Rabu, 25 April 2018

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 7

DABIQ 7 – PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Bulan ini, Patrick Cockburn – seorang jurnalis kafir dan warga Inggris, anggota koalisi salibis melawan Daulah Islam – menulis sebuah artikel berjudul “Krisis Tawanan ISIS: Kelompok Militan Berdiri Kuat karena Musuh-Musuhnya yang Sangat Banyak Gagal Menemukan Rencana Bersama untuk Mengalahkannya.” Dalam artikel ini, penulis membandingkan kesuksesan-kesuksesan Daulah Islam dengan kegagalan menyeluruh salibis dalam perang mereka melawan Khilafah. Walaupun artikel tersebut membesar-besarkan “kemampuan” dan “keunggulan” yang disematkan kepada murtaddin dari pasukan Shafawi, PKK, dan Peshmerga, penulis membuat sejumlah poin bijaksana. Dia mengatakan seperti ini :

“ISIS bertahan dari upaya-upaya untuk mengalahkannya dan memegang jumlah wilayah yang hampir sama di Iraq dan Suriah –wilayah yang lebih luas dari Inggris Raya– sebagaimana pada akhir serangan kilat mereka tahun lalu. Musuh-musuh mereka sangat banyak, tetapi terpecah belah dan tanpa rencana bersama. Baik tentara Iraq maupun Suriah, musuh militer utama mereka, tidak cukup kuat untuk menyerbu negara jihadi tersebut.”

“Selama ISIS masih ada, mereka mempertahankan kemampuan untuk mendominasi agenda politik dan media berhari-hari pada satu waktu dengan ancaman eksekusi tawanan di depan umum. Kejadian-kejadian kelabu tersebut, sebagaimana kita lihat pada tawanan Jepang dan Jordania, dibuat dengan tujuan mendapat publikasi maksimum dan menyebarkan teror umum.”

“ISIS mengalami kemunduran, namun juga mendapat kesuksesan-kesuksesan. Minggu ini, pasukannya akhirnya terusir dari kota Kaum Kurdi Suriah “Kobane” setelah pengepungan berlangsung selama 134 hari, di mana mereka menderita kerugian yang banyak dari 606 serangan udara Amerika. Tetapi di tempat lain di Suriah, ISIS mengalami kemajuan terhadap kota Homs juga mendapat kekuataan di Damaskus selatan dan al-Qalamun, dekat Lebanon timur. Oleh suatu kesaksian, ISIS telah memenangkan kontrol terhadap wilayah tersebut sejak September lalu di mana satu juta penduduk Suriah hidup, ditambah wilayah yang telah mereka kuasai sebelumnya.”

“Di Iraq, pasukan pemerintah telah mengalami kemajuan di provinsi-provinsi sekitar Baghdad, tetapi awal minggu ini peluru-peluru berhasil mengenai sebuah pesawat dan melukai penumpang-penumpangnya di Bandara Internasional Baghdad, memaksa maskapai besar untuk menghentikan penerbangan ke sana. Hal ini mengisolasi ibukota Iraq dan, walaupun bandara tidak sepenuhnya tutup, ISIS mungkin dapat merebutnya kapan pun.”

Dia kemudian mengatakan:

"Menurut Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik, jumlah pejuang asing yang bergabung dengan ISIS di Iraq dan Suriah meningkat dari 15.000 pada Oktober lalu menjadi 20.000 sekarang. Seperlima darinya datang dari Eropa Barat. ISIS juga menerapkan wajib militer kepada pejuang di wilayah yang mereka kontrol.”

“ISIS terjepit secara militer dan ekonomi, tetapi tidak ada tanda-tanda ia akan hancur. Bahkan kekalahannya di Kobane tidak menunjukkan kelemahannya, karena ISIS telah menguasainya berbulan-bulan walaupun berperang dengan Kurdi Suriah, yang didukung bombardir udara intensif oleh Amerika dalam tempat yang terbatas. Analis Barat termotivasi dengan terbunuhnya sejumlah komandan berpengalaman ISIS tahun lalu, tetapi ideologi mereka dibangun di atas martir, dan angka kematian yang tinggi di antara para pemimpinnya menunjukkan mereka berperang di garis depan. Presiden Obama berkata upaya utama Amerika adalah di Iraq namun jika tidak mampu membangun kembali tentara Iraq maka hampir tidak mungkin untuk mengalahkan ISIS di sana. Dan selama ISIS telah ada, akan terus ada penawanan dan eksekusi terhadap tokoh-tokoh penting."

Dewan Redaksi The Washington Post juga mengomentari “kemenangan” koalisi, mereka berkata:

“Kemenangan kecil di Suriah tidak layak untuk dirayakan karena Islamic State semakin kuat. Pejabat Amerika merayakan kemenangan kecil dalam peperangan melawan Islamic State di Suriah – tampaknya kesuksesan mempertahankan kota Kurdi Kobane, di perbatasan dengan Turki. Dalam pengepungan sejak Oktober, Kobane memiliki nilai strategis kecil tetapi tampaknya menjadi uji coba apakah Amerika dan sekutunya mampu menghentikan ekspansi Daulah Islam … Dengan bantuan pasukan darat Kurdi, para ekstrimis berhasil dipukul mundur. Tetapi mungkin fakta paling penting dari Kobane adalah ia menghabiskan 75 persen dari hampir 1000 serangan udara yang dilakukan pesawat-pesawat sekutu di Suriah sejak September … Di wilayah lainnya di Suriah yang di bawah kontrolnya, termasuk ibu kotanya Raqqah, Islamic State … tumbuh semakin kuat bukannya semakin lemah.”

Atau perkataan salibis Eric Shawn dari Fox News:

“Presiden berjanji ISIS akan dihancurkan. Sebaliknya, mereka malah semakin menyebar … Kekuatan koalisi akhirnya memukul mundur ISIS di perbatasan kunci mereka di kota Kobane … Dilaporkan hal tersebut menghabiskan 75 persen dari semua serangan udara yang dilancarkan di sana sejauh ini. Dan walaupun secercah harapan tersebut, Islamic State bersumpah untuk mengambil alih kembali kota tersebut ketika pasukannya mendapat kesuksesan di tempat lain … Wilayah Islamic State telah tumbuh dalam lima bulan terakhir … walaupun (ditengah) semua serangan udara koalisi.”

WAWANCARA BERSAMA UMMU BASHIR AL-MUHAJIRAH

DABIQ 7 - MUSLIMAH

KEPADA SAUDARI KAMI :
WAWANCARA SINGKAT BERSAMA UMMU BASHIR AL-MUHAJIRAH

Karena kesetiaannya kepada Khilafah, mujahid Abu Bashir al-Ifriqi (Amedy Coulibaly rahimahullah) mengatur keberangkatan istrinya Ummu Bashir al-Muhajirah ke negeri Khilafah sebelum kesyahidannya pada operasi yang diberkahi di Paris. Setelah dia tiba dengan selamat, Dabiq mendapat kesempatan untuk menyampaikan kepadanya beberapa pertanyaan dan dia menjawab dengan jawaban yang bermanfaat. Semoga Allah menjaga semua istri para syuhada' dan mujahidin dan menjaga mereka tetap teguh di atas kebenaran sampai mereka bertemu Rabb mereka 'azza wa jalla.

DABIQ: Bagaimana perjalanan hijrahmu? Dan bagaimana perasaanmu saat ini di bumi Khilafah?

