Rabu, 25 April 2018

MENJAWAB KERAGU-RAGUAN

DABIQ 7 - ARTIKEL

MENJAWAB KERAGU-RAGUAN

Khalifah Ibrahim al-Qurasyi hafizhahullah ketika menjelaskan tentang beratnya urusan (kepemimpinan atas ummat), setelah kesyahidan Abu 'Umar al-Baghdadi rahimahullah, beliau berkata : “Telah datang saat terberat selama puncak dari penderitaan dan kesulitan, goncangan dan krisis paling berat, yang terdepan di antaranya adalah terbunuhnya pemimpin-pemimpin besar dan simbol-simbol jihad, mereka yang menerangi jalan untuk kita dengan amal, kontribusi, pengorbanan mereka, dengan darah, tulang belulang, dan jasad mereka … Di antara mereka adalah syahidnya Pahlawan Islam –sebagaimana kami mengira tentangnya– imam dan sayid di zamannya, Abu 'Abdillah Usamah bin Ladin, kebanggaan umat ini dan mahkota di zamannya yang baru.” (Wa Ya'ballahu illa An Yutima Nurah, Allah Tidak Menghendaki Selain Menyempurnakan Cahaya-Nya)

Juru bicara resmi Khilafah, Syaikh Abu Muhammad al-'Adnani hafizhahullah berkata, “Yakinlah, wahai tentara Daulah Islam, karena kita –dengan izin Allah– akan terus berada di atas manhaj Imam Syaikh Usamah, pemimpin istisyhadiyin Abu Mush'ab az-Zarqawi, pendiri Daulah Abu 'Umar al-Baghdadi, dan menteri perangnya Abu Hamzah al-Muhajir. Kita tidak akan merubah maupun berubah hingga kita merasakan apa yang telah mereka rasakan.” (Ini Bukanlah Manhaj Kami dan Tidak Akan Pernah)

Walaupun kalimat tersebut dengan jelas menegaskan pandangan baik yang dimiliki para pemimpin Daulah Islam kepada pembaharu zaman ini dan penghancur Amerika, lelaki yang sebanding dengan satu ummat, Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah, sebagian dari mereka yang telah dibutakan fanatisme golongan mensifatkan sebaliknya kepada Daulah Islam. Mereka melakukannya dengan merubah / mendistorsi artikel yang berjudul “Al-Qa'idah Waziristan, Sebuah Kesaksian dari Dalam” berdasarkan keinginan kelompoknya, walaupun penulisnya, seorang muhajid dari Waziristan, Abu Jarir asy-Syimali telah jelas dalam kritikannya kepada al-Qa'idah merujuk kepada apa yang dilakukan azh-Zhawahiri berupa pengembalian Tanzhim kepada kesalahannya terdahulu yang telah diperbaiki oleh Syaikh Usamah rahimahullah.

Oleh karena itu, azh-Zhawahiri telah meninggalkan warisan murni yang ditinggalkan oleh Syaikh Usamah rahimahullah kepada umat Muslim ketika beliau mendapat kesyahidan. Sebagai bantahan mendetail tentang hizbiyin dan distorsi yang berbelit-belit terhadap artikel yang disebutkan sebelumnya, silahkan merujuk kepada artikel yang ditulis oleh Abu Maisarah asy-Syami yang berjudul “Mubahalah terhadap Penipuan oleh Ruwaibidhah”.

ISLAM ADALAH AGAMA PEDANG, BUKAN AGAMA PASIFISME (DAMAI)

DABIQ 7 - ARTIKEL

ISLAM ADALAH AGAMA PEDANG, BUKAN AGAMA PASIFISME (DAMAI)

Ada sebuah slogan yang terus diulang-ulang oleh “du'at apologetik"* ketika mereka bermain mata dengan Barat dan slogan tersebut adalah pernyataan mereka: “Islam adalah agama damai,“ dan mereka memaksudkan pasifisme** [1] dengan kata damai. Mereka mengulang-ulang slogan tersebut hingga sebagian dari mereka menyatakan bahwa Islam mengajarkan untuk berdamai secara permanen dengan kekafiran dan orang-orang kafir. Betapa jauhnya klaim mereka dari kebenaran, karena Allah telah menurunkan Islam sebagai agama pedang, dan bukti-bukti akan hal ini sangat berlimpah sehingga hanya orang-orang zindiq yang akan menentang dengan sebalikan.

*Yaitu da'i yang mengeluarkan argumen-argumen untuk mempertahankan kebenaran agama yang dianutnya, pent

**Aliran yang menentang adanya perang

'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus dengan dengan empat pedang:

1. Sebuah pedang untuk kaum musyrikin, "Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka." (At-Taubah: 5),

2. Sebuah pedang untuk Ahli Kitab, "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (At-Taubah: 29),

3. Sebuah pedang untuk orang-orang munafik, "Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu." (At-Taubah: 73), dan

4. Sebuah pedang untuk bughat, "Maka perangilah kelompok yang melampaui batas hingga mereka kembali kepada perintah Allah." (Al-Hujurat: 9)” (Tafsir ibnu Katsir)

Dia juga menurunkan pedang terhadap murtaddin, "Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad dijalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela." (Al-Ma'idah: 54)

Ayat ini merupakan sebuah landasan pokok atas kewajiban memerangi kelompok-kelompok murtad. Ath-Thabari meriwayatkan dalam tafsirnya bahwa di antara salaf, 'Ali bin Abi Thalib, Qatadah, al-Hasan al-Bashri, adh-Dhahhak, dan Ibnu Juraij berkata bahwa ayat ini mengenai Abu Bakar (pedang Allah terhadap orang-orang murtad), sahabat-sahabatnya radhiyallahu 'anhum, dan perang mereka melawan murtaddin – pengikut Musailamah al-Kadzdzab dan kaum yang menolak kewajiban zakat.

Allah ta’ala juga menurunkan besi bersama-sama dengan wahyu untuk mengukuhkan agama-Nya dengan pedang yang ditempa dari besi.

Dia ta’ala berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Al-Hadid: 25)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “TEGAKNYA AGAMA INI DENGAN KITAB YANG MEMBERI PETUNJUK DAN PEDANG YANG MENOLONG.” (MAJMU' AL-FATAWA)

Allah ta'ala juga menjelaskan apa yang harus diserang dengan pedang, "(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." (Al-Anfal: 12)

Dia ta’ala juga berfirman, "Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir." (Muhammad: 4)

Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan pedang sebagai penyelamat dari fitnah dan kejahatan [2]. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan pedang sebagai kunci surga (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari sanad Abu Musa). 
Beliau juga menyatakan bawah rezeki beliau dijadikan di bawah bayangan tombak beliau dan bahwa penghidupan terbaik seorang Muslim di masa datang adalah apa yang mereka ambil dengan pedangnya dari musuh yang kafir [3].

Maka bagaimana orang-orang zindiq atau bahkan orang-orang yang mengikuti mereka dengan buta –Bush [4], Obama, dan Kerry– dengan keras kepala mengklaim bahwa pernyataan “Islam adalah agama damai” bermakna pasifisme?

Salah satu syubhat terbesar yang dipropagandakan oleh orang-orang zindiq tersebut adalah akar kata dari Islam [5]. Mereka mengklaim bahwa kata itu berasal dari kata salam (damai), padahal kenyataannya kata itu berasal dari kata yang berarti ketundukan dan keikhlasan yang memiliki akar kata yang sama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Aku telah menyebutkan dalam pembahasan prinsip sebelumnya bahwa Islam –agama Allah yang dengannya Dia menurunkan kitab-Nya dan mengutus Rasul-Nya– adalah bahwa seorang hamba yuslim (tunduk) kepada Allah, Rabb semua makhluk, dan oleh karenanya, dia yastaslim (tunduk / patuh) kepada Allah semata tanpa menjadikan sekutu bagi-Nya dan bahwa dia akan menjadikannya salim (murni) untuk-Nya, yaitu dia menyembah-Nya tanpa menyembah selain-Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh kalimat terbaik dan inti dari Islam “laa ilaaha illallaah”. Dan kata ini memiliki dua lawan kata: kibr (kesombongan) dan syirk (penyekutuan). Oleh karenanya, diriwayatkan bahwa Nuh ('alaihis salam) memerintahkan anak-anaknya dengan “laa ilaaha illallaah” dan “subhanallaah” dan melarang mereka dari kibr dan syirk (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sanad 'Abdullah ibn 'Amr), sebagaimana dalam sebuah hadits yang aku sebutkan di tempat lain. Sesungguhnya, seseorang yang enggan dari menyembah Allah karena kesombongan tidaklah disebut menyembah Allah, maka dia bukanlah orang yang mustaslim (tunduk menyerahkan diri) kepada-Nya, dan dia yang menyembah-Nya dan menyembah selain-Nya adalah seorang yang musyrik kepada-Nya, maka dia tidak salim kepada-Nya, sebaliknya dia telah berbuat syirik kepada-Nya. Kata Islam mengandung dua makna tersebut, istislam (penyerahan diri) dan salamah yaitu keikhlasan. Dan telah diketahui bahwa semua rasul diutus dengan Islam secara umum yang berisi hal ini.” (Al-Iman al-Awsat)

Beliau rahimahullah juga berkata: “Kata 'Islam' dapat digunakan dalam dua cara, Pertama dalam bentuk transitif (butuh objek), sebagaimana dalam firman-Nya, "Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan.” (An-Nisa': 125), dan firman-Nya, "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku. Dan katakanlah katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam?”. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (Ali 'Imran: 20), dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam doa sebelum tidur, 'Aku aslamtu (menyerahkan diri) diriku kepada-Mu'." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari sanad al-Bara' ibn 'Azib). Kata ini juga digunakan dalam bentuk intransitif (tidak butuh objek), sebagaimana dalam firman-Nya, "Ketika Rabbnya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam'." (Al-Baqarah: 131). Dan kata ini mencakup dua makna, yang Pertama adalah ketaatan dan penyerahan diri; yang Kedua adalah mempersembahkannya secara ikhlash kepada-Nya semata, sebagaimana dalam firman-Nya, "Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Az-Zumar: 29). Perwujudannya adalah kalimat “laa ilaaha illallaah”. (Al-Iman al-Awsat).

Beliau rahimahullah juga berkata: “Sebaliknya Islam adalah istislam (penyerahan diri) kepada Allah semata. Kata Islam mengharuskan istislam dan mempersembahkan yang demikian itu ikhlash kepada Allah. Lebih dari satu ulama' telah menyebutkan hal ini termasuk pakar bahasa Arab seperti Abu Bakar ibnu al-Anbari dan lainnya. Sebagian mufassirin (ulama ahli tafsir) telah mempertimbangkan kedua makna tersebut menjadi dua interpretasi yang berbeda, sebagaimana sekelompok dari mereka termasuk al-Baghawi berkata, 'Muslim adalah mustaslim kepada Allah. Juga dikatakan bahwa dia adalah mukhlish.' Realitasnya adalah bahwa seorang Muslim adalah seseorang yang mengumpulkan kedua makna itu pada dirinya, karena siapapun yang tidak yastaslim kepada-Nya bukan seorang Muslim, dan barangsiapa yang istaslam kepada selain Allah di samping kepada Allah, dia juga bukan seorang Muslim. Barangsiapa istislam kepada-Nya semata adalah seorang Muslim, sebagaimana dalam Al-Qur'an, "(Tidak demikian), bahkan barangsiapa yang aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah: 112).” (An-Nubuwat) [6]

Maka jelas bahwa salam (kedamaian) bukan akar kata Islam, walaupun keduanya memiliki akar kata yang sama (s-l-m) dan salam merupakan salah satu hasil dari pedang agama, karena pedang akan terus ditarik, diangkat, dan diayunkan hingga 'Isa ('alaihis salam) membunuh Dajjal dan menghapus jizyah. Setelah itu, kekufuran dan kezhaliman akan dihancurkan; Islam dan keadilannya akan menang di seluruh Bumi. “Kemudian dikatakan kepada bumi, tumbuhkan buah-buahan dan kembalikan barakahmu. Pada hari tersebut, sejumlah orang memakan buah delima dan bernaung di bawah kulit-kulitnya, dan diberi barakah pada susu, hingga seekor onta yang baru melahirkan mencukupi sejumlah orang, sapi yang baru melahirkan (susunya) mencukupi satu kabilah, dan seekor kambing yang baru melahirkan mencukupi sekeluarga besar.” (Diriwayatkan oleh Muslim dari sanad an-Nawwas ibnu Sam'an).

