Rabu, 25 April 2018

DIEN ISLAM DAN JAMA'ATUL MUSLIMIN (BAGIAN 1)

RUMIYAH 1 - ARTIKEL

DIEN ISLAM DAN JAMA'ATUL MUSLIMIN (BAGIAN 1)

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak akan Ada yang bisa menyesatkannya. Sedangkan siapa yang Dia sesatkan, niscaya tidak akan Ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak Ada ilah yang haq untuk diibadahi selain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam ... Amma ba‘du.

Berikut ini adalah serial penjelasan tentang hakekat Islam dan urgensi Jamaah. Kami berdoa kepada Allah agar memahamkan kami dan kalian tentang Islam dan meneguhkan kita di dalam Jamaatul Muslimin.

Allah ta‘ala berfirman : (Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku juga sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridhah islam sebagai agama kalian) (QS. Al Maidah : 3). Firman-Nya: (Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah islam) (QS. Ali Imran ; 19). Firman-Nya: (Dan siapa yang menghendaki agama selain Islam, niscaya tidak akan diterima dan di akherat dia akan termasuk orang-orang yang merugi). (QS. Ali Imran : 85).

Islamlah dien yang diridhai oleh Allah untuk manusia, dan selainnya tidak akan diterima. Hakekat Islam baik secara bahasa maupun syari adalah as-salamah –artinya ikhlas (murni)–, dan al-Istislam –artinya tunduk dan patuh– kepada Allah.

Abul Abbas ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : "Islam adalah ketundukan kepada Allah semata, jadi lafadz Islam itu mencakup arti al-istislam (tunduk) dan ikhlas kepada Allah ... Maka, barang siapa yang tidak tunduk kepada-Nya, berarti dia bukanlah seorang Muslim, siapa yang tunduk kepada selain-Nya, sebagaimana ketundukannya kepada-Nya, berarti dia juga bukanlah seorang Muslim. Sedangkan siapa yang tunduk hanya kepada-Nya, maka dia adalah seorang Muslim sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an : (Benar, siapa yang menundukkan wajahnya kepada Allah dan dia berbuat baik, maka baginya adalah pahala di sisi Rabbnya, mereka tidak merasa takut dan tidak pula bersedih hati) (QS. Al Baqarah : 112). Firman-Nya: (Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang menundukkan wajahnya kepada Allah, berbuat baik dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus. Dan Allah telah mengambil Ibrahim sebagai kekasih-Nya." (QS. an-Nisa : 125)." (An-Nubuwat).

Beliau rahimahullah juga berkata: "Islam yang merupakan Dien Allah, yang karenanya kitab suci diturunkan, dan para Rasul diutus.. Maknanya adalah hendaklah seorang hamba tunduk kepada Allah Rabb semesta alam. Jadi, dia harus berserah diri kepada Allah saja, tiada ada sekutu bagi-Nya. Dia juga harus patuh kepada-Nya dengan menghambakan diri hanya kepada-Nya, bukan kepada yang lain, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sebaik-baik perkataan yaitu Al Qur’an. Sedangkan puncaknya Islam adalah syahadat atau persaksian bahwa tidak Ada ilah yang haq untuk diibadahi kecuali Allah. Islam memiliki dua lawan, yaitu kesombongan dan syirik. Karena itulah, diriwayatkan bahwa Nuh ‘alaihis sallam memerintahkan anaknya dengan Laa ilaaha illallah dan subhanallah, dan melarang mereka dari kesombongan dan syirik. (HR. Ahmad dari Abdullah bin Amru) ... Jadi, orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada Allah, tidak mau beribadah kepada-Nya, maka dia bukanlah orang yang berserah diri kepada-Nya. Sedangkan orang yang beribadah kepada-Nya tapi juga beribadah kepada yang lain, berarti dia adalah seorang musyrik, bukan Muslim, karena pada dirinya terdapat kesyirikan. Lafadz Islam mengandung makna al-istislam dan as-salamah yang artinya ikhlas (murni). (lihat al-Fatawa) ... Jadi, setiap orang yang sombong dan berbuat syirik bukanlah Muslim". (An-Nubuwat).

Seseorang tidak bisa disebut Muslim kecuali dengan komitmen terhadap Islam dengan kedua makna ini. Maka, siapa yang tidak mau tunduk kepada Allah –seperti orang yang meninggalkan suatu amal atau menolak dengan kekuatan beberapa syariat yang zhahir dan mutawatir berarti dia kafir–. Dan juga, siapa yang tidak memurnikan ibadah hanya untuk Allah, –seperti orang yang menyembah para Nabi dan para wali karena taklid dan takwil- berarti dia musyrik meskipun dia masih shalat, puasa, dan mengaku sebagai Muslim. Hakekat-hakekat inilah yang ditunjukkan oleh syahadat Laa ilaaha illallah.

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : "Ilah artinya adalah yang diibadahi lagi ditaati dengan haq". (Taisirul Azizil Hamid), sehingga tidak Ada yang berhak diibadahi dan ditaati selain Allah. Kata ini tercakup dalam makna as-Salamah dan al-istislam kepada Allah, dan itulah dakwah para Nabi dan Rasul kepada kaum dan umat mereka". Abul Abbas ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : "Lafadz Islam memiliki dua makna, pertama : ad-Dien al Musytarak (Agama semua nabi), yang artinya beribadah kepada Allah semata, tidak Ada sekutu bagi-Nya, dan karenanyalah Allah mengutus para Nabi. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nash-nash kitab dan sunnah tentang kesatuan/persamaan agama mereka. Yang kedua adalah apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, secara khusus –maksudnya adalah islam–, yang memiliki dua tingkatan: pertama adalah perkataan dan perbuatan yang zhahir, yaitu 5 bangunan (rukun)nya, sedang kedua adalah kesesuaian yang zhahir tersebut dengan yang batin". (al-Fatawa).

Kelima bangunan inilah hakekat Islam baik perkataan dan perbuatan, yang zhahir dan yang batin. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menjelaskannya dengan bersabda : (Islam dibangun diatas 5 perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak Ada ilah yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah dan puasa Ramadhan). (HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar) Menurut riwayat lain: (Islam dibangun diatas 5 perkara, yaitu untuk mentauhidkan Allah). (HR. Muslim dari Ibnu Umar) Menurut riwayat yang lain lagi: (Islam dibangun diatas 5 perkara, yaitu beribadah kepada Allah dan selain-Nya harus diingkari). (HR. Muslim dari Ibnu Umar).

Islam yang dibawa oleh syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam secara khusus tidak akan benar tanpa ada as-Salamah dan al-istislam kepada Allah, bahkan 5 bangunan Islam disyariatkan agar seseorang berlaku ikhlas kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya dengan komitmen terhadap tauhid, ittiba (mengikuti) Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan melaksanakan bangunan-bangunan tersebut.

Ibnu Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata : "Murjiah telah berlaku ghuluw dengan mengatakan : "Barang siapa yang meninggalkan shalat fardhu, puasa ramadhan, zakat, haji, dan semua kewajiban secara umum selama tidak juhud (mengingkarinya), maka kami tidak mengkafirkannya. Perkaranya dikembalikan kepada Allah, selama dia masih mengakuinya." Jadi, tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah Murjiah." (Masaail Harb oleh Al Karmani)

Lalu, hubungan antara as-salamah dan al-istislam dijelaskan oleh Allah di dalam banyak ayat dari kitab suci-Nya, diantaranya perintah Allah untuk memerangi orang-orang musyrik. Allah jalla wa alla berfirman : (Maka, jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat kepada kaum yang mengetahui). (QS. at Taubah : 11).

Setelah membaca ayat diatas, Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata : "Taubat dari syirik dijadikan oleh Allah ‘Azza wa jalla berupa perkataan dan perbuatan, dengan mendirikan shalat dan menunaikan zakat." Sedangkan para penyembah akal berkata : "Shalat, zakat, dan kewajiban apapun bukanlah termasuk iman". Itu semua adalah kebohongan kepada Allah ‘azza wa jalla dan bertentangan dengan kitab dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, jika memang benar begitu, niscaya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak akan memerangi ahlu riddah (orang-orang murtad)". (As-Sunah oleh Abdullah bin Ahmad)

Para sahabat radhiyallahu ‘anhu telah sepakat bahwa tidak ada Islam tanpa al-istislam, maka mereka mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat lantaran malas –padahal dia hanya meninggalkan satu jenis amal–. Mereka juga mengkafirkan orang-orang yang menolak membayar zakat –berarti mereka telah menolak dengan kekuatan beberapa syariat yang zhahir dan mutawatir–. Tetapi para ghulatul Murjiah menyelisihi mereka dalam hal itu (Yaitu tiada Islam tanpa al-istislam), mereka tidak mengetahui hakekat Islam yang Allah ridhai sebagai Dien bagi manusia. Para sahabat radhiyallahu ‘anhu juga sepakat bahwa tidak ada Islam tanpa as-salamah (ikhlas/murni), maka mereka mengkafirkan sekelompok ahlu riddah yang kembali menyembah berhala –yaitu patung yang diukir dengan paras orang-orang shalih–, mereka tidak menjadikan baru masuk islamnya manusia, bermunculannya para Dajjal yang mengaku Nabi, dan merebaknya orang-orang yang menolak zakat di negeri Islam sebagai penghalang dikafirkannya mereka secara ta‘yin. Sedangkan Jahmiyah modern menyelisihi mereka dalam hal tersebut, di mana mereka menyalahi sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam : (Barang siapa mati, sedangkan dia mengilmui bahwa tidak Ada Ilah yang haq selain Allah, niscaya dia akan masuk surga). (HR. Muslim dari Utsman)

Bangunan Islam tidak akan benar tanpa bangunan-bangunan ini, siapa yang mengabaikan satu rukun saja, dikhawatirkan bangunan tersebut akan roboh menimpanya. Jika Keislaman seseorang telah runtuh/batal, maka dia akan binasa di dunia dengan tebasan pedang dan di akhirat dengan api. Rasulullah shalallah ‘alaihi wasallam bersabda : (Barang siapa yang mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia). (HR. Bukhari dari ibnu Abbas).

Sedangkan rukun Islam yang terbesar adalah rukun yang pertama, tanpanya keislaman seseorang tidak akan sah selamanya, yaitu syahadat tauhid, bersaksi bahwa tidak Ada ilah yang haq selain Allah, bahwa tidak Ada sesembahan dan yang ditaati dengan haq selain Allah, syahadat ini mencakup tauhid uluhiyah, rububiyah, asma dan sifat.

Abul Abbas ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : "Laa ilaaha illallah artinya pengukuhan keesaan-Nya dengan ilahiyah. Dan ilahiyah mencakup kesempurnaan ilmu, qudroh (kemampuan), rahmat dan hikmah-Nya. Di dalamnya juga terdapat pengukuhan sikap ihsan-Nya kepada para hamba. Karena Ilah artinya adalah ma‘luh, yaitu yang berhak untuk disembah. Realitas berhak untuk disembah merupakan satu sifat yang menuntut untuk menjadikannya sebagai sesuatu yang sangat dicintai dan yang dipatuhi secara penuh." (Taisir ‘Aziz al-Hamid).

Syahadat Laa ilaaha illallah adalah persaksian iman kepada Allah dan kufur kepada Thaghut, yaitu hanya Allah yang diibadahi, dan yang lain harus dikufuri. Itulah millah Ibrahim ‘alaihis sallam yang kita diperintah untuk mengikutinya, di mana beliau berkata kepada kaumnya : (Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami kafirkan kalian, dan telah nampak permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya hingga kalian hanya beriman kepada Allah semata). (QS. Al Mumtahanah : 4).

Imam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata : "Islam artinya berserah diri kepada Allah dengan tauhid, patuh kepadaNya dengan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya". (Ushul Tsalatsah)

Demikianlah arti as-salamah dan al-istislam kepada Allah. Seseorang tidak disebut Muslim selama tidak beribadah kepada Allah semata dan kufur kepada selain-Nya, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits bangunan Islam yang Lima : "Islam dibangun diatas Lima perkara, yaitu hendaklah Allah diibadahi dan selainNya dikufuri". (HR. Muslim dari ibnu Umar).

