Rabu, 25 April 2018

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 2)

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

PENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH, ANTARA MANHAJ NABAWIYAH DAN YANG MENYIMPANG (BAGIAN 2) KAUM SESAT RAFIDHAH

Daulah Islamiyah adalah satu-satunya sarana untuk menegakkan Dien dan mewujudkan keadilan di antara manusia. Allah azza wa jalla telah mewajibkan hamba-Nya untuk menegakkan Din. Dia jadikan penerapan syariat-Nya sebagai syarat mutlak untuk penegakan DinNya. Hilangnya kekuasan Din dan berkuasanya syariat selain syariat-Nya azza wa jalla maka akan membawa kesewenang-wenangan kekafiran dan berkuasanya kezhaliman. Manusia menggunakan berbagai sarana untuk menghilangkan kezhaliman. Ada yang berpandangan bahwa penegakkan Din –selain bahwa hal itu adalah suatu kewajiban syar’i– akan menjamin terwujudnya keadilan. Merekalah orang-orang yang berserah diri kepada Rabb semesta alam. Ada juga yang berusaha menegakkan semua hal yang dikiranya adil dengan berbagai cara, berlandaskan pada faktor-faktor duniawi saja. Mereka itulah para perusak bertopengkan reformasi di setiap millah dan agama yang bathil.

Mayoritas manusia menginginkan tegaknya keadilan dalam masyarakat tempat tinggalnya. Tegaknya keadilan bagi mereka merupakan sarana untuk mencegah kezhaliman pihak lain dan membuka kesempatan untuk menjalani kehidupan dunia yang aman sentosa lagi bahagia. Oleh karena itu, kita dapati cukup banyak para filsuf jahiliyah yang berbicara mengenai persoalan hukum, karena hukum adalah sarana untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kebahagiaan. Sehingga muncul banyak istilah yang berputar pada “hukum yang adil” dan “utopia (sistem sosial politik yang sempurna)”, yang dimpi-impikan oleh manusia. Tak terhitung lagi revolusi yang digelorakan oleh berbagai bangsa untuk mewujudkan impian itu.

Ketika manusia mengabaikan metode yang telah dijelaskan penciptanya azza wa jalla, yang menjamin terwujudnya keadilan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka sudah pasti mereka akan saling bertikai. Muncullah para tokoh penyesat yang mengklaim bahwa hanya dirinyalah yang mengetahui jalan untuk mewujudkan keadilan, hanya lewat dirinya dan partainyalah keadilan bisa diwujudkan di muka bumi. Ketika pandangan mereka mengenai keadilan yang diklaimnya itu bergesekan dengan pandangan dan kepentingan kelompok lain maka solusinya hanyalah senjata. Karena tidak ada prinsip yang disepakati bersama antar mereka untuk menyelesaikan gesekan yang terjadi.

Kami Hanya Menginginkan Reformasi

Seperti itulah jalan yang ditempuh banyak klaimer pengikut para nabi dan rasul alaihi shalatu wasallam. Mereka tinggalkan sunnahnya malah mengikuti jalan bid’ah dan hawa nafsu sehingga tersesat dari jalan yang lurus. Tiap-tiap mereka mengikuti jalannya masing-masing. Di atas jalan-jalan itu ada setan yang menyeru ke neraka. Tiap-tiap mereka mengklaim dirinyalah pewaris ilmu nubuwah dan penjaga syariat. Tiap-tiap mereka menginspirasikan pengikutnya bahwa dirinya akan mengembalikan agama persis seperti praktek nabinya, bahkan akan mewujudkan kemenangan, kekuatan, dan tegaknya agama yang tidak bisa diwujudkan nabinya. Walhasil, muncullah sekte yang bermacam-macam. Kristen terpecah menjadi tujuh puluh satu sekte. Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh dua sekte. Diikuti jugalah oleh klaimer ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam sehingga terpecahlah menjadi tujuh puluh tiga sekte, semuanya sesat kecuali satu kelompok yang berjalan di atas manhaj nubuwah, atas apa yang telah ditetapkan dan dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia.

Sejarah sekte-sekte itu menunjukkan bahwa penyimpangan manhaj yang dialaminya itu, yang menyeretnya hingga keluar dari agama secara total, adalah karena seruan mereka untuk kembali kepada manhaj kenabian itu dilandaskan pada prinsip-prinsip yang rusak. Mereka berusaha menegakkan suatu negara yang amat berbeda dari negara Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jalan yang mereka tempuh itu pun semakin menambah penyimpangan mereka hingga teramat jauh dari jalan yang lurus. Mereka tambah dan kurangi Dien ini demi mendukung manhaj sesatnya. Hingga akhirnya agama mereka yang beraneka ragam itu berbeda sama sekali dari Dienul Islam yang mulanya mereka menyeru untuk mengembalikannya pada praktek generasi pertama.

Rafidhah; Sejarah Panjang Kesesatan

Rafidhah –jika memang bisa dianggap sebagai sekte pertama yang muncul– sejatinya adalah kelanjutan dari penyimpangan sebagian orang yang fanatik dengan ahlul bait Nabi shallallahu alaihi wasallam. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang bisa mengembalikan Dien kepada praktek yang telah dilakukan sebelum terputusnya wahyu, dan tidak ada yang bisa menjaganya sampai hari kiamat kecuali keluarga Nabi dan anak cucunya. Dari situlah muncul doktrin wasiat, yang mereka sangkutkan pada diri Ali radhiyallahu anhu. Mereka menciptakan doktrin ini yang intinya bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menetapkan dan mewasiatkan bahwa Ali adalah khalifah sepeninggalnya.

Mereka juga menciptakan bid’ah bahwa Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar. Kemudian doktrin itu berkembang menjadi ekstrim yang sampai pada tingkatan menuhankan Ali pada masa hidupnya dan sesudah kematiannya. Doktrin imamah Ahlul Bait menjadi prinsip pokok agama mereka. Mereka berpandangan bahwa reformasi agama itu tidak akan terjadi kecuali dengan kepemimpinan salah satu dari anak cucu Fathimah radhiyallahu anha.

Kecenderungan bid’ah dalam reformasi fiktif yang mereka diktekan pada dirinya sendiri itu memaksa mereka melangkah lebih jauh. Tiap kali ada imam yang meninggal mereka mengingkarinya, meyakini reinkarnasinya, bahkan sampai menciptakan anak bagi imam mereka yang tidak memiliki keturunan. Hal itu lantaran doktrin pewarisan imamah dari bapak ke anaknya secara berturut-turut. Ketika Hasan al-‘Askari Imam kesebelas mereka itu ternyata tidak mempunyai keturunan, mereka ciptakan Imam kedua belas yang bernama Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-‘Askari. Demi menutupi borok dalam doktrin wasiat mereka bahwa bumi tidak akan mungkin kosong dari seorang imam yang akan mewujudkan persyaratan relatif dan legitimasi mereka. Di samping itu mereka juga menciptakan kisah menghilangnya sang imam di sebuah lubang di Samarra yang dia akan keluar lagi pada akhir zaman untuk memenuhi bumi dengan keadilan. Akhirnya metode bid’ah, sesat lagi syirik mereka itu pun terus berlanjut.

Metode Sesat dan Eksploitasi Agama Palsu

Sejak awal mula munculnya sekte Syi’ah sampai yang kita lihat pada saat ini, yang telah berkembang menjadi beraneka ragam sekte kecil dengan kesyirikan dan kekafirannya, para ulama durjana penutannya telah mengubah Dienul Islam yang mulanya mereka mengklaim berusaha sungguh-sungguh menjaganya dari penyimpangan. Mereka tambahkan ritual-ritual dan ideologi-ideologi agama Ahli Kitab dan paganis. Mereka ingkari semua yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan manhajnya. Mereka ciptakan riwayat-riwayat palsu atas nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang memenuhi berjilid-jilid buku sehingga berhasil menipu orang-orang bodoh. Sampai al-Qur’an yang mulia pun tidak lepas dari kekafiran dan pendiskreditan mereka. Mereka mengklaim al-Qur’an telah ditambah dan dikurangi, ketika mendapati ayat-ayat yang bertentangan dengan ideologi mereka.

