan izin Allah, dengan aliran darah dan potongan tubuh yang akan membakar kalian. Maka tunggulah!”.

Abu Bilal Al Himshi berhijrah menuju Darul Islam disaat orang-orang yang bersamanya pergi menuju Turki hanya untuk mencari secuil dunia. Sekalipun jalan yang ditempuhnya sulit dan melelahkan, ia tetap teguh dan sabar menempuhnya. Sungguh berbeda jauh antara jalan yang penuh onak dan duri namun berakhir di surga dengan jalan yang lapang dan mudah namun berakhir ke Jahannam.

Ia memulai kehidupan barunya bersama para muhajirin dan anshar dalam naungan Daulah Islam. Ia mencintai saudara-saudaranya itu dan merekapun mencintainya lantaran kebagusan adabnya dan pembelaannya terhadap mereka. Abu Bilal menyingkirkan semua keterkenalan dan kilatan kamera para awak media untuk menjadi prajurit tersembunyi prajurit Khilafah. Ia tidak mempedulikan sama sekali ketidak-tahuan orang-orang atasnya. Cukuplah Rabbnya yang mengetahui dan memilihnya.

Ia terus melanjutkan kehidupannya sebagai mujahid media. Ia beritakan pertempuran-pertempuran yang dijalani Daulah kita ini agar menjadi kabar gembira bagi para muwahid dan kabar buruk bari musuh-musuh Allah.

Senjata dan kamera tak pernah lepas dari genggamannya. Dua benda itu adalah kecintaannya. Salah satu tangannya memegang senjata sedangkan lainnya memegang kamera untuk mengabadikan pertempuran. Demikanlah mujahid media kita ini. Ia tak pernah ketinggalan berada di front terdepan setiap pertempuran. Jika ada kabar gembira ia jugalah yang pertama kali memberitakannya. Namun ia tidak merasa cukup dengan itu. Kecintaan terhadap kesyahidan telah mengharu-biru di hatinya. Setiap saat ia terus berdoa: “Ya Allah, aku mohon kepadamu kesyahidan yang dengannya Engkau meridhoiku. Ya Allah ambillah darah dan serpihan dagingku sampai Engkau ridho”.

Para istisyhadi dan aksi-aksi mereka amat menggembirakannya. Ia selalu merekam wasiat-wasiat mereka. Tiap kali ia bertemu mereka air mata penyesalan mengambang di matanya, bukan karena menangisi kepergian mereka namun ia menangisi dirinya kenapa tidak bisa mendapat kemuliaan itu tiap kali mendekatinya. Setiap kali ia mendapati cuplikan kisah istisyhadi dalam suatu rilisan maka engkau akan mendapatinya tenggelam dalam cuplikan itu, seakan-akan ia terputus dari dunia ini dan berpindah ke alam lain. Lalu ketika ia mendapati kesadarannya lagi, air matanya langsung menganak sungai sembari berkata: “Kapan kita bisa bergabung dengan kafilah ini?”

Jiwa istisyhadi yang mengaliri pembuluh darahnya dan memenuhi seluruh panca inderanya membuatnya selalu berusaha mencantumkan dirinya dalam daftar antrian istisyhadi. Namun tiap kali itu juga permohonannya ditolak lantaran ia adalah kader istimewa di wilayahnya.

Mereka berkata: “Kami membutuhkanmu”.

Ia balas berseru sembari air mata mengambang di pelupuk matanya: “Tapi aku ingin pergi. Aku sudah merindukan Rabbku!”

Sekalipun demikian ia tidak berputus asa. Hal itu tidak membuatnya condong kepada dunia namun semakin menambah kezuhudannya. Ia terus berusaha tak kenal lelah dan putus asa untuk mendidik kader yang akan menggantikannya. Ia curahkan seluruh pengalamannya sampai berhasil.

Setelah itu segera saja ia mendaftarkan namanya dalam antrian istisyhadi. Jangan tanyakan lagi betapa gembiranya ia ketika Allah mengabulkan permohonannya dan mendapati namanya tercantum dalam daftar emas itu, daftar orang-orang pilihan, insya Allah. Daftar yang dituliskan dengan pena kerinduan kepada Allah dan tinta darah yang suci.