Tidak ada Islam tanpa beribadah kepada Allah (arti al-istislam), dan tidak ada Islam tanpa kufur kepada thaghut (arti as-salamah). Seseorang tidak akan selamat dari noda syirik dan kenajisan pelakunya, selagi dia tidak kufur kepada para thaghut pada zamannya, kesyirikan mereka, dan para pelakunya. Seperti para pelaku demokrasi, nasionalisme, fanatisme bangsa, dan pembuat undang-undang yang murtad dari Islam.

Diantara mereka adalah para kandidat, juru kampanye dalam Pemilu, berbagai fatwa dari partai-partai "islam" maz‘um (palsu), orang-orang yang berhukum kepada pengadilan-pengadilan buatan manusia dengan alasan Maslahat dan Dharurat, para aparat thaghut dan para ansharnya dari kalangan tentara, dan "para masyayikh", serta kelompok "ikhwanul murtadin", berikut partai-partainya, kesatuan-kesatuannya dan kroni-kroninya yang mengingkari tauhid, syariat, al wala wal bara, dan jihad. Menolak untuk komitmen dengan syariat, justru memeranginya, mengolok-oloknya, bahkan mendukung para salibis dan thaghut dalam memeranginya.

Oleh karena itu, seorang muslim wajib menampakkan pengingkarannya kepada mereka sesuai dengan kemampuan, baik dengan pena, lisan, pedang, dan tombak. Dengan berittiba‘ (mengikuti) kedua kekasih ar-Rahman (Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam dan Ibrahim ‘alaihi wasallam) –semoga shalawat dan salam terlimpah atas keduanya– dalam hal itu.

Perkara yang wajib diketahui bagi seseorang adalah bahwasanya Allah jalla wa ‘ala mewajibkan kepada manusia untuk ikhlas dan tunduk kepada-Nya, maka Allah perintahkan mereka untuk patuh kepada syariat-Nya, merujuk kepada hukum-Nya semata, dan berhati-hati dari perbuatan yang menyelisihi perintah-Nya, serta memerangi siapa saja yang tidak mau menjalankan sebagian syariat-Nya. Memerangi seluruh manusia berperang demi membela Dien ini dengan dua landasan tersebut: yakni ikhlas dan tunduk, tidak berhenti memerangi semua manusia sampai mereka berkomitmen dengan syariat dengan suka rela, kecuali mereka mau membayar jizyah dan tunduk kepada hukum Islam meski secara terpaksa.

Allah ta’ala berfirman: (Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang). (at Taubah: 5), dan firman-Nya: (JIka mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui). (at Taubah : 11), dan firman-Nya : (Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim). (al-Baqarah : 193). Firman-Nya: (Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan). (al Anfal:39) Firman-Nya: (Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah). (an-Nisa : 76), dan firman-Nya: (Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk). (at-Taubah : 29).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka beriltizam dengan rukun-rukun Islam yang nampak, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Pokok dari pada islam adalah bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Tiangnya adalah shalat, membayar zakat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah. Sungguh aku diperintahkan memerangi manusia agar mereka bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Nya, melaksanakan shalat, menunaikan zakat. Dan jika mereka melakukan hal tersebut, maka berarti darah dan harta mereka terjaga kecuali dengan haknya. Dan perhitungan mereka di sisi Allah). (HR Ahmad dari Muadz), dan beliau bersabda lagi: (Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, melaksanakan shalat, menunaikan zakat. Dan jika mereka melakukan hal tersebut maka berarti darah dan harta mereka terjaga kecuali dengan haknya. Dan perhitungan mereka di sisi Allah). (HR Bukhari dan Muslim dari Umar).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga memerintahkan Khalifahnya Syaikhul Islam Abu Bakar as-Shiddiiq radhiyallahu ‘anhu dengan hal yang sama. Dari Handzalah bin ‘Ali bin al-Asqa’ bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu dan memerintahkannya untuk memerangi manusia agar mereka menjalankan 5 rukun, dan barang siapa yang meninggalkan salah satu saja dari 5 rukun tadi, maka ia akan diperangi, 5 rukun tersebut adalah: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah,dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan, dan Haji. (as-Sunnah lil Khilal dan dan Tarikh al-Islam milk Adz-Dzahabi).

Dan merupakan kewajiban bagi ummat islam adalah memerangi para pelaku kesyirikan di atas satu panji, bukan di atas bendera golongan-golongan dan kelompok dengan mencampakkan Jamaah (Khilafah) dan Imamnya (Khalifah), firman-Nya: (Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh). (as-Shaf : 4).

Barisan tidak akan bersatu dan tamkin tidak akan terwujud bagi Dien tanpa wala’ dan bara’, Allah jalla wa ‘ala berfirman: (Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma‘ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana). (at-Taubah : 72). Firman-Nya: (Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam). (al-Baqarah : 251), firman-Nya: (Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui). (al-Maidah : 54).

Dan jamaah yang diwajibkan atas kaum muslimin adalah Khilafah al Qurasyiyah, yang mana Hudzaifah bin Yaman telah diperintahkan untuk berkomitmen dengannya. Jamaah ini dibangun di atas pondasi sebagaimana halnya dengan islam dibangun di atas pondasi, Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Aku memerintahkan kalian 5 perkara yang mana Allah memerintahkanku dengannya: mendengar, taat, jihad, hijrah, dan jamaah. Barang siapa yang berpisah dengan jamaah sejengkal saja, maka ikatan islam telah terlepas dari lehernya, kecuali ia kembali. Barang siapa yang menyeru kepada jahiiliyah maka bisa jadi ia akan terjerumus ke jahannam, maka seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, meski dia shalat dan puasa?” beliau bersabda: (Meski dia puasa dan shalat, maka serulah dengan seruan Allah yang telah memberi kalian gelar, Muslimun, Mukminun, dan Hamba Allah). (HR at Tirmidzi dari Harist al-Asy’ari)

Maka kita diperintahkan untuk berpegang teguh dengan Jama‘atul muslimin, berkomitmen dengannya, menggigitnya sekuat tenaga dengan geraham (teguh). Dimana Syariat Islam tidak akan bisa terwujud di permukaan bumi kecuali dengannya. Ia dibangun di atas 5 pondasi setelah pondasi-pondasi islam : Hijrah, mendengar, taat, jamaah, dan jihad. Maka tidak berlaku mendengar, taat, dan jamaah tanpa berbai‘at kepada imam (Khalifah). Tidak ada hijrah tanpa ada yang menaungi dan menolong. Tidak ada jihad tanpa I’dad, ribath, dan perang.

Mahdi berkata saat berbicara dengan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu: "Bahwa tidak ada islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa kekuasaan dan tidak ada kekuasaan tanpa ketaatan.” (Sunan ad-Darimi).

Karena pentingnya Jama‘ah muslimin demi wujudnya Dien Islam, maka kita diperintahkan untuk menyeru kepada rukun-rukunnya setelah mendakwahkan rukun Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Berperanglah di jalan Allah dengan nama Nya, perangilah siapa yang mengkufuri-Nya, berperanglah namun jangan berlebihan, jangan berkhianat, jangan memutilasi, dan jangan membunuh anak kecil. Jika kamu bertemu musuhmu dari kalangan musyrikin maka serulah mereka kepada 3 perkara, dimana jika diantara 3 hal ini mereka mau melaksanakannya maka terimalah, dan berhentilah memerangi mereka! Pertama, serulah mereka kepada islam, jika mereka menyambutnya dan mau masuk islam, maka terimalah dan tahanlah dirimu dari mereka. Kedua, kemudian serulah mereka untuk berpindah dari negri mereka tinggal, menuju negri muhajirin (Madinah), dan kabarkan jika mereka melakukan hal itu maka kewajiban dan hak mereka sama dengan muhajirin lainnya. Ketiga, namun jika mereka enggan, maka beri tahu mereka bahwa posisi mereka seperti arab badui muslimin, berlaku kepada mereka hukum Allah sebagaimana kaum mukmin lainnya, namun mereka tidak mendapatkan bagian dari ghanimah dan Fai sepeserpun kecuali mereka keluar berperang bersama kaum muslimin). (HR Muslim dari Buraidah)

Maka barang siapa yang tidak berhijrah pada masa itu mereka seperti orang-orang arab badui, (orang-orang arab badui adalah tercela dalam firman Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam) dan ini adalah hukum hijrah menuju Madinah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari negeri yang penduduknya sudah masuk Islam, lalu bagaimana dengan mereka yang rela tinggal di tengah-tengah kaum musyirikin? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Aku berlepas diri dari setiap yang tinggal ditengahtengah kaum musyrikin di negri mereka). (HR Thabrani dan Baihaqi dari Jarir bin Abdullah)

Allah ‘azza wa jalla berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang- orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan). (al-Anfal : 72), dan firman-Nya: (Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia*. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga)”. (al-Anfal : 74-75)

Karena penting dan mendesaknya jamaah muslimin, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti supaya tidak keluar darinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Barang siapa yang keluar dari ketaatan, berpisah dengan jamaah lalu mati, maka matinya dalam keadaan jahiliyah). (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas), dan sabdanya : (Barang siapa yang keluar dari ketaatan, ia tidak akan mendapatkan hujjah saat bertemu dengan Allah, dan barang siapa yang mati dan tidak ada ikatan baiat atasnya maka matinya mati jahilyah). (HR Muslim dari Ibnu Umar)

Bahkan karena sangat penting dan mendesaknya, Nabi shallahu ‘alaihi wasallam menghalalkan darah siapa saja yang memecah belah barisannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Sungguh akan ada kerusakan dan keburukan, barang siapa siapa yang ingin memecah belah perkara ummat ini, maka tebaslah ia dengan pedang, siapapun itu). (HR Muslim dari ‘Arafajah), dan dalam riwayat lain: (Barang siapa ada yang mendatangi kalian, sedangkan perkara kalian berada dalam kepemimpinan satu lelaki (khalifah), dia ingin memecah belah persatuan kalian, atau memecah belah jamaah kalian, maka bunuhlah dia). Dan sabdanya: (Jika dibaiat dua khalifah maka bunuh yang terakhir dari keduanya). (HR Muslim dari Sa’id al-Khudri), dan sabdanya: (Tidak halal darah seseorang yang bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan bahwa aku utusan Allah kecuali dengan tiga perkara: 1. Orang yang berzina, 2. jiwa dibalas jiwa (Qisos), 3. orang yang meninggalkan diennya yang meninggalkan jamaah). (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

Dan termasuk nikmat Allah bagi muwahhidin adalah memperbarui jamaah ini (Khilafah) untuk mereka –tanpa ada daya dan kekuatan dari mereka–, setelah ia hilang selama berabad-abad. Dan memang seharusnya saat kewajiban (mendirikan khilfah) itu hilang dari setiap leher muslim, mereka harus intropeksi diri lagi dan berusaha untuk mendirikannya kembali, dan sekarang kini ia telah kembali. Maka wajib bagi setiap muslim bersyukur kepada rabbnya dalam bentuk perkataan dan perbuatan, serta membicarakan nikmat ini dalam mejelis-majelis umum maupun khusus, Firman-Nya: (Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan). (ad-Dhuha : 11)

Dan dengan cara menjaga nikmat ini, membelanya, berperang deminya, berkomitmen dengan rukunnya (Hijrah, Mendengar, taat, Jamaah, dan jihad) dan hal-hal yang harus dilakukan untuk melaksanakan rukun ini (menaungi, menolong, baiat, I’dad, ribath) agar Allah menambahkan karunia-Nya. Allah jalla wa ‘ala berfirman: (Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih). (Ibrahim : 7)

Ya Allah berikanlah penaklukkan atas kota Kostantinopel dan Roma melalui tangan kami. Dan jadikan kami hamba-Mu yang bersabar dan bersyukur, aamiin.

