Rabu, 25 April 2018

GERAKAN IM, IKHWANUL MURTADDIN

DABIQ 14 - FEATURE

IKHWANUL MURTADDIN

Dalam beberapa dekade terakhir, sebuah kanker ganas muncul, bermutasi, dan menyebar. Kanker tersebut berusaha untuk menenggelamkan seluruh umat Islam ke dalam kemurtadan. Bermula dari sebuah kota di Mesir pada "1928 M," dengan cepat menyebar sepanjang Mesir ke Syam, Iraq, dan akhirnya sebagian besar negeri yang dirampas oleh thawaghit murtad, la kemudian menyebar ke Barat -Amerika, Eropa, dan Australia- dan negara-negara lain di seluruh dunia. Di mana ada komunitas Muslim, di situ ia berusaha untuk menangani perkara mereka dan menanamkan ke dalamnya sebuah agama selain Islam dengan nama Islam.

Kesesatan kanker ini bahkan melebihi firqah-firqah yang secara historis paling sesat dan tersebar luas, termasuk Jahmiyah, Mu'tazilah, Maturidiyah, dan Asy'ariyah. Dengan wafatnya para ulama, ketiadaan khalifah berabad-abad lamanya, serta tersebarnya Sufisme, ilmu kalam, ra'yu (pendapat yang menyandarkan pada akal, dengan mengabaikan dalil lain dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah), peribadatan kepada kuburan, dan modernisme di tangan orang-orang 'Utsmani yang sesat, sebagaimana juga penjajahan salibis atas banyak negeri Muslim, kanker tersebut dengan mudahnya menemukan tempat berpijak di setiap negeri yang dicapainya.

Agamanya merupakan kesesatan yang campur aduk berupa warisan 'Utsmaniyah yang dikombinasikan dengan berbagai ajaran dan ritual demokrasi, liberalisme, pasifisme [paham perdamaian], dan sosialisme yang diambil dari pagan Barat dan Timur. Tujuan utamanya ialah untuk melayani kepentingan-kepentingan jangka pendek individu dan partisan dari para pemimpin dan anggotanya, la mengklaim bekerja untuk mengimplementasikan syari'at Islam, mengembalikan khilafah, dan memenuhi jihad, padahal mengobarkan perang melawan Islam dan kaum Muslim! Dalam hal ini, kanker tersebut pada akhirnya akan bekerja dengan thawaghit dan para salibis di Afganistan, Iraq, Aljazair, Filipina, Somalia, Yaman, Tunisia, Libya, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Mesir, dan lain-lain. Penghambaannya kepada para salibis mencapai titik dengan bercokolnya agen-agen intelijen Barat di pusat-pusat "keislaman" di Barat untuk ambil bagian dalam perang melawan jihad!

Kanker tersebut dikenal dengan "Jama'ah Al-lkhwan Al-Muslimin" (Kelompok "Persaudaraan lslam")[1] yang didirikan pada "1928 M" oleh Hasan Al-Banna yang kemudian menjadi "Mursyid 'Aam" [Pemimpin Umum], gelar yang diberikan bagi pemimpin kelompok tersebut. Karena peran yang signifikan dimainkan kelompok ini sepanjang sejarah modern dalam perang melawan Islam dan kaum Muslim, penting bagi mujahid muwahhid untuk memperoleh wawasan ke dalam ajaran, sejarah, dan kondisinya.

Al-lkhwan dan Rafidhah

Sejak Rafidhah didirikan oleh orang Yahudi Ibnu Saba', sekte tersebut telah berperang melawan Islam, bahkan bekerjasama beberapa kali dengan orang-orang musyrik dan salibis melawan Muslimin, la merupakan sekte penyembahan kepada kuburan, takfir atas orang-orang Islam terbaik, dan penistaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Walaupun Rafidhah murtad, Hasan Al-Banna dan para sahabatnya mengikuti langkah-langkah dua orang modernis Freemasonry Muhammad 'Abduh dan Jamaluddin Al-Aghani (seorang Rafidhah), keduanya memelopori wala' antara Muslimin dan Rafidhah!

“Mursyid 'Aam" ketiga 'Umar At-Tilmisani berkata, "Bagian dari hasrat Hasan Al-Banna untuk menyatukan kaum Muslim ialah dengan mengadakan konferensi yang akan mengumpulkan kelompok-kelompok Muslim. Dia berharap Allah akan menyatukan mereka di atas perkara yang akan mengakhiri takfir mereka satu sama lain, terutama karena Al-Qur'an kita satu, agama kita satu. Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam satu, dan Tuhan kita satu. Untuk tujuan ini, dia menjadi tuan rumah bagi Syaikh Muhammad Al-Qummi - salah seorang ulama dan pemimpin Syi'ah - di pusat utama Al-lkhwan" [al-Mulham al-Mauhub].

Dia juga mengatakan, 'Selama tahun empat puluhan, seingat saya, As-Sayid Al-Qummi -seorang pengikut madzhab Syi'ah- tinggal sebagai tamu Al-lkhwan di pusat utama Al-lkhwan. Pada saat itu, Hasan Al-Banna bekerja keras untuk membawa perbedaan kelompok semakin dekat satu sama lain, sehingga musuh-musuh Islam tidak memecah-belah di antara kelompok tersebut sebagai jalan masuk yang dapat menghancurkan persatuan Islam. Suatu ketika kami bertanya tentang derajat perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syi'ah, maka dia melarang kami untuk menggali perkara-perkara sensitif yang tidak layak bagi Muslimin untuk menyibukkan diri mereka di dalamnya, karena Muslimin merupakan... pada saat berada di ambang konflik musuh-musuh Islam ingin menyalakan api. Dengan keluhurannya, kami berkata, 'Kami bertanya bukan atas dasar kefanatikan atau memperlebar jarak di antara Muslimin. Kami ingin mengetahui, sebab apa yang ada di antara Sunni dan Syi'ah disebutkan di dalam kitab yang tidak terhitung banyaknya dan kami tidak punya waktu untuk meninjau kembali berbagai referensi tersebut.' Maka dia berkata, 'Ketahuilah bahwa Ahlus Sunnah dan Syi'ah adalah Muslim yang disatukan oleh kalimat bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Ini adalah prinsip 'aqidah. Berdasarkan hal ini, Sunni dan Syi'ah sederajat dan murni. Adapun mengenai berbagai perbedaan di antara mereka, maka itu merupakan perkara yang memungkinkan mereka untuk meneruskan kedekatan bersama-sama" [Dzikrayat la Mudzakkiratj.

At-Tilmisani juga mengatakan, "Hubungan Al-lkhwan dengan para pemimpin Syi'ah tidak melemah. Misalnya, mereka mengontak Ayatullah Al-Kasyani. Mereka menjadi tuan rumah bagi Nawwab Shafawi di Mesir. Al-lkhwan melakukan semua ini bukan supaya Syi'ah meninggalkan madzhab mereka. Sebaliknya, mereka melakukannya karena tujuan mulia yang diserukan oleh Islam, yaitu upaya untuk membawa beragam kelompok Islam dekat satu sama lain sebisa mungkin" [Syi'ah wa Sunnah].

Dengan demikian, Al-lkhwan sama sekali tidak menghendaki agar Rafidhah meninggalkan kemurtadan mereka! Kelompok tersebut bahkan mengeluarkan pernyataan resmi untuk mendukung negara Khomeini, seraya berkata, "Organisasi internasional Ikhwanul Muslimin mengundang para pimpinan harakah Islam di Turki, Pakistan, India, Indonesia, Afganistan, Malaysia, dan Filipina, selain cabang lokal Ikhwanul Muslimin di dunia Arab, Eropa, dan Amerika, ke dalam sebuah pertemuan yang membawa pada pembentukan sebuah delegasi yang dikirim lewat pesawat pribadi ke Teheran.

Delegasi tersebut bertemu dengan Ayatullah Al-Komeini untuk menegaskan kembali solidaritas harakah Islam yang diwakili oleh delegasi tersebut, yaitu Ikhwanul Muslimin, Partai Keselamatan Turki, Jamaat-e-lslami Pakistan, Jamaat-e-lslami Hindi, Partai Masyumi Indonesia, Gerakan Pemuda Muslim Malaysia, dan Al-Jama'ah Al-lslamiyah Filipina. Pertemuan tersebut merupakan suasana yang mewujudkan pada waktu yang tepat kebesaran dan kekuatan Islam untuk mencairkan. ..berbagai perbedaan sektarian. Imam Khomeini menghargai delegasi tersebut dan mengatakan dengan jelas bahwa dia yakin selama pengasingannya tujuannya merupakan tujuan revolusi Islam di seluruh dunia.

Tujuannya ialah menjadikan setiap muwahhid Muslim yang menyatakan tiada ilah selain Allah. Dia mengatakan bahwa revolusi tersebut bukan hanya untuk Iran, namun juga untuk setiap negara Islam yang penguasanya melanggar agama Islam dan menghadang gerakannya yang dinamis dan bahwasanya Allah yang merahmati Khomeini dengan kemenangan melawan Syah akan mendukung setiap Khomeini melawan setiap Syah. Para delegasi juga menekankan dari pihaknya kepada Imam Khomeini bahwa harakah Islam akan terus menegakkan janji mereka untuk membantu revolusi Islam di Iran dan di mana saja beserta seluruh kemampuan kemanusiaan, ilmiah, dan materiil mereka. Setelah delegasi tersebut shalat ghaib bagi syuhada' [Rafidhah], sejumlah pertemuan diadakan ... Pertemuan-pertemuan tersebut fokus pada koordinasi dan kerjasama untuk masa mendatang ... Delegasi tersebut kemudian menyerukan - selama wawancara televisi yang mengharukan - hari solidaritas atas revolusi Iran di seluruh dunia dan di mana saja terdapat komunitas dan kumpulan Islam. Pada hari itu, setelah shalat Jum'at pada 16 Maret 1979, shalat ghaib akan diselenggarakan bagi syuhada' revolusi Iran. Kami menyerukan setiap aktivis di bidang Islam di mana pun untuk mengingat hari tersebut, mengingatkan yang lain, dan mengadakan shalat ghaib sebagai simbol persatuan bagi umat Islam" [al-Mujtama'].

Dengan demikian, Al-lkhwan memandang revolusi Rafidhah ialah sesuatu yang Islami! Revolusi yang sama di mana umat Islam berperang di Suriah, Lebanon, Yaman, Jazirah Arab, dan lain-lain.

Sikap lemah Al-lkhwan terhadap Rafidhah diwarisi oleh Abu Mush'ab As-Suri -seorang "ideolog" pengklaim jihad yang dipuji Azh-Zhawahiri dan sahabat pemimpin Shahawat yang mati Abu Khalid As-Suri- yang berkata, "Aku akan meringkas apa yang telah membimbingku ke masalah aqidah dan masalah madzhab pada poin-poin berikut ... Firqah-firqah yang banyak itu, termasuk Syi'ah...dan firqah-firqah lainnya yang mengucapkan 'tiada ilah selain Allah' dan membiarkan 'aqidah Ahlus Sunnah masih termasuk umat Islam dan Ahlul Kiblat. Takfir secara umum tidak boleh atas mereka. Penisbatan mereka pada Islam dan kiblat jangan dinafikan kecuali berdasarkan timbangan dan batasan yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah, termasuk terpenuhinya syarat-syarat dan hilangnya mawani' [penghalang-penghalang]. Ini merupakan tugas para ahli ilmu yang telah mencapai taraf mujtahid dalam masalah 'aqidah dan keimanan. Ini bukan tugas individu Muslim, termasuk orang-orang jahil dan awam di antara mereka. Ini juga bukan tugas mereka yang telah mendedikasikan diri mereka pada jihad dan mengusir penjajah" [Da'wah al-Muqawamah].

Setelah secara salah dia menisbatkan sikapnya terhadap Rafidhah kepada para ulama Ahlus Sunnah[2], dia kemudian juga mengklaim bahwa itu adalah sikap apa yang disebut dengan "mayoritas jihadis," dengan mengatakan, "Permasalahan Syi'ah dan Firqah-firqah Non-Sunni Lainnya: Para jihadis memandang semua firqah tergolong umat Islam atau bagian dari Ahlul Kiblat ... Syi'ah Imamiyah Ja'fariyah: Mereka adalah mayoritas Syi'ah di Iran. Mereka adalah minoritas di Lebanon, Pakistan, Afganistan, dan Timteng ... Mayoritas jihadis memandang mereka Muslim, berasal dari Ahlul Kiblat, sesat, dan mubtadi'ah."

Kesesatannya membawanya untuk mengumumkan hal berikut berupa pernyataan '"Aqidah Jihad dan Konstitusi Dakwah Perlawanan Islam Internasional," "Artikel 10: Perlawanan Islam internasional terlepas dari perguruan dan kelompoknya - tergolong dalam lingkaran besar Islam yang dilabeli para ulama dengan 'Ahlul Kiblat.' Perbedaan keyakinan, ajaran, dan aliran dipandang sebagai sesuatu yang harus dihukumi oleh para ulama. Solusi untuk perkara ini perlu pembahasan dan penjelasan yang jujur melalui teguran yang bijaksana dan baik ... Perlawanan [al-Muqawamah] mencela kerusuhan dan perang di antara sesama Muslim, la menyerukan semua Muslim Ahlul Kiblat dalam bentuk perguruan, kelompok, dan individu untuk bekerjasama dalam menentang para penjajah dan mengobarkan jihad melawan musuh kafir yang menginvasi negeri-negeri Muslim, la menyerukan setiap orang untuk meninggalkan dakwah kepada partisan internal yang dalam hal ini hanya menguntungkan musuh kafir untuk menginvasi negeri-negeri Muslim" [Da'wah al-Muqawamah].[3]

Posisi yang menyimpang dari para pengklaim jihad terhadap Rafidhah, identik dengan Hasan Al- Banna dan para pengikutnya, tidaklah mengejutkan ketika seseorang mengetahui bahwa Abu Mush'ab As-Suri merupakan mantan Ikhwani yang tetap menghormati Al-lkhwan...

Al-lkhwan dan Hubungan Antar-Agama yang Menyesatkan

Selain ikatan antara Al-lkhwan dan Rafidhah, Al-lkhwan juga memelopori seruan sesat hubungan antar-agama di antara Muslim, Nasrani, dan Yahudi. Dengan ini, mereka menghancurkan kewajiban bara'ah dari Yahudi dan Nasrani setelah mereka menghancurkan kewajiban serupa terhadap murtaddin. Allah Subhanahu wa Ta'ala, {Kamu tidak akan mendapatkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, atau karib-kerabat mereka sendiri} [Al-Mujaadilah: 22].

Walaupun demikian, Hasan Al-Banna berkata di depan komite bersama Amerika-lnggris yang mengadakan pertemuan di Mesir untuk mempelajari masalah Palestina, "Perselisihan kami dengan Yahudi bukan masalah agama, karena Al-Qur'an menganjurkan kami untuk bersahabat dengan mereka. Islam merupakan hukum manusia sebelum menjadi hukum etnis. Al-Qur'an memuji orang-orang Yahudi. ..dan ketika Al-Qur'an berhadapan dengan perkara Yahudi, ia mendekatinya dari sudut ekonomi dan hukum" [al-lkhwan al-Muslimun Ahdats Shana'ah at- TarTkh - Mahmud 'Abdul 'Azhim].

Al-Banna juga mengirim surat kepada para rabbi Yahudi Mesir yang isinya, "Pesan dari Mursyid 'Aam kepada para rabbi dan pimpinan umat Yahudi. Salam hangat ... Saya ingin mengambil kesempatan unduk mengatakan bahwa ikatan nasional yang mempersatukan seluruh warga Mesir walaupun mereka berbeda-beda keyakinan tidak memerlukan aturan pemerintah dan perlindungan polisi. Akan tetapi, dahulu kita merupakan sebuah konspirasi kelompok-kelompok hebat internasional yang koheren. Zionisme menghidupi konspirasi ini untuk memeras Palestina dari tubuh bangsa Arab yang mana Palestina adalah jantungnya yang berdenyut. Di hadapan gelombang emosi raksasa di Mesir dan negeri Arab dan Islam lainnya ini, kami pandang perlu untuk menjelaskan kepada anda yang mulia dan anak-anak umat Yahudi di antara warga negara tercinta kami bahwa pertahanan terbaik ialah bahwasanya anda yang mulia dan tokoh-tokoh dari umat anda mengumumkan secara terbuka partisipasi materiil dan moril bersama kawan- kawan senegara anda dari anak-anak bangsa Mesir di dalam kekuatan nasional mereka, sebuah kekuatan di mana Muslimin dan Nasrani telah mengambil bagian untuk menyelamatkan Palestina. Sebelum terlambat, anda yang mulia perlu mengirim pesan ini kepada PBB, Perwakilan Yahudi, dan semua organisasi internasional dan Zionis serta komite-komite yang menaruh perhatian atas masalah ini. Anda perlu membuat mereka tahu bahwa warga Yahudi di Mesir akan berada di garis depan perlawanan untuk menyelamatkan dunia Arab dan Palestina. Wahai kaum yang mulia, dengan cara demikian anda sepenuhnya dapat memenuhi kewajiban nasional anda. Anda juga perlu menghilangkan keraguan apa pun yang disiratkan oleh orang-orang yang fanatik mengenai pendirian warga Yahudi Mesir. Anda perlu juga memberi rasa nyaman kepada seluruh bangsa dan masyarakat Islam selama perjuangan besar untuk menghadapinya dalam sejarah modern. Bangsa dan sejarah tidak akan melupakan sikap yang agung ini. Dan terimalah semua rasa hormat saya yang besar. Hasan Al-Banna" [Fi Oafilah al-lkhwan al-Muslimin - 'Abbas As-Sisi].

Al-Banna juga berkata, "Islam yang murni tidak menentang suatu agama atau menghancurkan 'aqidah lain." Dia juga menyebut orang-orang Oibthi Mesir sebagai "saudara-saudara Kristen kami" [Fi Qafilah al-lkhwan al-Muslimin - 'Abbas As-Sisi].

Sementara merayakan maulid Nabi[4] shallallahu ‘alaihi wasallam bersama orang-orang Nasrani Oibthi, Al-Banna juga mengatakan, 'Kami saat ini merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua orang mempunyai hak, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk merayakan peristiwa penuh berkah ini, karena Rasul kami shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mendatangi orang-orang Muslim" [Fi Qafilah al-lkhwan al-Muslimin - 'Abbas As-Sisi].

Persaudaraan juga merilis sebuah pernyataan resmi yang isinya, "Posisi kami terhadap saudara- saudara kami yang Nasrani di Mesir dan dunia Muslim merupakan posisi yang historis, masyhur, dan jelas. Mereka memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama dengan kami. Mereka merupakan rekan kami di dalam berbangsa dan saudara kami dalam perjuangan nasional yang panjang. Mereka memiliki semua hak kewarganegaraan: hak-hak materiil dan moril, hak-hak sipil dan politik" [Bayan li an-Nas].

Ini adalah bahasa Al-lkhwan. Orang-orang Nasrani adalah saudara mereka dalam kekafiran. Mereka tidak ingin menentang agama lain. Mereka ingin memperlakukan semua orang kafir sama dengan Muslimin. Dengan demikian, mereka menolak kewajiban jihad melawan Yahudi dan Nasrani. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada Hari Akhir dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar dari orang-orang yang diberi Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah sedang mereka dalam keadaan tunduk} [QS. At-Taubah: 29].

Al-lkhwan dan Pembuatan Undang-undang

Hubungan gelap Al-lkhwan dengan parlemen merupakan sesuatu yang sudah terkenal yang menggambarkan kelompok tersebut dalam tiga puluh tahun terakhir. Bagaimanapun juga, hal ini bukanlah tradisi yang baru bagi kelompok tersebut mengingat "Mursyid 'Aam" mereka yang pertama, Hasan Al-Banna, mencalonkan dirinya sendiri unuk parlemen Mesir dua kali selama masa kekuasaan thaghut Farouk I -pada "1942" dan "1944"- sebagaimana didokumentasikan oleh jurnalis Al-lkhwan Jabir Rizq di dalam bukunya "Hasan al-Banna bi Aqlam Talamidzatih wa Mu'ashirih." Al-Banna juga berupaya untuk menjustifikasi keikutsertaannya dan begitu pula para pengikutnya di dalam pemilu parlemen dalam sebuah artikel berjudul "Mengapa Al- lkhwan Mengambil Bagian dalam Pemilu Parlemen?" dalam jurnal resmi Al-lkhwan. Semenjak itu, Al-lkhwan telah ikut serta dalam sejumlah pemilihan anggota legislatif di sejumlah negara, meminta untuk diri mereka sendiri hak Allah untuk membuat hukum. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?} [Asy-Syuuraa: 21].

Al-lkhwan dengan penuh tipu daya akan "membenarkan" kufur semacam itu dengan dalih 'amar ma'ruf dan nahi munkar, sebagaimana yang ditulis Al-Banna di dalam artikel pada "1938 M" berjudul "Menghancurkan Penghalang Adalah Panggilan Insiden ke Arah Pemikiran Serius". Di dalamnya ia berkata, "Pelarangan khamer merupakan hak imam ... Dengan demikian, kita mengetahui bahwa Islam adalah agama organisasi, la menjadikan pengubahan kemungkaran hak imam ... Pemerintahan pada masa kita mempunyai peran sebagai imam, la bertanggung jawab untuk melarang semua kemungkaran. Jika tidak melakukannya, maka kewajiban atas wakil rakyat untuk mengadakan mosi tidak percaya pada pemerintah. Jika wakil rakyat tidak memenuhi tanggung jawabnya, maka wajib atas umat untuk tidak memberikan kepercayaan mereka dan sebaliknya memilih wakil lainnya. Jika perwakilan Muslim berkumpul di bawah kubah parlemen, akan mungkin untuk mengakhiri semua kemungkaran melalui kekuatan hukum dan kewenangan sistem" [ Majalah An-Nazhirj.

Bukannya menyerukan kewajiban jihad melawan partai-partai tersebut yang tegas-tegas menolak ketaatan terhadap kewajiban syari'at yang jelas, seperti pelarangan khamer dan pengumpulan zakat, Al-lkhwan menyerukan kaum Muslim untuk melakukan kemurtadan dengan memilih orang-orang untuk mewakili mereka di parlemen sebagai pembuat undang-undang selain Allah!