UMM BASHIR: Segala puji hanya bagi Allah yang memudahkan jalan bagiku. Aku tidak menemukan kesulitan apapun. Hidup di tanah yang mana hukum Allah 'azza wa jalla diterapkan adalah sesuatu yang luar biasa. Aku merasa lebih nyaman sekarang karena aku telah melaksanakan kewajiban ini. Segala puji hanya bagi Allah. Aku memohon Allah agar menjagaku tetap tegar.

DABIQ: Bagaimana reaksi suamimu ketika Khilafah dideklarasikan?

UMM BASHIR: Dia sangat gembira. Dia segera percaya kepada Khalifah dan Khilafah dengan memberi bai'at. Dan segala puji hanya bagi Allah. Kita memohon kepada Allah agar mencurahkan rahmat atasnya, menerimanya, dan menjadikannya di antara orang-orang yang dekat dengan-Nya. Hatinya terbakar untuk menemui saudara-saudaranya di bumi Khilafah dan memerangi musuh-musuh Allah. Matanya selalu berkaca-kaca setiap kali dia menonton video dari Daulah Islam. Dia selalu berkata, “Jangan memperlihatkannya kepadaku,” karena ketika dia menontonnya, hal tersebut akan membuatnya ingin segeranya segera berangkat hijrah dan akan bertentangan dengan keinginannya untuk melancarkan operasi di Prancis.

DABIQ: Apakah engkau memiliki pesan kepada kaum Muslim secara umum dan saudari-saudari Muslimah secara khusus?

UMM BASIR: Ingatlah (firman Allah), "Suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedangkan mereka tidak dianiaya (dirugikan)." (An-Nahl: 111).

Saudara-saudariku, aku mengajakmu untuk prihatin dengan kondisi Ummat di dunia serta untuk bersikap sesuai dengannya berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah. Allah ta'ala memberikan engkau akal untuk berpikir dan kecerdasan untuk memilih. Mengapa engkau merendahkan dirimu sendiri dengan berpikir bahwa engkau tidak dapat memahami Al Qur'an dan As Sunnah dan meyakini bahwa engkau butuh pemahaman dari imam ini atau ulama itu?

Benar, secara umum kita membutuhkan orang-orang yang berilmu, tetapi, alhamdulillah, Allah telah memudahkan (hamba-Nya untuk memahami) Al Qur'an dan As Sunnah. "Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya." (Al-Kahfi: 1).

Pelajarilah sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kisah para shahabat. Amatilah apa tujuan hidup mereka. Tujuan hidup mereka adalah untuk beribadah kepada Allah sebagaimana yang Dia kehendaki untuk diibadahi bukan sebagaimana yang dikehendaki nafsu kita.

Aku melihat di antara kalian orang-orang yang memiliki antusiasme (tekad / azzam yang) tinggi. Jangan kehilangan sifat tersebut karena mengikuti individu tertentu. Mohonlah kepada Allah dengan ikhlas untuk memberimu petunjuk. Berjuanglah untuk melawan batinmu sehingga engkau bisa berhasil.

Ya Allah, tampakkanlah kebenaran sebagai kebenaran bagi kami dan bimbinglah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkkanlah kesesatan sebagai kesesatan bagi kami dan bimbinglah kamu untuk menjauhinya.

Saudara-saudariku, jadilah tempat dukungan dan keamanan bagi suami, saudara, ayah, dan anak-anakmu. Jadilah pemberi nasihat bagi mereka. Mereka harus merasa nyaman dan damai bersamamu. Jangan membuat segala sesuatu menjadi sulit bagi mereka. Mudahkanlah segala urusan untuk mereka. Jadilah kuat dan berani. Penting bagimu untuk menjadikan semua amalmu ikhlas untuk wajah Allah dan berharap akan pahala dari-Nya.

Ketahuilah bahwa para shahabat radhiyallahu 'anhum tidak menyebarkan Islam di negeri yang sangat luas kecuali dengan istri-istri yang baik di belakang mereka. Jangan membuang waktu dan energimu dengan main-main, kesia-siaan, dan apa yang bukan urusanmu.

Pelajarilah agamamu! Pelajarilah agamamu! Bacalah Al Qur'an, bercerminlah dengannya dan amalkanlah. Pupuklah kecintaanmu kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Penting bagimu untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada dirimu sendiri, suamimu, anak-anakmu, dan orang tuamu.

Ikutilah teladan Asiyah –istri Fir'aun– yang meninggalkan dunia karena Allah dan akhirat walaupun dia adalah seorang ratu dan memiliki harta kekayaan dunia. Dia disiksa dan dibunuh karena pilihannya, tetapi Allah menjaganya tetap teguh dan meninggikannya (derajatnya) melebihi banyak wanita.

Dan segala puji bagi Allah, Yang Maha Pengampun dan Maha Murah Hati. Ikutilah teladan dari Maryam 'alaihis salam dalam kesucian, kesederhanaan, dan ketaatannya kepada Allah, dan kejujurannya, yang merupakan salah satu sifat terbesarnya, sehingga Allah memilihnya dan meninggikannya (derajatnya) di atas banyak wanita.

Dan segala puji hanya bagi Allah, Yang Maha Agung. Ada banyak wanita-wanita mulia sepanjang sejarah, oleh karena itu ikutilah teladan mereka. Bersabarlah. Kesabaran adalah kebaikan yang sangat besar.

Semoga Allah, Yang Maha Pengasih, menganugerahimu dengan kesabaran. Kehidupan seorang mukmin penuh dengan cobaan dan kesulitan. Maka bersabarlah sembari mengharap pahala dari Allah. Hidup ini pendek (singkat / sebentar), walaupun ia terkadang –selama waktu-waktu sulit– tampak panjang.

Demi Allah, apa yang telah menunggu kita lebih baik dan lebih kekal, insyaa' Allah. Kita memohon kepada Allah pertolongan dan keberhasilan. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan milik Allah.

"Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam." (Ash-Shaffat: 180-182)

ABU QUDAMAH AL-MISHRI

DABIQ 7 – SYUHADA

DIANTARA ORANG BERIMAN ADA KESATRIA :
ABU QUDAMAH AL-MISHRI

Ketika Abu Qudamah al-Mishri memulai hijrah ke Syam dengan sahabatnya Abu Mu’awiyah al-Mishri pada tahun 2012, di antara sedikit yang mereka berdua harapkan adalah, dengan karunia Allah, (mereka) akan menjadi syuhada’ saat berperang di barisan para lelaki sejati yang pergi untuk menghidupkan kembali Khilafah.

Abu Qudamah adalah seorang pemuda kuat yang meninggalkan London Barat, Inggris pada tahun 2012 bersama sahabatnya Abu Mu’awiyah untuk memenuhi panggilan jihad di Syam. Abu Qudamah sangat bersemangat untuk berperang di jalan Allah dan mencari balasan yang terbesar, hingga ia meninggalkan Inggris dua bulan sebelum anak perempuannya lahir.

Meskipun candaan alamiah Abu Qudamah dikenal selalu menghibur saudara-saudaranya, ia tetap menjalin hubungannya kepada Allah dengan sangat serius, tidak pernah melewatkan puasa Dawud ‘alaihis salam atau menikmati tidur malam sendirian tanpa menghabiskan sebagian dari malam itu untuk mengingat Rabb-nya baik melalui shalat maupun bacaan Al-Qur’an. Dia dikenal selalu mencari hukum Islam yang benar dalam setiap hal yang dilakukannya, dan tidak pernah membiarkan keragu-raguan dan kesesatan untuk bertahan di hadapannya.