Setelah hari itu semua hal tentang dirinya berubah total. Engkau tidak akan mendapatinya kecuali sedang bergembira. Allah telah menghapuskan kesedihan yang disembunyikannya jauh di lubuk hatinya. Air mata kepedihan yang membasahi tempat sujudnya berganti dengan air mata kegembiraan. Yang lebih aneh lagi hampir-hampir ia kehilangan kesabaran menunggu gilirannya. Setiap hari ia bertanya kepada para ikhwah siapa yang mau digantikannya. Tentu saja tidak ada satupun yang rela gilirannya mendapat surga yang seluas langit dan bumi diundur. Maka ia kembali memohon kepada Rabbnya: “Ya Allah segerakanlah, Ya Allah segerakanlah”.

Bagaimana Allah tidak mengabulkan permohonannya sedangkan niatnya jujur, demikianlah kami kira dan kami menyerahkannya kepada Allah. Sekalipun gilirannya belumlah tiba namun Allahlah yang menyegerakannya dan memilihnya. Operasinya dilaksanakan hanya seminggu setelah namanya tercantum dalam daftar emas itu. Mengetahui hal itu ia langsung tersungkur bersujud syukur. Jika seseorang ingin bertemu dengan Allah dan ia jujur lagi ikhlas maka Allah juga akan suka bertemu dengannya.

Ia mulai mempersiapkan dirinya untuk pertemuan dengan Ar Rahman dan para ikhwah yang telah mendahuluinya. Perilakunya mengungkapkan: “Akhirnya kata-kataku akan tertulis dengan darahku. Akhirnya aku akan menandatangani perjanjian penuh keuntungan ini, aku jual duniaku untuk ku dapatkan surga yang buah-buahannya mudah dipetik”.

Pada hari H ia mengunjungi seluruh ikhwah istisyhadi, yang dicintai dan mencintainya, untuk meminta maaf kepada mereka jika ada kesalahan yang tidak disengaja. Kemudian ia menyemangati mereka untuk tetap teguh pada jalan yang mereka tempuh dan jujur kepada Allah. Karena Dienullah tidak akan menang kecuali dengan pengorbanan.

Pada hari terakhirnya di dunia yang fana ini ia terlihat bergembira dan berbahagia. Wajahnya memancarkan cahaya tiap kali teringat bahwa beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla. Ia paham bahwa Dienullah itu lebih mahal daripada ruh, darah dan jasad. Maka ruhnya pun lepas dan jasadnya tercerai berai namun aqidahnya tetap hidup.

Abu Bilal kembali ke Himsh sebagaimana yang dijanjikannya. Kami kira ia termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam: “Jika ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan mewujudkannya”.

Ksatria kita kembali dengan aliran darah dan potongan tubuhnya membakar hati orang-orang murtad sebagaimana mereka telah membakar hati kaum muslimin. Ksatria kita kembali dengan goncangan yang menjungkalkan peraduan mereka dan dengan jilatan api yang membakar jantung mereka. Diantara tulisan wasiatnya kepada istri dan saudara-saudaranya didapati tulisan berikut:

“Ya Allah, aku tidak meminta kepadamu bidadari ataupun istana. Aku hanya meminta agar diperkenankan melihat wajah-Mu yang mulia. Ya Allah, aku tidak meminta kecuali agar digolongkan dalam orang-orang yang Engkau tertawa kepda mereka. Ya Allah, sesungguhnya aku menyukai pertemuan denganmu maka pilihlah aku, berilah aku nikmatnya pergi dari dunia yang fana ini menuju kepada-Mu”.

Itulah kata-kata terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Yang terdengar setelahnya hanya suara ledakan bersamaan dengan tubuh yang tercerai berai dalam suatu amaliyah yang menggoncangkan rasa aman orang-orang murtad dan mengantarkan mereka menuju Jahannam. 

