Rabu, 25 April 2018

NASEHAT UNTUK MUJAHIDIN, MENDENGAR DAN TAATLAH

DABIQ 12 - ARTIKEL
   
NASEHAT UNTUK MUJAHIDIN,
MENDENGARLAH DAN TAAT

(Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh “Shallallahu ‘alaihi wasallamtul-jihad,” Bekas majalah Al-Qa’idah di Semenanjung Arab / AQAP (sebelum adanya cabang di Yaman). Penulis dari karya ini tidaklah mencukupkan diri hanya dengan mencari pengetahuan dan pelatihan saja, tapi beliau juga memimpin pertempuran melawan Al Salul hingga beliau mendapatkan syahid fie sabilillah. Semoga Allah menerimanya, membalasnya, dan meridhainya.)

Dengan senang hati saya akan menyajikan nasehat yang dinukil dari majalah “Shallallahu ‘alaihi wasallamtul-jihad” untuk para mujahidin pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya.

Nasehat bagian pertama - setelah saya Nasehatkan untuk takut kepada Allah dan berhati-hatilah dalam urusan-Nya - adalah untuk mendengarkan dan mematuhi mereka yang telah diberi Allah otoritas atas urusan mujahidin.

Saat ini Umat sedang menderita karena pengkhianatan dari penguasa murtad dan para pemimpinnya yang bahkan telah melanggar hakhak Allah dan juga hak-hak ciptaan-Nya. Dan telah diketahui bersama bahwa otoritas penguasa ini tidaklah valid, dan wajib hukumnya untuk menyelisihi mereka dan berperang melawan mereka. Tapi yang dimaksud dengan mendengarkan dan mentaati disini hanya mengacu pada orang-orang yang telah Allah berikan otoritas atas urusan jihad (dan sekarang, Khilafah). Ini adalah hal yang sangat penting dan sangat serius, dimana hal ini telah ditetapkan oleh Sang pembuat undang-undang. Dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan bahwa pembangkangan dari pemimpin yang sah itu sama dengan pembangkangannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar dan taat adalah untuk persatuan, kerjasama, dan kekuatan, dan ini berbanding terbalik dengan pertengkaran, perpecahan, dan perselisihan pendapat.

Pertengkaran dan perselisihan dalam jihad berarti kegagalan dan kekalahan. “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Anfal: 46).

Siapapun yang telah mempelajari sejarah dan Sirah akan melihat bahwa ketidak-taatannya kepada Pemimpin -dalam bentuk apapun- memiliki konsekuensi yang berat dan sangat merugikan, dan contoh terbaik dari semua itu adalah apa yang terjadi pada Sahabat di Perang Uhud, yaitu ketika mereka tidak mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagai hasilnya tentara Muslim mengalami kemunduran dan bencana, termasuk banyak dari sahabat terbaik yang terbunuh, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta sejumlah sahabat lain-nya terluka. Ini semua adalah hasil dari ketidaktaatan kepada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan sudah berulang kali ketika pemimpin didurhakai di beberapa tempat dan arena jihad, maka hasil akhir dari harga yang harus dibayar adalah bencara dan kesengsaraan, dan itu termasuk kematian dan tertumpahnya darah, karena kedurhakaan kepada pemimpin itu tidak hanya sebuah dosa yang hanya mempengaruhi orang yang durhaka saja. Sebaliknya, hal itu mempengaruhi seluruh kelompok, dan seluruh pasukan pada sebagian kasus.

Sudah berapa kali ikhwan Mujahid telah diperintahkan oleh pemimpinnya untuk tidak pergi ke daerah tertentu, tapi ia mendurhakai pemimpinnya hingga akhirnya ia tertangkap!

Dan sudah berapa kali ikhwan yang tidak menaati pemimpinnya sehubungan dengan langkah-langkah keamanan dan tindakan pencegahan, dan sebagai hasilnya ia dan sekelompok ikhwan tertangkap!

Ada banyak contoh di mana sekelompok ikhwan ditawan atau ditangkap, hanya karena salah satu dari mereka tidak menaati amirnya dalam mengambil tindakan pencegahan untuk keamanan mereka.

Salah satu dari banyak contoh kecil dalam hal ini adalah sebuah insiden yang berhubungan dengan saya oleh salah satu ikhwan tentang seorang pria yang ingin bergabung dengan kamp pelatihan di Afganistan. Orang yang bertanggung jawab dalam keberangkatannya memberi dia arahan agar tidak menelepon keluarganya hingga ia mencapai Pakistan. Tapi ikhwan tidak menaati perintah ini dan menghubungi keluarganya dari bandara di negaranya tepat sebelum menaiki pesawat. Segera setelah itu, keluarganya bergegas melapor kepada petugas bandara dan berhasil menangkapnya sebelum pesawat lepas landas. Ia membayar harga ketidaktaatannya dengan hilangnya kesempatan untuk beramal jihad fie sabilillah!

Ada banyak insiden seperti itu, tapi di sini saya ingin menyarankan kepada ikhwan-ikhwan yang telah menolak untuk menjalani kehidupan yang penuh keninaan dan telah mengalahkan keinginan dan hawa nafsu mereka, untuk mengikatkan diri untuk mendengarkan dan mematuhi pemimpin dalam segala hal baik besar maupun kecil, untuk senantiasa taat dalam segala hal kecuali dalam dosa. Dan jika perintah pemimpin adalah masalah ijtihadiyah di mana mungkin ada lebih dari dua pendapat yang sah dan pemimpin telah memilih salah satu pendapat - terlepas dari apakah pilihan itu lebih benar atau kurang benar - adalah wajib untuk mentaati pendapat yang telah dipilih dan tunduk atas pilihannya, karena masalah ini adalah masalah ijtihad dan tidak boleh ada celaan dalam hal itu.

Dan berhati-hatilah untuk tidak mencari celah dalam menghindari ketaatan, karena itu adalah penyebab dari bencana dan kesedihan. Kapanpun seseorang ingin mencari alasan untuk dirinya sendiri untuk mengingkari pemimpinnya, ia akan dengan mudah menemukannya. Begitu juga dengan orang-orang yang tidak mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Uhud, alasan mereka adalah bahwa pertempuran telah berakhir dan tidak ada lagi alasan tersisa bagi pemanah untuk tetap di bukit’, dan sebagainya dan sebagainya ... Jadi jangan mencari alasan ketika Anda berpikir untuk tidak mematuhi perintah, melainkan paksakanlah diri anda untuk mengikuti perintah dan tidak melampaui batas.

Sangatlah menyedihkan ketika melihat orang-orang sesat dan tentara Thawaghit selalu mendengar dan mematuhi perintah sedangkan mereka itu relatif disiplin. Anda mungkin melihat salah satu dari mereka melakukan dosa - Bahkan melakukan kekufuran - dan jika ia ditanya tentang hal itu ia dengan bodohnya akan berkata, “Aku hanya seorang budak yang telah diberi perintah!”

Sedangkan Anda akan menemukan bahwa mendengarkan dan menaati pemimpin (yang tidak memerintahkan kepada dosa) adalah suatu hal yang terlupakan dan mulai memudar ketika itu dihadapkan pada Mujahidin. Wallahul-Musta’an ...

Ini adalah kewajiban atas Anda, saudara yang saya muliakan, untuk menasehati dengan keras kepada siapa saja yang mendurhakai pemimpinnya, dan untuk membantu pemimpin Anda serta saudara Anda untuk mencegah setiap ketidaktaatan dan kesalahan yang akan dibayar dengan sangat mahal oleh umat dan para mujahidin.

Dan ketahuilah wahai orang yang di berkahi, bahwa mendengarkan dan menaati itu adalah sikap rendah hati terhadap orang-orang beriman, dan bahwa pelanggaran atas hal ini adalah sikap kejam kepada orang-orang mukmin!

Saya akan menyimpulkan nasehat saya ini dengan sebuah sajak:

Dengarkanlah nasihat tulus dariku, karena sesungguhnya aku ingin kebaikan dan keuntungan untukmu, wahai saudaraku.
Ketaatanmu kepada pemimpinmu merupakan sebuah kebutuhan penting, dan siapapun yang mendurhakai perintahnya maka ia telah berbuat dosa.
Untuk mendengarkan dan mematuhi pemimpin adalah untuk mendengarkan dan mematuhi Muhammad, sang pengantar kabar gembira.
Adapun menentang perintah dan tidak mematuhinya, maka itu adalah dosa terhadap Allah. Dan itu adalah dasar dari kelemahan dan kekalahan, dan mengantarkan pada korupsi pendapat dan kehilangan tekad.
Dan apa yang telah terjadi dengan sahabat dalam Perang Uhud akan selalu menjadi pelajaran bagi setiap orang mukmin.
Jadi tetaplah taat dan bersabarlah dalam ketaatan dan jangan sampai lelah. Dengarkanlah baik di masa susah maupun senang,
Kecuali perintah pemimpin untuk melawan syari’ah, karena tidak ada lagi ketaatan kepada pemimpin dalam hal itu.

Saya memohon kepada Allah untuk membantu saya dan Anda saudaraku, untuk mendengar dan taat, dan tidak menjadikan kita sebagai sebab dari bahaya yang menimpa saudara-saudara kita melalui dosa-dosa kita, dan memaafkanlah kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan.

SEKUTU Al-QA’IDAH DI YAMAN

DABIQ 12 - ARTIKEL

SEKUTU Al-QA’IDAH DI YAMAN

Sebagaimana demam shohawat telah menyebar melalui jajaran Al-Qa’idah dari Syam ke cabang lainnya, maka menjadi penting untuk mempelajari hubungan antara cabang-cabang lainnya ini dengan pihak murtad regional, hubungan ini merupakan tambahan selain dari pendorong krusial yang berupa Irja’ dan hizbiyah dari kepemimpinan Al-Qa’idah dalam mengkonversi cabang Al-Qa’idah dari pihak yang memerangi Amerika pemimpin perang salib menjadi shohawat garis keras.

Di Khurosan, Al-Qa’idah bersama dengan faksi Taliban telah mengumumkan untuk mengadopsi nasionalisme dan perlawanan terhadap wala’ dan baro’, lalu berbohong kepada umat dengan menghubungkan deklarasi menyimpang mereka kepada mendiang Mulla ‘Umar, dan tanpa malu-malu mereka memamerkan persaudaraan dengan Thawaghit murtad dan Rafidhah. Di India, mereka adalah sekutu faksi nasionalis Kashmir yang penyerangan atau penarikan mudurnya hanya atas perintah tentara murtad Pakistan. Di Afrika Utara, sekutu mereka adalah faksi Libya yang mengambil bagian dalam agama demokrasi atas nama “Islam.”

Dan di Yaman, salah satu sekutu utama Al-Qa’idah -setelah ‘Abd Robbuh batalion, yang meng-”Islah” anggota parlemen, dan “Salafiyah” pro Saudi dari Dammaj dan Ma’rib- adalah “Dewan Domestik Hadhrami.” Menurut kata pengantar yang ditemukan didalam situs resmi dewan, “Dewan domestik Hadhrami di kota al-Mukalla -ibukota Hadhramaut- telah dibentuk dan kemudian diumumkan pada Senin, 13 April 2015, dan menjadi otoritas resmi untuk mengelola semua urusan di ibukota Hadhramaut al-Mukalla setelah merima penyerahan kontrol atasnya oleh mereka yang telah menaklukannya -Ansar Asy-syari’ah / ‘The Sons of Hadramawt’ / “Putra Hadhramaut”- pada 2 pada April 2015. Dewan Domestik Hadhrami dibentuk oleh orang-orang terbaik dan jujur dari Hadhramaut yang terdiri atas ulama, tokoh terkemuka, tetua suku, tokoh masyarakat, pengusaha, akademisi, insinyur, profesional media, dan petugas di angkatan militer dan keamanan. Mereka memikul tanggung jawab sejarah pada saat krusial seperti ini demi Hadhramaut. Dan Mereka tidak akan meninggalkannya kepada orang yang tak jelas, demi masa depan Hadhramaut. Mereka menjaganya agar tidak menjadi target pasukan asing, atau kekurangan akan otoritas dan keamanan, pencurian, penghancuran, dan kekacauan. Ini adalah bagian dari tujuan terpenting atas pembentukan Dewan Domestik Hadhrami, mereka juga memikul tanggung jawab administrasi urusan kota dengan bantuan warga dalam pelayanan keamanan dan stabilitas serta mengamankan pemberian layanan yang diperlukan termasuk air, persediaan makanan, listrik, perawatan medis, pengelolaan sampah, pendidikan, dan layanan lainnya. Dewan juga memiliki harapan tinggi agar warganya berkontribusi untuk mencapai tujuan-tujuan mulia dan normalisasi kehidupan publik, setiap orang berkontribusi di wilayah kerja dan spesialisasinya, dan bahwa mereka akan menyatukan barisan mereka demi Hadhramaut karena itu adalah kewajiban putra putra tanah air untuk mengatur urusan mereka dan tidak akan menunggu orang lain untuk melakukannya”.

Catatan Editor: “The Sons of Hadhramaut” adalah nama baru yang digunakan oleh Al-Qa’idah Cabang Yaman sebagaimana mereka menyingkirkan mantan namanya “Anshar Asy-Syari’ah. “

Catatan Editor: Penyerahan terkoordinasi dari al-Mukalla oleh Al-Qa’idah untuk dewan ini telah disebutkan dalam Dabiq, edisi 10, halaman 67-68.

Klarifikasi ini menjelaskan bahwa al-Mukalla dijalankan oleh Dewan Domestik Hadhrami, kemudian dalam dewan ini ada murtadin yang nyata didalam jajarannya (perwira dari tentara dan pasukan keamanan), dan bahwa Al-Qa’idah menyerahkan kekuasaan kepada dewan setelah mereka menguasai dan menduduki kota.