Al-lkhwan dan Demokrasi

Demokrasi ialah agama yang memberikan otoritas tertinggi kepada manusia dan bukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di dalamnya, hak untuk membuat syari'at disalurkan di antara manusia supaya dengan itu mereka menentukan apakah hukum-hukum itu layak untuk dipergunakan di negeri-negeri tersebut. Bila mayoritas manusia memutuskan homoseks halal, maka ia dilegalisasikan sekalipun bertentangan dengan syari'at Allah. Dan jika mayoritas manusia menentukan untuk mengharamkan homoseks, maka ia dibuat ilegal, bukan karena hal ini merupakan keputusan Allah, namun karena kekuasaan tertinggi adalah manusia, di atas dan melebihi otoritas Allah! Sungguh suatu agama yang jahat bagi seseorang yang mana semua anggotanya memandang dirinya sebagai "rabb" selain Allah! Akan tetapi, Al-lkhwan bersikeras bahwa ini adalah agama mereka dan mendakwahkannya atas nama Islam! {"Kamu tidak mengibadahi yang selain Dia kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"} [QS. Yusuf: 40].

“Ulama" Al-lkhwan Al-Qaradhawi berkata, "Harakah Islam harus senantiasa berada di dalam barisan kebebasan politik yang direpresentasikan oleh demokrasi sejati" (Aulawiyat al-Harakah al-lslamiyahj.

“Mursyid 'Aam" keempat Muhammad Hamid Abu An-Nashr ditanya, "Sebagian orang menuduh Al-lkhwan adalah musuh demokrasi dan menaruh permusuhan dengan pluralisme politik. Apa jawabanmu atas tuduhan tersebut?" Dia menjawab, "Barangsiapa yang mengatakan hal seperti itu tidak mengenal Al-lkhwan. la hanya melempar tuduhan secara bodoh. Kami mendukung seluruh makna dan dimensi penuh dan komprehensif demokrasi. Kami tidak menentang pluralisme partai. Rakyatlah yang memiliki hak untuk menentukan seluruh ideologi dan individu" [Majalah AI-'Alam].

“Ideolog" Al-lkhwan Farid 'Abdul Khaliq mengatakan, "Islam tidak menentang pembentukan partai-partai politik dan tidak menentang demokrasi. Sebaliknya, inti demokrasi berasal dari jantung Islam" [Majalah Al-Mushawwirj.

“Mursyid 'Aam" keenam Ma'mun Al-Hudaibi mengatakan, "Ikhwanul Muslimin mendukung demokrasi nyata" [Majalah Al-Mushawwirj.

'Abdul Mun'im 'Abdul Futuh -anggota Kantor Eksekutif Al-lkhwan- berkata, "Kami memandang semua rezim yang muncul melawan kehendak rakyat ini sebagai rezim yang tidak sah. Kami tidak menerima legitimasi konstitusi mereka sampai mereka mendatangi kotak suara meskipun tidak mengangkat slogan-slogan Islam. Kami akan terus melawan setiap rezim yang tidak konstitusional yang tidak direpresentasikan oleh kehendak rakyat atau yang melawan kehendak rakyat. Kami akan terus melawannya, namun hal itu bukan lewat oposisi militer" [Wawancara Al-Jazirahj.

Al-lkhwan dan Hukum Konstitusi

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thaghut itu. Dan Syaitan bermaksud untuk menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya} [QS. An-Nisaa': 60].

Konstitusi dari beragam pemerintahan murtad yang mengaku Muslim adalah otoritas hukum yang menandingi syari'at Allah. Dengan demikian, mereka itu thawaghit yang harus dihinakan, ditolak, dan diperangi. Wajib menyatakan takfir atas orang-orang yang berhukum dengan konstitusi itu dan mendukungnya. Namun sebaliknya, para pemimpin Al-lkhwan mengungkapkan penghormatan mendalam mereka atas hukum demokrasi konstitusional!

Al-Banna berkata, "Jika penguji melihat pada dasar hukum konstitusional, niscaya ia akan melihat bahwa secara keseluruhan melindungi segala bentuk kebebasan pribadi, konsultasi. derivasi kewenangan dari rakyat, pertanggungjawaban penguasa di hadapan rakyat, diselenggarakannya pertanggungjawaban penguasa atas perbuatan mereka, dan penentuan batas kekuasaan masing-masing badan otoritatif. Bagi penguji, prinsip-prinsip ini semuanya dengan jelas sesuai dengan ajaran dan sistem Islam di dalam tatacara hukum. Atas alasan ini, Ikhwanul Muslimin percaya bahwa sistem hukum konstitusional merupakan sistem hukum yang dibangun di dunia yang paling dekat dengan Islam. Ikhwanul Muslimin tidak memilih bentuk sistem yang lain atas sistem ini" [Mabadi' wa Ushul fl Mu'tamarat Khashshah].

Pimpinan tinggi Al-lkhwan 'Isham AI-'Aryan mengatakan, "Al-lkhwan menganggap hukum konstitusional adalah yang paling dekat dengan hukum Islam. Mereka tidak memilih sistem lain selainnya, terutama sebagaimana ditekankan oleh pernyataan konferensi kelima oleh Hasan Al- Banna ... Mengapa sebagian orang bersikeras bahwa Islamis adalah musuh demokrasi? Ini adalah tuduhan yang bathil. Kami merupakan penyeru dan penerap pertama demokrasi. Kami akan membelanya sampai mati" [Majalah Liwa Al-lslam].

Al-lkhwan tidak hanya memuji konsitusi thaghut yang ada, namun juga menuliskan konstitusi mereka sendiri untuk Mesir pada "1952." la disetujui oleh "Komisi Dasar" partai dan meliputi di antaranya:

Artikel 11: Sebelum anggota Dewan Perwakilan Rakyat menerima tugas mereka, maka mereka harus bersumpah secara terbuka di gedung pertemuan bahwasanya mereka akan ikhlas karena Allah, kemudian bangsa, mematuhi hukum-hukum konstitusi, baik dalam apa yang tertulis maupun semangatnya.

Artikel 17: Tidak boleh menahan para anggota DPR untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka tawarkan berupa gagasan dan opini di dalam majelis.

Artikel 18: Tidak diizinkan selama pertemuan anggota majelis untuk menahan seorang anggota majelis kecuali seizin majelis.

Artikel 19: Tidak diizinkan untuk mengeluarkan seorang anggota majelis kecuali dengan keputusan mayoritas anggota majelis.

Artikel 26: Sebelum presiden negara menerima tanggung jawabnya, dia harus mengadakan sumpah sebagai berikut di depan majelis, "Aku bersumpah, demi Allah Yang Maha Kuasa, untuk menghormati isi dan semangat konstitusi."

Artikel 77: Rakyat terlahir bebas dan sama dalam hal kehormatan, hak-hak, dan kebebasan mereka, tanpa perbedaan apa pun yang didasarkan atas asal, bahasa, agama, ataupun warna. Mereka harus memperlakukan satu dengan yang lainnya dengan semangat persaudaraan.

Artikel 78: Setiap individu mempunyai hak penghidupan, kebebasan, kesetaraan di hadapan hukum, dan hidup dalam keamanan dan kenyamanan.

Artikel 88: Setiap individu mempunyai kebebasan dalam berpikir, berkeyakinan, dan agama.

Artikel 89: Setiap individu mempunyai hak kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Artikel 90: Setiap individu mempunyai hak berkumpul dan membentuk organisasi damai. Artikel-artikel ini secara nyata menyerukan penerapan dan pemeliharaan berbagai macam prinsip yang mana negara sekuler modern terbentuk. Bagaimana mungkin kelompok ini kemudian digambarkan mempunyai hubungan dengan Islam, kecuali sebanyak apa yang diperbuat oleh Musailamah Al-Kadzdzab.

Al-lkhwan dan Pluralisme

Esensi pluralisme ialah pengesahan partai-partai politik oposisi di dalam kerangka kerja demokrasi dengan memperbolehkan semua partai secara terbuka mengekspresikan diri mereka, terlepas dari keyakinan mereka. Dengan demikian, semua partai mempunyai kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam menentukan hukum di negeri tersebut. Jika mayoritas pemilih mendukung sebuah partai - baik partai itu mempromosikan sekularisme liberal ataupun ateisme Marxis - maka ia menjadi kekuasaan "legal" di negeri tersebut. Umat Islam berijma' dalam hal ini bahwa para pemimpinnya haruslah Muslim, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala {Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kamu} [QS. An-Nisaa': 59]. Namun demikian, Al-lkhwan tidak mempunyai masalah dengan murtaddin maupun setiap kafir lainnya yang mengambil kekuasaan atas kaum Muslim.

“Mursyid 'Aam" keempat Muhammad Hamid Abu An-Nashr berkata, "Kami percaya bahwa hukum Islam memungkinkan pluralisme partai politik, sebab sebagaimana pendapat itu meningkat keuntungan meningkat. Kami juga percaya bahwa hukum Islam harus menjamin kebebasan untuk membentuk partai, sekalipun bagi yang berorientasi, katakanlah, menentang Islam, seperti komunisme dan sekularisme. Hal ini memungkinkan untuk dihadapi dengan dalil dan penjelasan. Ini lebih baik daripada transformasi gerakan-gerakan politik tersebut ke dalam bentuk perkumpulan rahasia. Atas dasar ini, kami tidak memiliki masalah dengan pembentukan sebuah partai komunis di dalam negara Islam" [Majalah AI-'Alam].

“Mursyid 'Aam" kedua Hasan Al-Hudaibi berkata, "Komunisme bukan untuk dilawan dengan kekerasan ataupun hukum. Saya tidak mempunyai masalah dengan mereka ketika mereka memiliki sebuah partai terbuka. Islam akan menjamin keamanan jalur yang diambil negara" [Surat Kabar An-Nur].

“Mursyid 'Aam" ketiga 'Umar At-Tilmisani berkata, "Saya ditanya jika saya memperbolehkan berdirinya partai Nashiriyah di Mesir dan berkata, 'Saya mengizinkan hal itu, karena kebebasan pribadi tidak memiliki batas sama sekali" [Majalah Ad-Da'wah].

At-Tilmisani juga berkata, "Sikap kita terhadap semua partai ialah bebas dan menghargai pandangan orang lain. Jadi, mengapa saya harus melarang manusia apa yang saya bolehkan untuk diri saya sendiri? Apakah itu kebebasan ketika mencegah manusia dari memegang pendapat mereka sendiri?" [Majalah Al-Mujtama'].

Anggota parlemen Al-lkhwan Muhammad Jamal Hishmat mengatakan, "Kami percaya dengan peralihan kekuasaan. ..bahkan seandainya hal itu untuk non-lslamis, selama itu adalah keputusan rakyat. Kami percaya bahwa kekuasaan tertinggi berasal dari rakyat. Mereka memiliki hak untuk memilih, meminta pertanggungjawaban, dan menyingkirkan penguasa mereka" [Wawancara Al-Jazirah].

Al-lkhwan mengatakan dalam sebuah pernyataan resmi, "Dewasa ini, para pemimpin dunia dan orang-orang berakal di situ telah mengangkat slogan pluralisme dan perlunya menerima perbedaan pendapat dan metode dalam berpikir dan berbuat manusia. Islam. ..memandang keanekaragaman merupakan realita universal dan kemanusiaan, la membangun sistem politik, sosial, dan budayanya di atas keanekaragaman dan kemajemukan tersebut ... Ikhwanul Muslimin sekali lagi menekankan kesetiaannya pada pandangan Islami yang benar dan lurus ini. Mereka mengingatkan para pengikutnya bahwa setiap orang dari mereka. ..harus melapangkan hatinya dan peduli dengan semua orang ... Tangannya harus direntangkan bagi setiap orang dengan kebaikan, cinta, dan jujur, dan bahwasanya dia harus memulai perdamaian dengan seluruh dunia, baik dalam ucapan maupun perbuatan" [Bayan li an-Nasj.

Pluralisme juga merupakan seruan yang mengharuskan ditinggalkannya hukum syar'i yang jelas, yaitu kewajiban untuk mengobarkan jihad melawan partai-partai politik murtad. Setelah menolak sejumlah kewajiban yang pasti, kelompok ini berani-beraninya menyebut diri mereka Ikhwanul "Muslimin"!

Al-lkhwan dan "Hak Asasi Manusia"

Bagian dari agama demokrasi syirik ialah apa yang dilabeli pada era ini dengan "hak-hak asasi manusia," termasuk "hak" untuk melakukan riddah, penyembahan kepada syaitan, homoseksual, dan perzinaan. Meskipun "hak-hak" ini nyata betul kontradiksi jika digambarkan dengan Islam, Al-lkhwan tidak berhenti mempromosikannya.

Al-lkhwan mengungkapkan di dalam sebuah pernyataan resmi, "Masalah HAM: ... Kami katakan kepada diri kami sendiri, pengikut kami, dan dunia di sekeliling kita, kami berada di garis terdepan yang menyerukan untuk menghormati HAM, menjamin hak-hak ini kepada semua manusia, dan memfasilitasi jalan untuk mempraktekkan kebebasan di dalam kerangka kitab undang-undang moral dan hukum. Kami sangat mempercayai bahwa kebebasan manusia ialah jalan ke arah setiap kebaikan, renaissance, dan inovasi.

Agresi terhadap hak-hak dan kebebasan di bawah slogan apa pun -bahkan sekalipun di bawah Islam itu sendiri- merendahkan derajat kemanusiaan umat manusia dan menyeret manusia ke status selain apa yang telah Allah tempatkan untuknya dan menghalanginya dari penggunaan kemampuannya dan karunia ... Hal ini terletak pada pemikiran yang rasional dan orang-orang beriman di mana saja untuk mengangkat suara mereka menyerukan kesetaraan, sehingga semuanya menikmati kebebasan dan HAM. Kesetaraan ini merupakan jalan yang benar ke arah perdamaian internasional dan sosial serta ke arah tata dunia baru yang menentang kezhaliman, kerusakan, dan agresi" [Bayan lin-Nasj.

'Abdul Mun'im 'Abdul Futuh -anggota Kantor Eksekutif Al-lkhwan- juga berkata, "Ini adalah masalah utama kami dan semua rakyat Mesir, bukan hanya Al-lkhwan, yaitu masalah kebebasan, HAM, dan keadilan. Ini adalah masalah kami. Masalah kami dengan pemerintah bukanlah Islam. Pemerintah [Husni Mubarak] adalah Muslim. Negara adalah Muslim ... Dengan demikian, problem antara kami dan pemerintah ialah salah satu kebebasan, HAM, dan penjunjungan tinggi konstitusi" [Wawancara Al-Jazirah].

Al-lkhwan dan Pasifisme

Jihad pada masa ini wajib atas setiap Muslim, sebab negeri kaum Muslim banyak yang dirampas oleh kuffar dan di sana kelompok murtad banyak yang muncul. Sampai seluruh negeri ini diambil kembali, dibersihkannya orang-orang murtad, dan berhukum dengan syari'at Islam, maka kewajiban tersebut tidak gugur. Sebaliknya, bukannya menyerukan kaum Muslim untuk berjihad, Al-lkhwan sepanjang sejarah mereka menyerukan pasifisme dan bahkan mencela "terorisme," padahal melakukan teror terhadap kuffar adalah bagian dari Islam. Barangsiapa yang mengingkarinya kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggup dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang dengannya kamu meneror musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya} [QS. Al-Anfaal: 60].

Al-lkhwan justru mengatakan, "Masalah Ketiga: Aktivisme politik. Penolakan Kekerasan, dan Pengutukan Terorisme: Ikhwanul Muslimin sudah puluhan kali menyatakan beberapa tahun terakhir bahwa mereka ikut terlibat dalam bidang politik sementara bertahan dengan cara-cara legal dan metode damai itu sendiri. Mereka dilengkapi oleh pernyataan jujur dan bebas serta pengorbanan tulus di semua bidang karya sosial ... Mereka percaya bahwa hati nurani bangsa dan kesadaran akan putra-putranya merupakan keputusan adil terakhir antara gerakan ideologi dan politik yang saling bersaing dengan luhurnya di bawah naungan konstitusi dan hukum.

Atas dasar ini, mereka mengulang pernyataan untuk menolak semua cara kekerasan dan paksaan serta semua bentuk kudeta; kesemuanya merusak kesatuan bangsa dan dapat memberi peluang kepada penghasutnya untuk melewati realita politik dan sosial. Namun begitu, hal tersebut tidak akan pernah memberi mereka kesempatan untuk mengatasi kehendak massa umat yang bebas. Cara-cara seperti itu juga menggambarkan suatu celah yang menakutkan di dalam tembok stabilitas politik dan pemberontak yang tidak dapat diterima melawan legitimasi masyarakat yang benar.

Apabila atmosfer penindasan dan gejolak yang mengontrol bangsa telah melibatkan sekelompok anak bangsa dalam mempraktekkan terorisme, menakut-nakuti orang-orang tak bersalah, serta menggoncang negara dan kemajuan ekonomi dan politiknya, maka Ikhwanul Muslimin menyatakan tanpa keraguan dan tanpa ketenangan bahwa ia berlepas diri dari semua bentuk dan sumber kekerasan, la mencela semua bentuk dan sumber terorisme, la menyatakan bahwa mereka yang menumpahkan darah yang tidak sah atau ikut ambil bagian dalam hal semacam itu merupakan kawan dalam dosa dan pelaku dosa. Mereka diminta secara tegas dan tanpa menunda-nunda agar kembali pada kebenaran ... Adapun bagi orang-orang yang dengan sengaja mencampuradukkan fakta dan dengan keliru menuduh Ikhwanul Muslimin ambil bagian dalam kekerasan dan terlibat dalam terorisme - di bawah pernyataan bahwa Ikhwanul Muslimin bersikeras meminta pemerintah untuk tidak merespon kekerasan dengan kekerasan lain, tetapi mengikuti sistem hukum dan peradilan serta memahami semua penyebab dan keadaan di balik kekerasan berada dalam penyelidikan pemerintah dan merespon fenomena tanpa bersandar hanya pada respon keamanan - maka pernyataan semacam itu terhadap Persaudaraan tertolak oleh sejarah yang sangat terang Persaudaraan bertahun-tahun lamanya di mana Persaudaraan ambil bagian di dalam dewan perwakilan dan pemilu legislatif. Selama peristiwa-peristiwa di mana Persaudaraan tidak berpartisipasi, ia terus mengikatkan diri pada hukum konstitusi pemerintah, berupaya untuk menjadikan kalimat yang bebas dan benar sebagai satu-satunya senjata baginya" [Bayan lin-Nasj.

“Mursyid 'Aam" ketiga Umar At-Tilmisani ditanya, "Apakah mungkin persoalan antara anda dan pemerintah mencapai titik perlawanan?" Dia menjawab, "Kami tidak akan mengganggu seorang pun atau berusaha untuk mengganggu seorang pun. Bahkan seandainya persoalan mencapai titik kami ditempatkan di dalam penjara, kami tidak akan melawan mereka" [Majalah Al-Majallahj.

Umar At-Tilmisani berkata, "Ketika Perang Dunia II dimulai pada 1939, Al-lkhwan dengan kekuatan mereka bisa saja menyebabkan banyak kesulitan bagi Sekutu. Namun sang martir imam Hasan Al-Banna memberikan perintah kepada penduduk dan daerah-daerah di mana terdapat Al-lkhwan, memberitahu mereka untuk tetap tenang, mendedikasikan waktu mereka untuk dakwah, dan memfokuskan semua usaha mereka untuk menjauh dari hasutan, sampai pihak Sekutu menang. Keadaan kawasan ini -yang dipenuhi oleh Al-lkhwan di mana-mana - adalah salah satu alasan atas kemenangan pihak Sekutu, namun mereka tidak menghiraukan imam yang martir dan Al-lkhwan serta membalas sang imam dengan pengkhianatan" [Dzikrayat la Mudzakkiratj.

“Mursyid 'Aam" kedua Hasan Al-Hudaibi menyatakan, "Apakah anda pikir bahwa tindak kekerasan akan mengusir orang-orang Inggris dari negeri kami? Kewajiban atas pemerintah pada saat ini ialah melakukan apa yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, yaitu mendidik bangsa dan mempersiapkannya. Ini adalah jalan untuk mengusir orang-orang Inggris" [al-Harakah as-Siyasiyah fi Mishr -Thariq Al-Bisyri].

Al-Hudaibi juga berkata, "Saudara-saudaraku, anda mendengar saya berkata lebih dari sekali. Saya tidak berbicara apa pun melainkan perdamaian, keamanan, dan stabilitas. Saya menentang protes, pengrusakan, dan konflik" [Majalah Al-Athibba'].

Dan setelah sebagian Al-lkhwan memutuskan untuk menargetkan beberapa agen Mesir untuk Inggris tanpa persetujuan pimpinan tertinggi, Al-Banna menulis pernyataan resmi yang isinya, "Tujuan dari dakwah kami pada awalnya ialah bekerja untuk kebaikan tanah air, mendukung agama, dan menentang semua seruan berupa ateisme, amoral, dan pengabaian terhadap hukum-hukum dan nilai-nilai Islam ... Jika ini persoalannya, maka pembunuhan, terorisme, dan kekerasan bukan bagian dari caranya, karena ia mengambil Islam sebagai manhaj, menaati batas-batasnya ... Islam yang murni merupakan agama perdamaian menyeluruh, keamanan penuh, spiritual murni, dan teladan kemanusiaan yang tinggi..."

“Sejumlah peristiwa terjadi yang dinisbatkan kepada sebagian orang yang memasuki jama'ah tanpa menyerap semangatnya. Setelah peristiwa-peristiwa menakutkan ini, terjadi peristiwa lain, yaitu pembunuhan Perdana Menteri Mahmud Fahmi An-Naqrashi Pasha. Negara dilanda kesedihan disebabkan kematiannya. Negara kehilangan dengan wafatnya seorang bintang renaissance-nya, seorang pemimpin bagi kemajuannya, seorang teladan yang baik bagi kejujuran, patriotisme, dan kesederhanaan. Dia termasuk salah satu putra terbaiknya. Kami tidak kurang sedihnya dibanding yang lain atas kematiannya, tidak pula penghargaan kami atas jihad dan karakternya kurang dibanding yang lain. Hal ini karena sifat dakwah Islami menentang kekerasan; bahkan mengecamnya, tidak menyukai pembunuhan apa pun bentuknya, dan marah kepada pelakunya. Atas alasan ini, kami menyatakan berlepas diri di hadapan Allah atas para pembunuh dan pelakunya."

“Dikarenakan negara kita saat ini tengah melewati suatu tahap yang termasuk salah satu kehidupannya yang paling signifikan, maka hal ini perlu mempersiapkan ketenangan, keamanan, dan stabilitas yang sempurna. Yang mulia raja yang agung -semoga Allah melindunginya- murah hati dan mengarahkan pemerintahan yang ada, terdiri dari tokoh-tokoh besar Mesir, ke arah yang benar. Tugasnya ialah untuk menyatukan kalimat bangsa, merapatkan barisan, mengarahkan usaha dan kapasitasnya bersama-sama, tidak terpecah, memberikan kebaikan bagi bangsa, serta reformasi dalam dan luar negeri. Dengan segera pemerintah mulai melaksanakan arahan yang mulia dengan ketulusan, berkarakter, dan jujur. Semua ini membuat kita wajib untuk mengerahkan segenap kekuatan dan menghabiskan waktu kita untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan dan memenuhi tanggung jawabnya yang besar. Hal ini akan mampu dilakukan dengan benar hingga dipastikan keamanan dan kestabilan tercapai bagi rezim tersebut. Ini wajib bagi setiap warga negara pada kondisi normal. Betapa lebih besar dalam situasi rumit dan penting ini di mana tiada seorang pun mendapatkan keuntungan dari kekacauan emosi, silang pendapat, dan upaya yang terpecah selain musuh- musuh bangsa beserta renaissance-nya.