Ketika melihat video-video awal yang dirilis oleh al-Furqān Media, Abu Qudamah selalu mengungkapkan cintanya kepada Daulah Islam Iraq, bahkan sebelum pengumuman ekspansinya ke Syam. Menjelang akhir tahun 2012, Abu Qudamah mendapati adiknya Yasin telah syahid di Afghanistan, dan hal ini hanya mendorong Abu Qudamah untuk terus berusaha lebih kuat dalam pertempuran sebagaimana ia mendambakan kesempatan untuk mempersembahkan hidupnya kepada Allah. Selama bulan Ramadhan, kedua sahabat ini memerangi Nushairiyah di Halab, dan keduanya terluka dalam waktu satu minggu. Luka tembak Abu Mu’awiyah sembuh dengan cepat, sedangkan Abu Qudamah menderita cedera yang rumit pada tumitnya. Butuh enam bulan untuk fisioterapi intensif dan perawatan sebelum dia bisa menggunakan kakinya kembali dengan baik. Ketika gipsnya akhirnya dilepas ia tersungkur di tanah dalam shalat, bersujud dalam waktu yang lama untuk bersyukur kepada Allah ta’ala.

Satu tahun kemudian di bulan Ramadhan (2013), sahabat lama dan teman terbaiknya, Abu Mu’awiyah, dibunuh oleh sniper (penembak jitu) Nushairiyah saat ia mencoba menyelamatkan seorang mujahid, Abu Musa al-Jazā’irī, yang terluka pada perang dalam operasi di kota Salqīn di Idlib.

Tidak ada yang lebih membuatnya iri daripada kesyahidan sahabatnya: Dia dalam keadaan berpuasa, hal itu terjadi selama 10 hari terakhir Ramadhan, pada hari Kamis –salah satu hari di mana amal perbuatan seseorang diangkat kepada mana Allah– dan semua ini terjadi di bumi Syam tercinta yang diberkati.

Hal ini mempengaruhi Abu Qudamah. Ia menjadi cukup sedih setelah kematian sahabatnya, bukan karena ia merindukannya, tetapi karena dia kehilangan temannya yang selalu menjadi teman bersaingnya. Dia mulai menunjukkan keinginan yang lebih kuat untuk menjemput syahadah. “Ya Allah berilah aku syahadah,” dia mengatakannya dalam doa, mendorong ikhwah di sekelilingnya untuk melakukan hal yang sama.

Dia menjadi orang yang berbeda setelah kematian sahabatnya. Dia bahkan menjadi lebih fokus, bahkan lebih kuat dalam mempraktekkan agama, dan ia mendapat banyak pelajaran dari pertempurannya dengan tentara Nushairiyah. Sekarang, hampir semua sahabatnya telah syahid dalam peperangan di jalan Allah.

Abu Qudamah berkembang menjadi seorang pejuang tangguh yang bisa melihat menuju ke mana pertempuran di Syam. Dia awalnya memasuki negara melalui wilayah FSA (Free Syrian Army), namun mulai tumbuh permusuhannya terhadap mereka dan cara-cara jahat mereka. Pada tahun 2013, ia berkata kepada ikhwah yang lain, “Perhatikanlah FSA, karena orang-orangnya akan segera memerangi kita.” Karena itu, ia dikenal atas wataknya yang keras terhadap FSA.

Tidak lama setelah kesembuhannya ia bergabung dalam pertempuran di desa Duwayrīnah dekat Halab, menghabiskan sekitar sepuluh hari di dalam Ribath. Dia mendistribusikan makanan kepada ikhwah di lokasi terjauh wilayah Ribath, padahal wilayah mereka sangat berbahaya dan, sehingga, terkadang makanan mereka terpaksa tertunda. Kualitas kepemimpinan terlihat dari dirinya dan ia diberi tanggung jawab atas sekelompok ikhwah di garis depan, mengkoordinasi jam ribath mereka dan mengurusi urusan-urusan mereka.

Selama kemajuan tentara Nushairiyah di mana banyak ikhwah yang tewas dan terluka di dekat lokasi yang dijuluki “Titik 10,” yang terkenal atas kedekatan jaraknya dengan musuh dan persenjataan berat mereka, Abu Qudamah memberikan peringatan kepada ikhwah agar tetap dalam ketabahan dan berteriak, “Surga berada di bawah bayang-bayang pedang!” lagi dan lagi untuk menyemangati mereka yang sedang diserang.

Pada hari kesepuluh Ribath, ia dan sahabatnya masuk Duwayrinah untuk membantu meringankan sekelompok mujahidin, mengganti mereka dengan beberapa ikhwah baru. Mereka tiba-tiba mendengar panggilan bantuan. Itu seorang dokter, tersengal-sengal, mengatakan bahwa ada ikhwan yang jatuh di sebuah titik Ribath yang disebut "al-Qalb" - yang berarti hati.

Mereka semua bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Ketika mereka tiba di lokasi, mereka menemukan seorang ikhwan terbaring enam meter di depan rumah yang menghadap posisi musuh dan diketahui dijaga oleh sniper musuh. Ikhwan yang terluka itu sangat tersingkap (tubuhnya) dan tidak ada penutup apapun selain tirai gantung tipis dari salah satu dinding.

“Di mana dia ditembak?” tanya Abu Qudamah. “Di perut, ditembak 5 kali,” kata salah seorang ikhwan yang menyaksikan penembakan itu. Ikhwan yang terluka itu mengerang kesakitan dan mengulang syahadatnya lagi dan lagi.

Sniper itu tidak menembak, sehingga para mujahidin tahu bahwa itu adalah taktik lama untuk menarik petugas medis dan mendapatkan lebih banyak yang terbunuh. Abu Qudamah tidak peduli. Dia berkata, “Ya, kita harus melakukan sesuatu, kita tidak bisa meninggalkan dia di sana. Kalian melindungiku dan aku akan pergi membawanya.”

Setelah diskusi singkat, kelompok itu setuju dan rencana ini ditetapkan. Selagi petugas medis berlari untuk meraih ikhwan yang terluka, sisanya akan memberikan tembakan perlindungan ke arah sniper.

“Kami tidak ingin ada dua ikhwan di sana melainkan satu!” salah satu ikhwan memperingatkan petugas medis sebelum misi penyelamatan dilancarkan.

Saat itu merupakan situasi yang sulit, namun tak ada seorang pun yang mempunyai rencana yang lebih baik, dan teriakan nyeri ikhwan yang terluka seperti belati di hati murābithīn (orang-orang yang ribath) tersebut. Abu Qudamah menyempatkan waktu untuk shalat, mengangkat dirinya dari sujud, membersihkan debu dari rambutnya, dan berkata, “Apa kita siap? Maka ayo pergi!”

Dengan satu seruan keras takbir, semua ikhwan mulai menembak, berusaha untuk melepaskan tembakan sebagai tekanan ke arah sniper sebanyak mungkin sehingga petugas medis memperoleh kesempatan. Petugas medis mulai berlari, kemudian ragu-ragu. Dia tenang kembali dan mencoba lagi tapi ragu-ragu lagi.

Abu Qudamah melihatnya dan ia mengambil alih, dimulai dari usahanya sendiri, bergerak mendekat dan lebih dekat dengan ikhwan yang terluka sambil terus menembak, sampai tidak ada apa-apa (yang menghalangi) di antara dia dan jangkauan sniper. Magazine (tempat peluru) miliknya kosong sehingga ia dengan cepat mengisinya kembali, tidak ingin mundur ke belakang perlindungan karena ia sudah begitu dekat dengan ikhwan yang terluka dan dia hampir bisa menyentuhnya.