Kemudian mereka pilah dan pilih ideologi dan praktek sekte-sekte sesat dan agama-agama bathil yang bisa dimanfaatkan untuk membangun aqidahnya. Hingga terciptalah aqidah Rafidhah yang terpisah secara total dari ahlus sunnah wal jamaah dan Islam.

Sejarah sekte-sekte Syi’ah telah menulis bahwa sejak awal mula munculnya telah dan masih berusaha menegakkan suatu Daulah Islamiyah dan memaksa manusia untuk masuk dalam agamanya yang bathil, yang diklaimnya merupakan agama sebagaimana diturunkan atas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan diwariskan kepada para imam fiktifnya itu. Hanya Allah yang mengetahui berapa pengikut mereka dan kaum muslimin yang terbunuh dalam peperangan demi peperangan yang terus berlangsung sejak 14 abad lalu demi mencapai target mereka itu.

Demikianlah agama Rafidhah tumbuh di atas prinsip dan teori reformasi rusak, yang dipandang sebagai prasyarat mutlak untuk mewujudkan keadilan dan reformasi fiktif yang diklaimnya itu. Teologi wasiat yang diambil oleh generasi pertama Syiah dari doktrin Yahudi, atau didoktrinkan dalam otak mereka lewat tangan seorang Yahudi seperti Ibnu Saba. Sebuah keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pamong bagi Islam setelah terputusnya wahyu sebagaimana Yusya’ bin Nun adalah wali Bani Israel sepeninggal Musa alaihis salam. Pemikiran ini terus berkembang selama berabad-abad. Gesekan terus terjadi antara sekte-sekte Syiah dengan musuh-musuhnya dan antara sekte-sekte itu sendiri. Agama mereka terus mengalami modifikasi lewat “kreatifitas” para ulama durjananya. Hingga terciptalah “adonan” agama najis yang kita dapati saat ini pada sekte-sekte Syiah yang beraneka ragam itu.

Di Atas Jejak Rafidhah

Evolusi panjang agama Rafidhah ini menyodorkan contoh nyata pada kita bagaimana seruan untuk penegakkan Daulah Islamiyah bisa berubah menyimpang jika menapaki jalan yang jauh dari jalan yang lurus dan mendikte manusia untuk ikut menapaki jalan itu demi tegaknya agama. Hingga berujung pada memodifikasi agama agar cocok dengan jalan kreasi mereka itu.

Inilah yang kita dapati pada banyak seruan yang saat ini menapaki jalan fiktifnya demi tegaknya Dien dan hukum syariat Rabb semesta alam. Penyimpangan yang telah dimulai pada awal mula perjalanan telah membuahkan kerenggangan teramat lebar dari manhaj nubuwah, bahkan sampai berusaha memberantas manhaj nubuwah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Pada tulisan-tulisan berikutnya kita akan berusaha memberikan contoh yang lebih jelas mengenai ide ini, mengenai nasib yang ditempuh orang-orang sesat, dan membandingkannya dengan manhaj nubuwah yang sedang dilakoni oleh Daulah Islamiyah, dengan karunia Allah azza wa jalla.

JANJI ALLAH PASTI BENAR

RUMIYAH 8 - ARTIKEL

JANJI ALLAH PASTI BENAR

Allah azza wa jalla memuji hamba-hamba-Nya yang beriman dan membenarkan firman-Nya serta meyakini bahwa janji-Nya pasti terwujud. Keyakinan yang tidak akan pernah hilang baik disaat lapang maupun sempit. Adanya berbagai ujian justru hanya menambah keimanan mereka terhadap ayat-ayat Allah dan janji-Nya, berserah diri kepada perintah dan hikmah-Nya, serta ridha terhadap keputusan dan ketentuan-Nya.

Kebanyakan hamba itu berharap bahwa jalan keluar dan kemenangan itu datang dari Allah melalui cara dan peristiwa tertentu, tetapi Allah azza wa jalla memiliki hikmah yang agung yang terkadang banyak tidak kita ketahui.

Orang-orang beriman pernah berharap bertemu dan bisa menyergap kafilah dagang kafir Quraisy dengan mudah tanpa perang, sehingga rampasannya menjadi sumber kekuatan dan menjadi modal untuk beberapa waktu. Tetapi Allah azza wa jalla berkehendak dengan ilmu dan hikmah-Nya agar kafilah dagang tersebut lolos, dan Quraisy keluar bertekad untuk memerangi umat islam dengan pasukan yang berjumlah lebih dari tiga kali lipat jumlah pasukan muslim, berambisi untuk menghabisi umat islam yang telah berlaku lancang lebih dulu menjatuhkan wibawa Quraisy dan mengancam perdagangannya. Lalu terjadilah perang Badar al-Kubra.

Allah berfirman tentangnya, “Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya”. (QS. al-Anfal: 7-8).

Allah azza wa jalla menjadikan orang-orang kafir terlihat sedikit dalam pandangan kaum mukminin agar mereka termotivasi dan tidak gentar untuk memerangi orang-orang kafir. Ia juga membuat jumlah orang-orang beriman terlihat sedikit dalam pandangan orang-orang kafir sehingga mereka terperdaya dengan memerangi orang-orang beriman.

Allah azza wa jalla berfirman, “Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan”. (QS. al-Anfal: 44).

Maka ketika kedua kubu saling berjibaku, kaum muslimin terlihat berjumlah dua kali lipat lebih banyak dalam pandangan orang-orang kafir. Pasukan kafir pun terguncang, mental mereka jatuh, kekuatannya melemah, dan mereka berputus asa dari kemenangan. Sedangkan Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan pertolongan-Nya.

Allah azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati”. (QS. Ali Imran: 13).

Ketika perang Ahzab, Allah azza wa jalla menguji orang-orang beriman dengan ujian dahsyat yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Tetapi hal itu justru semakin menambah keimanannya bahwa janji Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam dengan kemenangan orang-orang beriman dan kekalahan orang-orang kafir pasti akan terwujud.

Allah azza wa jalla berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Ahzab: 9).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah azza wa jalla menceritakan tentang nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya yang telah Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Yaitu Dia telah mengusir musuh-musuh mereka dan mengalahkan mereka pada tahun di mana mereka bersatu dan bersekutu melawan pasukan muslim. Peristiwa ini terjadi dalam Perang Khandaq. Tepatnya terjadi pada bulan Syawwal tahun lima Hijriyah, menurut pendapat yang sahih .... Orang-orang musyrik tiba dan turun bermarkas di sebelah timur kota Madinah dekat Uhud. Sebagian dari mereka bermarkas di dataran tinggi Madinah, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu”. (QS. al-Ahzab: 10).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar bersama pasukan kaum muslim yang berjumlah kurang lebih tiga ribu personil; menurut pendapat lain hanya tujuh ratus personel. Lalu mereka menyandarkan punggung mereka ke lereng bukit, sedangkan wajah mereka menghadap ke arah musuh.” Konsentrasi pasukan kafir mengepung kaum muslimin itu membuat mereka mengalami ujian yang sangat berat. Ibnu Katsir berkata, “Keadaan tersebut membuat posisi kaum muslim makin gawat dan sangat terjepit, sebagaimana firman Allah azza wa jalla, ’Di situlah diuji orang-orang mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang sangat.’ (QS. al-Ahzab: 11). Mereka mengepung Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya selama kurang lebih satu bulan.”

Kemudian datanglah pertolongan Allah azza wa jalla setelah ujian berat dan kesempitan tersebut dengan cara yang menakjubkan, yang menampakkan kekuasaan, kekuatan, kemuliaan, dan hikmah serta kelembutan-Nya terhadap orang-orang beriman. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orangorang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa”. (QS. al-Ahzab: 25).