“Atas dasar ini, saya menyerukan saudara-saudara saya karena Allah dan kepentingan publik bahwa masing-masing membantu untuk mencapai makna ini, mengarahkan diri mereka pada tugasnya, dan menjauhkan diri mereka dari setiap perbuatan yang menentang stabilisasi keamanan dan keselamatan menyeluruh, sehingga dengan demikian mereka memenuhi hak Allah dan hak tanah airnya. Kami mohon kepada Allah agar melindungi yang mulia raja yang agung dan membimbing langkah-langkah negara, baik pemerintah maupun rakyat, di bawah pemerintahannya ke arah apa yang bisa membawa pada kebaikan dan keberhasilan" [al-lkhwan al-Muslimun Ahdats Shana'ah at-Tarikh].

Ketika operasi rahasia lainnya dilakukan oleh sejumlah anggota Al-lkhwan sekali lagi tanpa persetujuan pimpinan tertinggi, Al-Banna menulis pernyataan kedua di bawah judul "Mereka Bukan Ikhwan, dan Bukan Pula Muslimin". Dia mengatakan di dalamnya, "Mereka yang melakukan perbuatan ini bukanlah ikhwan ataupun Muslim. Mereka tidak patut mendapat kehormatan sebagai warga negara Mesir."

Inilah agama Al-lkhwan terhadap jihad; menjadikan pedang sebagai logo mereka dan slogan "Persiapkanlah" -merujuk pada Surat Al-Anfaal ayat 60- sama sekali tidak mengandung arti apa-apa.

Al-lkhwan, Pelindung Raja-raja Thaghut Mesir

Selama Mesir di bawah koloni Inggris, para salibis merayakan tiga puluh tahun monarki kecil yang setia kepada Kerajaan Inggris. Kerajaan ini diperintah oleh hukum sekuler dengan mendudukkan Fuad dan Farouk sebagai "raja"-nya, keduanya keturunan Muhammad 'Ali Pasha, modernis - di bawah bendera para penyembah kuburan Turki 'Utsmani - yang memimpin perang melawan tauhid di Hijaz dan Najd. Kedua orang murtad Fuad dan Farouk tersohor akan kesekulerannya, korup, dan tunduk pada Inggris.

Meskipun demikian, Hasan Al-Banna menyebut satu persatu "jasa" raja Mesir di hadapan para anggota Al-lkhwan, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Banna di dalam autobiografinya. Dia bahkan menyuruh para pengikutnya untuk berkumpul secara terbuka dalam jumlah besar dan menyambut raja atas kunjungan pihak kerajaan ke kota tersebut, seraya berkata, "Kalian harus berkumpul di pinggir jalan dan sambutlah raja, supaya orang-orang asing di negeri ini mengetahui bahwa kita menghormati raja kita dan mencintainya, sehingga penghormatan mereka terhadap kita akan tumbuh" [Mudzakkarat ad-Da'wah].

Jurnal resmi Al-lkhwan pun menyerukan untuk menunjuk sang raja - seorang sekuleris non-Quraisy - untuk menempati kedudukan Khalifah. Secara umum, jurnal Al-lkhwan akan memuji Fuad dan Farouk meskipun mereka menjadi pion murtad Inggris. Di antara judul artikel di jurnal Al-lkhwan adalah "Raja Farouk adalah Teladan bagi Bangsanya," "Farouk: Pembela Al-Qur'an," "Farouk Membangkitkan Sunnah Khulafa'ur Rasyidin," "Raja Menyeru, Umat Menjawab - Kepada Yang Mulia dan Shaleh Raja Farouk, yang Pertama dari Ikhwanul Muslimin," "Kepada Yang Mulia Raja yang Dicintai, Semoga Allah Menolongnya," dan "Farouk: Teladan yang Shaleh." Sebagian artikel ini ditulis sendiri oleh Al-Banna. Pada "1937," Al-lkhwan merayakan pengangkatan resmi Farouk sebagai raja Mesir dalam konferensi umum mereka yang keempat, mengumpulkan dua puluh ribu orang di dalam perayaan, dan mengumumkan bai'at mereka kepadanya.

Kemudian Al-lkhwan menyuruh para pengikutnya setiap tahunnya berkumpul dan mewujudkan loyalitas mereka kepada thaghut tersebut pada peringatan penerimaannya atas tahta, kepulangannya dari perjalanan ke negara-negara lain, dan bahkan ulang tahun pribadinya, sebagaimana didokumentasikan di dalam tulisan sejarawan mereka sendiri.

Al-lkhwan dan Thaghut Mubarak

Meskipun kemusyrikan yang diterapkan Husni Mubarak dan penindasan yang ditimbulkannya atas kaum Muslim Mesir, Al-lkhwan akan membelanya dan pemerintahannya, bahkan bekerjasama dengan rezimnya melawan kaum Muslim.

Ma'mun Al-Hudaibi berkata, "Tidak ada satu pun sensitivitas maupun kebencian antara Ikhwanul Muslimin dan Presiden Husni Mubarak, karena dia tidak ambil bagian dalam penindasan dan penyiksaan atas Al-lkhwan di masa-masa akhir. Selain itu, tidak ada permusuhan apa pun antara partai Al-lkhwan dan partai-partai dan orientasi politik" [Majalah Al-Mujtama'].

Umar At-Tilmisani juga mengungkapkan, "Aku ikut serta dalam banyak sikap di mana pihak pemerintah memerlukan bantuan Ikhwanul Muslimin ... Aku terus mengadakan kontak dengan personel keamanan Kementerian Dalam Negeri. Aku menawarkan segala sesuatu yang dapat memperkokoh keamanan di Mesir. Aku tidak akan membuat tokoh Mesir, baik kecil maupun besar, untuk datang kepadaku. Aku cukupkan dengan mereka menghubungiku lewat telepon untuk pergi ke kementerian, kecuali pada saat-saat sakit atau liburan di mana mereka dapat mengunjungiku dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Sebagian karunia Allah kepadaku ialah tidak pernah aku pergi ke perguruan tinggi yang bergejolak karena alasan tertentu selain kembali dengan kesuksesan. Usahaku disyukuri oleh pihak otoritas di Kementerian Dalam Negeri" [Dzikrayat la Mudzakkirat].

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali; sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai wali, maka dia termasuk golongan mereka} [QS. AI-Maa-idah: 51].

Ini adalah hukum Allah atas kaum Muslim yang mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali. Betapa lebih buruk lagi orang- orang yang mengambil murtaddin sebagai wali, sebab kufur riddah lebih hebat daripada kufurnya orang-orang Yahudi dan Nasrani berdasarkan ijma' Salaf, sebagaimana terlihat pada perkara jizyah, pernikahan, dan hukum lainnya.

Al-lkhwan dan Irja' Ekstrim

Irja' yang ekstrim dari Al-lkhwan bukanlah sebuah fenomena yang tidak diketahui. Hasan Al-Hudaibi -"Mursyid 'Aam" kedua- menulis buku "Du'at la Qudhat" (Da'i Bukan Hakim) yang membantu untuk menyerukan bentuk ekstrim dari Irja' di dalam barisan pengikutnya. Dia menentang vonis takfir terhadap pemerintah yang berhukum dengan hukum buatan manusia, yaitu ketika sebagian anggota Al-lkhwan mulai mengambil pendirian yang lebih kokoh atas masalah ini.

Berkaitan dengan hal ini, anggota parlemen dari Al-lkhwan Muhammad Jamal Hishmat berkata, "Penerbitan buku 'Da'i Bukan Hakim' cukup untuk menafikan masalah takfir, sekalipun masalah tersebut diangkat oleh Sayid Quthb[5]. Manhaj yang dianut oleh Al-lkhwan ialah bahwasanya tidak ada takfir. Prinsip kedua puluh dari dua puluh prinsip [ditulis oleh Hasan Al-Banna] ialah bahwa tidak boleh bagi seorang pun untuk mentakfir orang lain dikarenakan dosa[6]. Ini jelas. Tidak ada upaya pembunuhan yang didorong oleh takfir. Tidak ada penerapan takfir. Anggota Al-lkhwan yang menerapkan takfir meninggalkan partai. Mereka dibantah. Mereka yang memahami, menjadi moderat, dan kembali dari kejahatan mereka, kembali ke partai. Mereka yang tidak kembali, diusir dari partai dan dikatakan oleh orang-orang yang mengusirnya, 'Carilah bendera lain.' Ini adalah perkara yang jelas" [Wawancara Al-Jazirah].

“Mursyid 'Aam" keempat Abu An-Nashr berkata, "Kami menawarkan tangan kami kepada semua aktivis yang menisbatkan diri mereka pada gerakan Islam di dunia dakwah, kecuali mereka yang menyatakan takfir atas penguasa atau manusia lainnya. Ini karena kami menentang takfir secara umum" [Majalah An-Nur].

Al-lkhwan mengemukakan di dalam sebuah pernyataan resmi, "Ikhwanul Muslimin memandang semua orang sebagai pembawa kebaikan, layak untuk membawa amanat dan lurus di atas kebenaran. Ikhwanul Muslimin tidak menyibukkan diri dengan takfir terhadap siapa pun ... Kami, Persaudaraan, selalu mengatakan, kami adalah da'i bukan hakim. Atas dasar ini, kami tidak pernah berpikir sesaat pun untuk memaksa siapa pun ke dalam 'aqidah atau agama orang lain" [Bayan lin-Nasj.

“Mursyid 'Aam" ketiga 'Umar At-Tilmisani mengungkapkan, "Terdapat perbedaan jelas antara sekularisme dan ateisme. Sekularisme tidak menentang agama, la memberikan orang yang beragama hak untuk mengekspresikan dirinya. Adapun untuk ateisme, maka ia merupakan sikap pribadi yang mengarah pada pemburuan para penganut agama secara tidak adil. Dulu saya merupakan kolega Mister Sirajuddin, presiden partai Wafd [sekuler] di Fakultas Hukum. Dia seorang yang shaleh yang shalat dan shaum. Selain itu, partai Al-Wafd tidak pernah mengganggu Al-lkhwan" [Jurnal Al-Mustaqbal].

Dengan demikian, Al-lkhwan tidak menyatakan takfir atas orang-orang sekuler! Mereka bahkan mengingkari para mantan anggota semata-mata disebabkan para anggota tersebut menyatakan takfir atas rezim thaghut!

Para Pengklaim Jihad dan Al-lkhwan

Ini merupakan kesesatan nyata dari Al-lkhwan, namun demikian mampu masuk ke dalam harakah-harakah "Salafi" beberapa dekade yang lalu. Di antara harakah pertama ialah apa yang kemudian dikenal sebagai As-Sururi, nama yang diambil dari "ideolog" besar harakah tersebut, sejarawan Muhammad Surur. Pada penampakannya yang pertama, Sururi mengutuk rezim- rezim thaghut dan mengingatkan untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu syirik, namun mereka menjauhi masalah takfir dan jihad. Akan tetapi, ketika sejumlah partai “islam" murtad ikut dalam pemilu Aljazair pada "1991," dengan cepat Sururi mengubah posisi mereka terhadap masalah itu, mendukung partai-partai tersebut di dalam pemilu syirik. Mereka mulai mengeskalasi nada propaganda mereka melawan mujahidin.

Setelah Peristiwa 11 September dan kemudian berbagai 'amaliyah di Jazirah Arab, Sururi mengadakan perubahan dengan pihak thawaghit, terutama keluarga Saudi. Pengikut Sururi yang sebelumnya dilarang dari memasuki negara-negara yang dirampas oleh thawaghit, kemudian diizinkan kembali untuk mengambil bagian dalam memerangi mujahidin.

Fenomena Sururi diikuti oleh fenomena "Hizbul Ummah" (Partai Umat) yang dipimpin oleh Hakim Al-Muthairi. Kelompok ini juga berusaha untuk memasukkan aspek-aspek manhaj Al- Ikhwan ke dalam "Salafiyah." "Salafiyah" yang Ikhwani akhirnya menemukan jalannya ke dalam barisan Al-Qa'idah, yaitu ketika para pemimpinnya banyak yang menghargai para "ulama" Al-lkhwan dan yang berpandangan Al-lkhwan.

Dalam hal ini, contoh-contoh bisa ditemukan di sejumlah besar tulisan para pengklaim jihad. Misalnya, Abu Mush'ab As-Suri, yang mengatakan, "Gerakan Ikhwanul Muslimin benar-benar sebagaimana klaim mereka 'kelompok induk' yang melahirkan sebagian besar gerakan politik fundamentalis dan bahkan pada banyak gerakan jihad di Arab dan dunia Islam" [Da'wah al-Muqawamah].

Dia juga mengatakan, "Gerakan Ikhwanul Muslimin merupakan inkubator alami utama yang dari sini memungkinkan bagi pemikiran jihad tersebar, karena dakwah Hasan Al-Banna merupakan lingkungan yang sesuai untuk pengembangan semacam itu. Tidak ada yang memperlihatkan hal semacam itu sebanyak slogan Persaudaraan yang menggambarkan manhaj Al-lkhwan secara ringkas: 'Allah tujuan kami. Rasulullah teladan kami. Al-Qur'an undang- undang kami. Jihad jalan kami. Mati di jalan Allah cita-cita kami tertinggi' ... Amal jihad pertamanya merupakan bukti sebagai inkubator yang sesuai bagi kelahiran gerakan dan ideologi jihad dari rahimnya" [Da'wah al-Muqawamahj.

Dia pun mengatakan, "Aspek 'aqidah jihad sudah ada pada sebagian besar seruan ini [untuk reformasi komprehensif] dan tidak ada yang lebih indikatif tentang hal ini daripada slogan terkenal induk dan jantung semua gerakan Islam - seruan Ikhwanul Muslimin dan berbagai gerakan yang terlahir darinya di dunia Arab dan Islam ... Aku tidak menemukan dalam karya mengesankan pengarang mana pun pada umat modern ini yang lebih komprehensif mengumpulkan dasar 'aqidah jihad sebagaimana yang terkumpul dalam slogan Al-lkhwan yang mencakup semua aspek, prinsip, dan cabang agama" [Da'wah al-Muqawamah].

Dia juga berkata, "Ideologi revolusioner gerakan jihad dan inkubator ideologi pertamanya -maksudku ideologi Ikhwanul Muslimin- sebagian besar memasuki dunia Arab dan Islam dari Mesir dan Suriah. Ideologi organisasi yang dibentuk di dalam gerakan Ikhwanul Muslimin ini. ..merupakan separuh dari komposisi ideologi gerakan jihad modern" [Da'wah al-Muqawamah].

Dengan demikian, As-Suri memandang Al-lkhwan sebagai pembangkit jihad di era tersebut, seakan-akan dia bodoh dengan fakta bahwa semua upaya mereka dihabiskan untuk mengabdi kepada demokrasi! Sentimennya digemakan oleh Azh-Zhawahiri yang berkata, "Syaikh Hasan Al-Banna, semoga Allah merahmatinya, tanpa diragukan lagi adalah simbol perintis gerakan Islam. Allah merahmatinya dengan kemartiran. Kami mohon kepada Allah untuk menerima darinya dan menerima darinya seluruh amal shalehnya. Allah saja yang mengetahui besarnya kecintaan dan penghormatan saya kepadanya di dalam hati saya ... Syaikh Hasan Al-Banna, semoga Allah merahmatinya, juga menanam benih jihad di dalam gerakan Islam modern" [aI-Hishad al-Murr].

Dia juga mengatakan, "Saya mendedikasikan penghargaan atas karya ini kepada. ..sang imam, pembangkit yang membangunkan kembali Islam, Hasan Al-Banna, orang yang membawa pemuda dari alam tamasya dan bermain di medan perang" [Syadza al-Qaranfulat].

Persoalannya tidak terhenti pada anggapan para pengklaim jihad yang memandang Al-lkhwan berada di belakang kebangkitan jihad, namun juga termasuk mengudzur kemurtadan Al-lkhwan. As-Suri mengatakan, "Adapun untuk pelaku demokrasi, maka mereka bermacam- macam. Dengan demikian hukum atas mereka pun beragam. Namun secara umum, saya percaya pada pendapat yang mengatakan bahwa orang-orang yang mempercayai filosofi dan pembuatan undang-undang dari demokrasi adalah kafir dan berlawanan dengan 'aqidah Islam dan agama tauhid, tetapi mengamalkannya dengan dalih lemah dan satu-satunya cara yang ada untuk meraih kepentingan yang mereka percaya dapat membantu dakwah. Islam, dan Muslimin dan itu cara yang layak bagi tercapainya penerapan syari'at dalam keadaan demikian dan menghapuskan apa saja yang menentang syari'at, atau itu merupakan jalan potensial untuk menyatakan kebenaran, 'amar ma'ruf, nahi munkar, dan menyampaikan suara kebenaran kepada umat, dan sebagainya, maka orang-orang yang tulus di antara mereka diudzur dalam pengamalan demokrasi mereka serta ketergabungannya dengan institusinya disebabkan pemahaman mereka yang salah" [Da'wah al-Muqawamah]l

Dengan demikian, para pengklaim jihad menganggap murtaddin dan thawaghit ini Muslim, sebagaimana pendirian Azh-Zhawahiri terhadap Mursi dan para pengikutnya. Para pengklaim jihad juga menyerukan kerjasama yang lebih besar dengan Al-lkhwan beserta semangatnya.

As-Suri berkata, "'Aqidah Jihad dan Konstitusi Dakwah Perlawanan Islam Internasional: ... Artikel 19: Dakwah Islam internasional memandang berbagai upaya yang dilakukan semua orang yang tulus di dalam kebangkitan Islam -dakwah, reformasi, pendidikan, keagamaan, dan upaya-upaya lain yang disepakati oleh syari'at- yang diamalkan oleh berbagai macam perguruan untuk kebangkitan Islam, di antaranya. Jkhwanul Muslimin. ..layak mendapatkan ucapan terima kasih dikarenakan penjagaan mereka terhadap agama kaum Muslim dan meningkatnya keadaan mereka, la menyerukan mereka untuk bekerjasama dalam kebajikan dan ketaqwaan serta mendukung perlawanan (al-muqawamah). la memandang berbagai upaya mereka di dalam dakwah kepada agama Allah sebagai suatu bentuk dukungan dan pengokohan akar perlawanan di dalam umat ini dan pemeliharaan atas komposisinya, la menyerukan setiap orang untuk memperhatikan titik-titik perbedaan pada tahap ini di mana eksistensi semua Muslim berada dalam ancaman pada semua tingkatan kultural" [Da'wah al-Muqawamah].

Sikap ke arah Al-lkhwan ini diulang kembali di dalam media resmi Al-Qa'idah di bawah kepemimpinan Azh-Zhawahiri, yang paling terkenal terdapat dalam "Garis-Garis Besar Aktivitas Jihad" dan "Pakta untuk Mendukung Islam." Sikap ini membawa para pengklaim jihad bukan hanya untuk mengadakan kerjasama yang lebih besar antara mereka sendiri dan Al-lkhwan, namun bahkan mengkritisi orang-orang yang menyatakan takfir atas Al-lkhwan.

Sebagai misal, As-Suri mengkritik 'Adnan 'Uqlah dan sahabat-sahabat 'Adnan yang bersama- sama meninggalkan Al-lkhwan dan membentuk Ath-Thali'ah Al-Muqatilah (Pejuang Garis Depan). As-Suri menjelaskan, "Perkara-perkara berbahaya yang tampak dalam karya-karya Ath- Thali'ah. Itu adalah kecenderungan mereka - terutama 'Adnan 'Uqlah dan beberapa muridnya - ke arah ektrimisme, khususnya setelah Al-lkhwan mengambil jalan aneh koalisi dan sebuah kampanye media politik yang baru, setelah Al-lkhwan bersikap keras terhadap pendirian 'Adnan lewat desakan mereka untuk memboikot Ath-Thali'ah dan mengadakan permusuhan terhadapnya.

Maka 'Adnan menyatakan takfir atas para pemimpin Ikhwanul Muslimin. ..berkenaan dengan Koalisi Nasional [tahun "delapan puluhan"] dan apa yang mengikutinya berupa kerusakan. Apa yang mendorongnya ke arah ini ialah beberapa publikasi Koalisi Nasional yang benar-benar rusak, yang nyata sekali termasuk di dalamnya Al-lkhwan! ... Dan meskipun sejumlah tokoh yang patut diperhitungkan menghadang jalan takfir yang ekstrim terhadap orang lain ini, 'Adnan tetap pada keyakinannya sementara memiliki sejumlah klaim yang masuk akal yang akan terus diulanginya. Pendapatnya diikuti oleh sejumlah besar anggota Ath-Thali'ah" [ats-Tsaurah al-lslamiyah al-Jihadiyah fi Suriya].

Dia pun menggambarkan salah satu "poin negatif" dengan "peristiwa Ath-Thali'ah" sebagai, "Kecenderungan Ath-Thali'ah ke arah ekstrimisme di saat-saat terakhirnya sebagai akibat dari pemboikotan Al-lkhwani dan Iraq, konspirasi semua kelompok terhadapnya, dan penindasan dan kekerasan nyata yang mereka hadapi. Ekstrimisme merupakan sifat tetap setiap orang yang masuk ke dalam Ath-Thali'ah.

Media Al-lkhwan memainkan peran besar dalam membesar-besarkan ekstrimisme untuk dimanfaatkan menghadapi Ath-Thali'ah, tetapi tidak disangsikan lagi Ath-Thali'ah mempunyai beberapa paham ekstrim yang nyata. Barangkali hal yang paling ekstrim yang bisa dipelajari ialah keyakinan yang dicapai 'Adnan 'Uqlah dan sejumlah sahabatnya dalam menyatakan takfir atas orang-orang Ikhwanul Muslimin. ..yang memberikan putusan sebagai dukungan atas Koalisi Nasional dan mengakuinya sebagai suatu ide dan program. Dia akan menyatakan takfir atas setiap orang yang mengakui kondisi koalisi, lalu bersikeras di atas loyalitasnya kepada pimpinan dan koalisinya. 'Adnan 'Uqlah memiliki sejumlah klaim bagi pendiriannya yang bisa ditemukan dalam beberapa publikasi koalisi dan pernyataan sejumlah Al-lkhwan, terutama 'Adnan Sa'duddin yang mengatakan dalam salah satu wawancaranya bahwa dia memandang para anggota partai Ba'ats Iraq - partai sayap kanan Aflaq - sebagai Muslim dan pimpinannya religius. Lebih dari itu, Sa'duddin menyatakan lebih dari sekali pendiriannya bahwa Saddam Hussein adalah Muslim dan rezimnya Islami! Lebih dari itu, Sa'duddin bahkan mengkritik para pemuda yang menggambarkan Saddam kafir dan meminta para pemuda ini bertaubat dari keyakinan semacam itu. Walaupun pernyataan-pernyataan ini memberikan pengakuan atas pendirian 'Adnan 'Uqlah, tidak diragukan lagi generalisasi yang dianutnya adalah ekstrim! [ats- Tsaurah al-lslamiyah al-Jihadiyah fi Suriya].