Dan kemudian hal itu terjadi.

Sniper menembak sekali, menyerangnya di kepala, dan dia langsung jatuh ke tanah. Ikhwan dengan cepat menariknya masuk, menempatkan dia di tandu, dan mengantarnya ke ambulans.

Dia bernapas selama sekitar 15 menit saat perjalanan ke rumah sakit. Seorang ikhwan yang menemaninya di sepanjang waktu bersaksi bahwa meskipun dia cedera berat di kepala dan tengkorak belakangnya benar-benar hancur, Abu Qudamah berulang kali mengucapkan dua kalimat syahadat tepat sebelum ia berhenti bernapas.

“Beginilah aku selalu menggambarkan seorang syahid saat hidupnya maupun kematiannya,” ucap ikhwan yang berada dalam ambulans dengannya. Abu Qudamah dimakamkan di samping sahabatnya Abu Mu’awiyah, sebagaimana yang ia minta dalam surat wasiatnya, dan persaingan mereka di dunia ini pun berakhir. Mereka berdua telah meraih mimpi mereka untuk syahid di jalan Allah, dan sekarang mereka akan terus melanjutkan persahabatan abadi mereka di dalam Jannah, bi idznillāh, setelah dibangkitkan bersama-sama.

Kami memohon kepada Allah untuk menerima mereka –dan semua syuhada’– di tingkat Jannah yang tertinggi dan agar menyertakan kami dengan mereka saat tiba waktu kami. Āamīin…

MENGHENTIKAN PENYIMPANGAN SEKSUAL

DABIQ 7 - LAPORAN

MENGHENTIKAN PENYIMPANGAN SEKSUAL

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji” (Al-Baqarah: 168-169).

Dengan munculnya “revolusi seksual” lima dekade lalu, Barat jatuh ke dalam jurang penyimpangan seksual dan tindakan tak bermoral. Bersama dengannya muncul banyak penyakit menular seksual yang mematikan –termasuk AIDS yang belum bisa disembuhkan– karena pria dan wanita membiarkan hawa nafsu mereka menguasai keputusan mereka dan membawa mereka untuk terlibat dalam perbuatan zina dan “bereksperimen” dengan segudang metode setan untuk memenuhi hasrat mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Penyimpangan seksual tidak akan meluas di antara manusia sampai ke titik (di mana orang-orang) melakukannya secara terbuka, kecuali hal tersebut akan disusul oleh wabah dan penyakit yang yang belum pernah diderita nenek moyang mereka yang datang sebelum mereka” (Hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Hakim dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar)

Penyakit merajalela, laju kelahiran anak di luar pernikahan meroket, dan keluarga inti sedang dalam perjalanannya untuk menjadi kenangan di masa lalu. Bukannya mengambil pelajaran dari apa yang mereka saksikan berupa kehancuran struktur sosial mereka, dan mengubah “cara hidup” mereka, orang-orang kafir malah bersikeras untuk bertahan dalam misi mereka menghancurkan moral mereka. Mereka menggunakan industri hiburan mereka untuk mengejek dan meremehkan siapa saja yang memerangi penyimpangan seksual, menggunakan parlemen syirik mereka untuk melegalkan pernikahan pelaku sodom, menggunakan sistem pendidikan mereka untuk merusak anakanak mereka secara langsung dari tingkat taman kanak-kanak dengan memperkenalkan buku ke dalam kurikulum untuk membarantas “homofobia,” dan menggunakan gereja-gereja dan pendeta mereka untuk mengampuni dosa-dosa melalui “revisionisme.” Contoh taktik terakhir ini termasuk pengurapan (upacara perminyakan suci) Imam Sodomi, penolakan Paus Katolik untuk “ikut dalam penghakiman” Imam sodomi, ia (Paus) berkata, “Siapa aku (sehingga berhak) untuk menghakimi?” dan penerbitan artikel yang menentang dan membantah pemahaman tradisional mereka sendiri dari Kitab yang telah diubah, seperti mengklaim bahwa kaum sodom dibinasakan karena kekejaman dan arogansi mereka, bukan karena sodomi mereka.

Di tengah meluasnya penghinaan atas fitrah (kecondongan alami manusia) ini, Daulah Islam terus berupaya menentang perbuatan sesat tersebut – perbuatan di mana “Peradaban” Barat menghormatinya sebagai bagian dari “nilai” mereka – dengan menerapkan hukum Allah kepada orang-orang yang mempraktekkan setiap bentuk penyimpangan atau pelanggaran seksual.

Hal tersebut ditunjukkan baru-baru ini di wilayah ar-Raqqah, di mana Daulah Islam menerapkan hadd pada seorang pria yang terbukti bersalah atas keterlibatannya dalam sodomi. Ia dibawa ke puncak bangunan dan dilempar, seperti salah satu teladan yang dilakukan sahabat yang mulia Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu kepada orang-orang yang melakukan perbuatan kotor ini. Juga di wilayah ar-Raqqah, seorang wanita dirajam setelah terbukti bersalah karena zina. Sementara itu di wilayah al-Khair, seorang pria baru-baru ini dicambuk sebagai sebuah ta’zir (hukuman pelajaran) setelah ia terbukti memiliki hal-hal yang berbau pornografi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pelaksanaan satu hadd di bumi adalah lebih baik bagi penduduk bumi daripada hujan empat puluh pagi di bumi” (Hasan: Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Hal ini merupakan pelaksanaan hukum Allah dan kepatuhan terhadap petunjuk-Nya, bi idznillah, yang akan melindungi umat Islam dari mengikuti jalan busuk yang sama dengan yang telah dipilih Barat untuk diikuti.

WILAYAH KHURASAN DAN BAI'AT DARI KAUKASUS

DABIQ 7 - LAPORAN

WILAYAH KHURASAN DAN BAI'AT DARI KAUKASUS

Bulan ini, sejumlah kelompok mujahidin dari Khurasan mengumumkan bai’at mereka kepada Amirul Mu’minin Ibrahim ibn ‘Awwad al-Qurasyi setelah berkumpul dan melakukan perundingan untuk memenuhi persyaratan untuk ekspansi, sebagaimana yang diperintahkan oleh Khalifah.

Setelah menyatakan bai’at mereka, mujahidin mempublikasikan eksekusi yang mereka lakukan kepada seorang tentara murtad yang merupakan anggota dari tentara Pakistan, sebuah tindakan yang menekankan perbedaan antara ‘aqidah Daulah Islam –‘aqidah Ahlus-Sunnah– dan dari sebagian pengklaim jihad yang memandang tidak ada ada yang salah dari mendoakan thaghut-thaghut yang melancarkan perang melawan kaum Muslim. Pernyataan kemurtadan tentara Pakistan ini dan eksekusi setelahnya adalah perkara yang mana para pengklaim jihad akan menganggapnya sangat bermasalah mengingat penyimpangan mereka dan sikap lemah lembut mereka kepada tentara Pakistan, yang mana telah membuat mereka melembutkan “jihad” mereka melawan thaghut Pakistan, sehingga memungkinkan mereka (tentara Pakistan) untuk cukup hanya berjalan masuk dan melakukan penangkapan di seluruh wilayah Waziristan. Skenario yang sama terjadi di Yaman ketika cabang lokal al-Qa’idah menganggap tidak dibenarkan untuk mengkafirkan rafidhah Houthi dalam tingkatan individual, menyebabkan sikap lunak mereka dalam masalah iman dan kufr menjadi penghalang untuk mempertahankan hidup dan tanah kaum Muslimin.

Hasilnya?