AKAN SENANTIASA ADA SEKELOMPOK ORANG DIANTARA UMATKU YANG BERPERANG DI JALAN ALLAH

RUMIYAH 1 – ARTIKEL

AKAN SENANTIASA ADA SEKELOMPOK ORANG DIANTARA UMATKU YANG BERPERANG DI JALAN ALLAH

Siapa saja yang mengamati media Daulah Islam, dan melihat betapa ia memfokuskan pada opini bahwa agresi salibis yang dihadapi oleh para tentara daulah dengan segenap keberanian dan kepahlawanan sekarang sebagai agresi terakhir, dengan izin Allah, akan segera berkesimpulan bahwa para tentara daulah beranggapan bahwa agresi atas mereka ini adalah puncaknya, dan merupakan fase terakhir dari perjalanan jihad yang panjang.

Siapapun yang mengetahui hakekat Islam akan mengerti bahwa thaifah manshurah tidak akan pernah meletakkan senjata atau berhenti dari memerangi orang-orang musyrik, karena syirik akan terus ada hingga hari kiamat. Tidaklah seorang mukminpun melainkan wajib berjihad dan memerangi mereka hingga mereka tunduk kepada hukum Allah Ta‘ala, sebagaimana orangorang musyrik yang akan terus memerangi umat Islam selagi masih ada diantara mereka yang masih hidup sampai mereka memurtadkan orang-orang mukmin dari Diennya sebisa mungkin.

Ketika Amerika mengomandoi agresi salibis atas umat Islam ini, maka sebentar lagi agresi ini akan berakhir dengan izin Allah, dan dengan sendirinya Amerika akan menarik diri guna mengobati luka-luka yang dideritanya dan mengganti kerugian yang menerpanya, demi mempertahankan modal awal setelah merasa yakin bahwa untuk meraih untung sangat berat dan sulit. Hari ini, kita melihat Amerika mendesak sekutunya untuk ikut menanggung biaya serangan udara dan mensupport pasukan murtad di lapangan sekaligus mendanainya. Dengan mundurnya Amerika dari medan tempur, berakibat negara-negara salib lain akan kesulitan mengatur front-front pertempuran yang cukup luas disertai hilangnya persatuan akibat perpecahan yang melanda negara-negara koalisi.

Tetapi, barang siapa yang melihat lebih seksama niscaya akan mendapati bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang musyrik di luar salibis. Ada Yahudi, atheis tak beragama, orang-orang musyrik Hindu, Budha dan Paganis. Ada juga para thaghut yang menguasai negeri-negeri kaum Muslimin yang terampas. Ada lagi orangorang murtad diantara para pengaku Islam, seperti Rafidhah, para penyembah kubur dan para penganut paham demokrasi. Ada juga orang-orang shahawat murtad yang loyal kepada kelompok musyrik manapun demi tidak ditegakkannya hukum syari’at dan agar agama tidak sepenuhnya milik Allah. Ada juga kelompok lain yang barangkali sekarang tidak kita ketahui, tetapi Allah Maha Tahu kapan mereka akan memunculkan permusuhannya dan memerangi pemeluk tauhid.

Bangsa-bangsa musyrik ini tidak kalah sengit permusuhannya kepada orang-orang beriman daripada Nasrani salibis, bahkan lebih keras, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Kamu benar- benar akan dapati manusia Yang paling keras permusuhannya kepada orangorang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik“ (QS. al-Maidah: 42).

Mayoritas bangsa-bangsa ini ikut campur memerangi islam dan kaum muslimin. Penindasan mereka terhadap kaum muslimin dan permusuhan mereka terhadap syiar-syiar islam tidak pernah lekang dari ingatan kita.

Kita masih ingat sejarah kejahatan kelompokkelompok tersebut kepada umat Islam. Masih terngiang kisah para atheis Mongol yang memerangi umat islam di dalam negeri mereka sendiri, melenyapkan negara dan khilafah, menghancurkan peradaban, menumpahkan darah, dan menimpakan luka yang paling menyakitkan dibanding luka-luka setelahnya.

Begitu juga kisah perseteruan umat islam dengan para thaghut murtad yang mengaku islam, khususnya pada abad yang lalu, deritanya tidak kalah menyakitkan dari kisah perseteruan dengan para salibis yang datang dari seberang lautan (Eropa).

Jika agresi salibis ini gagal, dengan izin Allah, niscaya berbagai bangsa musyrik akan melakukan serangan demi serangan lain setelahnya. Umat Islam harus berjihad melawan, dan bersabar sebagaimana sabarnya mereka menghadapi agresi salibis yang bertubi-tubi, hingga seandainya serangan orang-orang musyrik terhadap negeri Islam itu berhenti, maka umat Islam tetap wajib untuk menyerang kaum musyrikin di negeri mereka, memasuki pintu-pintu mereka, menghancurkan kekuatan mereka, mencampakkan panji-panji mereka dan melanjutkan pengejaran kepada mereka, hingga bumi semuanya diatur dengan agama Allah saja, dan hingga orang-orang musyrik semuanya tunduk kepada hukum Allah azza wa jalla.

Eksisnya umat islam dalam memerangi orang-orang musyrik merupakan sunatullah yang menjadi ciri khas agama yang agung ini dan pemeluknya. Allah Ta‘ala telah mengikat tegaknya agama ini dengan perang tersebut, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Agama ini akan tetap tegak, selama masih ada sekelompok umat islam yg mau berperang di atasnya, hingga hari kiamat terjadi “. (HR. Muslim)

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain :

“Akan sentiasa ada diantara umatku yang berperang di atas perintah Allah, keras terhadap musuh mereka dan tidak terpengaruh oleh orang yang menyelisihi mereka, hingga kiamat datang sedangkan mereka tetap kokoh di atas hal itu“. (HR. Muslim)

Oleh karenanya, hendaklah setiap muslim berusaha sungguh-sungguh untuk bergabung dengan barisan muwahhid yang tidak akan terputus hingga hari kiamat ini, karena mereka tidak akan terpengaruh oleh orang yang menyelisi maupun penggembos, tetapi mereka akan tetap eksis dalam jihad mereka dengan ketentuan dari Allah yang menggiring mereka. Setiap mujahid juga harus selalu memperbarui niat untuk terus melanjutkan jihadnya memerangi orang-orang musyrik hingga ajal menjemput. Hingga Allah membangkitkannya dalam golongan orangorang yang diberi nikmat diantara para Nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada, Dan alangkah baiknya teman-teman seperti mereka.

BANGKIT DAN MATILAH DIATAS APA YANG DIPERJUANGKAN SAUDARAMU

RUMIYAH 1 - PENGANTAR

BANGKIT DAN MATILAH DIATAS APA YANG DIPERJUANGKAN SAUDARAMU

Para penganut kebathilan di setiap waktu menjadikan terbunuhnya orang-orang shalih di tangan musuh-musuh islam baik dari kalangan musyrikin maupun murtaddin sebagai kabar gembira bagi mereka dan menganggap itu adalah kehancuran bagi muwahhidin; apakah orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa Allah ta’ala telah menetapkan ajal bagi setiap jiwa sebelum diciptakannya langit dan bumi?

Allah ta’ala berfirman:

(Tiap-tiap umat mempunyai (ajal); maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya) (QS al-A’raf: 34)

Takdir ini mencakup seluruh manusia baik dia Nabi, wali, orang bertaqwa, maupun orang kafir atau Dzalim. Orang-orang bodoh itu tidak tahu bahwa Allah ta’ala dengan segala kehendak-Nya akan terus menjagaDien-Nya. Dien ini akan senantiasa tegak, tidak berpengaruh dengan gugurnya siapapun. Jika kematian itu berpengaruh dan membahayakan dien, tentu kematian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan sangat membahayakannya.

Namun kenyataannya dien ini tetap eksis setelah kematian mereka. Bahkan Allah semakin menguatkannya dan meluaskan penyebarannya di seluruh penjuru bumi, dengan penjagaan-Nya dan dengan menggerakkan hamba-hamba-Nya yang shalih untuk menolong dien-Nya, yang ciri mereka terdapat dalam firman-Nya:

(Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela) (QS al-Maidah: 54)

Para rabbani yang benar-benar takut kepada Allah dan beribadah untuk-Nya dengan sebenar-benar ibadah, jika ada orang shalih dari mereka yang meninggal, mereka tidak akan berkata kecuali mengingatkan saudara-saudaranya dengan apa yang pernah dikatakan Abu Bakar as-Shidiq –radhiyallahu ‘anhu– kepada para sahabatnya setelah wafatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam:

“Barang siapa yang menyembah Muhammad sungguh Muhammad telah mati, dan barang siapa yang menyembah Allah maka Allah hidup dan tidak akan mati.”

Adapun para mujahidin di jalan Allah, mereka adalah ciptaan Allah yang spesial, yang Allah pilih dari sekian banyak hamba-Nya untuk menjadikannya sebagai syuhada’, dan memberikan mereka ganjaran yang besar. Kematian para komandan dan umara’ yang dahulu menerjuni kancah peperangan di depan mereka dan berperang demi Dien, tidak menambah kecuali keteguhan dan semangat untuk tetap memerangi musuh-musuh Allah. Mereka tidak akan berkata kecuali seperti kata-kata Anas bin Nadhr –radhiyallahu ‘anhu– kepada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ia melihat semangat mulai mengendor setelah tersiar kabar dusta kematian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Katanya: “Apa yang mengendorkan semangat kalian? Mereka berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal!” Ia membalas: “Lalu apa yang kalian harapkan dari kehidupan setelah kematiannya? Bangkit dan matilah di atas apa yang diperjuangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam!” Maka mereka pun bangkit dan berperang hingga terbunuh.

Ini adalah sunnah bagi muwahhidin di setiap zaman dan tempat. Setiap kali satu generasi gugur maka munculah generasi lain yang kembali mengemban panji tauhid dan bangkit menyelami peperangan sekali lagi dalam melawan kesyirikan dan para penganutnya. Moto setiap dari mereka adalah: ”Bangkit dan matilah di atas apa yang diperjuangkan saudaramu yang telah mendahuluimu dalam keimanan”.

Sungguh terbunuhnya saudara-saudara kita terdahulu yang kokoh kesabarannya seperti Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani –taqobbalahullah– tidak akan membahayakan islam sedikitpun, karena islam akan selalu dijaga oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Juga tidak akan membahayakan saudara-saudara kami sedikitpun, karena kami menganggap mereka semua tidaklah keluar berperang di jalan Allah kecuali untuk mengharapkan mati syahid, maju pantang mundur. Allah ta’ala berfirman tentang mereka:

(Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati* Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman..) (QS Ali Imran: 169-171).

Sungguh terbunuhnya mereka tidak akan membahayakan Daulah Islamiyah dengan izin Allah selama ia tetap teguh di atas tauhid dan Sunnah. Allah akan mengaruniakan kepada Daulah para kesatria yang membuat geram orang-orang kafir dan melegakan dada-dada orang beriman. Sebagaimana Allah mengaruniakannya para kesatria yang membangun pondasinya, menegakkan tiangnya, dan meninggikan bangunannya, sampai hari ini ia memperoleh kemuliaan dan tamkin dengan karunia Allah.

Ketika orang-orang musyrik dan murtad gembira dengan terbunuhnya Syaikh Abu Mus’ab az-Zarqawi –taqobbalahullah– mereka tidak tahu bahwa Allah akan menggerakan bala tentara Syaikh yang akan menyungkurkan muka mereka ke dalam tanah. Diantara para kesatria yang membuat mereka geram adalah Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani taqobbalahullah.

Hari ini mereka bergembira dengan terbunuhnya Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani –taqobbalahullah–, namun kelak mereka berteriak meratap ketika Allah –dengan izin-Nya– mengirim orang-orang yang akan memberikan mereka siksaan pedih, yaitu bala tentara Abu Muhammad dan rekan-rekannya,

(Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa) (QS al-Hajj: 40)

PERANG DENGAN PEDANG

DABIQ 15 - ARTIKEL

PERANG DENGAN PEDANG

Gambaran dari singa-singa Daulah Islam yang menyambar mangsanya di medan perang Iraq, Syam, dan lainnya – seperti di Paris, Brussels, Orlando, dan kota-kota lainnya yang berada di belakang garis pertahanan musuh – mengirimkan sebuah pesan yang jelas kepada Salibis dan sekutu mereka : ini adalah sebuah perang agama berantai antara bangsa Muslim dan bangsa kafir. Meskipun dengan kejelasan ini, banyak orang di negara-negara Salibis mengekspresikan keterkejutan dan bahkan kejijikannya ketika kepemimpinan Daulah Islam "menggunakan agama untuk membenarkan kekejamannya." Sesungguhnya, melancarkan jihad - Menyebarkan hukum Allah dengan pedang - merupakan kewajiban yang ditemukan dalam Al-Qur’an, perkataan Tuhan kami, sebagaimana itu juga merupakan kewajiban yang disampaikan didalam Taurat, Zabur, dan Injil.

