Rabu, 25 April 2018

GREEN ZONE, PROYEK KONSPIRASI DAN KONTROL SEMU

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

GREEN ZONE, PROYEK KONSPIRASI DAN KONTROL SEMU

Si Thaghut Turki Erdogan sejak permulaan jihad di Syam telah mempromosikan proyek sebuah daerah penyangga yang berfungsi sebagai perlindungan bersama dari bom-bom pesawat Nushairi sekaligus menyediakan kebutuhan logistik. Tanggung jawab perlindungan daerah ini diserahkan ke pundak pilot-pilot Turki dengan bantuan Amerika dan NATO. Namun proyek ini gagal karena tidak disetujui oleh Amerika dan NATO. Bahkan rudal pertahanan udara PATRIOT yang bisa digunakan untuk melindungi buffer zone tersebut dari pesawat-pesawat Nushairi malah ditarik mundur.

Mendapat Persetujuan

Dengan semakin sengitnya operasi menumpas Daulah Islamiyah yang dilancarkan oleh koalisi Salibis pimpinan Amerika, setiap pihak bisa mempromosikan proyek-proyek pribadinya dengan syarat bertujuan menumpas Daulah Islamiyah. Si Thaghut Erdogan dan faksi-faksi shahawat sekutunya kembali menyodorkan proyek buffer zone tersebut dengan sentuhan baru, yaitu bahwa daerah ini berfungsi sebagai pangkalan baru operasi penumpasan Daulah Islamiyah. Pangkalan ini akan menjadi titik tolak operasi-operasi yang meliputi tepi barat (Syam) Sungai Eufrat berseiringan dengan operasi-operasi PKK di tepi timur Sungai Eufrat. Sehingga tidaklah aneh jika dua poros yang tampaknya saling bermusuhan namun sebenarnya saling membantu itu diberi kode nama yang hampir mirip yaitu Dir’ul Furat (Perisai Eufrat) yang dikomandoi Turki dan sekutu-sekutunya, dan Ghadhabul Furat (Kemurkaan Eufrat) yang digawangi oleh PKK dan konco-konconya. Jadilah poros ini menjadi poros baru ditambah dengan poros Rafidhah di Irak, Peshmerga di Kurdistan, PKK di al-Jazirah, dan rezim Nushairi di Aleppo dan al-Badiyah.

Dengan alasan itu, akhirnya Turki mendapat restu untuk bergerak menuju Jarablus, ar-Ra’i sampai di kota al-Bab, di bawah bantuan udara, logistic dan persenjataan Amerika dalam banyak tahapan operasinya.

Untuk menghindari penolakan rezim Nushairi dan sekutu Rusia serta Irannya, pemerintahan Turki murtad melakukan negosiasi dengan salibis Rusia. Dalam negosiasi tersebut Turki menjamin bahwa pergerakannya di pinggiran utara dan timur Aleppo itu hanya untuk menumpas Daulah Islamiyah tidak akan menyentuh sedikitpun rezim Nushairi dan sekutunya.

Proyek Penting

Si Thaghut Erdogan dan elemen-elemen pemerintahan murtadnya selalu sesumbar bahwa buffer zone itu berfungsi untuk mencegah berdirinya negara Kurdi yang dicita-citakan oleh PKK sekuler kafir, yaitu dengan menguasai zona yang membentang sepanjang lebih dari 50 km antara Jarablus sampai I’zaz. Daerah ini berfungsi sebagai pembatas antara tepi barat dan timur Eufrat yang dikontrol oleh PKK. Zona ini juga berfungsi untuk membendung aliran mujahid yang menuju wilayah-wilayah Daulah Islamiyah.

Namun yang mencermati realitas lapangan dan pentas politik yang terjadi di Turki dan Syam akan mengetahui bahwa proyek ini jauh lebih penting daripada sekedar mengaborsi proyek negara Kurdi sekalipun hal itu juga penting.

Dengan keberhasilan tentara Turki mengontrol sebagian wilayah Syam maka hal itu berarti mereka memiliki sarana penekan penting atas rezim Nushairi kedepannya melebihi pentingnya memegang kuasa atas banyak faksi murtad, yang hal itu berarti sekian banyak keuntungan yang akan didapatkan nantinya jika mereka mundur dari zona ini apapun bentuknya pemerintahan Thaghut di Damaskus nantinya.

Kontrol sementara Turki atas zona ini dengan bantuan udara Rusia atau Amerika yang mencegah gempuran rezim Nushairi itu berarti solusi atas sejumlah besar pengungsi yang merepotkan atau sedikit manfaatnya dengan cara membangun kamp-kamp pengungsian di zona ini, sehingga terlepas dari biaya besar yang membebani perekonomiannya yang sedang terpuruk.

Ditambah lagi Turki akan mampu merekrut pejuang-pejuang yang berada di kamp-kamp ini untuk proyek-proyeknya nanti di Syam. Jika Iran mengendalikan milisi-milisi Rafidhah yang tergabung dalam Hasyad Rafidhi dan menggunakannya untuk memuluskan rencana-rencananya, maka dengan hal itu memungkinkan bagi Turki untuk berbicara mengenai Hasyad Shahawat yang akan dimanfaatkannya untuk mengamankan kepentingan-kepentingannya baik di Syam maupun secara regional.

Zona Penyangga Yang Diterima

Dengan penandatanganan perjanjian damai antara rezim Nushairi dan shahawat murtad yang diawasi oleh salibis Rusia, para pejabat Rusia berbicara tentang perlunya mengisolasi oposisi militant dari yang moderat sekalipun mereka mengetahui hubungan erat antara faksi-faksi shahwat murtad itu baik yang murni sekuler maupun mengaku-aku menegakkan syariat. Isolasi ini penting agar oposisi moderat yang menerima negosiasi dengan rezim Nushairi dan menyerahkannya pada badan otoritas negosiasi yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri rezim Nushairi si murtad Riyadh Hijab tidak menjadi target pembom Rusia, sehingga hanya menargetkan oposisi militant yang menolak negosiasi tersebut.

Namun wacana tersebut mustahil dilakukan karena yang menolak maupun yang menerima negosiasi itu sulit dipisahkan lantaran yang moderat tidak mampu mengusir pihak lain itu dari barisannya. Gambaran ini tampak semakin jelas sebelum kota Aleppo jatuh sepenuhnya ke tangan tentara Nushairi sampai si Thaghut Erdogan menyodorkan formula yang bisa diterima oleh shahawat murtad untuk proses pengisolasian ini. Orang-orang murtad itu percaya padanya bahwa Russo-Nushairi mengizinkan pembuatan zona penyangga ini yang berfungsi memisahkan shahawat moderat dari rekan militannya sehingga bisa fokus pada penumpasan Daulah Islamiyah saja. Mereka juga akan dilindungi dari bombardir Nushairi dan Rusia selama mereka komitmen dengan tugasnya itu.

Proyek Russo-Turki

Setelah proses penyerahan Aleppo kepada rezim Nushairi berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani oleh Rusia dan Turki selesai, dimulailah proyek Rusia-Turki baru untuk di-copypaste-kan pada daerah kontrol shahawat lain di Syam. Hal itu berdasarkan kesepakatan damai antara shahawat dan rezim Nushairi yang dituangkan dalam tiga poin:

Pertama; Menghentikan kontak senjata di antara kedua belah pihak di seantero Syam.

Kedua; Membentuk pemerintahan bersama antara rezim Nushairi dan murtaddin oposisi bersenjata serta politik berdasarkan sekulerisme, demokrasi, dan merepresentasikan masingmasing komponen masyarakat. Kendali pemerintahan kembali dipegang oleh Nushairi, dan pejuang-pejuang shahawat dileburkan dalam tentara Nushairi.

Ketiga; Pada akhirnya peperangan terjadi hanya untuk menumpas Daulah Islamiyah saja.

Zona penyangga dalam kesepakatan ini berfungsi sebagai zona gencatan senjata pertama secara resmi setelah dilaksanakan sebelumnya sejak beberapa bulan dimulainya operasi Perisa Eufrat. Zona ini menjadi perlindungan seluruh faksi dan organisasi yang masuk dalam proyek Rusia-Turki. Mereka berpindah ke sana dengan membawa seluruh persenjataan, logistik, dan keluarganya. Sedangkan seluruh faksi-faksi murtad yang tidak menandatangani kesepakatan damai dengan rezim Nushairi akan berkumpul di Idlib sehingga mereka dengan mudahnya akan dihujani bombardir pembom Rusia dan Nushairi dan disudutkan oleh milisi Rafidhah. Siapapun yang ingin keluar dari neraka ini tidak punya pilihan kecuali menyerahkan dirinya dan bergabung dengan tentara Nushairi, atau masuk ke Turki melalui pintu perbatasan resmi lalu dipindah ke buffer zone tersebut dan bergabung dengan tentara shahawat moderat untuk memerangi Daulah Islamiyah dan membiarkan sama sekali rezim Nushairi.

Proyek ini terus berjalan sampai daerah-daerah di Idlib, as-Sahil, dan pinggiran utara Hama dikuasai sepenuhnya oleh tentara Nushairi setelah dikosongkan dari prajurit-prajurit shahawat yang tersisa yang datang dari kantong-kantong di Himsh, Damaskus, Qolamun, dan Dar’a. Tanda bahwa elemen-elemen murtad shahawat menerima kesepakatan damai tersebut adalah dengan masuk dalam barisan tentara Nushairi atau masuk dalam tentara shahawat moderat dalam zona penyangga itu, khususnya jika tidak ada lagi pilihan tinggal di Turki setelah pemerintahan Turki memindahkan seluruh kamp-kamp pengungsian ke dalam zona penyangga tersebut.

Ketika itulah akan diadakan kesepakatan penggabungan faksi-faksi di zona penyangga itu ke dalam tentara Nushairi dalam bentuk batalyon-batalyon yang menyerupai faksi-faksi Jaisy Sya’bi, atau dileburkan dalam kepolisian di bawah kementerian dalam negeri pemerintahan bersama nantinya. Dengan ini seluruh usaha akan dipusatkan untuk menumpas Daulah Islamiyah.

Seperti Shahawat Irak

Ketika “tunas-tunas” shahawat Syam mulai bermunculan, Daulah Islamiyah telah memperingatkan orang-orang murtad itu bahwa mereka akan melalui jalan shahawat Irak setapak demi setapak namun dengan nasib yang lebih buruk daripada moyangnya.

Daulah Islamiyah tidak akan membiarkan mereka. Salibis dan thaghut pun tidak akan memenuhi janji-janjinya. Nushiriyah dan Rafidhah tidak akan memberikan angan-angan mereka. Bahkan para prajurit Khilafah akan terus berusaha memenggal kepala mereka. Orang-orang Rafidhah dan Nushairiyah akan terus berusaha melemahkan, menundukkan dan mencerai-beraikan mereka. Tidak sulit bagi Rafidhah dan Nushairiyah untuk membuka file-file lama dan mengadili dengan tuduhan baru bagi siapapun yang menentang. Salibis dan thaghut akan meninggalkan mereka segera setelah keperluannya selesai. Tidak ada yang selamat kecuali yang meminta suaka ke negara-negara tetangga seperti yang terjadi pada para gembong shahawat Irak.