Kota terbesar Yaman hancur dalam sekejap oleh Houthi dan dikuasai hanya dengan satu gerakan, menempatkan hidup kaum Muslimin yang tak terhitung jumlahnya di bawah kekuasaan sekelompok orang yang agamanya adalah memfitnah dan melecehkan istri-istri dan para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ironi bahwa orang-orang yang mengklaim jihad tersebut sebelumnya enggan dari mengkafirkan Rafidhah yang najis, padahal Rafidhah yang sama tidak ragu-ragu dalam mengkafirkan shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karenanya, mujahidin Khurasan memutuskan untuk berdiri bersama Daulah Islam dalam usahanya untuk meninggikan kalimat Allah ta’ala di bawah bendera Khilafah yang satu dan bukan bendera dari imarah yang terbagi-bagi dan golongan yang berbeda.

Deklarasi bai’at mencakup banyak kelompok dari Afghanistan dan Pakistan yang berada di wilayah-wilayah berikut:

Afghanistan: Nuristan, Kunar, Kandahar, Khost, Pakti, Paktia, Ghazni, Wardak, Helmand, Kunduz, Logar, dan Nangarhar, juga wilayah-wilayah lainnya.

Pakistan: Wilayah Khyber (termasuk Peshawar, Swat, Maidan, Marwat, Kuki Khel, Tor Dara, Dir, Hangu, dan lainnya), Bajaur, Orakzai, Kurram, dan Waziristan, juga wilayah-wilayah lainnya.

Perundingan telah memilih Hafidz Sa’id Khan sebagai Wali (Gubernur) untuk Khurasan, yang kemudian memimpin semua yang hadir untuk menyatakan bai’at kepada Khalifah Ibrahim al Qurasyi. Kemudian hal tersebut diikuti oleh pengumuman dari Daulah Islam yang secara resmi menyatakan ekspansinya ke Khurasan dan menjadikannya sebagai sebuah wilayah baru.

Juru bicara Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani berkata, “Dan walaupun gelombang serangan salibis semakin dahsyat dan walaupun tetap berlangsungnya persekongkolan pihak yang jauh dan yang dekat terhadap Daulah Islamiyah, serta walaupun serangan pihak yang jauh dan yang dekat terhadapnya, kami memberikan kabar gembira kepada para mujahidin bahwa Daulah Islamiyah telah melebar ke Khurasan, di mana para mujahidin dari junud Khilafah di sana telah menyempurnakan syarat-syarat dan mereka telah memenuhi tuntutan-tuntutan untuk pendeklarasian Wilayah Khurasan, di mana dahulu mereka telah menyatakan bai’at mereka kepada Amirul Mu’minin hafizhahullah Al Khalifah Ibrahim, dan beliau-pun telah menerimanya dan telah menunjuk Asy Syaikh Al Fadlil Hafidh Sa’id Khan hafizhahullah sebagai wali (gubernur) bagi Wilayah Khurasan, dan menunjuk sebagai wakilnya Asy Syaikh Al Fadlil Abdurrauf Khadim Abu Thalhah hafizhahullah. (Katakanlah: Matilah Dengan Kegeraman Kalian!)

 Apa yang disebutkan Syaikh al-‘Adnani berupa kondisi-kondisi dan syarat-syarat dari deklarasi ini adalah merujuk kepada proses yang harus diikuti jama’ah dari setiap wilayah yang jauh agar secara resmi diakui sebagai sebuah wilayah baru bagi Daulah Islam. Proses ini termasuk mendokumentasikan bai’at mereka, melakukan perundingan untuk memilih seorang wali dan anggota majelis syura’ regional, merencanakan strategi untuk mencapai persatuan di wilayahnya bagi Khilafah sebagaimana juga untuk menegakkan Syari’ah, dan menyajikan semua itu di hadapan para amir Daulah Islam untuk mendapat persetujuan.

Aturan dari Daulah Islam telah diketahui; Daulah Islam menyeru kaum Muslimin di setiap penjuru dunia untuk memberikan bai’at kepada Khalifah, dan tidak menolak bai’at dari setiap kelompok Muslim atau individu. Di samping itu, Daulah Islam tidak memberikan izin bagi siapapun atau kelompok manapun untuk mengumumkan sebuah wilayah atau menyatakan diri mereka sebagai perwakilan resmi dari kepemimpinan Daulah Islam sampai proses-proses yang disebutkan di awal telah selesai.

Proses yang sama saat ini sedang berjalan untuk wilayah Kaukasus, dan juga wilayah-wilayah lain yang mana pengumuman akan ekspansinya akan –dengan izin Allah– membawa kegembiraan bagi kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi pada wilayah Khurasan dan wilayah-wilayah yang diumumkan sebelumnya.

Melalui bai’at mereka kepada Khilafah, mujahidin Khurasan telah bergegas dalam memenuhi kewajiban mereka untuk melazimi Jama’ah kaum Muslimin dan Imam mereka. Dalam melakukannya, mereka menghadapi permusuhan dari para pembuat fitnah di wilayah tersebut, yang mulai memerangi mereka sebelumnya ketika mereka pertama kali menyatakan kesetiaan kepada Amirul Mu’minin sebagai faksi-faksi individu sebelum berkumpul bersama untuk membentuk wilayah. Para pembuat fitnah tersebut mulai membuat kedustaan tentang mereka serta menghasut masyarakat yang bodoh untuk melawan mereka, sebagaimana yang terjadi sebelumnya di Iraq dan Syam. Mereka mengklaim bahwa Daulah Islam adalah takfiri, suatu hal yang asing yang bertentangan dengan mahdzab fiqh mereka.

Junud khilafah di Khurasan, bagaimanapun, tidak sendirian mengalami celaan, penolakan, dan fitnah oleh para pembuat fitnah. Hal yang sama pernah dialami mujahidin Kaukasus ketika mereka belum lama ini mengumumkan bai’at kepada Amirul Mu’minin; mereka dikritik oleh orang-orang di Kaukasus yang dibutakan oleh ketakukan mereka akan kehilangan kepemimpinan dan kekuasaan [1]. Individu-individu tersebut memilih berada di atas kelompok-kelompok dan perpecahan, daripada merapatkan barisan dan menguatkan Jama’ah Muslim dan Imam mereka, yang dapat memelihara bahkan melipatgandakan kekuatan, keberanian, dan kemampuan mereka selama proses tersebut.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (Al-Anfal: 46).

Bai’at dari mujahidin Kaukasus –sebagaimana mujahidin Khurasan– adalah sesuatu yang telah lama ditunggu oleh banyak orang di dalam barisan mereka. Banyak dari mereka telah lama mendukung Daulah Islam dan menunggu para pemimpin mereka untuk memberikan bai’at ketika Khilafah sudah diumumkan. Ketika mereka melihat, bagaimanapun, bahwa pemimpin-pemimpin mereka tidak memiliki keingingan untuk berbai’at, maka mereka memutuskan untuk memenuhi kewajiban ini oleh diri mereka sendiri tanpa takut akan disalahkan dengan kritikan apapun.

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk” (Al-Ma’idah: 105).

Begitulah, mayoritas kelompok mujahidin di Dagestan (termasuk Rabbanikala, Tabasaran, Wilayah Selatan, Lezgistan, Babayurt, Khasavyurt, Shamil Kaminsk, Kizlyar, dan lainnya) dan Chechnya (Nokhchicho) menyatakan bai’at, bersama sejumlah kelompok mujahidin lain yang berlokasi di wilayah lain Kaukasus.