Di dalam sisa-sisa Taurat, ditemukan bahwa "Tuhan adalah pahlawan perang" (Keluaran 15:3), dan juga - mengenai Bani Israil yang pergi ke Palestina - "TUHAN Allahmu akan membawamu ke negeri yang akan kamu masuki dan miliki. Ia akan mengusir banyak bangsa dari hadapanmu, baik orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kan’aan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus. Itulah tujuh bangsa yang lebih besar dan lebih kuat daripada kamu. TUHAN, Allahmu, akan membuat mereka di bawah kuasamu. Kamu akan mengalahkan mereka dan kamu harus membinasakan mereka semua. Kamu tidak boleh membuat perjanjian dengan mereka atau mengasihani mereka” (Ulangan 7:1-2).

Perintah genosida ini selanjutnya dijelaskan dengan:

“Apabila kamu sudah mendekati kota yang akan kamu serang, haruslah kamu menyerukan untuk berdamai. Jika mereka menyetujui untuk berdamai dan membuka pintu gerbangnya untukmu, maka semua orang di kota itu akan bekerja dan menjadi budakmu serta melayanimu. Akan tetapi, jika kota itu tidak mau berdamai denganmu dan berperang melawanmu, kamu harus mengepung kota itu. Ketika TUHAN, Allahmu, menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu, kamu harus membunuh semua laki-laki yang ada di sana dengan pedang. Namun, perempuan, dan anak-anak, dan hewan, dan segala sesuatu yang terdapat di kota itu untukmu, yaitu seluruh jarahan boleh kamu ambil sebagai barang jarahan untuk diri sendiri. Kamu boleh menggunakan barang jarahan dari musuhmu yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Demikianlah, kamu harus melakukannya terhadap kota-kota yang jauh darimu, yang tidak termasuk kota-kota dari bangsa-bangsa ini. Akan tetapi, kota-kota dari bangsa ini yang diberikan oleh TUHAN, Allahmu, kepadamu sebagai sebuah warisan, janganlah kamu membiarkan hidup apa pun yang bernafas. Namun, kamu harus membinasakan mereka semuanya, orang Heti, orang Amori, orang Kan’aan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang telah diperintahkan oleh TUHAN, Allahmu. Dengan demikian, mereka tidak akan mengajarimu untuk melakukan hal-hal menjijikkan yang telah mereka lakukan kepada allah-allah mereka sehingga kamu berdosa terhadap TUHAN, Allahmu.“ (Ulangan 20:16).*

*Catatan penerjemah : dalam alkitab online (http://alkitab.sabda.org) silahkan merujuk: Ulangan: 20:10-18

Dan seperti yang dikutip Daud, dan dikatakan kepada musuhnya, "Pada hari ini juga, engkau akan diserahkan oleh TUHAN ke dalam tanganku. Aku akan mengalahkanmu dan memenggal kepalamu" (1 Samuel 17:46), dan setelah menaklukkannya, dia dilaporkan memenggal kepalanya. "Berlarilah Daud menghampiri orang Palestina (goliat) itu, lalu berdiri di dekatnya. Ia mengambil pedangnya, lalu dihunusnya dari sarungnya untuk menghabisinya dengan memancung kepalanya ... Daud mengambil kepala orang Palestina itu, dan membawanya ke Yerusalem … Ketika Daud kembali setelah mengalahkan orang Palestina itu, Abner pun memanggilnya dan membawanya menghadap Saul, sementara kepala orang Palestina itu di tangannya. “ (1 Samuel 17: 51-57).

Setelah aturan Tuhan didirikan, pedang tidak akan disingkirkan melainkan akan tetap terus terhunus untuk melaksanakan aturan tersebut. penghujat akan dibunuh dengan dirajam. "Setiap orang yang menghujat nama TUHAN haruslah dihukum mati. Seluruh umat harus merajam orang itu. Baik warga Israil maupun orang asing yang menghujat TUHAN harus dihukum mati" (Imamat 24:16).

Adapun orang yang murtad atau yang menyeru untuk menyembah Allah lain, maka "Janganlah kamu menuruti dan mendengarkan mereka atau mengasihani mereka. Janganlah kamu menyayangi atau melindungi mereka. Namun, kamu harus membunuhnya. Haruslah tanganmu yang pertama membunuhnya" (Ulangan 13:8-9).

Demikian juga, seorang pembunuh harus dieksekusi. "Jika seseorang membunuh sesamanya, ia harus dihukum mati" (Imamat 24:17).

Dan pelaku sodomi dibunuh. "Jika seorang laki-laki melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain, seolah melakukannya dengan seorang perempuan, keduanya telah melakukan kekejian. Mereka harus dihukum mati. Darah mereka akan tertanggung atas diri mereka sendiri" (Imamat 24:13)**

**Catatan penerjemah : dalam alkitab online (http://alkitab.sabda.org) silahkan merujuk: Imamat 20:13

Selain itu, ada hukuman setimpal (dikenal sebagai "qishash" dalam syari’at). "Jika seseorang melukai sesamanya, apa pun yang dilakukannya, orang itu harus diperlakukan sama seperti perbuatannya" (Imamat 24:19), dan "maka hukuman untuk kejahatan itu adalah nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki. luka bakar ganti luka bakar, memar ganti memar, terpotong ganti terpotong" (Keluaran 21:23-25).

Disebutkan dalam Mazmur bahwa kebijaksanaan dibalik ditakdirkannya ketetapan ilahi untuk membunuh: "Ketika Ia membunuh mereka, mereka akan mencari-Nya, mereka menyesal dan kembali kepada Allah" (Mazmur 78:34), sama seperti didalam Perjanjian Lama, ditemukan bahwa "terkutuklah orang yang menahan pedang-Nya dari menumpahkan darah" (Yeremia 48:10).

Bahkan Yesus, yang telah dinisbatkan oleh orang-orang Kristen sebagai "Putera peramaian," tercatat dalam kitab suci mereka mengatakan, "Janganlah kamu mengira bahwa Aku datang untuk menebarkan damai di atas bumi; Aku tidak datang untuk menebarkan damai, tetapi pedang" (Matius 10:34).

Begitu juga perintah Yesus kepada para pengikutnya agar mempersenjatai diri, dengan berkata, "dan siapa yang tidak mempunyai pedang, harus menjual jubahnya untuk membeli pedang" (Lukas 22:36).

Dan juga saat menceritakan sebuah perumpamaan, dituliskan bahwa Yesus berkata, "Akan tetapi, tentang musuh-musuhku yang tidak menginginkan aku menjadi raja atas mereka, bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka di hadapanku" (Lukas 19:27).

Adapun dalam menegakkan hukum, maka sebuah langkah yang jelas untuk memerintahkan kebajikan dan melarang perbuatan jahat, terutama yang dilakukan dengan kekuatan fisik, keempat "Injil" menyebutkan kisah Yesus yang mengusir dengan keras penukaran uang dari gereja. "Kemudian Yesus masuk ke Rumah Tuhan, dan mengusir semua orang yang berjual beli di situ. Ia menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang, dan bangku-bangku penjual burung merpati. Ia berkata kepada mereka, "Telah tertulis, 'Rumah-Ku akan disebut rumah doa,' tetapi kamu menjadikannya sebagai sarang para perampok." (Matius 21: 12-13).

Selain itu, segala sesuatu yang disebutkan dari Perjanjian Lama terkait perang dan penegakan hukum disimpan, kecuali yang secara khusus disebutkan sebaliknya, dalam Injil, Yesus disebutkan. "Jangan berpikir bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya" (Matius 5:17).

Namun, meskipun dengan referensi yang jelas untuk menerapkan hukum Tuhan dengan keras, orang Kristen memilih menyingkirkan perintah tersebut dan mengikuti keputusan paus dan khotbah dari pendeta mereka - menunjukkan bahwa cinta mereka kepada manusia lebih besar daripada cinta mereka kepada Pencipta manusia. Sesungguhnya mereka telah menyingkirkan cinta mereka kepada Sang Pencipta dan mengabdikan diri untuk mencintai yang diciptakan, dan juga tidak mengindahkan perkataan Yesus, "Tidak ada pelayan yang dapat melayani dua majikan karena ia akan membenci majikan yang satu dan menyukai majikan yang lain. Atau, ia akan patuh kepada majikan yang satu dan mengabaikan yang lainnya" (Lukas 16:13).

Hal ini mewujudkan kemunafikan masyarakat salibis, yang secara "religius" selalu menyeru kepada slogan perdamaian dan cinta kasih, lalu membenci dan menghina Hukum Musa dan Injil Yesus, karena mereka lebih memilih hukum demokrasi dan keputusan PBB.

Perbedaan yang jelas antara Muslim dan Yahudi dan Kristen yang menyimpang dan sesat adalah bahwa umat Islam tidak malu dalam mematuhi aturan yang diturunkan dari Tuhan mereka tentang perang dan penegakan hukum ilahi. Apabila itu adalah orang Islam dan bukannya salib, yang memerangi Jepang dan Vietnam atau yang menginvasi tanah penduduk asli Amerika, maka tidak akan ada penyesalan ketika membunuh dan memperbudak mereka. Karena mujahidin begitu terikat dengan Hukum ilahi, mereka menerapkannya secara menyeluruh dan tanpa "maslahat politik" dimana harus meminta maaf beberapa tahun kemudian. Jepang misalnya, akan dipaksa masuk Islam dari paganisme mereka - dan jika mereka keras kepala menolak, mungkin nuklir lainnya akan mengubah pikiran mereka. Vietnam juga akan ditawari Islam atau tidur di napalm.

Adapun dengan penduduk asli Amerika - setelah membantai laki-laki mereka, agar sebagian dari mereka menyerah kepada Tuhan - maka Muslim akan mengambil perempuan dan anak-anak yang masih hidup sebagai budak, membesarkan anak-anak dengan model Muslim dan menghamili perempuan mereka untuk menghasilkan generasi baru mujahidin.

Adapun untuk orang-orang Yahudi khianat dari eropa dan di tempat lainnya - mereka yang akan mengkhianati perjanjiannya - maka laki-laki mereka yang telah puber akan menghadapi pembantaian yang akan membuat dongeng Holocaust menjadi seperti cerita pengantar tidur, dan perempuan mereka akan menjadi pelayan dari pembunuh suami dan ayah mereka.

Selanjutnya, perdagangan budak Afrika yang menguntungkan akan terus berlanjut untuk mendukung perekonomian yang kuat. Kepemimpinan Daulah Islam tidak akan melewatkan izin Allah untuk menjual manusia pagan yang tertangkap, untuk mengajar mereka dan mengubah mereka (menjadi muslim), sebagaimana mereka bekerja keras untuk tuan mereka dalam membangun negara yang indah. Tentu saja, secara khusus orang-orang diantara mereka yang bertobat, mempraktekkan agama dengan baik, akan dibebaskan dan diperlakukan sama dengan Muslim merdeka lainnya. Ini tidalah sama dengan budak Kristen yang dibebaskan di Amerika, karena mereka tidak diberikan "hak" yang seharusnya oleh pemerintah yang diakui selama lebih dari satu abad - dan keturunan mereka masih hidup di sebuah negara yang terpecah pada masa kini.

Semua ini akan dilakukan bukan demi rasisme, nasionalisme, atau kebohongan politik, tetapi untuk membuat kalimat Allah menjadi yang tertinggi. Jihad menunjukkan ekspresi kecintaan pokok seseorang kepada Penciptanya, menghadapi dentingan pedang dan dengungan peluru di medan perang, mencari-cari untuk menyembelih musuh-Nya - yang ia benci karena Allah membenci mereka. Sebuah agama bila tanpa dasar-dasar seperti ini merupakan agama yang tidak menyeru pengikutnya untuk mewujudkan agama seutuhnya dan menjunjung tinggi kecintaan kepada Tuhan.