Shahawat akan diberantas dan Daulah Islamiyah dengan izin Allah akan kembali menguasi wilayah-wilayah yang terpaksa ditinggalkannya. Prajuritnya akan masuk ke Turki dengan bergelombang dan menjadikannya wilayahnya yang baru. Syariat Allah akan diterapkan. Patung Attaturk akan diruntuhkan, pun berhala demokrasi, sekulerisme, sufi, dan Ikhwanul Murtaddin. Semua itu tidaklah sulit bagi Allah.

SERANGAN ISTANBUL, AMALIYAH YANG DIBERKAHI

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

SERANGAN ISTANBUL, AMALIYAH YANG DIBERKAHI

Setiap petaka yang menimpa orang-orang musyrik melalui tangan mujahidin akan segera direspon oleh orang-orang kafir dan sesat dengan memutar balikkan fakta lewat lisan dan tulisan mereka. Tujuannya adalah menyudutkan, mencaci, dan menampakkan para muwahhid sebagai penjahat kejam yang tak mempedulikan harga diri maupun agama. Air mata dusta pun mengucur menangisi agama yang mereka sendiri mengingkarinya, dan darah yang mereka sendiri telah menumpahkannya berkali-kali lipat lebih banyak. Itu jugalah yang terjadi pasca serangan Istanbul terakhir. Serangan mengagetkan di tengah-tengah pesta meriah orang-orang musyrik. Pesta awal tahun salibis yang dinamakan dengan tahun baru Masehi. Mereka berkoar-koar menuduh para muwahid telah menumpahkan darah haram dan melegalkan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.

Pada tulisan ini kami berusaha mempersembahkan penjelasan permasalahan ini dalam beberapa sisi. Agar gambaran ini menjadi jelas dalam benak kaum muslimin, dan agar jalan para penjahat menjadi terang.

Kami tidak percaya dengan daftar nama korban tewas dan terluka yang dirilis oleh media thaghut. Hal itu karena kebiasaan mereka sejak dulu dan bukti-bukti yang ada sekarang secara akurat membuktikan kebohongan dan pengkaburan mereka dalam hal ini. Sebagaimana tingkah thaghut Yordania sebelumnya dalam peristiwa Hotel Oman yang berbarokah yang menargetkan pertemuan salibis antek CIA dan para pejabat shahawat Irak murtad. Thaghut Yordania menyembunyikan realitas ini dan membuat isu bahwa yang menjadi korban hanyalah beberapa orang yang sedang menghadiri acara pesta pernikahan di hotel tersebut, yang barang kali tanpa sengaja terkena serpihan sabuk peledak istisyhadi yang menarget salibis dan murtadin.

Fitnah lebih besar daripada pembunuhan.

Allah ta'ala berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” (QS. al-Baqarah: 217).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang sebab turunnya ayat ini, “as-Suddi berkata, ‘Dari Abu Malik dan Abu Shalih, dari Ibnu Abbas dan Murrah, dari Ibnu Mas‘ud, ‘Mereka bertanya padamu tentang Bulan haram, tentang berperang di dalamnya? Katakanlah bahwa berperang di dalamnya adalah dosa besar’, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengirim sebuah sariyah yang terdiri dari tujuh prajurit di bawah pimpinan Abdullah bin Jahsy al-Asadi. Ibnu Jahsy terus berjalan sampai ke tengah Lembah Nakhlah. Tiba-tiba ia bersua dengan al-Hakam bin Kisan, al-Mughirah bin Utsman, Amru bin al-Hadhrami dan Abdullah bin al-Mughirah. Ibnul Mughirah berhasil lolos, al-Hakam bin Kaisan dan al-Mughirah ditawan, sedangkan Amru terbunuh ditangan Waqid bin Abdullah. Para sahabat Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendapatkan ghanimah pertama kali dalam sariyah ini. Kaum Musyrikin gempar. Mereka sesumbar, “Muhammad mengklaim bahwa dia taat kepada Allah, tetapi dia jugalah yang pertama kali menghalalkan bulan haram dan membunuh teman kami pada bulan Rajab.” Maka kaum muslimin menjawab, “Sesungguhnya kami membunuhnya dalam bulan Jumada (al-Akhirah)”, atau pada malam terakhir Jumadal Akhirah dan permulaan Rajab. Lalu kaum muslimin menyarungkan pedang mereka ketika masuk bulan Rajab. Maka Allah menurunkan firman-Nya mencela penduduk Mekah, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang berperang dalam bulan haram. Katakanlah, ‘Berperang (Ofensif) dalam bulan itu adalah dosa besar.’ (QS. alBaqarah: 217), yaitu tidak halal. Namun tingkah kalian wahai orang-orang musyrik, lebih besar dari pada melakukan pembunuhan pada bulan Haram. Kalian kafir kepada Allah, menghalang-halangi Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, dan mengusir penduduk Masjidil Haram, yaitu ketika mereka mengusir Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Itu semua lebih besar dosanya di sisi Allah daripada membunuh.”

Lagipula Allah ta'ala telah menetapkan pahala hijrah dan jihad untuk Abdullah bin Jahsyi radhiyallahu anhu dan rekan-rekannya sebagai balasan atas amal mereka, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq berkata, “Ketika al-Qur’an turun mendukung tindakan Abdullah bin Jahsy dan rekanrekannya, mereka berhasrat mendapatkan pahala lebih banyak. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kita berharap ikut berperang yang dengannya kita mendapat pahala hijrah dan jihad? Maka Allah ta'ala menurunkan firman-Nya, ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (QS. al-Baqarah: 218). Dengan itu Allah memposisikan mereka dalam pengharapan yang paling besar.

Hakikat sebenarnya

Mungkin yang mendengar tuduhan kaum musyrikin kepada Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya karena berperang pada bulan haram mengira bahwa orang-orang musyrik betul-betul menghormati bulan-bulan haram ini. Allah telah mengharamkan berperang pada bulanbulani ini. Padahal faktanya justru sebaliknya. Sikap mereka itu sebenarnya lebih mirip olok-olok daripada menghormati. Tiap kali mereka merasa sulit untuk menghentikan perang selama tiga bulan berturutturut mereka justru melakukan dosa yang lebih besar daripada maksiat perang, yaitu merubah hukum Allah dengan cara an-Nasi’ (mengulur waktu). Maksudnya ialah menghalalkan perang pada salah satu bulan yang diharamkan oleh Allah, lalu sebagai gantinya mengharamkan berperang di salah satu bulan yang diperbolehkan untuk berperang. Dengan demikian mereka telah membolehkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Bahkan mereka merasa bangga dengan perbuatan kotor ini sebagaimana ungkapan salah seorang penyair,

Kamilah orang-orang yang suka menangguh-nangguhkan dengan sengaja
Bulan-bulan halal kami jadikan bulan-bulan haram

Allah ta'ala berfirman, “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundurundurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. at-Taubah: 37).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Laits bin Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid bahwa dahulu ada seorang lelaki Bani Kinanah yang setiap tahunnya selalu datang ke musim haji dengan mengendarai keledai. Ia lalu berseru, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah orang yang tidak pernah dicela dan tidak pernah dibantah, dan tidak ada yang menolak apa yang aku katakan. Sesungguhnya kami mengharamkan bulan haram dan menangguhkan bulan Safar.’ Kemudian ia datang lagi pada tahun berikutnya dan mengatakan hal yang sama, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya sekarang kami haramkan bulan Safar dan kami menangguhkan bulan haram.’ Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya, “Agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya.” Yakni yang empat bulan itu. “Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah”, yaitu karena mereka, menangguhkan bulan haram itu. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Abu Wail, adh-Dhahhak, dan Qotadah.”

Jadi orang-orang musyrik tidak akan pernah menghormati syiar-syiar Allah, hari-hari dan kehormatan-kehormatan-Nya. Mereka hanya ingin mempermainkan dan mengolok-olok agama Allah, menciptakan syariat yang tidak diizinkan oleh-Nya, lalu mengingkarinya secara total. Lalu setelah itu mereka menelusuri cacat-cacat umat islam dan agamanya, dan mencaci-maki umat Islam dengan fitnah murahan. Mereka mengklaim bahwa merekalah yang mengikuti jalan kebenaran sekalipun kenyataannya kafir dan menyekutukan Allah.

Seperti itu jugalah tingkah thaghut hari ini dan ulama durjana budak mereka yang selalu mempermainkan syariat. Mereka mencela mujahidin karena memerangi orang-orang murtad dan menargetkan tempat-tempat ibadah dan pesta hari raya orang-orang musyrik. Mereka menipu manusia dengan menuduh mujahidin membunuhi umat islam dan orang-orang yang mendapatkan jaminan keamanan, menargetkan masjid dan mengkafirkan muslim pelaku maksiat seperti tindakan Khawarij dahulu.

Thawaghit itu lupa bahwa kafir kepada Allah ta'ala dan menyaingi-Nya dalam perundang-undangan, hukum serta ke-ilahian-Nya merupakan kejahatan terbesar secara mutlak. Termasuk sengaja membunuhi kaum muslimin dan orang-orang yang mendapat jaminan keamanan dan malah melabelkannya pada mujahidin sekalipun mereka tahu pasti bahwa mujahidin terbebas dari hal itu.

Ulama durjana dan pegiat media budak mereka lupa bahwa klaim majikannya menghormati darah kaum muslimin adalah sekedar dusta belaka. Dusta yang telah terbongkar dengan penjara tempat penyiksaan kaum muslimin, dengan pembantaian masal umat islam di bumi Daulah Islamiyah lewat bombardier pesawat, dan dengan bantuan yang mereka berikan kepada siapapun yang tangannya terlumuri darah umat Islam baik salibis, Yahudi, Rafidhah, Hindu maupun Budha.

Terbunuhnya muslim sebagai imbas tidak berarti menghalalkan darahnya

Tuduhan bahwa mujahidin membunuhi kaum muslimin dan menghalalkan darahnya sejatinya tuduhan lama yang terus menerus dibantah oleh para muwahhid. Telah jelas bahwa mujahidin itu berhati-hati dengan darah yang haram. Disaat yang sama juga memperingatkan umat islam agar tidak berbaur dengan orang-orang musyrik. Terutama di tempat-tempat yang kemungkinan akan diserbu seperti pos-pos militer dan keamanan, kantor-kantor pemerintah, dan tempat-tempat ibadah serta perayaan mereka. Maka siapa saja yang menyelisihi perintah Allah agar memisahkan diri dari orang-orang musyrik dan meninggalkan negeri mereka malah sengaja berbaur dengan mereka sehingga tidak bisa dibedakan sejatinya ia hanya membahayakan dirinya sendiri. Para mujahidin tidak akan bertanggung jawab, dan Allah akan membangkitkannya sesuai dengan niatnya.

Jika mujahidin diperbolehkan menyerbu orang-orang musyrik sekalipun berimbas melayangnya jiwa-jiwa yang dimanfaatkan sebagai pelindung dari serangan mujahidin, lalu bagaimana kiranya dengan orang yang sukarela berbaur dengan orang-orang musyrik di tempat-tempat kefajiran mereka? Ikut serta dalam hingar bingar perayaan dan bertasyabbuh dengan tingkah mereka? Kemudian jika dia terkena imbas suatu aksi yang telah Allah perkenankan untuk umat islam, bahkan Dia memotivasinya, yaitu membunuhi dan menyakiti orang-orang musyrik muharib, dia malah protes panjang pendek.

