Rabu, 25 April 2018

HUKUM KAFIR HARBI KRISTEN KOPTIK MESIR

RUMIYAH 9 - ARTIKEL

HUKUM KAFIR HARBI KRISTEN KOPTIK MESIR

Ketika umat Islam di seluruh belahan bumi dibantai, baik laki-laki maupun wanita, orang tua maupun anak-anak. Berbagai jenis senjata pemusnah massal digunakan oleh orang-orang musyrik dan murtad untuk menghancurkan kampung-kampung dan negeri-negeri kaum muslimin. Ketika semua ini terjadi, para ulama durjana, para penyeru kesesatan, dan thaghut demokrasi justru sibuk menangisi setiap orang musyrik yang menjadi korban mujahidin. Mereka berlepas diri dari setiap aksi serangan yang menargetkan wali-walinya para salibis. Mengklaim bahwa aksi-aksi ini tidak diperbolehkan oleh Islam dan menuduh pelakunya telah mencoreng agama ini. Lidah-lidah jahat dan pena-pena najis itu segera bergerak menyatakan bahwa darah dan harta benda para kafir harbi tersebut terlindungi. Lalu mencela para muwahhid pilihan yang menegakkan hukum Allah Rabb semesta alam terhadap orang-orang musyrik dan memperbarui hukum-hukum syar’i yang hendak dihapus dan diganti oleh para thaghut dan wali-wali mereka dengan aksi-aksi yang berbarokah, bukan hanya dengan sekedar kata-kata.

Termasuk aksi-aksi berbarokah tersebut adalah serangan beruntun yang dilancarkan oleh prajurit Daulah Islam atas orang-orang Kristen muharib di Mesir dan Sinai. Mereka membunuh, menculik, dan membakar serta meledakkan gereja. Mereka menimpakan petaka dan luka yang cukup menyakitkan. Serangan berbarokah yang terakhir adalah peledakan serentak terhadap dua gereja besar di Mesir Utara dan Selatan, yaitu di Alexandria dan Tanta, pada hari perayaan Ahad pagi 12 Rajab 1438 H. Serangan ini menelan lebih dari 200 korban tewas dan luka-luka dari kalangan kristen musyrik dan para tentara thaghut murtad yang menjadi loyalis mereka, segala puji bagi Allah baik sebelum maupun sesudahnya.

Dalam makalah singkat ini kami berusaha menyampaikan catatan terkait kondisi orang-orang Kristen di Mesir dan hukum Islam terkait darah, harta, kehormatan, dan gereja mereka, agar hiduplah orang yang hidup dengan bukti yang nyata dan binasalah orang yang binasa dengan bukti yang nyata pula. Allahlah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Bunuhlah Orang-orang Musyrik Di Mana Saja

Sesungguhnya hukum asal darah orang-orang musyrik itu adalah mubah (boleh ditumpahkan) berdasarkan Firman Allah ta'ala, “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS. atTaubah: 5).

Syirik kepada Allah menjadi alasan seseorang boleh dibunuh, sedangkan iman kepada-Nya menjadikan nyawanya terjaga, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah. Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, niscaya harta dan nyawanya terpelihara dariku, kecuali dengan haknya, sedangkan hisabnya diserahkan kepada Allah.” (HR. Muttafaqun alaihi).

Darah orang-orang musyrik tidak terjaga melainkan dengan dzimmah (ahlu dzimmah), perjanjian, atau jaminan keamanan. Dengan demikian, keterpeliharaannya merupakan hukum thari (hukum yang muncul karena alasan tertentu). Kapanpun hukum tersebut hilang, baik karena melanggar perjanjian atau habisnya masa perjanjian atau jaminan keamanan, maka darahnya kembali kepada hukum asal yaitu mubah (boleh ditumpahkan). Hal ini tidak diperselisihkan oleh kaum muslimin.

Darah Mereka Halal Kecuali Dengan Iman dan Jaminan Keamanan

Orang-orang Nasrani di Mesir dan negeri kaum muslimin lainnya termasuk orang yang dilindungi darah mereka jika masuk dalam perlindungan kaum muslimin dan membayar jizyah dalam keadaan hina, berdasarkan Firman Allah ta'ala, “Perangilah orang- orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. at-Taubah: 29).

Jika mereka melakukan hal itu, maka darah, harta dan kehormatannya menjadi terlindungi kecuali dengan hak islam. Dalil mengenai penghormatan terhadap darah orang-orang kafir mu’ahad, dzimmy dan musta’man yang telah terlindungi sangat banyak dan masyhur. Di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Barang siapa yang membunuh jiwa yang terikat perjanjian niscaya tidak akan mencium bau surga, padahal aroma surga tercium dari jarak perjalanan selama 40 tahun.” (HR. Bukhari). Sedang menurut riwayat Imam Ahmad dan yang lain berbunyi, “Barang siapa yang membunuh seseorang ahlu dzimmah....” Juga ucapan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, “Aku berwasiat kepadanya bahwa hendaknya ia menjalankan dan menghormati perlindungan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Hendaknya ia memenuhi perjanjian, memerangi pihak yang memerangi mereka, dan tidak membebani mereka melebihi kemampuan.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).

Seperti itulah para wali Allah, generasi mulia pertama ummat ini memperlakukan mereka. Siapapun yang masuk dalam perlindungan mereka maka keamanannya terjamin selama ia tetap memenuhi syarat-syarat kaum muslimin dan menepati akad perjanjiannya. Tetapi jika dia melanggar perjanjian maka tidak ada keamanan dan perlindungan lagi. Ini merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terhadap orang-orang Yahudi, beliau pernah mensyaratkan kepada mereka, “Hendaklah mereka tidak menutupi dan menyembunyikan sesuatu. Jika mereka melanggar maka tidak ada perlindungan dan pemeliharaan bagi mereka.” (HR. Ibnu Hibban).

Ketika ternyata orang-orang Yahudi terbukti menyembunyikan satu bagian harta, yaitu milik Huyayi bin Akhthab, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membunuh kedua anak Abu Haqiq yang salah satunya adalah suami Shafiyah binti Huyayi bin Akhthab, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, juga menawan istri dan anak mereka serta membagi-bagi harta mereka akibat pelanggaran tersebut.” (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya dan Baihaqi di dalam Sunannya).

Jika satu orang muslim menjamin keamanan orang musyrik maka umat Islam seluruhnya tidak boleh mengganggu si musyrik itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, bahwa Ali radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda” ‘Jaminan perlindungan umat islam itu adalah satu dan berlaku untuk orang awamnya sekalipun. Maka barang siapa yang melanggar jaminan perlindungan seorang muslim niscaya dia akan dilaknat oleh Allah, para malaikat dan seluruh manusia, tidak akan diterima tebusan maupun bayaran darinya.” (Muttafaq ‘alaih).

Begitu juga riwayat yang datang dari Ali radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Darah orang-orang beriman itu sederajat dan sama terpelihara, mereka adalah pelindung bagi yang lain, jaminan perlindungan mereka berlaku untuk yang awam sekalipun, ketahuilah bahwa seorang mukmin tidak boleh dibunuh karena membunuh orang kafir, begitu juga orang yang terikat perjanjian (tidak boleh dibunuh) selama tetap menjaga perjanjiannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i)

Nasrani Mesir Adalah Kafir Harbi

Sesungguhnya orang-orang Kristen yang tinggal di Mesir pada hari ini adalah kafir harbi. Artinya dia bukanlah kafir dzimmy maupun musta’man, baik ia prajurit maupun sipil, baik dia mencela agama Islam maupun tidak, atau baik dia merampas darah, harta dan kehormatan umat Islam maupun tidak. Padahal orang-orang Kristen Mesir telah terlibat langsung dalam permusuhan-permusuhan seperti tersebut di atas.

Sejatinya orang-orang Kristen Mesir memiliki persenjataan yang mereka persiapkan untuk memerangi umat Islam, bahkan mereka terlibat langsung dalam perang ini. Mereka terus menerus memusuhi seorang Kristen yang masuk Islam dengan menculik, membunuh, dan menyiksanya hingga mau kembali kepada kesyirikan. Mayoritas mereka juga tergabung dalam barisan tentara thaghut, sebagai staf keamanan, intelijen, dan polisi yang bertugas memerangi umat Islam dan menjaga syariat thaghut. Mereka adalah para loyalis thaghut Sisi di Mesir, relasi paling dekat dan sekutu paling setia dalam memerangi Islam dan umat muslim. Demikian juga para uskup dan pendetanya sangat sering melukai agama Islam, al-Qur’an yang mulia dan Rasul shallallahu alaihi wasallam. Merekalah para pemimpin kekafiran yang Allah perintahkan untuk dibunuh.

Allah ta'ala berfirman, “Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. at-Taubah: 12).

Dianggap Sama

Darah orang-orang Kristen muharib secara umum adalah halal, termasuk orang-orang Kristen Mesir. Yang menjadi target serangan adalah militer secara khusus, yaitu orang yang mampu mengangkat senjata sekalipun tidak mengangkatnya secara hakikat, juga pihak yang membantu militer dengan pendapat dan arahan. Adapun yang biasanya tidak bersenjata seperti wanita, anak-anak, orang-orang tua dan lemah, maka mereka dijadikan tawanan dan pada prinsipnya tidak dibunuh, meskipun hukum asal mereka adalah halal darahnya karena mereka tetap musyrik. Hukum anak-anak mengikuti hukum bapak-bapaknya. Barang siapa yang membawa senjata diantara mereka meskipun dia anak kecil atau wanita maka dia dibunuh. Siapa yang turut menyumbangkan pendapat dan arahan meskipun dia orang yang sudah tua dan lemah maka dia dibunuh, berdasarkan pengakuan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabat yang membunuh Duraid bin Shamt selepas perang Hunain, padahal dia adalah orang yang sudah renta yang tidak mampu untuk berperang, tetapi dia adalah pemikir dan ideology kaumnya. Kisah ini terdapat dalam kitab Shahihain serta kitab-kitab sunah yang lain.

Sedangkan para wanita Kristen muharib dan anak-anaknya yang terbunuh namun bukan termasuk militer, karena terkena dampak bukan karena disengaja, maka darah mereka tidak dianggap, karena darah mereka tidak terpelihara dengan masuk Islam atau lewat perjanjian. Oleh karena itu, Imam Bukhari rahimahullah membuat Bab Serangan malam terhadap penduduk negeri sehingga mengenai anak-anak dan keturunannya. Di situ diriwayatkan hadits Sha’b bin Jutsamah ujarnya, “Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang orang-orang musyrik yang diserang di waktu malam sehingga mengenai wanita dan anak-anaknya, beliau menjawab, ‘Mereka semua dianggap sama.’ (Muttafaqun alaihi).

Wanita dan anak-anak yang terbunuh itu hanyalah imbas serangan, bukan disengaja. Seperti akibat karena serangan malam yang sulit dibedakan mana prajurit dan yang bukan. Mungkin juga akibat tembakan senjata perusak seperti tembakan artileri dan roket, atau peledakan sabuk bom dan bom mobil di lokasi konsentrasi prajurit, sedangkan para wanita dan anak-anak tersebut berbaur dengan mereka.

Dalil atas bolehnya menggempur mereka dengan senjata-senjata ini adalah perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang melontarkan batu-batu manjanik kepada penduduk Thaif, sekalipun terdapat orang-orang yang sebenarnya bukan target tetapi berbaur dengan para prajurit di dalam benteng sehingga tidak mungkin dipilih. Begitu juga perbuatan Amru bin Ash ketika melontari penduduk Alexandria dengan batu-batu manjanik.

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata mengenai al-Bayat (serangan malam), “Hal itu berarti dalil atas bolehnya al-bayat dan membunuh orang musyrik secara tidak sengaja, meskipun hal itu mengenai anak-anak dan wanita mereka. Larangan membunuh para wanita dan anak-anak mereka diberlakukan ketika kondisi bisa dibedakan dan dipisahkan. Jika mereka berada dalam benteng, maka boleh melontarkan manjanik, menembakkan api, dan menenggelamkan mereka. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melontarkan manjanik kepada penduduk Thaif. Beliau juga pernah melancarkan serangan mendadak dan memerintahkan membakar Bani Musthaliq.” (Syarhu Sunah).

Perangilah Para Imam Kekafiran

Adapun rahib, hukum asalnya adalah tidak dibunuh, berdasarkan pesan Abu Bakar radhiyallahu anhu kepada Yazid bin Abu Sufyan, “Kamu akan menemukan suatu kaum yang beranggapan sedak memenjarakan diri (rahib-rahib yang berada di biara-biara. Edt.), maka biarkan mereka dengan asumsi mereka itu (jangan diserbu. Edt.).” (Diriwayatkan oleh Malik).