“Langit akan diizinkan menurunkan hujannya dan tanah akan menumbuhkan tanaman-tanamannya, sehingga jika kalian menanam sebuah biji di sebuah batu, maka ia akan tumbuh. Tidak akan ada lagi persaingan, tidak ada rasa iri, tidak ada rasa benci, sampai suatu keadaan di mana seorang laki-laki berjalan melewati seekor singa tetapi ia tidak akan membahayakannya, dan melangkah di atas seekor ular tetapi ia tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh ad-Diya' dan ad-Dailami dari Abu Hurairah)

“Dan racun dari setiap makhluk beracun akan dihilangkan, sampai suatu keadaan di mana anak laki-laki yang baru lahir akan meletakkan tangannya di dalam mulut seekor ular dan hal tersebut tidak akan membahayakannya. Seorang anak perempuan baru lahir akan membuat seekor singa lari dan hal tersebut tidak akan membahayakannya. Serigala akan berada di antara domba-domba seakan-akan ia menjadi anjing penjaganya. Bumi akan dipenuhi dengan kedamaian sebagaimana sebuah guci diisi air. Kalimat akan menjadi satu, tidak ada sesuatupun yang akan disembah selain Allah. Dan perang akan meletakkan bebannya (berakhir).” (Diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Umamah)

Oleh karena itu, pedang-pedang akan istirahat dari peperangan hanya untuk digunakan sebagai sabit (Diriwayatkan Imam Ahmad dari sanad Abu Hurairah). Tetapi sampai saat itu tiba, kelompok-kelompok kafir akan terus diserang dengan pedang Islam –kecuali mereka masuk kepada keimanan (keyakinan Islam) atau amaan [7]– karena akan selalu ada segolongan kaum Muslim yang memerangi kaum kafir sampai tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya milik Allah semata.

Catatan kaki :

[1] Pasifisme pertama kali dipropagandakan di dunia Muslim oleh dajjal (pendusta yang mengaku nabi) yang menyeru penghapusan jihad. Dajjal yang paling jahat adalah Ghulam Ahmad Qadiyani. Seruan mereka didukung oleh salibis Inggris, karena Inggris tahu bahwa jihad adalah ancaman bagi stabilitas dan perluasan kerajaan mereka. Seruan itu kemudian diikuti oleh “penafsiran ulang” jihad oleh orang-orang modernis. Orang-orang modernis menyerukan untuk meninggalkan kekerasan dan terorisme (maksudnya Jihad). Mereka mengecam jihad terhadap orang-orang murtad. Mereka mengecam jihad defensif (bertahan) dengan mengklaim bahwa umat sekarang berada pada era Makkah. Mereka mengubah jihad offensif (menyerang) dengan makna “preventif” jihad bertahan… Sebagian dari “penafsiran ulang” akhirnya menemukan jalan mereka kepada bahasa pengklaim jihad termasuk Husam 'Abdur Ra'uf (saat ini anggota kepemimpinan tinggi Al-Qa'idah pusat dan penulis buku yang busuk “Jika Aku Berada di Posisi Mursi dan Duduk di Kursi (Kepresidenan)”), sebagaimana dia berkata, “Perlu dilakukan perubahan dari nama Departemen Pertahanan (Mesir) karena Islam tidak hanya mengenal jihad defensif semata, tetapi bahkan terkadang diperlukan serangan dan melancarkan peperangan preventif untuk mengubur pelanggaran hidup-hidup sementara ia masih dalam buaian. Maka biarkan namanya menjadi Departemen Peperangan dan Perdamaian.” (Law Kuntu Makana Mursi)

[2] Lihatlah, sebagai contoh, hadits kedua dari halaman Hikmah pada edisi ini; sebagian orang salah menafsirkan pedang dalam hadits sebagai jihad yang dilakukan Abu Bakar melawan orang-orang murtad. Juga, ketahuilah bahwa jihad adalah penyelamat dari fitnah dan kejahatan karena dua alasan: Pertama, ia bertujuan untuk menghancurkan fitnah dan kejahatan terbesar –syirik– berdasarkan firman Allah ta’ala, "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah." (Al-Anfal: 39); Kedua, dengannya, hamba disibukkan dengan memerangi orang kafir –termasuk orang-orang murtad– bukannya melalukan baghy (melampaui batas) dan khuruj (pemberontakan) terhadap Jama'ah kaum Muslimin (Khilafah).

[3] Lihat halaman 10-13 di Dabiq edisi 4 dan halaman 29-30 di edisi 3.

[4] Bush (the son) berkata, “Wajah teror bukanlah keyakinan yang benar dari Islam. Itu bukanlah Islam secara keseluruhan. Islam adalah kedamaian. Teroris-teroris itu tidak mewakili kedamaian. Mereka mewakili kejahatan dan peperangan.” Obama dan Kerry kemudian meniru Bush dan mengatakan bahwa Daulah Islam “tidak Islami” karena penggunaan kekerasan di dalamnya. Awal mula sumber kesesatan ini kemungkinan adalah salah satu “penasehat agama” murtad yang mengunjungi Gedung Putih dan mengklaim bahwa dia mewakili Islam dan kaum Muslimin sementara bertepuk tangan mendukung deklarasi Amerika dalam peperangan melawan Islam. Semoga Allah menampakkan kemunafikan dan kezindiqan mereka.

[5] Demikian pula, orang-orang zindiq mengubah makna laa ilaaha illallaah kepada makna “tiada pencipta kecuali Allah,” dan dengan demikian mereka telah berdusta menyebut diri mereka dari Islam sedangkan mereka menyembah orang-orang mati, mereka lupa bahwa musyrikin Arab yang diperangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berselisih bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta makhluk. Sebaliknya –walaupun mereka mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta– mereka mengibadahi perantara-perantara untuk mencari syafaat syirik dari mereka. Sedangkan syahadat (kesaksian) tauhid, yang benar ia bermakna, “Tidak ada yang berhak diibadahi dan ditaati kecuali Allah.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata bahwa “ilah adalah apa yang diibadahi dan ditaati” dan bahwa syahadat “mengandung penetapan bahwa Dia semata yang memiliki ilahiyah (hak eksklusif untuk diibadahi). Dan ilahiyah mengharuskan kesempurnaan ilmu, kekuasaan, rahmat, dan kebijaksanaan-Nya. Oleh karenanya, hal tersebut mengharuskan kebaikan-Nya kepada hamba-hamba. Sehingga ilah adalah apa yang mal'uh, dan mal'uh adalah apa yang berhak untuk diibadahi. Kenyataan bahwa Dia layak untuk disembah adalah karena apa yang telah Dia gambarkan mengenai sifat-sifat-Nya yang mengharuskan Dia untuk dicintai dengan cinta sepenuhnya dan penyerahan diri kepada-Nya dengan penyerahan diri sepenuhnya” (Taisir al-'Aziz al-Hamid, Sulaiman Alu asy-Syaikh).

[6] Pembahasan ini juga menjelaskan mengapa seseorang yang karena kebodohan mengamalkan syirik akbar atau secara total meninggalkan pengamalan dari empat rukun lain dari agama (shalat, zakat, puasa, dan haji) tidak bisa disebut seorang Muslim, dan itu karena pondasi dasar Islam adalah keikhlasan dan penyerahan diri. Maka jika seseorang melakukan syirik besar, maka dia musyrik (bukan muslim). Dan jika dia secara total meninggalkan pengamalan dari empat rukun, dia adalah orang kafir. Dan para Salaf tidak berbeda pendapat di dalamnya, walaupun mereka berbeda pendapat mengenai derajat minimum dari ketaatan kepada keempat rukun yang dituntut –baik keseluruhan atau setiap rukun sendiri-sendiri– agar seseorang masih disebut seorang Muslim. Mereka juga sepakat bahwa pengabaian secara mutlak dari keempat rukun lebih berat daripada sekedar melakukan dosa (membunuh, zina, pencurian, dll), karena dosa-dosa tersebut masing-masing bukanlah kekafiran, tetapi peninggalan secara mutlak dari keempat rukun adalah perkara yang berbeda. Ulama salaf yang masyhur, Sufyan ibnu 'Uyainah rahimahullah, ditanya tentang irja', maka dia menjawab, “Murji'ah berkata bahwa iman (keyakinan) adalah ucapan. Dan kita katakan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan. Murji'ah mewajibkan surga bagi siapapun yang mengatakan laa ilaaha illallaah, sementara dia menetapkan di dalam hatinya untuk meninggalkan kewajiban-kewajiban (empat rukun lainnya). Mereka menyebut perbuatan meninggalkan kewajiban tersebut hanya sebuah dosa seperti dosa-dosa lainnya, walaupun mereka tidak sama, karena melakukan dosa-dasa tanpa istihlal (menganggap dosa tersebut halal) hanyalah dosa, sedangkan meninggalkan kewajiban (empat rukun) secara sengaja tanpa alasan kebodohan atau udzur maka ia adalah kekafiran”. (As-Sunnah oleh 'Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hanbal). Keikhlasan dan penyerahan diri yang merupakan definisi Islam secara bersama-sama adalah manifestasi dari laa ilaaha illallaah – tiada yang berhak diibadahi dan ditaati kecuali Allah (lihat footnote no. 5).

[7] Amaan termasuk kondisi dzimmah yang diberikan kepada Ahlul Kitab yang tinggal di negara Islam jika mereka membayar jizyah. Ini dapat termasuk genjatan senjata tidak permanen (seperti perjanjian Hudaibiyah) antara Daulah Islam dengan sebagian negara kafir. Ini juga dapat termasuk sebuah jaminan keamanan dari kaum Muslim kepada individu kafir sehingga mereka diperbolehkan untuk sementara memasuki Darul Islam.

ULTIMATUM TEGAS DARI SALAF KEPADA KAUM MURTAD

DABIQ 7 - SEJARAH

DARI LEMBARAN SEJARAH:
ULTIMATUM TEGAS DARI SALAF KEPADA KAUM MURTAD

Dari Abu Bakar, Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ;

Kepada siapapun yang menerima surat ini, umum maupun khusus, baik yang masih berada di atas keislaman mereka atau yang telah murtad dari Islam;

Semoga keselamatan kepada siapa saja yang mengikuti petunjuk dan tidak kembali dari petunjuk kepada penyimpangan dan kesesatan.

Sesungguhnya aku memuji Allah, tiada Rabb selain-Nya. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Alah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kami meyakini apa yang dia bawa, mengkafirkan orang-orang yang enggan menerimanya, dan berjihad melawan mereka. Amma ba'du...

Sesungguhnya Allah Ta'ala mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran dari sisi-Nya kepada makhluk-Nya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, penyeru ke jalan Allah dengan izin-Nya, dan untuk menjadi cahaya yang menerangi; agar memberi peringatan kepada orang-orang yang masih hidup dan supaya pasti adzab bagi orang-orang kafir.