Demikianlah mujahidin menyerbu kelab malam di Istanbul dengan target orang-orang musyrik, setelah mereka semaksimal mungkin mengintai, memilih, merancang, dan mengeksekusi. Tidak masalah bagi jika ada yang mungkin masih dihukumi muslim yang terluka atau terbunuh selama aksi berlangsung sekalipun telah pasti kefasikan dan kefajirannya.

Kafe atau kelab malam?

Para thaghut dan budak mereka merasa jengah dengan merebaknya kisah tewasnya rakyat mereka di tempat pesta kesyirikan yang merupakan sebuah kelab malam. Orang awampun tahu bahwa tempat ini adalah tempat kefasikan dan kefajiran. Para pengunjungnya adalah orang-orang kafir dan fasik baik laki-laki maupun perempuan. Jadi tidak mungkin menyebut korban yang jatuh itu sebagai wali-wali Allah dan para syuhada sebagaimana kebiasaan mereka ketika menggambarkan setiap korban tewas di tangan mujahidin. Maka digunakanlah strategi merubah nama yang selalu digunakannya tiap kali hendak mempermainkan syariat. Tempat kefasikan dan kefajiran itu mereka sebut sebagai kafe agar disimpulkan seakan mujahidin menyerang pengunjung yang sedang makan dan minum, perbuatan yang mubah ditempat yang juga mubah yaitu restoran.

Sebenarnya, tempat yang diserbu dalam serangan Istanbul yang berbarokah itu baik disebut restoran, kelab malam, maupun gedung biasa, itu sama sekali tidak merubah hukum. Tempat itu adalah tempat perayaan orang-orang yang menyekutukan Allah ta'ala, yang boleh diserang dan diganggu. Apalagi jika merupakan tempat kefasikan dan kefajiran yang kaum muslimin tidak diperbolehkan memasukinya.

Para prajurit Daulah Islamiyah hari ini tidak ragu lagi untuk menyerang orang-orang musyrik Rafidhah, Ismailiyah, dan lainnya di tempat-tempat ibadah mereka meskipun disebut sebagai masjid. Karena hakikatnya adalah tempat untuk beribadah kepada selain Allah yang harus dijauhi oleh umat islam. Tidak boleh berdiam di sana atau bahkan sekedar lewat. Apalagi beribadah di sana meskipun untuk Allah semata. Umat Islam telah jelas dilarang untuk beribadah kepada Allah namun menyerupai ibadah kepada selain-Nya, seperti sholat menghadap api agar tidak menyerupai tata cara shalat majusi, melaksanakan shalat tepat di waktu fajar dan terbenamnya matahair agar tidak menyerupai waktu shalat orang-orang shabiah musyrik, dan juga menjauhi menyembelih di tempat yang digunakan orang-orang musyrik untuk menyembelih demi berhalaberhala mereka.

Jika ada orang yang dianggap muslim yang terkena imbas serangan terhadap tempat-tempat ibadah tersebut karena berada disekitarnya, maka hal itu tidak menghalangi penyerangan terhadap tempat-tempat ibadah syirik tersebut, dengan tetap berupaya untuk menjauhkan umat islam agar tidak menjadi korban, apalagi mujahidin sudah memperingatkan mereka. Lalu bagaimana dengan orang yang berada di tempat kefasikan dan kefajiran itu ikut memeriahkan hingar bingar perayaan hari raya orang-orang musyrik.

Hukum orang yang ikut serta memeriahkan perayaan orang-orang musyrik

Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya mengenai orang Islam yang membuat makanan (spesial) di waktu perayaan Nowruz (tahun baru Persia, edt), dan memeriahkan even-even seperti seperti Epifani (festival Kristen yang dirayakan tiap 6 Januari), tahun baru masehi, Kamis Suci (hari Kamis sebelum perayaan Paskah, edt), dan Sabtu Suci (perayaan dan misa pada hari Sabtu sebelum Paskah, edt), serta hukum orang yang menjual sesuatu yang bisa mendukung perayaan mereka. Boleh atau tidak umat islam melakukan hal seperti itu?

Beliau menjawab, “Segala puji bagi Allah. Tidak boleh umat islam meniru-niru hal-hal yang menjadi simbol perayaannya mereka baik berupa makanan, pakaian, membersihkan diri, menyalakan api, maupun meniadakan kebiasaan tertentu atau ibadah tertentu, atau halhal lain.”

“Tidak boleh pula mengadakan walimah, memberi hadiah, dan menjual barang-barang yang mendukung perayaan itu. Tidak boleh juga mengerahkan anak-anak kecil untuk menampilkan permainan yang terkait dengan perayaan itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.”

“Artinya tidak boleh mengkhususkan sedikitpun dengan hal-hal yang terkait dengan perayaan dan simbol-simbol mereka. Hari raya mereka bagi umat islam itu layaknya hari-hari biasa, umat islam tidak boleh ikut serta mengkhususkan sesuatu sedikitpun.”

“Adapun jika tidak sengaja menepati hari raya mereka maka sekelompok ulama salaf dan khalaf memakruhkannya. Sedangkan mengkhususkannya dengan hal-hal tersebut diatas, maka ulama tidak berselisih mengenai keharamannya. Bahkan ada sekelompok ulama yang mengkafirkan orang yang melakukan hal-hal tersebut, karena ada unsur mengagungkan syiar-syiar kafir. Sekelompok ulama berkata, ‘Barang siapa yang menyembelih nathihah (hewan ternak) pada hari raya mereka, maka seakan dia menyembelih seekor babi'."

“Abdullah bin Amru bin Ash berkata, ‘Barangsiapa tinggal di negeri-negeri ajam lalu ikut memeriahkan hari raya dan pesta pora mereka, dan bertasyabuh hingga mati dalam kondisi seperti itu, niscaya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama mereka'."

“Beberapa salaf berkomentar tentang firman Allah ta'ala, “Dan orang-orang yang tidak menghadiri az-Zur”, mereka berkata, “az-Zur artinya adalah hari raya mereka.” Jika ini hanya hadir, lantas bagaimana jika melakukan perbuatan yang menjadi ciri khasnya.”

“Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam al-Musnad dan as-Sunan bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya dia termasuk dari mereka.” Dalam lafadz yang lain, “Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami.” Hadits ini berderajat baik.”

Jika peringatan keras ini mengenai tasyabuh dalam kebiasaan sehari-hari, lalu bagaimana dengan hal yang lebih parah dari itu? Jumhur ulama berpendapat makruh, baik makruh li tahrim (karena haram) atau li tanzih (untuk kehati-hatian), memakan daging sembelihan dan sesaji perayaan mereka karena termasuk katagori binatang yang disembelih untuk selain Allah dan demi berhala. Mereka juga melarang membantu perayaan dengan memberikan hadiah atau jual beli. Mereka berkata, ‘Orang Islam dilarang menjual kepada orang Nasrani sesuatu yang terkait dengan hari raya mereka, baik itu daging, darah, maupun pakaian. Juga tidak boleh meminjamkan kendaraan serta tidak boleh membantu atas sesuatu yang terkait dengan agama mereka. Karena hal itu termasuk menghormati dan memfasilitasi kesyirikan dan kekufuran mereka. Para penguasa seharusnya melarang kaum muslimin, karena Allah ta'ala berfirman, “Dan tolong menolonglah diatas kebaikan dan taqwa dan janganlah kalian tolong menolong diatas perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. al Maidah:2)

Kemudian, seorang muslim dilarang membantu mereka minum-minum khamer dengan memeraskan anggurnya, lantar, bagaimana jika hal itu terkait syiar-syiar kekafiran? Jika menolong saja tidak boleh, lalu bagaimana jika dia pelakunya? Wallahu a’lam.” [Majmu’ Fatawa, dengan sedikit ringkas]

Serangan Istanbul adalah operasi yang berbarokah

Jadi, serangan Istanbul adalah amaliyah yang menargetkan orang-orang musyrik di tempat dan waktu pesta perayaan mereka. Banyak orang-orang musyrik dan murtad yang tewas dan terluka. Sedangkan orang-orang yang mengaku islam yang turut terbunuh, maka dia telah membinasakan dirinya sendiri karena melakukan perbuatan yang menjadikannya lebih dekat kepada kekafiran daripada islam. Dia berbaur dengan orang-orang musyrik sampai tidak bisa dibedakan sehingga darahnya tidak terjaga.

Kami memohon kemuliaan dan kemenangan kepada Allah bagi pelaku dan rekan-rekannya.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

JANGANLAH KALIAN MENJADI LEMAH DALAM MENGHADAPI MUSUH

RUMIYAH 6 - ARTIKEL

JANGANLAH KALIAN MENJADI LEMAH DALAM MENGHADAPI MUSUH

Orang-orang musyrik ahli kitab dan orang-orang murtad sekutunya tidak akan berhenti menyebarkan isu tentang jumlah fantastis tentara Daulah Islamiyah yang diklaim gugur dalam pertempuran atau akibat serangan udara. Tujuannya ialah untuk menyebarkan rasa putus asa dalam jiwa para mujahidin. Yaitu dengan mengintimidasi akan kerugian besar yang akan diderita jika tetap melanjutkan jihad melawan orang-orang musyrik demi menegakkan Dien dan melenyapkan kesyirikan.

Inilah kebiasaan orang-orang kafir. Mereka menimbang segala sesuatu hanya berdasarkan materi duniawi, karena itulah yang diketahuinya. Sebagaimana tingkah salah satu gembong mereka usai Perang Uhud. Ia membanggakan diri karena berhasil membunuh sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, berusaha menyelipkan kesedihan dalam jiwa kaum muslimin. Para sahabat pun menyanggahnya, tidaklah sama karena kaum muslimin yang gugur berada di surga sedangkan orang-orang musyrik yang tewas berada di neraka.

Allah ta'ala memerintahkan hamba-Nya para muwahhid agar jangan sampai luka-luka yang menimpa menghentikan mereka dari terus berupaya untuk mengejar, membunuh, dan memerangi orangorang musyrik, merampas tanah dan harta benda dari tangan mereka, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa: 104).

Perang tidak hanya menghasilkan kemenang dan rampasan perang, terapi juga mengakibatkan luka, rasa sakit, lelah, khawatir, senjata yang rusak, harta benda habis, dan hilangnya anggota badan.

Para Muwahhid berharap kedekatan kepada Allah ta'ala dengan segala hal yang mereka korbankan fi sabilillah. Mereka juga berharap pertolongan-Nya ketika Dia melihat kejujuran jihad mereka. Bahkan disamping mereka memohon pertolongan untuk mengalahkan para musuh, mereka sangat yakin bahwa sekalipun mengalami kekalahan namun jika disertai niat yang ikhlas dan totalitas upaya maka justru akan semakin menambah pahala sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Tidaklah seseorang atau sekelompok orang berperang lalu memperoleh ghanimah dan pulang dengan selamat melainkan sepertiga pahala mereka telah disegerakan, dan tidaklah seseorang atau sekelompok orang berperang lalu gugur dan terluka melainkan mendapatkan pahalanya secara sempurna.” (HR. Muslim).