An-Naba’ Edisi 21

MUHAJIR AL-JAZAIRI, SEBAIK-BAIK PEMBAWA AL-QUR’AN ADALAH DIRIMU

MUHAJIR AL-JAZAIRI, SEBAIK-BAIK PEMBAWA AL-QUR’AN ADALAH DIRIMU

Tatkala ia akan berangkat, ia pun berhenti sejenak karena hendak meninggalkan para sahabat-sahabat terdekatnya di bandara. Lantas dia berkata kepada mereka, “Aku sekarang adalah seorang muhajir, dan dengan izin Allah aku akan bertemu dengan kalian di wilayah Daulah Khilafah untuk berperang bersama-sama, jika Allah mempermudah urusanku dan urusan kalian agar berangkat dan sampai ke medan perang, atau jika tidak maka tempat bertemu kita kita adalah surga jika Allah memberi rizki syahadah (mati syahid) kepadaku sebelum kalian.”

Tatkala kedua kakinya memijak bumi Khilafah, yang pertama kali ia kerjakan adalah masuk ke lembaran internetnya, agar bisa menulis sebuah ungkapan, “Allahu akbar.. impianku telah terwujud .”

Muhajir al-Jazairi adalah seorang pemuda berusia 29 tahun, merupakan yang paling muda usianya dari saudara-saudaranya yang lain. Ia pemuda yang murah senyum, sangat mudah meneteskan air mata, tidaklah kedengkian menemukan jalan untuk masuk ke relung hatinya, dan jika ia berselisih dengan saudara-saudaranya, maka ia pun memilih untuk diam. Tidaklah kalian akan mendengar darinya satu patah katapun pembelaan diri, dan apabila telah jelas dirinya yang salah kepada saudaranya, ia segera rujuk dan minta maaf tanpa ragu ataupun malu kepada saudaranya.

Dia merupakan seorang anak yang terdidik untuk dekat dengan masjid, seorang Hafizh Qur’an sejak dini. Muhajir menyempurnakan pendidikan di bangku universitasnya di Takhashush Syari’ah Islamiyyah Universitas Kharubah. Saat itu pula ia mengajarkan al Qur’an kepada 200 lebih penuntut ilmu di salah satu masjid. Melalui tangannya, lahir puluhan pemuda penghafal al Qur’an al Karim dengan hafalan yang sempurna. Ia juga menjadi imam Sholat Tarawih kaum muslimin di bulan Romadhon padahal umurnya masih muda sekali. Allah telah mengaruniakan hadiah kepadanya berupa kemampuan menghafal al Qur’an yang mulia, pun merdunya suaranya dalam melantunkan bacaan Qur’an tersebut.

Ia sendiri bekerja sebagai seorang pedagang, dengan menjual sembako. Dalam pandangan orang-orang di kotanya, ia adalah seorang pemuda yang jujur, menjaga amanah,dan bermu’amalah dengan baik kepada seluruh manusia. Bagaimana tidak, sedangkan ia adalah seseorang yang lembut, apabila berdagang, dengan lembut, dan apabila membeli pun pasti dengan lembut.

Hatinya terikat dengan jihad, meskipun banyak orang tidak suka dan merasa takut dengan tersebarnya aqidah salimah ataupun memperbincangkanya, lantaran rasa takut terhadap para thoghut dan aparat intelijen yang suka memberangus kaum Muslimin di al Jazair, namun Muhajir adalah seseorang yang memanfaatkan Rekreasi dan perkemahan-perkemahan untuk mendirikan muhadharah-muhadharah bagi para penuntut ilmu dan menceritakan kepada mereka tentang mujahidin, memperdengarkan nasyid-nasyid jihad yang membangun jiwa-jiwa kepahlawanan para mujahidin, agar nasyid-nasyid tersebut menjadi kesenangan rekreasi mereka dan saat-saat mereka berkemah, tidaklah ia berijtihad kecuali hasil-hasilnya sungguh akan berakibat baik.

Keinginannya adalah berada di medan-medan jihad, diantaranya keinginan pergi ke Iraq yang telah dimulai sejak satu dekade yang lalu. Akan tetapi, temannya yang mengatur perkara hijrahnya lebih dahulu tertangkap, maka hilanglah kesempatan Muhajir. Rasa sedih yang mendalam benar-benar menimpanya, sampai akhirnya Allah pun membuka pintu-pintu rahmatnya, setelah tegaknya Khilafah, dimana salah seorang pelajar penghafal Qur’an didikannya, lebih dahulu berhijrah menuju bumi Khilafah. Ketika muridnya ini telah sampai di bumi hijrah, diapun menghubungi Muhajir, guna membantu gurunya ini untuk berhijrah dan mengatur perjalanannya.