Dalam jumpa pers pertama yang dibuat oleh dewan ini pada tanggal “13 April 2015, dan “hanya sembilan hari setelah al-Mukalla dikuasai oleh al-Qa’idah, mereka berkata, “Wahai putra-putra dari Hadhramaut, dibawah cahaya yang menyakitkan dan inilah yang menjadi wajah umum negara, termasuk di provinsi Hadhramaut, terutama di ibukotanya al-Mukalla, Dewan Ulama Ahlus Sunnah, para tetua suku, dan tokoh-tokoh senior dan terkemuka telah mengambil inisiatif untuk memperbaiki wilayah dan melindungi mereka agar tidak tergelincir ke dalam konflik berdarah. Sebuah pertemuan telah diadakan dan membentuk Dewan Domestik Hadhrami untuk menjadi otoritas resmi dalam mengelola semua urusan di ibukota provinsi dengan berkoordinasi dan berada di bawah pengawasan dari Gubernur Provinsi Hadhramaut, Dr. ‘Adil Muhammad Bahamid. Dan dengan keberhasilan yang diberikan oleh Alloh, Dewan telah mencapai kesepakatan dengan Anshar Asy-Syari’ah / putra-putra Hadhramaut yang terdiri dari:

Pertama, mereka harus menyerahkan semua fasilitas umum dan administrasi mereka kepada Dewan Domestik Hadhrami. Dan menjadikan Dewan domestik memiliki hak untuk menunjuk siapapun sebagai kepalanya.

Kedua, Dewan Domestik bertanggung jawab atas pengelolaan keamanan publik dan pangkalannya. Ketiga, apapun yang dibutuhkan demi memfasilitasi pekerjaan Dewan dan pelayanan pengelolaannya akan disediakan oleh putra putra Hadhramaut, sebagaimana yang telah disepakati oleh kedua belah pihak ...

Dewan menyerukan ... semua direktur perkantoran dan semua badan sipil dan keamanan untuk melanjutkan pekerjaan mereka di bawah pengawasan dewan ... Dewan juga memuji upaya Operasi Badai gurun di bawah pimpinan Kerajaan Arab Saudi dan Dewan kerjasama teluk untuk mencegah agresi Hutsi dan sekutu mereka.”

Dalam jumpa pers pertama ini, mereka dengan terang-terangan memamerkan pelanjutan hubungan mereka dengan Rezim Thaghut dari ‘Abd Rabbuh, mereka memanggil murtadin dari badan keamanan untuk melakukan pekerjaan mereka, dan mereka juga menyanjung Thawaghit murtad dari Semenanjung Arab, hanya sembilan hari setelah Al-Qa’idah menguasai al-Mukalla!

Dalam jumpa pers pada “23 Mei 2015,” mereka memuji Thaghut Ahmad Bahaj, “Gubernur” dari provinsi Syabwah dibawah rezim murtad Abd Rabbuh, setelah ia terbunuh ketika melawan murtadin Rafidhah.

Dalam jumpa pers pada “16 Juni 2015,” mereka berkata, “Pada kesempatan ini, di awal kedatangan bulan Ramadhan, pimpinan dan anggota Dewan Domestik Hadhrami ... Mengirimkan salam khusus dan terima kasih yang besar kepada yang mulia penjaga tanah Haramain dan semua pemimpin Negara-negara Teluk.”

Dalam jumpa pers pada “4 September 2015,” mereka berkata, “Kami tidak akan melewatkan kesempatan dalam deklarasi ini untuk menawarkan belasungkawa kepada saudara-saudara kita yang berada dalam koalisi negara-negara Arab sehubungan dengan jatuhnya korban dari serangan khianat yang menyebabkan kematian enam puluh orang tentara Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Bahrain. Kami memohon kepada Allah untuk menerima mereka sebagai syuhada’ karena mereka telah membela bangsa mereka ... Kami sampaikan kepada mereka belasungkawa dari penduduk Hadhramaut kepada keluarga Syuhada’ dan berdoa agar mereka yang terluka segera pulih dengan cepat.”

Pada “15 Juni 2015,” mereka merilis sebuah artikel sebagai respon atas oposisi mereka. Dalam artikel tersebut mereka berkata, “Bagaimana mungkin dapat diyakini bahwa Dewan Domestik dijalankan oleh al- Qa’idah sedangkan Dewan mengakui legitimasi ‘Abd Rabbuh ketika Al-Qa’idah menganggap dia sebagai Thaghut?”

Pada website mereka, mereka secara teratur melaporkan hubungan mereka dengan pejabat dari rezim Abd Rabbuh termasuk dari Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan, Bank sentral, dan Departemen Pertahanan, sebagaimana pemerintahan provinsi lainnya.

Pada “24 April 2015” Mereka juga melaporkan pengiriman delegasi resmi mereka ke “Saudi” Arabia untuk bertemu dengan para pejabat Saudi dan kedua perdana menterinya serta wakil presiden ‘rezim Abd Rabbuh dalam upaya untuk memperkuat hubungan antara dewan, rezim Saudi dan Yaman.

Dalam sebuah pengumuman yang dirilis pada “21 April 2015,” Dewan mengatakan, “Sejak ... runtuhnya semua lembaga negara, militer, dan keamanan, dan kontrol dari mereka yang menyebut dirinya ‘The Sons of Hadhramaut’ (Anshar Asy-Syari’ah) atas urusan ibukota provinsi, dan setelah komunikasi berkelanjutan dengan gubernur provinsi Hadhramaut ... ulama, tetua suku, dan kaum bangshallallahu ‘alaihi wasallaman telah menempatkan segala daya upaya hingga mereka mencapai kesimpulan bahwa bahaya dari ‘The Sons of Hadhramaut’ atas kontrol mereka yang tersisa di kantor politik pemerintah dan bangunan lainnya merupakan sesuatu yang dapat menyebabkan interferensi / campurtangan dari militer regional dan internasional yang akan menyebabkan bencana bagi penduduk dan wilayah ini. Dan dari upaya ini menghasilkan kesepakatan yang memerintahkan serah terima atas seluruh fasilitas pemerintah dan Pusat keamanan publik kepada dewan domestik Hadhrami yang dibentuk oleh para ulama dan tetua suku ...”

Mereka melanjutkan dengan mengatakan, “Saudara kita, gubernur provinsi Hadhramaut, telah merestui perjanjian ini; dan pada mulanya dia juga setuju untuk menjadi kepala dewan. Dia kemudian mengusulkan untuk menjadi koordinator dan pengawas atas dewan. Setelah Beberapa hari, angkatan bersenjata Brigade 27 menjaga bandara ad-Dabbah, sedangkan semua Angkatan Udara Brigade 190 menarik diri. tidaklah benar bahwa Dewan Domestik Hadhrami menerima kamp-kamp ini dan menyerahkannya kepada ‘The Sons of Hadramawt.”

Sebaliknya, ‘ the Sons of Hadhramaut’ menyerbu mereka terlebih dahulu. Dan karena peristiwa ini, pertemuan darurat diadakan oleh Dewan Domestik pada 29/6/1436H atau bertepatan dengan 18 April 2015. Yang menghasilkan resolusi sebagai berikut:”

“Resolusi Pertama: Negosiasi antara Dewan Domestik dan ‘The Sons of Hadhramaut ‘ akan terus berlanjut. Perebutan kontrol atas fasilitas umum dan pertanggung jawaban dalam mengelola urusan ibukota provinsi tidak akan lengkap sampai ‘The Sons of Hadhramaut’ mematuhi kondisi berikut. Mereka harus:
A) Menyerahkan semua fasilitas pemerintah kepada dewan Domestik Secara bertahap.
B) Menyerahkan pelabuhan, bandara, dan kamp militer kepada Dewan Domestik.
C) Menyerahkan kendaraan, senjata, dan amunisi yang memadai (sesuai dengan tuntutan dewan komite keamanan) untuk memungkinkan pencapaian tugas dewan dalam menjaga keamanan publik dan pos militer.
D) Mengembalikan setidaknya dua miliar riyal, uang yang diambil dari Bank Sentral kepada Dewan Domestik sebagai anggaran untuk mengelola urusan provinsi.
E) Tidak melakukan penangkapan atau penggerebekan rumah setelah dewan Domestik mengambil otoritas kecuali jika terbukti bahwa ia bekerja untuk melawan keamanan provinsi. “

“Resolusi kedua: Komunikasi dengan Presiden dan Wakil Presiden Republik, Perdana Menteri, dan Gubernur provinsi akan berlanjut hingga deklarasi di rilis di mana mereka mengumumkan dukungan mereka terhadap Dewan domestik sehingga mencapai keamanan, stabilitas, dan normalisasi urusan di Hadhramaut ... “

“Hasil negosiasi dengan ‘The Sons of Hadhramaut’ adalah sebagai berikut:’ The Sons of Hadhramaut’ setuju untuk menyerahkan fasilitas umum dan administrasinya kapanpun Dewan Domestik memintanya. ‘The Sons of Hadhramaut’ setuju untuk menyerahkan pelabuhan, bandara, dan kamp-kamp militer, kecuali Brigade 27, kepada Dewan Domestik ... ‘The Sons of Hadhramaut’ setuju untuk memberikan Dewan Domestik kendaraan, senjata, kendaraan darurat, dan kendaraan polisi dengan jumlah yang cukup, untuk memfasilitasi pekerjaan dari Komite keamanan dari dewan... ‘The Sons of Hadhramaut’ sepakat untuk menghentikan penangkapan atau penggerebekan rumah setelah Dewan Domestik mengambil otoritas kota kecuali jika terbukti bahwa ia bekerja untuk melawan keamanan provinsi Hadhramaut. “

Dan menjadi terang benderang setelah berbagai jumpa pers dan deklarasi yang diumumkan bahwa dewan merupakan sebuah proyek yang misinya adalah untuk membangun kembali ‘rezim Abd Rabbuh di Hadhramaut dengan mengambil keuntungan dari sikap Irja’, dan kebodohan Al-Qa’idah cabang Yaman. Setelah mengusir Thaghut yang berkuasa, Al-Qa’idah menolak untuk mengambil kendali wilayah dan menegakkan sendiri syari’at Allah tapi mereka malah menyerahkannya kepada sekumpulan orang yang terdiri dari Ikhwan, pendukung Saudi, penyembah kuburan, serta mantan pejabat parlemen, militer, dan keamanan! Sementara itu, sebagaimana hubungan mereka dengan gerakan perlawanan nasionalis tumbuh, permusuhan mereka terhadap Daulah Islam juga meningkat drastis. Mereka tidak mampu memahami takfir serta tidak mampu memerangi Houthi Rafidi dan pasukan rezim murtad secara bersamaan. Dan jika permasalahan terus berlanjut sebagaimana di Syam, maka musuh bersama Qa’idah Yaman dan gerakan perlawanan nasionalis akan menjadi khilafah. Semoga Allah membimbing prajurit di jajaran Al-Qa’idah untuk keluar dari barisannya dan bergabung kedalam barisan al-jama’ah sebelum mereka mengikuti jejak murtadin Jabhah Jaulani.

SERANGAN KSATRIA KHILAFAH DI RUSIA DAN PERANCIS

DABIQ 12 - PENDAHULUAN

SERANGAN KSATRIA KHILAFAH DI RUSIA DAN PERANCIS

“Mereka merasa yakin benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut (teror) ke dalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (Al-Hasyr: 2)

Tentara salib baik yang di Timur dan di Barat berpikir bahwa diri mereka aman di dalam jet mereka lalu dengan pengecut membombardir kaum muslimin rakyat Khilafah.

“Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau dibalik tembok.” (Al-Hasyr: 14).

Akan tetapi Allah telah memutuskan bahwa hukuman itu akan menimpa para tentara salib dari arah yang tidak mereka duga. Maka begitulah, serangan penuh berkah terhadap Rusia dan Prancis berhasil dieksekusi meskipun intelijen internasional berperang melawan Daulah Islam. Kedua negara salib ini tidak diragukan lagi sedang menghancurkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri melalui permusuhan mereka terhadap Islam, Muslim, dan tubuh kaum muslimin; Khilafah.

Pada “30 September 2015,” setelah bertahun-tahun mendukung Thaghut Nushairi dalam perang melawan kaum Muslimin Syam, Rusia memutuskan untuk berpartisipasi secara langsung masuk ke dalam perang dengan angkatan udaranya. Itu adalah keputusan gegabah arogansi Rusia, seolah-olah ini menyatakan bahwa perang terhadap kaum muslimin Qauqaz (Kaukasus) belum cukup sebagai kejahatan. Dan setelah berhasil menemukan cara untuk mengganggu keamanan di Bandara Internasional Mimpi buruk di prancis baru saja di mulai Sharm el-Sheikh dan diputuskan untuk menjatuhkan pesawat milik negara yang bergabung dengan koalisi Barat pimpinan Amerika terhadap Daulah Islam, target pun berubah menjadi Pesawat Rusia. Sebuah bom lalu diselundupkan ke dalam pesawat, menyebabkan kematian 219 orang Rusia dan 5 tentara salib lainnya, hanya satu bulan setelah keputusan dipikirkan Rusia.

Setahun sebelumnya, pada “19 September 2014,” Prancis dengan congkak mulai mengeksekusi serangan udara terhadap Khilafah. Sebagaimana Rusia, dia dibutakan oleh rasa kesombongan, berpikir bahwa jarak geografis dari negeri Khilafah akan melindungi mereka dari keadilan para mujahidin. Mereka juga tidak mengambil pelajaran bahwa penghina Rasul tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pembalasan. Maka, Daulah Islam segera mengirim para ksatria pemberani untuk mengobarkan perang di tanah air para para salibis jahat, meninggalkan Paris dan penduduknya “terkejut dan tercengang.” Delapan kesatria membuat Paris jatuh berlutut, setelah bertahun-tahun Perancis penuh kesombongan melawan Islam. status darurat nasional dinyatakan sebagai hasil dari tindakan delapan orang bersenjata yang hanya bersenjatakan senapan serbu dan sabuk peledak.

Dan balas dendam ini merupakan balasan atas mereka yang merasa aman duduk di kokpit jet mereka..