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 15

DABIQ 15 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Sejak awal kontroversi Arian antara Trinitarian (trinitas) dengan Unitarian (ketunggalan Tuhan), kantor Paus Roma telah diisi oleh uskup-uskup yang menentang keras monoteisme. Kobaran Api ini dinyalakan kembali pada abad ketujuh (masehi), ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus dan menyatakan bahwa tidak ada yang layak untuk disembah kecuali hanya Allah dengan tanpa menyekutukan-Nya. Beberapa abad kemudian di Dewan Clermont, Paus Urbanus II membuat sudut pandang Gereja tentang Islam menjadi jelas. Yaitu ketika ia Mengklaim dirinya mendapat wahyu ilahi dan menyerukan untuk membinasakan semua Muslim yang menyebarkan hukum Allah dengan berkata, "Pada kesempatan ini, saya atau lebih tepatnya Tuhan, menasehatkan kamu sebagai pembawa kabar dari Kristus untuk mempublikasikan ini di manapun dan membujuk semua orang dengan pangkat apapun, baik tentara infantri maupun ksatria berkuda, miskin dan kaya, untuk segera membawa bantuan kepada orang-orang Kristen dan menghancurkan ras keji dari tanah teman kita." inilah perkataan yang meluncurkan Perang Salib, dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Selama berabad-abad, Paus sesudahnya juga terang-terangan dan dengan keras mengakui tujuan mereka untuk memberantas Islam melalui perang dan pemurtadan, Paus Callixtus III pada abad ke-15 bersumpah "untuk membasmi habis-habisan sekte jahat dan terkutuk dari pengikut setia Muhammad [Islam] di Timur;" dan sebagaimana Eugene IV, pendahulunya yang menyatakan harapan bahwa "dengan segera akan banyak dari pengikut sekte keji Muhammad yang memeluk agama Katolik" (Dewan Basel pada 1434).

Selama terus berkecamuknya peperangan antara Islam dan Gereja pagan, dan juga ketakutan akan kehilangan pengikutnya yang memeluk Islam, beberapa pihak Kristen mulai mengatakan hal yang lebih tepat tentang musuh mereka dan tujuan Islam yang sesungguhnya, yaitu untuk menghancurkan sistem buatan manusia dan "kebebasan" yang rusak. Benediktus XVI misalnya - pendahulu Francis – menjelaskan bahwa demokrasi "bertentangan dengan esensi Islam yang tidak memiliki pemisahan antara ranah politik dan agama dimana hal ini telah dimiliki oleh kristen sejak awal" (Kebenaran dan Toleransi). Meskipun ia seorang pendusta, namun dia berkata tentang kebenaran dalam masalah ini – tidak diragukan lagi bahwa demokrasi bertentangan dengan esensi Islam – dan dengan cara demikian menunjukkan kemurtaddan (penyeru demokrasi) dari Islam, seperti sebagian besar "imam" di Barat dan mereka yang disebut guru di universitas "Islam" yang memiliki pemahaman lebih rendah dari kafir Benediktus tentang Islam.

Beberapa waktu kemudian, Benediktus berusaha melecehkan Islam lagi dengan mengejek Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi hal itu merupakan sesuatu yang sama dengan apa yang diserukan oleh sebagian besar nabi yang membawa Taurat, Zabur, dan Injil, yaitu perintah untuk menyebarkan agama dengan pedang*. Dengan demikian, Benediktus menghinakan perintah yang ditemukan didalam Perjanjian Lama dan baru untuk memerangi orang-orang musyrik dengan mengutip perkataan Manuel II Palaiologos, Kaisar Bizantium yang berkata: "Tunjukkan padaku bahwa apa yang dibawa Muhammad adalah hal baru, dan di sana Anda hanya akan menemukan hal-hal jahat dan tidak manusiawi, seperti perintah untuk menyebarkan agama dengan pedang dalam ajaran agamanya." agama Islam akan terus disebarkan dengan pedang, meskipun Benediktus membencinya. Semoga Allah menyingkap kejahatan dan kekejaman Benediktus dan membongkar aibnya didunia, yaitu alasan sebenarnya di balik skandal pengunduran dirinya dari paganisme Kepausan.

*Untuk membaca beberapa ayat dalam bibel / injil terkait kewajiban menyebarkan agama dengan pedang, silahkan merujuk artikel dengan judul “Dengan Pedang” pada edisi ini di halaman 78-80.

Meskipun dengan adanya kejelasan dari masa lalu dan kebusukan Paus terkait kebenciannya terhadap islam dan ajarannya, Francis, paus saat ini telah berjuang melawan kenyataan untuk mengiklankan penyimpangan (imam) murtaddin sebagai ajaran agama yang sebenarnya bagi umat Islam. Jadi ketika Benediktus dan banyak paus sebelumnya menekankan permusuhan antara paganisme Kristen dengan monotheisme (tauhid) Muslim, apa yang dikerjakan Francis sekarang ini lebih tajam dan memperjelas kata-kata konfrontatif yang akan menghinakan mereka yang dengan dusta mengklaim Islam, yaitu mereka (murtaddin) yang dapat memerankan peran sempurna sebagai alibi infiltrasi kristen ke negeri-negeri Muslim. Sementara Benediktus XVI menemui celaan publik karena mengutip perkataan dari seorang kaisar Bizantium berabad-abad lalu, Francis malah terus bersembunyi di balik tabir tipuan "perbuatan baik," demi menutupi niat yang sebenarnya untuk menenangkan bangsa Muslim. Hal ini dicontohkan dalam pernyataan Francis bahwa "rasa hormat kami kepada pengikut Islam yang sebenarnya, seharusnya membawa kita untuk menghindari generalisasi kebencian, Islam yang otentik dan menafsirkan Qur’an dengan tepat akan dapat melawan setiap bentuk kekerasan" (sukacita Injil).

Bagian dari pendekatan untuk menaklukan umat Islam dan menenangkannya yaitu berkoordinasi dengan lembaga terkenal seperti Universitas al-Azhar, sebuah institute Sufi Asy'ari yang dengan dusta diangkat sebagai wakil dari Muslim Sunni dari seluruh dunia. Metode ini merupakan upaya untuk membenarkan klaim sesat bahwa negara Muslim tidak memiliki pusat kewenangan - seperti dalam kekhalifahan - tapi ia "diatur" oleh beberapa ulama di universitas. Adnane Mokrani, seorang budak Gereja Katolik dari Tunisia mengomentari pelukan Francis kepada Ahmed el-Tayeb - pemimpin Universitas al-Azhar Kairo – dengan berkata, "Islam tidaklah seperti Gereja Katolik. Tidak ada satu pusat sentral kewewenangan dalam islam. Yang Ada hanyalah lembaga-lembaga, dan perguruan tinggi tradisional di dunia Islam." Sebaliknya, sejarah dan berbagai buku membantah pernyataan bodoh dan jelas bertujuan buruk ini. Setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, para sahabatnya bersepakat bahwa hal yang paling penting yang dihadapi bangsa Muslim saat itu adalah menunjuk pemimpin berikutnya sebagai pusat wewenang. Mereka melakukannya dengan tepat waktu, dan wewenang itupun terus berjalan tak terputus selama ratusan tahun. Otoritas (pemegang wewenang) ini disebut dengan kekhalifahan, dan didirikan kembali pada "2014" melalui janji setia (bai’at) kepada Syaikh Abu Bakr al-Baghdadiy Hafizhahullah.

Disaat paus yang sebelumnya berbicara menentang Islam dikarenakan kenyataan yang mereka hadapi, serta berdasarkan permusuhan timbal balik antara paganisme Kristen dan monotheisme (tauhid) Muslim, paus yang sekarang - dan terutama Paus Francis - telah berusaha untuk melukis sebuah gambar persahabatan yang menghangatkan hati serta mengarahkan massa Muslim untuk pergi menjauh dari kewajiban jihad melawan kekafiran. Demi membantu Tentara Salib untuk mengambil hati muslim, el-Tayeb berkata kepada Francis, teman dekatnya: "orang ini adalah orang yang cinta damai, seorang pria yang mengikuti ajaran Kristen, yang merupakan agama cinta dan perdamaian ... seorang pria yang menghormati agama-agama lain dan menunjukkan perhatian kepada pengikut mereka “ (Radio Vatikan).

Dalam lapisan ini, tidak hanya pandangan sejarah Gereja tentang Islam yang Francis ubah dan disalahpahami. Setelah serangan Orlando oleh Omar Mateen Taqabbalahumullah, Francis mengatakan bahwa pelaku sodomi "tidak boleh didiskriminasi, dan mereka harus dihormati serta disertai bimbingan pastoral ... Masalahnya adalah seseorang dengan sebuah kondisi, yang memiliki niat baik untuk mencari Allah. Maka siapakah kita yang berhak menilai mereka?". Ia secara total telah mengabaikan doktrin Gerejanya sendiri dalam menilai homoseksual yang merupakan tindakan tak bermoral demi menyenangkan hati dan membenarkan tindakan menyimpang kaum sodom, sekali lagi Francis kembali mengesampingkan agama demi opini publik. Tetapi untuk benar-benar mengubah langkah sejarah dan ajaran Alkitab, Paus sekali lagi menyerukan umat Kristen untuk meminta maaf kepada sodomi atas kerugian yang menimpa mereka.

Sekarang sangatlah mungkin bahwa kepedulian Francis kepada pelaku sodom mencerminkan sejarah mereka dalam Kepausan, termasuk paus-paus sebelumnya: Benediktus IX, Julius II, Leo X, dan Julius III, serta pendeta Katolik yang tak terhitung jumlahnya - penyebutan ini identik dengan pemerkosaan terhadap anak laki-laki. Jika demikian, sebagaimana Paus merupakan representasi pengikut setianya, maka seseorang tanpa ragu lagi akan mengatakan bahwa ini adalah apa yang akan diterima oleh kekristenan. Bagaimanapun, itu akan menjadi lebih jelas saat - mengingat waktu komentar Paus tentang homoseksualitas, yang keluar dengan segera setelah serangan Orlando terhadap kaum salibis Sodom - ini adalah bagian dari misi kepausan untuk menggalang dukungan apapun yang memungkinkan, bahkan dari orang-orang kotor diantara banci sodom, dalam perang salib melawan bangsa Muslim pada umumnya dan Daulah Islam pada khususnya. Dengan demikian, Francis adalah mengambil rute yang telah dijalani oleh rekan-rekannya dari "ulama" murtadd di al-Azhar dan di Madinah, yaitu jalan untuk melupakan seruan yang jelas, berperang melawan kesyirikan dan orang-orangnya dalam seluruh Qur’an dan Sunnah - dan sebagai gantinya malah mengubah agama untuk dicocokkan dengan "agama" fantasi iblis yang jauh dari kebenaran, dan tentu saja jauh dari sebuah agama alami yang cenderung untuk dicari.

Ini adalah bagian dari sebuah rencana untuk men-demiliterisasi Islam, atau untuk menjelaskannya dengan lebih tepat yaitu untuk menghapus perintah Qur’an dan Sunnah yang dengan jelas memerintahkan untuk melancarkan jihad terhadap orang kafir sampai semua manusia dunia dikuasai oleh syari’at. Ini tidak beda dengan Lawrence Franklin, seorang mata-mata Israil yang bekerja kepada pemerintah Amerika Serikat ketika memberi saran Paus bahwa ia harus "menantang para pemimpin lembaga Islam untuk mereformasi dan membasmi justifikasi teologis demi melakukan kekerasan dan intoleran."