Saat itu Muhajir berniat untuk menikah, tapi ia tinggalkan karena waktu hijrah telah tiba. Dia pun pergi meninggalkan rumahnya dengan alasan ingin bertamasya yang tidak akan memakan waktu lama kepada orang-orang di sekitarnya, meski pada hakikatnya tujuannya adalah Daulah Khilafah. Ia pernah gagal berangkat hijrah selama dua kali, sangat sulit baginya untuk lolos dari pantauan keamanan para thoghut. Karenanya, dia mencoba berhijrah dan bergabung dengan Mujahidin untuk ketiga kalinya setelah 2 tahun menahan diri.

Berubah drastislah kehidupan Muhajir, seorang pemuda yang telah melupakan mimpi-mimpi masa depannya, bisnisnya, rumahnya, mobilnya, teman-temannya, pernikahannya. Benar-benar telah ia lempar dunia ke belakang punggungnya, jadilah dia orang mulia dengan keinginannya menjadi seorang mujahid yang berjuang membela agamanya agar kalimat Allah menjadi tinggi. Dengan kesabarannya, ia pun menjadi seorang Junud Khilafah.

Sesampainya, dia berada di salah satu rumah safe house, yang terhitung sebagai langkah-langkah awal masuknya setiap muhajirin ke bumi Khilafah. Disana, semua orang melihatnya sebagai seorang Muhajirin yang banyak menunaikan sholat, tidak berhenti beribadah, dan mushaf tak pernah terlepas dari tangannya, kecuali ketika dia hendak pergi tidur. Al Qur’anul Karim adalah sedekat-dekat teman di sisinya, bahkan sahabat yang ia tidak rela berpisah dengannya selamanya.

Waktu penantian di safe house pun berlalu hari demi hari, diapun melihat para pemuda sibuk menggerutu karena lambatnya waktu bagi mereka bergabung di kamp-kamp muaskar guna berlatih. Kewajiban mereka saat itu adalah menunggu sampai datangnya peran bagi mereka. Disaat yang lain hanya sebatas menunggu, Muhajir justru sibuk dengan dzikir kepada Allah dan membaca al Qur’an sebagaimana kebiasaannya.

Ketika telah dekat waktu bergabungnya dia dengan mu’askar syar’iy, semangatnya meluap-luap seakan-akan dia telah masuk ke dalam medan perang. Tekadnya melebihi tingginya awan, ia bak kesatria yang menaiki pelana kuda melaju cepat mendahului angin yang berhembus kencang.

Diantara pelatihan shobahiyyah (pagi hari) yang khusus di mu’askar syar’iy, adalah diwajibkannya peserta tadrib untuk menempuh jarak beberapa kilometer dalam hitungan beberapa menit, dengan tujuan secara khusus untuk menguji kecepatan, kekuatan dan ketahanan. Jarak latihan ini di setiap harinya bertambah dan waktu semakin dikurangi, dan itu merupakan tantangan besar dalam masalah waktu. Akan tetapi Muhajir termasuk orang yang selalu meraih juara tiga besar pertama, ia telah menyiapkan badan dan fisiknya untuk menghadapi latihan jenis ini sejak jauh-jauh hari. Sebelum hijrahpun ia termasuk perenang yang mahir, dan olahragawan yang baik.

Ia menjadi imam bagi teman-temannya ketika di mu’askar, oleh sebab kemahiran dan bagusnya bacaan al Qur’an-nya di dalam shalat, menjadikan makmum berharap agar ia memanjangkan bacaannya dan tidak menyudahinya kecuali sampai seluruh al Qur’an dibaca. Sering ia berhenti membaca ketika menjadi imam, karena ia banyak menangis saat shalat. Ia pun dipilih sebagai penanggung jawab untuk seluruh halaqah tahfizh al Qur’an yang terhitung sebagai pondasi-pondasi mu’askar syar’iy.