Amirul Mukminin Abu Bakr al-Husaini al-Baghdadi hafizhahullah mengatakan, “Demi Allah, kami akan membalas dendam! Demi Allah, kami akan membalas dendam! Walau mungkin dalam waktu yang lama, kami pasti akan membalas dendam, dan setiap jumlah kejahatan terhadap umat akan dibalas terhadap banyak orang lebih dari pelaku. “dDan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim, mereka membela diri” (Asy-Syura: 39). Segera, dengan izin Allah, hari itu akan datang di mana kaum Muslimin akan berjalan di setiap tempat sebagai tuan, yang memiliki izzah, yang dihormati, dengan kepala terangkat tinggi, dan harga dirinya terjaga. Siapapun yang berani menyinggung perasaannya akan dihukum, dan setiap tangan yang menjamahnya akan dipotong. Maka biarkan dunia tahu bahwa kita hidup pada hari ini di era baru. Siapa pun yang lalai sekarang harus waspada. Siapa pun tertidur sekarang harus terbangun. Siapa pun yang kaget dan tercengang sekarang harus memahami, umat Islam sekarang memiliki suara yang lantang, pendapat yang bergemuruh, pijakan kaki yang keras. Mereka memiliki pernyataan yang akan menyebabkan dunia akan mendengar dan memahami makna terorisme, dan sepatu yang akan menginjakinjak berhala nasionalisme, menghancurkan berhala demokrasi, dan menyibak kejahatan aslinya.” (Pesan Kepada Mujahidin dan Umat Muslim di Bulan Ramadhan).

Ya, demi Allah, Khilafah akan membalas dendam atas detiap kejahatan terhadap dien ini dan umatnya, baik cepat atau lambat. Biarkan orang-orang sombong itu tahu bahwa langit dan bumi ini adalah milik Allah.

“Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.” (Al-A’raf: 128).

Maka kapankah tentara salib akan mengakhiri permusuhan mereka kepada Islam dan kaum muslimin? Kapankah mereka akan menyadari bahwa khilafah telah ada di sini? Kapan mereka akan sadar bahwa solusi dari kekacauan mengenaskan yang menimpa mereka adalah tepat sebelum mata mereka dibutakan? Dan untuk menuju saat itu, hanya akan ada teror demi teror yang akan terus menyerang ulu hati mereka yang telah dikunci mati.

Pada kesempatan ini, kami tidak akan lupa untuk memuji para martir ksatria “Tunggal” dari Khilafah yang menyerang orang-orag kafir dan musuh murtad di dekat mereka. Orang-orang pemberani yang tidak puas hanya dengan mendengar berita tentang jihad, bahkan mereka menjauhkan diri dari sifat orang-orang yang “ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanyakan berita tentang kamu. Dan sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja” (Al-Ahzab: 20). Mereka tidak menjadikan hambatan yang diterapkan oleh orang-orang kafir di jalan hijrah sebagai alasan untuk meninggalkan jihad melawan musuh. Mereka tidak menggunakan usia yang lebih muda atau kurangnya pelatihan sebagai alasan untuk hanya menjadi pengamat. Mereka mengorbankan jiwa mereka dalam amal shalih demi mengejar keridhaan Allah. Kami menganggap mereka seperti itu, dan Allah adalah hakim mereka.

Di antara para ksatria tauhid dan jihad yang pemberani ini adalah pemuda berusia lima belas tahun bernama Farhad Khalil Mohammad Jabar, yang pada “2 Oktober 2015” memukul tentara salib dari Australia dan kemudian membunuh oleh salah satu personil mereka. Setelah itu Faisal Mohammad membawa panji dan belatinya untuk menusuk tentara salib Amerika pada “4 November 2015,” dan menumpahkan darah kotor mereka di tanah air mereka sendiri yag tidak aman. Sebelumnya, pada “10 Oktober 2015,” pemuda enam belas tahun; Ishaq Qasim Badran meraih pisau dan menusuk warga negara Yahudi terkutuk, mengisi atmosfer dengan teriakan mereka. Setelah Ishaq, Muhannad Khalil al-‘Aqabi membawa senjatanya ke stasiun kereta dengan tingkat keamanan tinggi pada “18 Oktober 2015” dan membunuh seorang prajurit dari “unit elit” tentara Yahudi, menyebabkan tentara pengecut lainnya mundur. Dan pada “9 November 2015,” Anwar Abu Zaid - setelah bertaubat dari mantan pekerjaannya - menyerang tentara salib Amerika dan sekutu murtad mereka, menewaskan dua tentara salib Amerika, dua orang murtad Yordania, dan satu tentara salib Afrika Selatan.

Ini semua adalah amal perbuatan dari orang-orang dalam rangka membangkitkan kembali khilafah. Mereka tidak akan membiarkan musuh-musuh mereka menikmati istirahat hingga darah musuh itu tertumpah untuk membalas dendam demi dien dan umat.

Maka biarkanlah setiap muwahhid yang dihalangi untuk berhijrah memurnikan dirinya dari cabang kemunafikan paling rendah yang menahannya dari melakukan jihad di tempatnya. Biarkan dia merekam keinginannya, memperbaharui bai’atnya, membawa bendera khilafah, dan menyerang tentara salib dan sekutu pagan dan murtadnya di mana pun mereka dapat ditemui, apa lagi jika dia sendirian. Dan dia akan mengingat bahwa “Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia cukup baginya” (Ath-Thalaq: 3).

Dan biarkan tentara salib itu tahu, bahwa Daulah Islam akan tetap ada “Baqiyah” bagaimanapun persenjataan militer mereka.

“Katakanlah (hai Muhammad), “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid). Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan azab kepadamu dari sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu”.” (At-Taubah: 52).

WAWANCARA BERSAMA SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL-QAHTHANI, WALI WILAYAH LIBYA

DABIQ 11 - WAWANCARA

WAWANCARA BERSAMA SYAIKH ABUL MUGHIRAH AL-QAHTHANI,
WALI WILAYAH LIBYA

Pada bulan ini, Dabiq mendapatkan kesempatan untuk melayangkan beberapa pertanyaan kepada amir yang diutus oleh Khilafah untuk Wilayah Libya – Abul Mughirah al-Qahthani (hafizhahullah). Kami menyajikan dalam tanya jawab berikut ini.

Dabiq: Bagaimana situasi pertempuran di Daulah Islam Wilayah Libya?

Abul Mughirah: Situasi pertempuran di Wilayah Libya adalah salah satu pertempuran terhadap kaum musyrikin secara kaaffah (total) sebagaimana mereka memerangi kami secara kaaffah. Situasi militer di Libya berbeda dari satu daerah ke daerah lain, tergantung pada jumlah tentara Khilafah dan jenis musuh, di tambah komposisi sosial dan geografi yang beragam di berbagai daerah. Hal ini juga tergantung pada konflik dan koalisi yang terbentuk di barisan kaum murtad itu sendiri. "Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah." (Al-Hasyr: 14). Tapi kami meyakinkan kembali kepada umat Islam di timur dan di barat bumi bahwa Libya tidak akan diatur kecuali dengan syari'at Allah dan bahwa Daulah Islam dengan rahmat Allah akan membuka jalan dengan cepat menuju tamkin dan ekspansi. Daulah Islam memiliki operasi militer dan keamanan di Tharablus, Misratah, Tubruq, al-Baida', Sabratah, dan Ajdabiya. Daulah Islam berhasil mendapatkan sebagian kontrol atas lingkungan di Darnah dan Benghazi sebagai tambahan dari otoritas penuh atas wilayah pesisir yang membentang dari Buqarin ke Binjawad, yang mencakup sejumlah kota dan daerah, yang paling penting adalah Sirte, al-'Amirah, Harawah, Umm Qindil, dan an-Naufaliyah.

Dabiq: Bagaimana situasi kelompok murtad "Fajar Libya"?

Abul Mughirah: "Fajar Libya" adalah sayap resmi militer milik "General National Congress" pemerintahan demokratis (dengan balutan "Islam") yang diwakili oleh "Ikhwanul Muslimin" dan "Jama‘ah Islamiyah Muqatilah" yang dipimpin oleh Abdelhakim Belhadj. Pasukan murtad ini berperang melawan agama Allah dengan meninggalkan hukum syari'at dan menggantinya dengan hukum buatan manusia selain juga berperang melawan orang-orang ahlut-tauhid, menyeret mereka ke penjara, dan menyerahkan mereka ke tentara salib. Karena perang mereka melawan agama Allah dan para wali-Nya, Daulah Islam bangkit untuk mengusir serangan mereka terhadap kaum Muslimin dan untuk menegakkan syari'at, menyebarkan keadilan, dan melindungi tahanan dari bahaya. Mereka akan terus menjadi sasaran pedang kami, yang kami tidak akan menahan diri sampai mereka bertobat dari kekufuran mereka dan wala mereka kepada musuh-musuh Allah dari kalangan tentara salib dan sekularis.

Dabiq: Bagaimana situasi dengan Thaghut Haftar?

Abul Mughirah: Kami memiliki sejumlah front melawan Thaghut Haftar, yang merupakan kepala tentara Libya di bawah pemerintahan Tubruq di Libya Timur. Daulah Islam memerangi tentara murtad Libya di sejumlah lokasi di dekat kota Benghazi, yang terpenting adalah kota as-Sabiri dan al-Laitsi. Daulah Islam juga Prajurit Khilafah mengambil alih kendali di wilayah pantai timur kota Darnah memiliki beberapa front melawan mereka dekat Darnah, yang paling penting adalah kota Martubah dan Nawwar. Daulah Islam juga menargetkan lokasi mereka di kota Ajdabiya. Pasukan sekuler Haftar adalah target tentara Khilafah di mana saja para pasukan ini mungkin beristirahat. Kami tidak akan kendur dalam memerangi mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya milik Allah semata.

Dabiq: Bagaimana situasi dengan kaum Murtad dari "Majlis Syura Darnah"? Dan bagaimana itu semua dimulai? Dan bagaimana sejarah mereka dari sisi Islam atau kufur?

Abul Mughirah: Dewan ini terdiri dari dua elemen utama: "Brigade Martir Abu Salim" dan "Jama'ah Muqatilah Libya", adapun "Jama'ah Muqatilah Libya" maka kekufuran mereka jelas karena ikut serta dalam pemerintahan Tharablus dan proses demokrasi di bawah kepemimpinan Abdelhakim Belhadj. Adapun "Brigade Martir Abu Salim", maka itu adalah brigade yang dulunya Salafi. Sebagian besar tentara Daulah Islam di Darnah berasal dari pendiri brigade itu. Mereka meninggalkan brigade ini setelah jatuh ke dalam sejumlah pembatal keislaman, yang paling terkenal adalah operasi mereka sebagai bagian dari Kementerian Dalam Negeri yang dikenal sebagai "Komite Keamanan". Selain itu mereka juga memberikan pelayanan keamanan kepada Thaghut Musthafa Abdul Jalil, Ketua Dewan Transisi Nasional, ketika ia mengunjungi Darnah dan mengajak kepada demokrasi. Sejak itu, orang-orang yang memiliki manhaj yang lurus mulai meninggalkan brigade. Mereka bahkan membunuh pemimpin brigade itu yang memimpin kepada kekufuran yang dalam. Semua ini sebelum ekspansi resmi Daulah Islam ke Libya. Setelah Allah memberkahi dengan ekspansi Daulah ke Libya dan sebagian besar kelompok di Darnah melakukan bai'at kepadanya, Brigade Abu Salim meminta lawan-lawannya dari kelompok lain untuk merujuk kepada pengadilan Daulah Islam untuk sebuah resolusi. Setelah mempelajari kondisi Brigade dan apa yang mereka telah jatuh ke dalamnya, pengadilan Daulah Islam memutuskan bahwa brigade ini telah murtad dan mengajak para individunya agar bertaubat. Sejumlah anggota dan pemimpinnya bertaubat sedangkan sisanya berkumpul bersama-sama dengan "Jama'ah Muqatilah Libya" untuk membentuk apa yang mereka sebut "Majlis Syura Darnah."

Dabiq: Bagaimana situasi dengan Anshar asy-Syari'ah?

Abul Mughirah: Banyak pemimpin dan tentara Anshar Asy-Syari'ah termasuk kelompok pertama yang memberikan bai'at kepada Daulah Islam di Libya. Kelompok ini terus memiliki orang-orang yang ingin menerapkan syari'at meskipun kelompok ini telah melalaikan kewajiban yang terlupakan di zaman ini dan untuk mengutamakan persatuan daripada perpecahan, yang paling jelas terlihat dalam hal ini adalah kurangnya bai'at mereka kepada Khalifah dan bergabungnya mereka dengan gerakan "revolusioner" yang memiliki hubungan dengan rezim murtad Tharablus di beberapa daerah serta penerimaan bantuan mencurigakan dari tangan-tangan kotor di daerah lain. Ia juga memiliki sikap yang bertentangan dari daerah satu ke daerah lainnya karena orientasi yang berbeda para pemimpin dan keberpihakan tentaranya. Beberapa sikap kontradiktif juga disebabkan karena kedekatan beberapa pemimpin mereka dengan orang-orang "al-Qa'idah di Maghrib Islam" yang ada di Libya.

Dabiq: Bagaimana situasi di wilayah Libya sehubungan dengan administrasi pemerintahan?

Abul Mughirah: Di Libya, Daulah Islam masih berusia cukup muda untuk menjalankan misinya di mana kehadirannya di sana belum genap satu tahun. Daulah Islam, misalnya, mampu memerintahkan para prajurit Khilafah untuk mengambil kendali pantai timur kota Darnah dengan syari'at meskipun terdapat rintangan dan tantangan dari partai-partai menyimpang dan juga faksi-faksi yang terpecah-pecah yang enggan untuk memberikan bai'at kepada Khilafah. Hasil dari menegakkan hukum syari'at baik kepada orang yang kuat maupun orang yang lemah dan membuka pertaubatan kepada orang-orang murtad bersama dengan kehadiran berbagai faksi sesat dan yang terpecah-pecah di wilayah tersebut menyebabkan Daulah Islam diperangi oleh partai-partai ini secara total dan mengumumkan perang mereka terhadapnya. Di kota-kota dan daerah yang dikontrolnya, Daulah Islam telah meletakkan pondasi yang tepat. Ia tahu bahwa pembentukan agama dan pelaksanaan Syari'ah tidak akan dapat dicapai dengan kehadiran kelompok menyimpang dan terpecah-pecah, organisasi, dan partai di dalam wilayahnya. "Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya" (Asy-Syura: 13). Sehingga dia bekerja untuk membersihkan wilayah dari ancaman ini sembari tetap melaksanakan syari'at.

Dabiq: Bagaimanakah kisah tentang apa yang terjadi di Darnah?