Hukum membunuh mereka berbeda-beda tergantung peran mereka di tengah kaumnya. Maka, barangsiapa diantara mereka yang memisahkan diri dari kaumnya, menyendiri di biaranya, tidak berbaur dengan mereka di tempat yang sama dan tidak mendukung dengan pendapat tertentu, maka dia dibiarkan selama tetap seperti itu.

Adapun barang siapa yang berbaur dengan mereka, menyeru kepada agama bathil, atau menjadi penasehat dan pengarah bagi mereka, maka hukumnya tidak berbeda dengan hukum para prajurit. Bahkan dia lebih kafir dan lebih berbahaya kerusakannya. Oleh karena itu, para fuqaha membedakan antara para pendeta yang mengasingkan diri di biara-biara dan kuil-kuil, dan para uskup yang mengelola gereja, yang kedua harus dibunuh dan ditawan, berbeda dengan yang pertama. Namun para rahib itu tidak terjaga darahnya, yakni karena kemusyrikan dan kekufurannya.

Oleh karena itu, boleh mendekatkan diri kepada Allah dengan menarget para uskup dan pendeta serta yang lain (yang turut mengelola gereja Kristen muharib, termasuk Kristen Mesir), dengan menyakiti dan membunuhnya. Bahkan merekalah para pemimpin kekafiran. Merekalah para thaghut yang disembah selain Allah. Allah ta'ala berfirman tentang mereka, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (QS. at-Taubah: 31).

Maka membunuh mereka pahalanya sangat besar dengan izin Allah.

Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para rahib diperselisihkan oleh para ulama mengenai apakah dibunuh atau dipungut jizyah. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari khalifah Rasulullah yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu, bahwa beliau berkata dalam wasiatnya kepada Yazid bin Abi Sufyan ketika diutus sebagai komandan untuk menaklukkan Syam, pesannya, ‘Kalian akan menemukan kaum yang memenjarakan diri mereka di biara-biara, maka biarkan mereka dan anggapannya itu. Kalian juga akan menemukan kaum yang membotaki puncak kepalanya, maka tebaslah bagian itu dengan pedang, karena Allah berfirman, ‘Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.’ (QS. at-Taubah: 12).’ Adapun rahib yang membantu orang-orang seagamanya dengan menjadi penasehat perang atau motivator, maka rahib seperti ini dibunuh, menurut kesepakatan ulama, jika berhasil ditangkap, dan dipungut jizyah jika dia mengurung diri di tempat ibadahnya. Akankah seorang alim akan berkata bahwa para pemimpin kekafiran yang menghalangi awam mereka dari jalan Allah dan memakan harta manusia dengan cara bathil serta rela dijadikan sebagai sesembahan selain Allah itu tidak boleh diperangi dan dipungut jizyah padahal orang awam yang lebih kecil bahayanya dan lebih sedikit hartanya itu dipungut jizyah? Orang yang waras tidak akan mengatakan hal itu. Tetapi syubhat yang sering terjadi adalah karena kata rahib ini mengandung pengertian global dan berkelindan.” (Majmu’ Fatawa).

Tawanlah Jika Kalian Berhasil Melumpuhkan Mereka

Jika kita telah mengetahui bolehnya menumpahkan darah orang-orang Kristen muharib, kita juga tahu bahwa memperbudak mereka adalah boleh, demikian juga menawan dan menukar mereka dengan tawanan lain atau dengan harta setelah berhasil dilumpuhkan, berdasarkan Firman Allah ta'ala, ”Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir.” (QS. Muhammad: 4).

Maka hendaknya umat Islam di Mesir dan negeri kafir yang lain menawan orang-orang Kristen setelah melumpuhkan mereka, baik besar maupun kecil, laki-laki maupun wanita, lalu menukarnya dengan para ikhwan dan akhwat yang ditawan oleh para thaghut. Bagi mereka nyawa orang-orang Kristen itu sangat berharga, karena dibelakangnya ada negara-negara salib yang akan menuntut dan membela. Begitu juga, hendaklah umat Islam meminta tebusan harta kepada mereka, tetapi menukarnya dengan tawanan lebih utama. Begitu juga mereka boleh membebaskannya jika dilihat ada mashlahat bagi umat Islam.

Penghancuran Gereja

Gereja-gereja Kristen sebenarnya tidak perlu dihormati, karena merupakan tempat Allah disekutukan dan dikufuri.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata mengenai gereja-gereja Kristen, “Itu bukanlah rumah Allah, karena rumah Allah adalah masjid. Tetapi geraja adalah rumah tempat Allah diingkari meskipun terkadang di dalamnya nama-Nya disebut-sebut. Rumah itu mencerminkan penghuninya, sedangkan penghuninya adalah orang-orang kafir, maka gereja adalah rumah ibadah orang-orang kafir.” (Majmu’ Fatawa)

Beliau juga berkata, “Barangsiapa yang meyakini bahwa gereja adalah rumah Allah, atau meyakini bahwa Allah disembah di dalamnya, atau meyakini bahwa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai ibadah kepada Allah serta ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, atau meyakini bahwa Allah mencintai dan rela, maka dia kafir. Hal itu berarti dia telah meyakini kebenaran agama mereka, dan hal itu adalah kekafiran. Juga jika ia membantu mereka membuka gereja itu dan menegakkan agama mereka serta meyakini bahwa hal itu adalah dan ketaatan, karena itu berarti dia meyakini keabsahan agama mereka.” (Majmu Fatawa).

Bumi manapun yang telah dikuasai kaum muslimin dengan kekuatan, maka umat islam boleh menghancurkan gereja-gereja yang ada, atau merampasnya, meskipun sebelumnya dibiarkan berdiri sekian lama. Adapun jika umat islam memasukinya dengan perjanjian yang menyaratkan agar gereja yang ada dibiarkan, maka umat islam terikat dengan perjanjian ini dan harus ditepati. Jika suatu saat mereka membatalkan perjanjian maka hilanglah keharamannya dan umat islam boleh menghancurkan dan melenyapkannya. Larangannya terletak pada isi perjanjian, bukan pada gerejanya. Jika perjanjian hilang maka tidak ada lagi larangan untuk tidak menghancurkannya.

Ibnu Taimiyah rahimahulah berkata, “Umat Islam pernah merampas banyak gereja dari daerah yang dikuasai secara paksa setelah sebelumnya dibiarkan sekian lama, yakni pada era khilafah Umar bin Abdul Aziz dan yang lainnya. Tidak ada umat islam yang mengingkari hal itu. Maka bisa diambil kesimpulan bahwa menghancurkan gereja yang telah direbut adalah boleh selama hal itu tidak menimbulkan bahaya bagi umat Islam. Sebab gereja-gereja itu dibiarkan saja (tidak dihancurkan) ialah karena sedikitnya jumlah umat islam, atau sebab-sebab lain, seperti Nabi shallallahu alaihi wasallam enggan mengusir orang-orang Yahudi, hingga akhirnya mereka diusir oleh Umar bin Khattab.” (Majmu’ Fatawa).

Larangan untuk menghancurkan dan menjadkan gereja-gereja itu sebagai ghanimah itu terikat dengan perjanjian. Tatkala tidak ada perjanjian atau mereka melanggar perjanjian tersebut, maka statusnya sama seperti harta benda mereka yang lain. Umat islam boleh melakukan apapun yang diperbolehkan.

Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kapan saja perjanjian mereka batal, maka boleh mengambil alih gereja yang dibiarkan karena adanya perjanjian, apalagi jika gereja itu diambil secara paksa, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengambil alih harta benda milik Bani Quraizhah ketika mereka melanggar perjanjian, karena orang yang melanggar perjanjian lebih buruk statusnya dari pada kafir asli.” (Masalah Fil Kanais).

Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat pernah menghancurkan harta benda dan rumah orang-orang musyrik dan meratakannya sebagaimana ketika perang Khaibar.

Allah ta'ala berfirman, “Mereka memusnahkan rumah- rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (QS. al-Hasyr: 2).

Allah ta'ala juga berfirman, “Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.” (QS. al-Hasyr: 5).

Demikian juga yang dilakukannya di Thaif.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Umat Islam tidak dilarang membakar maupun menghancurkan harta benda mereka (orang-orang kafir) hingga mereka masuk Islam atau menjadi ahlu dzimah. Jika ternyata ada yang bisa dibawa dan dipindahkan maka tidak boleh dibakar karena telah menjadi hak milik umat Islam, sedangkan barang lain yang tidak bisa dibawa boleh dibakar.” [al-Umm].

Jadi, kehalalan harta mereka yang bersifat umum (seperti gereja) adalah lebih utama, karena bukan merupakan harta perorangan. Maka, menarget gereja-gereja seperti ini dengan peledakan dan penghancuran adalah perkara yang disyariatkan. Diperbolehkan mendekatkan diri kepada Allah ta'ala dengan hal itu.

Perangilah Mereka Niscaya Allah Akan Menyiksanya Melalui Kalian

Kesimpulannya, telah jelas bagi kita bahwa orang-orang Kristen, termasuk Kristen Mesir, darah, harta, dan kehormatan mereka tidak terpelihara, karena mereka adalah kafir harbi, bukan ahlu dzimah. Setiap Kristen yang terbunuh maka darahnya dianggap tidak berharga. Harta mereka juga dihukumi mubah bagi umat Islam. Agar mereka terus menerus terganggu maka para prajuritnya harus dibunuhi dan disiksa, terutama para thaghut dan para pemimpin kekafiran. Meskipun hal itu berimbas jatuhnya korban orang-orang yang bukan menjadi target pembunuhan. Begitu juga meledakkan dan menghancurkan gereja serta tempat-tempat vital, hingga mereka beriman kepada Allah yang Mahaagung atau membayar jizyah dengan hina.

Wallahu a’lam.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

SYAIKH ABU SULAIMAN ASY-SYAMI (ABU MAISARAH ASY-SYAMI)

RUMIYAH 8 - SYUHADA

SYAIKH ABU SULAIMAN ASY-SYAMI (ABU MAISARAH ASY-SYAMI)

Tidak ada gunanya seorang alim yang menyembunyikan ilmunya. Tidak berani lantang menyuarakan kebenaran dan tidak pula menyeru kepadanya. Tidak ada gunanya juga orang yang amalnya tidak selaras dengan ilmunya. Seorang alim rabbani adalah orang yang mengambil ilmu dengan haknya, ikhlas karena Allah, berbicara dengan ilmu lagi mengamalkannya. Alangkah sedikitnya mereka saat ini. Zaman ketika ilmu hanya disimpan dalam dada, diperdagangkan di bawah kaki thaghut, dan dengannya dicari siapa yang paling banyak pengikut dan muridnya.

Abu Sulaiman asy-Syami taqabbalahullah. Seorang penuntut ilmu dan ulama yang langka. Iman yang dikenalnya adalah iman yang didasari ilmu, maka dicarinya ilmu guna meluruskan imannya. Ia mengetahui fikih, suatu kebaikan yang dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Ia berusaha mendapatkan kebaikan tersebut dengan memperbanyak amal shalih. Ia meyakini bahwa zakatnya ilmu adalah dengan menyampaikannya kepada manusia, maka ia berupaya keras melakukannya baik dengan pena maupun lisannya sesuai kemampuan. Ia takut jika termasuk orang yang berkata tanpa amal, maka ia berupaya keras untuk meraih apa yang telah diserukannya kepada manusia. Hingga akhir hayatnya sesuai dengan yang diharapkannya, yaitu terbunuh di jalan Allah di barisan terdepan. Demikian kami mengiranya, dan kami tidak mensucikan seorang pun dihadapan Allah.

Perjalanan Mencari Ahlul Haq

Beliau tidak terperdaya oleh dunia dan perhiasannya, tidak terbelenggu oleh ijazah pendidikan dan gemerlapnya. Istri, harta, dan anak tidak mampu memfitnah agamanya. Ia meletakkan semua itu dibelakang punggungnya ketika mengenal tauhid. Beliau tahu bahwa jihad fisabilillah adalah bukti kuat wala-nya terhadap kaum muslimin dan baro-nya dari kaum musyrikin. Meski ia lahir di tengah-tengah mereka, dan menghabiskan masa kecil serta masa mudanya.