Dan di Mu’askarnya, yaitu Mu’askar Tadrib ‘Askariy yang penuh rintangan, kerap kali para amir mu’askar tadrib mengumpulkan peserta tadrib dan memberikan khuthbah atau memotivasi mereka agar senantiasa memberikan tambahan pengorbanan untuk agama ini, atau mengingatkan larangan dalam Dien, atau menasehati kelalaian mereka dalam latihan, mendengar itu Muhajir mulai menangis dengan kuat, dan ketika ia ditanya tentang sebab tangisnya, ia pun menjawab: “karena malu kepada Allah.”

Pada suatu hari, dia dan salah seorang peserta tadrib berseteru, padahal ia bukanlah orang yang menyukai pertikaian. Saat itu salah seorang ikhwah peserta tadrib marah kepadanya karena menolak untuk khuthbah jum’at ketika diminta. Muhajir waktu itu takut berkhuthbah di depan mujahidin, karena baginya para mujahidin jauh lebih baik darinya, padahal ia lebih berilmu dan lebih hafal al Qur’an dibanding mereka. Muhajir pun bingung dan tertunduk di hadapan peserta tadrib tersebut, lalu segera meminta maaf kepadanya, padahal ia tidaklah berbuat buruk kepada peserta tadrib itu. Akhiy Muhajir terus menerus meminta maaf kepadanya, sampai akhirnya al Akh tersebut menciumnya, meminta maaf kepadanya dan mereka pun saling berpelukan. Tidak ada hari selainnya yang mampu menyamai kebahagiaannya di hari itu.

Ia tergolong orang yang mahir dalam berbahasa ‘Arab dengan kaedah-kaedahnya, begitu juga halnya dalam ilmu syar’iy. Karena itulah ia ditetapkan sebagai seorang da’i dan pengajar saat pelatihan militer berakhir. Sungguh kebutuhan terhadap orang-orang semisalnya tidaklah sedikit.Dan bagi para mujahidin yang memiliki ilmu syar’iy, maka bagi mereka terdapat kedudukan.

Inilah orang-orang yang Khalifah Abu Bakr al Baghdadi Hafizhahullah seru untuk berhijrah ke bumi Khilafah, seperti para ulama’ dan para masyayikh, orang-orang yang terpandang dan orang selain mereka yang memiliki peran, keahlian, dan pelayanan-pelayanan mereka di bumi Khilafah dibutuhkan oleh kaum muslimin. Akan tetapi saat itu ia diperintahkan untuk pergi ribath dan andil dalam pertempuran-pertempuran dahulu, sebelum ia berkonsentarasi dengan tugas pentingnya yaitu di bidang dakwah dan pengajaran.

Ia pun bergabung di markas katibah/batalyon yang memang di kirim kepadanya. Persiapan pertama menjelang pertempuran telah selesai. Ketika datang waktunya mengumpulkan tulisan dan wasiat-wasiat setiap Junud di dalamnya, ia justru masih disibukkan dengan al Qur’an dan menyiapkan senjatanya.

Dia pun senang karena ayah dan ibunya sudah ridho kepadanya, padahal keduanya pernah mencela Muhajir lantaran safar dan tidak memberi kabar kepada keduanya, lantaran ia hendak pergi ke bumi jihad. Sekarang, keduanya mengabarkan bahwa mereka telah ridho, dan tempat bertemu kembali adalah surga, jika tidak, maka pertemuan mereka adalah di dunia ini.

Muhajir pun meminta teman-temannya agar merekam wasiat berupa audio, ia mewasiatkan agar kabar syahidnya sampai kepada keluarganya sebagai kabar gembira, dan dia ingin agar ibunya senang ketika mendengar kabar terbunuhnya. Dia juga berpesan agar rekaman tersebut dikirimkan segera dengan bagus, dan ibunya bahagia ketika ia syahid di sisi Rabbul ‘Alamin, Insyaa Allah. Ia pun senantiasa memperbanyak doa agar Allah menerima kesyahidannya, dan agar Allah mengizinkannya untuk memberikan syafa’at kepada ibu, bapak, saudara dan saudarinya serta teman-temannya.