Abul Mughirah: Pengkhianatan Shahawat di Darnah adalah karena perbedaan agama, perselisihan manhaj, dan arogansi beberapa pemimpin "revolusioner" yang terdapat di Darnah. Daulah Islam telah membuat mereka sakit hati dengan manhajnya yang murni dan jalan yang jelas. Dia mampu meraih dalam satu bulan apa yang mereka tidak mampu raih dalam tiga tahun yang telah lalu. Secara terbuka dia menyatakan kufur kepada orang-orang murtad dan mengajak mereka untuk bertaubat, termasuk Brigade Abu Salim. Kata-kata kebenaran dan melantangkannya telah membuat mereka marah. Juga menghapus kejahatan, memerintahkan kebaikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). Maka mereka pun memulai langkah kotor mereka dan membuat makar pengkhianatan. Mereka berkoordinasi dengan kelompok murtad "Jama‘ah Muqatilah Libya" untuk membuat formasi yang mereka namakan "Majlis Syura Darnah". Mereka juga secara diam-diam mengambil lokasi penting di dalam kota sebagai persiapan untuk menyerang Daulah Islam. Mereka berusaha untuk membuat-buat masalah sehingga bisa menjadi alasan untuk menyerang Daulah Islam. Awal pengkhianatan mereka adalah ketika mereka menyerang dua pos pemeriksaan dekat pintu masuk ke kota sebelah barat dan timur. Mereka mengepung bangunan pengadilan Islam, hanya karena alasan-alasan yang remeh. "Dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat." (Yusuf: 52). Daulah Islam kemudian menarik diri dari pusat kota Darnah di awal pertempuran dan membuat pintu masuk sebelah timur kota (wilayah al-Fata'ih) sebagai tempat peluncuran operasi terhadap Shahawat ini. Setelah itu, "Majlis Syura Darnah" mengumumkan peluncuran "Pertempuran Nahrawan" untuk mengambil daerah al-Fata'ih dengan bantuan pasukan yang disebut "Syuhada' al-Jabal", milik tentara Haftar Libya. Daulah Islam terus maju menuju pusat kota Darnah. Dalam beberapa hari terakhir, dia berhasil merebut kembali wilayah di sisi pantai timur Darnah. Segala puji bagi Allah. Dan pertempuran itu masih terus berjalan.

Dabiq: Bagaimankah kisah tentang apa yang terjadi di Sirte?

Abul Mughirah: Adapun Sirte, maka kisah tentang pengkhianatan itu tidak begitu banyak, tetapi bahwa Daulah Islam telah mengusai kota tersebut belum lama ini dan ketika itu masih terdapat kantung-kantung milik pendukung Thaghut Haftar dan juga milik pendukung Thaghut Qaddafi, karena mereka menganggap Sirte tempat kelahirannya. Ada juga perlawanan dari beberapa Madkhali Murji'ah, yang mengangkat senjata melawan Daulah Islam. Penghancuran kantung-kantung perlawanan telah berhasil, senjata dan kekayaan mereka diambil sebagai rampasan perang (ghanimah). Pertobatan dari orang-orang yang bertobat juga diakui. Segala puji bagi Allah.

Dabiq: Apa jenis kebutuhan yang sangat diperlukan oleh Wilayah Libya dari segi personil (ulama, dokter, insinyur, pejuang, dll)?

Abul Mughirah: Daulah Islam di sini, di Libya masih cukup muda. Sehingga sangat membutuhkan setiap muslim yang bisa datang, terutama tenaga medis, syar'i, dan tenaga administrasi, selain juga para pejuang.

Dabiq: Seberapa penting Wilayah Libya bagi masa depan Khilafah dan Umat Islam dan perang melawan tentara salib dan kaum murtad?

Abul Mughirah: Libya memiliki nilai yang sangat penting bagi Umat Muslim karena dia berada di Afrika dan selatan Eropa. Dia juga memiliki sumber daya yang tidak pernah kering. Semua kaum Muslimin memiliki hak dari sumber daya tersebut. Dia juga gerbang ke padang pasir Afrika yang membentang ke beberapa negara-negara Afrika. Hal ini penting untuk dicatat bahwa sumber daya Libya menjadi perhatian kafir Barat karena ketergantungan mereka pada Libya selama beberapa tahun terutama berkaitan dengan minyak dan gas. Kontrol Daulah Islam atas wilayah ini akan menyebabkan kerusakan ekonomi terutama bagi Italia dan negara-negara Eropa lainnya.

Dabiq: Kami telah melihat pesan dari ikhwah anshar kami di Libya yang mengundang umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan hijrah menuju Wilayah Libya. Dari Wilayah manakah kebanyakan para muhajirin ini datang?

Abul Mughirah: Segala puji bagi Allah. Muhajirin datang dari semua tempat menuju Daulah Islam terutama dari Afrika, Maghrib Islami, Mesir, dan Semenanjung Arab dan terkadang dari negara-negara Barat.

Dabiq: Apakah ada kesulitan yang terjadi dalam melakukan hijrah ke Libya?

Abul Mughirah: Tidak ada pahala tanpa kesulitan, terlebih ketika datang menuju jihad dan hijrah. Tetapi ini mudah bagi mereka yang Allah mudahkan. Mereka yang telah memutuskan untuk melakukan hijrah harus memurnikan niat mereka, bertawakkal kepada Allah, dan berdoa sebanyak-banyaknya. Mereka harus ingat bahwa meskipun banyak kesulitan dalam hijrah, "Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (An-Nisa' : 100).

Dabiq: Apa nasihatmu untuk kaum Muslimin yang ingin melakukan hijrah ke Libya?

Abul Mughirah: Kami mulai nasihat bagi kaum Muslimin secara umum untuk berlaku Zuhud terhadap dunia dan kesenangannya. Sudah sepantasnya bagi mereka untuk tidak condong atau berat terhadap Bumi. Mereka harus menjadi Anshar Allah, melakukan hijrah, dan menyerang musuh-musuh Allah. Para pendukung agama harus tahu, bahwa "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak." (An-Nisa': 100). Kami menyeru mengajak mereka untuk bergerak maju dan mendorong mereka untuk mendukung kami.

Dabiq: Apa nasihatmu bagi kaum Muhajirin secara umum, dan untuk Muhajirin di Libya pada khususnya?

Abul Mughirah: Nasihatku kepada Muhajirin secara umum adalah hendaknya mereka tidak menjadi bangga (ujub) dengan hijrah mereka atau menganggap jihad mereka sesuatu yang hebat yang telah mereka lakukan untuk Allah. Mereka harus mengikhlaskan niat mereka, karena ada orang-orang yang melakukan hijrah kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam demi dunia dan ada juga karena untuk menikahi seorang wanita, sebagaimana seorang laki-laki yang dikenal dengan "Muhajir Ummu Qhais". Karena itu kami seru engkau, saudara kami, untuk melakukan hijrah hanya karena Allah dan demi menolong agama-Nya. Jalanmu akan terhalangi oleh kesulitan dan hambatan yang besar. Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya dan kenyamanan tidak dapat dicapai dengan kenyamanan.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 11

DABIQ 11 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada tanggal 8 Agustus 2015, Michael Scheuer (mantan Kepala CIA "Bin Laden Issue Station") merilis sebuah artikel berjudul "Islamic State menang, Amerika harus segera menggunakan salah satu pilihan yang tersisa". Di dalamnya, ia membahas tentara salib Amerika, menyeru mereka untuk mengakhiri perang tanpa harapan mereka terhadap Islam dan Khilafahnya. Dia membawa perhatian mereka kepada realitas bahwa Islamic State menang dan akan terus meluas apapun usaha negara yang makin melemah Amerika. Berikut ini adalah artikelnya :

Islamic State Menang, Amerika Harus Segera Menggunakan Salah Satu Pilihan yang Tersisa
Oleh : Michael Scheuer

Ada tiga hal dari pemerintah nasional AS yang memaksakan diri dan benar-benar cacat parah dalam menangani ancaman Islam adalah :

(a) melihat dengan cermat terhadap masalah melalui cara negara demi negara: yaitu, apa yang kita lakukan di Irak? Apa yang kita lakukan di Afghanistan? Apa yang kita lakukan di Libya? Dll.

(b) selalu—tetapi sudah lama terbantahkan bahwa dalam perang dengan Islam, Barat memiliki waktu (pada) sisinya. Dan,

(c) kecanduan pada hal yang tidak bijaksana, tidak perlu, dan intervensi membangkrutkan yang merupakan motivator utama dari gerakan Islam internasional, fenomena yang diayahi dan masih dipelihara oleh Barat yang kemudian disebut "sekutu dan teman-teman", Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dll.

Dengan membentuk dan melaksanakan kebijakan intervensionis kepada setiap negara bangsa di mana ancaman Islam teridentifikasi sehingga perlu ditangani, Washington dan sekutunya, NATO, kehilangan point bahwa musuh utama Islamis mereka –Islamic State (IS) dan al-Qaeda,(1) dan terutama mantan anggotanya– berpikir dengan cara regional lalu kemudian merancang dan melaksanakan kebijakan yang bertujuan untuk membangun basis yang dari sana mereka dapat melakukan perluasan di jalan yang memiliki tujuan akhir untuk mengusir Barat dari dunia Muslim dan menciptakan kesatuan dan negara bagi seluruh dunia Islam atau Khilafah. Apakah negara seperti itu dapat diciptakan atau tidak itu adalah pertanyaan terbuka, tapi untuk saat ini subject ini menjadi ditinggalkan kepada para akademisi untuk perdebatan tanpa henti, teoritis, dan tidak meyakinkan, sehingga meninggalkan hal yang waras untuk mencoba mempertahankan Amerika Serikat.

Yang penting, pada saat ini, terletak pada ketidakmampuan dan ketidakcakapan para pembuat kebijakan AS dan NATO untuk melihat apa yang disusun oleh Daulah Islam (IS) dari perencanaan regional, atau bagaimana perencanaan yang tidak hanya imun tapi terus didorong oleh intervensi Barat di setiap Negara Muslim yang tak kenal kasihan, terus menerus dan tidak menyenangkan mereka – Kecuali, tentu saja, para tirani Muslim peliharaan Barat, yang dilindungi dan disuapi olehnya.

(NB: Ini tidak berarti menjadi alasan bahwa intervensi Pasukan AS-NATO terhadap bangsa multi-Muslim diperlukan. Pertama, bahwa induk dari semua intervensi Barat akan menjadi sekutu tunggal paling kuat bagi tujuan IS menyatukan dunia Sunni. Kedua, militer AS telah haus setelah dua dekade mengalami kalah perang: yang dikebiri oleh hitung-hitungan Obama –untuk menghancurkan– pemotongan anggaran, pengurangan tenaga kerja, dan effeminisasi: dan militer NATO –melindungi Turki– adalah Kecil, kuno, kekurangan dana, dan tidak bisa menghentikan panzer Putin berputar di Champs Elysees tanpa menggunakan senjata nuklir. Satu-satunya pertahanan efektif AS-NATO terhadap Islamis adalah dengan menghentikan semua intervensi, dan membiarkan Sunni, Syi‘ah, dan Israel membereskan perbedaan mereka masing-masing dengan cara membunuh bagaimana saja yang menyenangkan mereka)

Saat ini, para pemimpin IS tampaknya memiliki tiga tempat pijakan regional yang kuat di mana mereka berniat untuk melakukan ekspansi, dan tentu salah satunya sebagai sasaran ekonomi strategis, keempat choke-point maritim, jika ditutup atau bahkan diserang secara sporadis, maka akan mengganggu pasokan minyak dunia dan tentu kemudian ekonominya.

1) Balkan

IS telah menancapkan dirinya dengan sangat kuat ke dalam komunitas Islam Bosnia, Kosovo, dan Albania, dan memiliki kehadiran di setiap negara-negara Balkan lainnya. Dalam upaya ini , IS telah memanfaatkan apa yang sekarang adalah masa-masa kampanye yang panjang, dimulai dari kematian Uni Soviet, di mana Arab Saudi, mitra Teluknya, dan sejumlah NGO(2) mereka telah merubah sejumlah besar penduduk Muslim Balkan dari seorang yang beriman pada umumnya menjadi Muslim yang dididik war-prone (mudah perang) dengan doktrin Salafi dan Wahhabi.

Usaha yang dipimpin Saudi(3) belum membuat Balkan menjadi benteng doktrin mereka, tetapi telah membuat peningkatan jumlah Muslim Balkan yang menjadi Salafi dan Wahhabi. Orang-orang yang telah berubah ini telah menantang –dan dalam beberapa kasus– berhasil menggusur para pemimpin Islam yang lebih moderat, membangun organisasi Islam yang telah menyerang secara sporadis individu, pasukan keamanan, dan bangunan, dan telah mengirimkan aliran relawan –dengan bantuan unit logistik IS di Turki, Yunani, Spanyol, dan Italia– untuk berperang bersama pasukan IS di Suriah dan Irak. Sebagaimana Kehadiran IS di Balkan yang terus tumbuh, dengan melirik peta maka akan terlihat bahwa relatif mudah bagi IS untuk mendapatkan akses yang aman menuju negara-negara Uni Eropa dan melalui negara Eropa Timur ke Rusia.

2) Libya

IS menghadapi perlawanan lokal yang kuat untuk kehadirannya di Libya, tetapi dia merupakan organisasi yang dapat melakukan lebih dari satu hal pada satu waktu. Di saat pejuangnya mempertahankan dan secara perlahan-lahan memperluas wilayah yang dikuasai IS, para pemimpin IS dan administrator lainnya terlibat dalam menciptakan ketertiban dan memperbaiki layanan sosial dan sarana publik di daerah yang mereka pegang, sebuah pola yang sebelumnya juga terlihat di Suriah dan Irak.

IS juga, di samping mulai mengeksploitasi posisi geografis barunya –melalui serangan sukses di Tunisia, dan dukungan kepada organisasi IS di semenanjung Mesir Sinai– juga mempersiapkan ekspansi lebih lanjut dari Libya ke Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Sudan. Libya juga memberikan kepada IS akses perbatasan ke Niger dan Chad, yang keduanya akan memfasilitasi kontak langsung dengan sekutu peluasan IS di Nigeria: Boko Haram.

Selain itu, Niger memberikan jalan masuk yang mudah ke Mali di mana Organisasi Islam yang putus asa bisa saja tertarik untuk bekerja sama dengan IS sehingga dapat memperoleh keuntungan dari militer mereka yang sudah dikenal, reputasi untuk sukses, cukup kaya, dan kembalinya para veteran Mujahidin Mali yang telah bertempur bersama IS di Suriah, Irak, dan Libya.