Maka setiap kekalahan justru akan menambah pengorbanan demi mendapatkan kerelaan Rabb pemilik bumi dan langit hingga agama ini hanya milik Allah atau mereka binasa karenanya, sebagaimana Dia menyifati mereka dalam kalam-Nya, “Yaitu orangorang yang menyambut seruan Allah dan Rasul setelah mereka tertimpa luka. Bagi orang-orang yang berbuat baik dan bertaqwa diantara mereka ada pahala yang besar.” (QS. Ali Imran: 172).

Disaat yang sama, kita dapati bahwa para wali thaghut tidak mendapatkan apapun. Apa yang mereka curahkan dalam perang hanya berujung kerugian. Setiap kekalahan yang mereka derita melalui tangan para muwahid hanya menambah patah semangat. Setiap kerugian harta benda dan personal hanya akan melemahkan semangat mereka untuk melanjutkan dan menuntaskan perang sampai merasa putus asa dan akhirnya terkalahkan. Oleh karena itu, Allah ta'ala memerintahkan para hamba-Nya untuk tidak menahan diri. Dia juga mengingatkan akan dampak serangan-serangan itu pada diri mereka, dan kesudahan mereka tidak lain adalah kehancuran di tangan Allah.

Kita telah menyaksikan kebenaran hal ini berkalikali dalam sejarah jihad yang berbarokah ini. Jihad yang tidak pernah berhenti sejak Rasul shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat yang mulia memulainya sehingga kota Makkah dan Jazirah Arab takluk hanya dalam waktu beberapa tahun. Lalu Imperium Kisra berhasil takluk setelah melalui pertempuran panjang berdarah-darah melawan Persia musyrik sampai Allah menjatuhkan singgasana Kisra. Kemudian giliran Negara Romawi terus menerus diserang selama beberapa abad hingga Allah berkenan untuk melenyapkan dan menghapuskan peninggalan-peninggalannya. Lalu aksi umat islam yang tak kenal lelah terhadap para thaghut dan bangsa-bangsa kafir hingga Allah berkenan menghancurkannya dan menjaga Dien serta negeri kaum muslimin.

Demikian juga yang kita lihat hari ini dalam perjalanan perang para mujahid melawan semua bangsabangsa syirik lagi kafir terutama negara-negara salibis Barat, khususnya selama dua dekade yang lalu. Dengan panji yang jelas dan tujuan yang benar sehingga para muwahhid dengan karunia Allah terus meningkat dan berkembang. Allah menambah jumlah mereka, memperbanyak senjata dan harta benda, memberikan kekuasaan di bumi-Nya, menolong mereka menegakkan Dien-Nya, dan menghidupkan kembali jamaatul muslimin yang hari ini dipimpin oleh Amirul Mukminin Syaikh Abu Bakar al-Baghdadi hafizhahullah, sedangkan urusan kaum musyrikin sentiasa menurun dan mundur. Semua itu berkat peneguhan Allah ta'ala terhadap para mujahidin dan petaka yang ditimpakan-Nya kepada orang-orang kafir dan murtad hingga Allah menghancurkan mereka sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum mereka.

“Yang demikian itu karena Allah adalah pelindung bagi orang-orang beriman sedangkan orang-orang kafir tidak ada pelindung bagi mereka.” (QS. Muhammad: 11).

SERAYA BERKATA, KAMI TAKUT AKAN MENDAPAT BENCANA

RUMIYAH 6 - PENGANTAR

SERAYA BERKATA, KAMI TAKUT AKAN MENDAPAT BENCANA

Ketika pemimpin faksi-faksi shahawat dengan prakarsa salibis Rusia pergi ke Astana ibukota Kazakhstan untuk bertemu dengan utusan rezim Nushairi guna menekankan perjanjian damai diantara mereka, para prajurit murtad mereka tetap melanjutkan serangan ke kota Albab di bawah bantuan dan back up dari salibis Rusia, sebagai sekutu thaghut shahawat terbesar yaitu Erdogan.

Bahkan mereka tidak berhenti sampai sini saja. Siapa yang mengikuti celotehan pemimpin mereka dewasa ini akan mendapati bahwa mereka berbicara mengenai Rusia seolah membicarakan seorang teman, bukan lagi Rusia salibis sekutu rezim Nushairi yang telah membunuh ribuan orang-orang lemah, menghancurkan kota-kota dan perkampungan, dan membantu pasukan Nushairi merebut kembali kota Aleppo serta mengusir mereka. Ternyata hari ini mereka justru menyebutnya sebagai “pahlawan perdamaian” dan berharap bisa berkoalisi dengannya untuk menumpas Daulah Islam.

Persahabatan antara shahawat murtad Syam (dengan thaghut Erdogan di belakang mereka) dan salibis Rusia terjadi setelah selama bertahun-tahun orang-orang murtad itu memberikan loyalitas kepada Amerika yang telah membantai umat islam, membantu thawaghit, dan melindungi negara kecil Yahudi yang telah menjajah tanah umat islam.

Ketika mereka sudah putus asa dengan Amerika, maka tidak sulit bagi mereka untuk beralih kepada Rusia, bahkan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk sekaligus bersahabat dengan negara kecil Yahudi. Karena wala wal bara benar-benar telah hilang dari jiwa mereka. Jadi mudah saja bagi mereka untuk berwala kepada Yahudi, Kristen dan orang-orang musyrik, dan bersahabat dengan mereka melawan kaum mukminin ahlu sunnah, karena takut terhadap orang-orang musyrik atau berharap keuntungan dari mereka.

Shahawat murtad Syam juga menjustfifikasi kedekatan baru mereka dengan salibis Rusia, bahkan kemungkinan untuk bergabung di bawah bendera mereka dan bendera pemerintah Nushairi demi menghadapi Daulah Islamiyah, dengan alasan melemahkan campur tangan Iran di Syam dan mencegah rezim Nushairi memanfaatkan milisi Rafidhah karena mereka telah menggantikannya menumpas jamaah “teroris”, maksudnya Daulah Islamiyah.

Dengan demikian mereka mengulang kembali semua dalih yang dikemukakan shahawat Irak ketika menjustifikasi keikutsertaan mereka di bawah bendera Amerika beberapa tahun yang lalu, yaitu bahwa mereka ingin menjadi pengganti milisi Syiah Rafidhah yang menjadi ujung tombak Amerika dalam menumpas mujahidin, dan mengklaim bahwa kerjasama dengan salibis Amerika –yang telah mereka perangi selama bertahun-tahun– adalah dalam menghadapi musuh bersama yaitu Daulah Islamiyah. Mereka berharap Amerika menepati janjinya dengan menyerahkan pemerintahan kepada mereka setelah Amerika mundur dari Irak segera setelah berhasil menumpas Daulah Islamiyah.

Tentunya Amerika tidak akan menepati satupun janji-janjinya.

Pada akhirnya mereka hancur di tangan milisi Syiah Rafidhah yang berpakaian polisi dan tentara, setelah para shahawat memikul seluruh beban berat menumpas Daulah Islamiyah. Seluruh Irak jatuh ke tangan Rafidhah laksana rampasan perang gratis.

Kalaulah bukan karena kelembutan Allah terhadap umat islam dengan kembalinya Daulah Islamiyah hanya dalam beberapa tahun setelahnya untuk menimpakan petaka atas Rafidhah dan kroni shahawatnya serta merebut kembali negeri-negeri yang didudukinya.

Allah azza wa jalla  telah menjelaskan keadaan mereka yang mengaku beriman. Di setiap zaman dan tempat mereka bersegera untuk loyal kepada orang-orang kafir karena takut tertimpa petaka sekaligus berhasrat untuk meraup keuntungan. Mereka murtad dari agama Allah azza wa jalla secara massal.  Kelak Allah akan mengganti mereka dengan para hamba-Nya yang ikhlas, yang berwala kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang merupakan Hizbullah dan satu-satunya golongan yang akan mendapatkan kemenangan dan kekuasaan, sebagaimana firman Allah azza wa jalla,

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai aulia (mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka aulia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan berkata, ‘Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu? Segala amal mereka menjadi sia-sia, sehingga mereka menjadi orang yang rugi. Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang.” (QS. al-Maidah: 51-56).

MEMPERBANYAK JUMLAH UMAT ISLAM

RUMIYAH 5 - MUSLIMAH

MEMPERBANYAK JUMLAH UMAT ISLAM

Diantara maksud yang hendak dicapai dalam Islam adalah melahirkan anak-anak untuk mencapai beberapa sasaran. Mungkin sasaran yang paling penting adalah memperbanyak jumlah umat Islam sehingga mengokohkannya. Dalam syariat banyak nash-nash yang mendukung dan mendorong akan hal tersebut.

Menginginkan anak merupakan sunah para nabi dan rasul. Inilah Nabiyullah Zakaria alaihis salam, pada lebih dari satu kesempatan disebutkan dalam al-Qur’anul Karim berdoa kepada Rabbnya bukan supaya diberi kerajaan atau kekuasaan, tidak pula emas atau perak, tetapi ingin dikaruniai keturunan yang baik. Beliau bangkit untuk shalat dan berdoa kepada Rabbnya dengan lirih, katanya, “Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 4-6). Katanya lagi, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38). Juga katanya, “Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” (QS. al-Anbiya: 89).

Inilah istri Imran, berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak dan dikaruniakanlah Maryam kepadanya sebagai tanda kebesaran-Nya bagi seluruh alam. Kemudian Maryam dikaruniai anak bernama Isa dan dijadikannya nabi dan rasul ulul azmi alaihimus salam.

Sesungguhnya kedudukan Dien ini akan tinggi dan kekufuran akan jera itu berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah kaum muslimin. Orang-orang kafir memahami dengan baik timbangan yang hilang dari benak orang-orang lalai ini. Kita dapati prioritas sasaran mereka pada setiap perang yang dilancarkannya atas Islam dan pemeluknya adalah para wanita dan anak-anak, untuk menghancurkan tanaman dan lahannya. Tidaklah wanita diumpamakan sebagai lahan kecuali bahwa dialah tanah subur tempat tumbuhnya keturunan. Itulah strategi musuh pendengki yang cita-citanya adalah mencabut la ilaha illallah dari muka bumi. Sesuatu yang mustahil, karena umat Muhammad adalah umat yang subur dan tidak mandul hingga Allah menganugerahkan bumi dan seisinya kepada umat ini.