Baru beberapa hari saja setelah dia sampai di medan pertempuran, Muhajir pun gugur oleh tembakan rudal pesawat Salibis, dengan kondisi jasadnya bertebaran lagi berceceran, hingga hampir-hampir tidak ada bekas yang bisa menunjukkan bahwa itu adalah jasadnya. Tubuhnya terpotong di jalan Allah, adapun ruhnya telah bersemayam dan berada tinggi di sisi Rabbnya. Tiada angan-angan dari sebuah jasad kecuali dia ingin kembali ke dunia agar dia terbunuh sekali lagi di jalan Allah, beginilah kami menilainya dan Allahlah sebaik-baik penilai.

Wahai Muhajir, wahai engkau yang telah meninggalkan orang terdekatmu seperti ibumu, bapakmu, dan saudara-saudaramu, senang dan bergembiralah dengan kemenangan yang engkau peroleh, dan kami meminta kepada Rabb kami yang tinggi agar Allah menerimamu di ‘Illiyyin, dan memberikanmu rizki surga yang kekal, dan mengganti pengantinmu di dunia dengan bidadari surga, ia lebih baik dari wanita di dunia ini.

An-Naba Edisi 17

SYAFA’AT

SYAFA’AT

Alloh ta’ala berfirman, “Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya.” [al-Baqoroh: 255]

Hakikat Syafa’at

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh berkata: Yang ada dalam hati orang-orang musyrik itu dan para pendahulu (salaf) mereka adalah bahwa sesembahan-sesembahan mereka akan memberikan syafa’at kepada mereka di sisi Alloh. Dan ini adalah syirik itu sendiri. Alloh telah mengingkari keyakinan mereka itu dan mendustakannya dalam Kitab-Nya. Syafa’at yang ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya adalah syafa’at yang bersumber dari izin-Nya kepada orang yang mentauhidkan-Nya. Dan yang dinafikan oleh Alloh adalah syafa’at syirkiyyah yang ada dalam hati orang-orang musyrik yang menjadikan (sesembahan-sesembahan) selain Alloh sebagai para pemberi syafa’at. Mereka pun diperlakukan dengan kebalikan dari apa yang mereka inginkan dari para pemberi syafa’at mereka itu. Sementara orang-orang muwahhid akan memperolehnya. [Madaarijus Saalikiin]

Madzhab Salaf Tentang Syafa’at

Abu al-‘Abbas Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyepakati apa yang telah disepakati oleh para sahabat ridhwaanullohi ‘alayhim ajma’iin dan disebutkan dalam banyak hadits, bahwa beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam akan memberikan syafa’at kepada para pelaku dosa besar dari umatnya dan memberikan syafa’at juga kepada makhluk secara umum. Beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam memiliki syafa’at-syafa’at yang khusus bagi beliau, tidak seorang pun yang ikut memilikinya, dan syafa’at-syafa’at yang juga dimiliki oleh selain beliau di antara para nabi dan orang-orang sholih, tetapi apa yang beliau miliki lebih baik daripada apa yang dimiliki oleh selain beliau. [Majmuu’ al-Fataawaa]

Siapakah yang Diberi Kemuliaan untuk Memberi Syafa’at

1. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam
Diriwayatkan dari Abu Huroyroh rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Setiap nabi memiliki permohonan yang mustajab (dikabulkan). Setiap nabi pun telah menyegerakan permohonannya. Sementara aku menyembunyikan permohonanku, sebagai syafa’at bagi umatku pada hari kiamat. Ia akan didapatkan in syaa-a Alloh oleh siapa saja yang mati dari umatku tanpa menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

2. Para syuhada’
Diriwayatkan dari Nimron bin ‘Utbah adz-Dzimari, dia berkata: Kami mengunjungi Ummu ad-Darda’, sedangkan kami adalah anak-anak yatim. Dia pun berkata: Bergembiralah, sesungguhnya aku telah mendengar Abu ad-Darda’ berkata: Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Diterima syafa’at seorang syahid untuk tujuh puluh orang dari keluarganya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]

3. Kaum mu’minin secara umum
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: Aku telah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda: “Tidak seorang muslim pun mati, lalu jenazahnya disholatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu pun, kecuali Alloh menerima syafa’at mereka untuknya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Infografik An-Naba’ Edisi 66