3) Afghanistan

Kehadiran IS di Afghanistan baru berusia satu tahun tapi pejuang mereka dilaporkan telah dikerahkan pada lebih dari setengah dari 34 provinsi di negara tersebut, di dekat ibukota Kabul, di wilayah suku Pakistan, Provinsi Baluchistan, dan kota Karachi. IS jauh dari mendominasi negara, tetapi sedikit aliran dari para pembelot Thaliban Afghanistan dan Pakistan telah menjadi sumber yang kuat sejak kematian pemimpin Thaliban Mullah Omar –yang telah lama disembunyikan– diumumkan pada tanggal 30 Juli 2015 dan pemimpin baru dengan cepat dipilih oleh sejumlah kecil pemimpin Thaliban yang telah ikut membantu menyembunyikan fakta bahwa Omar telah meninggal sejak April 2013.

Strategi IS melihat Afghanistan sebagai kunci untuk perluasan dan penyempurna Khilafah IS, sebagai pemberi aliran pendapatan yang potensial dari negara penghasil heroin(4) dan kekayaan mineral, akses yang mudah menuju Pakistan, menuju India dan Kashmir, serta ke negara-negara Muslim di Asia Tengah, Populasi Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang China, dan basis yang berpotensi untuk menyerang Iran, dan pasti membunuh Syi‘ah, sehingga memaksa Teheran untuk berperang di dua front melawan pasukan IS dan sekutu mereka.

4) Maritim choke-point

Di sinilah proyek strategis paling ambisius, IS saat ini memiliki peluang awal untuk membangun kehadirannya di empat maritim choke-point dunia yang paling penting. Pintu masuk ke Selat Bab el Mandab di ujung selatan Laut Merah terletak di antara IS dan kelompok-kelompok pejuang Islam lainnya yang ingin mengontrol Yaman dan bajak laut –Islamis dan kaya– di Tanduk Afrika; Terusan Suez rentan terhadap cabang IS yang sekarang beroperasi hampir tak tersentuh hukum (impunitas) di semenanjung Sinai Mesir; Selat Malaka, yang membentang sepanjang tepian Provinsi Aceh yang didominasi oleh Islam di Indonesia; pemerintah Jakarta mengklaim adanya kehadiran IS dan berkembang dengan cepat di daerah itu; dan Selat Gibraltar, yang telah lama menjadi target Al-Qaeda dan sekarang dikepung di sebelah selatan oleh kekuatan IS yang terus tumbuh dan mencapai Maroko; dan di sebelah utara dengan lebih dari cukup IS hadir di selatan Eropa dan bala bantuannya datang dari para pejuang IS yang beragam berasal dari massa imigran ilegal yang memasuki Eropa melalui laut dari Afrika Utara.

Ringkasan di atas menjelaskan akan harga yang pasti dari setengah abad intervensi AS dalam budaya, politik, ekonomi, dan militer, baik secara sepihak atau dengan pengikut NATO -nya. Dan ringkasan ini tidak termasuk pijakan IS yang masih dalam pengembangan di Kaukasus Utara dan Yaman, yang dalam waktu sama memungkinkan bagi IS untuk melakukan ekspansi ke Rusia dan ke Arab Saudi dan Negara-negara Sunni Teluk lainnya.

Dalam menghadapi ekspansi penting IS secara geografis dan pasukan, pemimpin AS di kedua belah pihak telah mempertahankan sebuah pendekatan yang berdasarkan hukum dan ketertiban dengan mujahidin dan telah meremehkan –bila tidak disebut mengabaikan– kemampuan IS, motivasi dan niat mereka, dan perang agama yang mereka kobarkan. Mereka juga telah menghabiskan setahun terakhir ini dengan membuang-buang waktu mengeluh tentang pemenggalan yang dilakukan IS, tentang senjata nuklir Iran yang tidak bisa dicegah untuk diraih(5), dan memicu perang di Eropa karena membantu pemerintah Ukraina yang tidak dapat mempertahankan diri dan sanksi sia-sia rezim Rusia yang tidak akan dapat mengembalikan Crimea dan sehingga kita tahu bahwa istilah "macan kertas" tidak pernah lebih pantas untuk diberikan selain kepada Amerika Serikat dan NATO.

Ketika saatnya tiba –dan itu pasti akan tiba– bagi para pemimpin AS untuk melihat di dalam lemari dan menemukan alat yang bisa mengakhiri ancaman IS, mereka akan menemukannya dalam keadaan kosong. Dengan dua kekalahan perang yang disengaja, sebuah militer yang rusak, sebuah elit pemerintahan dan presiden yang tidak terikat dengan realitas, anggaran yang bangkrut, sistem politik yang rusak oleh warga AS yang menjadi agen-agen dari kekuatan asing, sekutu tidak berguna Eropa berikutnya, sebuah dunia Barat yang lebih menyukai kematiannya sendiri daripada menyembelih musuhnya, dan musuh Islamis yang jauh lebih pintar dan lebih berbakat, kemudian ini diberikan sebagai kredit kepada elit pemerintahan AS yang hanya akan memiliki satu pilihan. Berubah dari lemari kosong, jiwa-jiwa miskin ini akan tahu apa fikiran orang-orang Amerika yang bersih dari pendidikan Ivy League yang telah dikenal selama ini. Yaitu, bahwa sekaranglah saatnya untuk menempatkan Amerika seperti dahulu dan mengembalikan warisan kebijakan luar negeri Jenderal Washington dengan segera menyatakan berakhirnya intervensi AS, penghentian dukungan untuk semua negara dan kelompok di Timur Tengah, penarikan AS dari NATO, dan mengembalikan Kebijakan keamanan nasional Amerika yang paling efektif – netralitas yang ketat(6). Dan saat melakukan hal ini, kita semua bisa berharap –mungkin dengan optimisme yang salah tempat,– semoga itu tidak terlambat.

Catatan kaki :

1. Catatan Editor: Al-Qa'idah telah menjadi perisai Media dan dalam beberapa kasus menjadi senjata militer dari Shahawat yang didukung Thaghut di Syam, Libya, Yaman, dan Khurasan. Setelah Zhawahiri memerintahkan al-Qa'idah di Aljazair untuk menghentikan semua serangan melawan rezim murtad terutama pasca-revolusi Dunia Arab, dia memerintahkan al-Qa'idah di Suriah untuk meyakinkan Barat bahwa Amerika dan Eropa tidak akan menjadi sasaran mereka, dan dirinya berbai‘at kepada Akhtar Mansur, yang mendukung rekonsiliasi nasional dengan Rezim Murtad Afghan dan normalisasi dengan seluruh tentara salib, musyrik, atheis, dan dunia murtad, sehingga tentara salib Amerika dapat yakin, perang utama al-Qa'idah sekarang adalah terhadap Daulah Islam (IS).

2. Catatan Editor: Para thaghut Alu Salul dan sekutu mereka bekerja sama untuk menggambarkan diri mereka sebagai penjaga Islam dan kaum Muslimin, ketika dalam kenyataannya mereka menyebarkan penyimpangan, perbuatan keji, dan bahkan sodomi melalui "Rotana Group" mereka dan hiburan mereka yang lain dan religius outlet, terlebih secara fakta mereka memerintah dengan hukum buatan manusia baik internasional dan domestik serta mendukung orang-orang Yahudi dan Kristen memerangi Islam dan kaum Muslimin. Dukungan lemah dan munafik mereka terhadap "dakwah" –dalam banyak kasus– seolah menjadi bumerang bagi mereka dan menyebabkan orang mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah, mengadopsi tauhid dan syari'at, dan menyatakan takfir dan jihad melawan Pasukan dan agen dari Alu Salul.

3. Lihat footnote sebelumnya.

4. Catatan Editor: Kepemimpinan Daulah Islam di Wilayah Khurasan telah menjadi musibah paling parah bagi para petani opium Pakistan dan Afghanistan –perkebunan dan tanaman opium dibakar– karena produksi opium adalah termasuk amal perbuatan yang paling buruk, bahkan dia termasuk sumber pendapat yang baling buruk. Thaliban pimpinan Akhtar, bagaimanapun, menganggap orang-orang yang membakar tanaman opium sebagai "Khawarij" yang telah menghancurkan "kekayaan" kaum Muslimin dan menghancurkan pendapatan "zakat"!

5. Catatan Editor: Kaum murtad Rafidhah Iran harus berterima kasih kepada tentara salib Amerika karena telah memberikan kepada mereka kondisi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pengembangan program nuklir mereka menjadi senjata nuklir untuk digunakan melawan Ahlus Sunnah, apalagi fakta bahwa jet salibis –dalam rangka membela Iran dan milisi Rafidhahnya– menyerang Mujahidin di Irak dan Syam.

6. Catatan Editor: Bagaimana pun, satu-satunya solusi lengkap untuk perang Amerika terhadap Islam adalah dengan Amerika menerima Islam atau dengan membayar jizyah. Jika tidak, maka bisa dengan mengakui kekalahan dan menerima solusi parsial dengan mematuhi gencatan senjata sementara dengan ketentuan yang sesuai dengan syari'at.

DARI PERANG AHZAB HINGGA PERANG KOALISI

DABIQ 11 - FEATURE

DARI PERANG AHZAB HINGGA PERANG KOALISI

"Tidak ada seorangpun yang pernah datang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali dia akan dimusuhi." Inilah apa yang dikatakan oleh Waraqah ibnu Naufal kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tentang reaksi kaumnya terhadap da‘wah. Waraqah berharap andai dia menemani Nabi di saat Nabi diusir, akan tetapi Waraqah tidak pernah mendapati saat-saat itu.

Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah itu memulai misi yang mana Allah telah mengutus beliau dengannya. Umatnya menjawab seruan Rasulullah dengan permusuhan yang besar. Mereka menuduh beliau sebagai tukang sihir, pembohong, orang gila, orang yang terkena sihir, pendongeng, peniru, dan tuduhan lainnya... padahal mereka sebelumnya menganggap beliau sebagai seorang yang jujur dan dapat dipercaya! Mereka menawarkan kepada beliau tahta, wanita dan harta, tetapi beliau menolak itu semua karena keikhlasan dan demi meraih keridhaan Rabbnya. Mereka berencana untuk membunuh atau mengusir beliau, tetapi Allah ta'ala membuat makar terhadap musuh-musuh Nabi-Nya dan memerintahkan beliau untuk meninggalkan negeri yang paling diberkahi di muka bumi –Makkah– menuju tempat tinggal baru di Madinah. Sebuah negara yang didirikan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam itu lalu mengarahkan pasukan perangnya untuk menghadang kafilah kaum musyrikin, peristiwa yang kemudian menjadi pemicu perang besar: Perang Badr.

Kaum musyrikin yang marah pun segera mengirimkan utusan dan pasukan perang mereka, hingga kemudian kaum muslimin harus menghadapi perang terhadap orang-orang musyrik Arab, suku-suku badui jazirah Arab, orang-orang Yahudi dan kaum munafik Madinah. Daulah Nabawiyah itu pun terus tumbuh dan menguat, begitu juga kedengkian dan kemarahan orang kafir yang terus memuncak hingga menjelma menjadi Perang Ahzab (Sekutu-sekutu). Kaum Yahudi berencana jahat bersama kaum munafikin untuk meyakinkan suku-suku Arab melakukan penyerangan ke kota Madinah, sementara mereka akan membuat gejolak dari dalam.

Suku Quraisy dan Kinanah, serta sekutu mereka bergerak maju dari arah selatan, sedangkan Ghathafan dan sekutu mereka maju dari arah timur. Jumlah mereka mencapai sepuluh ribu pejuang dan mengepung kota Madinah selama satu bulan, sementara umat Islam sangat kalah dalam jumlah. Tapi kesabaran mereka dalam menghadapi peperangan, rasa takut, lapar dan cuaca, membuat kaum muslimin mampu untuk merebut kemenangan, dan bisyarah kenabian mengabarkan bahwa kini kaum muslimin yang akan menyerang kaum musyrikin dan kaum musyrikin kini yang akan bertahan.(1)

Perang Ahzab Baru

Sebagaimana para shahabat yang harus menghadapi koalisi berbagai pihak: Yahudi, Musyrikin, dan golongan munafik dalam perang Ahzab, kaum Muslimin dari Daulah Islam juga menghadapi berbagai koalisi kuffar yang memiliki kepentingan bersama untuk menghancurkan Khilafah. Dan sebagaimana reaksi para shahabat terhadap pasukan Ahzab adalah merupakan bentuk keimanan, "Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka" (Al-Ahzab: 22), demikian juga seharusnya reaksi umat Islam ketika melihat banyaknya koalisi yang bersatu dan memobilisasi.

Di sini kita akan mencoba untuk memberikan sejumlah wawasan tentang beragam koalisi sehingga kaum Muslimin dapat berusaha untuk melawan mereka baik dengan kata maupun perbuatan, karena: "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari mereka" (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Ibnu Umar) dan agar supaya: "jalan orang-orang yang berdosa terlihat jelas" (Al-An'am: 55).

Koalisi Salibis

Meskipun koalisi ini mungkin muncul belum lama, yakni dibentuk pada tahun 2001 yang dikenal dengan "Operation Enduring Freedom". Dengan cepat hal ini meluas hingga ke Filipina, Tanduk Afrika, Trans Sahara, dan Kaukasus. Pada tahun 2003, tentara salib kembali meluncurkan kampanye perang kedua dengan sandi yang dikenal "Operation Iraqi Freedom", disusul dengan kampanye ketiga dengan sandi "Operation Inherent Resolve" yang diluncurkan pada tahun 2014 di Iraq dan Suriah terhadap Daulah Islam.(2) Namun tidak ada satupun dari operasi ini yang berhasil membungkam kebangkitan kembali Khilafah baik kelangsungannya atau ekspansinya. Khilafah tetap bertahan dengan tekad yang tetap melekat, sebagai hasil dari Tauhid dan al-Wala' wal-Bara'.