Maka Allah memberi petunjuk kepada orang yang menjawab seruan kepada-Nya dengan kebenaran dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghukum dengan izin-Nya orang yang berpaling dari-Nya, hingga mereka masuk Islam, baik secara sukarela maupun terpaksa. Kemudian Allah mewafatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah melaksanakan perintah Allah, menasihati umatnya, dan telah memenuhi hal yang menjadi tanggung jawabnya. Dan Allah telah menjelaskan hal itu bagi beliau beserta para pemeluk Islam di dalam Kitab yang diturunkan-Nya.

Dia berfirman, "Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az-Zumar: 30)

Dia juga berfirman: "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?" (Al-Anbiyaa': 34)

Dia juga berfirman kepada orang-orang beriman: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali 'Imran: 144)

Barangsiapa yang mengibadahi Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang mengibadahi Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa mengawasinya, Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mati. Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Dia selalu menjaga urusan-Nya (agama-Nya), memberi balasan siksa kepada musuh-Nya.

Aku mewasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, menyerahkan urusan dan nasib kepada Allah, dan apa yang dibawa oleh Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan aku mewasiati agar mengambil petunjuk petunjuknya dan berpegang erat kepada agama Allah, karena sesungguhnya setiap orang yang tidak diberi petunjuk oleh Allah adalah orang yang tersesat, setiap orang yang tidak ditetapkan kesejahteraan baginya adalah orang yang tertimpa bala', dan setiap orang tidak ditolong Allah adalah orang yang diterlantarkan.

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dia adalah orang yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka dia adalah orang yang tersesat.

Allah Ta'ala berfirman, "Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (Al-Kahfi : 17)

Dan tidak diterima darinya suatu amalan apa pun di dunia sehingga dia menerima-Nya, dan tidak diterima darinya ampunan maupun tebusan di akhirat. Telah sampai kepadaku sebagian kalian kembali ke belakang dari agamanya setelah menerima Islam. Dia beramal dengannya, terpedaya mengenai Allah, bodoh mengenai urusan-Nya, dan menjawab seruan Syaitan.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (Al-Kahfi: 50)

Dan Dia berfirman, "Sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak gologannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Faathir : 6)

Dan sesungguhnya aku telah mengutus kepada kalian si fulan (Khalid ibnu Al-Walid) bersama sepasukan Muhajirin, Anshar, dan para pengikut mereka yang terbaik, dan telah aku instruksikan kepadanya untuk tidak memerangi atau membunuh seorang pun (diantara kalian) sehingga dia menyeru kalian kepada Allah.

Barangsiapa menjawab seruannya, menerima kebenaran, menghentikan kejahatannya, dan melakukan kebajikan, wakilku akan menerima hal ini dari dia dan akan membantunya dalam hal ini. Jika ia menolak, aku telah menginstruksikannya untuk memerangi mereka atas hal semacam ini, agar tidak membiarkan seorang pun yang sanggup dia bunuh, membakar mereka hidup-hidup dengan api, membunuh mereka dengan sangat keras dengan cara apa pun, memperbudak wanita-wanita dan anak-anak mereka, dan tidak menerima sesuatu apa pun dari mereka kecuali Islam.

Barangsiapa yang mengikutinya, maka kebaikan itu baginya dan barangsiapa yang menolaknya, maka dia tidak akan pernah melemahkan Allah.

Dan aku telah memerintahkan utusanku untuk membacakan pesanku ini di setiap tempat berkumpulnya kalian. Tandanya adalah adzan. Jika kaum Muslimin mengumandangkan adzan, maka berhentilah dari memerangi mereka. Jika mereka tidak mengumandangkan adzan, maka bersegeralah terhadap mereka. Jika mereka mengumandangkan adzan, maka mintalah kepada mereka kewajiban mereka (zakat). Jika mereka menolak, maka bersegeralah terhadap mereka. Jika mereka setuju, maka terimalah dari mereka dan bebankanlah atas mereka apa yang menjadi kewajiban mereka. (Tarikh ath-Thabari; Al-Bidayah wan-Nihayah)

PERMOHONAN KHALAF YANG RENDAH KEPADA THAWAGHIT!
(Dari Azh-Zhawahiri kepada Thaghut Mursi)

Sebagai suratku kepada Doktor Muhammad Mursi, maka aku katakan kepadanya:

Pertama, aku memohon kepada Allah untuk meringankan penderitaanmu, menunjuki hatimu, dan memperbaiki urusan agama dan duniamu. Aku juga memohon kepada Allah untuk meneguhkan hatimu, memenuhi hatimu dengan kepastian, keyakinan, dan keteguhan, sehingga engkau bisa menolong agama-Nya dan hukum-Nya tanpa takut dan kompromi, dan agar Dia menganugerahimu dengan ketaatan kepada sabda al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jihad paling afdhal adalah mengatakan kebenaran di depan penguasa zhalim”, dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah ibnu 'Abdul Muthalib dan seseorang yang menghadapi penguasa zhalim, menyuruhnya kepada kebaikan, dan mencegahnya dari kemungkaran, lalu penguasa itu membunuhnya.”

Dan aku berwasiat kepadamu sementara dengan tulus menujukan nasehat ini kepadamu dan mengharapkan petunjuk, kesuksesan, dan keteguhan bagimu. Maka aku katakan, engkau berurusan dengan orang-orang sekuler dan menyetujui mereka, berurusan dengan para salibis dan mengakui mereka, berurusan dengan Amerika dan memberikan mereka jaminan, berurusan dengan Israel dan mengakui risalah perjanjian dengan mereka, berurusan dengan tentara Mubarak yang dibesarkan atas bantuan Amerika dan engkau menyetujui mereka, dan berurusan dengan orang-orang dari Kementrian Dalam Negeri dan menjamin mereka. Maka apakah hasilnya?

Hari ini engkau berada dalam kesulitan besar. Antara engkau berpegang pada kebenaran tanpa bimbang dan bergeming, dan sehingga engkau menuntut penerapan hukum Syari'at dengan terang-terangan, menolak peradilan yang korup, hukum-hukum sekuler, dan konstitusi sekuler, berusaha keras membebaskan setiap jengkal negeri Islam yang terjajah, menolak untuk mengakui setiap perjanjian atau kesepakatan yang menelantarkan negeri-negeri tersebut, dan berjanji kepada Rabbmu bahwa engkau akan terang-terangan tentang kebenaran hukum-Nya yang diwajibkan atasmu, dan bahwa engkau tidak akan menelantarkannya sedikitpun.

Maka (jika demikian), aku memberimu kabar gembira bahwa engkau akan menjadi pahlawan umat ini, dan menjadi salah satu simbolnya yang terkenal dan pemimpin besar mereka. Umat akan berhimpun di Mesir dan Dunia Islam berdiri di belakangmu dalam peperangannya melawan musuh-musuh mereka. Jika Allah memanggilmu sedangkan engkau tulus dalam kondisi ini, maka kabar gembira bagimu atas akhir yang baik dan ganjaran yang besar bagimu di akhirat.

Maka takutlah kepada Allah berkaitan dengan dirimu sendiri, partaimu, masyarakat dari kalangan umat ini di Mesir dan di Dunia Islam yang memperhatikanmu, menunggu apa yang akan engkau lakukan. Maka janganlah melemah dalam menolong agamamu dan meninggikan hukum syari'at. Ingatlah pendirian Imam Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika dia menolak untuk berpaling dari kebenaran, sehingga Allah meneguhkan umat dengannya di kemudian hari.

Dan jika engkau terus menerus di atas apa yang sekarang engkau berada, maka Allah yang paling mengetahui bagaimana kesudahan bagimu. Aku memohon kepada Allah untukku, untukmu, dan umat Muslim lainnya kejujuran di atas agama-Nya hingga kita bertemu dengan-Nya sedangkan Dia ridha kepada kita. (At-Taharrur min Da'irah al-'Abath wal-Fashal) [1]

[1] Pesan yang menyimpang ini dirilis pada Rabi'ul Awwal 1435 (Januari 2014), enam bulan setelah penahanan Mursi dan tidak lama setelah dilancarkannya serangan Shahawat di Syam. Di manakah yang disebut “hikmah” dalam mengirimkan permohonan rendah ini kepada orang murtad yang berada di dalam penjara? Bahkan yang lebih buruk, di manakah yang disebut “hikmah” dalam melabeli Islam kepada thaghut yang memerintah dengan hukum buatan manusia dan menolong pasukan salib Kristen (AMISOM) melawan mujahidin di Somalia dan tentara murtad Mesir melawan mujahidin Sinai!

WASIAT UNTUK PARA AMIR DAULAH ISLAMIYAH

DABIQ 7 - ARTIKEL

WASIAT UNTUK PARA AMIR DAULAH ISLAMIYAH
Oleh : Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir rahimahullah (Menteri Perang Daulah Islamiyah)

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya dan kepada orang-orang yang mengikutinya. Amma Ba’du:

Wahai Akhi Mujahid, ini adalah beberapa nasehat, yang telah saya kumpulkan bagimu dari mulut-mulut para tokoh dan kandungan berbagai kitab. Dan saya sama sekali tidak mengklaim (sebagai) ahli hikmah. Saya memohon kepada Allah agar menjadikannya manfaat bagi diri saya dan diri kalian, dan Allah-lah di balik tujuan ini.

(1) Ikhlas karena Allah, karena di dalamnyalah keselamatan di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Allah telah menjamin bagi orang yang berjihad di Jalan-Nya seraya tidak mengeluarkan dia kecuali jihad di jalan-Nya dan pembenaran kalimat-kalimat-Nya, untuk memasukannya ke dalam surga atau memulangkannya ke tempat tinggalnya yang dia keluar darinya bersama apa yang dia dapatkan berupa pahala atau ghanimah)

Dan bertujuanlah dengan amalmu itu agar kalimat Allah-lah yang tertinggi, karena diriwayatkan dari Abu Musa, berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang pria yang berperang karena keberanian, dan berperang karena fanatisme, dan berperang karena riya, mana di antara itu yang fi sabilillah? Maka berkatalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: (Barangsiapa berperang supaya kalimat Allah-lah yang tertinggi, maka dia itu fi sabilillah).

(2) Adil dan tulus kepada orang-orang yang kamu pimpin, karena (Tidaklah seorang amir (yang memimpin) sepuluh orang melainkan ia kelak didatangkan di hari kiamat seraya di belenggu yang tidak dilepaskan kecuali oleh keadilan atau ia dijerumuskan oleh aniaya), dan (Tidaklah seorang amir yang menangani urusan kaum muslimin terus ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak tulus kepada mereka, melainkan ia itu tidak masuk surga bersama mereka), dan (Tidaklah Allah mengangkat seorang hamba untuk mengayomi masyarakat, (terus) ia mati saat ia mati sedangkan ia menipu mereka melainkan Allah haramkan surga terhadapnya).

(3) Musyawarah dan diskusi (munadharah), di mana diskusi ini adalah sejawat musyawarah, yaitu: duduk untuk melontarkan pikiran di majelis, dan komentar setiap orang terhadap pendapat orang lain, atau mencari tahu pendapat baru, kemudian di akhir memilih pendapat yang tepat.

Allah ta’ala berfirman: “(Dan ajaklah mereka bermusyawarah di dalam urusan itu)”, di mana Allah telah mengarahkan Nabi-Nya untuk mengajak musyawarah orang-orang yang di bawah level beliau padahal akal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu cemerlang lagi unggul, maka bagaimana halnya dengan kalian?