Allah azza wa jalla kembali meneguhkan orang-orang beriman dengan kemenangan atas Yahudi Bani Quraizhah dan menimpakan kekalahan kepada mereka, serta menganugerahkan ghanimah yang cukup banyak yang mereka dapatkan dari Bani Quraizhah. Allah azza wa jalla berfirman, “Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu”. (QS. al-Ahzab: 26-27).

Itulah janji Allah, yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya setelah Dia menyaring dan menguji mereka sehingga orang-orang munafik keluar dari barisan mereka, sedangkan orang-orang beriman bertambah solid dan yakin dengan janji Allah, lalu datanglah pertolongan-Nya kepada mereka dari arah yang tidak disangka. Kami berdoa kepada Allah agar memberikan kemenangan, kemuliaan, dan tamkin kepada para hamba-Nya yang berjihad. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

SEMBAHLAH RABBMU SAMPAI AJAL MENJEMPUT

RUMIYAH 8 - PENGANTAR

SEMBAHLAH RABBMU SAMPAI AJAL MENJEMPUT

Ketika Allah menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya, maka dijadikan-Nya zhahirnya sejalan dengan batinnya, dan ucapannya sejalan dengan tindakannya. Dia tidak menjadikannya seorang munafik yang kontradiktif antara tindakan dan ucapannya. Inilah apa yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya di Daulah Islamiyah –dengan karunia-Nya– dalam berbagai sendi yang tak terhitung lagi. Utamanya dalam faktor utama wujudnya yaitu iqomatud din dan tahkim syariat.

Daulah yang menyelisihi orang-orang sesat dan menyesatkan, yaitu para pejuang faksi-faksi perpecahan dan perselisihan serta sekte-sekte madharat. Sebelumnya mereka memenuhi dunia dengan pernyataan dan teori-teori bahwa mereka berupaya menegakkan dien. Mereka bertekad merealisasikannya ketika kekuasaan berada dalam genggamannya. Namun kemudian tampaklah bahwa slogan-slogan itu dusta belaka. Ketika mereka menggenggam kekuasaan, segera saja janji-janji manis itu dilanggar. Mereka berhukum dengan aturan thaghut. Keeksisan organisasi dan figurnya lebih mereka pilih daripada menegakkan agama.

Setiap kali Allah menaklukkan dan menguasakan sebidang tanah atas Daulah, maka prajuritnya segera menegakkan agama Allah, memerintahkan penduduknya kepada kebaikan, dan melarang mereka dari keburukan. Meski mereka yakin bahwa hal itu akan menyebabkan orang-orang kafir menyerang dan menyesakkan dada orang-orang munafik, namun hanya ridha Allah Rabb semesta alam yang mereka inginkan.

Di antara kebaikan yang menggembirakan hati muwahid ini adalah ketika ia melihat shalat didirikan, zakat dikumpulkan, amar makruf nahi munkar dilaksanakan, dan hudud ditegakkan di setiap jengkal tanah Islam, walaupun pertempuran membara di berbagai sudut-sudutnya.

Engkau lihat singa-singa Islam menggoreskan pertempuran-pertempuran bersejarah dan mengorbankan jiwa raganya. Mereka terus mengawasi gerak-gerik kaum musyrikin dari ujung-ujung kota. Di saat yang sama adzan dikumandangkan, lalu kaum muslimin berkumpul untuk menegakkan shalat, sekalipun medan tempur hanya berjarak satu atau dua blok saja. Terlihat ikhwah lainnya berkeliling untuk membagi-bagi zakat kepada yang berhak. Pengaduan demi pengaduan terus mengalir pada peradilan-peradilan Islam yang berhakim dengan syariat Allah. Hudud tetap ditegakkan kepada terdakwa. Dakwah kepada kebaikan tidak berhenti, begitupula amar makruf nahi mungkar. Begitulah Dienul Islam yang ditegakkan secara sempurna sebagaimana diperintahkan oleh Allah azza wa jalla.

Tidaklah prajurit yang berada di front terdepan tetap bertahan kecuali untuk menjaga syariat Allah yang ditegakkan di bumi, yang orang-orang musyrik berusaha menghapuskannya. Ia yakin betul bahwa kemenangannya atas musuh bukanlah lantaran kekuatan lengannya, ketajaman pedang, atau lengkapnya persenjataan, namun murni karunia Allah. Setiap kali bertambah keyakinan jika agama ini ditegakkan sebagaimana dikehendaki-Nya, bertambah pula keyakinan akan pertolongan Allah. Dengan berjihad melawan orang-orang musyrik dan melindungi kaum muslimin, berarti dia telah menegakkan Dien dari sisi yang dibebankan imamnya padanya.

Rekan-rekannya menyokong, melindungi, dan membantunya dari belakang. Mereka menjaga kehormatan dan harta kaum muslimin. Hanya ketaatan kepada pemimpin yang membuat mereka menjauh dari front-front pertempuran dan garis-garis perbatasan. Mereka hanya menunaikan beban yang dipikulkan di bahu mereka yakni amanah penegakan dien. Lantaran mereka syiar-syiar agama dihormati, batasan-batasannya terjaga, dan hukum-hukumnya diterapkan. Jika ada perintah mobilisasi maka mereka segera bergerak, jika dimintai tolong maka mereka memberi pertolongan, dan jika diperintahkan maka mereka mematuhi.

Begitulah keadaan yang berlangsung di setiap jengkal Negeri Islam. Prajurit Daulah Islam terus menegakkan Dien selagi nikmat tamkin masih digenggam. Hingga ketika Rabb mereka menguji dengan serbuan musuh sampai terpaksa mundur atas izin para pemimpin mereka, setelah seluruh kemampuan dikerahkan untuk menghalau orang-orang musyrik, di hadapan Allah beban itu telah lepas dari pundak mereka. Lalu mereka kembali mengerahkan kemampuan untuk mendapatkan kembali kontrol atas wilayah itu dan menegakkan syariat. Dengan ini terbuktilah ketulusan seruan mereka dan kesetiaan mereka akan janjinya. Mereka membuat ridha Rabbnya, dan tampaklah kebenaran manhaj mereka.

Bukhari meriwayatkan dari hadits Anas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yang bersabda, “Jika kiamat telah terjadi sedangkan kalian sedang memegang benih maka jika mampu hendaknya ia tetap menanamnya.”

Wahai tentara-tentara Islam dan penjaga-penjaga syariat. Janganlah kalian meremehkan perkara makruf sekecil apapun itu. Janganlah merasa lemah untuk menegakkan syiar Islam apapun itu jika ia mampu, atau menyeru kepada keutamaan suatu amalan sekalipun sedang sibuk menghalau musuh, melindungi kaum muslimin, dan menjaga perbatasan.

Jangan sekali-kali menunda-nunda penegakkan Dien dengan sempurna setelah Allah memberikan kekuasaan di bumi walaupun sehari ataupun beberapa hari. Jangan sekali-kali menggantungkan syiar-syiar dan hukum-hukum Dien di bumi yang kalian pijak walaupun sehari atau beberapa hari sehingga Rabb kalian murka dan kalian dikalahkan musuh.

Allah azza wa jalla berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. az-Zalzalah: 7-8).

DAGING PASANGAN HIDUPMU ITU BERACUN

RUMIYAH 7 - MUSLIMAH

DAGING PASANGAN HIDUPMU ITU BERACUN

Pada hakikatnya hubungan suami istri itu adalah hubungan akhirat, tidak hanya sekedar syahwat dan kenikmatan dunia belaka, sampai masing-masing dari mereka menjejakkan kakinya di surga yang abadi. Allah berfirman, “(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya.” (QS. ar-Ra’du: 23).

Dengan hikmah-Nya, Allah menciptakan manusia itu mustahil mencapai kesempurnaan. Ia menciptakan kita serba kekurangan dan selalu keliru. Sehingga tidak ada rumah tangga pun yang tidak diliputi dengan persoalan.