Ia menyelesaikan sekolah ilmu komputer di salah satu universitas Massachusetts di Negara Boston dan lulus sebagai insinyur programmer. Lalu ia bertekad untuk berangkat fisabilillah bersama beberapa sahabatnya. Mereka keluar berhijrah tanpa melakukan koordinasi atau persiapan yang memadai untuk bergabung dengan para mujahidin. Mereka berkeliling di Yaman, Pakistan, dan Irak dengan harapan bisa bertemu dengan orang yang akan menghubungkan mereka dengan mujahidin. Ketika mereka pesimis untuk menemukan jalan, dan karena khawatir terendus oleh intelijen, akhirnya mereka kembali ke Amerika dengan tetap berdoa kepada Allah azza wa jalla agar memberikan petunjuk kepada mereka.

Tidak lama kemudian, mereka berniat untuk menjadikan bumi Amerika sebagai medan jihad dan istisyhad. Bersama dua orang temannya beliau menyusun rencana untuk melakukan operasi mentarget Amerika di jantung negerinya sendiri. Strategi yang direncanakan adalah merampas senjata dari tangan salibis, lalu melakukan serangan sporadis agar berhasil membunuh banyak korban di barisan kaum musyrikin. Akan tetapi jika Allah menghendaki sesuatu hal maka pasti terjadi. Rencana mereka terbongkar beberapa hari sebelum pelaksanaan operasi. Tetapi Allah masih menyelamatkannya dari penangkapan. Ia berhasil lebih dahulu keluar dari Amerika sebelum pihak intelijen mengendus informasi tentang dirinya dan mengumumkan pencekalan dan penangkapan beliau di semua perbatasan maupun bandara.

Ia kembali ke tanah tumpah darahnya di Syam. Ia tinggal di sana selama beberapa tahun menunggu saat yang tepat. Beliau menghabiskan waktunya di kota Aleppo sambil menuntut ilmu dan menyeru keluarga dan para rekannya kepada tauhid. Ia selalu berhati-hati dari pantauan intelijen dan menghindari bermajlis dengan para ulama durjana yang loyal kepada thaghut. Amerika menetapkannya sebagai DPO interpol dan membanderol kepalanya seharga puluhan ribu dollar.

Sampai di Daulah Islamiyah

Bersamaan dengan permulaan jihad di Syam, ia keluar mencari ahli tauhid diantara faksi-faksi perlawanan. Ia bergabung dengan salah satu faksi hingga terluka pada pertempuran melawan Nushairiyah di salah satu distrik kota Allepo. Ketika didengarnya prajurit Daulah Islamiyah telah sampai di Syam, yang ketika itu beroperasi dengan nama Jabhah Nushrah li ahli Syam, ia pun bergabung dengan mereka. Ditemuinya para petinggi Jabhah, yang sepengetahuannya mereka adalah prajurit Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi amir Daulah Islamiyah Irak ketika itu. Ia meminta mereka untuk memindahkannya ke Irak namun mereka menolak. Lalu ia mendesak agar diizinkan untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah atas Nushairiyah, namun juga ditangguhkan. Akhirnya dimanfaatkan waktunya untuk mengajarkan tauhid kepada mujahidin yang bersamanya dan ikut ribath bersama mereka di front-front kota Aleppo. Ia juga turut serta menyerbu posisi-posisi Nushairiyah dalam berbagai operasi. Hingga terjadilah fitnah pengkhianatan Jaulani. Sehingga jelaslah baginya apa yang sebenarnya ditutup-tutupi dan disembunyikan oleh petinggi Jabhah.

Pengkhianatan mereka atas Daulah Islamiyah dan tindakan mereka membatalkan bai’atnya atas Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah dingkarinya dengan tegas. Dibongkarnya konspirasi itu. Kepada para prajurit lain diungkapkannya bahwa hakikatnya Jabhah hanyalah kepanjangan tangan dari Daulah Islamiyah dan mereka adalah prajurit Amirul Mukminin. Mereka tidak boleh memberontak atau membatalkan baiat selama tidak terbukti adanya kekafiran yang nyata. Para pengkhianat pun merasa terjepit, dan berupaya dengan cara apapun untuk menyingkirkannya. Mereka lalu teringat desakannya tempo dulu agar diizinkan untuk melakukan operasi istisyhadiyah. Lalu mereka menawarkan kembali dan berupaya untuk meyakinkan beliau agar melakukan operasi. Disadarinya niat busuk dibalik rencana mereka itu. Maka ia mengumumkan bahwa dirinya telah berlepas diri dari mereka. Beliau keluar dari barisan mereka untuk memperbarui baiatnya kepada Amirul Mukminin dan kembali menjadi salah satu prajuritnya.

Jiwa Tak Akan Mati Sampai Dipenuhi Ajal dan Rizkinya

Di bawah panji Daulah Islamiyah Irak dan Syam, Syaikh Ahmad Abdul Badi’ Abu Samrah (nama aslinya) bertugas layaknya prajurit umumnya. Tidak berlagak dengan ilmunya, dan tidak pula dengan gelarnya. Ia berpindah-pindah dari satu front ke front lainnya. Sekali lagi ia mendaftar dalam kafilah Istisyhadi. Ia terus mendesak komandannya untuk mengizinkannya melaksanakan operasi. Hingga akhirnya ditemukanlah target yang pas, yaitu konsentrasi besar anshar thaghut Bashar di daerah kontrol rezim Nushairi di jantung kota Halab. Strategi eksekusi yang dirancang adalah menyusup ke tengah konsentrasi pasukan itu lalu meledakkan sabuk peledak yang dikenakannya untuk mencerai-beraikan murtaddin. Namun jiwa tidak akan mati sampai dipenuhi ajal dan rizkinya. Allah menakdirkannya bertemu dengan Syaikh Abu Muhammad al-Furqan. Beliau lalu mengenalnya lebih dalam. Syaikh pun memerintahkannya membatalkan operasi yang telah direncanakan, diganti dengan ikhwah lain. Syaikh akhirnya memutuskan untuk memasukkan beliau dalam Departemen Media Daulah Islamiyah. Beliau saat itu sedang berusaha memperkuat sendi-sendinya, memperluas bidang garapannya, dan menarik kader-kader yang mumpuni dari segi ilmu dan seni agar mampu mengemban tugas tersebut.

Tempat Pertemuan Adalah Dabiq

Awal aktivitas Abu Sulaiman al-Halabi (kunyah yang digunakan dalam tugasnya dan dikenal di kalangan mujahidin) dalam Departemen Media adalah bertugas bersama tim bahasa non Arab. Tim ini dibentuk dan diatur oleh Syaikh Abu Muhammad al-Furqan guna meluncurkan program dakwah yang bertujuan memperkenalkan Daulah Islamiyah kepada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia dan memotivasi mereka agar berhijrah. Untuk itu berbagai macam rilisan mulai diluncurkan oleh al-Hayat Media Center yang didirikan khusus demi tujuan ini.

Bersama koleganya ia sangat bersungguh-sungguh menerjemahkan berbagai materi dari dan ke bahasa Inggris. Kemudian muncul ide untuk merilis majalah yang ditujukan kepada native speaker-nya. Ide ini semakin matang setelah Buletin Laporan IS (IS Report) mengalami kesuksesan. Syaikh Abu Muhammad memutuskan untuk merubah proyek ini menjadi majalah rutin, yang –atas karunia Allah– mengalami kesuksesan luar biasa dan mendunia, yaitu majalah Dabiq yang berbarokah itu. Di saat yang sama bakat tulis menulis Syaikh Abu Sulaiman mulai tampak dan kemampuan intelektualnya muncul. Cahaya ilmu syar’i memancar dari tulisan dan ucapannya. Syaikh Abu Muhammad terus membimbing dan mengawasinya. Potensi yang ada pada dirinya betul-betul dimaksimalkan untuk menolong Dienullah, dan ia adalah prajuritnya yang taat, yang tidak membangkang dalam hal yang makruf, tidak mendahuluinya dalam keutamaan, dan tidak pelit untuk berpendapat.

Demikianlah majalah Dabiq dirilis, nama yang sengaja dipilih oleh Syaikh Abu Muhammad untuk menyinggung Romawi Salibis. Memperingatkan mereka tentang nasibnya yang pasti –dengan izin Allah– sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Juga mengingatkan mujahidin tentang janji Syaikh Abu Mus’ab az-Zarqawi rahimahullah bahwa percikan api perang yang berasal dari Irak –dengan izin Allah– tidak akan padam sampai membakar pasukan salibis di Dabiq. Syaikh Abu Sulaiman asy-Syami diserahi tanggung jawab sebagai dewan redaksinya.

Beberapa artikel tulisannya pernah dimuat di majalah itu. Ia juga bertugas mengoreksi tulisan-tulisan redaktur lainnya, dan meneliti terjemahan-terjemahan materi yang akan diterbitkan. Ia berupaya keras melaksanakan tugas yang menyita waktu itu. Syaikh Abu Muhammad selalu mengawasi mereka melaksanakan tugas-tugasnya itu. Beliau berupaya keras agar majalah ini tampil dengan sebaik-baiknya sehingga pesan-pesan Daulah Islamiyah tersampaikan dengan tampilan yang paling menakjubkan. Oleh karena itu, dalam persoalan redaksional dan bahkan desain pun beliau membimbing dan mengoreksi mereka bersama dengan Syaikh Abu Sulaiman. Hingga akhirnya dengan takdir Allah majalah ini sukses, dan pesan-pesan yang dirilisnya menjadi buah bibir media.

Kemudian proyek ini diperlebar agar majalah ini bisa terbit dengan bahasa lainnya. Maka munculah majalah al-Manba’ (berbahasa Rusia), Konstantiniye (berbahasa Turki), dan Darul Islam (berbahasa Perancis). Di saat yang sama Al-Hayat Media Center juga semakin memperlebar sayapnya. Berbagai macam rilisan diterbitkannya. Aktivitas terjemah rilisan berbahasa Arab ke berbagai macam bahasa dunia sangat aktif, sampai-sampai hampir tidak ada suatu kaum di bumi ini kecuali telah sampai kepada mereka rilisan-rilisan Daulah Islamiyah dengan bahasa mereka.

Abu Maisarah Asy-Syami

Disamping tanggung jawab Abu Sulaiman sebagai dewan redaksi majalah Dabiq dan penanggung jawab semua tim bahasa non Arab, Syaikh Abu Muhammad taqabbalahullah amat mengandalkannya dalam penyusunan artikel-artikel yang menjelaskan manhaj Daulah Islamiyah dan membongkar kedok musuh-musuh-nya. Hal itu karena kesibukan Syaikh dengan urusan-urusan Departemen secara umum, dan tanggung jawabnya terhadap tugas yang dibebankan oleh Amirul Mukminin hafizhahullah. Beliau meminta Abu Sulaiman untuk menuangkan ide-idenya dalam bentuk artikel, karena beliau percaya dengan kepiawaian bahasanya, bakat tulis-menulisnya, dan ilmu syar’inya yang mapan, serta pemahamannya terhadap manhaj Daulah Islamiyah. Dalam tulisannya Abu Sulaiman menggunakan nama samaran Abu Maisarah Asy-Syami di bawah bimbingan dan pengawasan Syaikh Abu Muhammad.

Demikianlah kunyah ini terkenal. Pukulan demi pukulan telak menghantam shahawat murtad dan para ulama durjananya. Satu demi satu dibongkarnya kedok faksi-faksi sesat pengaku Islam dan petinggi-petingginya pengekor hawa nafsu. Disingkapnya jati diri sebenarnya para figur yang disembah manusia selain Allah. Hinggga jadilah nama Abu Maisarah Asy-Syami sumber kegundahan faksi-faksi Shahawat dan simpatisannya, khususnya ulama durjana yang membela kaum musyrikin. Mereka selalu mengeluhkannya lantaran tak sanggup membantah artikel-artikel tersebut. Mereka selalu berusaha mencari tahu jati dirinya. Mereka selalu mengadukan perihalnya kepada siapapun yang bisa membantu mereka, namun tanpa hasil informasi apapun. Ia berusaha keras untuk selalu menyembunyikan tulisan-tulisan dan amalannya karena khawatir akan riya, menghindari sum’ah, dan tidak ingin terkenal.

Abu Sulaiman taqabbalahullah sangat pecemburu terhadap dien, mudah marah karena Allah, dan sangat membenci ulama-ulama durjana. Khususnya klaimer tauhid dan sunnah, dan utamanya lagi para masyaikh shahawat dan ideolognya. Pada tiap kesempatan ia selalu memperingatkan manusia dari mereka, dan membeberkan semua tingkah picik dan sikap hina mereka. Kolega dan amirnya selalu dimotivasinya untuk membunuh dan memutus fitnah mereka. Ia bahkan menawarkan dirinya untuk melaksanakan tugas dan mewujudkan tujuan ini.