Di sini As-Suri mengkritik 'Adnan 'Uqlah karena menyatakan takfir atas Persaudaraan Suriah dengan bergabung ke dalam koalisi nasionalis yang bekerja untuk menegakkan negara sekuler demokratis! Maka setelah pembahasan ini, tidaklah mengherankan bila melihat para pengklaim jihad di Syam dan di mana pun berada di pihak faksi murtad Al-lkhwan dan Sururi melawan mujahidin Daulah Islam dengan dalih muhajirin dan anshar adalah khawarij! Atau dalam kata- kata terdahulu si pendusta sesat Abu Qatadah Al-Filisthini yang berkata benar saat membongkar kebodohan Al-lkhwan atas tauhid, lalu berkata, "Lalu, kebaikan apa yang bisa diharapkan dari partai Persaudaraan? Apakah bisa seseorang mengharap dari mereka sebuah kebangkitan apa saja terhadap jatuhnya bangunan besar Islam?!

Hal yang lebih aneh lagi ialah orang-orang yang percaya bahwa ideologi Hasan Al-Banna merupakan manhaj revivalis bagi umat Islam di era ini, sedangkan orang-orang ini mengklaim sebagai pengikut Salaf dan Salafiyah serta mengangkat slogan Ahlus Sunnah wal Jama'ah! Hal yang lebih aneh lagi ialah orang-orang yang mengklaim bermanhaj jihad sementara meyakini bahwa perbedaan antara partai Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok jihad ibarat perbedaan antara Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim! Atas dasar ini, orang-orang ini tidak pernah menyangkal dari kebersatuannya mereka dengan Al-lkhwan, bukan melawan orang-orang murtad, tapi melawan muwahhidin ... Sebaliknya, orang-orang ini dimanfaatkan sebagai puncak gunung oleh kelompok sesat Al-lkhwan untuk mengutuk [muwahhidin] dan menyebut mereka takfiri" [al-Jihad wal-ljtihad].

Bukankah ini yang menyebabkan Shahawat Azh-Zhawahiri yang murtad terjatuh ke dalamnya di setiap negeri?

Bara'ah dari Al-lkhwan

Syaikh Abu Muhammad AI-'Adnani hafizhahullah berkata, "Al-lkhwan tidak ada apa-apanya selain kelompok sekuler berjubah 'Islam, bahkan mereka adalah sejahat-jahat sekuleris. Mereka merupakan kelompok sekuler yang mengibadahi kursi dan parlemen. Mereka memperbolehkan diri mereka sendiri berjuang dan mati di atas jalan demokrasi, tetapi tidak membolehkan diri mereka sendiri mengobarkan jihad dan terbunuh di jalan Allah. Sesungguhnya juru bicara mereka berkoar dalam sebuah majelis yang dihadiri ratusan ribu orang, seraya berkata, 'Berhati-hatilah berbalik ke belakang. Matilah di atas jalan demokrasi.' Tidak diragukan lagi, mereka adalah kelompok yang mau bersujud kepada Iblis jika hal itu sebagai syarat untuk meraih kursi ... Kelompok Al-lkhwan... meninggalkan semua prinsip dasar iman. ..ketika mereka setuju untuk menisbatkan hak pembuatan hukum kepada yang lain selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, ketika mereka tanpa malu-malu berkoar, seraya berkata, 'Pembuatan hukum itu untuk rakyat.' Sesudah itu, mereka menambahkan, 'Kami merupakan perwakilan rakyat di parlemen.' Terdapat kontradiksi nyata pada ucapan dan perbuatan mereka terhadap 'aqidah para nabi serta tauhid Rabb langit dan bumi .. Kekafiran yang dilakukan kelompok Al-lkhwan dan menjadikan orang lain terjatuh ke dalamnya merupakan akibat dari ketaatan kepada orang-orang kafir Amerika dan Barat" [as-Silmiyah Diin Man?].

Beliau hafizhahullah juga berkata, "Tidak ada perbedaan antara Mubarak, Qadhdhafi, dan Ben Ali, serta Mursi, Musthafa 'Abdul Jalil, dan Rasyid Al-Ghannusyi, sebab mereka semua thaghut yang memerintah dengan hukum buatan manusia yang sama. Akan tetapi, kelompok yang disebut terakhir lebih berbahaya bagi Muslimin" [as-Silmiyah Diin Man?].

Seharusnya hal ini menjadi jelas bagi Muslimin di Barat, Timur, dan mereka yang hidup di negeri-negeri yang dirampas oleh orang-orang murtad. Yahudi, dan Nasrani, mengapa Persaudaraan adalah sebuah kelompok yang memiliki kemurtadan ekstrim serta mengapa dengan hal tersebut wajib bagi Muslimin menyatakan sikap takfir, bara'ah, kebencian, dan permusuhan kepada kelompok ini dan para anggotanya serta juga berbagai front, cabang, faksi, pusat "keislaman", dan masjid dhirar mereka[7]. Wajib atas setiap anggota kelompok tersebut untuk meninggalkannya dan melepaskan ajaran-ajaran kufurnya.

Demikian pula, wajib atas semua Muslim untuk melakukan hijrah ke Khilafah, karena merupakan satu-satunya wadah yang menghalangi Ikhwanul Murtaddin, tuan-tuan salibis Al- lkhwan, dan Rafidhah yang bersekutu dengan Al-lkhwan. Mereka semua berupaya untuk menghancurkan agama Islam dan menggantikannya dengan sebuah "Islam" yang dikaitkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana halnya orang-orang Nasrani dan agama Nasrani modern dikaitkan dengan tauhid yang dibawa oleh Nabi 'Isa 'alaihis salam.

Semoga Allah mengakhiri kelompok pagan murtad melalui jihad yang dilakukan Khilafah. Amin.

Catatan kaki :

[1] Kelompok murtad ini akan disebut di sepanjang artikel dengan "Al-lkhwan" atau "Persaudaraan".

[2] Lebih lanjut mengenai takfir atas Rafidhah, lihat Dabiq edisi 13, "Rafidhah: Dari Ibnu Saba' Hingga Dajjal." Irja' secara umum, sebagaimana pula pemahaman yang berlebihan terhadap kebodohan yang diudzur, juga dibantah di sejumlah artikel Dabiq. Lihat edisi 8, "Irja' - Bid'ah Paling Berbahaya," edisi 7, "Islam Adalah Agama Pedang," edisi 6, "Al-Qa'idah Azh-Zhawahiri ... dan Hilangnya Kebijaksanaan Yaman," dan edisi 10, "Hukum Allah atau Hukum-hukum Manusia."

[3] Sikap menyimpang dan lemah terhadap Rafidhah yang disebarkan oleh Abu Mush'ab As-Suri serupa dengan kepemimpinan Azh-Zhawahiri dan Taliban, sebagaimana dijelaskan dalam Dabiq edisi 6, "Al-Qa'idah Azh-Zhawahiri ... dan Hilangnya Kebijaksanaan Yaman,"

[4] Perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bid'ah yang dibuat oleh firqah Isma'iliyah dari negara 'Ubaidiyah, sesudah itu diwarisi oleh kelompok-kelompok Sufiyah ekstrim. Hanya saja, hal ini dipraktekkan kemudian oleh para pendiri Al-Ikhwan berpaham sufi.

[5] Adakalanya para anggota Al-lkhwan meninggalkan 'aqidah pimpinan Al-lkhwan dengan menjatuhkan takfir atas rezim-rezim yang berhukum dengan hukum buatan manusia, menyatakan permusuhan terhadap rezim-rezim semacam itu, dan mencela keikutsertaan di dalam pemerintahan sekuler. Sebagian anggota juga menyerukan jihad sebagai kewajiban atas setiap Muslim pada masa itu, terutama jihad melawan rezim-rezim murtad dan para penjajah kafir. Seruan-seruan ini ditolak oleh Al-lkhwan, sehingga para pengikut keyakinan ini meninggalkan partai atau menghadapi celaan, marjinalisasi, dan pengusiran jika individu- individu ini tidak menarik kembali keyakinannya.

[6] Tidak boleh membuat takfir atas seorang Muslim karena dosa-dosa seperti membunuh, berzina, dan meminum khamer. Masalah yang terjadi pada ucapan Al-Banna dan orang-orang yang mengikutinya ialah penerapan hukum atas amal-amal yang merupakan kufur akbar di dalam dan dari diri mereka sendiri, misalnya memperolok-olok agama, menyembah orang mati, berhukum dengan hukum buatan manusia, dan membantu kuffar melawan Muslimin. Pelaku yang semata melakukan perbuatan semacam itu tidak diragukan lagi telah murtad.

[7] Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang shalat di masjid-masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik. Keharaman ini bahkan lebih layak lagi diterapkan ketika masjid dibangun oleh orang- orang murtad ekstrim di mana para imamnya menyampaikan khutbah dan memimpin manusia dalam shalat! {Janganlah kamu shalat di dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih} [QS. At-Taubah: 108].

TADABBUR QS AN-NISA’ AYAT 66-68

DABIQ 14 – ARTIKEL

APAKAH MEREKA TIDAK MENTADABBURI AL-QUR’AN?
TADABBUR QS AN-NISA’ AYAT 66-68

{Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah diri kalian atau keluarlah kalian dari negeri kalian”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan apa yang diajarkan pada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.} [An-Nisa: 66-68]

Dalam bagian dari surat an-Nisa’ ini, setelah menampakkan hakikat orang-orang munafiq dan keinginan mereka untuk berhukum kepada Thaghut dan bukannya kepada kitab Allah dan Rasul-Nya, Allah menyatakan bahwa ia subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada mereka untuk membunuh diri mereka sendiri sebagai penebus dosa karena telah mengambil sekutu selain Allah dalam berhukum –sebagaimana Allah telah memerintahkan kepada umat Musa ‘alaihis salaam untuk saling membunuh sebagai penebus dosa karena telah mengambil sekutu selain Allah ketika mereka menyembah anak sapi – munafiqin tidak akan melakukan apa yang diperintahkan kecuali sebagian kecil dari mereka saja. Dalam tafsirnya mengenai firman Allah {Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari negerimu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka}, Imam at-Thabari rahimahullah menafsirkannya dengan mengatakan, “Dan seandainya jika Kami mewajibkan atas orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman terhadap apa yang telah diturunkan kepadamu – yaitu yang lebih memilih berhukum kepada thaghut – bahwa mereka harus membunuh diri mereka sendiri, dan telah diperintahkan kepada mereka untuk melakukan itu, atau bahwa mereka harus meninggalkan negri mereka, emigrasi dari negrinya, maka mereka tidak akan melakukan hal itu. Dia berkata: mereka tidak akan membunuh diri mereka dengan tangan mereka sendiri dan tidak pula akan berhijrah dari negri mereka, meninggalkan negri mereka menuju Allah dan Rasul-Nya sebagai bentuk kepatuhan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali sedikit diantara mereka.”

At-Thabari kemudian meriwayatkan bahwa Mujahid –salah satu mufassir terkemuka di zaman Tabi’in– mengatakan bahwa seandainya mereka diperintahkan untuk membunuh diri mereka sendiri “sebagaimana yang diperintahkan kepada para sahabat Musa untuk saling membunuh menggunakan belati, mereka tidak akan melakukannya kecuali hanya sedikit diantara mereka.”*

*Ini merujuk kepada firman Allah, {Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: ”Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak sapi (sembahanmu) maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menciptakan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menciptakan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dia maha menerima taubat lagi maha penyayang” [Al-Baqarah: 54]. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Musa ‘alaihis salam menyampaikan perintah Allah kepada umatnya bahwa mereka harus membunuh diri mereka sendiri, sehingga bagi mereka yang menyembah anak sapi diperintahkan untuk duduk, dan bagi mereka yang tidak menyembah anak sapi masing-masing diperintahkan mengambil belati. Kegelapan yang pekat kemudian menyelimuti mereka dan mereka mulai membunuh satu sama lain. Kegelapan itu pun perlahan hilang dan mereka menemukan bahwa 70,000 orang telah terbunuh. Siapapun dari mereka yang terbunuh mendapatkan ampunan, dan siapapun dari mereka yang tersisa juga mendapatkan ampunan. [At-Thabari]

At-Thabari juga meriwayatkan bahwa as-Suddiy – mufassir terkemuka lainnya dari kalangan Tabi’in – mengatakan, “Tsabit Ibn Qais Ibn Syammas rahimahullah dan seorang dari kalangan yahudi terlibat perdebatan [satu sama lain]. Orang yahudi itu mengatakan, ‘demi Allah, sesungguhnya Allah menurunkan perintah kepada kami dengan berfirman, ‘bunuhlah dirimu,’, ‘maka kami membunuh diri kami sendiri!’ kemudian Tsabit berkata, ‘demi Allah, apabila perintah ‘bunuhlah dirimu’ diturunkan atas kami, maka kami akan membunuh diri kami sendiri!’” menurut atsar lainnya yang disebutkan oleh At-Thabari, ketika berita mengenai pembicaraan itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “sesungguhnya, dari umatku terdapat orang-orang dengan iman yang tertanam di dalam hati mereka lebih kuat daripada gunung gunung yang akar dalam.”

Hikmah-hikmah yang terkandung dalam ayat ini sangatlah bernilai tinggi. Pada ayat ini terkandung perbandingan yang halus antara syirik dalam berhukum (kepada thaghut), yang mana pada hari ini sudah tersebar luas diantara mereka yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan syirik dalam beribadah yang mana telah menyebar luas diantara mereka yang mengaku menjadi pengikut Nabi Musa ‘alaihis salaam ketika mereka tiba-tiba menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas. Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan kepada muslimin bahwa menyerahkan hukum kepada thawaghit tidaklah lebih ringan kemusyrikannya jika dibandingkan dengan menyembah berhala; dengan demikian maka tidak ada perbedaan antara partai-partai “Islami” pro-demokrasi yang menyerahkan hak pembuatan undang-undang kepada puluhan atau ratusan pejabat terpilih (legislator) dengan Hindu pagan yang secara jelas menyembah berhala-berhala yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun demikian, berkat belas kasih Allah subhanahu wa ta’ala, Dia tidak membebankan terhadap umat ini suatu cara penebusan dosa yang berat ketika berbuat syirik sebagaimana yang Dia lakukan terhadap Bani Isra’il, namun Dia hanya mensyaratkan kepada mereka yang jatuh kepada kesyirikan agar meninggalkan perbuatan syirik yang telah mereka perbuat dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Selanjutnya, dengan menyatakan bahwa hanya sebagian kecil dari munafiqin yang akan patuh kepada-Nya seandainya Dia memerintahkan mereka untuk membunuh diri mereka sendiri atau untuk melakukan hijrah, Allah menampakkan hakikat dari orang-orang munafiq yang manis di mulutnya saja dalam agamanya tanpa benar-benar melakukan ketaatan kepada Tuhannya. Dengan demikian, jika mereka dihadapkan dengan perintah yang dengan tingkat kesulitan yang tinggi dan pengorbanan yang besar, mereka tentu akan mencari-cari alasan untuk diri mereka sendiri daripadaa mentaati perintah yang jelas itu. Hal ini memperkuat poin bahwa hamba Allah yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak mempertanyakan hikmah dari perintah-Nya dan juga tidak ragu-ragu dalam melaksanakannya, terlepas dari betapa sulitnya perintah tersebut. Perlu dicatat bahwa banyak dari mereka yang mengaku mengikuti Allah dan Rasul-Nya menemukan kesulitan dalam beramal –baik itu Hijrah atau lainnya– dengan memurnikan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengklaim bahwa mereka harus mengetahui hikmah terkait suatu amalan –dan tidaklah ada keraguan adanya hikmah atas setiap ketetapan Allah– namun jika mereka tidak dapat melihat hikmah tersebut, atau jika mereka percaya bahwa hikmah tersebut sudah tidak lagi cocok dengan jaman modern atau dengan masyarakat mereka, maka mereka mengabaikan amalan tersebut, melemahkan dan mengolok-olok mereka yang melakukan amalan tersebut, dan bahkan mengumumkan perang terhadap kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, dan setelah semua itu mereka masih mengaku sebagai muslim!

Mereka yang melakukan hal ini terdiri dari berbagai tingkatan. Ada diantara mereka yang melakukan hal ini dengan terang-terangan dan tidak malu ketika mengumumkan bahwa Syari’ah itu “biadab”, atau tidak dapat diterapkan di masa kita, dan ada diantara mereka yang lebih samar, termasuk orang-orang yang memilih tetap tinggal di negara-negara kafir, menolak untuk berhijrah dan membuat berbagai macam alasan dalam rangka menghindari kewajiban yang mulia itu. Hal ini, bagaimanapun juga tidaklah mengejutkan ketika seseorang menganggap bahwa pengorbanan dan kesulitan yang diperlukan dalam berhijrah sangatlah besar sehingga Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya pada ayat diatas berdampingan dengan perintah untuk membunuh diri sendiri! Bahkan para Nabi pun tidaklah bebas dari kesulitan yang terjadi dalam berHijrah, termasuk manusia terbaik shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berHijrah ke kota yang didalamnya terdapat populasi beberapa yahudi pengkhianat dan munafiqin serta dikelilingi oleh suku-suku badui yang bermusuhan setelah sebelumnya meninggalkan perlindungan dari suku nya sendiri dan keluarganya, menghadapi percobaan pembunuhan, dan mencari perlindungan di gua selama beberapa hari. berhijrah sering kali menjadi ujian yang serius terhadap keimanan dan tawakkal seseorang, dan dengan demikian, seorang mukmin ketika berhijrah membutuhkan persiapan diri dengan memastikan bahwa dia siap untuk melaksanakan perintah Allah yang sebenarnya merupakah sebuah perintah yang sederhana, bahkan meskipun ia tidak memahami hikmah keseluruhan dibaliknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {Boleh jadi kamu membenci sesuatu , padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.} [al-Baqarah:216].

Juga, seseorang dapat mengambil dari riwayat Tsabit Ibn Qoys tersebut diatas bahwa seorang mukmin harus menunjukkan kepercayaan diri dalam kesediaanya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam keadaan yang paling sulit sekalipun dan tidak ragu-ragu akan dirinya sendiri, bahkan jika menghadapi skenario yang paling buruk sekalipun. Dengan melakukan hal itu bukan berarti merupakanTazkiyat an-Nafs (membanggakan diri sendiri) jika diiringi dengan niat yang benar, selama yang dilakukannya bertujuan untuk menunjukkan kehormatan dan kekuatannya didepan orang-orang kafir, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tsabit rahimahullah di depan seorang yahudi, atau bertujuan untuk menyemangati diri sendiri akan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan hal tersebut memiliki makna yang lebih besar, seperti ayat yang disebutkan sebelumnya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersamadengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah.} [An-Nisa:69], dan pada ayat sebelum ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, {dan kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.} [An-Nisa’ :64]. Dengan demikian, orang mukmim harus sadar akan tingkatan ketaatannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan menyemangati dirinya dalam hal ini.
   
Mengenai firman Allah, {dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).} [An-Nisa:66], at-Thabari mengatakan bahwa as-Suddi menjelaskan “kedudukan yang lebih teguh” berarti “tasdiq (keyakinan terhadap kebenaran) yang lebih kuat.” Hal ini sangatlah sesuai, karena sesungguhnya seseorang dapat menguatkan keyakinannya terhadap kebenaran Islam dengan kata-katanya, tetapi jika ini tidak didukung dengan amalan mulia, seperti hijrah, maka itu hanyalah omong kosong, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya mengenai orang munafiq. Allah mengajari kita bahwa dengan melakukan amalan yang telah diperintahkan untuk mengerjakannya – terutama amalan -amalan yang sulit dan memerlukan tingkat ketaatan dan pengorbanan lebih – seorang muslim harus mengerahkan lebih dari kekuatannya untuk membuktikan pengakuannya sebagai seorang mukmin. Sebagai hasilnya, Allah mengkaruniakan kepadanya dua pertolongan yang besar, sebagaimana yang telah disebutkan di dua ayat yang berikutnya: {dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.} [An-Nisa’: 67-68].

Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara orang-orang yang tidak enggan melakukan amalan-amalan yang sulit yang akan memberikan kita petunjuk dan ketaatan dalam menuju jalan yang lurus di dunia yang diikuti dengan pahala yang besar di akhirat nanti.

BUNUHLAH PARA IMAM KEKAFIRAN DI BARAT

DABIQ 14 - ARTIKEL

BUNUHLAH PARA IMAM KEKAFIRAN DI BARAT

Berbeda dengan syubhat yang menyebar luas, riddah (kemurtadan) tidak semata mengandung arti orang yang sebelumnya mengaku dirinya seorang Muslim berubah dengan mengaku dirinya seorang Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, atau lainnya. Hakikatnya hanya terdapat dua agama. Ada agama Allah, yaitu Islam, dan ada agama selainnya, yaitu kufur.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam} [QS. Ali 'Imran: 19], dan Dia berfirman, {Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi} [QS. Ali 'Imran: 85].

Jadi, selain Islam bukanlah agama menurut Allah dan tidak akan pernah diterima. Sebaliknya, ia adalah agama orang-orang yang merugi di akhirat, yakni kekafiran, sebagaimana Allah nyatakan mengenai orang-orang kafir, {Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang yang merugi} [QS. An-Nahl: 109].

Oleh sebab itu, barangsiapa yang terjatuh ke dalam kekafiran maka dia telah meninggalkan Islam, walaupun dia mengaku seorang Muslim.

Ibnu Hazm berkata, "Tidak ada agama selain Islam atau kekafiran. Barangsiapa yang meninggalkan salah satunya akan memasuki yang lainnya, sebab tidak ada sesuatu di antara keduanya" [al-Fishal].

Orang yang menyebut dirinya "Muslim" tetapi melakukan kekafiran nyata (kufrun bawwah) yang tidak bisa di udzur bukanlah seorang munafik, sebagaimana sebagian orang menyebutnya secara salah. Akan tetapi, dia seorang murtad. Perbedaan antara nifak (kemunafikan) dan riddah ialah bahwasanya seorang munafik menyembunyikan kekafirannya dan secara terbuka menampakkan keislaman, yaitu dengan cepat bertaubat jika kedoknya terungkap. Di sisi lain, orang murtad melakukan kekafiran secara terang-terangan setelah mengaku beragama Islam.