Akan tetapi sebagian wanita tidak menyadari siasat musuh tersebut. Ia tidak menganggap bahwa setiap kelahiran bayi Muslim berarti menanam duri di kerongkongan orang kafir dan menancapkan belati di dada kesyirikan. Ia tidak menyadari bahwa dengan bertambahnya jumlah umat Islam maka orang-orang fajir akan tercekat, panji orang-orang kafir akan tersungkur, dan suara orang-orang baik akan menjadi tinggi. Program keluarga berencana tidak lain hanyalah wabah yang menjangkiti umat kita yang subur sesuai dengan keinginan musuh-musuhnya sehingga jumlah kaum muslimin menyusut dan kekuatannya melemah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam telah berwasiat untuk memperbanyak jumlah kaum muslimin sebagaimana diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar, katanya, “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Aku melamar seorang wanita yang terpandang lagi cantik namun mandul, bolehkah aku menikahinya? Beliau menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian dia datang untuk kedua kalinya namun tetap dilarang. Ketiga kalinya ia kembali datang, maka beliau bersabda, ‘Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur, karena aku berbangga dengan jumlah kalian yang banyak’.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mendoakan Anas bin Malik radhiyallahu anhu agar mendapat keberkahan dan anak yang banyak, beliau berdoa, “Ya Allah, banyakkanlah harta dan anaknya, dan berkahilah apa yang Engkau anugerahkan padanya.” (Muttafaq ‘alaih)

Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Anas yang berkata, “Anak perempuanku bercerita bahwa ada sekitar 120 lebih keturunanku yang telah dikubur, dan aku kaum Anshar yang paling banyak hartanya.”

Al-Ahnaf bin Qais pernah menemui Mu’awiyah radhiyallahu anhu, saat itu Yazid berada di situ melihat padanya dengan heran. Lantas Mu’awiyah bertanya, “Wahai Abu Bahr, apa pendapatmu tentang anak? al-Ahnaf menjawab, “Wahai amirul mukminin, mereka adalah penyangga punggung, buah hati, dan penyejuk mata kita. Dengan mereka kita menyerang musuh. Merekalah generasi penerus sepeninggal kita. Maka jadilah anda laksana bumi yang terhampar bagi mereka dan langit yang menaungi mereka. Jika mereka meminta sesuatu kepadamu maka berilah. Jika minta kerelaanmu maka relakanlah. Jangan larang mereka untuk membantumu agar mereka tidak jenuh berada didekatmu, lalu membenci hidupmu dan berharap agar kamu cepat mati.” Mu’awiyah berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan pahala wahai Abu Bahr, mereka persis seperti yang engkau katakan.”

Tidak lupa disini kami juga mengingatkan para saudari muslimah dari program busuk lain yang dicanangkan oleh musuh-musuh Islam, yaitu menunda nikah hingga usia senja. Ini adalah makar orang-orang kafir yang terus berupaya memalingkan para muslimah dari hakekat tugas mereka dalam hidup ini. sesungguhnya mereka diciptakan untuk mentauhidkan dan mengesakan Allah ta'ala dalam beribadah bukan kepada selain-Nya, kemudian berkhidmat untuk Dien sesuai dengan yang telah dimudahkan Allah untuk mereka yaitu menikah, melahirkan, dan mendidik.

Kalau saja para muslimah mengetahui keutamaan pernikahan dini dengan niat untuk memperbanyak jumlah dan melahirkan anak shalih yang akan berbakti kepadanya dan mendoakannya dan bapaknya sekalipun keduanya telah meninggal. Sebagaimana termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila manusia mati, niscaya amalnya akan terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh Allah azza wa jalla benar-benar akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Ia bertanya, ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku bisa mendapatkan semua ini? Maka Allah berfirman, ‘Karena anakmu meminta ampun untukmu’.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Di dalam shahihnya Imam Bukhari membuat bab “Barang siapa menginginkan anak untuk jihad”. Di dalamnya diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sulaiman bin Dawud alaihis salam berkata, ‘Malam ini, aku benar-benar akan menggilir 100 atau 99 wanita, semuanya akan melahirkan seorang ksatria yang akan berjihad di jalan Allah.’ Sahabatnya berkata kepadanya, ‘Insya Allah.’ Tetapi Sulaiman alaihis salam tidak mengucapkan insya Allah sehingga semua wanita tersebut tidak ada yang hamil kecuali hanya seorang yang melahirkan anak yang cacat. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Sulaiman mengucapkan insya Allah niscaya semuanya akan menjadi ksatria yang berjihad di jalan Allah.”

Seandainya seorang Muslimah mengetahui jika hal ini berperan menolong Dien dan membuat orang kafir marah niscaya dia akan menyambut peran yang diabaikannya itu, sehingga semoga dia termasuk orang orang yang, “…tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orangorang yang berbuat baik.” (QS. at-Taubah: 120).

Hendaknya seorang muslimah merenungkan perkataan Umar radhiyallahu anhu, “Demi Allah, aku benar-benar memaksa diriku untuk melakukan jima’, dengan harapan agar Allah mengeluarkan dariku benih keturunan yang akan bertasbih kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam al-Kubra).

Bahkan menikahkan anak perempuan ketika “usia dini” dianggap sebagai kejahatan yang pantas dihukum menurut undang-undang thaghut di beberapa negara yang mengklaim “Islam”. Adapun dalam syariat Islam, yang halal adalah apa yang telah dihalalkan oleh Allah azza wa jalla, dan yang haram adalah apa yang telah diharamkan oleh-Nya.

Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Aku dinikahi Nabi shallallahu alaihi wasallam diusia 6 tahun. Lalu kami berhijrah ke Madinah dan singgah di Bani Harits bin Khazraj. Kemudian aku menderita demam hingga rambutku menjadi rontok. Setelah sembuh, rambutku tumbuh lebat sehingga melebihi bahu. Kemudian ibuku, Ummu Ruman datang menemuiku saat aku sedang berada dalam ayunan bersama teman-temanku. Ibuku berteriak memanggilku lalu aku datangi sementara aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Ibuku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai di depan pintu sebuah rumah. Aku masih dalam keadaan terengah-engah hingga aku menenangkan diri sendiri. Kemudian ibuku mengambil air lalu membasuhkannya ke muka dan kepalaku lalu dia memasukkan aku ke dalam rumah itu yang ternyata di dalamnya ada para wanita Anshar. Mereka berkata, ‘Mudah-mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan dan dan mudah-mudahan mendapat nasib yang terbaik.’ Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka. Mereka merapikan penampilanku. Tidak ada yang membuatku terkejut melainkan keceriaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau. Saat itu usiaku sembilan tahun.” (HR. Muslim)

Bila saudari muslimah telah memahami hal tersebut, maka niscaya dia tak menghiraukan anggapan-anggapan itu, dan akan fokus untuk memperbanyak anak-anak singa serta melatih mereka. Dia jadikan rumahnya laksana sarang singa. Dia susui mereka dengan air susu murni millah Ibrahim. Dia minumkan air murni tauhid. Dia latih mereka dengan wala dan membuat adonan roti baro untuk mereka. Kemudian dia buka pintu kandang, sedangkan hati mereka telah menyerap prinsip, “Keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang terhadap sesama mereka.” (QS. al-Fath: 29), “Lemah lembut kepada orang-orang beriman dan keras kepada orang orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela.” (QS. al-Maidah: 54).

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

PUNGGAWA MURABITHIN ABDULLAH BIN YASIN, SANG PEMBAHARU SYARIAT DI GURUN SAHARA

RUMIYAH 5 - SEJARAH

PUNGGAWA MURABITHIN
ABDULLAH BIN YASIN
SANG PEMBAHARU SYARIAT DI GURUN SAHARA

Adalah sunatullah azza wa jalla jika tiap kali makhluk-Nya tersesat dalam kedurhakaan dan kesesatan, niscaya akan diutus-Nya orang yang memperbarui agama mereka. Ada yang menaatinya tetapi kebanyakan orang mendurhakainya. Lalu para muwahhid berlepas diri terhadap orang yang menyelisihi manhaj Allah ta'ala dan mengangkat pedang untuk memerangi mereka hingga Allah memenangkan Din-Nya dan agama semua menjadi milik-Nya.

Salah satu pembaharu itu adalah seorang da’i, alim lagi mujahid Abdullah bin Yasin rahimahullah.

Kisahnya bermula ketika seorang pemuka suku Gudala yang tinggal di padang pasir Maghrib bernama Yahya bin Ibrahim memutuskan untuk mulai menjelaskan dan mengenalkan kepada kaumnya mengenai syariat-syariat Allah dan batasan-batasan-Nya. Ia adalah lelaki yang baik dan cinta terhadap agama. Beliau terus mencari seseorang yang mau membantunya mendakwahi kaumnya. Namun banyak da’i yang menolak ajakannya berdakwah di padang Sahara karena kesulitan yang bakal menghadang, kecuali seorang dai mujahid bernama Abdullah bin Yasin. Dengan memohon pertolongan kepada Allah dia menerima tugas tersebut.

As-Salawi berkata, “Ada seorang da’i yang bangkit untuk mengemban tugas tersebut. Ia bernama Abdullah bin Yasin al Jazuli. Beliau adalah murid yang cerdas, mempunyai keutamaan, agama yang bagus, wara’, dan ahli politik lagi berwawasan luas. Dia lalu pergi bersama Yahya bin Ibrahim menuju padang Sahara.”

Demikianlah Ibnu Yasin tabah berjalan di tengah padang Sahara dalam keterasingan demi menyebarkan Din pada kaum yang tersesat. Ketika Abdullah bin Yasin tiba di pemukiman kabilah Lamtunah, mereka bertanya kepadanya tentang misi yang dibawanya. Beliau lalu memberitahukan bahwa dirinya datang untuk mengajarkan syariat-syariat Islam dan menegakkah had-hadnya.

Ibnul Atsir berkata, “Mereka berkata, ‘Ingatkan kami mengenai syariat Islam.’ Maka ia memberitahu mereka mengenai akidah dan kewajiban-kewajiban Islam. Kata mereka, ‘Yang engkau sebutkan mengenai shalat dan zakat maka kami bersedia. Adapun katamu bahwa jika yang membunuh maka dibunuh, yang mencuri maka dipotong tangannya dan yang berzina maka dicambuk atau dirajam, kami tidak mau melaksanakannya. Pergilah ke tempat lain.’ Keduanya pun pergi meninggalkan mereka.”

Demikianlah kabilah ini awal mulanya menolak menegakkan syariat. Karena itulah Ibnu Yasin tidak mau tinggal bersama mereka jika mereka tidak mau melaksanakan semua syariat Islam. Abdullah bin Yasin lalu pergi ke kabilah Gudala bersama pemukanya itu.

Ibnul Atsir berkata, “Abdullah bin Yasin menyeru mereka dan kabilah-kabilah sekitarnya untuk menegakkan syariat. Ada yang mematuhi dan ada yang menolak.”

Pada akhirnya mereka mengusirnya ketika hukum-hukum syariat membuat mereka merasa sempit sehingga tidak mau tunduk. Ketika itu Ibnu Yasin tidak mempunyai kekuatan untuk memerangi mereka. Ia ingin pergi ke Sudan untuk mendakwahi mereka. Namun salah seorang pemuka Gudala menyarankannya untuk tinggal di suatu madrasah terkenal (konon terletak di dekat Sungai Senegal).

Ibnu Khaldun menuturkan, “Mereka lalu mengasingkan diri di sebuah dataran yang dikelilingi Sungai Nil. Ketika musim panas airnya dangkal dan ketika musim dingin airnya meluap sehingga dataran tersebut menjadi jajaran pulau yang terputus-putus. Mereka menyeberangi Sungai Nil untuk beribadah di situ.”

Dari Dakwah ke Jihad

Allah menghendaki sang juru dakwah ini menjadi peletak batu pertama berdirinya suatu pemerintahan Islam.