Melalui tulisannya ia juga memprovokasi untuk membunuh banyak ulama durjana yang loyal kepada para salibis. Ia juga ikut andil dalam perencanaan pembunuhan seorang Amerika murtad Hamzah Yusuf saat berkunjung ke Turki, namun Allah menakdirkannya selamat dari tangan unit Daulah Islamiyah yang beroperasi di sana.

Ilmu, Amal, dan Dakwah

Ilmu Syaikh Abu Sulaiman tak hanya sekedar teori. Ia rahimahullah selalu berusaha mengamalkan ilmunya. Fokusnya adalah pada hal-hal yang bermanfaat bagi dien dan dunia saudara-saudaranya. Ia sangat pandai dalam masalah tauhid, mengetahui berbagai macam pendapat sekte-sekte dahulu dan sekarang, fasih dalam pendapat madzhab-madzhab fikih, dan sangat berupaya mengikuti para salaf dan yang berjalan di atas jejak mereka. Ia sangat waspada terhadap pelaku bid’ah dan ocehan-ocehan mereka, tidak memuliakan mereka, dan tidak mengangung-agungkannya. Ia banyak menelaah pendapat generasi pertama imam dakwah najdiyah. Ia selalu mewanti-wanti dari kesesatan yang ditempelkan pada dakwah ini lewat tangan generasi terakhirnya yang berafiliasi kepada dakwah ini namun loyal kepada thaghut Alu Su’ud dan antek-anteknya.

Saking gigihnya beliau rahimahullah dalam usahanya mengetahui kebenaran dan mengikutinya, ia habiskan waktu berjam-jam untuk memverifikasi persoalan-persoalan ilmiyah dan mencari pendapat yang kuat. Jika kebenaran ditemukannya maka ia tak peduli jika harus menyelisihi pendapat imam atau meninggalkan pendapat yang masyhur.

Beban yang sudah bertumpuk di pundaknya semakin banyak. Meletihkan badan dan memeras otaknya. Di pagi buta ia sudah memulai aktivitasnya bersama rekan-rekannya di majalah Dabiq dan tim penerjemah. Setelahnya ia menghadiri pertemuan-pertemuan panjang dengan para ikhwah mujahidin yang terkena syubhat. Ia menjelaskan kepada mereka fakta-fakta seputar manhaj Daulah Islamiyah dan menyeru untuk kembali kepada kebenaran. Setelah berjam-jam diskusi dan perdebatan yang melelahkan dia kembali untuk meneliti, menulis, dan mengulang-ngulang. Ia pulang ke rumahnya larut malam dalam keadaan letih dan capek lantaran bergadang, dan kelaparan karena terkadang sepanjang hari ia tidak merasakan makanan kecuali beberapa suap sekedar menegakkan tulang punggungnya.

Kerinduan Yang Tak Padam Akan Mati Syahid

Betapapun manfaatnya amat besar kepada kaum muslimin tidak menghentikannya terus meminta untuk melaksanakan operasi istisyhadi. Kesibukannya dalam menuntut ilmu dan dakwah tidak memadamkan kerinduannya menuju medan pertempuran dan front ribat. Tiap kali majalah Dabiq mengalami keterlambatan terbit ia bercanda kepada rekannya bahwa jalan satu-satunya untuk beristirahat dari pekerjaan yang melelahkan ini adalah operasi Istisyhadiyah. Setiap kali mendapati rekannya merencanakan proyek baru ia bercanda akan membiarkan mereka melaksanakan proyek itu sendirian, dan dia hanya fokus untuk rencana operasi Istisyhadiyah.

Pada hari-hari terakhirnya, ia bersama Syaikh Abu Muhammad aktif merencanakan proyek majalah Rumiyah dalam delapan bahasa yang bertujuan memperluas cakupan pembaca dari berbagai bahasa non Arab lainnya. Mereka berdua merapikan dan menentukan waktu penerbitannya secara serentak. Atas karunia Allah proyek ini sukses. Rumiyah menjadi majalah bulanan yang diterbitkan secara serentak dalam sepuluh bahasa non Arab. Dengannya Allah membuat geram orang-orang kafir, membuat gembira orang-orang beriman, dan menolong Daulah Islam dan kaum muslimin.

Setelah terbitnya edisi pertama majalah ini, Syaikh Abu Muhammad al-Furqan terbunuh dalam serangan salibis di kota Raqqah. Abu Sulaiman sangat sedih berpisah dengannya. Kesedihannya tampak sangat jelas. Ia sering terlihat tidak fokus, pandangannya bingung, dan hampir-hampir tidak pernah tersenyum. Hal itu lantaran kedudukan Syaikh Abu Muhammad pada dirinya. Ia juga menyadari betapa pentingnya posisi Syaikh di Daulah Islamiyah di antara amir dan prajuritnya.

Maka ia terus menerus mendesak amirnya untuk mengizinkannya ribath dan ikut dalam peperangan. Hingga akhirnya diizinkan. Maka ia keluar mencari front ribath terdekat dengan musuh dan yang paling berbahaya. Rekan-rekannya lalu mengantarkannya ke front pertempuran di utara kota Thabqah. Ia tetap bertahan di salah satu desa bersama sedikit rekan-rekannya di bawah bombardir salibis. Hingga Allah menakdirkannya terbunuh ketika mortir mengenai rumah tempatnya berlindung. Akhirnya cita-citanya kini terwujud. Kisah jihadnya berakhir sebagaimana diinginkannya sebelumnya. Syahid di jalan Allah di barisan terdepan, tidak berpaling saat berhadapan dengan musuh, dan tidak mundur ke belakang. Demikianlah kami kira, dan kami tidak mensucikan siapapun di hadapan Allah.

Kini Abu Sulaiman asy-Syami telah pergi. Ia tidak pernah merasakan nikmatnya istirahat bagi badan dan akalnya sejak menemani Syaikhnya Abu Muhammad al-Furqan taqabbalahullah.

Ia telah pergi sementara gambaran tentangnya masih melekat di benak rekan-rekannya, duduk menghadap laptopnya hingga larut malam atau di pagi-pagi buta, meneliti permasalahan, memurajaah kitab, atau menulis artikel.

Abu Sulaiman telah pergi. Dia tahu bahwa media adalah jalan dakwah kepada Allah, hidayah ke jalanNya, dan sebagai provokasi untuk memerangi musuh-musuh-Nya, maka ia laksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya.

Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Sulaiman, dan mengumpulkan kita dengan guru-gurumu di surga-Nya yang tinggi.

DAN PERANGILAH KAUM MUSYRIKIN SELURUHNYA

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

DAN PERANGILAH KAUM MUSYRIKIN SELURUHNYA

Bertahun-tahun setelah tegaknya Khilafah, ia menyerukan pada kaum muslimin di seluruh dunia agar berjihad memerangi musuh-musuh Allah guna meninggikan kalimat-Nya dan bergabung di bawah panji Jama’atul Muslimin. Seruan ini disambut oleh banyak kalangan mujahidin dari berbagai belahan dunia yang menyatukan barisan mereka dan berbai’at pada Amirul Mukminin. Beberapa jama’ah ini lalu menggabungkan diri satu sama lain di daerahnya masing-masing, lalu mereka bermusyawarah untuk memilih salah seorang dari mereka guna ditunjuk oleh Khalifah sebagai amir mereka.

Daulah khilafah meluas dengan cepat hingga luar daerah kontrolnya di Irak dan Syam. Keduanya adalah negeri muslimin yang diinvasi para Salibis dan dipisah-pisahkan dengan perbatasan imajiner, dijaga oleh antek-antek mereka, para Thaghut. Meluasnya wilayah Khilafah ke luar Irak dan Syam terjadi setelah menghancurkan tapal batas imajiner antara keduanya, lalu menyatukan kedua daerahnya serta menegakkan syariat di atasnya.

Darinya, terlihat jelas bahwa persatuan ummat akan terus diraih selama ummat ini menginginkan hal itu dengan landasan mentauhidkan Rabb mereka. Inilah gambaran Tauhid (yaitu memberikan hak Tauhid dan tidak menggadaikannya demi siasat politik belaka) yang Daulah Islamiyah tegak di atasnya, lalu menyeru mujahidin kepadanya, dan inilah yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Mujahidin di seluruh dunia. Tatkala Khilafah menyampaikan seruannya, terdengarlah sambutan dari mana-mana, Sinai, Libya, Aljazair, Yaman dan Jazirah Arab.

Mujahidin pun diseru guna bersatu di atas Tauhid, yang dengannya front disatukan melawan tiap musyrikin di seluruh belahan bumi sebagaimana yang Allah perintahkan kepada mereka, “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. at-Taubah: 36).

Tatkala peperangan melawan kekafiran kian sengit, di saat yang sama kaum musyrikin bersatu untuk menghentikan ekspansi Daulah Islamiyah yang membahayakan mereka. Namun meski begitu, jama’ah-jama’ah mujahidin di seluruh penjuru dunia datang berbondong-bondong satu demi satu untuk bersatu di bawah panji Khilafah. Di Khurasan, Afrika Barat, Asia Timur, dan Mali. Fakta inipun menyebar ke seluruh negeri muslimin. Di setiap belahan bumi manapun yang terdapat bai’at di dalamnya, langsung menghadapi serangan demi serangan musuh. Mujahidin selalu membantai kuffar dimanapun mereka berada, tak membedakan antara Salibis, musyrik, atau antek murtadnya.

Demikianlah, tatkala delapan tentara In-ghimasi Junud Khilafah pada tanggal 25 Jumadal Akhir menyerbu markas pasukan Garda Nasional Rusia di desa Nawur Sakya, barat laut kota Grozny, Chechnya wilayah Kaukasus. Mereka manfaatkan cuaca yang mendung dan gelapnya malam untuk menyerbu pangkalan militer itu, berbekal senapan serbu dan pisau. Kedelapan mujahid yang telah menjalani pelatihan ekstra selama sepuluh hari ini, berjibaku melawan bala tentara Salibis di dalam pangkalan militer selama beberapa jam. Mereka bantai sedikitnya enam tentara Salibis dan melukai tiga lainnya. Enam Kesatria gugur selama berlangsungnya operasi, sementara dua lainnya berhasil pulang kembali ke markas Mujahidin dengan selamat.

Bersamaan dengan serangan berani tersebut, terdapat operasi lain yang berjarak ribuan kilometer dari Chechnya, dimana Kesatria Khilafah di Bangladesh, al-Istisyhadi Abu Muhammad al-Banghali menyerang salah satu pos keamanan Bandara Internasional kota Dhaka, meledakkan bom rompinya ke tengah sekelompok besar polisi murtad Bangladesh, membunuh sedikitnya tiga musuh dan melukai beberapa lainnya. Sehari pasca operasi ini, puluhan tentara Bangladesh tewas dan terluka dalam ledakan bom rakitan di distrik Sylhet, saat mereka berupaya menggrebek salah satu markas Mujahidin. Sementara itu, sepekan sebelumnya, salah seorang Mujahid menyerbu Kamp Militer pasukan elit Bangladesh dengan ledakan bom rompi di daerah Ashkuna, kota Dhaka.

Operasi demi operasi di Bangladesh dan Kaukasus ini telah memporak-pondakan barisan murtaddin serta Salibis. Mujahidin Bangladesh telah membuktikan kemampuan mereka dalam menghadapi dan menguras energi pasukan murtad serta menargetkan pimpinan termuka mereka. Sebagaimana yang terjadi pada operasi Sylhet, mereka berhasil membunuh seorang perwira berpangkat kapten (si murtad Abul Kalam Azad, Direktur Umum Badan Intelijen Pasukan Elit).

Mujahidin Kaukasus juga membuktikan kemampuan mereka dalam menargetkan pasukan salibis Rusia dan membantai mereka, bahkan di pangkalan militer mereka sendiri. Karenanya, operasi-operasi ini mengingatkan seluruh sekte kekafiran sekali lagi bahwa batalyon-batalyon tempur Daulah Islamiyah di seluruh dunia akan terus melancarkan misinya memberantas bala tentaranya dimana saja mereka berada, sampai kalimat Allah menjadi paling tinggi dan kalimat kekufuran yang paling rendah.