Koalisi terbaru tentara salib terhadap Iraq dan Suriah "Operation Inherent Resolve" secara resmi terdiri dari beberapa negara dan kelompok berikut: Albania, Liga Arab, Australia, Austria, Bahrain, Belgia, Bosnia Herzegovina, Bulgaria, Kanada, Kroasia, Siprus, Republik Ceko, Denmark, Mesir, Estonia, Uni Eropa, Finlandia, Perancis, Georgia, Jerman, Yunani, Hungaria, Islandia, Irak, Irlandia, Italia, Jepang, Yordania, Kosovo, Kuwait, Latvia, Lebanon, Lithuania, Luksemburg, Makedonia, Moldova, Montenegro, Maroko, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Oman, Panama, Polandia, Portugal, Qatar, Korea Selatan, Rumania, Saudi Arabia, Serbia, Singapura, Slovakia, Slovenia, Somalia, Spanyol, Swedia, Taiwan, Turki, Ukraina, Uni Emirates, Inggris, dan Amerika Serikat.(3)

Terdapat Rezim lain dan pasukan yang didukung oleh Barat namun tidak disebutkan pada daftar di atas namun ikut ambil bagian dalam perang melawan Daulah Islam di wilayah-wilayah lain. Uni Afrika, Benin, Kamerun, Chad, Niger dan Nigeria semuanya terlibat dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Afrika Barat. Afghanistan, Armenia, Azerbeijan, Mongolia, NATO dan Pakistan –ditambah dengan beberapa negara yang disebutkan pada daftar di atas– terlibat dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Khurasan.(4) Aljazair, Libya, Tunisia, dan Yaman terlibat dalam perang melawan Daulah Islam di dalam daerah perwakilan mereka. Negara Yahudi juga secara terbuka terlibat dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Sinai, ditambah keterlibatan mereka secara diam-diam bersama Salibis di banyak kampanye perang mereka terhadap wilayah Daulah Islam. Dewan Kerjasama negara Teluk, India, Indonesia, Malaysia, OKI, Kyrgistan dan Swiss juga terlibat –baik dalam bidang politik, finansial, intelijen dan banyak dari mereka juga dalam level militer– dalam kampanye melawan Islam dan Khilafahnya.(5) Maka di sana terdapat sekutu paling penting Amerika, yaitu: Iran, Suriah dan Rusia.

Front Stage Cooperation

Meskipun kerjasama Pasukan Salib Barat bersama Iran, Suriah dan Rusia tidak bisa dipungkiri, mereka berusaha mengecilkan peran ini secara resmi untuk menutupi perang mereka dalam perang Shafawi terhadap kaum Muslimin. Di sini kita akan mencoba menyajikan beberapa ulasan tentang hubungan yang keberadaannya sangat jelas terlihat seperti mentari di tengah siang. Bahkan sebelum operasi 11 September yang penuh berkah, Amerika telah bekerja sama dengan Iran melalui PBB "Six Plus Two Group on Afghanistan", salah satu bagian dari rencana melawan para mujahidin Khurasan. Setelah 11 September, kerjasama ini berkembang menjadi apa yang nanti akan dikenal sebagai "The Geneva Contact Group" selama masa presiden Salibis George W. Bush.

Kerjasasama ini mensyaratkan Iran untuk menyediakan intelijen bagi tentara salib, membangun hubungan antara tentara salib dan "Aliansi Utara", serta menangkap mujahidin yang berusaha untuk menyeberangi perbatasan Iran dalam perjalanan mereka menuju Kurdistan Irak atau tujuan lainnya. Iran telah menyediakan beberapa pelabuhannya dan pangkalan udara untuk misi tentara salib, "Korps Pengawal Revolusi Islam" mereka bekerja sama dengan US Special Ops dan CIA di Afghanistan, dan mengambil bagian dalam pembentukan rezim boneka murtad Afghanistan.

Beberapa bulan menjelang invasi Amerika ke Irak, Amerika kembali bekerja sama dengan Iran, tapi kali ini terutama melalui British Foreign and Commonwealth Office. Kerjasama ini mencapai puncak melalui pembentukan rezim Shafawi Irak, yang pada dasarnya adalah boneka Iran.(6)

Pada 6 November 2014, "Wall Street Journal" merilis sebuah artikel berjudul "Obama Wrote Secret Letter to Iran's Khamenei about Fighting Islamic State – Presidential Correspondence with Ayatollah Stresses Shared U.S. Iranian Interests in Combating Insurgents, Urges Progress on Nuclear Talks". Dalam artikel itu, mereka melaporkan bahwa "Obama diam-diam menulis surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei" dan di dalam suratnya "dijelaskan kepentingan bersama dalam memerangi militan Negara Islam (IS) di Irak dan Suriah." Surat itu "bertujuan untuk memperkuat kampanye melawan Daulah Islam dan menyinggung pemimpin agama Iran agar lebih dekat dengan kesepakatan nuklir" dan juga menekankan "bahwa kerjasama apapun dalam masalah Daulah Islam adalah bagian besar Iran untuk mencapai kesepakatan yang komprehensif dengan kekuasaan global bagi program nuklir Teheran di masa depan". Surat itu juga "merupakan surat yang ditandatangani setidaknya keempat kalinya oleh Obama yang ditulis bagi pemimpin politik dan agama yang paling kuat di Iran sejak menjabat pada tahun 2009 dan berjanji untuk terlibat dengan Pemerintah Islam Teheran" dan "menggarisbawahi bahwa Obama memandang Iran penting baginya untuk mengerahkan Kampanye militer dan diplomatik untuk mengusir Daulah Islam dari wilayah yang telah mereka kuasai."

Melalui surat itu, Obama berusaha "untuk meredakan kekhawatiran Iran tentang masa depan dari sekutu dekat mereka, Presiden Basyar al-Assad di Suriah" dan meyakinkan Iran bahwa "operasi militer AS di dalam Suriah tidak menargetkan Assad atau pasukan keamanannya." Mereka juga melaporkan bahwa "pemerintahan Obama melakukan pembicaraan rahasia dengan Iran di ibukota Oman di Muscat pada pertengahan 2012" dan bahwa "Sekretaris Pers Gedung Putih Josh Earnest mengakui bahwa pejabat AS dahulu pernah berdiskusi membahas tentang kampanye melawan Daulah Islam dengan para pejabat Iran di sela-sela pembicaraan nuklir internasional. Dia menambahkan bahwa negosiasi tetap berpusat pada pembicaraan tentang program nuklir Iran". Mereka juga melaporkan bahwa "Obama mengirim dua surat untuk pemimpin tertinggi Iran berusia 75-tahun itu selama semester pertama tahun 2009, mengajak perbaikan hubungan AS-Iran ... Hubungan AS-Iran telah dicairkan jauh sejak pemilihan Presiden Hasan Rouhani pada bulan Juni 2013. Dia dan Obama melakukan panggilan telepon selama 15 menit pada bulan September 2013. Kerry dan Zarif telah rutin menyelenggarakan pembicaraan langsung tentang diplomasi nuklir dan masalah regional" dan bahwa "Departemen Luar Negeri telah mengkonfirmasi bahwa para pejabat senior AS telah berdiskusi tentang Irak dengan Zarif di sela-sela perundingan nuklir di Wina.

Para diplomat AS juga telah meneruskan pesan ke Teheran melalui Pemerintahan Abadi di Baghdad dan melalui kantor di Irak Ayatollah Ali al-Sistani, salah seorang pemimpin agama yang paling kuat di dunia Syi‘ah. Di antara pesan yang disampaikan ke Teheran, menurut pejabat AS, adalah bahwa operasi militer AS di Irak dan Suriah tidak bertujuan untuk melemahkan Teheran atau sekutu-sekutunya. "Kami telah meneruskan pesan ke Iran melalui pemerintah Irak dan Sistani mengatakan bahwa tujuan kami adalah melawan ISIS," kata seorang pejabat senior AS memberitahu tentang komunikasi ini. "Kami tidak menggunakan ini sebagai alat untuk menduduki kembali Irak atau melemahkan Iran."

Setelah surat ini, Rafidhah Khamenei menjawab surat itu dengan menulis kepada Obama. "Wall Street Journal" melaporkannya dalam sebuah artikel pada 13 Feb 2015 berjudul "Ayatollah Iran Mengirim Surat Baru kepada Obama di tengah Pembicaraan Nuklir" di mana Khamenei merespon positif dengan melayangkan sebuah surat untuk mencari hubungan yang lebih baik dengan Amerika Serikat dan kerjasama lebih lanjut melawan Daulah Islam. Tapi kerjasama itu sebenarnya sudah ada di permukaan sejak beberapa lama. Pada tanggal 31 Agustus 2014, "New York Times" merilis sebuah artikel berjudul "U.S. and Iran Unlikely Allies in Iraq Battle". Mereka melaporkan bahwa seorang pejabat pemerintahan senior AS mengatakan, "Setiap kerjasama dengan milisi Syi‘ah bukanlah dilakukan oleh kami – ini dilakukan oleh ISF 'Iraqi Security Force)" dan kemudian komentar pada kata-katanya: "Tapi tentu saja diketahui bahwa milisi Syi‘ah telah bertempur bersama tentara kita dalam beberapa bulan terakhir di saat ancaman ISIS semakin jelas." Kemudian dalam artikel tersebut, mereka mengatakan bahwa "Pemerintahan Obama mencoba menghindari agar tidak terlihat telah ambil bagian dalam perang sektarian, karena milisi Syi‘ah terutama ditakuti oleh Sunni Irak. Tapi untuk akhir pekan ini setidaknya, realitas di lapangan tampaknya mengesampingkan kekhawatiran untuk mendukung milisi secara efektif."

Sebenarnya, Amerika telah bekerja sama dengan negara Iran, pasukannya, dan milisinya, tetapi melalui rezim Irak Shafawi – hal ini meniru orang-orang Yahudi yang bekerja tetapi "tidak bekerja" di hari Sabtu walau telah dilarang sehingga mereka dirubah menjadi kera dan babi. Ini mirip dengan Klaim Jabhah Jaulani bahwa mereka tidak bekerja sama dengan para thaghut ketika mereka bekerja sama dengan faksi-faksi milik para thaghut.

Adapun kerjasama Amerika dengan rezim Suriah, maka ini telah terjadi sejak program rendisi AS yang memperlihatkan banyaknya mujahidin yang dikirim ke Suriah hanya untuk disiksa di tangan orang-orang Ba‘ats Nushairiyah atas nama Amerika. Rezim Suriah juga berada di balik tindakan keras yang terjadi di Suriah terhadap semua pendukung jihad melawan Amerika di Irak pada saat munculnya Shahawat pro-Amerika. Banyak dari faksi Shahawat ini akan menempatkan pemimpin mereka di Suriah dan khotbah Jumat diarahkan untuk mendukung mereka. Kerjasama AS-Suriah terlihat nyata akhir-akhir ini dalam serangan udara tentara salib. "Washington Post" melaporkan pada tanggal 23 September 2014 dalam sebuah artikel berjudul "Syria Informed in Advance of U.S.-Led Airstrikes against Islamic State" bahwa Juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan, "Suriah diberi informasi oleh pihak Amerika dalam serangan udara terhadap target sasaran termasuk pertahanan Daulah Islam."

Artikel itu menambahkan bahwa ini "Ditandai dengan penampilan yang jarang, interaksi antara Washington dan utusan Presiden Suriah Basyar al-Assad. Letnan Jenderal William C. Mayville Jr., Direktur operasi Pentagon, dia menjelaskan bahwa radar militer Suriah menjadi 'pasif' selama serangan, dengan tidak ada usaha untuk melawan mereka. Cakupan ini menunjukkan hal kecil tapi merupakan pergeseran penting Amerika Serikat dan sekutunya, yang sebelumnya telah memberikan dukungan diplomatik dan militer secara terbatas kepada pemberontak yang berusaha menggulingkan Assad. Perluasan Serangan udara yang dipimpin AS ke Suriah sekarang bisa membuka channel baru bagi pemerintahan Assad. Kantor berita Suriah Arab News Agency (SANA) mengatakan bahwa Amerika Serikat memberikan informasi kepada perwakilan Suriah di PBB bahwa mereka akan melakukan serangan udara. (Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jen) Psaki mengkonfirmasi kontak itu tapi tidak mengatakan kapan itu terjadi."

Artikel tersebut juga merujuk pada laporan "SANA" yang menyatakan bahwa Sekretaris Negara John Kerry telah mengirimkan surat kepada Walid Muallem (Menteri Luar Negeri rezim Nushairi) untuk memberitahukan kepadanya tentang rencana tentara salib untuk mulai menyerang posisi Daulah Islam.

Menurut laporan Reuters pada tanggal yang sama berjudul "Syria‘s U.N. Envoy Says Told of Airstrikes by Samantha Power", Duta Suriah untuk PBB Basyar Ja'afari mengatakan kepada Reuters, pada hari Selasa ia secara pribadi diberitahu oleh Duta Besar AS Samantha Power bahwa beberapa jam kemudian AS dan Arab akan segera melakukan serangan udara terhadap target-target Daulah Islam di wilayah Suriah. Ja'afari mengatakan bahwa Power berkata kepadanya bahwa pada Senin pagi aksi militer akan dilakukan. Dia menambahkan bahwa "kita dalam koordinasi yang erat dengan Irak". Misi AS menegaskan bahwa Power telah memberikan informasi kepada Ja'afari.

Hal ini ditegaskan oleh Thaghut Bashar dalam sebuah wawancara dengan BBC pada 10 Februari 2015. Dalam sebuah artikel berjudul "Assad Says Syria Is Informed on Anti-IS Air Campaign", BBC melaporkan, "Presiden Suriah Basyar al-Assad mengatakan pemerintahnya menerima pesan dari koalisi pimpinan AS tentang perang melawan kelompok jihad, Daulah Islam. Assad mengatakan kepada BBC bahwa telah ada kerjasama secara tidak langsung sejak serangan udara dimulai di Suriah pada bulan September. Tapi pihak ketiga -di antara mereka adalah Irak– menyampaikan 'informasi' tentang serangan mendadak oleh pesawat tempur AS dan Arab atas Suriah".

Amerika juga telah melayani kepentingan rezim Suriah dengan mendukung PKK, sekutu terdekat rezim sejak dimulainya perang di Syam dan terus berperang bersama rezim di wilayah al-Barakah. Amerika juga berusaha keras untuk mempertahankan rezim Ba'ats dan tentara Nushairi hingga mereka bisa menjamin sebuah transisi menuju pluralistik negara yang sesuai dengan agama Amerika. Satu-satunya syarat mereka sangat mudah: mereka meminta Thaghut Assad disingkirkan tapi sisa rezim dan pasukannya tetap utuh. Sehingga kemudian bisa duduk di meja perundingan dengan kelompok murtad Koalisi Nasional Suriah (SNC) dan Free Syrian Army (FSA).