Hukum Riddah

Hukum atas seseorang yang melakukan riddah ialah dibunuh, kecuali dia bertaubat sebelum ditawan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu'adz ibnu Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman untuk membantu Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu ‘anhu dalam menghukumi manusia menurut syari'at Islam. Ketika tiba di mahkamah peradilan, dia menemukan seorang pria diikat dengan rantai. Dia menanyai Abu Musa, "Siapa orang ini?" Dia menjawab, "Dia seorang Yahudi yang masuk Islam lalu kembali menjadi Yahudi. Duduk." Mu'adz berkata, "Aku tidak akan duduk hingga dia dibunuh. Itu adalah keputusan Allah dan Rasul-Nya! Itu adalah keputusan Allah dan Rasul-Nya! Itu adalah keputusan Allah dan Rasul-Nya!" Maka Abu Musa memberi perintah dan dia dibunuh [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Pernyataannya yang diulang, yaitu "itu adalah keputusan Allah dan Rasul-Nya," adalah dalil jelas bahwa hukuman atas orang yang meninggalkan Islam setelah ditawan ialah dibunuh.

Adapun bertaubat sebelum ditangkap, maka Allah berfirman, {Katakanlah, "Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong"} [QS. Az-Zumar: 53-54].

Selain itu dan khususnya bagi orang yang murtad, Allah berfirman, {Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zhalim. Mereka itu, balasannya ialah bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, juga laknat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak pula mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang} [QS. Ali 'Imran: 86-89].

Maka seharusnya bukan merupakan hal yang aneh bila Amirul Mu'minin Abu Bakar Al-Baghdadi hafizhahullah mengumumkan bahwa orang-orang murtad mana saja dari Shahawat atau selainnya yang bertaubat kepada Allah dan menyerahkan dirinya kepada Daulah Islam akan mendapatkan ampunan, walaupun mereka telah membunuh jutaan mujahidin. Akan tetapi, mereka yang ditangkap sebelum bertaubat, maka tidak ada pengampunan atas mereka dan bagi mereka hukuman yang sangat pedih - dan fatal.

Contoh Sejarah (Dalam Sirah Nabi)

Selama kehidupan dan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, perkara riddah muncul dalam beberapa peristiwa. Kasus yang sangat terkenal ialah mengenai orang-orang murtad 'Ukli-'Urani. Beberapa lelaki dari suku 'Ukl dan 'Urainah datang ke Madinah, masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menyatakan keislaman mereka. Kemudian mereka berkata kepada beliau, "Ya Nabi Allah! Kami adalah ahli peternakan, bukan ahli pertanian," seraya mengeluhkan penyakit yang mereka derita di Madinah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memesan untuk mereka sejumlah unta dan seorang penggembala. Beliau pun menyuruh mereka meninggalkan perbatasan kota untuk meminum susu dan air kencing unta (karena ia berkhasiat obat). Mereka pergi. Akan tetapi, ketika sampai ke tepi harrah (padang pasir bebatuan), mereka murtad setelah Islam, membunuh penggembala Nabi, dan pergi membawa unta-unta itu. Peristiwa tersebut sampai ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau mengutus para pelacak untuk mencari mereka. Setelah mereka ditemukan, beliau memerintahkan agar mata mereka dicongkel dengan paku besi, tangan dan kaki mereka dipotong, dan mereka dibiarkan di atas harrah meminta air yang tidak diberikan hingga mereka mati dalam keadaan demikian [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas ibnu Malik].

Kasus lainnya pada masa penuh rahmat ialah perkara Ibnu Khatal. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Makkah selama penaklukannya, seorang pria datang kepada beliau dan memberitahu bahwa Ibnu Khatal bergelantungan di atas tirai yang menutupi Ka'bah (isyarat melambangkan dia meminta pengampunan dari kaum Muslim dengan memalingkan penghormatan mereka pada Baitul Haram), maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, "Bunuh dia" [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas ibnu Malik].

Berkenaan dengan Fathu Makkah, Ibnu Hazm menulis, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi jaminan kepada penduduk (Makkah) selain untuk 'Abdul 'Uzza ibnu Khatal, 'Abdullah ibnu Sa'd ibnu Abi Sarh, [dan beberapa orang lagi]. Adapun untuk Ibnu Khatal - dan dia berasal dari suku Taim Al-Adram ibnu Ghalib (dari Quraisy); dia menyatakan keislamannya dan dikirim oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seorang lelaki lainnya untuk mengumpulkan zakat; dia membunuh lelaki tersebut dan melakukan riddah, yakni bergabung dengan musyrikin - lalu dia ditemukan pada waktu Fathu Makkah bergelantungan pada tirai penutup Ka'bah, maka Sa'id ibnu Huraits Al-Makhzumi dan Abu Barzah Al-Aslami membunuhnya [berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam]. Adapun untuk 'Abdullah ibnu Sa'd ibnu Abi Sarh [Al-Qurasyi], maka sebelumnya dia adalah penulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam [setelah masuk Islam], namun kemudian lari kembali ke Makkah dan bersembunyi [murtad]. 'Utsman ibnu 'Affan, saudara sepersusuannya, membawanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta jaminan untuknya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diam beberapa lama, kemudian memberikan jaminan kepadanya dan menerima bai'atnya. Ketika dia pergi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat beliau, 'Kalau saja salah seorang dari kalian bangkit dan memukul lehernya' [yaitu selama masa diam beliau]? Maka salah seorang Anshar berkata, 'Mengapa engkau tidak memberi isyarat (dengan mata) kepada salah seorang dari kami untuk melakukannya?' Beliau menjawab, 'Tidak ada bagi seorang nabi untuk memperdayai dengan matanya'" [Jawami' as-Sirah].

Maka di sini anda melihat Ibnu Khatal tidak diberi rukhshah atas kejahatannya karena murtad, meskipun dia mencari perlindungan di tempat yang paling disucikan di muka bumi. Demikian pula, kasus Ibnu Abi Sarh menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghendaki dia dieksekusi, yaitu ketika beliau tetap diam berharap salah seorang sahabat memukul lehernya; dan beliau hanya memberi rukhshah ketika tiada seorang pun dari mereka melakukannya. Terdapat beberapa contoh lainnya perihal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membunuh murtaddin, seperti Miqyas ibnu Subabah. Jadi, hukum demikian jelas ditetapkan di dalam Sunnah.

Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, penduduk Arab dari berbagai kabilah terjatuh ke dalam kemurtadan. Persoalan utamanya bukanlah karena mereka kembali menyembah berhala, tidak pula mereka tidak mau shalat. Kenyataannya, kebanyakan dari mereka tetap mengaku dirinya "Muslim" dan menegakkan sebagian besar aspek syari'at Islam. Akan tetapi, mereka mempertahankan diri dengan kekuatan terhadap satu bagian dari Islam, yakni zakat yang termasuk rukun Islam. Dengan demikian, mereka beriman pada sebagian Al-Kitab dan mengingkari sebagiannya. Allah berfirman, {Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan mengingkari sebahagian yang lainnya? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Dan Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat} [QS. Al-Baqarah: 85].

Ketika orang-orang Arab ini bersumpah untuk tidak membayar zakat, khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bersumpah untuk memerangi mereka. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, "Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Abu Bakar diangkat sebagai khalifah beliau dan sebagian penduduk Arab kafir. 'Umar berkata kepada Abu Bakar, 'Bagaimana bisa engkau memerangi manusia sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan, 'La Ilaha Illallah;' dan barangsiapa mengucapkan, 'La Ilaha Illallah' terjagalah harta dan jiwanya dariku, kecuali dengan hak, dan perhitungannya diserahkan kepada Allah.'' Abu Bakar menjawab, 'Demi Allah, aku akan memerangi siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat, sebab zakat adalah hak atas harta. Demi Allah, seandainya mereka menahan seekor 'anaq [kambing betina berumur kurang dari setahun] dariku yang biasanya mereka gunakan untuk menyerahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku akan memerangi mereka karena hal itu.' 'Umar berkata, 'Demi Allah, aku melihat bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk perang, maka aku mengetahui bahwa hal itu adalah benar" [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Kelompok murtad lainnya di antara orang-orang Arab, meskipun tetap mengaku menerima kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyatakan bahwa ada nabi setelah beliau, seperti Musailamah, Sajah, dan Tulaihah; jadi, walaupun mereka mengaku sebagai "Muslim" dan menerima sebagian besar wahyu dari Allah dan Rasul-Nya, darah mereka halal dan membunuh mereka wajib. Dengan begitu, Harbu ar-Riddah (Perang Menghadapi Orang-Orang Murtad) diberlakukan dan bahkan lebih didahulukan perang atas musyrikin Romawi dan Persia.

Diketahui pula bahwa kufur murtad lebih buruk, menurut ijma', daripada kufur asli. Oleh karena itu, memerangi orang-orang murtad lebih didahulukan daripada memerangi kafir asli. Khulafa'ur Rasyidin lainnya tidak kurang keras hukumannya atas murtaddin. 'Ikrimah meriwayatkan bahwa 'Ali ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu membakar (hingga mati) beberapa orang yang murtad dari Islam. Peristiwa ini sampai kepada Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhuuma yang berkata, "Jika aku, maka aku akan membunuh mereka dengan sebab sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, 'Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah,' namun aku tidak akan membakar mereka dengan sebab sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, 'Jangan menghukum dengan hukuman Allah’." [HR. Al-Bukhari].

Diriwayatkan pula bahwa Al-Mustaurid ibnu Oabishah meninggalkan Islam menjadi seorang Nasrani, lalu dia dibawa menghadap 'Ali ibnu Abi Thalib yang berkata kepadanya, "Apa ini ketika aku diberitahu tentang kamu?" Dia berkata, "Apa yang diberitahukan kepadamu tentang aku?" 'Ali menjawab, "Aku diberitahu bahwa kamu telah menjadi seorang Nasrani." Al-Mustaurid berkata, "Aku berada di atas agama Al-Masih," maka 'Ali berkata, "Dan aku pun berada di atas agama Al-Masih. Bagaimana pendapatmu mengenai dia?" Al-Mustaurid berkata, "Al-Masih adalah Rabb." Maka 'Ali memerintahkan kepada mereka yang hadir menginjak- injaknya. Mereka pun menginjaknya hingga mati [HR. Ad-Daruquthni].

Seorang pria lain, yaitu seorang Nasrani yang menerima Islam lalu murtad dibawa menghadap 'Ali ibnu Abi Thalib. 'Ali lalu memerintahkan agar leher si murtad tersebut dipenggal [HR. 'Abdurrazzaq Ash-Shan'ani].

Hukuman mati bagi orang-orang murtad tidak berakhir pada masa khalifah dari generasi sahabat. Ingatlah Al-Husain ibnu Manshur, terkenal dengan sebutan Al-Hallaj, yang mengambil kesesatan ekstrim yang membawa pada pernyataan akan ketuhanannya. Pada 309 H, Khalifah 'Abbasiyah Al-Muqtadir memerintahkan agar dia ditangkap, dipenjara, dipukul, disiksa, dipotong anggota badannya, dan dipenggal. Tubuhnya dibakar hingga menjadi abu, kemudian dibuang ke Sungai Dijlah, dan kepalanya dipertontonkan di Jembatan Baghdad agar semua orang dapat melihatnya.

Pada 406 H, ulama Asy'ariyah Ibnu Furak menemui ajalnya karena menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti menjadi seorang rasul pada saat kematiannya, lalu ruhnya menjadi hampa dan lenyap; dengan demikian meniadakan separuh syahadat. Mungkin untuk menghindari huru-hara publik dengan meningkatnya massa yang bodoh yang tidak memahami kedalaman dari kesesatan Ibnu Furak, sang amir Mahmud ibnu Subuktikin meracuninya hingga mati saat dia bepergian dari Ghaznah untuk kembali ke kediamannya di Naisabur. Dengan menyebut orang-orang yang menyangkal status kekekalan risalah Nabi, Ibnu Hazm berkata, "Mengenai perkara ini, sang amir Mahmud ibnu Subuktikin, maula Amirul Mu'minin dan pemimpin Khurasan rahimahullah, membunuh Ibnu Furak, syaikh Asy'ariyah. Semoga Allah dengan kemurahannya membalas Mahmud atas hal itu dan semoga Dia melaknat Ibnu Furak serta para pendukung dan pengikutnya" [al-Fishal].

Semenjak kejatuhan Khilafah ratusan tahun lalu syari'at Islam tidak lagi diterapkan secara kaffah. Aspek-aspek kekafiran menjalar ke negeri-negeri Muslim lewat jalan infiltrasi Sufi dan Rafidhah. Peribadatan kepada kuburan tersebar luas dan otoritas Allah ditentang oleh orang-orang Turki, Persia, dan bahkan raja-raja Arab. Orang-orang penganut sufi, semacam Ibnu 'Arabi yang secara panteistik mengklaim bahwa Allah adalah segala sesuatu dan segala sesuatu adalah Allah serta Ibnu Sab'in yang mengkritisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena mengatakan, "Tidak ada nabi sesudah aku" [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah], dibiarkan tidak tersentuh oleh para penguasa negeri-negeri Muslim. Sementara itu, para ulama Islam yang ikhlas -seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Burhan[2]- dipenjara karena membela agama. Bahkan kemudian, mereka yang menyerukan kembali secara kaffah ke hukum Islam dan aqidah yang murni dilabeli "Khawarij" dan diperangi oleh apa yang disebut dengan para pemimpin "Muslim." Dengan demikian, hukum riddah ditinggal dan tidak diterapkan terhadap banyak kasus hingga bangkitnya kembali Khilafah dengan rahmat Allah, lalu melalui usaha-usaha yang dilakukan Daulah Islam.

Murtaddin di Barat

Ketika digerakkan oleh aqidah yang shahih, dan tentu saja dengan Allah sebagai satu-satunya wali dan pelindung mereka, umat Islam meraih prestasi yang tidak pernah terimpikan oleh bangsa lain. Semasa wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kabilah-kabilah Arab yang hampir seluruhnya bersatu beserta semua jejak penyembahan berhala di kawasan tersebut nyaris sepenuhnya terhapuskan, sebuah fenomena yang tidak diketahui para sejarawan pada masa itu.

Dalam beberapa dekade, beberapa ribu penggembala, petani kurma, dan musafir pedagang yang miskin dan kurang gizi -generasi paling baik, paling luas ilmunya, dan paling shalih dari umat ini- mengarungi kekaisaran Romawi dan Persia untuk menjadi penguasa besar atas berbagai negeri dan manusia, mulai dari Jazirah Iberia hingga Pegunungan Himalaya. Kekuatan penggeraknya bukanlah harta; tidak juga pembentukan kekuatan perorangan atau suku; itu tidak ada hubungannya dengan dunia yang mesti ditaklukkan. Sebaliknya, akhiratlah - kehidupan yang belum ditempati -yang mendorong Muslimin hingga batas kemampuan mereka untuk meraih keridhaan Rabb mereka. Sang Pencipta dan Rabb semesta alam; karena kehidupan dunia ini, bahkan pada pucak kemegahan dan kenyamanannya sekalipun, akan selalu menjadi penjaranya orang-orang yang beriman.

Sementara di saat para salibis telah menjadi musuh paling nyata bagi Muslimin selama ribuan tahun terakhir, janganlah lupa musuh asli Islam dan umatnya. Syaitan, melalui kelicikan dan pengalamannya dengan kekafiran, senantiasa berusaha untuk menginfiltrasi umat Islam. Lewat bisikan dan godaan, dia mendukung Murji'ah, Qadariyah, Rafidhah, dan Sufiyah. Ingatlah bahwa Iblislah yang bahkan setelah kejatuhannya mengakui Allah adalah Penciptanya, Rabbnya, dan Dzat yang memperpanjang hidup dan menunda kematian. Dia bahkan mempercayai Hari Kebangkitan, kekuasaan Allah, dan kewajiban untuk mengibadahi-Nya saja; dan dia tidak pernah menyebut dirinya seorang Yahudi atau Nasrani. Allah menggambarkan Iblis tatkala berkata, {"Engkau telah menciptakan aku dari api dan menciptakan dia dari tanah"} [QS. Al-A'raaf: 12], dan, {Dia berkata, "Ya Rabbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan"} [QS. Shaad: 79], dan, {Dia berkata, "Maka demi kekuasaanmu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka"} [QS. Shaad: 82-83].

Meskipun mengakui semua ini, dia dikafirkan ketika menolak satu perintah Rabbnya. Begitu pintarnya untuk menyesatkan kaum Muslim, dia tidak perlu membuat mereka mengubah nama mereka sendiri atau menolak agama secara keseluruhan -satu hukum sudah cukup- dan hanya hamba-hamba yang mukhlis di antara mereka, yaitu yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, yang akan selamat.

Karena bersekutu dengan Syaitan, bangsa-bangsa salib pun telah mempelajari muslihat ini. Dan mereka tidak menemukan jalan yang paling baik selain lewat infiltrasi ke dalam umat Islam, yakni dengan memperalat orang-orang munafik dan murtad untuk mengambil keuntungan dari mereka. Mereka memanfaatkan orang-orang ini guna menghadapi Muslimin sebenarnya untuk mengubah keimanan dan tujuan mereka untuk akhirat. Dengan membuat Muslimin jatuh ke dalam kufur, bahkan dengan menolak satu firman Allah, mereka telah menjamin bahwa para mantan Muslim ini meninggalkan perwalian kepada Rabb mereka dan tersandung ke dalam barisan Syaitan beserta balatentaranya. Dengan begitu, umat Islam melemah dan musuh-musuhnya akan semakin kuat.

Pada akhir abad yang lalu kita melihat sebuah gelombang imigrasi dari negeri-negeri yang secara sejarah mayoritas Muslim ke negara-negara mayoritas musyrik, terutama Barat. Bukannya mencari keridhaan Allah dengan mengobarkan jihad defensif di negeri-negeri mereka sendiri melawan musuh-musuh murtad terdekat, para imigran mencari kenyamanan di kehidupan dunia ini dengan bermukim penuh kedamaian di negeri-negeri musuh tertua Islam. Akibat dari kelalaian mereka terhadap kewajiban dan ekspos mereka terhadap kafir Barat, identitas mereka berubah. Anak-anak mereka mempelajari nilai-nilai dan keyakinan negeri mereka yang baru. Kekafiran liberalisme dan demokrasi ditanamkan dan sebuah generasi baru "ulama" lahir. Mereka menjadi bagian terbesar dari para imam kafir Barat itu sendiri.

Dengan disuapi perpecahan umat Islam yang telah berabad-abad usianya, para imam beracun ini mempertahankan keterpecahan mereka dari Islam sementara bersatu dengan kepentingan Barat. Mereka diketahui suka menyemprotkan slogan-slogan Sufi dan "Salafi", menyerukan kepada madzhab dan "ulama" mereka, namun menafsirkan ulang apa pun yang dikatakan para ulama hingga sekalipun sesuatu yang sudah diakui mengenai konsep tauhid, jihad, wala', dan bara' agar sesuai dengan ideologi Barat. Meskipun kekafiran mereka sangat terang bagi orang- orang yang menyadarinya tahunan silam, mereka justru menjadi lebih bersemangat dan secara blak-blakan menjadi pembela para salibis setelah Khilafah berdiri kembali. Mereka bersatu dengan sekutu-sekutu salibis dalam perang global melawan Daulah Islam, satu-satunya kubu syari'at Islam yang benar di muka bumi.

Adapun sufi yang disebut "mainstream" dan barangkali puncak dari kemurtadan menurut Islam Amerikanis ialah Hamza Yusuf. Dengan memanfaatkan namanya sebagai seorang veteran pencari ilmu yang melakukan perjalanan ke Afrika Barat dan Timur Tengah, belajar di bawah bimbingan beragam guru sufi yang taqlid, dia telah membentuk dirinya sebagai seorang pengikut. Kepalanya dipenuhi berbagai opini yang didasarkan pada penafsiran setengah benar dan salah, juga menggunakan bahasa semantik yang lebih mirip dengan sihir melalui "kefasihan" kata yang bertele-tele daripada pendidikan tradisional (sebagaimana yang dikatakannya untuk mendukung opininya) yang sebenarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya dari kefasihan lisan ada sihir" [HR. Al-Bukhari dari Ibnu 'Umar dan Muslim dari 'Ammar ibnu Yasirj, yaitu seorang orator mungkin saja terdengar cerdas ketika secara nyata justru menyesatkan manusia dengan menggunakan kata-kata yang indah.

Dengan memuji konstitusi Amerika Serikat dan perlindungannya atas "kebebasan," Hamza Yusuf baru-baru ini berkata, "Aku percaya dengan eksepsionalisme [paham keluarbiasaan] Amerika," yang sebenarnya didasarkan pada konsep bahwasanya AS merupakan bangsa yang superior dan harus memimpin dunia dengan keteladanannya. Tidak heran bila kemudian dia diundang ke Gedung Putih setelah serangan 11 September, menjadi seorang penasihat bagi Bush dalam perang melawan kaum Muslim.

Maka dia sendiri menjadi salibis. Allah Subhanahu wa Ta'la berfirman, {Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali; sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai wali, maka dia termasuk golongan mereka} [QS. AI-Maa-idah: 51]. Ath-Thabari mengomentari ayat ini dengan berkata, "Artinya bahwa barangsiapa yang bersekutu dengan Yahudi dan Nasrani dan meninggalkan orang-orang mu'min, maka dia termasuk salah seorang dari mereka. Jadi, barangsiapa yang bersekutu dan menolong mereka melawan orang-orang mu'min, dia sebenarnya berasal dari agama dan golongan mereka" [at-Tafsir].

Barangkali di bagian lain dari spektrum "mainstream Sufi", ada pelawak dari Al-Azhar, Suhaib Webb-juga dipanggil "Imam Will" -yang menghabiskan karirnya untuk mencari nama dan membodohi dirinya sendiri sebagai imam semua orang Amerika. Ketika menghadapi banyak kaum muda, dia menggunakan aksen bagian tertua dari sebuah kota di selatan Amerika, ditaburi dengan kosa kata kehidupan preman dan referensi budaya pop terbaru. Akan tetapi, ketika berbicara dengan CNN dan media lainnya, dengan cepat dia beralih ke suara normal. Dalam pengertian umum dia adalah badut. Secara mengejutkan, dia mengumpulkan pengikut dan dipandang oleh banyak pendukung salibis sebagai alat penting untuk menjinakkan pemuda Muslim di Barat.