Namun sebagian pasangan hidup – semoga mereka disadarkan oleh Allah –, baik lelaki maupun wanita, tidak segan menceritakan rahasia rumah tangganya. Banyak para suami yang kita dapati suka menceritakan permasalahan yang terjadi dengan istrinya itu pada obrolan-obrolannya. Demikian juga para istri. Ketika salah satu pihak tidak ada maka pihak lain memanfaatkannya untuk menceritakan keburukan ‘seterunya’ itu. Perbuatan itu sungguh tercela baik dalam kaca mata syariat maupun kebiasaan.

Janganlah Kalian Saling Menggunjing

Ghibah adalah bencana lisan, yang hanya menghasilkan penyesalan dan kekecewaan. “Bukankah manusia itu diseret ke dalam neraka tidak lain lantaran buah ucapan mereka?” (HR. Ahmad).

Allah ta'ala berfirman, “Janganlah menggunjingkan satu Kolom Muslimah sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. al-Hujurat: 12).

Firman-Nya, “Janganlah menggunjingkan satu sama lain”, yaitu bahwa Allah tidak mengecualikan suami istri dalam ayat tersebut. Maka tidak halal bagi keduanya saling menyebut keburukan ketika pihak lain tidak ada sekalipun sangkaannya itu benar.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasul bersabda, “Engkau menyebutkan keburukan-keburukan saudaramu.” Dikatakan, “Bagaimana jika memang hal itu ada pada saudaraku? Beliau menjawab, “Jika memang ada pada saudaramu maka sungguh engkau telah meng-ghibahnya, namun jika tidak maka sungguh engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim).

Sebagian wanita – semoga Allah memperbaiki mereka – sebenarnya mengetahui bahwa ghibah adalah perkara berat di sisi Allah. Sebuah bencana lisan yang hanya menghasilkan penyesalan dan kekecewaan. Namun ia tidak merasa segan menggunjing suami dan madunya. Ia mengira bahwa memakan daging mereka itu halal saja. Ia mengira hal itu tidak akan ditanyakan padanya nanti di hari kiamat. Ditambah lagi, sedikit sekali yang memperingatkannya ketika ia sedang meng-ghibah. Bahkan kebanyakan malah terkagum-kagum dan semakin menyemangatinya untuk menceritakan segala sesuatu tentang suaminya itu.

Imam Nawawi membuat bab dalam kitab Riyadush Shalihin “Bab Haramnya mendengar ghibah, dan yang mendengarnya diperintahkan untuk mengingkarinya dengan keras, namun jika ia tidak mampu atau peringatannya itu tidak diterima maka sebisa mungkin meninggalkan majelis itu”.

Yang amat disayangkan, ternyata para pendengar itu tidak hanya menyimak saja bahkan malah membantu si istri untuk melawan suaminya dengan bathil. Jika ada seorang wanita mengadukan mengenai suaminya, teman-temannya malah semakin menyemangatinya. Bahkan lebih dari itu, ada yang malah menjerumuskan saudarinya dengan menceritakan prosedur pengaduan ke hakim dan tata cara khulu’. Mengakhiri bahtera rumah tangga dibuatnya terlihat indah berharap dapat menikahkan saudarinya itu dengan salah satu kerabatnya atau kerabat suaminya. Bukan demi memperbaiki perkara rumah tangga saudarinya itu. Seakan-akan ia sama sekali tidak pernah membaca hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Bukan bagian dari kami orang yang memprovokasi seorang wanita atas suaminya, dan seorang hamba atas tuannya.”

Demikian juga dengan madunya. Banyak muslimah yang tidak segan-segan membicarakan kejelekan madunya. Bahkan ada yang sampai mencaci maki madunya itu lantaran cemburu buta. Hal itu dilakukannya dalam obrolan sesama wanita maupun di hadapan suami, yang sering tidak mengerti apa yang harus dilakukannya apakah ia membela dirinya dari ketajaman lisan istrinya itu ataukah ia bela istrinya yang sedang dipergunjingkan? Allahul musta’an.

Hendaknya setiap muslimah ingat bahwa menghina saudara dan saudari muslimnya sekalipun hanya dengan isyarat itu adalah dosa besar ghibah yang diharamkan. Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, Shafiyah itu wanita seperti ini,’ ia mengisyaratkan dengan tangannya yang maksudnya itu pendek, maka beliau bersabda, ‘Sungguh engkau telah mengatakan kalimat yang seandainya dicampurkan ke laut niscaya akan merubahnya.’ (HR. Abu Dawud).

Inilah Ummul Mukminin Aisyah yang hanya bergurau tidak hendak menghina madunya Shafiyah radhiyallahu anhuma, dan sekedar berisyarat dengan tangannya tidak mengatakannya langsung. Sekalipun demikian Nabi shallallahu alaihi wasallam memperingatkannya bahwa perbuatannya itu keterlaluan. Suatu kalimat yang terkadang seseorang itu tidak mempedulikannya namun jika tercampur dengan air laut niscaya akan merubahnya. Cukuplah sabda Rasul ? mengenai hal itu, “Sesungguhnya seorang hamba itu mengatakan sesuatu yang membuat murka Allah tanpa dipedulikannya, yang membuatnya terperosok ke dalam Jahannam.” (HR. Bukhari)

Orang Berakal Tidak Akan Menyingkap Rahasia Rumah Tangganya

Lebih buruk daripada kelakuan istri yang menzhalimi dirinya sendiri itu, engkau dapati ada lelaki yang berakal namun mengobralkan rahasia rumah tangganya, menyingkap persoalannya dengan istrinya dan mengungkap rahasianya. Ini, demi Allah, adalah tanda kurangnya rasa kehormatannya. Tidak dilakukan kecuali oleh orang dungu. Kecuali dalam rangka mencari solusi kepada hakim, mufti, atau seseorang yang terpercaya agama dan akhlaknya yang tidak akan menceritakannya kepada siapapun, dan diceritakan seperlunya.

Betapa mulianya akhlak seorang tabi’in, suatu kali ia hendak mentalak istrinya, maka orang-orang bertanya, “Kenapa engkau hendak mentalak istrimu? Jawabnya, “Aku bukan orang yang suka menyebutkan keburukan istrinya.” Setelah ia mentalaknya, orang-orang kembali bertanya, “Kenapa engkau mentalak istrimu? Jawabnya, “Aku bukan orang yang suka membicarakan wanita asing.”

Hendaknya suami istri yang suka menggunjingkan pasangan hidupnya itu menyadari bahwa setiap rahasia dan keburukan yang disingkapnya itu sama saja telah menorehkan sobekan pada baju rumah tangga mereka. Ketika sobekan itu semakin lebar maka pasti “musang-musang” akan memanfaatkan kesempatan itu sampai seluruh baju tersobek-sobek, yang tidak akan bisa ditambal lagi.

Sebagaimana rumah tangga itu mempunyai kehormatannya sendiri, juga ada rahasia-rahasia yang tak seyogyanya disebarluaskan lewat lisan-lisan mukmin muwahhid yang suci sekalipun kerabat terdekatnya. Sebaliknya, yang banyak memperhatikan kehidupan rumah tangga akan mendapati bahwa permasalahan akan semakin runyam ketika ada pihak ketiga yang ikut campur dengan alasan hendak mencari solusi, padahal persoalannya terkadang sepele belaka, sehingga justru malah membuat perkara semakin rumit.

Sebagian orang mungkin berkilah jika maksudnya itu sekedar mengadu dan melepaskan stress. Kita katakan; Betul bahwa jiwa itu terkadang merasa tidak kuat lagi menerima tekanan, sedangkan didapatinya kawannya itu pendengar yang baik dan bisa menasihati. Disinilah penyakit sekaligus obat dari fenomena ini. Hendaknya si pengadu itu memilih sebaik-baiknya pendengar atas persoalannya itu. Orang itu hendaknya terpercaya, mampu menjaga nama baiknya, dan pemberi nasihat yang jujur lagi bertaqwa kepada Allah.