Ibnu Khaldun berkata, “Kabar mereka terdengar oleh orangorang yang ada kebaikan dalam hatinya. Maka semakin banyak orang yang bergabung dalam dakwah ini. Ketika jumlahnya mencapai seribu orang, guru mereka Abdullah bin Yasin berkata, ‘Sesungguhnya seribu itu tidak akan kalah karena sedikitnya jumlah. Wajib bagi kita untuk menegakkan kebenaran, menyerukannya, dan menggiring manusia untuk mengikutinya. Marilah kita keluar.’ Mereka lalu keluar dan memerangi orang-orang yang membangkang dari kabilah Gudala dan Lamtunah.” Ibnu Yasin akhirnya keluar berjihad fi sabilillah memerangi kabilah-kabilah murtad yang tidak mau menjalankan syariat.

Ibnul Atsir juga menuturkan, “Ibnu Yasin lalu berkata kepada para pengikutnya, ‘Telah wajib atas kalian untuk memerangi orang-orang yang menyelisihi kebenaran, mengingkari syariat, dan telah bersiap-siap untuk menyerbu kalian. Maka tegakkanlah panji dan angkatlah seorang amir’.”

Dengan sekelompok kecil orang-orang mukmin itu para Murabithin menundukkan Sahara untuk menegakkan hukum Allah ta'ala.

As-Salawi berkata, “Ia mulai menyerang kabilah demi kabilah sampai menguasai seluruh penjuru Sahara dan menundukkan kabilah-kabilahnya. Ia menjadi masyhur di seluruh penjuru negeri Sahara dan negeri-negeri sekitarnya seperti Sudan, Qiblah, negeri orang-orang Masmudah dan seluruh penjuru Maghrib; bahwa ada seorang lelaki dari Gudala yang menyeru kepada Allah dan jalan yang lurus, berhukum dengan yang diturunkan Allah, dan tawadhu lagi zuhud. Di mana-mana namanya disebut-sebut dan orang-orang banyak yang mencintainya.”

Ketika ia berusaha mencari ridha Allah sekalipun manusia murka pada mulanya maka setelahnya Allah kemudian membuat manusia ridha, mencintainya, dan mengikutinya.

Berhukum Dengan Syariat

Ketika ketua suku Gudala meninggal, Ibnu Yasin menunjuk ketua kabilah Lamtunah sebagai komandan militer.

As-Salawi menuturkan, “Lalu Abdullah bin Yasin mengumpulkan para pemimpin kabilah Sanhaja dan mengangkat Yahya bin Umar al-Lamtuni untuk memimpin mereka di bawah arahannya. Yahya bin Umar bertanggung jawab dalam masalah perang sedangkan Abdullah bin Yasin fokus kepada urusan agama dan hukum-hukum syariah, serta mengumpulkan zakat dan Jizyah.”

Orang-orang Murabithin melanjutkan perjuangan dipimpin komandan militer mereka yang baru dengan bimbingan Sang Faqih Pembaharu Abdullah bin Yasin.

Pada tahun 446 H (sebagaimana yang disebutkan oleh al-Bakri) Ibnu Yasin menyerbu Aoudaghost (hari ini terletak di selatan Mauritania) yang pernah didiami Raja Ghana sebelum masuk Islam.

Al-Bakri menuturkan, “Dalam perang tersebut Abdullah bin Yasin membunuh seorang lelaki keturunan Arab Qairawan yang terkenal wara’, shalih, suka membaca al-Qur’an dan berhaji ke Baitullah bernama Zabaqirah. Mereka menghukumnya karena dia tunduk pada hukum Raja Ghana yang ateis.” (al-Masalik wal Mamalik).

Pada tahun 447 H, orang-orang Murabithun memasuki Sijilmasa (sekarang terletak di selatan Maroko) dan menyingkirkan kezhaliman yang ada. As-Salawi berkata, “Orangorang Murabithun mengubah berbagai kemungkaran yang ada, menghancurkan seruling dan alat musik , membakar toko-toko penjual khamer, menghilangkan cukai, meniadakan utang-utang yang mencekik, menghapus semua hal yang harus dihapus menurut Kitab dan Sunnah, dan mengangkat seorang amil dari Lamtunah lalu kembali ke Sahara.”

Di penghujung tahun ini (447 H), Amir Yahya bin Umar al-Lamtuni terbunuh. Untuk menggantikannya Syaikh Ibnu Yasin lalu mengangkat saudaranya Abu Bakar bin Umar pada Bulan Muharram 448 H. Beliau bergerak di bawah bimibingan Sang Faqih sebagaimana saudaranya yang terdahulu, melanjutkan jihad fisabilillah.

As-Salawi berkata, “Orang-orang Murabithun memasuki kota Aghmat (di timur Marakesh) pada tahun 449 H. Lalu Abdullah bin Yasin menetap di sana selama dua bulan untuk mengistirahatkan pasukan. Lalu ia bergerak menuju Tadla, menaklukkannya dan membunuh siapapun raja Bani Yafran yang ditemuinya. Ia juga berhasil menangkap Laquth al-Mighrawi dan membunuhnya. Kemudian Abdullah bin Yasin bergerak menuju Tamasna lalu menaklukkan dan menguasainya.”

Ibnu Yasin rahimahullah menimpakan petaka terhadap musuh-musuh Allah dengan banyak membunuh dan menawan hingga berita itu sampai di telinga sang Faqih yang mengutusnya, yang tidak mengerti situasi mujahidin.

Imam adz-Dzahabi berkata, “Berita-berita mengenai tindakan Abdullah bin Yasin itu sampai di telinga al-Faqih (gurunya, edt), yang membuatnya sedih dan menyesal. Al-Faqih menulis surat kepadanya mengingkari banyaknya tawanan dan korban yang terbunuh. Namun jawabnya, ‘Adapun pengingkaranmu dan penyesalanmu karena telah mengutusku, maka sungguh anda telah mengutusku kepada kaum jahiliyah. Salah satu dari mereka menyuruh putra dan putrinya untuk menggembala ternak, lalu putrinya itu kembali dalam keadaan hamil karena bersetubuh dengan saudaranya, tetapi mereka tidak mengingkari hal itu. Kebiasaan mereka itu saling rampok satu dan saling bunuh satu sama lain. Jadi aku lakukan apa yang seharusnya dilakukan dan aku tidak melanggar hukum Allah. Wassalam’.” (Tarikhul Islam).

Demikianlah Ibnu Yasin membantah orang yang mengkritisi jihadnya padahal jauh dari realitas dan malah membenarkan isu yang dibicarakan manusia.

Setelah mendapatkan semua kemenangan ini orang-orang Murabithun dengan arahan guru mereka bertekad untuk memerangi kabilah Berghouata yang murtad.

As-Salawi berkata, “Berghouata adalah suku yang bercabang-cabang kabilahnya. Mulanya mereka mendukung Shalih bin Tharif si pembohong pengaku nabi. Namun hingga sekarang kondisi mereka tetap berada di atas kesesatan dan kekufuran. Ketika Abdullah bin Yasin mendengar kekufuran yang merajalela di suku Berghouata, beliau melihat bahwa yang wajib adalah lebih dulu memerangi mereka dari pada yang lain. Beliau bersama pasukan Murabithun pun segera bergerak.”

Allah Ta’ala menetapkan bahwa Ibnu Yasin terluka di saat puncak peperangannya melawan orang-orang kafir (tahun 451 H) sehingga beliau memperoleh kesyahidan.

Penulis buku al-Ightibath berkata, “Ia berhasil menaklukkan Maghrib hingga akhirnya tunduk terhadap aturan-aturan Islam setelah sebelumnya hampir ditinggalkan sama sekali.”

Wasiat Ibnu Yasin

As-Salawi berkata, “Menjelang wafat beliau berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Murabithun, hari ini aku tidak bisa menghindari kematian sedang kalian masih berada di negeri musuh kalian. Maka janganlah kalian pengecut atau saling bertikai sehingga akibatnya kalian menjadi lemah dan kekuatan kalian hilang. Jadilah kalian para pembela kebenaran dan bersaudara karena Allah. Janganlah kalian saling iri hati terhadap kepemimpinan karena Allah memberikan kerajaan-Nya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki dan mengangkat siapa yang Dia kehendaki diantara para hamba-Nya untuk berkuasa di bumi-Nya.”

Ibnu Yasin meninggal setelah berhasil meletakkan pondasi pemerintahan Islam yang membentang dari Sungai Senegal di selatan hingga di mencapai Marakesh di utara. Kemudian setelah itu berekspansi hingga Andalusia yang berbatasan dengan Perancis di sebelah utara melalui tangan muridnya Yusuf bin Tasyfin, dan hingga menjangkau jantung belantara Ifriqiyah di sebelah selatan melalui tangan muridnya Abu Bakar bin Umar. Beliau wafat setelah berhasil meninggalkan generasi mujahidin yang akan menyempurnakan perjuangannya, dan setelah berhasil menegakkan syariat islam bersama mereka dan dengan mereka.

Semoga Allah merahmati Ibnu Yasin dan memberkati para tentara khilafah hari ini yang terus memerangi setiap orang murtad yang menolak hukum syariat. Mereka tidak akan meninggalkan hal itu meskipun telah berkorban banyak hingga agama ini semuanya menjadi milik Allah.

Abu Bakar al-Lamtuni
Sang Punggawa Penyebaran Islam di Negeri-negeri Sudan

Pada bagian sebelumnya kita telah membahas sedikit biografi Sang Faqih Mujaddid Abdullah bin Yasin pendiri Daulah Murabithin, daulah para mujahidin. Seorang lelaki yang tidak hanya mendirikan sebuah negara tapi membentuk generasi penerus pembawa bendera perjuangan sepeninggalnya. Generasi Yusuf bin Tasyfin yang bergerak ke utara bersama pasukannya menyeberang ke Andalusia dan berhasil mengalahkan Salibis. Juga generasi Sang Komandan Abu Bakar bin Umar yang menyeberangi hamparan padang pasir demi menyebarkan Islam dan syariat ke Ifiriqiyah (Afrika).

Biografi lelaki ini amat istimewa. Dia bersedia mengorbankan segala sesuatu demi Din dan umatnya agar persatuan tetap terjaga. Lelaki ini bukanlah seseorang yang mementingkan diri sendiri dengan mengorbankan persatuan umat sebagaimana tingkah banyak orang yang mengaku Islam dahulu dan sekarang.

Komandan Militer Baru

“Karir” militer Ibnu Lamtunah dimulai ketika ia digembleng lewat tangan Ibnu Yasin. Kemudian ia diangkat menjadi pemimpin militer pasukannya. Pada bulan Muharram 448 H Abu Bakar bin Umar diangkat sebagai komandan militer tertinggi pasukan Murabithin menggantikan saudaranya Yahya bin Umar. Dia meneruskan perjalanan jihad yang telah dimulai saudaranya itu dengan bimbingan Ibnu Yasin.