Ketika berita tentang bai’at terus terdengar dari seluruh penjuru dunia, persatuan umat Muslim di atas kebenaran semakin kuat dan kamp kekafiran dan kemunafikan semakin melemah. Sungguh, ada beberapa kalimat yang diucapkan mujahidin Libya ketika mengumumkan bai’at mereka kepada Khalifah yang bagus sekali untuk ditulis dengan tinta emas.

Mereka mengatakan, “Kami bersumpah setia karena tidak ada obat bagi perselisihan umat selain Khilafah. Oleh karenanya, kami menyeru kepada setiap Muslim kepada kebaikan ini, karena sesungguhnya, hal ini lebih membuat geram musuh-musuh Allah. Demi Allah, berkumpulnya kita di bawah seorang pemimpin lebih berat bagi musuh-musuh Allah daripada seribu kemenangan di medan tempur.”

Pelajaran yang bisa kita catat di sini adalah,

Pertama, tidak ada solusi –baik syar’i maupun qadari– untuk permasalahan bendera yang bermacam-macam kecuali semua kelompok untuk bersatu di dalam iman kepada Allah dan mengingkari thaghut, dan melancarkan jihad untuk meninggikan kalimat Allah.

Kedua, persatuan seperti itu lebih membuat kesal orang-orang kafir daripada jika kaum Muslimin mendapat kemenangan yang berturut-turut dan tak terhitung jumlahnya di medan perang melawan musuh mereka sedangkan mereka masih berada di atas perpecahan atas diri mereka. Muslim seperti itu tetap patut disalahkan atas sikap keras kepala mereka di atas kelompok dan perpecahan walaupun mereka memegang ‘aqidah yang benar. Kelompok dan perpecahan ini hanya akan membahayakan mereka yang bersikeras di atas perpecahan mereka, sedangkan mereka yang melazimi Jama’ah akan terus tumbuh lebih kuat.

Dengan pengumuman wilayah baru di berbagai daerah di dunia, mujahidin mendapat momentum lebih dalam perang mereka melawan tentara kafir, tetapi momentum ini juga menjadi ujian bagi mereka yang menguji keteguhan, ketetapan hati, dan keikhlasan mereka. Sesungguhnya, merupakan sesuatu yang bodoh untuk berpikir bahwa musuhmusuh akan duduk tenang dan memandang dengan pandangan yang sama sementara kemajuan-kemajuan tersebut terus berdatangan. Sebaliknya, pasukan salib pasti berusaha untuk meningkatkan usaha mereka untuk menghentikan ekspansi Daulah Islam, dan ini tidak lain berarti meningkatnya pelanggaran mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin, dan meningkatnya agresi mereka dalam upaya membatasi kesuksesan mujahidin. Oleh sebab itu, Syaikh Abu Muhammad meningkatkan al-‘Adnani menyeru tentara wilayah Khurasan untuk menguatkan diri mereka untuk menghadapi badai yang akan datang.

“Dan kami menghimbau kepada seluruh junud Daulah Islamiyah di Khurasan untuk mendengar dan taat kepada Al Wali Hafidh Said Khan dan Wakilnya hafizhahumullah, dan juga untuk bersiap-siap menghadapi apa yang akan mereka jumpai berupa kejadian-kejadian besar, di mana akan bersekongkol terhadap kalian Al Ahzab (Pasukan Koalisi) dan akan banyak serangan dan hujaman terhadap kalian, sedangkan kalian adalah orangorang yang mampu menghadapinya dengan izin Allah” (Katakanlah: Matilah Dengan Kegeraman Kalian!)

Mujahidin Khurasan mampu menghadapinya. Mujahidin Kaukasus mampu menghadapinya. Mujahidin Iraq, Syam, Sinai, Jazirah Arab, Yaman, Libya, dan Aljazair mampu menghadapinya. Mujahidin yang berjalan di tengah-tengah pasukan salib –di negeri mereka dan jalan-jalan mereka– mampu menghadapinya. Allah memiliki tentara-tentara di setiap negeri yang mampu menghadapinya, siap untuk berperang dan menteror salibis di manapun mereka ditemui sebagai pembelaan kepada Khilafah mereka.

Berkaitan dengan tentara-tentara Allah yang berada di negeri kafir, Daulah Islam menggunakan kesempatan ini untuk memperbarui seruannya untuk menyerang, membunuh, dan menteror salibis di jalan-jalan mereka dan di rumah-rumah mereka. Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani berkata,

“Dan kami kembali mengajak para muwahhidin di Eropa dan negara-negara Barat yang kafir dan di setiap tempat, untuk mentarget orang-orang salibis di kampung halaman mereka dan di mana saja mereka berada, dan sesungguhnya kami di hadapan Allah akan menghujat setiap muslim yang mampu menumpahkan darah seorang salibis namun ia tidak melakukannya, baik dengan ranjau atau tembakan atau pisau atau mobil atau batu atau hatta dengan tendangan atau tamparan. Dan sungguh kalian telah melihat apa yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap Kanada dan terhadap Parlemen syiriknya, dan apa yang dilakukan oleh ikhwan kita di Prancis, Autralia dan Belgia semoga Allah merahmati mereka semuanya dan memberikan balasan kebaikan bagi mereka atas jasanya terhadap Islam, dan orang-orang selain mereka yang sangat banyak, yang telah membunuh, memberikan pukulan, mengancam, menebar rasa takut dan membuat teror, sampai kami melihat bala tentara salib mengerahkan kekuatannya di Australia, Kanada, Prancis, Belgia dan negara-negara salib lainnya, yang kami menjanjikan kepadanya insyaa Allah bahwa kondisi siaga satu, kondisi mencekam, rasa takut serta kehilangan rasa aman akan terus berlangsung, sedangkan yang akan datang itu lebih dahsyat dan lebih pahit dengan izin Allah, dimana kalian belum melihat sesuatupun dari kami.” (Katakanlah: Matilah Dengan Kegeraman Kalian!)

Catatan :

[1] Sebuah contoh dari kritik yang haus kekuasaan ini adalah sebuah bayan (penjelasan) yang belum lama ini dirilis oleh pembuat fitnah yang sama dan disetujui dengan tanda tangan orang-orang yang mengklaim bahwa penegakan Daulah Islam dan imarah-imarah merupakan buang-buang waktu dan tenaga secara sia-sia selama Amerika masih kuat! Dengan demikian, orang-orang yang menandatangani pernyataan tersebut telah membatalkan dukungan mereka sendiri kepada imarah-imarah dahulu di Chechnya dan Afghanistan… Mereka juga menyelisihi Syaikh Usamah dan Syaikh ‘Atiyah rahimahumullah –yang kepada keduanya mereka menyandarkan pemikiran cacat ini– karena kita tahu bahwa keduanya, dalam banyak kesempatan, secara terang-terangan mengajak kaum Muslimin dan mujahidin di Iraq untuk memberi bai’at kepada Daulah Islam. Lebih buruk dari itu, para penanda tangan lupa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan negara beliau –dengan hanya bersandar kepada Allah– sementara beliau dikepung oleh orang-orang musyrik Jazirah Arab dan negara adidaya pada saat itu: Kerajaan Romawi dan Kerajaan Persia!