Semoga Allah menerima para Syuhada kita dan menggantikan mereka dengan sosok-sosok kesatria lain yang akan melanjutkan estafet mengemban panji Tauhid setelah mereka. Aamiin.

BERHAKIM KEPADA THAGHUT

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

BERHAKIM KEPADA THAGHUT
OLEH : SYAIKH SULAIMAN BIN ABDULLAH BIN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Firman Allah azza wa jalla, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna’. (QS. an-Nisa: 60-62).

Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata mengomentari ayat tersebut, “Orang yang mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah harus tunduk kepada hukum Allah dan berserah diri kepada perintah-Nya yang datang melalui tangan Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Jadi siapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk disembah kecuali Allah namun justru memilih berhukum kepada selain Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam persengketaannya berarti syahadatnya dusta.

Tauhid itu dibangun di atas dua kalimat syahadat. Keduanya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Sebelumnya dalam kitab ini (yaitu Kitabut Tauhid yang ditulis oleh kakeknya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) telah dijelaskan tentang makna syahadat laailaahaillallah yang mencakup hak Allah atas hamba-Nya. Pada bab ini beliau menjelaskan makna syahadat Muhammad Rasulullah; bahwa beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah lagi rasul yang jujur yang tidak boleh didustakan namun harus ditaati dan diikuti, karena beliau adalah “juru bicara” Allah azza wa jalla. Beliau shallallahu alaihi wasallam memiliki jabatan kerasulan dan tabligh dari Allah serta berhak menghakimi dalam persengketaan yang terjadi karena beliau tidak akan memutuskan selain dengan hukum Allah. Rasa cinta kepadanya harus melebihi rasa cinta kepada diri sendiri, keluarga, harta, dan tanah air. Beliau sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. al-Jin: 19). Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya saya adalah hamba-Nya maka katakanlah ‘hamba Allah dan Rasul-Nya’.” (HR. Bukhari).

Konsekuensi syahadat Muhammad rasulullah diantaranya adalah mengikuti dan berhakim kepada beliau dalam persengketaan yang terjadi, dan tidak berhukum kepada yang lain sebagaimana orang-orang munafik yang mengaku beriman kepada beliau tetapi justru berhakim kepada yang lain. Dengan ini seorang hamba berhasil merealisasikan kesempurnaan tauhid dan mutaba’ah, dan itulah kebahagiaan yang sebenarnya, sebagaimana juga merupakan makna dua kalimat syahadat. Jika hal ini telah jelas maka makna ayat di atas (pada awal tulisan ini, edt.) adalah sesungguhnya Allah azza wa jalla mengingkari orangorang yang mengaku beriman kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya dan para nabi sebelumnya, namun malah ingin berhakim kepada selain Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya dalam menyelesaikan persengketaannya.

Hal itu sebagaimana disebutkan penulis (maksudnya penulis Kitabut Tauhid, edt.) mengenai sebab turunnya ayat ini; Ibnul Qayim berkata, ‘Thaghut adalah setiap orang yang melampaui batas, diambil dari kata atthughyan yang artinya melampaui batas.’ Jadi setiap sesuatu yang dijadikan hakim, selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, oleh pihak yang bersengketa, berarti dia adalah thaghut, karena dia telah melampaui batas. Berdasarkan pengertian ini, semua orang yang menyembah sesuatu selain Allah berarti telah menyembah thaghut dan dengan sesembahannya dia telah melampaui batas, karena semestinya dia tidak beribadah kepadanya. Begitu juga siapa yang menyeru untuk berhakim kepada selain Allah dan Rasul-Nya saw berarti dia telah menyeru untuk berhakim kepada thaghut.

Perhatikanlah bagaimana Allah azza wa jalla memulai ayat tersebut. Dia mengingkari orang yang mengaku beriman kepada apa yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dan para nabi sebelumnya namun malah menyeru untuk berhakim kepada selain Allah dan Rasul-Nya dalam persengketaan yang terjadi. Firman-Nya ‘Mereka mengaku’ berarti bahwa Allah menyangkal pengakuan iman mereka. Karena itulah Allah tidak berfirman, ‘Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang beriman....’ Karena jika mereka benar-benar beriman niscaya tidak akan mau berhakim kepada selain Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Ungkapan ‘mereka mengaku’ itu biasanya disematkan kepada orang yang mengaku sesuatu hal padahal hakikatnya berdusta atau diposisikan sebagai pendusta karena bersebrangan dengan konsekuensinya atau karena melakukan sesuatu yang membantah pengakuannya. Ibnu Katsir berkata, ‘Ayat diatas mencela orang yang berpaling dari Kitab dan Sunnah dan berhakim kepada kebatilan, itulah yang dimaksud dengan thaghut di sini.’

Firman Allah azza wa jalla, ‘Padahal mereka telah diperintah untuk mengingkarinya’ maksudnya mengingkari thaghut. Ini adalah dalil bahwa berhakim kepada thaghut adalah bertentangan dengan iman. Maka iman tidak sah kecuali dengan mengingkari thaghut dan tidak berhakim kepadanya. Jadi siapa yang belum kafir kepada thaghut berarti belum beriman kepada Allah.

Firman Allah, ‘Dan setan ingin menyesatkan mereka sejauh-jauhnya’ artinya karena keinginan untuk berhakim kepada selain Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam berarti taat kepada setan. Padahal setan itu menyeru kelompoknya agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. Ayat ini juga dalil bahwa meninggalkan upaya untuk berhukum kepada thaghut (yaitu sesuatu selain Kitab dan Sunnah) adalah keharusan, sedangkan orang yang tetap berhukum kepada thaghut berarti bukan mukmin, bahkan muslim pun bukan.

Firman Allah azza wa jalla, ‘Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,’ niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu)’, artinya apabila mereka diseru untuk berhakim kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul niscaya mereka akan berpaling lagi menyombongkan diri, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, ‘Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.’ (QS. an-Nur: 48). Ibnul Qayim berkata, ‘Ini dalil bahwa siapa yang diseru untuk berhakim kepada Kitab dan Sunah tetapi enggan dan tidak mau menerima maka dia adalah munafik. Yashuddun (mereka menghalangi) di sini adalah lazim (intransitif, edt.) bukan muta’addi (transitif, edt.), maknanya yu’ridhun (diri mereka yang berpaling, edt.) bukan menghalangi yang lain. Oleh karena itu, mashdar-nya (bentuk asal) adalah shudud (), sedang mashdar untuk yang bentuk muta’addi adalah shaddan ().’ Jika orang yang berpaling saja dihukumi oleh Allah sebagai munafik, lantas bagaimana dengan orang yang disamping berpaling juga menghalangi manusia dari berhakim kepada Kitab dan Sunnah dengan ucapan, amalan dan karya-karyanya. Lalu kemudian mengklaim bahwa sebenarnya dia menghendaki kebaikan dan perdamaian; artinya hanya menghendaki kebaikan dan hendak mengompromikan antara thaghutnya dengan Kitab dan Sunnah.

Saya katakan, inilah kondisi mayoritas orang yang mengaku berilmu dan beriman di zaman ini. Jika dikatakan kepada mereka marilah kita berhakim kepada apa yang diturunkan kepada Rasul, ‘Kamu melihat mereka berpaling lagi menyombongkan diri.’ (QS. al-Munafikun: 5). Mereka beralasan bahwa mereka tidak tahu dan tidak paham, ‘Bahkan Allah melaknat mereka akibat kekafiran mereka, lalu sedikit saja diantara mereka yang beriman.’ (QS. al-Baqarah: 88).

Firman Allah azza wa jalla, ‘Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri.’ Ibnu Katsir berkata, ‘Artinya bagaimana halnya jika takdir menyeret mereka terkena berbagai musibah lantaran dosa-dosa mereka lantas mereka membutuhkanmu.’ Ibnul Qayim berkata, ‘Ada yang berpendapat musibah yang dimaksud adalah terbongkarnya kedok mereka ketika al-Qur’an diturunkan terkait keadaan mereka, tidak diragukan bahwa ini adalah musibah dan bahaya terbesar. Berbagai musibah yang menimpa baik pada tubuh, hati, dan agama mereka adalah akibat menyelisihi Rasul shallallahu alaihi wasallam. Yang terbesar adalah musibah hati dan agama. Yang makruf terlihat mungkar, petunjuk terlihat sesat, yang lurus terlihat bengkok, yang haq terlihat batil, dan yang baik terlihat rusak. Inilah musibah yang menimpa hati. Inilah yang akan terjadi ketika menyelisihi Rasul shallallahu alaihi wasallam dan berhakim kepada yang lain. Sufyan ats-Tsauri berkata terkait firman Allah azza wa jalla, ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Nya waspada terhadap fitnah yang menimpa mereka.’ (QS. An Nur: 63), beliau berkata, ‘Artinya hati mereka ditutup rapat-rapat.’

Firman Allah azza wa jalla, ‘Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, ‘Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna’.’ Ibnu Katsir berkata, ‘Artinya mereka beralasan dan bersumpah jika perginya kami kepada selain Anda hanyalah demi kebaikan dan petunjuk. Maksudnya hanyalah ungkapan basa basi dan pura-pura.’ Yang lain berkata, ‘melainkan demi kebaikan’ artinya bukan untuk keburukan, dan () artinya mendamaikan sengketa, kami sebenarnya tidak ingin menyelisihimu, juga bukan karena marah terhadap keputusanmu.’

(Disadur dari kitab Taisirul Azizil Hamid Syarh Kitabit Tauhid secara ringkas).

NIKMAT SEHAT DAN UJIAN SAKIT

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

NIKMAT SEHAT DAN UJIAN SAKIT

Allah azza wa jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga diri mereka dari setiap hal menyakitkan dan membahayakannya. Menghalalkan segala hal yang bagus dan mengharamkan semua hal yang buruk dan najis yang membahayakan akal dan fisik mereka. Dia mengutus Nabi-Nya dengan manhaj Rabbani yang sempurna, yang mencakup seluruh perkara agama dan dunia. Sunnahnya penuh dengan berbagai macam anugerah Rabbani yang menjaga akal dan fisik seorang muslim.

Allah azza wa jalla berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. al-Araf: 157).

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata, “Firman-Nya, ‘menghalalkan bagi mereka segala yang baik’, yakni seperti bahirah (unta betina yang telah beranak lima kali dan yang terakhir jan- tan), saibah (unta yang dibiarkan liar), washilah (anak domba berkelamin jantan dari sepasang kembar jantan dan betina), dan ham (unta jantan yang dibiarkan liar karena telah membuntingkan unta betina sepuluh kali) yang diharamkan oleh orang-orang jahiliyah, ‘dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk’ seperti daging babi, riba, dan yang mereka halalkan berupa makanan dan minuman yang Allah haramkan.”

Sehat Adalah Nikmat Yang Sering Dilupakan

Di antara nikmat yang dikaruniakan oleh Allah azza wa jalla kepada makhluk-Nya adalah nikmat kesehatan yang tidak diketahui kecuali mereka yang kehilangannya. Apapun yang dimilikinya rela dikorbankan demi mengobati dirinya dan mengembalikan kesehatannya sebisa mungkin.

Hadits Nabi, yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan penulis kitab sunan lainnya, menyebutkan tentang nikmat sehat ini. Sabdanya shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa merasa aman dalam rumahnya, sehat jasmaninya, memiliki makanan pokoknya pada hari itu maka seakan-akan ia memiki seluruh dunia”.

Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dalam Shahihnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua nikmat yang dilupakan oleh banyak manusia adalah kesehatan dan waktu luang.’ Ibnu Bathal rahimahullah berkata mensyarah hadits agung ini, “Makna hadits ini ialah bahwa seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat. Jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Haram Merusak Jiwa

Anehnya ada saja orang yang malah berusaha merusak kesehatannya sendiri dengan hal-hal buruk dan membinasakan yang diharamkan Allah azza wa jalla. Seperti rokok dan barang-barang memabukkan lainnya yang menghilangkan fungsi akal sesuai tingkat kerusakannya juga sangat membahayakan badan. Barang-barang haram seperti itu hakikatnya membinasakan fisik secara pelan-pelan, sementara Allah telah melarang membunuh diri sendiri, firman-Nya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. an-Nisa: 29).