Hal ini juga diamini oleh William Kilpatrick, mantan dosen di universitas Boston di sebuah lembaga Jesuit, yang menyerukan surat ensiklik dari Paus untuk umat globalnya dan menjelaskan bahaya Islam itu sendiri - dan ini bukan hanya sebuah versi "buruk" atau "radikal" saja. Kilpatrick mengakui taktik penyesuaian diri Francis dalam meremehkan peran sebenarnya dari pedang dalam ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, tetapi ia juga menyadari bahwa semakin banyak orang kafir dan murtadd yang mencoba untuk menghapus aspek Islam dari agama, maka semakin banyak orang taat yang menjauh dari apa yang biasa disebut "mainstream" dan menuju Daulah Islam, Daulah yang merepresentasikan seruan global asli dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Dan menjadi Alasan langsung tentang ancaman Islam secara keseluruhan - yang ia klaim adalah agama "1,6 miliar orang" – dan ini teringkas dalam kata-kata Kilpatrick, "Dan alasan kita harus mengkritik berkembang pesat dan agresifnya da'wah iman ini adalah bahwa jika kita tidak (menghentikannya), mungkin akan segera menjadi iman 7,6 miliar orang – atau dapat dikatakan : seluruh penduduk planet ini."

ABU ABDILLAH AL-KANADI

DABIQ 15 - SYUHADA

DIANTARA ORANG-ORANG BERIMAN ADA KESATRIA:
ABU ABDILLAH AL-KANADI

Lahir dari orang tua yang berasal Jamaika dan Guyana, Abu 'Abdillah al-Kanadiy dan adiknya Abu Ibrahim al-Kanadiy dibesarkan di kota Calgary di provinsi Alberta sebagai seorang Kristen sebelum kemudian masuk Islam. Abu 'Abdillah adalah yang pertama masuk islam dan menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari agama dengan membaca buku dan mendengarkan ceramah. Saudaranya, Abu Ibrahim dengan segera mengetahuinya ketika ia datang berkunjung pada satu hari dan menemukan apartemennya benar-benar kosong kecuali hanya ada stereo yang ia gunakan untuk mendengarkan ceramah. Ketika ia menemukan Abu 'Abdillah mendengarkan ceramah Syaikh Anwar al-'Awlaqi dengan seksama pada topik jihad, ia langsung berpikiran, " hebat, saudaraku sekarang telah menjadi seorang teroris."

Abu 'Abdillah mengambil kesempatan ini untuk mendakwahinya (yaitu menyerunya kepada Islam) dan memberinya terjemahan Al-Qur’an beserta beberapa buku-buku Islam, dan itu tidaklah lama sebelum akhirnya mereka berdua mendengarkan ceramah bersama-sama. Abu Ibrahim bersikap terbuka terhadap dakwah kakaknya karena ia sendiri telah merenungkan tentang Penciptanya dan juga kecewa dengan Kristen yang tidak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Ketika dia membaca buku yang diberikan oleh saudaranya, ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, dan setelah itu ia masuk Islam.

Mereka lalu mempelajari agama dan mendengarkan ceramah bersama-sama dan dengan cepat menjadi teman dekat dengan beberapa Muslim lainnya yang berada pada manhaj yang benar, termasuk Abu Thalhah al-Kanadiy Taqabbalahumullah di Calgary. Kemudian, ketika jihad mendatangi Syam, anggota kelompok mereka mulai meninggalkan Kanada satu-per-satu dengan dalih bepergian ke luar negeri untuk belajar, dan satu per satu dari mereka mulai bermunculan di Syam. Dua bersaudara ini memperhatikannya karena mereka terus mendengar dari anggota lainnya bahwa beberapa anggota kelompoknya telah sampai di tanah jihad dan bergabung dengan mujahidin. Abu Ibrahim memiliki keinginan untuk bepergian ke luar negeri dan mempelajari Islam, namun saudaranya sebagaimana anggota lainnya sudah membuat rencana untuk berhijrah dan berjihad, kemudian ia mengatakan kepada Abu Ibrahim untuk melupakan rencana belajarnya karena mereka berdua akan bergabung dengan para mujahidin.

Mereka segera berangkat ke Mesir dengan dalih akan belajar bahasa Arab, dengan harapan mereka dapat menemukan jalan ke Syam dari sana. Ketika demonstrasi terhadap toghut Mursi pecah, mereka mencoba menggunakannya sebagai kesempatan untuk meninggalkan negara itu dan mencari jalan ke Syam, tapi mereka ditahan di bandara dan diinterogasi oleh pihak berwenang Mesir. Pihak berwenang meng-interogasi Abu Ibrahim, sementara Abu 'Abdillah harus duduk di luar kantor sambil menunggu gilirannya untuk di-interogasi. Abu Ibrahim membuat sebuah alibi ketika di-interogasi untuk menyembunyikan niatnya dan saudaranya untuk berhijrah dan bergabung dengan mujahidin. Ketika interogasi selesai, pihak berwenang membuat kesalahan dengan membiarkan saudaranya menunggu di luar kantor bahkan sebelum mereka memanggilnya. Hal Ini menajdi menit-menit berharga untuk memberitahu saudaranya apa yang ditanyakan dan bagaimana ia merespons sehingga mereka bisa mengkoordinasikan alibi / cerita. Setelah Abu 'Abdillah di-interogasi, keduanya dibebaskan dan menjadikan mereka leluasa melanjutkan hijrah mereka dan mencari jalan ke Syam, di mana mereka lalu bergabung dengan "Jaisy al-Muhajirin wal Anshar" di bawah pimpinan Syaikh Umar asy-Syisyani Taqabbalahumullah sebelum akhirnya bergabung dengan barisan Daulah Islam beberapa bulan kemudian setelah Syaikh Umar memberikan bai'at-nya untuk Amirul-Mu’minin Abu Bakr al-Baghdadiy Hafizhahullah.

Ketika dua bersaudara ini tiba di Syam, mereka sangat bersemangat berlatih dan pergi keluar ke medan perang. Pada saat itu, para mujahidin sedang mempersiapkan operasi besar di Hamah, sehingga dua bersaudara ini keluar bersama dengan sisa batalion mereka, meninggalkan basis mereka di 'Anadan di pedesaan Aleppo dan sisanya ditempatkan di Hamah untuk persiapan operasi. Mereka harus melatih kesabaran selama periode ini karena mereka harus menunggu kesempatan untuk berperang dan mencapai syahid. Namun bagi Abu 'Abdillah, kesempatan itu akan tertunda karena ia dan sejumlah mujahidin lainnya di batalion mereka dikirim kembali ke 'Anadan untuk menjaga basis mereka, merawat keluarga mujahidin yang berada di Hamah, dan menerima muhajirin yang baru bergabung dengan batalion. Dia bersyukur atas keputusan ini dan mengingatkan saudaranya bahwa Allah sedang menguji kesabaran mereka, dan kesempatan mereka untuk berperang akan segera datang. Dan hal yang membantu menjaga kesabarannya sebagaimana ia menghadapi berbagai situasi sulit lainnya adalah bahwa Abu 'Abdillah selalu mengingat akan kepastian adanya hikmah di balik keputusan Allah.

Dengan demikian, ia tetap sabar meskipun kesempatannya untuk melakukan ribat (menjaga perbatasan) dan mengambil bagian dalam pertempuran melawan musuh-musuh Allah akan datang dikemudian hari karena kondisi kesehatannya. Dia memiliki kelainan darah yang membuatnya sulit untuk ikut serta dalam kegiatan yang dapat menyebabkan kesibukan atau stres. Namun, sebagaimana saudaranya yang menolak untuk membiarkan asmanya menghalagi jalan untuk berperang Fie sabilillah, demikian pula dengan Abu 'Abdillah yang menolak untuk membiarkan kondisinya mencegah dia dari melakukan hal yang sama. Mereka berdua berjuang berhijrah meskipun dengan kondisi mereka, dan tidak akan menyerah sebelum sampai pada titik yang mereka tuju. Setelah itu, Abu Ibrahim melakukan ribat dan juga mengambil bagian dalam sejumlah pertempuran, baik di Aleppo maupun di Hamah, sedangkan Abu 'Abdillah menunggu dengan sabar sampai akhirnya datang peluangnya untuk melakukan ribat dan berperang beberapa bulan setelah dimulainya Shahawat di Syam. Selama periode menunggu dan mempersiapkan ini, Abu 'Abdillah berkontribusi dengan membantu upaya mujahidin pada peran lainnya.

Saudaranya telah mengambil bagian dalam operasi di Hamah, kemudian keluar dan bergabung bersama sekelompok mujahidin yang berupaya untuk mengusai kota Safiroh di pedesaan Aleppo dari rezim Nushairiy beberapa saat sebelum dimulainya Shahawat di Syam. Dia mengambil bagian dalam pertempuran di desa Tall Hasil yang berada didekat Safiroh dan dengan cepat mengajukan diri sebagai relawan ketika Komandannya meminta sekelompok ikhwah untuk menyusup ke wilayah Nushairiy. Selama operasi, Abu Ibrahim tertembak dikakinya oleh penembak jitu. Pelurunya menembus tulang dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemulihan sebelum ia akhirnya kembali ke pertempuran beberapa bulan kemudian. Selama masa pemulihan, ia membantu para mujahidin sesuai kapasitasnya, seperti mengelola keuangan batalion dan peralatan. Selama periode ini, dua bersaudara terus mendengar beberapa teman mereka dari Calgary mencapai syahid satu persatu. Mereka juga mengetahui Kehadiran Abu Tholhah al-Kanadiy di kota Aleppo dan bersemangat untuk bertemu dengannya. Mereka akhirnya mendapat kesempatan untuk melihatnya tak lama sebelum ia syahid setelah awal masa Shahawat.

Beberapa bulan kemudian, Abu Ibrahim kembali ke garis depan sebagaimana Daulah Islam melanjutkan serangan offensif di Sirrin terhadap murtaddin dari Liwa' Thuwwar ar-Roqqoh, sebuah operasi di mana ia bertugas memimpin kelompok yang berisi sekitar selusin mujahidin. Dia lebih cocok pada peran ini daripada ikhwah lainnya, karena ia telah mendedikasikan sebagian besar waktu luangnya untuk mempelajari taktik dan strategi. Setelah mujahidin menguasai kota dan kemudian gudang penyimpanan biji-bijian, ia dan saudaranya tetap ditempatkan di sana dan ribath bersama dengan batalion mereka dalam rangka mempertahankan kota terhadap setiap upaya maju dari PKK. Tak lama kemudian, mereka berdua menuju ke Syaddadiy dan mengambil bagian dalam pertempuran yang terjadi di wilayah tersebut, selain itu juga mengambil bagian dalam pertempuran di sekitar Sirrin. Ketika Daulah Islam membuat kemajuan besar di 'Ain Al-Islam, dua bersaudara ini bertempur di barisan tentara Khilafah untuk maju ke arah kota, dan melanjutkan perannya dalam Gozwah dan ribat di pedesaan 'Ain Al-Islam semasa pertempuran yang terus berkecamuk di dalam kota. Mereka dikenal sangat sengit dalam pertempuran, dan juga sangat murah hati terhadap saudara-saudaranya. Mereka akan membelikan peralatan bagi sesama mujahidin ketika melihat mereka membutuhkannya, dan juga mengizinkan mereka untuk meminjam senjatanya yang mahal untuk digunakan dalam pertempuran. Abu 'Abdillah bahkan menyerahkan senjata pertamanya setelah dia membeli yang baru.

Beberapa bulan setelah dimulainya Ghazwah untuk membebaskan 'Ain Al-Islam dan intervensi koalisi salibis, Abu Ibrahim dan Abu 'Abdillah mencapai syahid dalam serangan udara salibis ketika ditempatkan di Ashrof, area yang berdekatan dengan dataran Dabiq. Mereka berdua sangatlah dekat sepanjang kehidupannya dan sekarang mereka telah mencapai tujuan mereka juga bersama-sama. Mereka telah meninggalkan Kristen dan masuk Islam bersama-sama, belajar bersama, berhijrah bersama-sama, berjuang bersama-sama, dan terbunuh bersama-sama. Semoga Allah mengumpulkan mereka bersama-sama pada hari kiamat dan masukkan mereka ke surga tingkat tertinggi.

WAWANCARA DENGAN ABU SA’AD AT-TRINIDADI

DABIQ 15 - WAWANCARA

WAWANCARA DENGAN ABU SA’AD AT-TRINIDADI

Bulan ini, Dabiq mendapat kesempatan untuk mewawancarai Abu Saad at-Trinidadi, seorang mantan Kristen yang masuk Islam dan sekarang menjadi salah satu dari sejumlah besar muhajirin dari Trinidad dan Tobago yang berjuang di bawah bendera Daulah Islam.