Dan sebagaimana diriwayatkan: (Tidak menyesal orang yang melakukan musyawarah, dan tidak kecewa orang yang melakukan istikharah), dan dikatakan: (Barangsiapa merasa cukup dengan akalnya maka ia tersesat, barangsiapa mencukupkan diri dengan pendapatnya maka ia tergelincir, barangsiapa meminta pendapat orang-orang yang berpemikiran maka ia menempuh jalan yang tepat, dan barangsiapa meminta bantuan orang-orang yang berakal maka ia berhasil meraih apa yang diharapkan).

Maka hendaklah setiap amir memiliki majlis syura yang hakiki, mulai dari amir umum sampai pada amir-amir sariyah (brigade). Akan tetapi kamu jangan meminta pendapat orang yang memiliki hajat yang ingin ia tunaikan, dan jangan pula orang yang kamu rasa bahwa ia berambisi kepadanya, dan jangan pula orang yang tidak menimbang-nimbang pikiran pada pendapatnya, karena ada ungkapan: “Biarkan pendapat sehingga ia matang,” dan telah ada dari Ali radhiyallahu ‘anhu: (Pendapat syaikh (orang tua) itu lebih baik dari penyaksian anak muda) yaitu di dalam peperangan, dan jangan meminta pendapat kecuali saat menyendiri, karena ia lebih menjaga rahasia dan lebih bisa terkendali bagi orang yang kadang menyebarkannya.

Memang benar! (Sesungguhnya musyawarah dan diskusi itu adalah dua pintu rahmat dan dua kunci barakah yang tidak mungkin terlewatkan satu pendapat pun bersama keduanya).

(4) Hati-hatilah jangan sekali-kali kamu mengedepankan orang yang menyetujui pendapatmu saja, dan waspadalah dari pendamping yang buruk, biasakanlah dirimu untuk sabar terhadap orang yang menyelisihimu dalam pendapat dari kalangan orang-orang yang tulus, teguklah kepahitan ucapan mereka dan kritikan mereka, dan jangan berlapang dada dalam hal itu kecuali kepada orang-orang baik, berakal, berumur, bermuru’ah dan menjaga kehormatan.

(5) Tidak ada yang lebih melenyapkan dien dan dunia dari lenyapnya kabar masyarakat yang sebenarnya dari amirnya; maka dari itu janganlah menutupi diri dari mereka, karena kamu ini hanyalah manusia yang tidak mengetahui apa yang disembunyikan manusia darimu. Dan jangan sekali-kali kamu berlindung dengan alasan keamanan, sehingga kamu aman namun orang-orang yang di bawahmu terlantar; maka seburuk-buruknya amir adalah kamu kalau begitu.

Awasilah segala urusan oleh dirimu sendiri setelah mengangkat orang-orang kepercayaan yang tulus, karena kadang berkhianat orang yang terpercaya itu, dan kadang menipu orang yang tulus itu, maka carilah kejelasan dari semua urusan. Allah ta’ala berfirman: “Wahai Dawud! Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau sebagai khalifah (penguasa) di bumi, maka putuskanlah (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” (Shaad: 26) (Allah ta’ala tidak mencukupkan dengan sindiran tanpa langsung (perintah), dan tidak mengudzur dalam penyibukan diri dengan merasa cukup dengan mewakilkan sehingga Dia menyertakannya dengan kesesatan)

Dan jangan tergesa-gesa membenarkan penebar isu yang ingin merusak, karena orang semacam itu adalah penipu walau dia menyerupai orang-orang yang tulus, tapi jangan kamu buang begitu saja ucapannya, karena bisa saja dia itu jujur, dan berbaik sangkalah kepada ikhwanmu, karena berbaik sangka itu memutus dirimu dari kelelahan yang panjang.

(6) Seyogyanya bagi amir membawa dirinya dan bala tentaranya untuk komitmen dengan hak-hak yang telah Allah ta’ala wajibkan dan dengan batasan-batasan yang telah Allah perintahkan (karena orang yang berjihad membela agama adalah orang yang paling berhak untuk komitmen dengan hukum-hukumnya), sebab kamu tidak akan melakukan perbaikan sedangkan kamu sendiri rusak, dan tidak akan bisa membimbing sedangkan kamu sendiri menyimpang, dan tidak akan menunjuki jalan sedangkan kamu sendiri sesat, karena bagaimana bisa orang buta menjadi penunjuk, dan orang hina menjadi jaya? Sedangkan tidak ada yang lebih hina dari kehinaan maksiat, dan tidak ada yang lebih jaya (mulia) dari kejayaan ketaatan, maka jauhkanlah dirimu dari akhlak-akhlak yang rendah dan pertemanan dengan orang-orang fasiq.

(7) Hati-hatilah, jangan sampai kesempitan kondisimu dalam suatu hal mendorongmu untuk mencarinya dengan yang tidak benar; karena sesungguhnya kesabaranmu terhadap kesempitan yang kamu harapkan keberakhirannya dan keutamaan akibatnya adalah lebih baik daripada maksiat yang kamu khawatirkan tuntutannya. Sedangkan poros dien itu adalah kesabaran.

(8) Hati-hatilah, jangan kamu mengistimewakan dirimu dengan kendaraan atau pakaian; karena Umar telah menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallahu ‘anhuma: (… dan telah sampai berita kepadaku bahwa telah merebak pada dirimu dan keluargamu model pada pakaianmu, makananmu dan kendaraanmu, yang berbeda dengan keumuman kaum muslimin; maka hati-hatilah wahai Abdullah jangan sampai kamu seperti hewan ternak, ia melewati lembah yang subur, maka tidak memiliki keinginan kecuali menggemukan diri, padahal kebinasaannya itu hanyalah pada kegemukan, dan ketahuilah bahwa bila pemimpin menyimpang maka menyimpanglah rakyatnya, dan orang yang paling celaka adalah orang yang rakyatnya menjadi celaka dengan sebabnya)

(9) Ketahuilah bahwa peperangan itu sebagaimana yang mereka katakan: Bebannya adalah kesabaran, porosnya adalah tipu muslihat, lingkarannya adalah ijtihad, pelurusnya adalah ketelitian, dan kendalinya adalah kewaspadaan. Dan bagi masing-masing hal itu ada buahnya; di mana buah kesabaran adalah pertolongan, buah tipu muslihat adalah kemenangan, buah ijtihad adalah taufiq, buah ketelitian adalah optimisme, dan buah kewaspadaan adalah keselamatan. ‘Amr ibnu Ma’di Kariba ditanya tentang perang, maka ia mengatakan: (Barangsiapa sabar di dalamnya, maka ia mengenal, dan barangsiapa urung darinya, maka ia binasa), maka hindarilah ketergesa-gesaan, karena berapa banyak ketergesa-gesaan itu melahirkan penyesalan.

(10) Kedepankan orang-orang yang berpengalaman dan yang kuat untuk menghadapi musuh saat peperangan berkecamuk, dan sebarlah mereka pada sariyah-sariyah supaya menjadi kuat orang yang lemah dengan sebab mereka, dan menjadi berani orang penakut dengan sebab keberanian mereka. Hati-hatilah, jangan sampai orang penggembos atau penebar isu menyertai ikhwanmu, dan waspadalah terhadap mata-mata dan intel. Di mana berapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah. Akan tetapi jangan kamu pilih di dalam peperangan itu orang-orang yang kuat saja dan kamu tinggalkan orang-orang lemah yang menginginkan apa yang ada di sisi Allah, karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Dan tidaklah kalian itu diberi kemenangan dan diberi rizqi kecuali dengan sebab orang-orang lemah kalian), dan sesungguhnya Allah menolong suatu kaum dengan sebab orang paling lemah mereka.

(11) Jangan menelantarkan perlengkapan yang bisa dipakai, seperti rompi anti peluru dan helm pelindung, dan itu bukan tergolong sikap pengecut, karena sungguh manusia paling berani yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki baju besi, namun ini tidak menghalangi dari bertempur tanpa memakai pelindung pada waktunya yang tepat. Habib ibnul Muhallab berkata: (Aku tidak melihat di dalam peperangan seorang pria yang memakai pelindung kepala melainkan ia itu bagiku adalah dua orang, dan aku tidak melihat dua orang yang tanpa pelindung melainkan keduanya bagiku adalah satu orang), maka ucapan ini didengar oleh sebagian orang yang berpengalaman, maka ia berkata: (Dia benar! Sesungguhnya senjata itu memiliki keutamaan; apa kamu tidak melihat mereka saat memanggil pada kondisi genting; “Senjata, senjata,” dan mereka tidak memanggil: “pasukan, pasukan”).

(12) Sesungguhnya amir yang bijaklah yang membekali ikhwannya dengan perbekalan yang bisa menguatkan diri mereka sepanjang hari berupa makanan dan minuman. Adalah para pejuang salah seorang panglima Afghan yang memusuhi Taliban bila kita periksa saku mereka maka kita mendapatkan zabib (anggur kering) di dalamnya.

(13) Seyogyanya bagi amir menunjuk bagi setiap grup amirnya, dan ia memeriksa kendaraan dan persenjataan ikhwannya dan perbekalannya, terutama sebelum penyerangan. Ia jangan memasukan di dalamnya apa yang susah di bawa saat kondisi gawat dan serius, dan jangan mengosongkan darinya apa yang dibutuhkan saat terjadi apa yang di luar dugaan dan jauhnya perjalanan, terutama bila diprediksi lamanya peperangan.

(14) Seyogyanya jumlah muqatil dalam satu mobil tidak boleh lebih dari tiga, kecuali bila kepentingan menuntutnya, dan hendaklah ia menjamin hubungan komunikasi yang aman yang sudah dikaji di antara sariyah-sariyah itu, serta ia menetapkan bagi mereka sandi untuk ucapan mereka dan syi’ar (slogan) untuk peperangan mereka.

(15) Amir harus memperdengarkan kepada rakyatnya dan bala tentaranya suatu yang mengokohkan jiwa mereka dan membuat mereka merasa optimis bisa mengalahkan musuh mereka, serta mengutarakan kepada mereka dari sebab-sebab kemenangan suatu yang dengannya mereka menganggap kecil musuh mereka. Allah ta’ala berfirman: ((ingatlah) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak, tentu kalian menjadi gentar dan tentu kalian akan berbantah-bantahan dalam urusan itu). (Al-Anfal: 43)

(16) Seyogyanya bagi amir mempelajari dengan cermat lokasi peperangan, maka dia jangan berperang dari lokasi yang mudah dia disergap tanpa menutup celah, dan jangan membawa terlalu jauh pasukannya yang menjadikannya mustahil bisa kembali membawa pulang mereka dalam keadaan aman.

(17) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Perang itu tipu daya), dan Al-Muhallab berkata: (Gunakanlah tipu daya dalam peperangan, karena ia itu lebih membuat berhasil daripada keberanian), dan di antara tipu daya adalah:

a. Menebar mata-mata
b. Mencari-cari berita
c. Tauriyah (penyembunyian maksud) dalam peperangan, di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bila ingin melakukan suatu peperangan, maka beliau menutupinya dengan yang lain.

Bila sempit dada seseorang dari rahasia dirinya
Maka dada yang dititipkan rahasia lebih sempit.

Dan waspadalah terhadap musuhmu bagaimanapun keadaannya, supaya tidak:

a. Menyergap dari jarak dekat
b. Atau menyerbu secara tiba-tiba dari kejauhan
c. Atau bersembunyi menunggu lengah
d. Atau menyusul setelah kembali

(18) Di antara tanda pengalaman seorang amir dan kecerdikannya adalah memanfaatkan kesempatan; (karena kesempatan itu berlalu cepat seperti awan, dan jangan kalian mengejar bekas setelah berlalu), dan sergaplah saat kepalanya muncul dan jangan menyergap pada ekornya!