Demikianlah syariat datang untuk menjaga dien dan jiwa. Demi dien jiwa pun dikorbankan dengan murah dalam jihad di jalan Allah sampai tidak ada lagi fitnah dan agama ini semata-mata milik Allah. Adapun selain di jalan itu maka seorang muslim tidak boleh membahayakan badannya atau melakukan sesuatu yang membahayakan kesehatannya dengan alasan apapun.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya, dari Jabir bahwa seorang lelaki dari kaum Thufail bin Amru ad-Dausi berhijrah bersama Thufail. Dia lalu jatuh sakit. Namun ia mengeluh karena sakitnya itu lalu memotong urat nadinya dan membiarkan darahnya mengucur sampai mati. Thufail melihatnya dalam mimpi. Thufail bertanya, “Apa yang Allah perbuat terhadapmu?” Dia menjawab, “Dia mengampuniku dengan hijrahku kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Thaufail bertanya lagi, “Mengapakah tanganmu?” Jawabnya, “Dikatakan padaku bahwa kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Jabir berkata, “Thufail lalu menceritakannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu berdoa sembari mengangkat tangannya, ‘Ya Alllah ampunilah tangannya’.”

Lelaki ini tidak bermaksud membunuh dirinya, namun dia melakukan sesuatu yang menyebabkan kematiannya. Allah mengampuninya disebabkan hijrahnya sebagaimana disebutkan dalam doa Nabi shallallahu alaihi wasallam untuknya itu. Perhatikan apa yang dikatakan padanya, “kami tidak akan memperbaiki apa yang telah kamu rusak.” Maka dari itu, jasad ini tidak boleh dirusak kecuali dalam rangka mentaati dan mencari keridhaan Allah, bukan karena keinginan hawa nafsu semata.

Bersabar Ketika Sakit Adalah Sunnah Para Nabi dan Jalan Orang-orang Shalih

Antara nikmat sehat dan nikmat sakit seorang muslim harus bertawakal kepada Rabbnya. Ia harus mencari sebab-sebab kesembuhan. Jika sembuh maka itu adalah karunia Allah semata. Namun jika tidak maka hendaknya ia berbaik sangka kepada Rabbnya bahwa Dia ingin mengangkat derajat dan menghapus kesalahan-kesalahan dengan semua yang dideritanya. Hendaknya seorang muslim mengharap pahala dengan bersabar atas musibahnya itu karena demikianlah kondisi muslim dalam keadaan lapang maupun sempit.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sabdanya, “Tidaklah seorang muslim tertimpa sakit, letih, khawatir, sedih, depresi, dan gangguan bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah hapuskan dosa-dosannya.”

Oleh karena itu, sebagian salaf bergembira jika terkena sakit. Manusia yang paling keras ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang setelahnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihya dari Harits bin Suwaid dari Abdullah berkata, “Aku menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau dalam keadaan sakit parah. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah sungguh anda terkena sakit yang parah?' Sabdanya, ‘Betul, sakitku dua kali lipat dari sakit kalian.’ Kataku, ‘Karena itulah anda mendapatkan dua pahala?”

Sabdanya, “Ya, begitu juga tidaklah seorang muslim terkena gangguan, duri, atau lebih dari itu kecuali Allah akan hapuskan kesalahan-kesalahannya seperti pohon yang menggugurkan daunnya.”

Begitu pula sakit berkepanjangan yang diderita oleh Nabi Ayub alaihis salam. Allah memujinya kesabarannya dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)”. (QS. Shad: 44). Sekalipun demikian, ia tidaklah berdoa meminta secara langsung kepada Allah, namun doanya beradab dan indah sekali, “Ya Rabbku sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Rabb yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (QS. al-Anbiya: 83). Tidaklah dia berdoa kecuali setelah bertahun-tahun menikmati rasa sakit. Sekalipun orang-orang menjauhinya ia tetap bersabar dan mengharap pahala atas kepahitan hidup yang dideritanya. Betapa berat dan lama penyakit yang dideritanya sehingga dia berusaha meraih sebab sembuh terbesar, yaitu doanya kepada Allah azza wa jalla.

Demikian jugalah manhaj para pengikut Nabi. Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab az-Zuhud bahwa Abu Darda radhiyallahu anhu berkata, “Kefakiran yang paling kusukai adalah tawadhu’ kepada Rabbku, kematian yang paling kusukai adalah tatkala rindu kepada Rabbku, dan sakit yang paling kusukai adalah yang menghapus dosa-dosaku.”

Siapakah Yang Mau Membeli Surga Dengan Kesabaran?

Di antara kisah menakjubkan generasi pertama dalam bersabar atas ujian demi mengharapkan surga adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Atha bin Abi Robah berkata, “Ibnu Abbas berkata, ‘Maukah aku perlihatkan kepadamu wanita penduduk surga.’ ‘Tentu,’ kataku. Ia bercerita, ‘Ada seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Aku terkena penyakit ayan. Ketika kambuh auratku tersingkap. Maka berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku.’ Sabdanya, ‘Jika kamu mau bersabar maka kamu mendapat surga, tapi jika kamu mau aku akan mendoakanmu dan Allah akan menyembuhkankmu.’ Maka dia berkata, ‘Kalau begitu aku akan bersabar, namun ketika kambuh auratku tersingkap. Berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka beliau lalu mendoakannya.”

Inilah seorang muslimah yang bersabar menahan rasa sakitnya di dunia demi mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya. Jika ada yang terheran-heran maka cukuplah baginya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Jabir berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersbada, ‘Di hari kiamat, orang-orang yang sentosa di dunia benar-benar mengharap seandainya kulit mereka diiris-iris dengan pisau di dunia lantaran melihat ganjaran orang-orang yang menderita (di dunia).”

Maka seyogyanya bagi mereka yang diberi nikmat kesehatan oleh Allah untuk memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini dengan menggunakannya dalam ketaatan pada-Nya sebagaimana yang diperintahkan-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. al-Qashas: 77).

Hendaknya ia memanfaatkan waktu sehatnya dan kuatnya untuk menambah tabungan kebaikannya sebelum ia terkena sakit atau masa tua dan lemah, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam, “Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu kosongmu sebelum waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu (Diriwayatkan oleh Hakim dalam al-Mustadrak).

Barangsiapa yang diuji dengan sakit hendaknya ia memuji Allah atas apa yang dideritanya, karena sesungguhnya sebagian musibah itu lebih ringan daripada musibah lain. Hendaknya ia bersabar atas musibahnya itu dan mengharap pahala di sisi Allah azza wa jalla. Khusunya jika terluka di jalan Allah. Kesabaran atas apa yang menimpanya, dan rasa syukurnya atas nikmat yang dikaruniakan padanya berupa luka di jalan Allah adalah perkara yang diwajibkan.

Kita memohon kepada Allah agar menyembuhkan setiap kaum muslimin yang sakit, dan menjadikan rasa sakitnya sebagai penghapus dosa dan meninggikan derajat mereka, sungguh Allah Mahamampu akan hal itu, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

DEMIKIANLAH PARA RASUL ITU DIUJI, LALU DIBERI KEMENANGAN (BAGIAN 1)
SYAIKH ABU MUSHAB AL-ZARQAWI TAQABBALAHULLAH

Bismillahirrahmanirrahim.
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 1-3).

Segala puji bagi Allah, yang memuliakan Islam dengan pertolongan-Nya dan yang menghinakan kesyirikan dengan kuasa-Nya. Dia Yang Maha Berkuasa dengan segala perintah-Nya. Dia yang menghancurkan orang-orang kafir dengan makar-Nya. Dia yang mempergilirkan hari demi hari dengan keadilan-Nya. Dia yang menjadikan akhir yang baik untuk orang-orang bertaqwa dengan anugerah-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi yang dengan pedangnya Allah meninggikan menara Islam. Amma ba’du.

Inilah tetesan air mata baru yang ku kirim melalui untaian kalimat …
Inilah denyut pedih yang ku keluarkan dari lubuk hati terdalam melalui tiap helaan nafas …

Dari seorang prajurit di tengah riuh pertempuran dan denting pedang bersahutan …
Dari Abu Mush’ab az-Zarqawi kepada siapapun pemilik sikap kesatria.

Kepedihan ummat yang memprihatinkan terus menerus menyergapku. Siluet ummat yang terluka tak pernah lepas dari benakku. Ummat mulia lagi agung, namun tangan-tangan khianat telah menimpakan berbagai macam keburukan; bantalnya adalah kehinaan, minumannya adalah cangkir-cangkir kekalahan dan khianat, dilumpuhkan dari fungsi dan kewajibannya, serta dirintangi dari impian dan cita-citanya.

Penyakit telah menjangkiti seluruh tubuhnya. Lalu kemudian dihempaskan ke tanah dan tubuhnya diikat erat. Serigala-serigala kelaparan dan binatang buas mengerubutinya. Hingga seluruh tubuhnya tercabik-cabik di antara paruh dan taring.

Inilah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Hampir-hampir bangsa-bangsa dari berbagai penjuru mengerubuti kalian layaknya orang-orang mengerubuti hidangan di atas meja.’ Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah karena jumlah kita sedikit? Jawabnya, ‘Kalian ketika itu berjumlah banyak namun tak lebih seperti buih. Rasa gentar dicabut dari hati musuh kalian dan hati kalian terjangkiti wahn.’ Kami bertanya, ‘Apa itu wahn? Sabdanya, ‘Cinta hidup dan benci mati.’ Dalam riwayat Ahmad, ‘Kalian membenci perang'."

Ketahuilah wahai ummat Islam, ujian adalah sebuah kisah dan sejarah panjang sejak turunnya La ilaha illallah ke bumi ini. Diujilah karenanya para nabi, orang-orang jujur, dan para imam muwahhid. Barangsiapa mengorbankan dirinya untuk memikul kalimat La ilaha illallah, menolong dan menegakkannya di muka bumi maka hendaknya dia bersiap untuk membayar harga mahal kemuliaan itu berupa rasa letih, ujian, dan bencana.

Dimanakah dirimu?

Jalan ini adalah jalan yang melelahkan Adam dan membuat Nuh mengeluh. Di jalan ini Sang Kekasih Allah dicampakkan ke kobaran api, Isma’il dibaringkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan terperangkap dalam penjara selama beberapa waktu. Di jalan ini Zakaria digergaji hingga terbelah, Yahya disembelih, Ayub tertimpa penyakit, Dawud menangis terus menerus, Isa terpaksa hidup dengan binatang buas, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam tertimpa kemiskinan dan segala macam gangguan. Sedangkan engkau malah bergelimang senda gurau dan permainan?

Allah azza wa jalla menguji makhluk dengan sesamanya. Dia menguji mukmin dengan kafir, sebagaimana juga menguji kafir dengan mukmin. Semua makhluk mendapat ujian semacam ini.

Allah azza wa jalla berfirman, “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk: 1-2).

Muslim meriwayatkan dari Nabi kita shallallahu alaihi wasallam mengenai yang diriwayatkannya dari Rabbnya azza wa jalla, “Hanyasanya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji denganmu.”

Yang kita ketahui dari al-Qur’an dan Sunnah bahwa diantara para nabi ada yang disiksa dan dibunuh oleh musuh-musuhnya seperti Yahya alaihis salam. Ada juga yang kaumnya berkehendak membunuhnya sehingga terpaksalah ia kabur menyelamatkan dirinya seperti Ibrahim alaihis salam yang berhijrah ke Syam dan Isa alaihis salam yang diangkat ke langit. Diantara orang-orang mukmin juga ada yang tertimpa ujian berat. Ada yang dicampakkan ke parit yang menyala-nyala, ada yang menjadi syahid, ada yang sengsara lagi terancam hidupnya. Maka dimanakah janji Allah akan kemenangan kepada mereka di dunia, padahal mereka terusir, terbunuh, atau disiksa?

Ujian adalah ketentuan Allah atas seluruh makhluknya. Namun beratnya bertambah ketika menimpa orang-orang pilihan yang mendapatkan naungan Allah, khususnya para mujahidin. Mereka pasti akan menempuh madrasah ujian. Mereka pasti akan menerima pelajaran tamhish (seleksi), tahdzib (pemurnian), dan tarbiyah.

Disebutkan dalam Shahihain dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya?' Sabdanya, ‘Para nabi, kemudian orang-orang shalih dan lalu selanjutnya. Seseorang itu diuji sesuai kadar dinnya. Jika agamanya itu kokoh maka ujiannya akan ditambah. Jika diennya itu lunak maka ujiannya akan diringankan. Ujian akan terus menimpa seorang mukmin sampai ia berjalan di muka bumi tanpa dibebani kesalahannya’.”

Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abul Iman, ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir, dan Ibnu Saad dalam at-Thabaqat dari Abdullah bin Iyas bin Abi Fathimah dari ayahnya dari kakeknya berkata, “Suatu kali aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin sehat terus tanpa terkena sakit?' Kami menjawab, ‘Tentu kami wahai Rasulullah'. ‘Apa?' Kata beliau. Kami melihat wajahnya berubah. Beliau lalu bertanya, ‘Apa kalian ingin menjadi seperti keledai buas?' Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah, tentu tidak'. Beliau bertanya, ‘Tidakkah kalian ingin menjadi orang-orang yang selalu diuji dan dihapuskan dosanya?' Mereka menjawab, ‘Tentu wahai Rasulullah'. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah betul-betul akan menguji seorang mukmin. Tidaklah Dia mengujinya kecuali karena hendak memuliakannya. Si mukmin di sisi Allah mempunyai kedudukan yang tidak bisa diraih hanya dengan amalnya saja, maka ujian ditimpakan padanya sampai ia bisa meraih kedudukan itu’.”

Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang yang sentosa di dunia di hari kiamat benar-benar berharap kulit mereka diiris-iris dengan pisau lantaran melihat ganjaran yang didapatkan orang-orang yang terkena ujian.”

Dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan orang yang paling sentosa hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla berfirman, ‘Celupkanlah ia ke neraka secelupan saja’. Kemudian dia dihadapkan dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu dapati nikmat sekecil apapun itu? Apakah kamu melihat hal yang sedap dipandang? Apakah kamu mendapati kebahagiaan?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu.’ Kemudian Allah berfirman, ‘Campakkan dia ke neraka.’ Lalu dihadapkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia. Allah azza wa jalla lalu berfirman, ‘Celupkanlah ia ke surga secelupan saja.’ Lalu kemudian dia dihadapkan lagi dan ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu melihat sesuatupun yang kamu benci?' Jawabnya, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, aku tidak mendapati sesuatupun yang aku benci’.”

Syaqiq al-Balkhi berkata, “Barangsiapa melihat ganjaran lantaran ujian tentu ia tidak akan ingin terlepas darinya.”

Allah azza wa jalla mensyariatkan jihad sebagai penyempurna syariat-syariat agama ini. Dia angkat kedudukan jihad hingga menjadi puncaknya kewajiban-kewajiban Rabbani. Dia jadikan jihad diliputi ujian yang dibenci oleh jiwa dan ditakuti oleh watak. Kemudian didekatkan-Nya dan dijadikan-Nya bagian dari intinya iman dan mutiara tauhid. Maka tidak ada yang mencintai, mendekati, dan mencarinya kecuali orang yang jujur imannya lagi kuat pengetahuannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15).

Jihad pada hakikatnya berdiri di atas jiwa yang mengkilap lagi berserah diri kepada Rabb dan penciptanya. Ia laksanakan perintah-Nya. Ia meyakini dan berusaha meraih janji-janji-Nya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali jika jalan ini diliputi dengan ujian dan rintangan. Oleh karena itu, Allah azza wa jalla berfirman, “Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka dan memasukkan mereka ke dalam jannah yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).

Dia juga berfirman, “Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. al-Baqarah: 253).

Ibnu Katsir berkata mengenai tafsir ayat ini, “Yakni bahwa haruslah terjadi sebuah ujian yang akan menampakkan wali-Nya dan menyingkap musuh-Nya. Dengannya diketahui mana mukmin yang bersabar dan mana munafik yang fajir. Yaitu pada Perang Uhud. Allah menguji orang-orang beriman sehingga muncullah keimanan, kesabaran, kekuatan, keteguhan, dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Pada Perang Uhud pula Dia bongkar topeng orang-orang munafik hingga terlihat keengganan mereka dari berjihad dan pengkhianatan mereka atas Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.”

Perhatikanlah, wahai hamba Allah, firman-Nya azza wa jalla, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. alHajj: 11).

Imam al-Baghawi meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, “Dahulu ada badui yang beriman kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika setelah masuk Islam ia dikaruniai keturunan yang banyak dan hartanya melimpah maka dia berkata bahwa ini adalah agama yang bagus. Dia lalu beriman dan tetap teguh. Namun jika setelah masuk Islam ia tidak dikaruniai keturunan, hartanya tidak bertambah melimpah malah tertimpa paceklik maka dia berkata ini agama yang buruk. Kemudian dia kembali kafir dan menentang.”

Penulis Fi Zhilalil Qur’an berkata, “Jiwa itu harus mengalami didikan dengan cobaan. Kekukuhan untuk terus berjuang demi kebenaran itu harus diuji. Dengan rasa takut, situasi genting, rasa lapar, kurangnya harta, hilangnya jiwa, dan hancurnya sumber pangan. Orang-orang mukmin harus mengalami ujian agar mereka mampu menanggung harga mahal akidah. Sehingga mereka tahu bahwa akidah yang tertanam dalam jiwa mereka itu sesuai dengan pengorbanan yang mereka bayar, yang tak mungkin dihindari ketika terjadi benturan pertama. Pengorbanan ini berupa sesuatu yang berharga yang membuat akidah itu tertanam kuat dalam jiwa pemeluknya terlebih dahulu sebelum tertanam dalam jiwa lainnya. Tiap kali penderitaan mereka bertambah dan tiap kali mereka berkorban demi akidah itu maka semakin dalam mengakar dalam jiwa mereka membuat mereka makin pantas. Orang lain juga tidak akan mengerti nilai dari akidah itu kecuali setelah melihat ujian yang menimpa pemeluknya dan kesabaran mereka. Ujian juga merupakan keharusan demi mengokohkan dan menguatkan pemeluk akidah itu. Musibah-musibah itu menyerang inti kekuatan dan upaya yang terpendam hingga menciptakan celah dan retakan dalam hati yang tidak mungkin dirasakan oleh seorang mukmin kecuali dalam himpitan ujian.”

Imam Syafi’i rahimahullah ditanya, “Mana yang lebih baik bagi seorang mukmin, diuji atau diberi kekuasaan?" Jawabnya, “Celaka kamu, bukankah kekuasaan itu didapat setelah ujian?"

Dari Shafwan bin Umar ia berkata, “Dahulu aku menjadi gubernur Himsh (Homs). Aku pernah mendapati seorang lelaki renta penduduk Damaskus yang alisnya telah memanjang sedang duduk di atas tunggangannya hendak ikut berperang. Maka aku berkata, ‘Wahai paman, Allah telah memberi udzur padamu.’ Maka dia mengangkat alisnya dan menjawab, ‘Wahai anak saudaraku, Allah telah memerintahkan kita untuk berperang dalam keadaan lapang dan sempit’.”

Ketahuilah wahai yang dicintai Allah dan diuji-Nya.
Bersabarlah atas hari-hari genting
Setelahnya akan ada kebahagiaan
Tiada bersabar kecuali orang-orang mulia
Sebentar lagi Allah akan membukakan jalan
Ketika itulah engkau akan terbebas dari letihmu

Penulis Fi Zhilal Qur’an berkata, “Iman bukanlah sekedar kata-kata belaka yang terucap. Ada hakikat dan harganya. Iman adalah amanat yang berat, jihad yang membutuhkan kesabaran, dan kesungguhan yang membutuhkan ketangguhan. Manusia tidak cukup hanya berkata kami beriman lalu dibiarkan begitu saja dengan klaimnya itu. Mereka harus menghadapi fitnah. Dengan fitnah itu akan membuktikan keteguhan mereka hingga mereka lulus dengan hati yang bersih dan unsur yang suci. Layaknya api yang menempa emas sehingga terlepaslah unsur-unsur yang mengotorinya. Itu juga merupakan makna kalimat fitnah secara bahasa, dan demikianlah isyarat serta indikasi yang ditunjukkannya. Demikian jugalah pengaruh fitnah kepada hati. Fitnah atas keimanan ini adalah sebuah kaidah tetap dan sunnah yang berjalan dalam timbangan Allah azza wa jalla, “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orangorang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut: 3). Iman adalah amanat Allah di bumi-Nya. Pemikulnya adalah orang yang benar-benar pantas. Mereka memang mampu dan hatinya dipenuhi pengorbanan dan keikhlasan. Orang-orang yang lebih memilih kenyamanan, rasa aman dan sentosa, serta indahnya perhiasan dunia tak akan mampu memikulnya. Karena ini adalah amanat khilafah di bumi-Nya. Ini adalah amanat memimpin manusia menuju jalan Allah dan mewujudkan kalimat-Nya dalam alam kehidupan ini. Ini adalah amanat mulia, dan juga amanat yang berat. Ini adalah perintah Allah. Manusia harus menguatkan dirinya untuk melaksanakannya. Maka dari itu ia membutuhkan sikap khusus yang bisa tetap kokoh ketika diterpa ujian.”

Hendaknya sekelompok prajurit yang menempuh jalan jihad fi sabilillah itu menyadari karakteristik dan konsekuensi pertempuran ini. Jalan yang ditempuh ini sampai pada tujuan yang diinginkannya itu harus dimuluskan dengan darah pandeganya. Hendaknya mereka menyadari bahwa jalan ini berakibat hilangnya orang-orang tercinta dan para sahabat serta terusir dari tanah tumpah darah. Sebagaimana para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam merasakan pahitnya hijrah, hilangnya harta, keluarga, dan tanah kelahiran semuanya di jalan Allah sekalipun mereka adalah sebaik-baik makhluk setelah para nabi, lalu bagaimana halnya dengan kita?

Tidak ada pilihan bagi sekelompok kecil ini kecuali bersabar pada jalan yang ditempuhnya. Hendaknya ia terus menapaki jalannya itu. Hendaknya ia berharap pahala kepada Allah melaui apa yang menimpanya berupa kehilangan pemimpin dan sahabat. Hendaknya ia menyadari bahwa itu adalah sunnatullah azza wa jalla. Hendaknya ia mengetahui bahwa Allah telah memilih hamba-hamba-Nya yang shalih dari ummat ini. Hendaknya ia tidak meminta pertolongan Allah disegerakan karena sesungguhnya pertolongan-Nya pasti datang.

Hendaknya seorang muslim mengetahui bahwa mengikuti kebenaran dan bersabar di atasnya adalah jalan kemenangan tersingkat betapapun panjangnya dan banyaknya rintangan yang dihadapinya. Ia harus menyadari bahwa menyimpang dari kebenaran hanya akan membuahkan pembelotan. Jalan yang mudah dan kemenangan yang terlihat dekat hakikatnya adalah fatamorgana. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa.” (QS. al-An’am: 153).

Inilah jihad. Puncak dan buah yang datang setelah kesabaran panjang dan berdiri lama di tengah medan tempur menunggu serbuan musuh dan menahan gempurannya. Penantian selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun terus menerus. Jika engkau tidak merasakan kepedihan seperti ini maka Allah tidak akan membuka pintu kemenangan untukmu, karena kemenangan itu bersama kesabaran. Ibnu Taimiyah telah berkata, “Kepemimpinan dalam Dien ini hanya diraih dengan kesabaran dan yakin.”

Konsep kebenaran dan kejujuran akidah serta tauhid itu tak lebih dari boneka tak bernyawa dalam dunia khayalan kecuali jika didukung oleh orangorang yang jujur lagi sabar. Mereka tanggung beban beban perjalanan yang teramat berat ini hingga siksa terasa indah dan letih terasa manis. Mereka tidak rela kecuali kematian demi hidupnya konsep ini dan beraksi dalam dunia nyata. Bukan sebagaimana diangankan oleh sebagian orang yang ingin menyulam konsep ini dengan benang emas dalam sebuah teori filsafat, atau pidato-pidato yang menggaung namun jauh dari ruh amal, kejujuran, dan praktek.

Sungguh Islam pada hari ini amat membutuhkan lelaki-lelaki jujur lagi sabar, bersegera untuk bersungguh-sungguh, menikmati rasa letih, dan beristirahat dengan rasa lelah. Dengan diam mereka terjemahkan tuntutan-tuntutan tahapan demi tahapan. Lelaki-lelaki pemilik jiwa yang jujur, semangat yang tinggi, dan azam yang kuat. Lelaki-lelaki yang tidak memahami kecuali siap mendengar dan melaksanakan perintah tanpa patah semangat, bosan, dan tak perlu berdebat. Maka singsingkanlah lengan bajumu untuk beraksi dan bersabarlah atas kepayahan dan beratnya perjalanan. Dikatakan bahwa, “Sungguh lemahlah siapa yang tidak menyiapkan kesabaran untuk menghadapi ujian, rasa syukur untuk setiap nikmat, dan yang tidak mengerti bahwa di tiap kesulitan ada kemudahan.”