Dabiq: Kapan Anda menjadi seorang Muslim dan bagaimana hal itu bisa terjadi?

Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah. Sholawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Rasulullah.
Saya berasal dari keluarga Kristen Baptis, sejak usia dini mereka mengirim sepupu saya dan saya ke sekolah Minggu. Di sana saya belajar tentang Alkitab hingga ada bagian yang bahkan saya hafal, dan juga belajar tentang nabi-nabi. Perjalanan saya menuju Islam dimulai ketika saya berusia sekitar 7 atau 8 tahun. Ibu saya biasanya mengantar saya ke gereja pada hari Minggu. Suatu hari ketika menghadiri kebaktian dan anggota jemaat bernyanyi dan menari, saya berkeliling dan melihat-lihat gambar yang mereka akui sebagai Yesus, malaikat, dan lain-lain, serta salib. Saya berkata kepada diri saya sendiri, "Ada sesuatu yang salah di sini," karena yang saya ingat bahwa dua perintah utama adalah, "Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku" dan "Jangan membuat patung bagimu," seperti yang diajarkan kepada saya di sekolah Minggu.

Hal ini memiliki pengaruh terhadap saya serta fakta yang saya temukan ketika melihat pendeta - yang menikah dan memiliki anak-anak – mendatangi tetangga sebelah dan berzina. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa orang ini menuntun saya ketika dia sendiri tidak mengikuti Alkitab. Saya mengatakan kepada ibu bahwa saya tidak akan kembali ke gereja, dan saya akan berdoa sesuai dengan apa yang saya pelajari dari Alkitab. Bertahun-tahun kemudian, nenek saya membelikan saya kalung perak dengan liontin salib. Ketika saya akan memakai kalung itu saya berpikir, "liontin (salib) ini adalah berhala." Jadi saya membuang liontinya (salib) dan memakai kalungnya. Pengetahuan saya waktu itu yang hanya sebatas dua perintah utama telah memberikan pemahaman bahwa apa yang sedang mereka lakukan tidak sejalan dengan kebenaran. Pada titik ini, saya tidak menganggap bahwa diri saya adalah bagian dari salah satu ummat Kristen, tapi itulah sejauh yang saya tahu.

Di sekolah, berbagai agama diajarkan kepada saya, tapi saya tetap pada keyakinan saya. Ketika saya berumur sekitar dua puluh tahun, saya menerima agama kebenaran, Islam. Saya bekerja di call center dan mengenal seorang rekan kerja Muslim di sana. Kebetulan Kami memiliki banyak kesamaan terkait dunia, dan karena alasan ini, saya menghabiskan banyak waktu dengannya. Saya menanyakan banyak pertanyaan tentang agama kepadanya. Dalam percakapan kami, saya bertanya kepadanya tentang keyakinan Muslim, dan juga menanyakan tentang Yesus dan Muhammad, dan setiap hal yang dia katakan kepada saya sangatlah masuk akal dan ini sejalan dengan apa yang saya ingat dari dua perintah utama, jadi dengan cepat saya tertarik kepada Islam dan menemukan diri saya sendiri mendebat Kristen karena saya tahu keyakinan mereka rusak.

Kadang-kadang, karena ketertarikan saya dengan Islam, ketika saya melihat dia shalat saya ingin shalat seperti dia, dan ketika saya lakukan, saya merasa sangat tenang setelah itu. Saya menemaninya shalat Jum'at beberapa kali dan melihat apa isinya, kemudian saya menjadi yakin bahwa ini adalah agama yang benar - agama Ibrahim, Musa, dan Yesus. Dalam percakapan terakhir kami sebelum saya memeluk Islam, saya mengatakan kepadanya bahwa saya berencana untuk menjual obat terlarang untuk menambah penghasilan keluarga saya. Dia mengatakan bahwa itu adalah salah dan bahwa tujuan baik tidak menghalalkan segala cara. Jadi saya jawab, "Anda mengatakan bahwa dalam Islam saya dapat membunuh orang, tapi kenapa saya tidak bisa menjual obat-obatan untuk memberi makan keluarga saya?" Dia kemudian mulai menjelaskan kepada saya tujuan akhir dari jihad serta beberapa keadaan menyedihkan yang menimpa Muslim, dan setelah percakapan itu, saya mantap untuk menyatakan kesaksian iman dan menjadi seorang Muslim.

Dabiq: Bagaimana Anda menemukan dakwah tentang jihad?

Abu Saad at-Trinidadi: Ada sebuah faksi Muslim di Trinidad yang terkenal akan "Militansi" anggotanya yang berusaha menggulingkan pemerintah kafir namun dengan cepat mereka menyerah, murtadd, dan berpartisipasi dalam agama demokrasi hingga mendemonstrasikan bahwa mereka bukanlah pada metodologi jihad yang benar. Dalam kasus saya, seperti banyak Muslim lainnya di Barat, dakwah tentang jihad sampai kepada saya melalui ceramah dari Syaikh Anwar al-'Awlaqi Rahimahullah. Setelah mendengarkan berbagai ceramahnya berulang kali, saya mendapatkan pemahaman yang lebih tegas tentang apa yang seharusnya kita lakukan sebagai umat Islam.

Saya mendengarkan seri ceramahnya yang berjudul "istiqomah di Jalan Jihad" dan juga seri ceramahnya tentang "fiqih Jihad." Dengan karunia Allah, ada seorang pria yang alim dan menjadi rujukan saya dan ia dapat menjawab pertanyaan saya. Namanya Syaikh Ashmead Choate dan dia telah mempelajari hadits dan lulus dari salah satu perguruan tinggi Islam di Timur Tengah. Dia Taqabbalahumullah berhijrah ke Daulah Islam dan mencapai syahid dalam pertempuran di Romadiy.

Dabiq: Ceritakan kepada kami tentang upaya jihad di Trinidad dan Tobago.

Abu Saad at-Trinidadi: Saya, bersama dengan saudara saya dalam Islam Abu 'Abdillah Taqabbalahullah (Mualaf lainnya dari kristen), Abu 'Isa Taqabbalahullah, dan sejumlah saudara lainnya dari Trinidad yang kemudian berhijrah setelah kami, membentuk sebuah kelompok yang menangani beberapa isu terkait Muslim yang orang-orang lain takut untuk menanganinya. Salah satu tujuan kami adalah untuk berhijrah - ketika kami memiliki kemampuan untuk melakukannya - dan bergabung dengan mujahidin yang berusaha untuk merebut dan membersihkan tanah Muslim dari semua rezim murtadd, pada akhirnya saya selalu mejadikan diri saya “up to date” terkait semua berita terbaru di seluruh dunia islam dan front jihad. Kami akan mempertimbangkan semua pilihan kami ketika kami menunggu kesempatan untuk hijrah. Pada saat yang sama, kami tahu bahwa kami tidak bisa hanya duduk dan bermimpi tanpa melakukan apapun, jadi setiap kali orang kafir di Trinidad membunuh atau menyakiti seorang Muslim, kami akan membalas dendam. Kami bekerja untuk mengumpulkan uang demi membeli senjata dan amunisi. Alhamdulillah, kami berhasil dalam banyak operasi, dan itu hanya karena karunia Allah.

Pada satu titik, Abu 'Abdillah, istri saya, dan saya ditangkap, tapi polisi tidak mampu menjerat kami dalam satu kasuspun. Namun kami tetap dikenakan biaya atas kepemilikan senjata dan amunisi. Mereka menyita komputer dan telepon saya hingga mereka menemukan video, buku, dan ceramah tentang jihad. Pemerintah taghut Trinidad kemudian menjadikannya plot terhadap kami, mengklaim bahwa kami berencana membunuh perdana menteri dan sejumlah menteri dalam rangka menimbulkan kekacauan dan kepanikan di negara ini. Itu akan menjadi suatu kehormatan bagi kami untuk dicoba, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, realitas operasi kami jauh lebih kecil dari itu. Kami dipenjara karena terorisme bersama dengan beberapa Muslim yang bahkan kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Alhamdulillah, mereka membuat makar namun makar Allah adalah yang terbaik. Mereka tidak mampu menjerat kami dalam sebuah kasus dan kami dibebaskan dengan izin Allah, dan meskipun berada di bawah pengawasan, kami tetap kembali melakukan apa yang harus kami lakukan, memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan.

Dabiq: Setelah memutuskan untuk berhijrah ke syam dengan dua teman terdekat Anda, Abu 'Abdillah dan Abu 'Isa, Hijrah anda mengalami penundaan. Apa yang terjadi?

Abu Saad at-Trinidadi: Kami bertiga memutuskan untuk berhijrah ke Syam dan bergabung dengan Daulah Islam setelah menyaksikan penderitaan umat Islam di Syam, tapi kami memiliki beberapa urusan yang belum selesai dengan beberapa orang kafir yang telah merugikan kaum Muslimin. tiket sudah kami pesan, dan kami siap untuk berangkat dalam waktu seminggu tapi kami merasa bersalah bila meninggalkan tanpa menyelesaikan apa yang harus diurus. Itu adalah keputusan yang sulit, dan karena alasan itu, kami kemudian melihat kembali dan mengatakan bahwa mungkin itu adalah ujian terakhir dari Allah untuk melihat apakah kami layak untuk diberi kehormatan akan hijrah dan jihad. Kami memutuskan untuk menunda hijrah kami, Itu sangatlah menyakitkan namun dengan segera datang kesempatan untuk membalas dendam pada dua penjahat kafir yang kami buru.

Operasi itu dilakukan di tengah kota pada siang hari dan terekam kamera. Rencana kami tidaklah seperti itu, tapi itu semua terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Setelah operasi, Abu 'Abdillah dan Abu 'Isa ditangkap, sedangkan aku bersembunyi. Kami memutuskan bahwa kami harus meninggalkan Trinidad karena tidak ada yang dapat menghentikan hijrah kami, dengan izin Allah. Sekali lagi, Allah menganugerahkan nikmat yang luar biasa pada kami ketika Abu 'Isa dilepaskan dan penyelidikan ditunda. Abu 'Abdillah kemudian juga dibebaskan dan kami segera meninggalkan Trinidad satu-per-satu. Saya berangkat pertama kali bersama dengan istri saya, diikuti oleh Abu 'Abdillah, dan kemudian Abu ‘Isa, dan kami bertemu di Venezuela. Namun kami melewatkan penerbangan kami sehingga kami harus tinggal sementara di sana untuk beberapa waktu sampai kami dapat memesan penerbangan baru.

Dabiq: Apa Peran Anda saat di sini, di Khilafah?

Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah, Sekarang saya adalah salah satu dari banyak penembak jitu di barisan mujahidin di khilafah. Saya keluar secara teratur bersama tim saya untuk mengambil bagian dalam banyak pertempuran sengit melawan berbagai musuh Daulah Islam.

Dabiq: Anda dan dua sahabat hijrah Anda, Abu 'Abdillah dan Abu ‘Isa, adalah tiga Muslim pertama yang berhijrah ke Syam dari Trinidad dan Tobago. Di mana dua sahabat Anda sekarang?

Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah kami diberkahi dengan kesempatan untuk berhijrah dan berjihad, dan juga mengambil bagian dalam kebangkitan khilafah. Abu 'Isa dan Abu ‘Abdillah keduanya telah diberkahi dengan kesyahidan. Saya menganggap mereka demikian, dan Allah adalah hakim mereka.

Abu 'Isa syahid ketika di Marista, sebuah desa didekat Azaz ketika Shahawat mencapai puncaknya di Syam. Waktu itu ia ditempatkan untuk ribat di desa, murtaddin datang dan menyerangnya dengan kekuatan besar, termasuk beberapa BMP dan senjata berat. Saudara-saudara kami berjumlah sekitar 15 orang dan hanya dipersenjatai dengan Kalashnikov. Setelah pertempuran awal, mereka memutuskan untuk mundur. Abu 'Isa dan ikhwah lainnya tinggal ditempat untuk melindungi mereka yang mundur. Ketika mereka sedang mencari jalan keluar, mereka diapit oleh murtaddin dan Abu 'Isa ditembak beberapa kali namun dia tidak mati sampai murtaddin mendekat dan mengeksekusinya di kepala saat ia terbaring terluka di tanah. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian mereka kembali mengambil alih desa, dan mereka menyebutkan kepada kami bahwa ketika mereka menguburkan Abu 'Isa dan para syuhada lainnya, ada bau misk yang sangat kuat.