Adapun jika sang suami atau istri mengobralkan semua hal yang terjadi di balik dinding rumahnya sehingga menjadi buah bibir sampai setiap orang tahu tiap detail kehidupannya, maka ini bukan mengadu atau melepaskan stress untuk mendapatkan nasihat dan perbaikan.

Jika suami atau istri mengeluhkan hubungan rumah tangga yang semakin memburuk, maka hendaknya menyampaikannya ke seorang hakim atau mufti. Inilah yang dilakukan oleh Khuwailah binti Tsa’labah, ketika suaminya men-zhiharnya ia tidak mengadu kepada seorangpun namun langsung menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga turunlah ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Mujadilah: 1).

Demikian juga yang dilakukan oleh Hindun istri Abu Sufyan, dari Aisyah bahwa Hindun binti ‘Utbah berkata, “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan adalah lelaki pelit, ia tidak memberi apa yang mencukupi untuk diriku dan anak-anakku kecuali yang aku ambil tanpa sepengetahuannya.” Rasul menjawab, “Ambillah apa yang mencukupi untukmu dan anak-anakmu dengan cara yang makruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)

BERLEPASDIRI DARI ORANG-ORANG MUSYRIK DALAM SIRAH NABI DAN PARA SAHABAT

RUMIYAH 7 - SEJARAH

BERLEPASDIRI DARI ORANG-ORANG MUSYRIK DALAM SIRAH NABI DAN PARA SAHABAT

Al-wala wal bara adalah pondasi agung yang terkandung dalam seluruh syariat para nabi alaihimus salam, termasuk syariat penutup mereka shallallahu alaihi wasallam. Pondasi ini tampak jelas dalam sirahnya dan para sahabatnya. Mereka telah menampakkan permusuhan pada orang-orang musyrik Makkah kemudian bertikai dan memeranginya dengan pedang setelah hijrah ke Madinah. Sampai ada yang membunuh bapak atau saudaranya yang musyrik sebelum orang-orang musyrik lainnya, selama mereka terus memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam Memulai Dakwahnya Dengan Berlepas Diri Dari Thaghut

Sejak Nabi shallallahu alaihi wasallam diperintahkan untuk terang-terangan dalam berdakwah, beliau telah mengumumkan permusuhan yang nyata atas orang-orang musyrik. Beliau cela tuhan-tuhan mereka. Beliau peringatkan mereka jika terus dalam kesyirikan maka akan digolongkan dalam penduduk Neraka.

Ibnu Hisyam berkata, “Ibnu Ishaq berkata, ‘Ketika beliau shallallahu alaihi wasallam mulai terang-terangan menyeru kaumnya kepada Islam sebagaimana diperintahkan, kaumnya tidak menjauhi atau menolaknya – menurut yang sampai padaku -. Namun setelah beliau menyebut-nyebut dan mencela tuhan-tuhan mereka, mulailah permusuhan dan pengingkaran itu. Mereka sepakat menyelisihi dan memusuhinya kecuali yang Allah lindungi lantaran keislamannya, sedangkan mereka itu sedikit lagi lemah’.”

Sekalipun kaum muslimin lemah dan sedikit, namun tauhid menuntut mereka untuk berlepas diri dari thaghut dan menampakkan permusuhan kepada penyembahnya.

Ketika Quraisy mendatangi Rasul shallallahu alaihi wasallam untuk mengajaknya saling bertukar sesembahan sekalipun sesaat, yaitu mereka bersedia menyembah tuhannya walau sesaat dengan syarat beliau menyembah thawaghit mereka itu walaupun sesaat, turunlah ayat yang melarang hal itu dan menjelaskan bahwa tidak ada kompromi antara tauhid dan syirik.

Ibnu Hisyam berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang thawaf di Ka’bah, al-Asud bin al-Mutthalib bin Asad bin Abdul Uzza, al-Walid bin al-Mughirah, Umayah bin Khalaf, dan al-‘Ash bin Wail as-Sahmi – mereka adalah pemuka-pemuka kaumnya – menghadangnya, lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, marilah kita berkompromi, kita sembah sesembahanmu dan engkau sembah sesembahan kami sehingga kita sama-sama menyembah. Jika sesembahanmu itu lebih baik daripada sesembahan kami maka kami telah mendapat bagiannya. Jika sesembahan kami itu lebih baik daripada sesembahanmu maka engkau juga telah mendapat bagianmu.’ Maka Allah menurunkan ayat, “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. al-Kafirun: 1-6).

Kaum Muslimin Memerangi Kerabatnya yang Musyrik

Ketika Allah ta'ala memudahkan Nabi-Nya untuk berhijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam, tidaklah cukup berlepas diri dari kaum musyrikin itu hanya dengan menampakkan permusuhan dan mencela mereka. Maka disyariatkanlah jihad dan perang sampai mereka tunduk kepada perintah Allah ta'ala.

Terjadilah Perang Badar pada tahun 2 H. Pedang-pedang muwahhid bersilangan dengan pedang-pedang anak-anak paman mereka yang musyrik lagi memerangi agama Allah ?. Sekalipun demikian kaum muslimin tidak menjadi lemah dalam memerangi dan membunuhi mereka. Bahkan sebagian sahabat melihat dengan kepala sendiri bapak dan saudara-saudara mereka terjungkal satu demi satu, malah ada yang membunuh kerabatnya dengan tangannya sendiri.

Ketika Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum muslimin dan memperoleh tawanan dalam jumlah besar, Umar al-Faruq radhiyallahu anhu berpendapat bahwa tawanan itu seluruhnya dibunuh lewat tangan kerabatnya, yang kemudian pendapat ini dikuatkan oleh wahyu.

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, berkata, “Ketika mereka mendapatkan tawanan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada Abu Bakar dan Umar, ‘Apa pendapat kalian berdua mengenai para tawanan? Abu Bakar menjawab, ‘Wahai Nabiyullah, mereka masih ada ikatan kerabat, aku berpendapat engkau meminta tebusan sehingga kita mempunyai kekuatan untuk melawan orang-orang kafir. Semoga Allah memberi hidayah Islam pada mereka.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya, ‘Apa pendapatmu wahai Ibnul Khatthab? Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak sependapat dengan Abu Bakar. Aku berpendapat bahwa mereka dipenggal saja. ‘Uqail diserahkan kepada Ali untuk dipenggal, si fulan diserahkan padaku untuk ku penggal lehernya. Sesungguhnya mereka adalah para imam kafir dan gembong-gembongnya.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam cenderung kepada pendapat Abu Bakar, tidak sependapat denganku. Esoknya aku mendatangi Rasulullah, ternyata beliau shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar sedang duduk menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah apa yang membuatmu dan sahabatmu ini menangis? Aku akan ikut menangis, jika tidak ada yang membuatmu menangis aku akan menangis karena tangisanmu.’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Aku menangis karena sahabatmu yang menyarankan untuk meminta tebusan, ditampakkan padaku bahwa azab mereka lebih keras daripada pohon ini,’ beliau menunjuk pohon yang berada di dekatnya. Lalu Allah ta'ala menurunkan ayat, ‘Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertaqwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka Allah menghalalkan ghanimah untuk mereka.” (QS. al-Anfal: 67-69).

Seorang Sahabat Bernadzar Untuk Tidak Menyentuh Orang Musyrik

Dalam perkara ini, sebagian sahabat sampai bernadzar untuk tidak menyentuh musyrik sama sekali karena merasa jijik dengan najis syirik.