Layanan Amerika terhadap kepentingan rezim Suriah juga disoroti oleh mantan Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel. "Washington Times" melaporkan pada 30 Oktober 2014 dalam sebuah artikel berjudul "Syria Airstrikes Spur White House Infighting over Benefit to Assad" bahwa "Sekretaris Pertahanan Chuck Hagel mengakui untuk pertama kalinya pada hari Kamis bahwa serangan udara yang dipimpin AS terhadap Daulah Islam menguntungkan Presiden Suriah Basyar Assad ... Ya, Assad mendapatkan beberapa keuntungan", Hagel berkata kepada wartawan di Pentagon menggambarkan bahwa situasi di dalam Suriah adalah rumit, Hagel mengatakan bahwa "pemerintah tetap menyerukan penggulingan Assad meskipun seolah membantu dia". Laporan itu menambahkan ada sebuah sumber di administrasi yang menginformasikan kepada mereka bahwa "logika yang dimiliki beberapa orang yang berada di administrasi bahwa menyerang aset milik Suriah akan merusak pembicaraan nuklir antara AS dan Iran, sekutu dekat Assad".

Rusia, selain berada di pihak AS, Rafidhah, dan Nushairiyah di Irak dan Syam dalam perang melawan Daulah Islam, dia juga terlibat dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Kaukasus. Adapun di Irak dan Syam, Direktur Federal Security Service Rusia (FSB) Alexander Bortnikov mengatakan kepada para wartawan pada tanggal 20 Februari 2015 bahwa "Amerika Serikat dan Rusia mungkin akan mulai bertukar intelijen dalam rangka mengalahkan Daulah Islam". Hal ini diawali dengan laporan dari "New York Times" pada 14 Oktober 2014 berjudul "U.S. and Russia Agree to Share More Intelligence on ISIS." Dalam laporan tersebut mereka menyatakan, "Menteri Luar Negeri John Kerry mengatakan pada hari Selasa bahwa Amerika Serikat dan Rusia telah sepakat untuk lebih berbagi kerjasama intelijen tentang Daulah Islam, sebagaimana dia juga berusaha untuk meletakkan dasar bagi peningkatan kerjasama dengan Moskow. Kerry membuat hal ini menjadi jelas bahwa dia akan menyambut perluasan kerjasama dengan Putin setelah pertemuan di sini dengan Sergey V. Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia. Tercatat bahwa ada 500 atau lebih relawan Daulah Islam yang mungkin datang dari Rusia, Kerry mengatakan bahwa dia telah mengusulkan agar kedua belah pihak mengintensifkan kerjasama intelijen terhadap para kelompok militan dan ancaman teroris lainnya, dan Lavrov telah sepakat. Membuka pintu untuk kerjasama di Irak, Kerry mengatakan Lavrov telah sepakat untuk menyelidiki apakah Rusia bisa berbuat lebih banyak untuk mendukung pemerintah terkepung Irak karena pertempuran Daulah Islam – termasuk dengan memberikan senjata".

Rusia juga secara terbuka mendukung rezim Irak yang didukung oleh Amerika Serikat. Melalui kantor berita Itar-Tass, Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan pernyataan pada 26 September 2014 tentang pertemuan yang diadakan antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi. Kementerian Luar Negeri mengatakan dalam pernyataan tersebut, "Dalam pertemuan tersebut, Lavrov menegaskan dukungan Rusia untuk kemerdekaan Irak, integritas wilayah dan kedaulatan. Moskow siap untuk melanjutkan dukungan terhadap Irak dalam upaya memerangi ancaman teroris, dan yang paling pertama dari semuanya, adalah Daulah Islam".

Menurut "New York Times" dalam sebuah artikel berjudul "Russian Jets and Experts Sent to Iraq to Aid Army" dirilis pada 29 Juni 2014, "Pejabat pemerintah Irak mengatakan pada hari Minggu bahwa para ahli Rusia telah tiba di Irak untuk membantu tentara mendapatkan 12 pesawat tempur Rusia yang baru untuk memerangi ekstrimis Sunni". "Dalam tiga atau empat hari mendatang pesawat akan segera beroperasi untuk mendukung pasukan kami dalam perang melawan gerilyawan Daulah Islam di Irak dan Suriah", kata Jenderal Anwar Hama Ameen, Komandan Angkatan Udara Irak, menunjuk lima Pesawat SU-25 yang diterbangkan ke Irak kapal lewat pesawat kargo Rusia pada Sabtu malam, dan dua lagi diharapkan akan datang pada Minggu nanti. Komandan Angkatan Udara Irak, Jenderal Ameen, mengatakan bahwa "para ahli militer Rusia telah tiba untuk membantu mempersiapkan pesawat tempur baru SU-25, tetapi mereka hanya akan tinggal dalam waktu singkat". "Lima pesawat Rusia terakhir akan tiba pada hari Senin", katanya. Ini adalah laporan pertama tentang bantuan militer Rusia di negara itu, meskipun Jenderal Ameen mengatakan bahwa mereka hanya tenaga ahli, dan bukan penasihat.

Pada hari Kamis, Perdana Menteri Nuri Kamal al-Maliki mengatakan, "Negara Iraq bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan Rusia, telah memerintahkan selusin SU-25, jet tempur serang darat yang berguna untuk operasi dukungan udara jarak dekat (close air support)". "Mereka datang sangat cepat", kata Jenderal Ameen pada wawancara via telepon, "karena kita membutuhkan mereka dalam konflik ini untuk melawan teroris sesegera mungkin". Dia mengatakan bahwa orang-orang Rusia ini akan pergi dalam waktu sekitar tiga hari setelah pesawat siap untuk beroperasi. Namun, Jenderal Ameen mengatakan mereka akan segera terlibat aksi lagi. "Kami memiliki pilot yang memiliki pengalaman panjang dengan pesawat ini dan tentu saja kami mendapat bantuan dari teman-teman Rusia dan para ahli yang datang dengan pesawat ini untuk mempersiapkannya". katanya. "Ini akan memberikan hukuman yang sangat kuat terhadap para teroris dalam beberapa hari mendatang". "Pesawat baru ini akan meningkatkan dan mendukung kekuatan dan kemampuan angkatan udara Irak untuk membasmi terorisme", disebutkan oleh sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Irak."

Menurut "The Hill" dalam sebuah artikel berjudul "Hagel: US knows Iran, Russia aiding Iraq in fight against ISIS" yang dirilis pada 11 Juli 2014, Chuck Hagel berkomentar tentang laporan bahwa "Menukil para pejabat militer Irak yang mengatakan bahwa Iran dan Rusia sedang melakukan serangan udara di negara mereka, menyerang target-target Islamic State in Iraq and Syria (ISIS)" dengan mengatakan, "Kami menyadari upaya Iran dan Rusia untuk membantu rakyat Irak." Oleh karena itu, Iran dan semua sekutunya terlibat langsung dalam perang tentara salib terhadap Daulah Islam.

"Foreign Policy" melaporkan bahwa pada 12 November 2014 dalam sebuah artikel yang berjudul "Who Has Contributed What in the Coalition against the Islamic State?" disebutkan "Meskipun Iran bukan mitra koalisi yang diakui, dia dan Amerika Serikat berunding secara informal". Kemudian diakhiri dengan "Joint Comprehensive Plan of Action" kesepakatan nuklir antara Barat yang dipimpin Amerika dan rezim Iran yang didukung oleh Rusia. Pada akhirnya, Amerika melayani kepentingan Kekaisaran Shafawi dengan serangan udaranya, intelijen, dan politik, dan Kekaisaran Shafawi juga bekerja sama dengan Amerika secara sama melawan Mujahidin. Hal ini dilakukan secara terselubung, secara tidak langsung, apalagi secara publik. "Si perantara" –bila diperlukan– adalah rezim boneka Shafawi di Irak.

David Petraeus (mantan komandan militer Amerika untuk Irak) mengomentari perang pemerintahan Obama, "Ini tidak boleh terjadi Amerika Serikat menjadi angkatan udara untuk milisi Syi‘ah atau perang antara Arab-Syi‘ah terhadap Sunni". Tapi inilah apa yang terjadi , tapi sebenarnya ini adalah perang terhadap Islam, bukan terhadap bangsa Arab.

The Shafawi Empire

Bangkitnya kembali Kekaisaran Shafawi adalah tujuan akhir dari Rafidhah Iran. Kekaisaran Shafawi didirikan oleh seorang sufi tarekat bernama Shafawiyah. Pada awalnya dia dianggap berasal dari "Sunni" dan bermadzhab "Syafi'i", namun kemudian menggabungkan di dalamnya banyak ajaran sesat yang ekstrim dari sufisme murtad. Aliran sesat ini kemudian diadopsi oleh Syi‘ah Imamiyah yang kemudian setelah didirikan dan segera menjadi gerakan politik dan militan dia mulai melakukan peperangan hingga pemimpinnya Ismail Ibnu Haidar ash-Shafawi berhasil mengambil alih Persia. Dia kemudian memaksakan faham Syi‘ah atas masyarakat Sunni hingga Persia menjadi negara yang didominasi oleh kaum Rafidah setelah sebelumnya didominasi oleh Sunni. Di antara kebijakannya adalah mengeksekusi ulama Sunni dan membantai penduduk Sunni yang bertahan. Dia adalah penguasa yang paling anti-Sunni yang berkuasa sejak jatuhnya negara Ubaidiyah Ismailiyah yang berbasis di Mesir.

Dinasti Shafawi berkuasa pada masa "1501-1736M". Lebih dari dua ratus tahun kemudian, seorang Rafidhah Khomeini melakukan upaya para pendahulu kaum Shafawi dan memberikan kekuatan langsung dalam politik kepada para ulama Rafidhi melalui konsep yang telah dia sebarkan yang dikenal sebagai "Wilayat al-Faqih" dan melalui apa yang disebut "revolusi". Kemudian secara mengejutkan para ulama Rafidhah ini berada dalam kontrol langsung terhadap Persia dan dalam beberapa tahun kemudian, mereka mengekspor agama syirik mereka ke Syam, Irak, Semenanjung Arab, Khurasan, India, Turki, Azerbaijan, Afrika, dan Asia Tenggara.

Kaum Rafidhah kemudian banyak mengambil alih di Yaman ketika berada di sisi boneka Amerika Ali Abdullah Shalih, setelah mendapatkan kekuasaan di Suriah dan Lebanon sebagai hasil dari Amerika yang menyerahkan Irak kepada mereka setelah "Operation Iraqi Freedom". Tiba-tiba "Bulan sabit Syi‘ah" tumbuh dari bulan sabit menjadi gerhana matahari, yang benar-benar mengancam Islam di mana-mana. Mereka menyatukan Nushairiyah, Ismailiyah, dan Zaidiyah dibalik apa yang mereka sebut "Faqih" dalam perang melawan Sunnah. Rencana mereka adalah untuk terus berperang melawan Islam sampai munculnya "al-Mahdi" kaum Rafidhah, yang menurut mereka, akan berbicara dengan bahasa Ibrani, mengatur dengan Taurat, diikuti oleh orang-orang Yahudi, dan membunuh semua orang Arab – sifat-sifat yang tidak diragukan lagi lebih cocok sebagai Dajjal Yahudi bukan al-Mahdi kaum Muslimin(7).

Secara fakta, kaum murtad Rafidhah memang lebih solid, terorganisir, kuat, dan agresif dibanding sekutu-sekutu lain pasukan salib –yaitu para thaghut murtad dan Shahawat– sehingga mereka mendapatkan dukungan tentara salib, dengan demikian tentara salib mengandalkan mereka dan sekutu Rafidhah, Kurdi, lebih daripada kelompok lain dalam perang melawan Khilafah. Secara keseluruhan kaum Rafidhah lebih barbar dan bersatu daripada tentara salib itu sendiri, tetapi muwahhidin Khilafah telah mengasah pisau dan menyiapkan banyak bom mobil untuk menyembelih kawanan domba Rafidhah hingga Rafidhah terakhir mati di bawah bendera Dajjal.

Koalisi Shahawat

Nama Shahawat pertama kali disebutkan di Irak, namun sebenarnya telah ada sebagai sebuah fenomena yang jauh lebih awal kemunculannya sejak Afghanistan pasca komunis. Nama ini diambil dari kata Arab yang berarti "kebangkitan". Asal muasal Shahawat Irak adalah geng-geng suku yang mulai mendukung tentara salib Amerika melawan mujahidin pada tahun 2005, sebelum pembentukan Daulah Islam. Kerjasama ini terus tumbuh hingga Abdul Sattar al-Risyawi membentuk Dewan "Shahawat Anbar", salah satu Shahawat resmi Amerika yang pertama, mungkin maksudnya "kebangkitan" untuk menghadapi para mujahidin. Suku-suku ini mendukung Dewan Shahawat untuk melawan Daulah Islam bersama faksi-faksi Shahawat, yang kebanyakan dikendalikan oleh kesukuan. Kelompok-kelompok shahawat mungkin dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis: 1. Kelompok perlawanan nasionalis berorientasi Ikhwani, dan 2. kelompok "jihadi" berorientasi Sururi. (8)

Kelompok "Jihadi" (Jaisyul Islam di Irak, Jaisyul Mujahidin, dan "Komite Syar'i Jaisy Ansharus Sunnah,(9) dan lain-lain) membentuk "Front Jihad dan Reformasi".

Faksi perlawanan (Brigade Revolusi 1920, Jaisy ar-Rasyidin, Jaisyul Muslimin fil 'Iraq, dan lain-lain) membentuk "Front Jihad dan Perubahan", yang kemudian diikuti pembentukan koalisi resistensi lain yang dikenal sebagai "Front Islam untuk perlawanan Irak". Berbagai faksi perlawanan dan faksi "Jihad" dalam koalisi yang lebih kecil ini akhirnya bergabung ke dalam "Dewan Politik untuk Perlawanan Irak", sedangkan beberapa kelompok yang lebih kecil yang tersisa menghadapi kepunahan.