PEMBALASAN UNTUK MUSLIMAH YANG DIANIAYA OLEH SALIBIS KOPTIK MESIR

DABIQ 7 - LAPORAN

PEMBALASAN UNTUK MUSLIMAH YANG DIANIAYA OLEH SALIBIS KOPTIK MESIR

Bulan ini, tentara Khilafah wilayah Tripoli menangkap 21 salibis Koptik, hampir lima tahun setelah operasi yang diberkahi terhadap gereja Baghdad yang dilakukan sebagai pembalasan untuk Kamilia Shehata, Wafa Constantien, dan akhwat lain yang disiksa dan dibunuh oleh Geraja Koptik Mesir. Operasi itu direncanakan oleh Hudzaifah al-Battawi rahimahullah, wali wilayah Baghdad pada saat itu, bersama komandan militer senior, Abu Ibrahim az-Zaidi rahimahullah, keduanya memainkan peran penting –melalui kesabaran dan ketekunan mereka– dalam mempertahankan motivasi dari mujahidin Daulah Islam setelah kesyahidan Abu ‘Umar al-Baghdadi dan Abu Hamzah al-Muhajir rahimahumullah. Saat itu, Daulah Islam jauh dari Mesir sehingga kesulitan untuk menarget salibis Koptik di sana, tetapi para pemimpinnya tahu bahwa di balik permusuhan duniawi dan sektarian antara orang-orang kafir –sebagai kelompok maupun individu– satu sama lain, “Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti” (Al-Hasyr: 14).

Orang-orang kafir yang berbeda tetap memiliki kesetiaan satu sama lain di hadapan Islam, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (Al-Anfal: 73). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain” (Al-Ma’idah: 51).

Oleh karena itu, para pemimpin Daulah Islam memutuskan untuk menarget Kristen Katholik Baghdad sehingga menjadi pelajaran bagi thaghut Koptik –Shenouda– bahwa harga darah seorang seorang Muslim sangat mahal dan oleh karenanya, jika gerejanya menganiaya Muslimah di Mesir, maka dia akan secara langsung bertanggung jawab atas setiap orang Kristen yang dibunuh di manapun di dunia di mana Daulah Islam berupaya membalaskan dendamnya… Dan kematian demi kematian tidak dimulai sebelum para salibis menunjukkan keangkuhan mereka dan penolakan untuk memenuhi permintaan dari mujahidin.

Maka lebih dari seratus salibis terbunuh dan terluka hanya oleh lima orang istisyhadiyin pemberani dari Daulah Islam. Dan geraja Kristen yang berbeda-beda tidak memiliki seorangpun untuk benar-benar disalahkan atas kematian saudara-saudara mereka dalam kekafiran kecuali Shenouda …

Bukannya memberi selamat kepada Daulah Islam atas operasi yang diberkahi ini di Iraq yang dilakukan sebagai pembalasan atas saudari-saudari yang dianiaya, si hizbi ‘Azzam al-Amriki mulai memuntahkan dalam beberapa suratnya apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya berupa dendam, dengan membela umat Katholik Eropa dalam menanggapi aksi mujahidin! Dia kemudian berusaha untuk bertindak atas dasar dendam pribadinya kepada Daulah Islam segera setelah dia menjadi pemimpin tinggi di al-Qa’idah pasca syahidnya Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah.

Perilaku aneh ‘Azzam al-Amriki terhadap Kristen mirip dengan yang dinyatakan oleh Aiman Azh-Zhawahiri ketika dia berkata, “Aku ingin menyatakan kembali posisi kami terhadap Kristen Koptik. Kami tidak ingin masuk ke dalam peperangan dengan mereka karena kami sibuk dengan peperangan melawan musuh terbesar dari umat [Amerika] dan karena mereka adalah partner kami dalam negara ini, partner yang mana kami berharap untuk hidup bersama dalam kedamaian dan stabilitas” [Risalah al-Amal wal Bisyr – Bagian 8].

Maka ketika Daulah Islam menarget Katholik sebagai pembalasan atas saudari-saudari yang ditahan oleh Koptik, komandan ‘Azzam al-Amriki sedang merayu pihak yang memicu perang Koptik dengan kata-kata lembut, melupakan ayat, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka” (Al-Fath: 29), dan “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela” (Al-Ma’idah: 54).

Dan kemudian, lima tahun setelah operasi yang diberkahi di Iraq, Allah ta’ala menganugerahi Daulah Islam dengan ekspansinya ke Libya, Sinai, dan lainnya sehingga membuatnya mungkin untuk dengan mudah menangkap salibis Koptik –pengikut Shenouda yang telah mati dan pendukung thaghut Sisi– sebagaimana Salaf berkata, “Ganjaran dari perbuatan baik adalah perbuatan baik lainnya.” Dan karenanya, Daulah Islam melancarkan teror langsung di jantung Koptik setelah melancarkan teror kepada sekutu Katholik mereka sebelumnya, sementara orangorang yang mengklaim jihad dan hizbiyin duduk di belakang dan berpikir panjang –yang sia-sia– tentang bagaimana mereka dapat mencegah ekspansi lebih lanjut dari Khilafah…

Yang terakhir, penting bagi Muslim di manapun untuk mengetahui bahwa tidak ada keraguan di dalam pahala besar di Hari Pembalasan bagi siapa yang menumpahkan darah salibis Koptik tersebut di manapun mereka dijumpai!

WAWANCARA DENGAN SEORANG MATA-MATA MOSSAD ISRAEL

DABIQ 7 - LAPORAN

WAWANCARA DENGAN SEORANG MATA-MATA MOSSAD ISRAEL

DABIQ: Siapa namamu?

SI MURTAD: Namaku adalah Muhammad Sa'id Isma'il Musallam.

DABIQ: Jelaskan kepada kami tentang dirimu.

SI MURTAD: Aku berasal dari Jerusalem. Umurku 19 tahun dan dulu bekerja sebagai pemadam kebakaran.

DABIQ: Bagaimana kamu direkrut sebagai mata-mata?

SI MURTAD: Kami memiliki tetangga Yahudi yang bekerja sebagai petugas kepolisian. Suatu hari dia datang dan memintaku untuk bekerja dengan intelijen Israel. Aku berkata kepadanya bahwa aku akan memikirkannya dan kemudian aku pergi dan bertanya kepada ayah dan saudaraku tentang pendapat mereka. Mereka berdua mendukungku untuk melakukannya dan berkata bahwa ini adalah pekerjaan yang sangat bagus. Mereka berkata bahwa ada banyak uang di dalamnya, dan bahwa kamu bisa naik pangkat ke posisi yang lebih tinggi. Aku tahu sejak saat itu bahwa mereka berdua juga bekerja sebagai mata-mata.

DABIQ: Siapa nama mereka?

SI MURTAD: Ayahku bernama Sa'id Isma'il Musallam. Saudara laki-lakiku bernama Isma'il Sa'id Isma'id Musallam.

DABIQ: Apa yang terjadi ketika kamu memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu?

SI MURTAD: Aku bertemu dengan seorang lelaki bernama Eli. Eli ini adalah seorang petugas intelijen dan bertanggung jawab terhadap pos pemeriksaan di Tepi Barat. Dia datang ke rumah kami dan bertemu dengan ayahku. Ayahku menasehatiku di depannya dan menjelaskan kepadaku tentang pekerjaan itu, dan Eli berbicara kepadaku tentang keuntungan dan kompensasi dari pekerjaan itu sendiri.

DABIQ: Berapa banyak kamu dibayar?

SI MURTAD: Secara umum, bayaran akan sebanding dengan tugas dan tingkat kepentingannya, minimal sekitar 5.000 Shekel (mata uang Israel). Semakin besar tugasnya dan dengan semakin berharga informasinya, semakin banyak mereka akan membayarku dan semakin banyak bonus yang akan aku peroleh.

(1 shekel = 4.000 rupiah)

DABIQ: Apakah kamu mendapat pelatihan?