Bukhari meriwayatkan kisah sariyah ‘Ashim bin Tsabit al-Anshari dari Abu Hurairrah radhiyallahu anhu, berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus sariyah beranggotakan sepuluh orang yang diketuai oleh ‘Ashim bin Tsabit al-Anshari kakek ‘Ashim bin Umar untuk mencari informasi. Mereka bergerak sampai di Hudah, suatu tempat di antara ‘Asfan dan Makkah. Pergerakan mereka terdengar oleh salah satu cabang kabilah Hudzail yang disebut dengan Bani Lihyan. Maka lebih kurang seratus pemanah bergerak menelusuri jejak mereka. Ketika ‘Ashim dan kawan-kawannya melihat pasukan itu mereka segera menaiki sebuah bukit. Pasukan itu mengepung mereka dan berkata, ‘Turunlah kalian, serahkan diri kalian, kami berjanji akan melindungi kalian dan tidak membunuh seorangpun.’ ‘Ashim berkata, ‘Adapun aku, demi Allah, aku tidak akan masuk dalam perlindungan seorang kafir. Ya Allah kabarkanlah Nabi-Mu mengenai kita.’ Maka hujan anak panah pun terjadi. ‘Ashim dan tujuh sahabat lain terbunuh. Tiga orang yang tersisa yaitu Khubaib al-Anshari, Ibnu Datsnah dan seorang lagi turun demi mendapatkan perlindungan. Ketika tiga orang ini terkepung maka orangorang kafir segera melepas tali-tali busur dan mengikat mereka. Maka lelaki ketiga berkata, ‘Ini pengkhianatan pertama. Demi Allah aku tidak akan ikut kalian. Mereka – maksudnya tujuh sahabat yang terbunuh – telah memberi kita contoh.’ Ia tetap menolak meskipun diseret-seret, sehingga mereka membunuhnya. Mereka lalu menyeret Khubaib dan Ibnu Datsnah lalu menjualnya di Makkah.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, “Sekelompok kafir Quraisy mengirimkan seseorang untuk mendapatkan sesuatu dari diri ‘Ashim ketika tersiar kabar bahwa ia terbunuh. ‘Ashim telah membunuh salah seorang pembesar Quraisy pada Perang Badar. Namun tiba-tiba sekawanan besar lebah mengerumuni jasadnya se- hingga utusan itu tidak bisa menyentuh sedikitpun jasad ‘Ashim.”

Dalam Sirah Ibnu Hisyam disebutkan, “Ketika ‘Ashim terbunuh, kabilah Hudzail hendak memotong kepalanya untuk dijual ke Sulafah binti Sa’ad bin Syahid. Wanita ini telah bernadzar ketika dua anaknya terbunuh di tangan ‘Ashim pada Perang Badar bahwa ia akan menggunakan tengkorak ‘Ashim untuk meminum khamr. Namun sekawanan besar lebah menghalangi mereka. Maka mereka berkata, ‘Biarkan saja, nanti sore akan kita ambil.’ Maka Allah mengirimkan banjir yang membawa jasadnya. Semasa hidup ia membuat perjanjian dengan Allah bahwa tidak ada seorang pun musyrik yang menyentuhnya dan ia tidak akan menyentuh musyrik sedikitpun demi terhindar dari najis.”

Demikianlah, ‘Ashim bin Tsabit tidak mau masuk dalam perlindungan kafir. Setelah kesyahidannya Allah melindunginya sehingga tidak ada seorang musyrik pun yang bisa menyentuh jasadnya sebagaimana dilakukannya sepanjang hidupnya.

Seorang Sahabat Memilih Boikot Kaum Muslimin Daripada Perlindungan Raja Musyrik

Para sahabat radhiyallahu anhum tidak pernah menjustifikasi dirinya dalam keadaan apapun untuk condong atau berlindung kepada orang kafir setelah Allah menegakkan Daulah Islam yang dipimpin Nabi shallallahu alaihi wasallam. Inilah Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu, ketika tidak mengikuti Perang Tabuk ia diboikot oleh kaum muslimin, tidak ada seorang pun yang mengajaknya bicara. Kemudian ia diperintahkan untuk menjauhi istrinya. Tidak cukup dengan itu, datang ujian lain untuk menguji kejujuran imannya.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ka’ab bercerita, “Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar Madinah bertanya kepada orang- orang, ‘Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku? Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu, ‘Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan menolongmu.’ Aku berkomentar,’lni pun cobaan untukku,’ lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku yang menyala.” Sekalipun hidupnya terasa sempit karena seluruh kaum muslimin memboikotnya lantara dosanya itu, namun dia tidak memilih untuk meninggalkan Darul Islam, sekalipun akan mendapatkan kedudukan tinggi di samping Raja Ghassan.

Jika kita ceritakan satu per satu kisah-kisah sahabat dalam perkara ini tentu akan sangat panjang. Cukuplah bagaimana Allah mensifati mereka dalam kalam-Nya, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, seka- lipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. al-Mujadilah: 22).

Semoga Allah menjadikan kita mampu untuk menapaki manhaj dan mengikuti jalan mereka.

Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

LAA ILAHA ILALLAH DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

LAA ILAHA ILALLAH DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

“Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, bahwa Laa ilaaha illallah adalah kalimat yang tinggi, mulia, dan berharga. Siapa yang berpegang dengannya niscaya akan selamat dan siapa yang berlindung dengannya niscaya akan terjaga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan kufur terhadap sesuatu yang disembah selain Allah niscaya harta dan darahnya adalah haram (untuk ditumpahkan), sedangkan perhitungannya adalah kepada Allah ta'ala. (HR. Muslim dari Thariq bin Asyim). Hadits ini menjelaskan bahwa Laa ilaaha illallah itu memiliki lafadz dan makna.

Dalam hal itu manusia terbagi menjadi tiga kelompok :

Pertama; mereka mengucapkan dan merealisasikannya, mengerti maknanya lalu mengamalkannya, dan mengerti pembatal-pembatalnya lalu menjauhinya.

Kedua; mengucapkannya secara lahir, menghiasi lahirnya dengan kata-kata tetapi menyembunyikan kekafiran dan keraguan.

Ketiga; mau mengucapkannya tetapi tidak mau mengamalkan maknanya dan justru menerjang pembatal-pembatalnya. Mereka itulah, “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 104).

Kelompok pertama adalah yang selamat, mereka adalah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Kelompok kedua adalah orang-orang munafik dan kelompok ketiga adalah orang-orang musyrik.

Jadi Laa ilaaha illallah itu laksana benteng, tetapi benteng itu digempur dengan manjanik kebohongan dan dilontari batu kehancuran sehingga musuh leluasa masuk menguasai lalu merampas makna namun bentuknya dibiarkan, sedangkan dalam hadits disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan postur tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

Mereka merampas makna Laa ilaaha illallah, sehingga yang tersisa hanya lidah yang gagap dan ocehan huruf. Ibarat benteng kokoh tinggal nama. Seperti api yang tinggal nama itu tidak akan membakar, banjir yang tinggal nama itu tidak akan menenggelamkan, roti yang tinggal nama itu tidak akan mengenyangkan, dan pedang yang tinggal nama itu tidak akan memotong. Demikian juga benteng tinggal nama itu tidak akan melindungi. Karena ucapan itu laksana kulit dan makna adalah hatinya. Ucapan itu laksana tempurung kerang dan makna adalah mutiaranya. Apa artinya kulit tanpa hati? Apa artinya kerang tanpa mutiara?

Laa ilaaha illallah beserta maknanya adalah ibarat ruh bagi jasad, tidak ada gunanya jasad tanpa ruh. Begitu juga kalimat ini tidak ada gunanya tanpa maknanya. Orangorang mulia mengambil kalimat ini dengan segenap gambaran dan maknanya. Mereka hiasi gambaran lahirnya dengan kata-kata yang jujur dan batinnya penuh dengan maknanya. Sehingga Yang Maha Kekal menyaksikan kejujuran mereka, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18).

Sedangkan si alim musyrik mengambil gambaran kalimat ini tanpa maknanya. Lahirnya dihiasi dengan kata-kata manis namun batinnya penuh kekafiran mengimani sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat maupun madharat. Hati mereka hitam lagi gelap. Allah tidak memberikan furqon kepada mereka untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Pada hari kiamat kelak mereka akan tetap berada dalam gelapnya kekafiran, “Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS. al-Baqarah: 17).

Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah namun dia menjadi hamba hawa nafsu, dirham, dinar, dan dunianya, jawaban apa yang akan dilontarkannya kepada Allah? “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (QS. al-Jatsiyah: 23).

“Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak mode dan pakaian. Jika diberi merasa senang tetapi jika tidak maka dia akan murka. Dia akan celaka lagi terjungkir. Jika tertusuk duri niscaya tidak akan bisa dicabut.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Jika Anda katakan Laa ilaaha illallah namun hanya di lisan saja tanpa ada buah di hati, maka anda adalah munafik. Tetapi jika tempatnya ada di dalam hatimu (dengan komitmen anggota tubuhmu) berarti anda adalah mukmin. Janganlah Anda menjadi mukmin hanya di bibir tanpa hatimu, karena di pengadilan hari kiamat nanti Anda akan digugat oleh kalimat ini, “Duhai tuhanku, aku telah menyertainya sekian sekian tahun, tetapi dia tidak mengakui hakku, dan tidak memelihara kehormatanku dengan baik! Kalimat ini akan bersaksi untukmu atau menggugatmu.

Kalimat ini akan memberikan penghormatannya kepada alim mulia hingga mereka masuk surga. Sedangkan kalimat ini akan mempersaksikan kejahatan alim musyrik hingga mereka masuk neraka, “Sebagian ada yang di surga dan sebagian lagi di neraka sa’ir (yang membakar).” (QS. asy-Syura: 7).

Laa ilaaha illallah adalah pohon kebahagiaan. Jika Anda menanamnya di lahan tashdiq (pembenaran), menyiraminya dengan air keikhlasan dan menjaganya dengan amal shalih niscaya akar-akarnya akan kokoh, dahannya kuat, daun-daunnya menghijau, dan buah-buahnya lebat lagi melimpah, “Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 25).

Tetapi jika pohon ini Anda tanam di lahan takdzib (pendustaan) dan perpecahan, disirami dengan air riya dan kemunafikan lalu Anda rawat dengan amalan buruk dan kata-kata kotor, dipenuhi oleh aneka pengkhianatan, dan ditiup oleh berbagai umpatan, niscaya berserakanlah buah-buahannya, berguguranlah daun-daunnya, akan patah dahannya dan terpotong potong akarnya, sehingga ketika topan sampah menghantamnya niscaya dia akan tercabik-cabik, “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. al-Furqan: 23).

Jika seorang muslim mampu merealisasikan hal ini, maka dia juga harus menyempurnakan rukun-rukun Islam yang lain, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih, “Islam dibangun diatas 5 perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah jika mampu menempuh perjalanan ke sana.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu).

“Dan barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).

Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. Selesai nukilan dari kata-kata beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan.

HANYASANYA YANG TAKUT PADA ALLAH ADALAH ULAMA

RUMIYAH 7 - ARTIKEL

HANYASANYA YANG TAKUT PADA ALLAH ADALAH ULAMA

Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim ibnu Taimiyah rahimahullah berkata tentang firman Allah ta'ala ‘Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadanya hanyalah para ulama (QS. Fathir: 28) maknanya tiada yang takut kepada-Nya kecuali seorang alim. Allah mengabarkan bahwa semua orang yang takut kepada Allah maka dia seorang alim sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain “Apakah (kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. az-Zumar: 9), khasy-yah (takut) sampai kapanpun mengandung raja’ (pengharapan). Seandainya khasy-yah tidak diiringi dengan raja’ maka itu berarti keputusasaan. Sebagaimana raja’ harus diiringi dengan khauf, jika tidak maka itu berarti rasa aman. Maka mereka yang memiliki rasa khauf dan raja’ kepada Allah adalah ahli ilmu yang dipuji Allah.

Diriwayatkan dari Abi Hayan at-Taimi bahwasanya dia berkata, “Ulama itu ada tiga, orang yang alim kepada Allah namun tidak alim kepada perintah Allah, alim kepada perintah Allah namun bukan alim kepada Allah, dan alim kepada Allah juga alim kepada perintah Allah. Orang yang alim kepada Allah adalah orang yang takut kepada-Nya, sedangkan orang yang alim kepada perintah-Nya adalah yang mengerti perintah dan larangan-Nya. Disebutkan dalam ash-Shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Demi Allah sesungguhnya aku sangat berharap menjadi orang yang paling takut (khasy-yah) diantara kalian kepada Allah, dan orang yang paling mengerti diantara kalian terhadap batasan-batasan (hudud)Nya.”

Ahlul khasy-yah adalah para ulama yang terpuji di dalam Kitab maupun Sunnah, yang tidak berhak dicela, itu tidak lain karena mereka selalu mengerjakan perintah-perintah Allah sebagaimana ditunjukkan dalam firman-Nya, “Maka Rabb mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang yang zhalim itu. Dan kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 13-14) dan juga firman-Nya: “Dan barangsiapa yang takut akan menghadap Rabbnya baginya dua surga.” (QS. ar-Rahman: 46).

Allah menjanjikan pertolongan di dunia dan pahala akhirat bagi ahlul khauf, tidak lain karena mereka selalu menunaikan kewajibannya. Hal ini menunjukkan bahwa rasa takut mengharuskannya menunaikan perintah Allah. Karena itulah dikatakan kepada orang fajir bahwa dia tidak takut kepada Allah. Makna ini ditunjukkan dalam firman Allah, “Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertaubat.” (QS. an-Nisa: 17).

Barangsiapa Mengetahui Allah Pasti Mentaati-Nya

Abul Aliyah berkata, “Aku bertanya kepada para sahabat Muhammad tentang ayat ini, maka mereka menjawab, ‘Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang jahil, dan setiap orang yang bertaubat sebelum mati maka dia telah bersegera bertaubat’.” Demikian juga yang dikatakan oleh semua ahli tafsir. Mujahid berkata, “Setiap orang yang bermaksiat maka dia adalah jahil ketika bermaksiat.” al-Hasan, Qatadah, Atha’ dan as-Suddi serta lainnya berkata, “Mereka dinamakan juhhal (orang-orang bodoh) lantaran maksiatnya, bukan karena mereka tidak mumayiz (tidak dapat membedakan baik dan buruk .penj).” az-Zujjaj berkata, “Makna ayat itu bukanlah bahwa mereka tidak mengerti jika itu adalah buruk. Karena sesungguhnya seorang muslim jika melakukan perbuatan yang tidak diketahuinya (hukumnya) maka dia sama seperti orang yang tidak melakukan keburukan (tidak berdosa .penj), hanya saja mengandung dua kemungkinan:

Pertama: mereka melakukannya sedangkan tidak mengetahui kemakruhan di dalamnya.

Kedua: mereka mengetahui pasti bahwa balasannya akan buruk, akan tetapi mereka lebih memilih dunia daripada akhirat, sehingga mereka disebut sebagai orang-orang bodoh karena mereka lebih memilih yang sedikit dibanding nikmat yang banyak dan selamanya.” Az-Zujjaj memaknai bodoh di situ yaitu ketidaktahuan dengan akibat perbuatannya dan keinginan yang rusak. Bisa juga dikatakan bahwa keduanya saling berkaitan. Rincian penjelasan mengenai hal ini disebutkan dalam pembahasan mengenai Jahmiyah.

Yang dimaksud disini adalah bahwa setiap pelaku kemaksiatan adalah orang jahil, dan setiap orang yang takut kepada Allah adalah orang alim lagi taat kepada Allah. Dia menjadi jahil dikarenakan kurangnya rasa takutnya kepada Allah, karena jika rasa takutnya kepada Allah itu sempurna maka dia tidak akan bermaksiat.