Semua front dan dewan yang beragam ini secara tidak nampak dipengaruhi atau disusupi oleh "Hizbul Islam", sayap Ikhwan di Iraq. Tidak lama setelah dibentuknya berbagai front dan dewan ini, "jihad" mereka dimulai dengan merilis statemen politik yang tidak memiliki realitas di lapangan. Mereka hanya aktif perang melawan Daulah Islam sedangkan mereka telah sepakat melakukan gencatan senjata dengan Amerika dan memutuskan bahwa apa yang mereka sebut "Khawarij" adalah musuh terbesar Islam!

"Ikhwanisasi jihad" itulah yang ada di balik pengkhianatan dan menyimpangnya Burhanuddin Rabbani, Ahmad Syah Massoud, dan Abdul Rasul Sayaf di Afghanistan, Abdullah Nuri di Tajikistan, Abdelhakim Belhadj, Abdel Wahab Qaid, Abdel Hakim al-Hasidi, dan Sami Musthafa as-Sa'idi di Libya, Sheikh Ahmed Syarif di Somalia, Mohamed Abu Samra, Kamal Habib, Nabil Nu'aim, Karam Zuhdi, Abbud al-Zumar, Tarek al- Zumar, Najih Ibrahim, Usamah Hafidh, 'Asim 'Abdil-Majid, 'Isam Dirbalah, 'AbdulAkhir al-Ghunaymi, dan Usamah Rusydi di Mesir, dan Hamas di Palestina. (10)

Ini adalah "Ikhwanisasi jihad" yang mendorong dibentuknya kongres "Fajar Libya" dan kelompok Ikhwani "Dewan Komando Revolusioner Suriah" yang bersekutu dengan Ikhwani "Koalisi Nasional Suriah" dan "Pemerintahan sementara"nya. Ini adalah "Ikhwanisasi jihad" yang telah menyebabkan pembentukan, penggabungan, dan pemecahan berbagai front dan ruang kerja di Syam dengan cara yang sangat mirip dengan apa yang ada di Irak, kecuali dalam beberapa aspek penting.

Faksi Shahawat Irak adalah faksi-faksi yang sebelumnya berperang melawan tentara salib Amerika, kemudian membuat normalisasi hubungan dengan tentara salib walau agak canggung.

Adapun faksi Shahawat di Syam, maka sejak awal perang di Syam, mereka telah meminta intervensi Amerika, Eropa, Arab, dan Turki atau setidaknya bantuan dan telah menarik lebih dekat berbagai pendukung dan sekutu mereka baik publik dan swasta, membuat perubahan mereka menjadi Shahawat adalah sesuatu yang alami dan sudah diperkirakan.

Dan sebagaimana Shahawat Irak, di Syam juga terdapat faksi-faksi perlawanan nasionalis (Jaisyul Mujahidin, Jabhah Syamiyah, Faylaq asy-Sham, dll) dan faksi "jihad" nasionalis (Ahrar asy-Syam, Jaisyul Islam, dan Jabhah Jaulani). Dan sebagaimana front dan dewan yang dibentuk di Irak yang mana anggota faksi-faksi ini berjanji untuk sepenuhnya melebur akan tetapi justru pecah dan tidak pernah benar-benar bersatu seperti yang mereka maksudkan, berbagai koalisi dan front di Syam seperti "Jabhah Islamiyah" dan "Jaisyul Fath" tetap bersikeras untuk menjadi faksi independen dan menolak untuk melebur menjadi entitas yang lebih besar dan tetap bertahan terhadap perpecahan.

Ini adalah penyakit hizbiyah dan cinta kepemimpinan yang terus menjangkiti mereka, di samping kesesatan ekstrim mereka. Dan juga karena hal yang terjadi ini dan perpecahan yang terus mendalam menyebabkan AS lebih memilih rezim Shafawi di Irak daripada proyek Shahawat, lalu mereka meninggalkan kaum murtad Shahawat dan lebih memilih hawa nafsu dan keinginan "Faqih" Shafawi Iran, yang telah menelikung dan mengkhianati mereka setelah bertahun-tahun Shahawat melayani kepentingan rezim Shafawi di Irak dan juga kepentingan tentara salib.

Dan Shahawat –baik itu di Syam, Iraq, Libya, Pakistan, Afghanistan, Yaman, atau di mana saja mereka– di samping pemimpin mereka melakukan perjalanan dari Yordania ke Arab Saudi, ke Kuwait, ke Qatar, ke Turki, ke Inggris, atau ke Amerika, mereka memiliki satu hal yang sama: mereka adalah Machiavellian. Bagi mereka, tujuan bisa menghalalkan segala cara, dan demi meraih sesuatu yang "baik" atau mengejar "kepentingan", kemurtadan dan kemunafikan menjadi hal yang diperbolehkan. Mereka tidak mengambil pendapat berdasarkan dalil, bahkan mereka akan mengambil pendapat yang lemah dan aneh untuk mengejar jabatan, kekayaan, dan kehormatan, dan untuk membenarkan wala‘ mereka kepada orang-orang kafir dan Bara' dari kaum Muslimin.

Ketika perbuatan mereka menjadi pertempuran yang nyata demi kepentingan tentara salib dan para thaghut terhadap Islam dan kaum muslimin, mereka lalu berusaha menggambarkan diri mereka sedang mencari bantuan dari orang-orang kafir untuk memerangi apa yang disebut "Khawarij"! Maka berbagai faksi "jihad" Shahawat –didorong oleh sikap Irja' dan hizbiyah– murtad dan bersekutu dengan faksi nasionalis melawan musuh bersama "Khawarij" sambil membuat-buat udzur untuk menolerir kekufuran para sekutu nasionalis mereka, untuk menggambarkan bahwa mereka hanyalah kaum Muslimin yang fasiq yang sedang melawan musuh yang berbahaya, dan jika begitu maka setiap kekufuran yang dilakukan untuk "membela diri" maka diudzur!

Bisa jadi sebentar lagi, sikap hizbiyah mereka akan mendapatkan yang lebih baik dari mereka, dan mereka akan mulai saling mengacungkan senjata satu sama lain demi mengejar dominasi politik pada wilayah yang telah "dibebaskan" oleh mereka.

Sebuah Peluang Beramal Shalih

Adapun bagi kaum muslimin yang tidak mampu melakukan hijrah dari Darul Kufur menuju Khilafah, maka ada banyak kesempatan baginya untuk menyerang orang-orang kafir yang memusuhi Daulah Islam. Ada lebih dari tujuh puluh negara salibis, rezim Thaghut, tentara murtad, milisi rafidhah, dan faksi Shahawat yang bisa dipilih olehnya. Kepentingan mereka berada di seluruh dunia. Dia tidak perlu ragu untuk menyerang mereka di mana saja dia mampu. Tidak lebih dari membunuh warga Salibis di belahan bumi mana saja. Apa, sebagai misal, yang menghalangi dirinya untuk menyerang komunitas Rafidhah di Dearborn (Michigan), Los Angeles, dan New York City? Atau menyerang misi diplomatik Panama(11) di Jakarta, Doha, dan Dubai? Atau menyerang misi diplomatik Jepang di Bosnia, Malaysia, dan Indonesia? Atau menyerang diplomat Saudi di Tirana (Albania), Sarajevo (Bosnia), dan Pristina (Kosovo)? Atau mengeksekusi sponsor utama Shahawat di Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi? Apa yang menghalanginya untuk menyerang sekutu PKK dan Peshmerga di Eropa dan Amerika termasuk "Asosiasi Konfederasi Kurdi di Eropa" (KON-KURD - yang berbasis di Brussels) dan "Persatuan Pengusaha Kurdi International" (KAR-SAZ - berbasis di Rotterdam), keduanya dikenal buruk karena dukungan keuangan mereka kepada PKK?

Jika seseorang tertahan untuk bisa melakukan hijrah karena berbagai alasan, namun tidak ada alasan baginya untuk tidak melakukan jihad terhadap para musuh Islam yang terdekat dengannya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang yang bertaqwa." (At-Taubah: 123)

Kesimpulan

Kesabaran dan keteguhan kaum muslimin dalam Perang Ahzab, menjadikan mereka sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan, dan ditambah dengan berbagai kemenangan militer mereka, para musuh mau tidak mau harus mengakui kekalahan dan mengakui gencatan senjata, sebagaimana yang terjadi di Hudaibiyah, pelanggaran yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy kelak berujung dengan ditaklukannya kota Makkah.

Para pengklaim jihad berusaha untuk mengubah urutan peristiwa dalam Sirah. Peristiwa Hudaibiyah mereka putar, kemudian memasukkannya ke dalam –apa yang disebut– "fiqh" yang melalui hal itu mereka mempermudah kewajiban jihad dan al-wala' wal bara'. Mereka lupa bahwa perjanjian Hudaibiyah terjadi setelah hijrah, pembentukan negara kenabian, dan kemenangan di perang Badar. Dia datang setelah kesabaran dan keteguhan diperlihatkan di medan Uhud dan Ahzab. Dia datang di saat pasukan kaum Muslimin kuat, tidak lagi merasa terancam akan musnah di tangan kaum Quraisy. Dia datang pada saat kaum Quraisy takut terhadap umat Islam sebagai musuh yang tangguh.

Shahawat, di sisi lain, berlomba menuju tentara salib ... dan bahkan menuju kemurtadan! Shahawat kemudian masuk di bawah sayap mereka, mematuhi perintah mereka dengan imbalan bantuan dan dukungan, dan berperang melawan Daulah Islam sementara mereka sendiri menolak pelaksanaan syari'at, semua ini sambil mengklaim bahwa ini adalah "fiqh" dari perjanjian Hudaibiyah. Padahal fiqh Hudaibiyah adalah kesabaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para shahabat di semua pertempuran sebelum perjanjian Hudaibiyah. Itu semua adalah kebenaran dari janji Rabb mereka dalam peristiwa al-Ahzab. Itu semua adalah karena jihad terus menerus mereka dan al-wala' wal bara' yang tidak pernah berhenti. Itu semua karena pencapaian tamkin sehingga penandatanganan mereka terhadap gencatan senjata berasal dari posisi kekuasaan bukan kelemahan, sehingga pada akhirnya semua manfaatnya kembali bagi mashlahat persatuan kaum muslimin.

Akhirnya, itu semua bukanlah karena kemurtadan dan penyimpangan dari orang-orang yang lemah hati dan kaum munafik yang akan mengarah pada gencatan senjata dengan bangsa Romawi sebelum hari kiamat, melainkan itu semua akan diraih melalui kesabaran dan keteguhan dari para mujahidin dalam perjalanan mereka untuk meraih tamkin dan ekspansi yang lebih besar dalam menghadapi perang salib internasional melawan Islam.

Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas jalan-Mu hingga orang terakhir kami berperang di bawah bendera Al-Masih alaihissalam melawan Dajjal.

Catatan kaki :

1. Allah Ta'ala menjelaskan peristiwa peperangan ini dalam surat Al -Ahzab ayat 9-27 agar kaum muslimin dapat merenunginya.

2. Catatan: Berbagai nama sandi operasi mereka ini adalah sandi yang diberikan oleh Amerika, sedangkan negara salibis lain biasanya memberi nama versi mereka sendiri dalam kampanye mereka.

3. Daftar nama ini telah dirilis oleh Departemen Negara AS dan diproduksi ulang oleh sejumlah media Amerika. Ini tanpa menyebutkan Iran, Rusia, dan Suriah, yang semuanya anggota penting dalam koalisi melawan Daulah Islam.

4. Ada lebih dari tiga belas ribu pasukan milik tentara salib dan rezim murtad yang terus menduduki Afghanistan untuk membela rezim murtad Afghanistan. Armenia, Azerbeijan, Mongolia, serta banyak negara lain yang disebutkan dalam daftar "Operation Inherent Resolve, termasuk Turki" semuanya anggota kampanye perang Salibis NATO yang dikenal dengan sandi operasi "Operation Resolute Support". Begitu juga Pakistan, dia sekutu paling dekat dengan Amerika dalam perang melawan Daulah Islam Wilayah Khurasan.

5. Ini hanyalah sebagian daftar. Jika kita tambah dengan negara-negara yang juga terlibat secara terselubung, diam-diam, atau secara pasif dalam perang melawan Daulah Islam, maka ini berarti mencakup seluruh negara di dunia, terutama jika kita mengingat tidak ada satu pun negara kafir asli yang memiliki perjanjian dengan Daulah Islam.

6. Kerjasama ini telah didokumentasikan oleh Amerika, Inggris, dan media Iran. Juga terdapat laporan pada catatan Hillary Mann, James Dobbins, Karl Inderfurth –tiga mantan diplomat Amerika yang terlibat dalam makar ini– serta Jack Straw (mantan Menlu Inggris), Mohsen Aminzadeh (mantan wakil menteri luar negeri Iran), dan Mohammad Khatami (mantan presiden Iran), semua menjelaskan pembenaran, sejarah, dan rincian dari pertemuan mereka.

7. Lihat halaman "Al-Mahdi Rafidhah: Dajjal" pada Majalah Dabiq edisi ini.

8. Pada saat itu, "Sururiyah" adalah gerakan "Salafi" pro-Saudi yang telah meninggalkan sejarah oposisi Thaghut Saudi. Pemimpin mereka mengizinkan untuk ambil bagian dalam kemurtadan pemilu demokratis dan referendum. Di Semenanjung Arab, gerakan mereka disebut dengan gerakan "Shahawat", namun tidak berhubungan dengan Shahawat Irak. Dua pemimpin yang paling terkenal adalah Salman al-'Audah dan Safar al-Hawali. Nama "Sururi" sendiri berasal dari nama "Muhammad Surur," sebagaimana Salman dan Safar menjadi pendukung pro-Saudi setelah sebelumnya mereka melawan thaghut Saudi. Secara umum, dapat dikatakan bahwa Sururiyah gerakan "Salafiyah" rasa Ikhwani. Semoga Allah menghinakan "ulama" jahat ini dan majikan mereka Thaghut saudi.

9. Ini adalah kelompok yang bersikeras bergabung dengan Shahawat Irak setelah memisahkan diri dari Anshar al-Islam.

10. Lihat "Dari Lembaran Sejarah" pada majalah Dabiq edisi ini.

11. Apa yang diharapkan dari negara menyedihkan Panama bagi warganya kecuali tidak lebih dari sekedar teror, ketika secara sombong masuk ke dalam koalisi pimpinan Amerika menyerang Daulah Islam?