Bila berhembus anginmu, maka gunakanlah kesempatannya
Karena bagi setiap yang bergerak itu ada diamnya

(19) Boleh bagi amir pasukan untuk menceburkan kepada kesyahidan dari kalangan yang menginginkannya orang yang diketahui bahwa pada keterbunuhannya di dalam peperangan itu menjadi penyemangat bagi kaum muslimin terhadap peperangan karena pembelaan untuknya. Dan sebaliknya juga benar, yaitu: ia menjaga orang yang pada keterbunuhannya bisa menghancurkan kekuatan ikhwannya, seperti komandan yang istimewa; oleh sebab itu posisi jantung adalah tempat paling terlindungi dan paling jauh dari musuh.

(20) Jangan kamu mengizinkan ikhwanmu untuk membunuh atau menawan apa yang bisa memecah barisan mereka dan membuat mereka berselisih dengan sebabnya, hatta walaupun hal itu boleh dari satu sisi, karena persatuan barisan saat qital itu adalah mashlahat paling utama.

(21) Hati-hatilah dari darah dan penumpahannya tanpa haq, karena tidak ada suatu pun yang lebih cepat mendatangkan adzab dan melenyapkan nikmat daripada penumpahan darah tanpa haknya. Jangan sekali-kali kamu mengokohkan urusanmu dan tentaramu dengan darah yang haram, karena sesungguhnya hal ini adalah hal segera yang kemudian harinya adalah kelemahan dan keambrukan, sehingga tidak ada udzur bagimu di sisi Allah dan juga di sisi kami. Dan demi Allah tidak diadukan kepada kami kasus darah yang ditumpahkan dari orang ma’shum dari kalangan Ahlussunnah tanpa bukti nyata yang menunjukan bahwa ia melakukan apa yang menghalalkan darahnya dan tanpa syubhat melainkan kami pasti mengambilkan haknya baginya. Jangan kamu terpedaya dengan mudahnya ‘amaliyah tertentu; karena bisa saja tempat yang turun itu sesudahnya adalah jurang yang mencekam, oleh sebab itu maka hendaklah pikiranmu untuk harimu itu dan untuk esok harinya; karena tidak ada yang lebih membahayakan manusia daripada amir yang berpikir hanya untuk harinya.

(23) Balaslah orang yang berbuat baik atas perbuatan baiknya, dan muliakanlah sariyah setelah keberhasilan, berikanlah penghargaan kepada pemberani di hadapan umum, dan berikanlah sangsi terhadap orang yang berbuat salah atas kesalahannya walau dengan hajr; karena boleh bagi amir untuk memberikan pelajaran kepada orang yang maksiat terhadap perintahnya, dan bila kamu tidak melakukannya, maka orang yang berbuat baik menjadi malas dan orang yang berbuat salah menjadi lancang, dan rusaklah urusan serta sia-sialah amalan.

Dan hendaklah balasan baik kepada orang yang berbuat baik itu dilakukan dihadapan umum, sedang sangsimu kepada orang yang berbuat salah adalah secara sirr (rahasia), terutama terhadap orang-orang baik di antara mereka, adapun orang-orang yang rusak maka sangsi dilakukan di hadapan manusia, dan syari’at telah datang dengannya.

Hati-hatilah jangan berlebih-lebihan dalam pemberian sangsi atau menyesal atas pemberian maaf, dan hindari juga sikap kasar yang membuat orang lari, karena syari’at ini memberikan sangsi untuk memperbaiki bukan untuk melampiaskan kedongkolan. Jagalah diri saat marah dari kalimat yang tidak bisa kembali, karena berapa banyak kalimat yang mengatakan kepada pemiliknya “Tinggalkan saya”, dan janganlah kamu wahai amir menjadikan ucapanmu main-main di dalam sangsi maupun pemaafan, dan jangan kamu melampaui di dalam sangsimu –dengan aniaya dan hawa nafsu- apa yang telah Allah tetapkan batasannya bagimu; karena (kezhaliman itu adalah kegelapan-kegelapan di hari kiamat).

Maka hendaklah kamu wahai saudaraku bersikap lembut di dalam urusanmu seluruhnya termasuk di dalam pemberian sangsi. Allah ta’ala berfirman: “Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.” (Ali Imran: 159)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Barangsiapa diberikan bagiannya dari sikap lembut, maka ia telah diberikan baginya dari kebaikan, dan barangsiapa dihalangi (dari) bagiannya dari sikap lembut, maka ia telah dihalangi (dari) bagiannya dari kebaikan). Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Sesungguhnya dien ini adalah kokoh; maka masuklah di dalamnya dengan lembut).

(24) Ketahuilah bahwa ikhwanmu mendengar dan taat karena menginginkan apa yang ada di sisi Allah; di mana sikap komitmen mereka itu adalah dorongan syar’iy akhlaqiy lebih dari sekedar rasa takut terhadap kekuasaan; maka dari itu janganlah kamu memberi pelajaran kecuali kepada orang yang kamu anggap memiliki dien yang bisa menerimanya, adapun orang-orang yang kamu anggap bahwa diennya tidak membuat dia jera maka jangan sekali-kali kamu memberinya hukuman, akan tetapi bersikap lembutlah kepadanya dan jinakanlah hatinya, karena orang yang paling berhak memberikan maaf adalah orang yang paling mampu memberikan hukuman, dan orang yang paling kurang akal dan pertimbangannya adalah orang yang menzhalimi orang yang di bawahnya, maka berikanlah keadilan kepada Allah dan berikanlah keadilan kepada manusia dari dirimu, keluargamu dan dari orang yang kamu cintai dari kalangan ikhwanmu dan rakyatmu. Dan bila kamu tidak melakukannya, maka kamu berbuat zhalim, dan barangsiapa zhalim kepada hamba-hamba Allah, maka Allahlah seterunya, dan barangsiapa yang Allah seterunya maka ia telah menancapkan peperangan terhadap-Nya sampai ia taubat dan mencabut diri. Maka hindarilah doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya itu dengan Allah, dan sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka baginya. Dan hendaklah dari waktumu ada satu saat di siang hari yang di dalamnya kamu berpikir apakah kamu telah menzhalimi orang atau di sana ada orang yang dizhalimi yang wajib kamu tolong? Dan barangsiapa menginginkan penyegeraan murka Allah, maka silahkan berbuat zhalim!

Kuasailah ikhwanmu dan manusia dengan ihsan (berbuat baik), tentu kamu bisa mengikat hati mereka, karena kesinambungan mahabbah itu adalah dengan ihsan, dan lenyapnya mahabbah itu adalah dengan sikap kasar. Santunlah kepada manusia tentu tulus pula kecintaan mereka kepadamu dan pasti kamu raih penghargaan dari mereka, karena sikap santun dari orang kuat itu adalah tawadhu.

Adalah Umar ibnu Abdil Aziz sangat lemah lembut kepada masyarakat, di mana bila ia menginginkan suatu hal dari urusan Allah (dan) ia mengira manusia kurang menyukainya, maka ia menunggu sampai datang apa yang disukai masyarakat kemudian ia mengeluarkannya bersamanya. Dan telah ada ucapan darinya: (Sesungguhnya Allah mencela khamr dua kali dalam Al-Qur’an dan mengharamkannya pada kali ketiganya, dan saya khawatir membawa manusia kepada al-haq secara sekaligus kemudian mereka malah meninggalkannya, dan jadilah fitnah).

(26) Kenalilah kedudukan manusia dan ketahuilah macam-macam mereka, dan kedepankanlah seseorang karena dia itu:

a. Tergolong ahlul ilmi wal fadli, sedangkan nash-nash prihal keutamaan mereka sangatlah banyak.
b. Tergolong orang-orang yang berumur, karena (bukan tergolong kita orang yang tidak memuliakan orang yang tua di antara kita, dan tidak menyayangi orang yang kecil di antara kita, serta tidak mengenal bagi orang alim kita haknya)
c. Berasal dari keluarga bangsawan dan pemimpin, dan terutama adalah keluarga rumah kenabian.

(27) Perhatikanlah keluarga-keluarga para syuhada dan tawanan dan kedepankanlah mereka terhadap yang lain, jenguklah orang yang sakit, dan jadilah kamu terhadap ikhwanmu sebagai pelayan bagi mereka; karena kamu ini hanyalah salah seorang dari mereka, namun bedanya adalah karena kamulah yang paling berat bebannya dan paling banyak perhitungannya di sisi Allah, maka beramallah untuk esok hari.

(28) Selektiflah dalam memilih utusanmu kepada kabilah-kabilah dan kelompok-kelompok bersenjata, dan begitu juga orang yang bertugas menguasai (wilayah) dan mencari dukungan masyarakat, karena sesungguhnya mereka adalah wajah Daulah di hadapan manusia, bila mereka baik maka baik pula kita, dan bila mereka berbuat buruk maka buruk pula kita. Dan secara umum: “Utuslah orang yang bijaksana dan jangan mewasiatinya.”

(29) Wahai amir, hindarilah fanatisme-fanatisme kejahiliyahan; karena sesungguhnya bangunan kekuasaan yang kokoh itu tidak hancur kecuali dengan sebab fanatisme yang berlebihan. Gunakanlah kecerdasan dan hilah (kecerdikan) dalam menghancurkan fanatisme itu dan bukan menggunakan kekuatan saja, di mana sesungguhnya Ahlul Iraq bangkit membangkang terhadap Abdul Malik ibnu Marwan bersama ibnul Asy’ats dan di tengah mereka banyak tabi’in pilihan seperti Sa’id ibnu Jubair dan yang lainnya, maka Al-Hajjaj mengalahkan mereka dalam perang “Dairul Jamajim” dengan hilah lebih dari sekedar dengan kekuatan. Dan ketahuilah bahwa termasuk siasat yang bijak bersegera menguasai mereka itu, terutama para tokoh.

(30) Hendaklah kalian serius, bersungguh-sungguh dan tinggi cita-cita, dan hindarilah sikap lemah, karena ia itu –demi Allah- adalah kendaraan yang paling hina; dan dikala kamu tersandung maka cobalah kembali; di mana sudah diketahui dari pengalaman bahwa tidak ada amaliyat yang Allah berikan kemenangan di dalamnya kecuali ia itu pernah melalui berbagai ketersandungan yang banyak.

Saudara Kalian
Abu Hamzah Al-Muhajir
1 Ramadhan 1428 H

PEMBAKARAN PILOT MURTAD YORDANIA, MUADZ KASASBEH

DABIQ 7 - ARTIKEL

PEMBAKARAN PILOT MURTAD YORDANIA, MUADZ KASASBEH

Minggu ini, Daulah Islam merilis sebuah video yang menggambarkan eksekusi pilot pasukan salib Jordan, Mu'adz Safi Yusuf al-Kasasibah. Sebagaimana ditampilkan dalam video, Daulah Islam telah memutuskan untuk membakarnya hidup-hidup sebagai balasan (qishash) atas kejahatannya terhadap Islam dan kaum Muslimin, termasuk keterlibatannya secara aktif dalam serangan udara salibis ke wilayah-wilayah kaum Muslimin.

Ketika berita tentang video menyebar, thaghut Jordan yang pada waktu itu berada di Washington untuk bertemu dengan tuannya di Gedung Putih –sebagaimana kebiasaan boneka-boneka salibis– memotong perjalanannya, kembali ke rumah lebih awal, dan segera memerintahkan eksekusi terhadap mujahidah Sajidah ar-Risyawi dan mujahid Ziyad al-Karbuli, keduanya telah ditahan hampir satu dekade oleh thaghut Jordan. Daulah Islam telah melakukan segala yang bisa dilakukan untuk mengamankan pembebasan Sajidah dan Ziyad, tetapi Allah menghendaki mereka untuk kembali kepada-Nya sebagai syuhada', penghargaan tak tertandingi yang telah mereka idam-idamkan, yang telah mereka kejar dengan penuh semangat, dan memohon dengannya kepada Rabbnya. Kami menilai mereka demikian, dan Allah lah sebaik-baik penilai.