Oh wahai jiwa, semangat ini telah memuncak
Menuju surga di bawah naungan pohon Tuba
Menuju bidadari yang tunduk pandangannya
Nikmat abadi dan nyanyian yang merasuk kalbu
Menuju kandil-kandil emas yang tergantung pada ‘Arasy Rabbku
Bagi orang-orang yang terbunuh dan tiadalah mereka mati

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan mereka tiada menafkah- kan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. at-Taubah: 121).

Imam ath-Thabari meriwayatkan dari Qotadah mengenai tafsir ayat ini, “Tidaklah suatu kaum bertambah jauh jaraknya di jalan Allah dari keluarga mereka kecuali mereka bertambah dekat kepada Allah.”

Maka perkara ini adalah di tangan Allah sebelum dan sesudahnya. Kita hanyalah hamba-Nya azza wa jalla yang sedang berusaha mewujudkan penghambaan kepada-Nya. Diantara kesempurnaan ibadah pada-Nya adalah bahwa kita mengetahui dan meyakini dengan pasti tanpa ragu bahwa janji Allah itu pasti akan terwujud. Namun kita tidak mengerti hakikatnya karena suatu hikmah yang hanya diketahui Allah. Terkadang terlambatnya pertolongan itu sebagai bentuk ujian dan cobaan. Mahabenar Allah Yang Mahaagung, “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. ar-Rum: 47).

Dia Yang Mahasuci telah menjanjikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya para muwahhid. Dia berikan kekuasaan pada orang-orang yang sabar. Dia kabarkan bahwa kemenangan, kekuasaan, dan kekuatan yang diraih oleh umat-umat terdahulu adalah karena seluruh kesabaran dan ketawakalan mereka kepada-Nya, sebagamana firman-Nya, “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir´aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. al-A’raf: 137).

Allah mengabarkan bahwa kemuliaan dan kekuasaan yang diperoleh nabi-Nya Yusuf setelah keterasingan dan kejadian yang dialaminya dalam istana al‘Aziz adalah buah dari kesabaran dan ketaqwaannya, “Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90).

Dia azza wa jalla juga menghubungkan kemenangan dengan kesabaran dalam firman-Nya, “Hai orangorang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).

Dia azza wa jalla juga menyebutkan bahwa kesudahan yang baik di dunia adalah bagi orang-orang sabar dan bertaqwa, “Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Hud: 49).

Kita mengerti dengan yakin bahwa janji Allah itu selamanya tidak akan terlambat. Persoalannya adalah pandangan kita terbatas pada salah satu macamnya saja yaitu kemenangan dan kekuasaan. Belum tentu itulah kemenangan yang dijanjikan-Nya pada para nabi, rasul, dan hamba-hamba-Nya yang beriman. Terkadang kemenangan terwujud dalam bentuk lain yang tidak disadari jiwa yang lemah dan rapuh.

ZUHUD DI DUNIA ADALAH MANHAJ SALAF

RUMIYAH 8 - MUSLIMAH

ZUHUD DI DUNIA ADALAH MANHAJ SALAF

Nabi kita shallallahu alaihi wasallam adalah tuannya para ahli ibadah dan ahli zuhud, Jibril alaihis salam mendatanginya sebagai utusan dari Rabbnya para hamba, menawarkan dua pilihan kepadanya antara diutus sebagai Nabi berposisi Raja atau Nabi berposisi Hamba, maka ia memilih yang kedua, beliau menolak kunci-kunci pembendaharaan dunia yang fana, sehingga beliau dan keluarganya merasakan berbagai macam bentuk kemiskinan dan kemlaratan, hidup bersama para Shahabat pilihan dalam kesederhanaan, sedangkan mereka adalah sang pemilik bumi dan leher-leher (manusia) ditundukkan untuk mereka.

Pada masa ini setelah dibukakannya dunia untuk kita, kita mulai kehilangan ruh itu, ruh generasi awal dari para ahli zuhud, yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia, dan mereka memahami bahwa untuk selamat dari (fitnah dunia) adalah dengan meninggalkan apa yang ada didalamnya.

Jika diperhatikan keadaan sebagian wanita pada hari ini, maka akan terlihat kemewahan yang berlebih dan ketamakan terhadap dunia dan kotoran-kotorannya dari mereka, jika mereka belanja maka berlebih-lebihan, bila menuntut suami mereka akan memaksa dan melelahkan, namun jika suami terlambat memberi nafkah karena kurangnya penghasilan, mereka menggerutu dan mengeluh, barangkali malah sampai kredit dan berhutang, sehingga ia buang rasa malunya dihadapan kaum lelaki, menderita dihadapan manusia karena banyaknya permintaan.

Dahulu salah seorang wanita kaum salaf selalu mengiringi suaminya setiap hari ke pintu rumah untuk memberikan wasiat kepadanya sebelum keluar agar selalu bertaqwa kepada Allah dalam hal yang telah Dia anugrahkan kepada mereka, perhatiannya terhadap halal dan haram! Adapun sebagian wanita hari ini menyusul suaminya ke pintu rumah untuk mengingatkannya tentang daftar belanja yang tiada habisnya, bagaimanapun cara (mendapatkan)nya itu bukan urusan dia (wanita), dan dari mana sang suami akan mendapatkannya untuk istrinya!

Engkau dapati salah seorang dari mereka (para wanita) itu tidaklah memiliki perhatian terhadap dunia kecuali sebatas makanan dan busananya, jika ia makan maka berlebihan, jika berbusana maka bermewah-mewahan, jika duduk untuk ngobrol maka yang dibicarakan adalah seputar makanan, pakaian, tentang gaya dan warna rambut, padahal sungguh di- antara doa Nabi shallallahu alaihi wasallam “Dan janganlah Engkau jadikan dunia itu tujuan terbesar dan puncak ilmu kami” (HR At-Tirmidzi).

Wahai saudariku se-Islam, wahai cucu Aisyah, Aisyah yang dulu busananya tambalan, mari kita sedikit berimajinasi tentang rumah terbaik, termulia dan terwangi, berdasarkan rasio, agama dan kebaikan, ‘iffah, kekayaan dan ketaqwaan, ketahuilah ia adalah rumah Nabimu shallallahu alaihi wasallam. Sungguh kamar-kamarnya sangatlah kecil, sangat sederhana, sangking kecilnya ruangan hampir tidak muat untuk dua orang, adapun alas yang beliau gunakan tidur diatasnya, adalah sebagaimana yang dituturkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, beliau menuturkan: adapun alas tidur Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah adam, isinya dedaunan.” (Muttafaq Alaih). Adam adalah kulit yang telah disamak, dan daunnya adalah daun kurma.

Al-Faruq Umar radhiyallahu anhu bercerita kepada kita dalam sebuah hadits yang panjang, dimana ia datang menemui beliau: “Maka aku masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedangkan beliau berbaring diatas tikar, kemudian akupun duduk, maka beliau menurunkan sarungnya yang tidak ada selainnya, ternyata tikar itu membekas pada punggung beliau, maka aku melihat lemari beliau shallallahu alaihi wasallam, ternyata aku melihat segenggam gandum kira-kira satu sho’, dan juga aku melihat semisalnya di sisi ruangan, tiba-tiba aku terenyuh, kemudian berlinang kedua mataku, beliau bersabda: “Apa yang membuatmu menangis wahai putera Al-Khattab?” Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis sedangkan tikar ini yang telah membekas di punggung anda, sedangkan lemari anda aku tidak melihat didalamnya kecuali apa yang telah aku lihat, sementara Kaisar Kisra ditengah buah-buahan dan sungai, sedangkan engkau adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam namun beginilah almari anda", maka beliau menjawab: “Wahai Ibnul Khattab, apakah engkau tidak ridha jika akhirat itu untuk kita sedangkan dunia untuk mereka?”, aku berkata: “Iya....” (HR. Muslim).

Adapun makanan beliau dan keluarga beliau shallallahu alaihi wasallam sungguh telah berlalu dua kali hilal namun tidak pernah menyalakan api, sedangkan kebanyakan hidup mereka bergantung kepada dua hal: kurma dan air, bahkan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha menuturkan apa yang terkadang mereka dapati berupa daging, dia berkata: “Luhaim (daging kecil)” sebagai ungkapan saking sedikitnya!

Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata: “Di dalam pilihan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan generasi Salaf terbaik dari para Shahabat, Tabi’in terhadap kesulitan hidup, serta bersabar diatas pahitnya kefaqiran, dan kemiskinan serta penderitaan keras, pakaian dan makanan yang kasar serta kenyamanan yang sangat rendah, meninggalkan manis dan nikmatnya kekayaan, apa yang dapat menjelaskan tentang keutamaan zuhud di dunia, mengambil makanan dan bekal khusus, dahulu Nabi shallallahu alaihi wasallam melalui hari-hari dan mengganjalkan batu diperutnya karena lapar; itsar darinya dikarenakan kerasnya hidup dan bersabar atasnya, dengan pengetahuan beliau bahwa seandainya beliau memohon kepada Rabbnya agar menjadikan gunung Tihamah menjadi emas dan perak untuk beliau niscaya akan dilakukan, dan diatas jalan inilah orang-orang shalih berjalan.”

Demi Allah wahai saudari muslimah renungilah hadis Ummu Salamah radhiyallahu anha dimana dia berkata: “Sungguh dahulu kami mengalami haid pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam salah seorang dari kami melewati hari-hari haidhnya kemudian suci, maka diapun melihat pakaian yang ia kenakan, jika terkena darah maka kami mencucinya dan kami shalat menggunakannya, namun jika tidak terkena sesuatu kami biarkan dan hal itu tidak menghalangi kami untuk sholat dengannya.” (HR. Abu Dawud).

Ya Subhanallah! Sungguh ada salah seorang wanita dari generasi terbaik barang kali tidak memiliki pakaian kecuali hanya satu, dengan mengenakan baju itu dia haidh dan suci, adapun kaum wanita umat kita pada hari ini hampir-hampir saja rumah-rumah mereka ditelan oleh perkakas yang ada di dalamnya berupa pakaian dan perhiasan!

Bisa jadi ada wanita yang berkata: Aku tidak melihat kalian kecuali hanya bisa mengharamkan apa yang Allah halalkan yang mana Dia suka melihat nikmat-Nya atas hamba-Nya!

Kami katakan ketika itu: Kami memohon perlindungan kepada Allah dari mengharamkan kebaikan-kebaikan-Nya atas hamba-Nya, akan tetapi ia adalah dakwah untuk bertabiat dengan akhlak sebaik-baik makhluk, dan zuhud adalah perhiasan mukmin sejati, yaitu orang yang memandang dunia itu kecil dimatanya dan akhirat besar di hatinya.

Sedangkan Allah azza wa jalla mencintai apabila melihat bekas nikmat-Nya atas hamba-Nya, bukan tanda israf dan tabdzir, dan tidak (suka) melihat para isteri itu membebani punggung suami mereka dengan memburu setiap apa yang mereka (para Isteri) inginkan meskipun memenuhi hal itu sangatlah menyulitkan mereka (para suami).

Dan kami jika menyeru para wanita untuk berhias dengan perhiasan indah ini (zuhud di dunia), tidaklah terlewatkan oleh kami ditempat ini untuk mengingatkan dari kekikiran dan kepelitan terhadap keluarga.

Maka bagi suami yang muslim wajib memberi nafkah kepada keluarganya, dan anak-anaknya dengan ma’ruf tanpa berlebihan ataupun melalaikan (hak mereka), dan hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, hingga dengan demikian dia dapat meraih derajat orang-orang mulia bukan menjadi saudara setan, maka janganlah sekali-kali orang yang memiliki harta kemudian mempersempit belanja keluarganya, dan hendaklah ia mengharapkan pahala atas setiap suapan yang ia letakkan di mulut keluarganya, dan atas setiap kebahagiaan yang ia berikan kepada mereka, dan Allah memiliki tujuan dibalik itu, sebagaimana janganlah sekali-kali orang yang memiliki kebutuhan kemudian membebani dirinya dengan apa yang tidak dia mampu demi mendapatkan ridha sang isteri yang tidak pernah mempertimbangkan keadaan (suami) nya, dan tidak kasihan terhadap kelemahan (suami) nya.

Dan akhir seruan kami segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Ya Allah curahkanlah shalawat dan berkah atas Sayidul Anbiya Wal Mursalin (Penghulu Para Nabi dan Rasul), serta atas keluarga dan para Shahabat beliau seluruhnya.