Ibnu Masud radhiyallahu anhu berkata, “Cukuplah takut (khasy-yah) kepada Allah itu sebagai ilmu, dan cukuplah hanya berangan-angan kepada Allah itu sebagai kebodohan.”

Mengetahui sesuatu yang menakutkan akan membuat orang itu menjauhinya, dan mengetahui sesuatu yang disukai akan membuat orang mencarinya. Jika ia tidak menjauhinya juga tidak mencarinya maka itu berarti dia tidak mengetahui dengan sebenar-benarnya. Mungkin saja dia mengetahuinya dari cerita yang didengarnya, namun gambaran yang didapatnya dari cerita yang didengarnya itu tidaklah sama dengan gambaran sesungguhnya. Demikian juga jika yang diceritakan itu ternyata tidak disukai maupun dibencinya. Manusia itu memang bisa membenarkan apa yang ditakuti dan dicintai oleh selain dirinya, namun hal itu tidak mempengaruhinya. Demikian juga jika ia diceritakan mengenai sesuatu yang disukai dan dibencinya, ia tidak mendustakan si pencerita, namun hatinya sibuk dengan perkara-perkara lain sehingga tidak mengacuhkannya, maka dia tidak akan bereaksi sedikitpun.

Siapa Yang Tidak Mengamalkan Ilmunya Maka Dia Bodoh

Ada sebuah kata-kata yang terkenal dari Hasan al-Bashri dan diriwayatkan secara mursal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ilmu ada dua, ilmu di hati dan ilmu di lisan. Ilmu hati adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu (sekedar di) lisan adalah hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya.”

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Musa, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca al-Qur’an itu seperti buah limau, rasanya manis dan baunya harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti buah kurma, rasanya manis namun tidak memiliki aroma. Sedangkan perumpamaan seorang munafik yang membaca al-Qur’an dan menghafalnya adalah seperti raihanah (tanaman wangi) aromanya harum namun rasanya pahit. Perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca al-Qur’an adalah seperti hanzhalah rasanya pahit dan tidak ada aromanya.”

Si munafiq yang membaca al-Qur’an, menghafalnya, dan memahami makna-maknanya, bisa jadi dia percaya bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dan bahwasanya Rasul adalah haq, akan tetapi dia tidak menjadi mukmin. Seperti Yahudi yang mengenal beliau seperti mengenal anak-anaknya sendiri, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Demikian halnya Iblis, Fir’aun dan lainnya. Yang kondisinya seperti itu maka dia tidaklah mendapatkan ilmu maupun makrifat yang sempurna. Karena ilmu dan makrifat itu harus diamalkan konsekuensinya. Sehingga orang yang tidak mengamalkan ilmunya itu disebut sebagai orang bodoh sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Demikian juga kata ‘akal’. Asalnya ia adalah mashdar dari kata (‘aqola-ya’qilu). Banyak para peneliti menggolongkannya sebagai salah satu jenis ilmu sehingga harus dianggap sebagai ilmu yang wajib diamalkan. Maka tidak dinamakan orang berakal kecuali orang yang mengerti kebaikan dan mencarinya, serta mengetahui keburukan dan menjauhinya. Karena itulah para penghuni neraka berkata, “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. al-Mulk: 10).

Allah berfirman tentang orang-orang munafik “Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak berakal (mengerti).” (QS. al-Hasyr: 14).

Siapa yang melakukan sesuatu yang diketahui akan membahayakannya, maka ia tidaklah memiliki akal. Takut kepada Allah berarti harus mengenal-Nya. Mengenal-Nya berarti harus memiliki rasa takut kepada-Nya, dan takut kepada-Nya berarti taat terhadap-Nya. Maka orang yang takut kepada Allah adalah orang yang melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan inilah yang kami maksud dalam penjelasan di awal.

Orang Yang Takut Kepada Allah Akan Mendapat Pelajaran

Hal itu ditunjukkan dalam firman Allah, “Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, (yaitu) orang-orang yang akan memasuki api yang besar (neraka).” (QS. al-A’ala: 9-12).

Allah mengabarkan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan mendapat pelajaran, palajaran disini mengharuskan beribadah kepada-Nya, Allah ta'ala berfirman, “Dialah yang memperlihakan tanda-tanda (kukuasaan)-Nya keapdamu dan menurunkan rezeki dari langit untukmu. Dan tidak lain yang mendapat pelajaran hanyalah orang-orang yang kembali kepada (Allah).” (QS. Ghafir: 13), dan kalam-Nya, “Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).” (QS. Qaf: 8).

Karena itu para mufassir berkata tentang kalam Allah, “orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran” yaitu bahwa orang yang takut kepada Allahlah yang akan mendapat pelajaran dari al-Qur’an, dan dalam menafsirkan firman-Nya “yang mendapat pelajaran hanyalah orang yang kembali kepada (Allah)” yaitu bahwa orang yang kembali kepada ketaatanlah yang akan mendapat pelajaran. Dikarenakan bahwa ketika betul-betul mengingat kembali sesuatu maka hal itu akan mempengaruhinya, jika ia mengingat sesuatu yang dicintai maka akan dicarinya, dan jika mengingat sesuatu yang ditakuti maka akan dijauhinya, kalam-Nya, “Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (QS. al-Baqarah: 6). Allah ta'ala berfirman: “Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Rabb yang Maha pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya.” (QS. Yasin: 11)

Dalam firman-Nya, “Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman” Dia menafikan peringatan dari mereka. Di satu sisi Allah menetapkan peringatan pada mereka dan menafikannya di sisi lain. Indzar (peringatan) itu adalah i’lam (pemberitahuan) terhadap sesuatu yang ditakuti, maka indzar itu adalah seperti mengajari sekaligus menakut-nakuti. Jika orang yang engkau ajari itu belajar maka selesai sudah pengajarannya, namun ada juga yang engkau ajari tetapi tidak mau belajar. Demikian pula orang yang engkau takut-takuti kemudian ia ketakutan, maka engkau berhasil menakut-nakutinya. Adapun siapa yang ditakut-takuti tetapi tidak ketakutan, engkau gagal menakut-nakutinya. Demikian halnya orang yang engkau beri petunjuk kemudian dia mengambil pentunjuk maka sempurna hidayahnya, ini ditunjukkan oleh firman Allah, “Petunjuk bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 2), namun barangsiapa yang engkau beri petunjuk tetapi tidak mau, maka dia sebagaimana kalam-Nya, “dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu.” (QS. Fushshilat:17). Seperti jika engkau berkata aku memotongnya maka ia terpotong, dan aku memotongnya namun tidak terpotong.

Pengaruh yang sempurna itu harus ada efeknya, jika tidak berefek maka tidak sempurna. Suatu perbuatan jika mendapat tempat yang sesuai maka menjadi sempurna, jika tidak maka tidak sempurna. Mengetahui sesuatu yang disukai maka membuatnya berusaha mencarinya, dan mengetahui sesuatu yang dibenci maka membuatnya berusaha menjauhinya. Oleh karena itu, ilmu ini dinamakan dengan faktor pendorong. Adanya faktor pendorong ditambah dengan kemampuan maka terjadilah tindakan. Mengetahui sesuatu yang hendak dicari maka akan menciptakan keinginan untuk mencari sesuatu yang diketahuinya itu.

Namun semua ini terjadi jika fitrahnya sehat sentosa. Terkadang seseorang itu mengetahui bahwa sesuatu itu enak namun tidak bisa merasakan enaknya bahkan mungkin terasa menyakitkan. Demikian juga jika ia merasa nikmat dengan rasa sakit yang dideritanya. Itu semua jika fitrahnya rusak. Rusaknya disini berefek pada pengetahuan dan tindakannya, seperti orang yang terkena iritasi lidahnya sehingga madu berasa pahit. Indera perasanya telah rusak sampai madu yang manis berasa pahit karena iritasinya itu, juga karena batinnya yang rusak, Allah berfirman, “Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. al-An’am: 109-110). Sampai di sinilah kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Kitabul Iman dengan sedikit perubahan.