Dengan mengeksekusi mujahidin, Jordan hanyalah mempercepat kehancuran tak terelakkan dari rezim thaghutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya.” (Shahih al-Bukhari)

Saat eksekusi Sajidah dan Ziyad menjadi fokus utama berita internasional, fokus dari banyak hizbiyin bodoh adalah pada cara pilot tersebut dieksekusi. Di antara mereka adalah seorang warga Jordan Abu Sayaf Muhammad ash-Shalabi, yang berkata, “Cara dia dieksekusi dan pembuatan video yang menampilkan eksekusinya adalah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama yang murni. Jihad disyariatkan untuk membuat orang-orang masuk Islam, bukan untuk membuat mereka lari dari agama atau untuk merusak citranya.” [1]

Retorika seperti ini adalah ciri khas dari hizbiyin –bahkan mereka yang menyamar sebagai pendukung mujahidin– yang terus menerus hidup di bawah kekuasaan boneka murtad, dan Muslim yang mengalah yang tinggal di negeri kafir di bawah kekuasaan tentara salib sendiri, tanpa keinginan melakukan hijrah ke negeri di mana kalimat Allah menjadi yang paling tinggi. Orang-orang seperti itu agamanya telah larut dan tidak lah mengejutkan, mereka selalu menjadi yang pertama untuk berbicara dalam setiap kesempatan ketika mujahidin menampakkan sikap keras kepada tentara salib, mereka mencoba untuk menyamarkan kritikan mereka kepada mujahidin sebagai perhatian terhadap citra Islam.

Dalam membakar pilot salibis hidup-hidup dan menguburnya dengan reruntuhan bangunan, Daulah Islam hanya melakukan pembalasan atas keterlibatannya dalam operasi pengeboman salibis yang terus menelan korban jiwa yang tidak terhitung dari kaum Muslimin, yang sebagai akibat dari serangan udara itu, terbakar hidup-hidup dan terkubur dalam gundukan reruntuhan. Hal ini bahkan belum termasuk kaum Muslimin –laki-laki, perempuan, dan anak-anak– yang selamat dari serangan serangan udara akan tetapi mendapatkan luka dan kecacatan, dan dalam banyak kasus mereka mengalami penderitaan karena luka bakar yang parah yang menyebabkan mereka merasa kesakitan dan menderita setiap menit setiap harinya.

"DAN JIKA KAMU MEMBERIKAN BALASAN, MAKA BALASLAH DENGAN BALASAN YANG SAMA DENGAN SIKSAAN YANG DITIMPAKAN KEPADAMU." (An-Nahl: 126)

Ayat ini cukup sebagai dalil disyariatkannya membakar seseorang hidup-hidup dalam kasus qishash (pembalasan yang setimpal). Keragu-raguan yang dihidupkan oleh para hizbiyin, “ulama” istana, orang-orang bodoh yang kalah, adalah berkaitan dengan pernyataan yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak boleh menghukum dengan api kecuali Allah.” (Shahih al-Bukhari)

Sebagai hasil dari ketidakjujuran mereka dalam menyampaikan kebenaran, orang-orang yang menyimpang ini menyembunyikan fakta bahwa ada pengecualian yang masyhur atas hukum ini berkaitan dengan kasus qishash dan maslahat (manfaat yang besar), dan di samping ayat yang telah disebutkan di depan, para fuqaha (ahli fiqh) menjadikan ayat dalam surat Al-Baqarah berikut ini sebagai dalil pengecualian.

"Maka barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu." (Al-Baqarah: 194)

Mereka juga menjadikan dalil hadits tentang orang-orang 'Urainah yang matanya dicungkil oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan besi panas (Al-Bukhari dan Muslim).

Terlebih lagi, para ulama' menyoroti fakta bahwa para Shahabat radhiyallahu 'anhum menghukum orang-orang dengan api dalam sejumlah peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah Khulafa'ur Rasyidin. Di sini kami akan menyebutkan sebagian dari peristiwa tersebut.

Contoh pertama: Dalam suratnya kepada orang-orang murtad di Jazirah Arab selama perang riddah, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengancam membakar mereka hidup-hidup jika mereka tidak bertaubat dari kemurtadannya. Di dalam suratnya beliau berkata, “Aku telah mengutus kepadamu fulan dan fulan (Khalid ibnu al-Walid) dengan pasukan dari Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan aku telah memerintahkannya untuk tidak memerangi atau membunuh siapapun sebelum dia menyerunya kepada seruan Allah. Barangsiapa menyambut seruannya, menerima kebenaran, mencegah kejahatannya, dan berbuat kebaikan, utusanku akan menerima itu darinya dan akan menolong-nya. Jika mereka menolak, aku telah memerintahkannya untuk memerangi mereka atas hal tersebut, tidak menyisakan seorangpun yang mampu dia bunuh, membakar mereka hidup-hidup dengan api, membunuh mereka dengan keras menggunakan segala cara, menjadikan wanita-wanita dan anak-anak mereka sebagai budak, dan untuk tidak menerima dari siapapun mereka kecuali Islam.” (Tarikh ath-Thabari; al-Bidayah wan-Nihayah) [2]

Contoh kedua: Juga dalam masa kekhilafahannya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan sejumlah penasehatnya dari kalangan shahabat dan meminta pendapat mereka tentang perkara seorang laki-laki yang terbukti bersalah melakukan sodomi. Yang paling keras pendiriannya adalah Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ini adalah dosa yang tidak ada umat sebelumnya yang pernah melakukan kecuali satu umat, dan kalian telah mengetahui bagaimana Allah membinasakan mereka. Aku berpendapat bahwa kita harus membakarnya hidup-hidup.” Maka para shahabat setuju dengannya, dan Abu Bakar menulis perintah kepada Khalid untuk membakarnya hidup-hidup. (Riwayat Al-Baihaqi) [3]

Contoh ketiga: Dalam peristiwa lainnya pada perang riddah, lelaki bernama al-Fuja'ah datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengaku Muslim, dan meminta Abu Bakar menyiapkan sebuah pasukan untuk dipimpinnya memerangi murtaddin. Abu Bakar melakukannya, dan lelaki itu akhirnya membunuh dan merampok siapapun yang datang, termasuk Muslim. Ketika kabar ini sampai kepada Abu Bakar, dia mengirim pasukan untuk menangkapnya. Dia berhasil ditangkap dan dibawa kembali, dan Abu Bakar memerintahkan dia untuk dibawa ke al-Baqi' dan dibakar hidup-hidup. (Al-Bidayah wan-Nihayah)

Contoh keempat: Pada perang riddah, ketika Khalid ibnu al-Walid mengalahkan Tulaihah al-Asadi di peperangan Buzakhah, Abu Bakar menulis surat perintah kepadanya untuk tidak berbuat lunak dan memberi pelajaran atas setiap yang dia tangkap dari kafirin yang telah membunuh kaum Muslimin. Maka Khalid tetap di Buzakhah selama sebulan memburu para murtaddin dan melakukan pembalasan untuk kaum Muslimin yang terbunuh. Sebagian dibakar hidup-hidup, sebagian dirajam sampai mati, dan sebagian lagi dia lempar dari puncak gunung. (Al-Bidayah wan-Nihayah)

Contoh kelima: Abu Musa al-Asy'ari meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimnya dan Mu'adz ibn Jabal radhiyallahu 'anhuma ke Yaman untuk mengajarkan Al Qur'an. Suatu hari, Mu'adz mengunjungi Abu Musa dan mendapati denggannya seorang laki-laki yang dirantai, maka dia berkata, “Wahai saudaraku, apakah kita diutus untuk menghukum manusia atau untuk mengajari dan memerintahkan mereka dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka?” Maka Abu Musa berkata, “Dia masuk Islam lalu kafir.” Maka Mu'adz berkata, “Demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku tidak akan pergi hingga aku membakarnya dengan api.” Maka Abu Musa berkata, “Kita masih memiliki urusan dengannya.” Maka Mu'adz berkata, “Demi Allah, aku tidak akan pergi!” Maka didatangkan beberapa kayu bakar dan api dinyalakan, dan dia kemudian melemparkan laki-laki itu ke dalamnya." (Al-Mu'jam al-Kabir, karya ath-Thabrani)

Oleh karena itu Daulah Islam tidak hanya mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sikap keras kepada orang-orang kafir, tetapi juga mencontoh teladan para shahabatnya yang adil radhiyallahu 'anhum dengan menghukum dengan api sebagai pembalasan, menteror para murtaddin dan memberi contoh kepada mereka.

Kami memohon kepada Allah untuk membalas dendam kaum Muslimin dan mujahidin serta menghujani api dan kehancuran kepada kafirin dan murtaddin di manapun mereka berada.

Catatan kaki :

[1] Abu Sayaf ash-Shalabi membuka seluruh keburukannya ketika menampakkan penyesalan atas pilot yang murtad tersebut di hadapan para mujahidin. Dia juga mengarang cerita tentang negosiasi berkaitan dengan tahanan dengan mengaku terlibat dalam negosiasi tersebut, bahwa perwakilan thaghut Jordan dari awal adalah 'Ashim Thahir al-Barqawi (Abu Muhammad al-Maqdisi, yang membawa kampanye dusta). Terlebih, ash-Shalabi tanpa malu berdusta dengan mengklaim bahwa laki-laki Ba'ats murtad 'Izzat ad-Duri dan orang-orang Ba'ats murtad lainnya adalah anggota Daulah Islam dan terlibat dalam negosiasi! Maka, pendusta tanpa rasa malu (ash-Shalabi) diambil sebagai “mentor jihadi”! Orang hanya bisa berkata kepadanya, “Jika kamu tidak memiliki malu, maka berbuatlah sesukamu.” (Shahih al-Bukhari)

[2] Teks lengkap dari surat tersebut dapat dibaca dalam topik “Sejarah” pada Dabiq edisi ini.

[3] Al-Mundziri rahimahullah menyebutkan empat khalifah yang membakar pelaku sodomi dengan api: Abu Bakar ash-Shiddiq, 'Ali bin Abi Thalib, 'Abdullah bin az-Zubair, dan Hisyam bin 'Abdul Malik. (At-Targhib wat Tarhib)

KEIKUTSERTAAN JEPANG DALAM PERANG MELAWAN MUJAHIDIN

DABIQ 7 - KATA PENGANTAR


KEIKUTSERTAAN JEPANG DALAM PERANG MELAWAN MUJAHIDIN

“Apa urusan Jepang dengan kami? Siapa yang telah membawa Jepang ke dalam perang yang sulit, dahsyat dan sengit ini… ke dalam pelanggaran kepada putra-putra kita di Palestina? Jepang tidak akan mampu bertahan dalam perang melawan kami. Oleh karena itu, mereka harus memikirkan ulang pendirian mereka. Apa urusan Australia yang jauh di selatan dengan kami dan dengan kondisi masyarakat Afghanistan dan Palestina yang tidak berdaya? Apa urusan Jerman dalam perang ini selain kekafiran dan perang salib? Ini tidak lain adalah perang salib sebagaimana perang salib terdahulu yang dipimpin oleh Richard the Lionheart, Barbarossa dari Jerman, dan Louis dari Prancis. Sebagaimana hari ini, ketika Bush mengangkat salib, negara-negara salibis segera bergegas. Apa urusan negara-negara Arab dengan perang salib ini? Mengapa mereka memasukinya dengan terang-terangan dan terbuka di siang bolong? Karena mereka merasa senang dengan rencana salib.” (Wawancara Oktober 2001)

Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah mengatakan kalimat di atas 13 tahun yang lalu ketika banyak negara bersegera bergabung dengan koalisi salibis yang digerakkan untuk menginvasi Afghanistan. Jepang bergabung dengan perang salib walaupun mereka adalah penyembah berhala bukan Kristen, konstitusinya yang “cinta damai”, dan jaraknya yang jauh dari Afghanistan. Perdana Menteri yang bodoh saat itu –Junichiro Koizumi– berkomitmen untuk menyediakan bantuan logistik untuk pasukan salib barat. Apa keuntungan yang dia harapkan untuk Jepang dengan bergabung dalam sebuah perang salib terhadap kaum Muslimin?