SI MURTAD: Ya, mereka mengirimku ke kamp pelatihan di Jerusalem Timur – Kamp Pelatihan 'Anatawt. Di sanalah aku mulai pelatihanku. Aku menjalani pelatihan mengendalikan diri dan mempertahankan diri dalam interogasi. Aku juga dilatih bagaimana cara penggalian informasi – bagaimana cara mendapat informasi dari orang. Mereka juga memberiku latihan menggunakan senjata. Aku mengikuti pelatihan di kamp selama sebulan penuh dan menyelesaikan pelatihanku.

DABIQ: Apakah kamu dibayar selama pelatihan?

SI MURTAD: Ya, aku mendapat 5.000 Shekel sebagai bayaran selama pelatihan.

DABIQ: Apakah ada orang Palestina lain yang dilatih bersamamu?

SI MURTAD: Ada sembilan yang dilatih, tetapi semuanya adalah Yahudi, aku satu-satunya Arab.

DABIQ: Apa yang terjadi saat kamu menyelesaikan pelatihan?

SI MURTAD: Setelah aku menyelesaikan pelatihan, aku mulai bekerja sebagai mata-mata di tengah-tengah manusia. Aku secara spesifik diberi tugas mengawasi penjual senjata, setiap orang yang dicari, setiap orang yang hendak memasuki wilayah Yahudi, dan melaporkan kepada intelijen setiap operasi yang direncanakan akan dilakukan di Jerusalem.

DABIQ: Bagaimana akhirnya kamu bisa ditugaskan memata-matai Daulah Islam?

SI MURTAD: Suatu hari aku pulang ke rumah dan seorang laki-laki bernama Miro telah ada di sana. Miro ini adalah seorang petugas Mossad Israel. Ayah dan saudaraku hadir. Miro membawa sebuah berkas di tangannya dan membacanya. Dia tiba-tiba berterima kasih kepadaku dan bersyukur karena tugas yang telah aku lakukan dan pertolongan yang telah aku berikan. Dia berkata kepadaku untuk melanjutkannya (melaksanakan tugas memata-matai) sehingga aku akhirnya bias bekerja dengan mereka. Ayah dan saudara laki-lakiku pun mulai berterima kasih kepadaku dan menjelaskan kepadaku bahwa aku akan menjadi lebih baik dan lebih baik, dan terus memberiku semangat. Kemudian dia pergi. Di lain waktu dia datang lagi dan kali ini dia berkata bahwa dia ingin aku untuk bekerja dengan mereka serta datang dan bertemu dengan mereka. Aku menyetujuinya. Dia berkata bahwa dia akan menelepon kami. Dia menelepon-ku setelah itu dan menyuruhku untuk datang dan bertemu dengannya di kantor. Aku pergi ke kantor dan bertemu dengannya. Aku duduk dan dia mulai bertanya kepadaku beberapa pertanyaan. Dia bertanya kepadaku berapa banyak bahasa yang aku tahu, jenis pekerjaan apa yang biasa aku lakukan di negaraku, dan apakah aku bisa menjaga diriku sendiri jika mereka mengirimku di tengah-tengah orang-orang yang tidak kukenal, dan bertanya kepadaku bagaimana aku akan mengendalikan diriku dalam situasi seperti itu. Kemudian dia berkata bahwa mereka ingin aku melakukan misi yang besar. Mereka ingin mengirimku ke Suriah. Aku bertanya kepa danya apa yang akan aku lakukan di Suriah. Dia berkata bahwa mereka ingin mengirimku ke Daulah Islam dan memintaku untuk mengirimkan informasi mengenai mereka.

DABIQ: Berapa banyak bayaran yang mereka tawarkan kepadamu untuk tugas ini?

SI MURTAD: Mereka menawarkan gaji bulanan. Mereka juga akan memberiku rumah, dan akan mengurus segala masalah yang kuhadapi dan setiap dokumen yang kubutuhkan, sekaligus kebutuhan hidupku ketika aku kembali.

DABIQ: Informasi macam apa yang mereka inginkan darimu mengenai Daulah Islam?

SI MURTAD: Pertama, mereka ingin aku melaporkan lokasi senjata-senjata dan missil-missil mereka disimpan. Kedua, lokasi markas-markas mereka, dan ketiga, nama setiap orang Palestina yang telah berhijrah ke Daulah Islam dari Palestina. Mereka juga menjelaskan kepadaku untuk tidak mulai bekerja atau menghubungi mereka sebelum aku menyelesaikan kamp pelatihan dan pendidikan syar'i, dan telah dimasukkan ke dalam sebuah pasukan dan mulai dipercaya. Mereka juga berkata bahwa aku harus menghubungi mereka ketika aku telah menyelesaikan kamp pelatihan dan agar mereka tahu sehingga mereka bisa mengirimkan apa yang aku butuhkan.

DABIQ: Bagaimana kamu masuk ke Daulah Islam?

SI MURTAD: Kami mendapati semua telah disiapkan dan aku meninggalkan Turki sebagaimana diperintahkan Mossad. Aku diberi nomor seorang penyelundup. Aku memberi tahu penyelundup di mana aku berada. Dia memberitahu jalannya, dan aku memasuki Suriah dan berada di wilayah Daulah Islam.

DABIQ: Bagaimana penyamaranmu terbongkar?

SI MURTAD: Tidak lama setelah aku tiba aku mulai berakting dengan cara yang tidak seperti muhajir lain walaupun pelatihan yang telah aku dapatkan dari Mossad. Aku juga gagal untuk mengikuti beberapa perintah yang diberikan amir kepadaku, dan kemudian aku merasa khawatir bahwa sebagai akibatnya dia akan mencurigaiku. Aku takut aku akan dihukum karena tidak mendengar dan taat sebagaimana yang seharusnya kulakukan dan kemungkinan akan diawasi setelahnya. Maka aku pergi dan menelepon ayahku dan menjelaskan kepadanya apa yang telah terjadi, dan dia menyuruhku untuk kembali, tetapi sudah terlambat, karena aku sedang diawasi. Mujahidin meletakkanku di penjara dan memindahkanku dari satu penjara ke penjara lainnya. Selama interogasi, aku mengaku bahwa aku adalah seorang mata-mata yang bekerja sebagai seorang agen untuk Mossad Israel, dan mengakui hal-hal yang telah aku lakukan di negaraku.

DABIQ: Apakah kamu memiliki pesan kepada mata-mata lain yang dikirim orang-orang kafir?

SI MURTAD: Ya, aku katakan kepada semua yang ingin memata-matai Daulah Islam, janga n berpikir kalian sangat pintar dan bahwa kalian dapat menipu Daulah Islam. Kalian tidak akan berhasil sama sekali. Dan akhirnya, mereka akan menangkapmu dan menegakkan hukuman (hadd) atasmu. Menjauhlah dari jalan ini. Menjauhlah dari menolong Yahudi dan orang-orang murtad. Ikutilah jalan yang benar. TAUBATLAH KEPADA ALLAH 'AZZA WA JALLA.

DABIQ: Apakah kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu katakan kepada ayahmu dan saudara laki-lakimu?

SI MURTAD: Aku katakan kepada ayahku dan saudara laki-lakiku yang membuatku terlibat dalam masalah ini, kalian yang membawaku ke dalamnya, kalian menggodaku dengan uang dan kehidupan dunia, dan meletakkanku dalam posisiku sekarang. Bertaubatlah kepada Allah 'azza wa jalla. Bertaubatlah kepada Allah 'azza wa jalla. Kalian yang membuatku seperti ini.