Merespon harapan dari thaghut Barack Obama kepada kaum Muslim bulan Ramadhan yang penuh berkah, Suhaib Webb men-tweet, "Obama membuatku bangga. Terima kasih. Tuan Presiden." Apakah sang "imam" ini benar-benar merasa tersanjung melalui pemimpinnya yang kafir? Apakah dia tidak mengetahui bahwasanya Allah berfirman, {Kabarkanlah kepada orang- orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih; orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan kepunyaan Allah} [QS. An-Nisaa': 138-139]? Berdasarkan hal ini dan juga pujiannya atas Konstitusi AS yang sekuler serta tidak menentang pernikahan sejenis, mudah sekali untuk memahami bahwa dia tidak lain hanyalah seorang imam kufur yang murtad.

Sufi Suriah dan sekutu Inggris, Muhammad AI-Yaqoubi, berkata dalam sebuah wawancara, "Tidak ada satu pun pemerintahan Islam yang berperang dengan Inggris; semua memiliki hubungan diplomatik." Dia menganggap bahwa negara-negara anggota PBB yang rezim mereka murtad sebagai "Islami," sekalipun mereka ditempa dengan hukum-hukum yang dilandasi kekafiran dan mendukung para salibis melawan kaum Muslim. Dia melanjutkan, "Oleh karena itu, setiap serangan atas warga atau kepentingan Inggris akan dipandang tidak Islami dan tidak sah di dalam syari'at Islam." Jadi, setiap serangan melawan kepentingan pemerintahan thaghut - dan kepentingan apa yang lebih besar daripada menyebarkan kekafiran mereka - adalah tidak Islami dan tidak sah menurut AI-Yaqoubi. Dia mendahului kata-kata ini dengan ucapan, "Animosity (kebencian dan permusuhan) terhadap suatu negara tidak bisa dinyatakan oleh individu atau kelompok." Animosity yang asalnya bermakna permusuhan ('adawah) dan benci (baghdha') merupakan dasar bagi kebijakan seorang Muslim terhadap semua orang kafir. Allah berfirman, {Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang- orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama- lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja} [QS. Al-Mumtahanah: 4]. Ibrahim dan orang- orang yang bersama dengannya, yakni seorang individu dan kelompoknya, menyatakan kebencian dan permusuhan mereka, yakni animosity, kepada kaum mereka, yang terdiri dari para pengurus pemerintahan bagi komunitas mereka, yakni negara. Ini adalah suatu teladan yang baik bagi kaum Muslim, bukan tipu daya AI-Yaqoubi.

Tidak berbeda dengan pemimpin sufi lainnya di Barat, jika tidak lebih buruk dalam beberapa hal; seperti Hisham Kabbani, pendiri sekte Sufi Amerika Naqsyabandi-Haqqani. Dia membawa ajaran mendiang tuannya Nazim Al-Haqqani, seorang Jahmiyah Murji'ah yang ekstrim. Artinya dia tidak mengenal kufur yang sebenarnya ataupun bara'ah dari kuffar. Sebaliknya, dia dan kaki-tangannya bersegera untuk bersekutu dengan thaghut mana pun yang memperbolehkan mereka menyebarkan pesan dan mengambil kekayaan orang-orang bodoh untuk membayar kemubaziran mereka.

Dia menulis sebuah "fatwa" aneh sepanjang 20 halaman mengenai makna jihad, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan didistribusikan oleh pasukan AS kepada warga sipil di Iraq supaya menggoyahkan keyakinan mereka untuk berperang di jalan Allah. Orang semacam Kabbani dengan jelas digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya, {Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka siksa yang pedih} [QS. At-Taubah: 34].

Di pihak "Salafi", dan tidak kalah berbahaya, terdapat juga sejumlah da'i ke pintu-pintu Jahannam. Tidak terlalu jauh berbeda dari rekan mereka dari kelompok Sufi, para ulama jahat ini mengambil dan memutarbalikkan ucapan para ulama terdahulu - jangan sebut dulu ayat dan hadits - agar sesuai dengan kemurtadan versi agama mereka. Walaupun sering mengutip perkataan Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayim Al-Jauziyah, dan bahkan -belakangan agak jarang- Muhammad ibnu 'Abdil Wahhab, secara hipokrit mereka memproyeksikan diri mereka sendiri sebagai pengikut setia di atas jalan Salaf.

Berkaitan dengan murtaddin yang mendukung orang-orang kafir menghadapi orang-orang beriman itu, Ibnu Taimiyah mengatakan, "Orang Islam yang melakukan riddah yang hanya menerima beberapa hukum Islam saja lebih buruk daripada orang kafir yang sama sekali belum menerima hukum-hukum tersebut. Hal ini ibarat orang-orang yang menolak membayar zakat dan lainnya yang diperangi Ash-Shiddiq. Tidak ada bedanya, apakah seseorang itu ahli fiqh, pemeluk Sufisme, pengusaha, penulis, atau lainnya.

Semuanya masih lebih buruk daripada suku-suku Turki[3] yang belum masuk agama ini dan terus menyerang Islam. Kenyataannya, kaum Muslim mendapat gangguan yang lebih berbahaya dari orang-orang [murtad] itu daripada orang-orang yang jika mereka masuk Islam, maka mereka tunduk kepada Islam dan hukum-hukumnya. Mereka lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya daripada orang-orang yang berpaling dari sebagian agama, sementara tetap dalam kemunafikan pada sebagian lainnya, bahkan jikapun mengklaim memiliki ilmu dan religius" [Majmu' al-Fatawa].

Ibnu Al-Qayim berkata, "Allah memutuskan - dan tiada yang lebih baik daripada keputusan- Nya - bahwasanya barangsiapa yang mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali, maka dia termasuk salah seorang dari mereka. {Barangsiapa yang mengambil mereka sebagai wali, maka dia termasuk golongan mereka} [QS. Al-Maa-idah: 51]. Jadi, jika mereka wali mereka [orang-orang Yahudi dan Nasrani] menurut nash Al-Qur'an, maka mereka mempunyai hukum umum yang sama. Perbedaannya hanyalah bahwa orang yang mengambil mereka sebagai wali dan memasuki agama mereka setelah menisbatkan diri kepada Islam, maka dia tidak dibiarkan dan jizyah tidak diterima darinya. Sebaliknya, dia harus memilih antara Islam dan pedang, karena dia murtad secara nash dan ijma" [Ahkam Ahlu adz-Dzimmah].

Muhammad ibnu 'Abdil Wahhab mengatakan, "Ketahuilah bahwa dalil-dalil takfir atas Muslim yang terlihat jujur yang melakukan perbuatan syirik atau berpihak kepada musyrikin melawan muwahhidin, meskipun dia tidak melakukan syirik, terlalu banyak untuk disebut, sebagaimana ditemukan dalam firman Allah, sabda Rasul-Nya, dan ucapan semua ahli ilmu." [ad-Durar as- Saniyah].

Tawfique Chowdhury, seorang Australia, adalah contoh trend salibis-"Salafi" baru. Pada akhir 1429 H, dia berkhutbah dengan judul "Ulama Islam: Sekutu Alami Barat dalam Memerangi Momok Terorisme." Terlepas dari rujukan nyata untuk menjadikan Barat (yaitu para salibis) sebagai sekutu melawan para teroris (yaitu Muslimin), Tawfique dengan bangga mengaku bahwa khutbahnya disampaikan tidak lain kepada sekumpulan "pejabat tinggi anti-terorisme dan ahli pencegahan ekstremisme" Inggris.

Allah berfirman, {Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah} [QS. Ali 'Imran: 28].

Ath-Thabari menjelaskan bahwa artinya "Dia berlepas diri dari Allah dan Allah berlepas diri dari dia, disebabkan kemurtadannya dan memasuki kekafiran."

Yasir Qadhi, juru bicara "Salafi" yang berubah menjadi "Revivalis" untuk masyarakat Barat yang menyerukan para pengikutnya untuk bekerjasama dengan para pejabat pelaksana hukum kafir, menerbitkan sebuah artikel dinamai "Seorang Amerika yang Bangga, Patriotik, dan Mengamalkan Syari'at." Seperti halnya tulisan dan khutbah lainnya, Yasir menekankan kecintaannya kepada Amerika Serikat dan mengingkari apa pun dan siapa pun yang melawan cita-cita Amerika. Dia berkata, "Konstitusi tanah airku -Amerika Serikat- mengamanatkan untuk memisahkan gereja dan negara. Rekan-rekan Muslim Amerika dan saya memahami, menghargai, dan mendukung penuh amanat tersebut." Dia menutup perkataannya dengan membela para pembuat undang-undang AS, dengan permintaan, "bahwa kita diperkenankan untuk hidup di bawah undang-undang negeri ini."

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik daripada Allah hukumnya bagi orang-orang yang yakin?} [QS. AI-Maa-idah: 50].

Sekutu dan koleganya dari Saudi, Waleed Basyouni, menyatakan tidak boleh melakukan perjalanan ke Suriah untuk berperang dijalan Allah. Maka dia telah mengharamkan apa yang Allah pandang wajib.

Seorang Jamaika yang bersekutu dengan Kanada, Bilal Philips -seperti halnya semua orang murtad yang disebutkan di sini- telah memelintir dan mengubah makna yang jelas ayat-ayat dan hadits-hadits untuk menjauhkan Muslimin dari jihad. Dia menyatakan bahwa kelompok mana pun yang memerangi thawaghit dan para salibis adalah "Khawarij." Dia menuntut sebaliknya, yaitu kaum Muslim memanfaatkan institusi-institusi pemerintah thaghut yang sudah tersedia guna mencari perubahan yang "Islami."

Seorang Kanada lainnya, Abdullah Hakim Quick, membela bangsanya dan mengekspresikan penyesalannya yang mendalam atas terbunuhnya tentara Kanada oleh Muslimin.

Semua yang disebut di atas telah memfokuskan persekutuannya dengan thawaghit dalam perang melawan Daulah Islam. Dengan memandang bahwa keberhasilan mana pun dalam usaha menggulingkan Daulah Islam tanpa keraguan akan mengakibatkan syari'at Islam diubah dan digantikan oleh hukum-hukum kufur, maka memerangi Daulah Islam serupa dengan kufur itu sendiri - karena bughat[4] sekalipun tidak ditemukan. Lalu, apa lagi dengan seseorang yang bersekutu dengan kuffar untuk menyerang satu-satunya pemerintahan Muslim yang benar di muka bumi? Telah ditetapkan bahwa orang yang menolong seorang pembunuh untuk membunuh korbannya dipandang sama pertanggungjawabannya atas kejahatan tersebut.

Hal ini sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah, "Jika Salaf memandang murtad orang-orang yang menolak membayar zakat, sementara mereka shaum dan shalat serta tidak memerangi kaum Muslimin, maka bagaimana lagi dengan orang yang bergabung dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dalam membunuh Muslimin?!" [Majmu' al-Fatawa].

Kemudian ada para pengklaim bermanhaj "Salafi -Jihadi", di antaranya ialah Abu Bashir Ath-Tharthusi yang berbasis di London. Pada waktu diumumkannya ekspansi Daulah Islam ke Syam dan kemudian diikuti pengkhianatan Al-Jaulani, wawasan manhaj sebenarnya Abu Bashir menjadi jelas. Sebagai respon atas pernyataan tersebut, salah satu keluhannya atas konsekwensinya ialah bahwa setelah semua pengorbanan yang dilakukan orang-orang Suriah dalam "revolusi" mereka sendiri, seorang Iraq akan memimpin orang-orang Suriah. Selain nasionalisme dan pengabaiannya terhadap kekuasaan Khilafah 'Abbasiyah di Iraq atas Syam selama berabad-abad, dia juga menyerukan supaya menghentikan perang atas murtaddin di Yaman untuk menjaga revolusi nasionalis. Selain itu, dia menyerukan mujahidin di Libya untuk menyerahkan senjata mereka kepada pemerintah thaghut yang baru yang dipandangnya absah Dia bahkan mendukung voting dalam pemilihan presiden yang syirik di Mesir!

Terakhir, seseorang tidak boleh mengabaikan para salibis yang terlihat jelas, yaitu mereka yang sama sekali tidak mengenakan jubah dakwah namun sebaliknya melibatkan dirinya langsung ke dalam kancah politik dan penerapan hukum kufur. Misalnya, (di AS) Mohamed Elibiary, Arif Alikhan, Rashad Hussain, Keith Ellison, Huma Abedin, dsb. dan (di Inggris) Muhammad Abdul Bari, Sayeeda Warsi, Waqar Azmi, Sajid Javid, Ajmal Masroor, dan politikus aktif murtad lainnya

Kesimpulan

Bagaimana mungkin Muslimin yang hidup di Barat yang mengaku menyerahkan diri mereka kepada Allah, menerima sepenuhnya hukum-Nya semata, membiarkan saja imam-imam kufur ini terus saja menyebarkan racun mereka dari atas mimbar? Bagaimana mungkin imam-imam kufur ini tetap berada di bawah perlindungan musuh-musuh Allah, sementara balatentara-Nya berjalan dengan mudahnya di antara mereka? Bagaimana bisa, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, {Dan jika mereka merusak sumpahnya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah imam-imam kekafiran itu, karena sesungguhnya mereka tidak akan mempunyai perjanjian [keamanan], supaya mereka berhenti} [At-Taubah: 12].

Bagaimana bisa, sementara diketahui bahwa orang-murtad tersebut telah bergabung dengan golongan Syaitan, berjuang di jalan thaghut - dengan ucapan sekalipun? Hal ini sama sekali tidak memudharatkan golongan Allah; sebaliknya, sunnah Allah ialah dengan kemurtadan mereka Dia akan mendatangkan orang-orang yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya untuk berperang di jalan Allah. Dia berfirman, {Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela} [QS. Al-Maa’idah: 54}.

Dan seperti yang dinyatakan oleh Allah, {Ketahuilah, sesungguhnya golongan Syaitan itulah golongan yang merugi} [QS. AI-Maa-idah: 19]

Dia pun berfirman, {Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung} [QS. AI-Maa-idah: 22].

Kedua kamp terus terlihat semakin nyata. Orang-orang yang mendukung kalimat kekafiran di satu pihak dan orang-orang yang mendukung kalimat Allah di pihak lain. Pada masa suram ini, setiap Muslim harus berhati-hati dan memastikan dirinya berada di kamp yang benar. Benar- benar suatu rahmat dari Allah atas umat ini ketika Dia memberikan petunjuk jelas kepada kita. sehingga kita dapat menemukan kamp yang benar.

Dia berfirman, {Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar} [QS. Al-Hujuraat: 15].

Selain itu. Dia memerintahkan, {Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar} [QS. At-Taubah: 119].

Jadi, seseorang harus berpaling dari orang-orang yang duduk dari berjihad di jalan Allah, maksudnya untuk menerapkan hukum Allah di muka bumi, dan melihat kepada orang-orang yang memenuhi kalimat Allah, {Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Aliahlah kembali segala urusan} [QS. Al-Hajj: 41].

Seseorang itu harus mengadakan perjalanan ke Darul Islam, bergabung dengan barisan mujahidin di sana, atau mengobarkan jihad lewat dirinya sendiri dengan sumber daya yang ada padanya (pisau, senapan, bahan peledak, dsb.) untuk membunuh para salibis serta kuffar dan murtaddin lainnya, termasuk imam-imam kekafiran. Ini sebagai hukuman peringatan atas mereka, sebab mereka semua merupakan target yang sah -bahkan wajib- menurut syari'at, kecuali bagi orang-orang yang secara terbuka bertaubat dari kekafiran sebelum mereka ditawan.

Catatan kaki :

[1] Maksudnya bahwa menghukum seseorang dengan cara membakar secara umum dilarang. Akan tetapi, menghukum seorang penjahat yang membakar orang lain merupakan perkara qishash [pembalasan] yang diizinkan syari'at. Para Salaf juga membakar orang-orang murtad di mana kemurtadannya hebat sebagai efek jera bagi yang lainnya. Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat Dabiq edisi 7, "The Burning of the Murtadd Pilot" [Membakar Pilot Murtad].

[2] Ibnu Al-Burhan merupakan seorang ulama yang terlahir pada 754 H dan wafat pada 808 H. Dia terkenal dengan penentangannya terhadap kekuasaan Mamluk dengan mendesak agar mengangkat seorang imam keturunan Quraisy.

[3] Pada masa dan tempat Ibnu Taimiyah musuh utama Muslimin ialah suku-suku yang berasal dari Turki.

[4] Bughat ialah Muslimin yang memerangi penguasa Muslim yang sah. Akan tetapi, jika mereka mendukung orang-orang kafir asli atau orang-orang murtad melawan kaum Muslim atau menentang penerapan  okum-hukum syari’at, maka mereka bukanlah bughat tetapi justru murtad, sebagaimana untuk kasus apa yang disebut dengan faksi-faksi “Islam” di Syam.

INILAH PARA KSATRIA PENCARI SYAHID DI BELGIA

DABIQ 14 - ARTIKEL

INILAH PARA KSATRIA PENCARI SYAHID DI BELGIA

Ibrahim al-Bakrawi (Abu Sulaiman al-Baljiki)
Istisyhadiy di Bandara Brussel

Abu Sulaiman dikenal karena keberanian dan kemurahan hati-nya sebelum dan bahkan terlebih lagi setelah ia dibimbing oleh Allah. Ketika ia dipenjara, ia mengikuti berita tentang kekejaman terhadap kaum Muslim di Syam. Hingga ia tersentuh dan memutuskan untuk mengubah hidupnya, yaitu hidup demi agamanya.

Setelah ia dibebaskan dari penjara, ia langsung bergabung dengan saudaranya; Khalid, Serangan terhadap Paris itu terjadi dan dimulai adalah karena Allah, kemudian karena Ibrahim dan saudaranya dengan membeli senjata, mencari rumah aman dan membuat perencanaan.

Khalid al-Bakrawi (Abu Walid al-Baljiki)
Istisyhadiy di Stasiun Kereta Bawah Tanah

Seorang pria dengan karakter yang kuat dan memiliki kepemimpinan alami, Khalid diberi petunjuk saat di penjara setelah ia mendapatkan mimpi yang mengubah gambarannya akan kehidupan. Ia melihat bahwa ia bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi orang-orang kafir, ia berkata ketika menceritakan mimpinya, "Itu adalah mimpi setelah mendengar ayat terakhir dari surat al-Fath yang dibacakan dengan suara keras, saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas kuda dalam medan pertempuran dari jarak jauh. Mimpi yang menghanyutkan saya kedalam medan perang. Saya melihat diri saya sebagai pemanah yang menembakkan panah kepada musuh. Saya memanah, lalu berlindung, kemudian memanah lagi. "Dia meriwayatkan rincian lain dari mimpinya dan berkata," Saya kemudian terbangun dan kembali berada dalam sel penjara.

"Setelah meninggalkan penjara, ia dengan penuh keyaqinan dan keteguhan mulai berda'wah kepada tetangganya dan menyeru para pemuda untuk berhijrah ke Syam. Dia juga menulis beberapa artikel tentang Perang Salib pada masanya yang dikobarkan oleh Barat terhadap kaum muslimin.

Semua persiapan untuk operasi penyerbuan di Paris dan Brussel dimulai oleh dia bersama kakaknya; Ibrahim. Kedua bersaudara ini mengumpulkan senjata dan bahan peledak. Setelah operasi yang diberkahi di Paris, ia melihat mimpi lainnya, mimpi yang memotivasi dirinya untuk melaksanakan operasi istisyhad. Dia berkata, "Mimpi kedua terjadi tiga bulan yang lalu. Dan hal ini berlangsung dari subuh sampai zhuhur. Aku bangkit menuju ke tempat yang tinggi, hingga seakan-akan aku berada di ruang angkasa dan dikelilingi oleh bintang-bintang; tapi langit saat itu berwarna seperti biru waktu malam. "Dia kemudian mendengar sebuah suara dalam mimpi-nya yang mengatakan kepadanya bahwa ia diciptakan hanya untuk menyembah Allah saja dan memerintahkannya untuk memperjuangkan tujuan-Nya dan membuat kalimat-Nya menjadi yang tertinggi. Kemudian dia terbangun.

Abu Walid kemudian meriwayatkan mimpinya yang ketiga: "Saya juga memiliki mimpi yang juga berlangsung dari waktu subuh sampai Dhuhur, tetapi berakhir di malam hari. Aku melihat diriku berada dalam perahu bersama dengan Abu Sulaiman dan saudara lainnya. Setiap dari kami memiliki tentara Turki sebagai sandera. Aku punya pistol sedang Abu Sulaiman memiliki sabuk. Aku mengatakan kepadanya untuk memberikan sabuknya padaku, karena aku akan merasa lebih baik setelah memakainya. Jadi dia memberikan sabuknya padaku dan aku memberinya pistol. Aku kemudian bergerak maju bersama sandera Turki demi mendekati tentara turki lainnya, dua di antaranya di depan kami. Aku meledakkan ikat pinggangku dan membunuh tentara turki. Kepalaku kemudian terhuyung ke tanah. Salah seorang ikhwan yang juga bekerja dalam operasi dan juga Syaikh al-'Adnaniy mengambil kepalaku dan berkata, 'Periksa dan lihatlah apakah ia tersenyum atau tidak. "Aku lalu melihat jiwaku dan jiwa tiga tentara. Tiba-tiba semua jiwa para tentara terbakar dan lenyap, kemudian tiba-tiba bendera Islam -dalam mimpi terwakili oleh bendera Daulah Islam- keluar dari bumi dan bersinar terang. Jiwaku kemudian menjadi penuh dengan cahaya." Dia lalu mendengar suara dalam mimpinya yang mengatakan kepadanya bahwa ia telah mencapai pembebasan. Abu Walid melanjutkan, "Aku lalu bersujud dengan cepat dan berulang kali ber-takbir. Saya kemudian terbangun dan menemukan jantungku berdetak dengan cepat, dan aku-pun mengambil napas dengan cepat".

Najm al-'Asyrawi (Abu Idris al-Baljiki)
Istisyhadiy di Bandara Brussel

Dia adalah seorang yang unik, memiliki sikap yang sangat baik, selalu melayani saudara-saudaranya dan sangat cerdas. Hijrah-nya dimulai pada "2013", ketika ia mendengar jeritan Muslim di Syam. Dia bergabung dengan Majlis Syura al-Mujahidin yang dipimpin oleh Abul Atsir al-'Absi rahimahullah, dan ketika pengkhianat al-Jaulani mengkhianati Daulah Islam, ia bersama dengan sisa dari kelompoknya adalah salah satu diantara yang pertama-tama membaiat Amirul Mu’minin Abu Bakr al-Baghdadiy.

Dia berpartisipasi dalam beberapa pertempuran melawan rezim Nushairiy sebelum murtaddin FSA memulai serangan terhadap mujahidin. Ini membuktikan dirinya berdiri teguh selama masa Shahawat di Syam, ia memerangi mereka sampai datang perintah untuk menarik mundur ke ar-Raqqah. Dia terus berpartisipasi dalam penggerebekan sampai ia mendapatkan luka tembak di kakinya dalam sebuah penggrebekan terhadap Jabhah Jaulani di al-Khair.