Setelah itu, Jepang –sekali lagi di bawah kepemimpinan Koizumi– bergabung dengan pasukan salib di Iraq dengan mengirim Pasukan “Bela Diri” untuk menolong mereka di sana. Ketika mujahidin di bawah kepemimpinan Syaikh Abu Mush'ab az-Zarqawi rahimahullah menangkap pasukan salibis Jepang Shosei Koda dan mengancam akan mengeksekusi dia jika Jepang tidak menarik pasukannya dari Iraq, Koizumi dan pemerintahannya dengan arogan berkata bahwa Jepang tidak akan mengakui permintaan dari “teroris”. Oleh karena itu, Koda dipenggal sebagaimana orang-orang sebelumnya di antara tawanan dari koalisi pasukan salib termasuk Nick Berg dan Kenneth Bigley.

Hampir satu dekade setelahnya, Jepang yang “cinta damai” sekali lagi melanggar kebijaksanaan dengan masuk ke dalam koalisi salibis lainnya melawan kaum Muslimin, tetapi kali ini di bawah kepemimpinan peraih “Hadiah Nobel Perdamaian” Obama. Dan sehingga sebuah negara yang “cinta damai” dipimpin oleh sebuah peraih penghargaan “perdamaian” dalam sebuah perang yang digariskan untuk gagal.

Apa keuntungan yang diharapkan Abe Shinzo untuk diperoleh Jepang dengan secara terang-terangan menyumbang lebih dari 200 juta dollar untuk secara jelas digunakan dalam perang melawan Daulah Islam, seakan-akan Khilafah bukan merupakan sebuah entitas berbahaya untuk dibuat marah? Keangkuhan macam apa yang telah membutakannya untuk membuat pernyataan tidak bijaksananya dari sebuah podium yang didirikan thaghut Sisi yang melancarkan perang terhadap tentara Khilafah di Wilayah Sinai? Apa yang membuatnya “lupa” bahwa Daulah Islam memiliki dua tawanan Jepang di dalam tahanannya menunggu kekeliruan dari pemimpin Jepang?

Tidak ada yang selamat dari makar Allah yang dirasakan aman oleh orang-orang musyrik. Maka dengan segera Daulah Islam menuntut 200 juta dolar dari pemerintah Jepang, jumlah yang sama yang diberikan oleh Perdana Menteri Jepang kepada pihak salibis dan sekutu-sekutu mereka yang murtad. Khilafah tidak membutuhkan uang dan mengetahui benar bahwa Jepang tidak akan pernah menyediakan jumlah tersebut, namun keputusan –dengan tuntutan ini– untuk mempermalukan kesombongan pemerintah Jepang… Sebuah pemerintah yang berada dalam satu jalur dengan pemerintah-pemerintah yang diperbudak oleh Barat sejak Perang Dunia Kedua.

Setelah batas waktu pertama lewat, tahanan Jepang Haruna Yukawa dieksekusi, sementara para perwakilan Jepang mendesak rezim Yordania yang murtad. Daulah Islam dengan segera meminta pembebasan dan penyerahan Sajidah Ar-Risyawi –seorang mujahidah yang ditahan oleh Thaghut Yordania hampir 10 tahun– ke negeri Khilafah dalam pertukaran tawanan untuk Kenji Goto Jogo. Secara arogan rezim Yordania mempersulit proses tersebut bagi Jepang dengan berusaha memasukkan pilot mereka dalam kesepakatan pertukaran, tetapi Khilafah secara eksplisit menolaknya selama negosiasi dengan perwakilan Thaghut Yordania –'Ashim Thahir Al-Barqawi (Abu Muhammad al-Maqdisi [1])– karena terdapat beberapa rencana lain bagi si pilot murtad.

Pada akhirnya, baik si klien murtad Al-Barqawi (yaitu Mu'adz, pent.) maupun sang tahanan Jepang dieksekusi disebabkan kelalaian kedua rezim dalam memperhatikan peringatan yang diberikan oleh Daulah Islam. Para kerabat Kenji Goto Jogo dan si pilot murtad tidak bisa disalahkan. Para pemimpin politik negeri merekalah yang dipersalahkan karena berusaha untuk menenangkan dan melayani salibis Amerika.

Sebelum perjanjian sembrono untuk membantu perang salib ini, Jepang tidak masuk dalam daftar prioritas target Daulah Islam. Akan tetapi, disebabkan kebodohan Abe Shinzo, semua warga dan kepentingan Jepang –di mana pun mereka diketemukan– sekarang menjadi target bagi bala tentara dan pendukung Khilafah di mana-mana. Kini Jepang berada dalam situasi yang sulit.

Bagaimana mereka dapat lepas dari ancaman ini? Bisakah Abe Shinzo melakukan langkah untuk membebaskan rakyatnya yang secara sembrono menyebabkan kemarahan Khilafah? Bisakah ia secara berani mengumumkan penghentian dukungannya bagi perang melawan Khilafah setelah membuat pernyataan buruk dan tidak bijaksana terhadap Daulah Islam? Sesuatu yang sangat diragukan… Dengan demikian, biarkanlah para warga negaranya mengetahui bahwa pedang Khilafah telah dihunus terhadap orang-orang musyrik Jepang dengan kekuatan dan kekuasaan Allah...

Catatan kaki :

[1] Semoga Allah segera menyingkap secara rinci tentang bagaimana Al-Barqawi (di mana dia mengadakan kampanye yang penuh dengan kebohongan) mewakili Thaghut Yordania dalam negosiasi tersebut. Wallahul Musta'an...

KERUNTUHAN

DABIQ 6 - SPESIAL

KERUNTUHAN
Oleh : John Cantlie

Perang terus meningkat, nilai (jual) minyak mengalami penurunan, dan Amerika sedang mencetak $ 85 miliar dolar per bulan untuk mencegah kehancuran total. Krisis ekonomi mendekat dengan cepat dan dunia membutuhkan mata uang yang stabil dan dapat diandalkan. Sejak 5.000 tahun, mata uang itu adalah emas.

Ada terlalu banyak "uang" di dunia hari ini dan sebagai akibatnya hal itu tidak akan berjalan begitu lancar dalam beberapa tahun ke depan. Kamu bisa melihatnya dalam setiap perekonomian hampir di setiap negara. Biaya hidup akan naik bersamaan nilai mata uang yang semakin berkurang nilainya dan bank pusat mencoba untuk mengatasi masalah dengan mencetak lebih banyak lagi kertas dengan nomor di atasnya.

Sudah mencoba puluhan kali sepanjang sejarah dan selalu gagal. Dolar akan selalu turun bahkan kali akan menyeret dunia bersamanya.

Sejak tahun 1971, sistem keuangan dunia berdasarkan kepercayaan. Mata Uang hanya bernilai sebagai sesuatu dalam pertukaran untuk barang karena bank mengatakan bahwa - $ 5 bisa membelikanmu kopi dan sandwich kemarin sehingga Anda percaya bahwa ia akan melakukannya juga besok. Tapi kepercayaan dalam hal keuangan antara masyarakat dan pemerintah kini jatuh ke titik terendah yang tidak terlihat sejak tahun 1930-an, dan dengan tidak adanya mata uang dunia yang terikat dengan apa pun dari nilai sebenarnya, kenyataan krisis ekonomi global menyeret semakin dekat.

Sebagai mata uang cadangan dunia dan, sampai saat ini mata uang tunggal perdagangan minyak, bentuk dolar AS sekitar 60% dari semua nilai mata uang pada planet ini, dan lebih dari setengah uang itu berada di luar Amerika Serikat. Sehingga di saat dolar runtuh, itu akan menciptakan efek domino dan yang lain akan ikut menerjang runtuh bersamanya.

Pada saat seperti itu, dunia mencari sesuatu yang sedikit lebih berharga daripada kertas untuk menopang keuangannya. Sesuatu ini harus memiliki nilai intrinsik, nilai yang tidak naik atau turun liar hanya dengan menekan beberapa tombol di bank sentral. Sesuatu itu bisa jadi sapi, sekarung gandum, atau satu barel minyak, tetapi untuk ribuan tahun terakhir item yang paling popular nilainya adalah emas.

Dia memiliki batasan jumlah, sehingga tidak akan pernah kehilangan nilainya, bank tidak bisa mencetak lebih dari itu ketika mereka memilih, dan itu sangat berharga sesuai apa yang pasar katakan, bukan apa yang bank tentukan. Dia juga tahan lama, Anda dapat menukarnya dengan barang, dan nilai harganya bukan hanya pada hari ini saja, bahkan sejak ribuan tahun lalu. Sekarang, inilah uang sesungguhnya.

Sungguh menakjubkan untuk membayangkan bahwa segumpal emas yang mungkin telah digunakan selama ribuan perdagangan bertahun-tahun lalu sekarang masih beredar. Mungkin dilebur dan menjadi bagian dari sebuah emas batangan atau dikenakan di leher seseorang, tapi dia masih ada. Cobalah jika itu selembar kertas.

MENGAPA KITA BERBICARA TENTANG UANG?

Bulan lalu Daulah Islam mengumumkan rencana mencetak untuk kalangan mereka sendiri dinar emas dan dirham perak dalam sebuah langkah untuk memisahkan diri dari dolar terkait mata uang fiat dan membangun uang mereka sendiri, mata uang yang memiliki nilai intrinsik.

Setiap negara perlu mata uang sendiri dan peralihan yang dilakukan Daulah Islam kepada dinar emas akan menjadi sesuatu yang cerdas di pergolakan pasar saat ini. Situs keuangan Quartz menulis, "Dinar emas menyentuh sejarah yang mendalam dari mata uang Islam yang membentang ke belakang sejak masa Muhammad sendiri. Dinar Islam muncul di 696 AD, ketika Dinasti Umayah –berpusat di Damaskus– membentang dari semenanjung Iberia hingga Sungai Indus di Asia Selatan."

Dan nilai emas melonjak. Pada tahun 2006, saya memiliki 1 kg batangan emas yang berharga, diwaktu itu, sekitar $ 17.000. Sayangnya itu bukan milikku; sebuah agen emas batangan meminjamkannya kepada saya untuk sebuah artikel. Seluruh staf di gedung itu mendengar tentang hal itu dan datang untuk bermain mata atas keindahannya. Emas murni membuat orang menjadi sedikit aneh seperti itu. Tapi kalau aku punya uang untuk membelinya, batangan emas yang sama akan bernilai lebih dari $ 60.000 hari ini.

Ketika mereka bergerak untuk memperluas Khilafah, akan sesuai bagi Daulah Islam untuk memperkenalkan dinar dan dirham mereka sendiri. Ini bisa diterapkan, bentuk praktis dari mata uang yang menempatkan kekuasaan pengeluaran ke tangan bisnis dan konsumen. Dinar emas adalah salah satu mata uang yang paling abadi di dunia. Emas cukup masuk akal ketika ada krisis ekonomi yang cepat mendekati orang-orang seperti yang belum pernah terlihat sejak waktu yang sangat lama.