Menyerang Rafidhah Sekte Bajaliyah

Pada tahun 448 H Abu Bakar bin Umar menyerbu negeri Sous. Pada bulan Muharram 449 H ia berhasil menaklukkan Massah dan Taroudant. Kota ini adalah salah satu pusat kekuatan Rafidhah di Maghrib ketika itu.

as-Salawi berkata di dalam al-Istiqsha, “Pada kota itu tinggal sekelompok sekte Rafidhah yang disebut Bajaliyah, diambil dari nama Ali bin Abdullah al-Bajali ar-Rafidhi. Abdullah bin Yasin dan Abu Bakar bin Umar menggempur mereka dan berhasil merebut paksa kota Taroudant. Kaum Rafidhah banyak yang terbunuh. Sisanya bertaubat dan kembali pada mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

Pengganti Ibnu Yasin Meneruskan Perjuangannya

Setelah memberantas Rafidhah, Abu Bakar bin Umar bersama gurunya Ibnu Yasin bergerak untuk memerangi suku murtad Berghouata. Di tengah pertempuran Ibnu Yasin terluka yang menyebabkan kematiannya, sehingga kepemimpinan Murabithin sepenuhnya dipegang Abu Bakar bin Umar.

As-Salawi berkata, “Aksi pertama kalinya setelah selesai mengurusi dan menguburkan jenazah Ibnu Yasin adalah bergerak menuju suku Berghouata dengan bertawakkal kepada Allah hendak menggempur mereka. Ia menghabisi dan menawan mereka sampai mereka tercerai berai bersembunyi di mana-mana. Kekuatan mereka dihabisi total dan sisanya menyerah serta kembali masuk Islam. Abu Bakar bin Umar berhasil membersihkan pengaruh dakwah mereka di Maghrib. Ia lalu membagi-bagi ghanimah kepada seluruh Murabithin lalu kembali ke kota Aghmat.”

Ini adalah salah satu dari kemenangan beruntunnya dalam memerangi orang-orang sesat dan menyebarkan tauhid. Dunia laksana terhampar untuk Abu Bakar bin Umar satu-satunya pemimpin Murabithin.

Abu Bakar Meninggalkan Maghrib Untuk Kembali ke Sahara

Namun kepemimpinan Abu Umar atas negeri-negeri Maghrib yang baru saja ditaklukkan itu tidak berjalan mulus. Setelah mewujudkan semua kemenangan itu suatu berita buruk datang padanya.

As-Salawi berkata, “Kemudian seorang utusan dari negeri-negeri Qiblah menemuinya dan mengabarkan bahwa situasi di Sahara memburuk karena terjadi perpecahan.”

Di sini Sang Komandan berada di persimpangan jalan. Apakah ia akan mengutus salah satu keponakannya untuk menengahi perpecahan ini atau dia sendiri yang berangkat? Jika dia sendiri yang pergi apakah kepemimpinan di Maghrib ini ditinggalkannya begitu saja setelah mendapatkan semua kemenangan ini? Di sinilah muncul lelaki-lelaki sejati.

As-Salawi berkata, “Abu Bakar adalah seorang amir yang wara’. Berat baginya jika kaum muslimin itu saling bertikai sedangkan ia mampu mencegahnya. Ia menganggap dirinya tidak punya alasan karena dialah yang mengurusi dan bertanggung jawab atas mereka. Maka ia kemudian berazam untuk kembali ke negerinya dan memperbaiki kondisinya serta menegakkan panji jihad di sana.”

Ia tinggalkan seluruhnya fi sabilillah.

Sang Komandan Menyatukan Manusia Untuk Memerangi Orang-orang Musyrik

Pemimpin Murabithin ini pergi ke Sahara. Ia lalu berhasil memperbaiki kondisinya dan menyiapkannya untuk ditegakkan hukum Islam. Kemudian ia bergerak menuju negeri-negeri Sudan dalam rangka berjihad dan berdakwah.

Ibnu Khaldun berkata, “Ia kembali ke kaumnya dan berhasil menutup lubang fitnah. Kemudian membuka pintu jihad ke negeri-negeri Sudan. Ia lalu berhasil menguasai menguasai wilayah sejauh sembilan puluh malam.”

Beliau rahimahullah tidak hanya berhasil memperbaiki kaumnya bahkan dibukanya pintu bagi pasukan muslimin untuk menaklukkan dan menegakkan hukum Islam di wilayah barat Ifriqiyah.

As-Salawi berkata, “Abu Bakar bin Umar kembali ke Sahara pada bulan Dzulhijjah 453 H. Sesampainya di sana, situasi yang ada berhasil dikontrolnya lalu ia mengumpulkan pasukan besar untuk menaklukkan negeri-negeri Sudan. Ia berhasil menguasai wilayah sejauh sembilan puluh malam.”

Abu Bakar bin Umar Menundukkan Orang-orang kafir Penduduk Sahara

As-Salawi menuturkan di tempat lain bahwasannya Abu Bakar bin Umar menyerang dan menyebarkan Islam di Kerajaan Ghana dan wilayah sekitarnya, katanya, “Kerajaan Ghana mulai melemah dan tercerai berai setelah lima ratus tahun berlalu. Permasalahan orang-orang bertudung itu (julukan orang-orang Murabithin, edt) yang bertetangga dengan mereka di sisi utara dengan suku Berber tidak terkontrol lagi. Sang Amir Abu Bakar bin Umar al-Lamtuni mulai merengsek maju.”

As-Salawi menuturkan bahwa Abu Bakar bin Umar berhasil menaklukkan wilayah seluas tiga bulan perjalanan dan, “Mampu mendorong banyak orang untuk memeluk Islam.”

Kepemimpinan Maghrib Diberikannya Kepada Ibnu Tasyfin dan Kembali Berjihad di Sudan

Ahli sejarah menuturkan bahwa Abu Bakar bin Umar rahimahullah kembali ke Maghrib ketika perkara anak pamannya Yusuf bin Tasyfin membesar. Namun setelah didapatinya bahwa putra pamannya itu berhasil meraih banyak kemenangan ia tidak berusaha merebutnya, bahkan diserahkannya tampuk kekuasaan pada putra pamannya itu dan kembali ke gurun Sahara.

As-Salawi menyebutkan dalam al-Istiqsha wasiat Ibnu Umar untuk Ibnu Tasyfin, katanya, “Abu Bakar berkata, ‘Sesungguhnya aku telah menyerahkan perkara ini kepadamu, dan sungguh aku akan diminta pertanggungjawaban, maka bertaqwalah kepada Allah azza wa jalla dalam mengurusi kaum Muslimin. Bebaskan aku dan dirimu dari api neraka. Jangan sia-siakan rakyatmu sedikitpun karena engkau akan dimintai pertanggungjawaban’.”

Al-Lamtuni Syahid di Negeri Sudan

Setelah Ibnu Umar memberikan wasiat kepada putra pamannya ia kembali ke gurun Sahara untuk berjihad memerangi orang-orang kafir di Ifriqiyah.

As-Salawi berkata, “Ia tinggal di sana sambil terus berjihad memerangi orangorang kafir Sudan sampai dikaruniai syahid karena terkena anak panah beracun pada bulan Sya’ban 480 H, setelah seluruh penjuru Sahara sampai Pegunungan Emas di Sudan tunduk padanya.”

Lembaran-lembaran hidup Sang Kesatria Islam ini telah ditutup. Ditinggalkannya kelezatan dunia dan kekuasaan maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Ibnu Katsir berkata, “Ia mempunyai wibawa yang tidak pernah dimiliki raja-raja sebelumnya. Ia mempunyai pasukan sejumlah 500.000 prajurit yang seluruhnya loyal padanya. Ia juga menegakkan hudud, menjaga batasan-batasan Islam, memelihara agama, mengatur manusia sesuai dengan syariat, ditambah lagi dengan akidahnya yang benar serta loyal kepada Daulah Abbasiyah.”

Semoga Allah merahmati Syaikh Mujahid asy-Syahid -biidznillah- Abu Bakar al-Lamtuni. Semoga Allah menerima dakwah dan jihadnya, dan menolong anak cucunya Junud Khilafah di Barat dan Utara Ifriqiyah, serta di gurun Sahara. Mereka terus berusaha menegakkan agama Allah dan membersihkan pengaruh syirik di sana. Semoga Allah mengaruniai mereka kemenangan dan tamkin.

SEBAGIAN SIFAT ULAMA SUU

RUMIYAH 5 - ARTIKEL

SEBAGIAN SIFAT ULAMA SUU
ABU HAFS ASY-SYAMI

Dalam artikel terdahulu yang berjudul “Ulama Sesat Dilaknat dan Dimurkai” kami telah menjelaskan definisi ahli ilmu yang benar. Kami juga telah menjelaskan beberapa karakteristik penting sehingga mereka bisa dianggap sebagai pemuka Dien. Berdasarkan kaca mata Syariat sudah gamblang bahwa para ulama Durjana dan sesat sama sekali tidak termasuk golongan ulama betapapun banyaknya hafalan dan karyanya, dan betapapun populernya mereka. Mereka lebih menyerupai Yahudi yang mengetahui namun menyembunyikannya dan tidak mengamalkan justru menyeru kepada kesesetan. Lantaran banyaknya ulama Durjana dewasa ini yang berusaha menyesatkan hamba-hamba Allah maka sudah seharusnya dijelaskan sifat-sifat mereka sehingga manusia tidak ragu lagi.

Pertama: Menyembunyikan Kebenaran

Diantara maksud ilmu adalah untuk disebarkan dan diajarkan karena hidayah dan maslahat manusia bergantung padanya, sehingga menyembunyikan ilmu merupakan perbuatan yang diharamkan dan dosa besar yang paling berat. Oleh karena itu, Allah mengambil janji setiap orang yang diberi anugerah ilmu agar menjelaskannya dan tidak menyembunyikan apa yang dibutuhkan manusia.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab (yaitu), ‘Hendaklah kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka amat buruklah jual-beli yang mereka lakukan.” (QS. Ali Imran: 187).

Karena itulah ulama Durjana itu seorang pengkhianat Dien Allah. Dia mengkufuri nikmat ilmu, dan menyebabkan kesesataan manusia. Oleh karena itu, Allah melaknatnya dan menimpakan laknat manusia terhadapnya karena telah menipu makhluk dengan menyembunyikan kebenaran.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat.” (QS. al-Baqarah: 159)

Perkara terbesar yang disembunyikan oleh para ulama Durjana adalah keterangan mengenai kondisi para thaghut dan hukum Allah terhadap mereka. Allah telah memerintahkan kita untuk menjauhi dan mengkufuri thaghut. Dia jadikan hal ini sebagai pokok tauhid dan iman. Namun tatkala manusia melihat ulama terkemukanya menjilat para penguasa thaghut, mendiamkan kesyirikan dan kerusakannya, bahkan membolehkan syirik dengan dalih maslahat, jadilah banyak dari mereka beriman kepada thaghut, bersikap loyal, mengadopsi agamanya, bahkan menjadi bala tentaranya.