Setelah masa penyembuhan selama beberapa bulan, ia mulai berlatih dalam rangka mewujudkan mimpinya untuk kembali ke Eropa dan membalaskan dendam kaum muslimin di ‘Iroq dan Syam atas pemboman konstan oleh pesawat tempur tentara salib. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia melakukan perjalanan yang panjang ke Perancis untuk melaksanakan operasi nya. Dialah Abu Idris yang telah mempersiapkan bom untuk dua penyerbuan; di Paris dan Brussel.

Muhammad Bilqo’id (Abu 'Abdil Aziz al-Jazairi)
Melindungi Mujahidin dalam sebuah penggrebekan Polisi

Sebelum kembali ke Prancis, Abu 'Abdil 'Aziz berpartisipasi dalam beberapa penyerangan terhadap rezim Nushairi. Dan pertempuran yang paling menonjol adalah pertempuran di Pangkalan Udara Kuwayris dan Divisi ke-17. Selama kampanye, ia mengalami cedera pada kakinya saat berperang dengan shahawat di Damaskus. Dia juga mengambil bagian dalam penaklukan ar-Ramadi, di mana sebuah peluru menghantam kepalanya.

Dia adalah seorang yang penuh dengan kebijaksanaan serta komandan dari sebuah kelompok pasukan inghimasy. Disukai oleh semua saudara dan ia terkenal karena puasanya, ia shalat dan membaca al-Qur’an sepanjang malam. Ketika ia mendengar bahwa Abu Idris ingin kembali ke Eropa untuk menjalankan operasi istisyhadiy, ia langsung memutuskan untuk menemaninya dan membantunya dalam misi tersebut.

Ketika di Belgia dan selama tahap akhir dalam persiapan serangan di Brussel, polisi kafir menyerbu apartemennya. Meskipun ia memiliki kemampuan untuk melarikan diri bersama dengan timnya, ia memutuskan untuk membuat ini sebagai pemberhentian terakhir baginya demi memastikan saudara-saudaranya dapat keluar dengan aman. Dia baku tembak dengan pasukan Belgia dan Perancis selama beberapa jam, melukai sejumlah dari mereka, sebagaimana saudara-saudaranya dapat menyelamatkan diri ke dalam hutan.

SERANGAN TEROR JUNUD KHILAFAH DI BELGIA

DABIQ 14 - PENDAHULUAN


SERANGAN TEROR JUNUD KHILAFAH DI BELGIA

Segala puji hanya bagi Allah yang maha menciptakan. Semoga shalawat serta salam selalu tercurah pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, sahabat dan pengikutnya. Amma ba’du:

Selama hampir dua tahun, kaum muslimin di bumi Khilafah telah menyaksikan saudara dan anak-anak-nya yang tercinta tanpa henti dibom oleh pesawat-pesawat tempur tentara salib. Adegan pembantaian, tertumpahnya darah dan tercecernya anggota badan hingga tersebar di jalan-jalan telah menjadi hal yang lumrah bagi kaum mu’minin. Benih kerinduan untuk membalas dendam telah mekar dan berkembang di hati para janda yang berduka, yatim piatu yang tertekan dan tentara yang bersungguh-sungguh; dan kini buah-buah tersebut telah siap untuk dipanen.

Salibis mengaku bahwa mereka-lah yang memikul dan memperjuangkan "kebebasan" dan "keadilan" bagi setiap bangsa yang tertindas di dunia, meskipun pada kenyataannya kekejaman mereka tidaklah mengenal batas ketika mereka menghadapi kaum Muslimin. Dan hanya masalah waktu saja sebelum kemurkaan umat ini ditimpakan kepada mereka hingga membangunkannya akan kenyataan.

Kematian seorang Muslim, tidak peduli apapun perannya dalam masyarakat, adalah lebih berat bagi seorang mu’min daripada pembantaian terhadap semua orang kafir di muka bumi. Syari’at telah menyeru untuk menginvasi seluruh tanah kafir, dan tentu saja ini dimulai dengan negara agresor sebelum bangsa-bangsa yang tidak aktif berperang melawan Khilafah. Ini adalah kenyataan yang jelas bahwa setiap kafir yang berdiri menghalangi Daulah Islam akan dibunuh, tanpa belas kasihan dan tanpa penyesalan, sampai umat Islam tidak lagi menderita dan pemerintahan sepenuhnya hanya untuk Allah.

Brussel, jantung Eropa telah diserang, Darahnya ditumpahkan ke tanah di titik vitalnya, diinjak-injak di bawah kaki para mujahidin. Api yang mereka nyalakan tahun lalu di Iraq sekarang telah menghanguskan medan pertempuran dari Belgia, dan akan segera menyebar ke seluruh Negara salib di Eropa dan Barat. Paris adalah peringatan dan Brussel adalah pengingat. Sedang apa yang akan datang akan lebih dahsyat dan lebih pahit dengan izin Allah, dan Allah berkuasa atas urusan-Nya tetapi kebanyakan manusua tidak mengetahui. Setelah mengambil pelajaran selama beberapa tahun yang dihabiskan dalam perang paling dahsyat dan keras dalam sejarah perang modern, tentara Daulah Islam menjanjikan kepada mereka perlawanan hebat dalam gelapnya hari kematian dan kehancuran di negeri mereka sendiri. Peluru dan meriam akan menusuk dan menebas siapapun yang dapat dijangkau oleh tentara Allah. Dan bagi yang selamat akan terluka baik secara fisik maupun mental, dihantui setiap kali mata mereka tertutup atau setiap kali mereka berkedip. Suara sirene akan memenuhi langit yang diawali oleh ledakan dari bom yang ditanam di semua tempat dengan tepat. Kerusakan akan menghampiri ekonomi mereka, infrastruktur mereka dan sumber-sumber pendapatan mereka, yang akan membuat hidup mereka lebih keras dan sulit dari apa yang mereka bayangkan sekarang. Dan itu tidak-lah akan berakhir sampai di situ saja, tidak akan berakhir sampai hukum Allah tegak berdiri dari timur hingga ke barat dan hingga Muslim dapat berjalan tanpa gangguan kafir najis di bawah mereka.

Dan tidaklah seperti budak setan yang menyerang dengan semua kekuatan mematikan mereka yang menakuti taqdir kehidupan mereka, hamba-hamba ar-Rahman telah mempersiapkan diri untuk menemui Tuhan-nya seraya berharap ridha-Nya. Kaum kafir yang menganggap bahwa bom mereka dan tentara perwakilan mereka akan dapat menghentikan Daulah Islam harus menyadari bahwa tentara Khilafah telah menyerahkan diri mereka kepada Allah, maha pencipta atas segala sesuatu dan Robb semesta alam. Maka dari itu tidak-lah ada kemungkinan bagi mereka untuk menyerah kepada manusia. Namun di sisi lainnya, salibis pada akhirnya tidak-lah memiliki pilihan selain menerima kekalahan. Walaupun kesombongan akan mencegah mereka pada hari ini, namun itu hanya masalah waktu saja – setelah sekian banyak operasi yang diberkahi dan karena Allah memfasilitasi tentara-Nya di tanah mereka– sebelum tentara salib kehilangan tekad dan mereka jatuh di kaki serangan para singa, meminta ampunan dan memohon untuk dapat membayar jizyah.

WAWANCARA DENGAN WALI WILAYAH KHURASAN, SYAIKH HAFIZH SA’ID KHAN

DABIQ 13 - WAWANCARA

WAWANCARA DENGAN WALI WILAYAH KHURASAN, SYAIKH HAFIZH SA’ID KHAN

Bulan ini, Dabiq mewawancarai Wali dari Khurasan Syaikh Hafizh Sa’id Khan hafizhahullah dan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya mengenai Wilayah dan situasi di sana. Kami sajikan wawancara tersebut di bawah ini.

Dabiq: Bagaimana situasi di Wilayah Khurasan? Apakah Daulah Islam memiliki wilayah di sana dengan tamkin (kekuasaan)? Apakah aspek-aspek tamkin yang tampak mirip dengan apa yang ada di Syam dan Iraq?

Wali: Alhamdulillah, situasi di Khurasan membawa kabar gembira, dengan izin Allah. Kami telah mendapat tamkin di Wilayah, tapi tidak setingkat dengan Iraq dan Syam dalam hal besarnya wilayah. Negeri Khurasan sangat luas, termasuk "Afghanistan", "Pakistan" Barat, dan negeri lain yang telah dikuasai oleh murtaddln. Kami telah menaklukkan dan memperoleh kekuasaan di lima "wilayah administratif” di sini, walhamdulillah. Dan mengenai aspek-aspek tamkin yang tampak, kami atas karunia Allah semata, menegakkan hukum Allah di dalamnya dan melaksanakan hudud. Kami telah membentuk pengadilan-pengadilan di wilayah ini, kantor hisbah, kantor zakat, dan kantor-kantor untuk pendidikan, dakwah dan masjid, dan pelayanan publik. Kami mendirikan sebuah divisi khusus untuk setiap urusan syar'i dan administrasi di dalamnya dan menunjuk pejabat yang memenuhi syarat dan memiliki keahlian dari personil yang tersedia dari kalangan muhajirin dan anshar di Wilayah.

Dabiq: Apa pentingnya Wilayah Khurasan bagi Islam dan kaum muslimin? Apa saja kesulitan yang Wilayah hadapi?

Wali: Wilayah Khurasan sangat penting bagi Islam dan kaum muslimin. Ia pernah berada di bawah penguasa Muslim, bersama dengan daerah sekitarnya. Setelah itu, kaum sekuler dan Rafidhi murtaddln menaklukkan beberapa daerah, juga Hindu penyembah sapi, serta atheis Cina menaklukkan daerah terdekat lainnya, seperti sebagian Kashmir dan Turkistan. Jadi Wilayah ini, atas izin Allah, adalah pintu gerbang untuk menaklukkan kembali semua wilayah ini sampai mereka diperintah sekali lagi oleh hukum Allah, sehingga wilayah Khilafah yang diberkahi akan meluas.

Selain itu, orang dari Khurasan pada umumnya cinta Islam dan perang, dan karena ini, wilayah memiliki kekuatan “tidak aktif” untuk menolong tauhid dan jihad. Dengan demikian, sebagai realitas Khilafah menjadi lebih jelas bagi rakyat Khurasan, mereka akan semakin berbondong-bondong bergabung dengan Wilayah dan memperkuat jihad melawan musuh Islam dan kaum Muslimin, termasuk kuffar, murtaddln, dan mereka yang bersekutu dengan mereka di dalam dan di luar wilayah. Sehingga, mereka akan menjadi pondasi kuat bagi Khilafah di bagian muka bumi ini. Dan generasi yang akan datang akan dibesarkan di atas Kitab dan Sunnah dari usia muda. Ini adalah karunia luar biasa yang telah mencapai Wilayah ini melalui khilafa, yang berada di atas manhaj nubuwwah, dan melalui imam dan khallfah kami, Abu Bakar al-Baghdadl al-Qurasyi.

Adapun kesulitan, maka itu tidak lain adalah thaghut musuh Allah - termasuk "Pakistan" di satu sisi, dan "Afghanistan" di sisi lain yang berdiri dengan tentara dan badan intelijen mereka melawan Islam, Khilafah, dan wilayah yang mewakilinya dan menerapkan manhajnya di wilayah tersebut. Kedua pemerintah ini mencoba membuat banyak masalah untuk menghalangi Wilayah dari berjihad sehingga menghambat penegakkan Islam dan manhajnya di wilayah tersebut. Mereka mencoba untuk menghentikan perluasan Khilafah.

Demikian juga kondisi organisasi-organisasi dibentuk, ditolong, dimanfaatkan, dibantu, dan dibukakan jalannya oleh kedua pemerintahan itu. Hal ini menyebabkan organisasi-organisasi ini, seperti gerakan nasionalis Taliban, untuk membuat berbagai masalah untuk memerangi Khilafah. Tapi bagaimana mungkin semua organisasi-organisasi ini dan orang lain mampu memadamkan cahaya Allah! Karena khilafah ini tegak di atas manhaj nubuwwah dan di atas dasar tauhld, sehingga semua thawaghit bersama-sama tidak akan mampu untuk menghadapi singa-singa tauhid dan 'aqidah.

Thawaghit berhasil melawan organisasi dan gerakan "Islam" yang memliki 'aqidah yang rapuh dan manhaj yang cacat, baik mereka yang berorientasi "dakwah" atau berorientasi "jihad".

Adapun Khilafah, ia adalah duri -lebih tepatnya, kapak!- di leher kuffar dan murtaddln di wilayah ini, dengan kekuasaan dan kekuatan Allah.

Dabiq: Apakah gerakan nasionalis Taliban memiliki wilayah kekuasaan di Khurasan? Dan apakah mereka mengatur mereka dengan hukum Allah?

Wali: Gerakan nasionalis Taliban hanya memiliki kekuasaan dari beberapa daerah "Afghanistan," tidak ada di tempat lain. Adapun tentang menghukumi mereka dengan hukum Allah, maka mereka tidak melakukannya. Sebaliknya, mereka berhukum dengan adat istiadat suku-suku dan memutuskan urusan sesuai dengan keinginan dan tradisi rakyat, tradisi yang bertentangan dengan Syari'ah Islam. Wallahul musta’an.

Dabiq: Apakah hubungan Akhtar Manshur dengan intelijen Pakistan?

Wali: Akhtar Manshur dan rekan-rekannya telah menjalin hubungan yang kuat dan dalam dengan intelijen Pakistan, dan mereka tinggal di kota-kota penting dari "Pakistan", seperti Islamabad, Peshawar, dan Quetta. Bahkan, Dewan Penasehat Akhtar Manshur berisi anggota dari intelijen Pakistan! Selain itu, intelijen Pakistan membantunya dalam segala hal yang ia lakukan. Hubungannya dengan badan intelijen Pakistan “ISI" menjadi jelas ketika mantan kepalanya, pensiunan jenderal murtad Hamid Gul meninggal beberapa bulan lalu, ia adalah jenderal yang disewa intelijen Pakistan untuk mengelola organisasi "Islam" sehingga mereka tunduk untuk kepentingan thawaghit lokal dan global. Ketika jenderal ini meninggal, Akhtar Manshur memberikan belasungkawa terbesar atas kematiannya karena loyalitasnya kepada intelijen Pakistan dan pengakuannya atas segala yang telah mereka lakukan untuknya dan gerakan Taliban.

Dia menyatakan dalam pernyataan belasungkawa atas kematian Gul, "Dengan wafatnya Mulla Umar salah satu tangan kita terputus, tetapi dengan kematian Jenderal Hamid Gul kami merasa bahwa lengan lainnya telah terputus. Kesulitan yang kami rasakan atas kematian Jenderal Hamid Gul tidak kalah dengan perpisahan dengan Mulla Umar." Dia juga menambahkan, "Setelah kematian Mulla Umar, ia [Jenderal Hamid Gul] memainkan peran penting dalam penyatuan Taliban."

Dan atas perintah badan intelijen itu, musuh Allah ini memerangi dan membunuh prajurit Wilayah, karena Wilayah memerangi thaghut "Pakistan". Di samping itu, ia memiliki hubungan dengan intelijen Iran, dan dengan dukungannya, ia aktif dalam menghalangi orang dari Islam dan menghambat perluasan Khilafah. Dan dengan itu semua, ia membela thawaghit dari "Pakistan" dan "Afghanistan" serta Rafidhah.

Dabiq: Bagaimana situasi peperangan antara Daulah Islam dan Taliban, dan antara Daulah Islam pemerintahan dan tentara murtaddln di “Pakistan” dan “Afghanistan” yang bersekutu dengan salibis?

Wali: Peperangan antara kami dan Taliban terus berlangsung. Gerakan nasionalis Taliban mulai memerangi dengan menyerang muwahhidln. Tapi Wilayah menepis agresi mereka dan Taliban kemudian melarikan diri dari banyak posisi strategis mereka. Sehingga kemenangan -atas rahmat Allah- adalah untuk Wilayah. Adapun kondisi peperangan melawan pemerintah dan tentara murtad di Khurasan yang bersekutu dengan salibis, maka jihad melawan tentara murtad Pakistan dan Afghanistan terus berlangsung dan maju dengan kekuatan, semua atas karunia, kekuasaan dan kekuatan dari Allah.

Mujahidln dengan gagah berani terus memerangi tentara dari kedua pemerintah murtad dan pasukan mereka yang telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, dan kaum Muslimin.

Dabiq: Apakah muhajirln masih terus berhijrah ke Khurasan?

Wali: Ya, kaum Muslimin masih terus berhijrah ke tanah Khurasan dalam jumlah yang besar, walhamdulillah. Kami memohon kepada Allah untuk menerima hijrah mereka dan menolong Khilafah, meninggikan kalimat kebenaran, dan merendahkan kalimat kebathilan melalui mereka. Kami, sebagai bagian kami, menerima -dengan sangat senang hati- setiap Muslim yang berhijrah ke Wilayah, dan kami membantunya sebaik mungkin yang kami mampu dengan segala yang telah Allah karuniakan kepada kami. Wajib atas setiap Muslim yang ingin menolong Syari’ah untuk segera berhijrah ke wilayah ini atau ke salah satu wilayah lain Khilafah, karena ini adalah negeri mereka, negeri Islam. Wajib atas mereka untuk berhijrah agar terlepas dari kehinaan di dunia dan adzab di akhirat, dan untuk meninggalkan kubu kebathilan menuju kubu kebenaran di mana tidak ada kebathilan.

Kami menyambut mereka semua dan tidak membedakan antara muhajir dan yang lain, karena orang beriman saling bersaudara yang tidak ada perbedaan kecuali oleh taqwa. Muhajir lebih kami cintai dari diri kami sendiri, dan hukum Allah ditegakkan di sini, walhamdulillah, sehingga muhajir akan melindungi agama, dirinya sendiri, kehormatan, harta, dan pikirannya, dan menolong agama Allah dengan ilmu dan pengalaman yang mereka miliki.

Aku ulangi, bahwa tidak layak bagi seorang Muslim laki-laki maupun perempuan untuk menunda hijrah. Mereka seharusnya tidak menunda-nunda dalam mewujudkan loyalitas mereka untuk umat Islam dan Khilafah.

Dabiq: Bagaimana situasi ikhwan mujahidin Uzbek setelah bai'at mereka kepada Khalifah? Apakah sekarang ada pertempuran antara mereka dan gerakan nasionalis Taliban?

Wali: Ikhwan mujahid Uzbek berbai’at kepada Khallfah dengan ikhlas, dan mereka adalah mujahidin yang jujur dalam berjihad, walhamdulillah. Kami menyangka mereka demikian, dan Allah adalah hakim mereka. Namun, gerakan nasionalis Taliban, si pengkhianat dan menyimpang, mulai memerangi mereka pada tanggal 25 Muharram, dan gerakan kejam ini tidak peduli bahwa ikhwan Uzbek tersebut berhijrah di jalan Allah. Sehingga sejumlah ikhwan Uzbek terbunuh dan terluka karena serangan jahat Taliban terhadap mereka, dan gerakan Taliban semakin bertambah kekejaman dan kejahatannya dengan sengaja membunuh wanita-wanita dan anak-anak mereka yang tak berdaya, dengan para pejuang gerakan tersebut mengeksekusi mereka, tidak menyisakan satu pun yang mereka temui. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah. Mereka membunuh orang-orang itu tanpa dosa, kecuali hanya karena mereka menyatakan dukungan mereka terhadap Syari'ah dan peperangan mereka terhadap thawaghit.

Dabiq: Apakah gerakan nasionalis Taliban terus mengizinkan para petani untuk menjual opium? Bagaimana Wilayah mengatasi fenomena serius ini?

Wali: Tidak ada keraguan bahwa gerakan nasionalis Taliban telah membiarkan para petani dan pedagang untuk menanam dan menjual opium. Bahkan, masalah ini telah mencapai titik di mana gerakan itu sendiri memanen opium, dan bahkan yang lebih buruk dari itu adalah bahwa Taliban sendiri yang mengangkut opium dan heroin dalam kendaraan mereka, mengambil upah dari para penjual dan pecandu! Mereka juga mengambil potongan 10% serta pajak dari mereka. Akhtar Manshur dirinya dikenal sebagai dari pedagang utama dalam narkotika ini.

Adapun Wilayah -walhamdulillah- tidak hanya melarang pertumbuhan dan penjualan opium, tapi juga melarang di wilayahnya segala sesuatu yang telah dilarang dalam hukum Allah, seperti rokok dan zat-zat semacam itu. Jadi di mana saja petugas hisbah menemukan barang terlarang dan narkotika di wilayah yang telah dibebaskan mujahidln, mereka mengumpulkan lalu membakarnya.

Dan yang lebih penting dari itu adalah menegakkan tauhid, dan hal itu adalah prioritas paling utama dari para petugas hisbah. Jadi, mereka menghancurkan semua kuil dan meratakan kuburan dengan tanah, walhamdulillah.

Dabiq: Apakah engkau menduga bahwa Mulla Umar sudah mati? Apa alasan engkau untuk meragukan ia masih hidup? Apa alasan Akhtar Manshur dan rekan-rekannya menyembunyikan masalah kematiannya?

Wali: Kami meyakini sejak lama bahwa Mulla Umar tidak hidup, dan itu disebabkan delapan tahun lalu kami mulai menemukan perubahan dan penyimpangan pada Taliban serta dalam perbuatan dan pernyataan resmi mereka. Mereka mulai meninggalkan pelaksanaan Syari'ah di daerah-daerah yang mereka kendalikan. Kami juga melihat kecenderungan Taliban terhadap negosiasi dengan pemerintahan murtad, dan mengenai ini, gerakan tersebut telah membuka kantor untuk mereka di Qatar, mengakui batas-batas nasionalis yang dibuat oleh salibis, membangun hubungan yang kuat dengan intelijen Pakistan, dan mulai bergerak bebas di wilayah Pakistan. Semua ini menunjukkan bahwa Mulla Umar tidak lagi hidup.

Kami juga menemukan bahwa tidak ada yang dapat bertemu dengannya selama periode ini, dan tidak ada yang pernah melihat videonya atau mendengar rekaman suaranya memberikan perintah dalam masalah perang atau apapun mengenai wilayahnya.

Kami juga menemukan bahwa Taliban mulai menghapus larangan zat yang dilarang oleh Syari'ah yang murni, membolehkan zat ini untuk mereka sendiri dan masyarakat. Mereka mulai mengambil pajak dan potongan 10% terhadap zat terlarang tersebut.