Cengkraman dolar AS di dunia sejak perjanjian Bretton Woods tahun 1944 –ketika mata uang dunia disematkan ke dolar, yang dia dipautkan pada emas $ 35 per ons– kurang lebih. Dunia telah mengirim emas mereka ke Amerika untuk diamankan saat Perang Dunia 2 dan mereka mengumpulkan sekitar 20.000 ton. Selama waktu beberapa tahun peperangan, dolar menjadi mata uang cadangan dari dunia internasional yang diakui melalui standar emas.

Amerika memutarnya secara tunai. Tapi dia over pengeluaran, peperangan, dan keserakahan nyata bahwa pada 1960-an mereka mencetak dolar jauh lebih banyak dari emas yang bisa mereka tebus. AS diperkirakan telah menghabiskan $ 546 miliar hanya selama Perang Dingin. Mereka mencetak dolar seperti mereka menegluarkan fashion, sehingga dunia gugup, mulai mengembalikan dolar, dan meminta emas mereka kembali sebagai gantinya.

Ini menciptakan tanah longsor dan Federal Reserve "Bank Sentral Amerika, pent" terpaksa mengakui bahwa mereka tidak memiliki cukup emas untuk diserahkan kembali. Pada tahun 1971, Presiden Nixon menyatakan Amerika tidak lagi menebus dolar untuk emas kecuali itu dalam "kepentingan Amerika Serikat."

Itu adalah penolakan pembayaran hutang terbesar dalam sejarah modern. Nixon segera menggantikan emas dengan minyak pada tahun 1973 dengan menyatakan bahwa semua transaksi internasional dengan negara-negara penghasil minyak OPEC harus dilakukan dalam bentuk dolar. Reputasi buruk keluarga korup kerajaan Saudi pun setuju. Sebagai imbalan untuk hanya menggunakan dolar sebagai mata uang perdagangan minyak dan investasi miliaran dalam obligasi AS, Amerika akan memberikan mereka dukungan militer dan melindungi ladang minyak mereka. Pada penawaran Saudi, negara-negara OPEC lainnya ikut jatuh ke garis ini, dan lahirlah petrodollar. Dolar telah disematkan ke emas, sekarang disematkan ke minyak.

"Tidak ada dolar, maka tidak ada akses ke komoditas terpenting dunia," kata Nick Giambruno, seorang penasihat keuangan di Casey Research. "Jika Italia ingin membeli minyak dari Kuwait, berarti harus terlebih dahulu membeli dolar AS pada kurs pasar untuk membayar minyak, sehingga menciptakan kebutuhan palsu untuk dolar AS yang tidak akan ada jika Italia bisa membayar dalam euro."

UNTUK SEMENTARA, SEMUA SESUAI RENCANA

Saudi membuat triliunan. Amerika membuat triliunan. Tapi kemudian Saddam mencaplok Kuwait pada tahun 1991 dan AS, membuang bagian mereka untuk tawar-menawar, dihancurkanlah tentara Baath-nya. Tapi mereka tidak berhenti di situ. Mereka kemudian dikenakan sanksi berat atas rakyat Iraq sendiri bahwa, karena kemiskinan, mengakibatkan kematian lebih dari 500.000 anak-anak saja, sampai tahun 2000, rezim Baath menyatakan mereka hanya akan menjual minyak mereka dengan Euro dan tidak kepada "musuh negara."

Amerika kembali pada tahun 2003 di bawah kebohongan tentang "senjata pemusnah massal" dan "perang melawan teror", setelah merusak negara lain untuk rakyatnya sendiri, segera dia mengembalikan penjualan minyak ke dalam dolar. Amerika akan memulai perang dan membunuh ratusan ribu orang untuk melindungi nilai dolar demi kepentingan ekonomi lainnya. Ini sangat jelas ketika AS dan sekutunya hanya duduk dan menonton sementara Asad menyembelih lebih dari 200.000 orang Suriah. Namun, segera setelah Daulah Islam bergerak menuju ladang minyak Iraq dan Saudi, Amerika langsung berusaha terlibat.

Dan meskipun melakukan agresi untuk melindungi nilai dolar di seluruh dunia, pemimpin politisi AS dan para pemodal tahu hari itu telah ditentukan. Kongres Ron Paul mengatakan runtuhnya dolar sudah dekat. "Kita akan mengetahui bahwa hari itu telah mendekat ketika negara-negara penghasil minyak meminta emas, atau yang setara, untuk minyak mereka, bukan dengan dolar atau euro," katanya.

Dan itulah yang terjadi sekarang. Rusia dan China dalam perdagangan minyak menggunakan mata uang mereka sendiri dan mereka mengumpulkan begitu banyak emas batangan sehingga mereka siap untuk membunuh dolar dan petrodollar sebagai alat perdagangan internasional. China telah membangun sebuah gunung emas terdiri dari 6.500 ton emas batangan. Negara lain berdagang dengan menggunakan euro dan emas atau berencana untuk melakukannya dalam waktu dekat.

Produsen gas alam terbesar di planet ini, Perusahaan Rusia Gazprom, baru-baru ini menandatangani perjanjian untuk beralih pembayaran dari dolar ke Euro. Gazprom juga merupakan produsen minyak yang besar dan itu adalah langkah besar dalam upaya de-dolarisasi Rusia. China akan mengikutinya.

Dan aksi militer Daulah Islam telah memeras monopoli minyak Amerika dengan menyerang, mempermalukan, dan mengambil alih atas pasokan minyak di wilayah yang telah mereka kuasai.

Iraq adalah pemasok minyak terbesar kedua setelah Saudi, tapi Daulah Islam mencapai ke sana dan telah mengganggu banyak pasokan minyak. Pasokan Libya telah terganggu oleh serangan Daulah Islam, sementara produksi Nigeria sedang diserang mujahidin di sana.

Ini bukan kebetulan dan ini sebuah cara cerdas untuk memukul Amerika di tempat mana yang sakit, sehingga AS harus bergantung lebih pada pasokan sendiri. Panik untuk menghentikan situasi yang bertambah parah, Amerika telah menginvestasikan milyaran ke dalam program pengeboran minyak dan gas mereka sendiri, membuat mereka sekarang menjadi produsen minyak terbesar di dunia pada 11 juta barel per hari dan masuk ke dalam perang harga minyak bersama sahabat mereka sendiri, Saudi.

Sehingga tiba-tiba pasar dibanjiri dengan minyak murah di mana setiap orang sekarang dapat membeli yang membuat semakin tidak berharganya dolar AS mereka. Anda tidak perlu menjadi seorang ahli keuangan untuk melihat kea rah mana ini semua menuju. Perang, ledakan ekonomi, deflasi kronis dan, akhirnya, sistem keuangan global yang baru yang akan muncul dari abu.

Beralih ke emas pada saat seperti ini sangat masuk akal. Emas dan perak masih dianggap uang yang terkuat di dunia karena orang membutuhkannya. Mereka tahu nilainya dan telah digunakan selama ribuan tahun. Tidak ada yang menciptakan tempat yang lebih baik bagi manusia untuk hidup daripada di rumah. Tidak ada yang menemukan cara yang lebih baik bagi manusia untuk tetap hangat daripada memakai baju. Dan tidak ada yang menemukan uang lebih stabil dari emas. Pada tahun 1944, dolar terpaut dengan emas $ 35 per ounce - hari ini akan perlu $ 15,400 dolar per ounce untuk menutupi jumlah dolar yang beredar! 61

Presiden Venezuela, Hugo Chavez, melihatnya hal ini datang dan memulai kampanye pada tahun 1998 untuk mendapatkan kembali 211 ton emas Venezuela dari AS. Butuh sejumlah besar perdebatan sebelum emas mereka pulang; negara tidak suka melepaskan emas setelah itu dari brankas mereka. Tapi bola mulai menggelinding dan sekarang semua orang menginginkan kembali emas batangan mereka. Swiss, Ekuador, Belanda, dan Austria semua berteriak meminta emas mereka kembali. Jerman meminta emas mereka kepada The Fed pada 2012 dan dengan mudah dibalas bahwa itu tidak ada.

Negara-negara sekarang dengan cepat menjauhkan diri dari dolar sebelum krisis terjadi. Oleh karena itu, sebuah ide cerdas Daulah Islam untuk mencetak dinar emas mereka sendiri. Jika Anda berdagang uang yang memiliki nilai di pasar bebas saat banyak negara lain di sekitar anda berjalan dengan gerobak uang kertas untuk membayar sepotong roti, berarti Anda berada dalam posisi jauh lebih kuat daripada mereka. Ekonomi Anda akan berkembang sementara mereka akan runtuh.

Emas dan perang selalu hidup berdampingan, sebagai penulis keuangan David Graeber menulis : "Selama perang ekspansi pada masa Dinasti Umayah, sejumlah besar emas dan perak yang direbut dari istana, kuil, biara-biara dan dicetak ke mata uang, memungkinkan Khilafah untuk menghasilkan dinar emas dan dirham perak dengan kemurnian yang luar biasa."

Tentu saja, banyak bank sentral di seluruh dunia membuang gagasan kembali kepada emas atau standar emas dalam abad ke-21, dengan alasan bahwa itu akan menjadi langkah besar ke arah kemunduran. Tapi itulah tugas mega bankir untuk membuang emas, karena jika dunia kembali ke sistem moneter berdasarkan logam mulia, kontrol mereka dan pemerintah terhadap seluruh negeri dan kesehatan keuangan publik akan berhenti. Mereka akan keluar dari pekerjaan. Anda tidak dapat memanipulasi nilai emas. Ini adalah apa yang pasar tuntut. Tetapi dengan uang kertas anda bisa menipu sekitar sebanyak yang Anda suka. Dan itu semua dirancang untuk memaksa uang sebanyak mungkin keluar dari saku para konsumen.

"Sistem moneter kita mencuri dari kelas menengah dan mentransfer kekayaan ke bank," kata pakar keuangan Mike Maloney. "Kami sudah melihat ini sepanjang sejarah dan itu hanya mengulangi lagi dan lagi."

Sistem dunia perbankan adalah penipuan yang dirancang untuk memakan dirinya sendiri dan pemerintah. Tidak ada yang benar-benar nyata, hanya sejumlah besar kertas dan banyak nomor pada komputer. Dengan sistem saat ini, pemerintah dan bank memegang semua emas sementara publik memiliki potongan-potongan kertas yang tidak berharga untuk bermain dengannya, dan ketika ekonomi runtuh tebak siapakah yang masih akan memiliki emas...

Itu sebabnya menempatkan logam mulia ke dalam peredaran adalah baik bagi semua orang kecuali bank. Ini membalikkan proses dan menempatkan uang kertas kembali ke dalam sistem sementara kekayaan nyata, logam berharga, ada di tangan rakyat.

The Federal Reserve (Bank Sentral) AS kini mencetak lebih dari $ 1 triliun per tahun dalam "Quantitative Easing 3" dalam upaya putus asa untuk mencegah deflasi dan mencetak jalan keluar dari kehancuran. Mereka mungkin kehabisan kertas dalam upaya mereka, tetapi tetap tidak akan berfungsi. Waktu keruntuhan dolar sekarang semakin dekat seperti yang terjadi pada setiap mata uang kertas lain sebelumnya, dan meskipun ratusan ribu orang mati untuk menundanya, sejarah menunjukkan itu tak terelakkan. Dan untuk pertama kalinya, semua mata uang dunia, juga mata uang fiat tidak didukung oleh sesuatu apa pun. Ketika keruntuhannya datang, maka ia akan hancur...