Adapun Abu' Abdillah, maka dia syahid di Maghribtayn, sebuah desa didekat kota Sirrin di pedesaan Aleppo setelah menghabiskan hampir dua tahun berjuang dijalan Allah. Kesyahidannya datang saat ia dan saudara-saudaranya terlibat dalam pertempuran sengit melawan pasukan Salib dengan dukungan udara di wilayah tersebut. Pesawat tempur Tentara Salib dan drone terbang diatas Abu 'Abdillah yang memimpin sebuah tim yang terdiri dari 4 penembak jitu. Dia melakukan pekerjaan yang sangat baik hingga mampu mengecoh murtaddin agar tidak menembak saudara-saudara lainnya dan hanya fokus pada posisinya. Dia sampai pada titik itu adalah karena semua orang memanggilnya dan memberitahu semua posisi murtaddin termasuk senjata berat mereka, dan itu segera menjadi jelas ketika ikhwah menyadap obrolan radio murtaddin bahwa sebagian besar perhatian mereka terfokus hanya pada dirinya.

Pengintainya, Abu Samir yang juga dari Trinidad dan seorang mualaf dari Kristen, tertembak dan harus meninggalkan arena untuk perawatan medis, tetapi Abu 'Abdillah tidak berhenti berjuang. Hal terakhir yang saya dengar dari radio adalah, "Posisiku terganggu, Aku mengubah posisi." Apa yang kami lihat adalah semua peluru murtaddin menuju keposisinya dan dia tertembak di kepalanya sebelum ia berpindah. Ketika ikhwah lain menemukan tubuhnya, ia tersenyum dan tampak seperti sedang tidur.

Dabiq: Bagaimana reaksi keluarga Anda ketika mereka mengetahui Anda menjadi seorang Muslim?

Abu Saad at-Trinidadi: Ketika saya menjadi seorang Muslim, ibu saya mengatakan kepada saya bahwa dia menghormati keputusan saya. Alhamdulillah, dia juga memeluk Islam beberapa tahun setelah saya. Dia sangat mencintai Islam sehingga mengatakan bahwa dia berharap dapat mempelajari Islam sejak dulu sehingga dia bisa memeluk Islam lebih cepat. Alhamdulillah, salah satu saudara saya juga mulai mempraktekkan Islam. Adapun keluarga saya yang lain, saya memohon kepada Allah agar membimbing mereka.

Dabiq: Bagaimana reaksi keluarga Anda ketika mereka mengetahui Anda menjadi seorang prajurit dari Negara Daulah Islam?

Abu Saad at-Trinidadi: Beberapa kerabat Kristen kafir menggunakan fakta bahwa saya adalah seorang prajurit dari Daulah Islam dalam pertengkaran mereka dengan orang lain. Mereka mengatakan, sebagai contoh, "saudaraku adalah teroris ISIS, lebih baik Anda berhati-hati!" SubhanAllah, ini menjadi sebuah kehormatan dari Allah yang telah mengaruniakan khilafah, kami bahkan melihat banyak orang-orang kafir mengakuinya.

Dabiq: Beritahu kami tentang komunitas Muslim di Trinidad dan Tobago.

Abu Saad at-Trinidadi: Di Trinidad, sekitar 7-10% dari populasi memeluk Islam, meskipun banyak dari mereka adalah murtaddin yang tidak ada hubungannya dengan Islam kecuali hanya namanya saja. Ketika saya masih tinggal di sana, ada Murjiah, modernis, dan Tabligh, serta beberapa kantong pro-Arab "Salafi" yang menyimpang. Sangat sedikit orang yang berada pada aqidah yang lurus, terutama karena sebagian besar dari mereka telah berhijrah. Bagi mereka yang tertinggal dibelakang dan melalaikan hijrah - sementara mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya – maka jelas ia memiliki kelemahan dalam imannya yang harus diperbaiki.

Dabiq: Kami melihat banyak mujahidin dari Trinidad dan Tobago di sini di tanah Khilafah bersama dengan keluarga mereka. Apakah kebanyakan mereka mualaf, atau apakah sebagian besar mereka berasal dari keluarga Muslim?

Abu Saad at-Trinidadi: Sekitar 60% mujahidin dari Trinidad disini di tanah Khilafah berasal dari keluarga Muslim, sedang 40% sisanya adalah mualaf. Dan sebagian besar mereka dari Kristen.

Dabiq: Bagaimana perasaan Anda ketika menjadi dari salah satu pelopor yang membuka jalan bagi banyak orang untuk berhijrah ke tanah khilafah?

Abu Saad at-Trinidadi: Saya memuji Allah atas pemberian kesempatan kepada saya untuk berhijrah dan berjihad. Ini benar-benar nikmat yang besar sekali dari-Nya. Ketika kami pertama kali berhijrah, kami tidak pernah membayangkan bahwa kami akan menyaksikan impian kami akan Khilafah menjadi kenyataan. Kami mengira bahwa itu sudah dekat, tapi kami tidak berpikir bahwa darah kami akan menyirami tanah khilafah dan tengkorak kami akan menopang bendera tauhid (monoteisme Islam), membuka jalan bagi orang lain untuk melanjutkan misi ini dan menghidupkan kembali kekhilafahan, dan hanya karena rahmat Allah, Abu 'Abdillah dan aku telah melihat bahwa mimpi kami menjadi kenyataan. Tidak akan pernah cukup syukur kupanjatkan kepada Allah karena telah mengizinkan saya untuk menjadi orang pertama diantara orang-orang kami untuk berbagi dan membuat mimpi ini menjadi kenyataan.

Dabiq: Tidak ada Jihad tanpa kesulitan. Beritahu kami tentang beberapa ujian yang Anda hadapi setelah berhijrah dan bagaimana Anda mengatasinya.

Abu Saad at-Trinidadi: Alhamdulillah, saya tidak bisa benar-benar mengatakan bahwa saya telah menghadapi banyak kesulitan setelah berhijrah. Saya berpikir bahwa hal yang paling sulit bagi saya adalah saat kehilangan banyak teman dekat. Selain itu, sekarang saya berada di rumah keempat saya karena terus dibom atau rusak dalam serangan udara, tetapi segala puji hanya bagi Allah dalam segala situasi.

Dabiq: Pesan apa yang ingin anda sampaikan kepada Muslim di Trinidad?

Abu Saad at-Trinidadi: Bagian pertama dari pesan saya adalah untuk orang-orang yang mengaku beragama Islam namun membabi buta dalam mengikuti mufti dan imam: ketika mereka menyeru Anda untuk memilih para pemimpin taghut (dalam pemilu), mereka sedang menyeru Anda untuk melakukan kekufuran, namun Anda tetap mematuhi dan mengikuti mereka, dan itu adalah kemurtadan. Kukatakan kepadamu, takutlah kepada Allah dan kembalilah ke agama yang lurus. Kembalilah ke kitabulloh dan Sunnah nabi kita tercinta Shallallahu ‘alaihi wasallam, cukuplah itu bagi kita sebagai panduan. Jangan tertipu dan jangan biarkan dirimu mengikuti para pemimpin yang jahat. Bacalah biografi nabi kita tercinta Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga Anda dapat melihat bagaimana ia menyelesaikan berbagai hal. Karena mengikuti para ulama istana itu tidaklah berasal dari agama yang benar. Takutlah kepada Allah karena Ia harus ditakuti, dan bangkit lalu kembalilah ke agama yang benar sebelum terlambat.

Kepada orang-orang yang saya kenal yang telah belajar tentang aqidah yang lurus, saya katakan: apa yang terjadi dengan Anda? Anda telah ditipu dan diperdaya oleh iblis. Tahun-tahun telah berlalu dan Anda masih belum berhijrah ke tanah Islam, tanah Anda, tempat yang sering kita bicarakan dan impikan. Hal ini telah menjadi kenyataan, namun Anda malah menjadi bagian di antara mereka yang tertinggal. Anda ingin anak Anda hidup di negeri di mana hukum Allah adalah yang tertinggi, namun Anda sekarang tetap di tempat di mana Anda tidak memiliki kehormatan dan dipaksa untuk hidup dalam kehinaan, dibawah ketiak orang-orang kafir. Jangan menjadi bagian dari orang-orang yang disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala didalam Al Qur’an yang mulia. " Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali “ (An-Nisa: 97). Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang lalai untuk berhijrah ke tanah Islam.

Saya juga mengatakan kepada Anda, saudaraku, bahwa Anda sekarang memiliki kesempatan emas untuk melakukan sesuatu yang banyak diantara kami di sini berharap bisa melakukannya sekarang. Anda memiliki kemampuan untuk meneror orang-orang kafir di rumah mereka sendiri dan membuat jalan mereka dialiri dengan darah mereka. Dimanakah kecemburuan Anda untuk agama? Mereka membom saudara-saudara Anda siang dan malam di tanah di mana hukum Allah adalah yang tertinggi. Ini adalah kewajiban atas Anda untuk bertindak dan memaksa mereka untuk berpikir tiga kali sebelum mengebom Muslim. Oleh karena itu, terorlah orang-orang kafir dan buatlah mereka merasa takut di manapun mereka berada, bahkan di kamar tidur mereka sendiri. Dan hanya Karena keyakinan mereka saja, hukum asal darah mereka adalah halal untuk ditumpahkan. Maka seberapa besar lagi kewajiban untuk melakukannya setelah mereka mengobarkan perang terhadap umat Islam dan membunuh wanita serta anak-anak mereka. Untuk alasan ini, diantara alasan lainnya, pemimpin Daulah Islam menekankan akan pentingnya untuk tidak membedakan antara tentara kafir dan mereka yang disebut sebagai "sipil."

Seranglah kepentingan koalisi salibis di dekat Anda, termasuk kedutaan mereka, bisnis mereka, dan "sipil" mereka. Bakarlah lembaga pemerintah mereka sebagaimana mereka membom bangunan kami di mana hukum Allah ditegakkan. Contohlah singa-singa di Perancis dan Belgia, contohlah pasangan yang diberkahi di California, dan contohlah para ksatria di Orlando dan Nice. Jika Anda melakukannya maka Allah akan memberi balasan kepada anda, dan Anda tidak akan pernah menyesal ketika Anda bertemu dengan-Nya. Namun, jika Anda meninggalkan saudara Anda dan terus hidup di bawah naungan musuh yang memerangi Islam dan berada didekat kepentingan Salibis, maka jangan terkejut jika Allah menghapus setitik iman yang masih tersisa di hati Anda yang sekarat, sebagai hukuman atas dosa dan ketidakjujuran Anda.

Dabiq: Sebagai seorang mualaf dari Kristen, apa pesan Anda yang ingin anda sampaikan ke Kristen?

Abu Saad at-Trinidadi: Kepada orang-orang Kristen saya katakan: Anda tahu bahwa Anda telah menyimpang jauh dari ajaran yang benar dari Ibrahim, Musa, dan Yesus ’Alaihis salam. Kitab Anda telah dirusak sekian lama oleh para pemimpin Anda. Saya menyeru Anda untuk mengingat dua perintah utama, karena itulah yang membimbing saya kepada Islam dan ajaran yang benar dari semua nabi. Tunduk dan patuhlah kepada yang menciptakan Anda dan jangan membedakan antara nabi yang satu dengan yang lain, karena mereka semua datang dengan risalah yang sama. Ikutilah Nabi terakhir, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ketika anda melakukannya, Anda telah mengikuti semua nabi ’Alaihis salam. Jika Anda menolak, maka kami menawarkan pilihan untuk membayar jizyah dan hidup di bawah otoritas Islam dalam kehinaan, atau jika Anda menolak maka satu-satunya hal yang ada diantara Anda dan kami adalah pedang.