Semua ini menunjukkan wafatnya Mulla Umar. Kami kemudian mulai menyelidiki masalah ini, di mana tokoh-tokoh penting dan senior berusaha untuk bertemu dengan Mulla Umar tapi tidak berhasil. Setelah banyak upaya untuk menghubunginya oleh beberapa mujahidin yang jujur di antara sahabat kami, mereka berhasil untuk bertemu dengan beberapa anggota-anggotanya yang berasal dari kerabat dan keluarga dekatnya, yang mengatakan kepada mereka dengan terus terang dan jelas bahwa Mulla Umar tidak lagi hidup!

Adapun alasan Akhtar Manshur untuk menyembunyikan kabar wafatnya Mulla Umar, adalah untuk menyingkirkan beberapa orang dan mempromosikan teman-temannya dan kecenderungannya untuk mengatur "Afghanistan" dan mengelola peperangan sesuai keinginannya sendiri dan sesuai keinginan intelijen Pakistan, yang berdiri di belakangnya, bekerja di balik layar. Jadi dia dengan itu berusaha untuk menjauhkan orang-orang jujur dari kepemimpinan dan dari mengatur urusan kaum muslimin di wilayah tersebut secara khususnya dan umat Islam secara umum. Bahkan, ia tidak segan-segan membunuh mujahidin yang jujur, dan ia menyandarkan semua permasalahan dan pernyataan resmi selama periode itu kepada Mulla Umar sehingga orang tidak akan menuding mereka.

Dan dengan itu semua, ia manampakkan dirinya sebagai wakil dari Mulla Umar. Sehingga ia menyesatkan manusia dengan cara jahatnya ini dan melakukan apa-apa yang ia inginkan! Sehingga -secara licik dan jahat- ia mampu memanfaatkan penyembunyian kematian Mulla Umar untuk melakukan apa yang didiktekan syaitan kepadanya, seperti menyatakan pengakuannya terhadap nasionalis, batas-batas yang dibuat salibis, membuka kantor di negara thaghut murtad seperti yang ia lakukan di Qatar, beralih ke negosiasi, membangun ikatan yang kuat dengan intelijen Pakistan, dan akhirnya, memulai perang melawan Khilafah. Dan semua ini ia akan dilakukan atas nama Mulla Umar.

Dabiq: Apa reaksi para prajurit dan pemimpin Taliban, dan suku-suku sekutu mereka, terhadap kabar kematian Mulla Umar yang disembunyikan?

Wali: Kenyataannya, atas karunia Allah, setelah kabar kematian Mulla Umar, sejumlah besar Taliban memisahkan diri dari Akhtar Manshur dan kebanyakan dari mereka bergabung dengan Khilafah di Wilayah Khurasan. Banyak juga lainnya memisahkan diri dan membentuk kelompok mereka sendiri, seperti yang dilakukan oleh seseorang yang dikenal sebagai "Muhammad Rasul". Sekelompok besar lain juga memisahkan diri dari gerakan dan tetap diam tanpa pertempuran atau kegiatan. Semua ini terjadi karena gerakan Taliban telah menyimpang jauh dari apa yang mereka berada di atasnya dulu. Gerakan Taliban kini telah menjadi sandera dan mainan di tangan orang lain yang mengarahkannya sesuai keinginan mereka, karena Akhtar Manshur menyembunyikan kabar kematian Mulla Umar, mengambil keuntungan dari penyembunyian itu, dan menggunakan nama Mulla Umar untuk menyetir gerakan menuju tujuannya yang tercela dan sesuai dengan perintah dan petunjuk dari intelijen Pakistan.

Dabiq: Apa perbedaan antara Taliban "Afghanistan" dan Taliban "Pakistan", baik dalam manhaj atau dalam hal hubungan mereka dengan thawaghit dan badan intelijen? Adakah faksi Taliban yang bersekutu dengan pemerintah Afghanistan sementara lainnya bersekutu dengan pemerintah Pakistan? Apa peran mereka di lapangan dalam pengkhianatan? Dan apakah Taliban "Pakistan" adalah bagian dari Taliban "Afghanistan"?

Wali: Dulu ada perbedaan antara kedua Taliban, tapi sekarang tidak ada lagi perbedaan apapun selain nama mereka dan perkara kecil lain. Kedua Taliban sekarang tidak menerapkan Syari'ah. Sebaliknya, keduanya mengikuti keinginan rakyat dan keduanya berperang sementara mengambil dan mematuhi perintah dari orang lain. Ada banyak individu tulus dalam gerakan Taliban "Pakistan" yang melancarkan jihad untuk meninggikan kalimat Allah, untuk menerapkan Syari'ah-Nya yang murni. Tapi setelah pembentukan Khilafah, semua mujahidln yang jujur dalam gerakan itu bergabung dengan Khilafah dan berbai'at kepada Khallfah, dan karena itu tidak ada lagi yang tersisa di Taliban "Pakistan" kecuali para perusak. Karena itu, kedua Taliban tidak berbeda satu sama lain kecuali bahwa Taliban "Afghanistan" memerangi Wilayah Khurasan sambil mengambil perintah langsung dari intelijen Pakistan.

Selanjutnya, sekarang ada berbagai faksi di Taliban "Pakistan". Sebagai contoh, cabang Taliban "Pakistan" yang mengikuti Fadlullah telah berbai'at untuk Akhtar Manshur. Dengan kata lain, mereka telah berbai’at kepada intelijen Pakistan!

Dabiq: Apakah al-Qa’idah masih eksis di Khurasan setelah kematian sebagian besar pimpinannya? Organisasi apa yang berperan dalam perang melawan Khilafah di dalam dan di luar Wilayah Khurasan?

Wali: Al-Qa’idah tidak lagi memiliki eksistensi di Khurasan selain dari adanya beberapa anggotanya. Mereka adalah individu yang tidak memiliki kemampuan untuk memerangi Wilayah, sebagai gantinya mereka berusaha menyebarkan syubhat mengenai Khilafah dan terhadap Wilayahnya di Khurasan serta menghasut rakyat untuk tidak membai’at ataupun mendukung Khilafah. Al-Qa’idah telah runtuh dalam skala besar di sini, di pusat dan mantan bentengnya. Tidak ada lagi perbedaan antara ia dan intelijen Pakistan yang berafiliasi dengan Taliban "Afghanistan” dimana organisasi pimpinan Aiman azh-Zhawahiri telah memberikan bai’at pada Akhtar Manshur baru-baru ini. Dengan demikian, Akhtar Manshur menjadi pemimpin yang mengeluarkan perintah dan Aiman azh-Zhawahiri menjadi pengikut yang menerima perintah. Tidak ada perbedaan antara kedua kelompok tersebut. Keduanya kini akhirnya jatuh di bawah otoritas intelijen Pakistan, dan keduanya memerangi Khilafah dan Wilayahnya di Khurasan, dan dalam kenyataannya, memerangi Islam.

Dabiq: Seperti yang Anda ketahui, ada eksistensi Rafidhah di Khurasan. Bagaimana mereka datang ke Khurasan? Apakah Wilayah Khurasan melancarkan operasi militer dan keamanan terhadap mereka?

Wali: Sayangnya Rafidhah di Khurasan telah ada untuk waktu yang lama, dan mereka jauh dari wilayah kekuasaan kami. Kami telah memerangi mereka dan kami secara teratur melakukan operasi terhadap mereka, seperti operasi yang dilakukan di awal Muharram di kota Kabul. Kami juga melakukan operasi besar di Karachi terhadap sekte Isma’ili di mana 48 orang Rafidah pendosa telah tewas.

Dabiq: Apakah Daulah Islam mampu memperluas wilayah hingga ke Kashmir untuk melawan Hindu si penyembah sapi dan para murtaddin dari faksi murtad yang bersekutu dengan thawaghit dari Pakistan, seperti Lashkar-e-Taiba misalnya?

Wali: Pada kenyataannya, kita telah mengetahui sebelumnya bagaimana thawaghit Pakistan, khususnya tentara dan pasukan intelijen mereka, mereka akan memanfaatkan berbagai organisasi "Islam" pada isu Kashmir untuk kepentingan pribadi mereka yang hina. Mereka juga memanfaatkan semangat rakyat Kashmir demi kepentingan mereka sendiri, bukan untuk urusan kaum muslimin, atau demi menegakkan hukum Allah di bumi. Dan bagaimana mereka menegakkan hukum Allah di sana dengan pemimpin murtad Lashkar-e-Taiba ketika mereka bahkan tidak menegakkannya di tanah mereka sendiri! Jadi ketika "maslahat" (terjaganya kepentingan mereka) memerlukan gencatan senjata, mundur, dan menarik kembali, maka badan intelijen meninggalkan orang Kashmir begitu saja dalam situasi terburuk. Tingkat "kepentingan" Pakistan selalu berfluktuasi maju-mundur, khususnya di tahun terakhir, sampai rakyat Kashmir menemui jalan buntu dan tidak ada yang menyelamatkan mereka dari jurang tempat di mana mereka dilemparkan. Karena itu, banyak rakyat Kashmir dan para prajurit keluar dari faksi dan hijrah ke Wilayah Khurasan, walhamdulillah.

Dengan demikian, ada peluang besar, dengan izin Allah, untuk menegakkan dienullah dan untuk perluasan wilayah Daulah Islam di sana. Ada perencanaan khusus di daerah tersebut dan Muslim akan segera mendengar berita menyenangkan tentang ekspansi Khilafah ekspansi di tanah mereka, insya Allah.

Faksi murtad dan agen dari thawaghit “Pakistan” seperti Lashkar-e-Taiba, tidak memiliki kontrol atas wilayah manapun di daerah Kashmir, karena mereka bergerak sesuai dengan perintah intelijen Pakistan, karena mereka adalah orang-orang yang mengarahkan pekerjaan mereka, mendorong mereka ke depan ketika mereka ingin dan menarik mereka kembali ketika mereka inginkan. Mereka juga menyembunyikan pekerjaan mereka ketika mereka ingin, tergantung pada situasi lokal dan global dan berdasarkan kepentingan pribadi dan material, tanpa mempertimbangkan kepentingan kaum muslimin di Kashmir.

Dabiq: Apakah engkau memiliki nasehat untuk kaum muslimin secara umum, dan muslimin di Khilafah secara khusus?

Wali: Ya, aku wasiatkan kepada mereka:

Wahai Muslimin, wahai saudara-saudaraku di jalan Allah, takutlah kepada Allah mengenai dirimu dan kasihanilah dirimu. Lihatlah sekitarmu, semua sekte kufur dan atheisme serta sekte murtaddln telah berkumpul. Mereka telah berkumpul memerangi kaum Muslimin. Mereka tidak akan membiarkan umat Islam mempraktekkan agama secara kaffah sehingga ia benar-benar untuk Allah. Mereka hanya membiarkan Muslim untuk mempraktekkan beberapa ibadah seperti shalat, haji, dan zakat. Mereka tidak ingin Muslim untuk menjalankan semua aspek kehidupan mereka berdasarkan perintah dan larangan Allah.

Oleh karena itu, aku menasehatkan kepada kalian sebagaimana kuffar dan murtaddln telah berkumpul memerangi kalian untuk mencegah kalian dari menegakkan dien kalian, dan menjauhkan Islam dari mereka, serta menghabisinya... Maka aku menasehati kalian, demi Allah bersatulah dan berkumpullah memerangi dunia kekufuran, kemurtaddan, dan atheisme. Allah telah melarang perpecahan secara jelas dalam firman-Nya dan Dia telah memerintahkan ketaatan terhadap Jamaah dan untuk memegang teguh tali agama Allah.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” [Ali lmran: 103].

Karena itu, bersatu dan berkumpullah atas perintah Allah kepada kita untuk tidak bercerai-berai. Bersatulah sehingga kalian tidak kehilangan kekuatan dan kalah. Sebagaimana Allah melarang syirik, perzinaan, memakan apa yang haram, dan sebagainya dengan perintah-Nya, Allah juga sangat melarang perpecahan. Dan tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk mengimani sebagian Kitabullah dan mengingkari sebagian lainnya. Khilafah ini sangat penting dalam penegakkan hukum Allah. Ia membangun kesatuan di antara Muslimin dan mencegah perpecahan. Ia juga mengendalikan urusan mereka.

Demikian juga, solusi untuk semua masalah umat terletak pada pembentukan Khilafah. Allah kini telah memberikannya pada kita atas rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga. Maka bersyukurlah atas rahmat Allah dan ia akan menambahkannya untukmu, dan hal pertama sebagai bentuk rasa syukur adalah menyadari karunia-Nya dan berhijrah ke bumi Khilafah.

Oleh karena itu, aku menyeru pada seluruh Muslimin di muka bumi ini dan kukatakan pada mereka:

Majulah untuk memperkuat dan menyatukan barisan kaum muslimin. Majulah untuk mendukung agama Allah yang diwahyukan dari atas langit ketujuh. Majulah untuk membantu Khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Majulah untuk berbai'at pada khallfah dan imam yang mengurusi kesejahteraan kalian. Majulah, dan biarkan setiap kalian memberikan apa yang yang dapat ia sumbangkan. Majulah untuk memerangi kaum kuffar, musyrikin, dan murtaddln, dan menyingkirkan kepalsuan mereka, yang penuh keangkuhan dan melakukan kezhaliman di bumi. Dan jangan mendengarkan setiap gonggongan yang menyesatkan dan menjauhkanmu dari kebenaran yang telah Allah anugerahkan.

Kalian melihat dan mendengar bagaimana mereka meremehkan Khilafah dan tentaranya dan menuduh mereka, seperti kebiasaan setiap kuffar yang keras kepala: sesat, menyimpang, serta murtad. Mereka kadang-kadang menuduh tentara Khilafah Takfiri, di waktu lain Khawarij.

Kalian melihat dan mendengar bagaimana media murtad Pakistan, yang berfungsi sebagai agen Yahudi dan Kristen, menuduh mujahidln Wilayah Khurasan -tanpa sedikit rasa malu dan tanpa bukti- menjadi agen intelijen India. Semua penggonggong melakukannya karena permusuhan terhadap agama Allah, demi Syaitan, dan untuk merusak reputasi Khilafah dan mujahidln serta untuk menyesatkan kaum Muslimin secara umum sehingga mereka tidak berhijrah ke bumi yang diberkahi yang telah Allah anugerahkan untuk mereka.

Para "Ulama" sesat yang menyesatkan bahkan telah meninggalkan fatwa rusak mereka yang semula mereka arahkan untuk melawan dan memerangi kuffar dan murtaddin yang berperang melawan agama dan manhaj mulia, kini justru mengarahkan perhatian dan fatwa-fatwa memalukan mereka terhadap orang-orang yang menegakkan Islam dan meninggikan panji Khilafah.

Maka jangan meletakkan perhatianmu pada berbagai penggonggong yang menggonggong dari tempat sampah mereka. Berangkatlah menuju Khilafah, dengan rahmat Allah, dan jangan takut dengan kritik dan cacian di jalan Allah.

Adapun nasehatku secara khusus untuk kaum muslimin di Khilafah, kukatakan kepada mereka:

Selamat atas rahmat dari Allah ini, Khilafah yang Rabbmu telah anugerahkan kepadamu, karena sungguh Allah telah memberikanmu anugerah yang besar, maka jangan melupakan rahmat yang luar biasa ini. Sungguh, kami telah menanti terwujudnya Khilafah dalam ketidaksabaran dan kecemasan sepanjang masa jihad lalu. Maka jangan menyepelekan karunia yang berharga ini. Penuhi haknya dan bersyukurlah selalu untuk hal ini. Hiasi diri dengan akhlaq dan karakter yang mulia dan dengan perbuatan-perbuatan baik. Pertama, agar Allah meridhai kita karena telah melakukannya, dan Kedua agar menjadi cara untuk mengajak orang lain kepada agama Allah, sehingga mereka yang tersesat dan yang tidak mendapat petunjuk dapat mengikutimu dan menemukan apa yang mereka cari melalui karakter, segala amal dan perilakumu.

Dengan demikian, mereka akan melihat kenyataan Khilafah dan merasakan urgensinya bagi mereka dan bagi semua Muslim, dan kemudian akan membalaskan dendam atasnya dan menolong agama Allah melalui itu. Upaya ini juga menjadi sarana untuk mengajak pada realitas manhaj Khilafah, dimana terciptanya nuansa islami, dimana ia menemukan segala macam kebaikan, keselamatan, dan keamanan. Dan sehingga itu juga dapat menjadi sarana untuk menyeru kuffar untuk menerima Islam dan menyerah di bawah naungan Khilafah.

Aku juga menyarankan pada saudaraku sesama Muslim di Khilafah untuk :
- Mengerahkan segala yang mereka miliki dalam berjuang dan berjihad, dan
- Mengorbankan segala yang berharga dan ia sayangi kepada mereka, dan
- Untuk tidak menyepelekan usaha apapun, bahkan jika itu kecil, dan semua itu ia lakukan demi memperkuat Khilafah, serta
- Janganlah bermaksiat pada Allah secara terang- terangan atau secara rahasia, karena rahmat akan berkurang dan ditarik kembali dengan sebab dosa, dan
- Bersungguh-sungguhlah untuk mengarahkan semua aspek kehidupan mereka sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah, dan
- Untuk tidak melanggar salah satu perintah Khalifah agar Allah tidak menjadi murka pada mereka.

“Hai orang- orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” [An-Nisa : 59].

PERBINCANGAN MUSUH - DABIQ 13

DABIQ 13 - PERBINCANGAN MUSUH

DAULAH ISLAM DALAM PERBINCANGAN MUSUH

Pada sebuah edisi majalah "TIME" yang dirilis tidak lama setelah serangan Paris yang diberkahi, Michael Morell -mantan wakil direktur CIA yang juga dua kali menjabat direktur operasinya- menulis sebuah artikel berjudul "Apa Yang Akan Datang Selanjutnya, Dan Bagaimana Kita Menanganinya? ISIS Akan Menyerang Amerika."

Meskipun ada kesalahan fatal pada judul tersebut -karena kesatria Daulah Islam telah berulang kali menyerang Amerika sebelum majalah itu dirilis, termasuk serangan yang dilakukan oleh syuhada Usama Rahim, Zale Thompson, Elton Simpson, Nadir Soofi, dan lainnya, semoga Allah menerima mereka semua, kami sajikan artikel tersebut di bawah ini.

Kekhawatiran Morell segera terjawab dengan cepat oleh dua pahlawan pemberani Khilafah: suami istri yang syahid, Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik, semoga Allah menerima mereka berdua.

Ya memang, Daulah Islam telah sekali lagi menyerang Amerika di negaranya sendiri.

Meskipun demikian, salibis Michael Morell menyebutkan kata-kata berikut ini dalam artikelnya:

"ISIS menjadi ancaman besar bagi Amerika Serikat dan kepentingannya di luar negeri, dan ancaman itu tumbuh setiap hari. Sifat dan makna ancaman berasal dari fakta bahwa ISIS adalah -semua pada saat yang sama- kelompok teroris, negara dan gerakan revolusi politik. Kami tidak pernah menghadapi musuh seperti ini."

"Sebagai kelompok teroris, ISIS menjadi ancaman bagi tanah air. Ancaman itu sebagian besar tidak langsung dan disebabkan kemampuan ISIS meradikalisasi pemuda Amerika untuk melakukan serangan di sini. FBI memiliki lebih dari 900 penyelidikan terbuka terhadap ekstrimis dalam negeri, sebagian besar diradikalisasi oleh ISIS, dan sejumlah besar investigasi itu tentang mereka yang mungkin merencanakan makar di sini..."

"Ada potensi jumlah serangan (dalam negeri) berjumlah besar. Banyaknya jumlah pengikut ISIS membuat jumlah pengikut al-Qaeda terlihat kecil. Seiring waktu, ancaman tidak langsung, jika tidak dikurangi secara signifikan, akan berubah menjadi ancaman langsung, yaitu ISIS akan memiliki kemampuan untuk merencanakan dan memerintahkan serangan-serangan dalam negeri ini dari basisnya di Iraq dan Suriah, seperti yang mereka lakukan di Paris."

"Serangan seperti itu harus diperhatikan secara mendalam karena mereka berpotensi menjadi jauh lebih canggih dan kompleks -sehingga lebih berbahaya- daripada serangan dari dalam negeri, sekali lagi, seperti di Paris baru-baru ini, London tahun 2005 atau bahkan 9/11. Dan tertera dalam berita, yang harus diperhatian semua orang, ISIS telah menunjukkan minat kepada senjata pemusnah massal."

"Serangan di Paris adalah wujud pertama dari upaya ISIS untuk mengumpulkan kemampuan menyerang Eropa - upaya yang dimulai kurang dari setahun yang lalu. Kepala agen keamanan domestik Inggris baru-baru ini memperingatkan bahwa ISIS sedang merencanakan serangan massal di Inggris. Kekhawatirannya cukup beralasan. Kami tidak akan jauh di belakang."

"Sebagai negara, ISIS mengancam stabilitas regional - sebuah ancaman bagi integritas wilayah negara dan bangsa saat ini, sebuah ancaman akan berkobarnya perang sektarian di seluruh wilayah..."

"Sebagai gerakan revolusi politik, ISIS mendapat sekutu- sekutu dari kelompok ekstremis di seluruh dunia. Mereka bersepakat atas apa yang menjadi tujuan ISIS: sebuah khilafah global di mana kehidupan sehari-hari diatur oleh pandangan agama yang ekstrim. Menurut ISIS, kekhalifahan global akan meluas hingga Amerika Serikat."

"Ketika mereka bergabung dengan ISIS, afiliasi/sekutu tersebut berkembang dari berfokus pada isu-isu lokal menjadi berfokus pada perluasaan kekhalifahan. Dan target mereka berubah dari lokal menjadi internasional. Ini adalah kisah pemboman maskapai Rusia oleh kelompok ISIS di Sinai Mesir."

"ISIS telah mendapatkan afiliasi lebih cepat dari yang pernah didapat al-Qaeda. Sejak kurang dari setahun yang lalu, sekarang kelompok-kelompok militan yang berbai'at kepada ISIS di hampir 20 negara. Mereka telah melakukan serangan yang membunuh orang Amerika, dan mereka berpotensi untuk merebut wilayah yang besar..."

Morell mengakhiri artikel dengan mengatakan:

"Pak Presiden, jatuhnya pesawat Rusia dan serangan di Paris membuatnya sejelas kristal bahwa strategi kita terhadap ISIS tidak bekerja."

Ya, strategi salibis tidak bekerja karena Daulah Islam akan tetap eksis. Ini adalah negara yang melakukan teror pembalasan terhadap musuh-musuhnya yang kafir, musyrik, dan murtad. Dan ia akan terus meluas sampai panjinya berkibar di atas Konstantinopel dan Roma. Sampai saat itu, biarkan tentara salib terbiasa dengan suara ledakan dan gambar dari pembantaian di tanah air mereka sendiri.