Penyebab semua fenomena ini adalah karena para ulama Durjana menyembunyikan kebenaran dan mencampurnya dengan kebathilan. Bagi yang mengamati Jazirah Arab misalnya, akan mendapati bahwa Alu Salul tidaklah berani menampakkan kekufuran dan kerusakanya, sehingga sebagian orang ikut-ikutan murtad, kecuali disebabkan oleh Hai’ah Kibarul Ulama’ (Lembaga Ulama Senior) seperti Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Shalih al-Fauzan, Alu asy-Syaikh (keluarga asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) kontemporer, dan semisal mereka; lantaran mereka menyembunyikan kebenaran dan tidak menjelaskan hakikat Alu Salul kepada masyarakat, bahkan menambah rancu dengan menyebut Alu Salul adalah ulil amri dan mengklaim bahwa mereka adalah para pemimpin syar’i! Mereka menyembunyikan hukum mengenai keputusan-keputusan legislatif thaghut, hukum mengenai pendirian pangkalan-pangkalan militer Salibis, dan hukum menghalalkan riba. Sehingga banyak orang tertipu, tersesat, dan bahkan murtad. Mereka akan mendapatkan bagian dari dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dosa itu.

Kondisi yang sama terjadi di Mesir. Masyayikh al-Azhar dan klaimer salafi lah yang menyebabkan manusia tersesat dan mengikuti Husni Mubarak lalu kemudian as-Sisi. Demikian juga yang menyebabkan orang-orang ikut serta dalam syirik parlemen dan pemilu adalah para thaghut Ikhwanul Murtaddin dan Partai azh-Zhalam (Partai an-Nur, edt). Gambaran seperti ini akan kita temukan di negeri-negeri lainnya.

Kedua: Mengganti dan Menyelewengkan Syariat

Ciri ulama Durjana lainnya adalah mengganti dan menyelewengkan syariat – jika mereka tidak bisa menyembunyikannya – melalui takwil-takwil rusak terhadap nash-nash syar’i sehingga mengubah maknanya yang benar, sebagaimana firman Allah azza wa jalla tentang orang-orang Yahudi, “Mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS. an-Nisa: 46).

Kemudian penyelewengan dan takwil yang bathil itu disandarkan kepada Allah ta'ala. Mereka mengubah makna nash yang sebenarnya dan mengelabuhi manusia bahwa inilah maksud dari Kitab Allah. Dengan begitu mereka menampik makna yang benar dan menetapkan makna yang bathil. Pendahulu mereka dalam hal itu adalah orang-orang Yahudi yang selalu menyandarkan tindakan mempermainkan nash-nash itu kepada Allah azza wa jalla.

Sebagaimana firman Allah ta'ala, “Sesungguhnya di antara mereka benar-benar ada segolongan yang memutar lidah mereka dalam membaca al-Kitab, agar kalian menyangka itu sebagian dari al-Kitab, padahal itu bukan dari al-Kitab. Mereka berkata, ‘Itu dari Allah,’ padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan kedustaan atas nama Allah, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 78).

Nash-nash syar’i yang memerintahkan jihad misalnya. Para ulama Durjana berusaha menyelewengkan maknanya yang berarti perang menjadi makna-makna lain, agar orang-orang tidak memerangi orang-orang kafir dan murtad. Lebih jauh lagi, mereka mengarang makna-makna jihad lain yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya, bahkan makna-makna tersebut bertentangan dengan hakikat jihad. Misalnya klaim mereka bahwa jihad adalah bergabung dengan pasukan thaghut, atau ikut serta dalam proyek demokrasi syirik untuk menyaingi kaum sekuler menandingi Allah menciptakan undang-undang, dan perbuatan murtad lain yang dikait-kaitkan oleh orang-orang terlaknat itu dengan jihad.

Begitu pula nash-nash syar’i yang memerintahkan untuk berterus terang dengan kebenaran. Para ulama Durjana sengaja meniadakan dan tidak mengamalkannya, seraya mengklaim bahwa itu adalah perintah Allah sesuai firman-Nya azza wa jalla, “Dan janganlah kalian melemparkan diri kalian ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195).

Padahal, yang dimaksud dengan kebinasaan di sini adalah meninggalkan jihad. Sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Abu Ayub al-Anshari radhiyallahu anhu ketika dia berkata, “Yang dimaksud melemparkan diri kita ke dalam kebinasaan ialah bahwa kita sibuk memperbaiki kondisi perekonomian kita dan meninggalkan jihad.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Maka alangkah buruknya para ulama Durjana dan alangkah buruknya pembodohan yang mereka lakukan!

Ketiga: Menghalangi dari Jalan Allah

Sesungguhnya ulama Durjana, dengan jalan kesesatan dan kerusakan yang ditempuhnya, berhasrat kuat untuk menyeret manusia menempuh jalannya dan menghalangi mereka dari jalan kebenaran. Sebab dia khawatir tingkah lakunya akan membongkar kedustaannya jika dia memperlihatkan ayat- ayat syariat tanpa menutupi dan mengaburkannya. Dia pun sengaja melakukan perubahan dan memelintir nash-nash agar sesuai dengan kondisi dan hawa nafsunya. Oleh karena itu, engkau dapati mereka menghalangi para pemuda untuk berjihad disebabkan condong kepada dunia dan terkena fitnah qu’ud (meninggalkan jihad). Dikarenakan takut berterus terang dengan kebenaran jadilah mereka campuradukkan kebenaran dengan kebathilan, menjadikannya sebagai landasan dakwah, dan memperlihatkannya seolah-olah suatu kebijaksanaan dan kecerdasan.

Dia tidak memperlihatkan kebenaran, tidak pula sekedar menyembunyikannya, tapi justru mencampuradukkan, mengaburkan, menyamarkan, dan menutupi cacatnya. Mereka berbicara atas nama Allah tanpa ilmu untuk menghalangi dari jalan Allah, seperti yang dilakukan oleh para rahib dan pendeta dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) itu benar-benar memakan harta manusia dengan bathil dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih.” (Qs. at-Taubah: 34)

Keempat: Sangat Rakus Kepada Dunia

Tidak ada yang mendorong para ulama suu untuk menyembunyikan dan mengaburkan kebenaran selain kecintaan dan kerakusan kepada dunia. Tidak ada seorang pun yang mengharuskan atau memaksa mereka untuk berbuat nifak, berdusta atas nama Allah, dan kufur. Namun keinginan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji dari para thaghut itulah faktor utama yang menyebabkan mereka melakukan hal tersebut. Motivasi sebagian dari mereka adalah hasrat untuk mendapatkan kedudukan dan kedekatan dengan para penguasa thaghut. Sebagian yang lain tergiur lantaran muncul di layar-layar (televisi) dan mendapatkan banyak pemberian. Maka berat bagi mereka jika harus kehilangan ketenaran dan sorotan kamera karena (mengatakan) kalimat haq. Mereka pun lebih memilih untuk menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah —yang tidak ingin ditampakkan kepada manusia oleh para thaghut— dan menjualnya dengan harga murah.

Allah azza wa jalla telah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka itu tidaklah memakan dalam perut mereka kecuali api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. al-Baqarah: 174), dan firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (QS. Ali Imran: 187)

Ibnul Qayim berkata: “Setiap orang diantara para ahli ilmu yang lebih mengutamakan dunia dan mencintainya, maka pasti dia akan mengatakan selain kebenaran atas nama Allah.” (al-Fawaaid)

Kelima: Terpengaruh dengan gembosan dan ancaman serta melenceng dari kebenaran lantaran hal tersebut

Ini juga merupakan salah satu sifat para ulama Durjana; berpaling dari kebenaran setelah meyakininya, dan menampakkan kebathilan karena tunduk dan patuh kepada hawa nafsu para thaghut, agar dunia mereka selamat. Alangkah besarnya kejahatan ini! Alangkah kejamnya pengkhianatan ini!

Sebagaimana dalam kisah Bal’am bin Ba’uro`. Dia berasal dari kota Jabarin. Seandainya semua ulama suu pada zaman kita berkumpul, niscaya ilmu mereka tidak akan sampai sepersepuluh dari ilmu Bal’am. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Dia mengetahui nama Allah yang paling besar” (Tafsir Ibni Abi Hatim) Ini menunjukkan tingginya kedudukan keilmuannya. Sebagian salaf berkata, “Dia adalah orang yang doanya mustajab, dan selalu yang terdepan dalam menyelesaikan keadaan-keadaan genting, dan dia merupakan Ulama bani Israil.” Meskipun demikian, ketika dia menyimpang dari manhaj dan melenceng dari kebenaran yang terang, dia diserupakan dengan anjing!

Yang demikian itu ketika singgah di kota Jabarin, Bal’am didatangi oleh sepupu-sepupunya dan kaumnya. Mereka berkata, “Sesungguhnya Musa adalah orang baru dan dia memiliki tentara yang banyak. Jika dia berhasil mengalahkan kita maka kita akan binasa. Berdoalah kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya dari kita.” Bal’am berkata, “Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah agar mengusir Musa dan para pengikutnya, maka dunia dan akhiratku akan hilang.” Mereka pun terus merayunya, sampai akhirnya dia mendoakan keburukan atas Musa dan para pengikutnya. Maka Allah melepas apa yang sebelumnya ada padanya. (Diriwayatkan oleh Ibni Abi Hatim dari Ibnu Abbas)

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithon, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang Durjana. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia menempel ke tanah (cenderung kepada dunia) dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga).” (QS. al-A’raf: 175-176)

Malik bin Dinar berkata, “Musa alaihis salam mengutusnya menemui raja Madyan untuk menyerunya kepada Allah. Namun sang raja terus menerus menggelontorkan pemberian sampai Bal’am mengikuti agamanya dan meninggalkan agama Musa, maka turunlah ayat ini.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim).

Bal’am “Cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya”, condong kepada dunia dan kenikmatan-kenikmatannya, berpaling dari ayat-ayat Allah, sampai dikuasai hawa nafsunya bak anjing yang terus-menerus menjulurkan lidah.

Diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah, dia berkata, “Ini adalah perumpamaan orang yang membaca al-Kitab dan tidak mengamalkan isinya.” (Tafsir ath-Thabariy). al-Qurthubiy berkata, “Perumpamaan ini, menurut pendapat banyak dari ahli ilmu tafsir, mencakup setiap orang yang diberi ilmu al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya.” (Tafsir al-Qurthubiy). Alangkah banyaknya mereka di zaman kita.

Penutup

Inilah beberapa sifat ulama suu yang dijelaskan oleh Allah azza wa jalla untuk membongkar kedok mereka dan mewanti-wanti hamba-hamba-Nya agar menjauhi, tidak mendengarkan maupun mengambil ilmu dari mereka. Kita menemukan bahwa Allah azza wa jalla menyebutkan sifat mereka namun tidak menyebut mereka ulama. Meskipun mereka mengetahui hukum-hukum Allah, tetapi ketika mereka kehilangan rasa takut kepada Allah dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, ilmu mereka tidak bermanfaat, bahkan menjadi penyebab mereka dilaknat di dunia dan akhirat, disifati dengan sifat-sifat yang paling buruk, dan dijebloskan ke dalam neraka Jahannam.

Bahkan Allah menjadikan sikap menaati dan mengikuti para rabi dan para rahib —mereka adalah salaf (pendahulu) para ulama Durjana yang menyimpang dari agama Allah— dalam kekafiran, sebagai syirik akbar yang mengeluarkan dari agama, sebagaimana firman Allah ta'ala, “Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga) al-Masih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 31).

Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan kafir dengan alasan taklid kepada ulama thaghut. Wajib bagi setiap orang untuk bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan mengamalkannya. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.